Kisah 3 Pengemis


 Hai~~~ Cerpen jadul lagi nihh.. Sorry kalo aneh+jelek+gak mutu. Masalahnya : aku lagi pingin nge-post n nggak punya bahan. Jadi ini ajaa dehh..
Hope u like it ^^

*****

Di sebuah pinggir jalan, tinggal 3 orang pengemis. Pengemis pertama duduk di pinggir jalan paling dekat gerbang dan mepunyai sifat pasrah pada Tuhan. Pengemis kedua duduk tidak jauh dari pengemis pertama dan mempunyai sifat suka menolong. Sedangkan pengemis ketiga duduk tidak jauh dari pengemis kedua dengan sifat pemarah dan sulit bersyukur.
            Suatu hari, lewat seorang perantau.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis pertama ketika perantau itu baru masuk ke gerbang. Perantau itu memberi beberapa keping uang pada pengemis pertama.
            “Terima kasih, Tuan. Semoga perjalanan tuan selalu dilindungi Tuhan.” Ucap pengemis pertama setelah diberi uang. Perantau itu tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.
            Tidak lama kemudian, perantau itu bertemu pengemis kedua.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis itu ketika perantau lewat. Perantau itu kembali mengambil beberapa keping uang dan memberikanya ke pengemis kedua.
            “Terima kasih, Tuan. Entah bagaimana saya bisa membalas.” Ucap pengemis kedua setelah diberi uang. Perantau itu tersenyum kemudian melanjutkan perjalanan.
            Beberapa langkah berjalan, perantau itu bertemu pengemis ketiga.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis ketiga ketika perantau lewat. Perantau itu mengambil kantung uangnya dan melihat isinya. Kemudian mengeluarkan beberapa keping uang yang jumlahnya lebih sedikit daripada yang diberikannya pada pengemis pertama dan pengemis kedua.
            “Sebagian uangku sudah kuberikan pada dua pengemis di depan tadi. Kini uangku yang tersisa tak cukup banyak. Aku hanya dapat memberimu beberapa keping.” Kata perantau itu dengan nada menyesal.
            “Ini tidak adil bagi saya, Tuan! Saya dan mereka senasib dan sama-sama menderita. Namun tuan memberi yang lebih banyak pada mereka! Bukankah seharusnya Tuan memperhitungkan dulu sebelum memberi, sehingga uang tuan cukup untuk kami..!” Ucap pengemis ketiga kasar. Perantau itu menjadi marah melihat pengemis yang tidak tahu terima kasih. Dimassukkannya lagi uangnya dan ia pergi tanpa kata-kata. Tinggallah pengemis ketiga tanpa uang sepeserpun.
            Di sore hari yang cerah, lewat seorang saudagar kaya dengan kereta dan para punggawanya.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis pertama pada saudagar ketika saudagar itu masuk ke gerbang. Sebenarnya, saudagar tidak begitu menyukai pengemis. Tapi karena melihat keadaan pengemis pertama, ia pun berbelas kasihan lalu memberi beberapa keping uang pada pengemis pertama.
            “Terima kasih, Tuan. Semoga tuan selalu diberi rezeki yang melimpah dari Tuhan.” Kata pengemis pertama setelah diberi uang. Pedagang itu melanjutkan perjalanan.
            Tidak lama kemudian, saudagar itu lewat di tempat duduk pengemis kedua.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis kedua ketika saudagar itu lewat. Namun saudagar sudah jengkel karena bertemu pengemis lagi, maka pengemis kedua tidak diberi uang. Ketika saudagar pergi, ada sebuah barang yang terjatuh dari keretanya. Pengemis kedua segera mengambilnya dan pergi berlari ke saudagar itu.
            “Tuan, barang tuan jatuh.” Kata pengemis kedua yang berhasil mengejar saudagar itu.
            “Terima kasih. Itu barang yan berharga. Padahal, jika kau jual pastilah kau jadi kaya. Namun kau malah mengembalikannya. Sungguh baik hatimu. Ini tanda terima kasihku.” Kata saudagar itu seraya memberikan beberapa keping uang pada pengemis kedua.
            “Terima kasih, Tuan. Memang sudah kewajiban kita membantu orang lain.” Kata pengemis kedua dengan wajah gembira. Saudagar itu tersenyum lalu pergi.
            Tidak berapa lama, saudagar bertemu pengemis ketiga. Rasa jengkelnya muncul lagi. Dia sudah lupa pada kebaikan pengemis kedua.
            “Tuan, kasihanilah saya..!” Kata pengemis ketiga. Saudagar itu menghentikan keretanya.
            “Mau jadi apa negeri kita ini jika semua orang menjadi pengemis! Kau punya badan yang kuat dan sehat, kenapa tidak bekerja? Aku yakin kau itu MALAS! Carilah pekerjaan, daripada mengemis tak berguna!” Kata saudagar itu lalu langsung pergi meninggalkan pengemis ketiga tanpa uang sepeserpun.
            Pengemis ketiga teringat bahwa tadi ia melihat pengemis pertama diberi uang. Pastilah karena pengemis pertama adalah pengemis yang pertama kali dijumpai saudagar itu. Maka pengemis ketiga pergi ke tempat pengemis pertama.
            “Hai kau, tadi saudagar itu memberimu uang, sementara aku tidak diberi. Pastilah karena kau yang pertama dijumpainya. Sementara aku yang terakhir bertemu dengannya. Maukah kau bertukar tempat denganku?” Tanya pengemis ketiga pada pengemis pertama. Pengemis pertama tentu saja mau. Baginya, dimanapun tak masalah karena Tuhan ada di mana-mana dan selalu melindunginya. Kemudian, pengemis pertama pergi meninggalkan pengemis ketiga ke tempat pengemis ketiga.
            Kini, pengemis ketiga yakin, ia pasti akan selalu diberi uang, karena dia pengemis pertama yang dijumpa setiap orang yang masuk ke gerbang.
            Pagi hari yang cerah, orang berlalu lalang. Tapi tak banyak yang memperhatikan ketiga pengemis itu. Hingga lewat seorang ibu hamil. Ketika masuk ke gerbang, ibu itu bertemu pengemis ketiga.
            “Nyonya, kasihanilah saya..!” Kata pengemis ketiga. Ibu itu berhenti sejenak dan berpikir. ‘Sebenarnya, aku ingin memberi sedekah, tapi bagaimana dengan kebutuhanku dan bayiku nanti. Apakah uangku akan cukup?’, batin ibu itu. Akhirnya ibu itu memutuskan untuk tidak memberi uang pada pengemis ketiga dan pergi tanpa meninggalkan uang sepeserpun.
            Selang beberapa waktu berjalan, ibu itu bertemu pengemis kedua.
            “Nyonya, kasihanilah saya..!” Kata pengemis kedua ketika ibu itu lewat. Ibu itu berhenti sejenak. Ia ragu-ragu ingin memberi atau tidak. Ia merasa tidak enak sudah mengacuhkan pengemis yang tadi. Namun akhirnya ibu itu memutuskan untuk tidak memberi.
            “Maaf ya,..” Kata ibu itu sambil lalu. Pengemis kedua mengangguk dan tersenyum ramah.
            Beberapa menit kemudian, ibu itu bertemu pengemis pertama yang ada di tempat pengemis ketiga.
            “Nyonya, kasihanilah saya..!” Kata pengemis pertama ketika ibu itu lewat. Ibu itu pun akhirnya luluh. Ia lalu memberi uang pada pengemis pertama.
            “Terima kasih Nyonya, semoga nyonya selalu dilimpahi berkat dan berkah dari Tuhan.” Kata pengemis pertama setelah diberi uang. Ibu itu tersenyum gembira, semua perasaan tidak enaknya hilang dan ia pergi dengan hati lega.
            Pengemis ketiga melihat itu menjadi marah. Ia bingung atas semua yang terjadi selama ini. Ia tak pernah diberi uang seperti kedua temannya. Padahal, semua itu karena sifatnya sendiri.
            Begitulah seterusnya, pengemis pertama selalu mendoakan orang yang mau memberinya sedekah. Pengemis kedua kini lebih banyak mendapat uang karena membantu, entah membawakan barang, mengembalikan barang yang terjatuh, sampai memberi tahu alamat. Sedangkan pengemis ketiga, hanya mendapat sedikit sekali karena sifatnya yang tak pernah berubah.

           
           
           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kaya

Cerpen laggi... ini aku buat udah laaama sih, sejak kelas 7, waktu ekstra junalistik. Aku post buat nambah" entri ajaa.. Jadi maklum ya kalo wagu..
Hope u like it ^^
*****

            “Kaya…entah mengapa hal itu yang selalu terlintas jika aku sedang memikirkan cita-citaku. Terkadang aku heran, mengapa Tuhan memberiku hidup seperti ini. Hidup dengan ayah pemabuk dan ibu sakit-sakitan bersama tiga orang adik di rumah kardus bawah kolong jembatan.”
            “Alin! Kamu ngapain? Tuh, lampunya udah merah lagi!”, teriak seorang anak laki-laki, membuyarkan lamunan Alin.
            “Iya! Iya!”, ucap Alin sambil berlari menuju anak laki-laki itu.
            Mereka berdua segera turun ke jalan. Si anak laki-laki bermain gitar, sedangkan Alin bernyanyi dan meminta uang. Mereka berpindah dari mobil ke mobil. Terkadang, ada yang menggelengkan kepala tanda tak mau memberi uang. Ketika lampu kuning, mereka pergi ke pinggir jalan dan duduk di trotoar.
            “Lumayan, dapat 3000.” , kata Alin sesudah menghitung uang.
            “Berarti, hari ini udah 8000 dong!”, celetuk si anak laki-laki. Alin hanya tersenyum mengangguk. Uang itu harus dibagi dua dengan anak laki-laki itu, belum lagi untuk ibu dan adik-adik, apalagi jika tiba-tiba ayahnya datang dan minta uang. Sepertinya hari ini Alin harus puasa lagi.
            “Kamu dari tadi nglamunin apa sih?”, tanya anak laki-laki itu.
            “Aku cuma mikirin nasibku.”, jawab Alin.
            “Udah, syukurin aja. Masih untung, kita bisa kerja dan punya rumah. Yah, walaupun kayak gini, yang penting kan kita usaha.”, kata anak laki-laki itu. Alin menunduk. Betapa malunya dia berkata seperti tadi. Dio, anak laki-laki itu, nasibnya tak jauh beda dengan Alin. Ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil, ibunya seorang TKW yang sekarang keadaannya tak jelas dan ia masih mempunyai seorang nenek yang harus dibiayai. Tapi dia tegar dan selalu tersenyum, tidak pernah putus asa dan tidak pernah mengeluh. Alin sering kagum padanya.
            “Woi! Aku laper nih.” kata Dio.
            “Tapi uang kita cuma segini, kita cuma bisa beli makanan yang limaratus atau seribuan loh!” timpal Alin. Sejujurnya, perutnya pun keroncongan.
            “Pak!” panggil Dio pada seorang penjual roti yang lewat. Kemudian dia menarik tangan Alin dan berlari menuju bapak itu.
            “Yang ini satu berapa?” tanya Dio seraya menunjuk sebungkus roti.
            “Seribu, dik.” jawab si bapak.
            “Yang limaratusan ada nggak?” tanya Dio lagi.
            “Wah, nggak ada tuh, dik.” jawab bapak itu. Dio menoleh ke arah Alin, dilihatnya Alin tampak kecewa. Lalu dia mengambil uang seribuan dari sakunya.
            “Ya, beli satu deh.” kata Dio sambil mengambil sebungkus roti dan mengulurkan uang pada bapak penjual roti. Alin kaget.
            “Makasih, Pak!” Dio tersenyum dan bapak itu pergi. Dio menggandeng tangan Alin dan mengajaknya duduk di trotoar lagi. Dibiarkannya Alin masih keheranan.
            “Kok cuma satu?”, tanya Alin.
            “Buat kamu aja.” Dio menyerahkan roti itu pada Alin. Dio tahu, mereka sama-sama belum makan sejak pagi tadi.
            “Kamu gimana?”, tanya Alin lagi.
            “Aku masih kuat kok!”, jawab Dio. Tapi Alin tidak mau membiarkan kawannya kelaparan, dia membagi dua roti itu kemudian memberikan sepotong pada Dio.
            “Makasih.”, kata Dio senang. Dalam sekejap, roti itu sudah habis. Karena memang mereka berdua sedang lapar.
            Lampu merah lagi, mereka bekerja lagi hingga malam datang. Uang yang mereka peroleh dibagi dua, lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya Alin di rumah…
            “Alin pulang!”, seru Alin saat menyibakkan tirai rumahnya. Rumahnya memang hanya berpintu tirai. Tirai itu pun, sebenarnya hanya kain biasa yang sudah lusuh dan kusam.
            “Ye… Kak Alin!” adik-adik Alin segera menyambut.
            Alin tersenyum lega melihat adik-adiknya. Namun, senyumnya pudar melihat ibunya menangis.
            “Ibu kenapa?” , tanya Alin.
            “Ayahmu, sudah tiga hari belum pulang. Ibu khawatir terjadi apa-apa padanya. Apalagi, saat pergi kemarin ayahmu mabuk.” jawab ibunya sambil terisak-isak.
            Alin termenung. Biarpun terkadang Alin jengkel dan marah atas sikap ayahnya yang semena-mena, bagaimanapun juga dia ayahnya. Alin mengingat semua kenangan tentang ayahnya. Tak ada yang indah, yang diingatnya dari sosok ayahnya hanya seorang lelaki pemabuk yang pemarah dan tidak bertanggung jawab. Kadang Alin heran, bagaimana mungkin ibunya yang begitu sabar bisa memilih ayahnya yang seperti itu. Tapi setelah melirik ibunya yang masih terisak, Alin mencoba mengusir semua pikiran buruknya tentang sang ayah demi ibu yang sangat dicintainya.
            “Tok…Tok…Tok…”, suara rumah kardus Alin diketuk.
            Alin menoleh, dia segera bangkit dan membuka tirai rumahnya.
            “Maaf, ini betul rumah Bapak Margono?”, tanya seseorang. Orang itu berwajah ramah dan pakainnya rapi sekali, menunjukkan statusnya yang berkecukupan.
            “Iya, betul. Anda siapa ya?”, jawab Alin mendengar nama ayahnya disebut.
            “Kalau boleh tahu, adik siapanya?”
            “Saya anaknya.”
            “Bisa bicara dengan ibu kamu?”
            Alin mengalihkan pandangan ke ibunya yang memandang Alin penuh tanda tanya. Alin menghampiri ibunya dan menjelaskan bahwa orang itu ingin bertemu dengan beliau. Maka ibu Alin beranjak  dan melangkah ke depan rumah untuk menemui tamunya.
            “Perkenalkan, nama saya Rudi. Tadi di jalan, saya menabrak seorang bapak yang badannya memar seperti habis dipukuli. Setelah saya tabrak, bapak itu saya bawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan, bapak itu bercerita pada saya bahwa beliau habis dipukuli preman karena tidak mampu bayar uang taruhan. Beliau ingin meminta maaf pada anak dan istrinya, saya bertanya nama dan rumahnya. Lalu dia berpesan pada saya untuk menyampaikan maaf pada keluarganya, setelah itu dia meninggal.”
            Alin syok, dan ibunya yang mendengar langsung menangis lebih keras lagi. Tak pernah disangkanya, ayahnya meninggal dalam keadaan seperti itu. Pak Rudi, si pembawa pesan merasa kasihan. Dia merasa bersalah, karena dia yang sudah menabrak ayah Alin. Pak Rudi melihat keadaan sekitarnya. Adik-adik Alin yang kurus-kurus, ibu Alin yang pucat, Alin yang kumal, dan rumah mereka yang hanya dari kardus. Pak Rudi segera tahu apa yang dapat dilakukannya.
            “Anu, bagaimana pun saya yang menabrak Pak Margono. Saya merasa sangat bersalah. Kebetulan, saya punya sebuah rumah yang tak dipakai. Saya kira, itu bisa membantu.” , kata Pak Rudi sungguh-sungguh.
            “Maaf pak, bukannya kami tidak mau menerima. Tapi bapak tidak bersalah, itu sudah kehendak Tuhan. Lagipula, kami tidak enak jika hanya menumpang.”, ucap ibu Alin.
            “Oh, kalian tidak menumpang. Kalian bisa bekerja pada saya. Rumah itu bisa saya potong dari gaji kalian.”, kata Pak Rudi membujuk. Alin tampak senang. Dia tersenyum sambil mengangguk ke arah ibunya.
            “Bapak sungguh mulia, semoga Tuhan memberkati bapak.”, doa ibu Alin tulus.
            Beberapa hari kemudian, Alin dan keluarganya pindah ke rumah Pak Rudi. Alin mengajak Dio serta neneknya, dia tak akan lupa pada sahabatnya yang satu itu, mereka telah melalui berbagai cobaan bersama. Alin dianggap anak sendiri oleh Pak Rudi. Ia pun kini bisa sekolah dan punya banyak teman. Meski ia harus mengulang karena sudah lama putus sekolah, namun Alin tetap semangat dan selalu giat belajar maupun bekerja.
            Hingga suatu hari….
            Alin sedang menyapu di teras rumah Pak Rudi. Ia menyapu santai sambil menyanyi pelan. Hatinya sedang senang. Suasana bekerja Alin saat itu, tentram, damai, dan tenang. Namun tiba-tiba terdengar suara Bu Rudi dari dalam kamar.
            “Alin!!!!!!!!!!!” teriak Bu Rudi.
            Nadanya seperti akan memarahi Alin. Tak seperti Pak Rudi, Bu Rudi lebih keras padanya. Hampir setiap hari Bu Rudi selalu memarahi Alin. Padahal, Alin selalu bertanggung jawab mengerjakan tugasnya. Hanya saja, entah mengapa sepertinya Bu Rudi menyimpan dendam pada Alin.
            “Iya, Bu…” kata Alin seraya berjalan menghampiri Bu Rudi.
            “Alin, kamu kan yang tadi membersihkan kamar saya!” tanya Bu Rudi kasar.
            “Iya.”
            “Kemarin saya meletakkan kalung saya di atas tempat tidur. Mana sekarang? Tidak ada. Hilang tanpa bekas! Saya yakin, pasti kamu yang mencurinya kan?!” tuduh Bu Rudi.
            Alin ingin menangis dituduh seperti itu. Ia sama sekali tidak pernah ingin memiliki sesuatu dengan cara mencuri.
            “ Tapi Bu, saat saya membersihkan tadi. Tidak ada kalung apapun di tempat tidur.” bela Alin.
            “ Ah, tidak mungkin! Pasti kamu berbohong! Mana cepat kembalikn kalung saya!”
            “Bagaimana saya bisa mengembalikannya bu, saya saja tidak tahu di mana.”
            Mata Alin jeli memeriksa setiap sudut kamar. Dia merasa tadi tidak melihat apa-apa. Tapi ada sesuatu yang dirasanya asing di kamar itu. Ia melihat sebuah foto, foto seorang anak perempuan yang sangat manis dan tersenyum lebar.
            “Maaf  bu, Kalau boleh tahu, itu foto siapa ya?” tanya Alin.
            “Kamu ini, sudah mencuri, malah mengalihkan pembicaraan! Sudah sana keluar! Untung saya baik, hari ini kamu saya ampuni. Awas besok-besok!” bentak Bu Rudi. Tanpa berkata-kata, Alin segera keluar. Tapi masih terbayang jelas di wajahnya wajah anak perempuan itu.
***
            Alin berjalan pulang dari warung untuk membeli es batu. Hingga ia melihat seorang anak kecil sedang bermain di tengah jalan. Di belakang anak itu, sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Tanpa memperdulikan es batunya, Alin secepat mungkin lari menyelamatkan anak itu. Sungguh kebaikan Tuhan, mereka selamat sampai di pinggir jalan.
            “Adek kenapa main di tengah jalan? Mama kamu mana?” tanya Alin. Anak itu hanya menggeleng. Alin jadi kebingungan.
            “Nama kamu siapa?” tanya Alin lagi.
            “Chacha.” jawab anak itu.
            “Terus kamu tahunya apa lagi?” tanya Alin lembut.
            “Aku inget rumah mama.” jawab Anak itu.
            “Ya udah, kakak temenin ya cari rumah mama kamu?” tanya Alin. Anak itu mengangguk.
            Alin berjalan menggandeng tangan anak itu. Dia membayangkan akan dibentak-bentak Bu Rudi nanti saat ia pulang, karena terlambat. Ia berjalan hanya mengikuti anak itu. Terkadang mereka bercanda dan tertawa. Alin membayangkan itu adiknya. Seketika terlintas sebuah bayangan di otaknya. Foto yang ada di kamar Bu Rudi! Jangan-jangan….
            “Itu rumah mama!” kata anak itu sambil menunjuk sebuah rumah. Betapa kagetnya Alin. Itu rumah Pak Rudi!!
            “Be…bener dek? Ini rumah mama kamu?” Alin bertanya tak yakin.
            “Iya… Itu bener rumah mama!” kata anak itu.
Alin membawa anak itu masuk. Cemas, takut, bingung, bercampur aduk dalam hatinya.
            “Mama!!” Teriak anak itu. Alin kaget,.. ia takut jika Bu Rudi marah.
            “Aduh, dek. Jangan teriak-teri…” kata-kata Alin terhenti saat Bu Rudi keluar dari kamar dan berlari memeluk anak itu.
            “Sayang, kamu kok bisa di sini sih?” tanya Bu Rudi.
            “Tadi ketemu kakak.” jawab anak itu sambil menunjuk Alin. Bu Rudi menoleh pada Alin.
            “Terima kasih ya, entah apa yang terjadi pada anak saya jika tidak kamu temukan.” kata Bu Rudi sambil menggenggam tangan Alin kuat-kuat. Baru pertama kali Alin melihat Bu Rudi bersikap begitu hangat padanya.
            “Anak?” tanya Alin heran.
            “Iya, ia Chacha anak saya. Ia saya titipkan ke PAUD. Kebetulan, PAUD itu ada asramanya, jadi saya titipkan juga dia tinggal di sana. Tapi beberapa hari yang lalu ibu asrama menelepon. Katanya Chacha kabur karena kangen sama mamanya. Saya sudah mencari dia berhari-hari. Tapi belum juga bertemu. Terima kasih ya! Semua ini berkat kamu. Maaf selama ini saya…”
            “Sudahlah bu, tidak apa-apa. Saya sudah lama memaafkan ibu. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa selama ini ibu selalu bersikap kasar pada saya?” tanya ALin.
            “Saya hanya tidak suka dengan suami saya. Saya begitu sedih memikirkan Chacha, tapi sejak ada kamu, suami saya selalu tersenyum. Seperti sudah lupa pada anaknya. Jadi saya lampiaskan ketidaksukaan saya pada kamu!” kata Bu Rudi dengan nada menyesal.
            Alin sekarang mengerti. Sejak itu, Bu Rudi sudah tidak kasar padanya. Bahkan menganggapnya anak seperti halnya Pak Rudi. Mereka merawat Alin hingga dewasa, hingga menjadi orang yang sukses dan memiliki hati yang mulia.

“Kaya… Kini aku merasakannya. Bukan saja kaya harta. Tuhan telah memberiku kekayaan yang sempurna, aku kaya akan kasih sayang dan kebahagiaan dari semua orang di sekelilingku. Juga terutama dari Tuhan. Kaya… bukan lagi cita-citaku. Sekarang hanya satu impianku, menjadi orang yang selalu mensyukuri nasib, bukan merenungkan nasib.”

            “Alin! Kamu ngapain sih? Tuh lampunya udah merah lagi!”
            “Iya! Iya!” kata Alin sambil menginjak rem mobilnya. Lamunannya membuat lampu hijau menjadi merah lagi. Dilihatnya anak-anak sedang mengamen mencari nafkah. ‘Suatu saat, akan tiba waktunya kalian senasib denganku’ Batin Alin senang…
           

           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat Sampai Mati


hai-hai.. cerpen nih,,
hope u like it ^^

******
            “Awas, Val!!! Rem! Cepetan Rem!!”
            “Udah aku injak, tapi remnya blong!”
            “Aduh, gimana nih?”
            “Kayaknya kita mesti pasrah deh. Tenang, Sin. Walopun mati kita tetep sahabat!!”
            “Kamu tuh ngomong apa sih? Kok malah mikirnya mati! Awas!! Aaaa!!!!!!!!!!!”
            Gelap, semuanya tiba-tiba gelap. Aku nggak bisa lihat apapun. Semuanya hitam. Kenapa? Apa aku sudah mati? Aku nggak mau mati! Aku belum mau mati! Ini di mana? Aku masih mau hidup…
            “Sin, Sinta… Kamu nggak papa?” suara Valen. Berarti aku masih hidup. Dan kami nggak jadi mati!
            “Itu kamu, Val?”
            “Iyalah,… Siapa lagi?”
            “Jadi kita nggak mati? Aku nggak mati?”
            “Nggak… Kamu nggak mati.”
            “Tapi, tapi kenapa semua gelap?! Kenapa aku nggak bisa lihat apa-apa?”
            “Soal itu…” Valen terdengar cemas. Kudengar suara lari-larian. Dan tangisan ibuku.
            “Sinta, kamu sudah siuman?” tanya ibuku lembut.
            “Bu, aku di mana? Kok gelap semua?”
            “Kamu di rumah sakit. Syukurlah kamu selamat!”
            “Ibu belum jawab, kenapa semua gelap, Bu? Rumah sakitnya mati lampu?”
            “Nggak sayang, kamu,.. kamu buta.”
            “Buta?! NGGAK!!! NGGAK MUNGKIN!!!! Aku nggak mungkin buta, Bu! Aku nggak mau buta…” seketika itu juga aku menangis. Aku tidak mau buta. Aku masih ingin menikmati hidupku dengan mata yang normal!
            “Ibu tahu ini berat buat kamu, sayang. Kata dokter kepalamu terbentur sangat keras. Sebuah mukjizat kamu bisa selamat. Tapi benturan itu membuat beberapa syarafmu rusak, jadi kamu tak bisa melihat. Selain itu, kakimu tertimpa pohon besar, dan…”
            “Kakiku patah?” sahutku takut.
            “Iya..” jawab Ibu.
            “NGGAK! Aku nggak mau! Mata buta, kaki patah! Mendingan aku mati!!”
            “Kamu harus bersyukur kamu masih hidup!”
            “Tapi bukan hidup kayak gini yang aku pingin!”
            “Sin…” rayu ibuku.
            “Aku pingin sendiri, Bu.”
            “Oke, ibu bakal keluar. Kalau kamu sudah agak tenang, kamu panggil ibu ya!” ucap ibu. Aku hanya mengangguk, aku malas bicara.
            Kenapa? Kenapa semua harus kayak gini?! Aku nggak mau buta, aku masih ingin bisa melihat. Dan,… kakiku patah! Nggak mau! Gimana caranya aku bisa jalan, lari, dan main sama temen-temen? Aku nggak mau itu semua! Aku mau badanku yang normal!
            “Sin, se’enggaknya kamu masih diberi hidup.” Kata Valen
            “Tapi kan bukan hidup kayak gini yang aku pingin, Val!”
            “Tenang, Sin. Aku bakal nemenin kamu terus, kok. Sampai kapan pun! Aku bakal selalu ada di samping kamu. Kita nggak bakal terpisahkan, Sin.”
            “Bener, Val?”
            “Iya, aku janji…”
            Hari-hari di rumah sakit jauh seperti kubayangan, yang gelap dan menyeramkan… Justru sangat asyik dan menyenangkan, itu semua karena ada Valen. Bahkan terkadang aku lupa bahwa buta, karena tiap melalui sebuah tempat, Valen selalu mendiskripsikan tempat itu secara rinci. Aku hanya tinggal membayangkan dengan imajinasiku dan semua tampak jelas di kepalaku. Valen menepati janjinya, di manapun, kapanpun, apa pun yang terjadi, Valen selalu ada bersamaku. Bahkan di saat aku tidur, Valen hadir dalam mimpi-mimpiku. Persahabatan kami semakin erat, dan seperti yang Valen janjikan, tak terpisahkan.
            “Sore ini kamu sudah boleh pulang.” kata Dokter.
Aku saaaangat senang. Untunglah bulan ini liburan sekolah, jadi aku tidak perlu takut menghadapi teman-temanku. Ya, rencananya sih, aku mau pindah sekolah. Karena, aku sekarang buta. Tak mungkin aku sekolah di sekolah orang normal. Aku menyadari itu, dan tanpa sadar, sekarang aku sudah bisa menerima kebutaanku. Aku anggap semua ini takdir Tuhan, dan aku mulai merasa bersyukur karena saat itu masih diberi hidup.
            “Selamat ya, Sin. Sekarang kamu udah boleh pulang!” ucap Valen.
            “Iya, aku seeeneng banget. Eh, tapi kalau aku pulang, kamu masih sama aku kan?”
            “Iya lah,.. Aku kan udah janji…”
            Dan,… Aku pun pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan aku dan Valen terus mengobrol, kebanyakan sih tentang hal-hal yang nggak penting. Tapi seperti kata orang, apapun bakal asyik kalau sama sahabat. Apalagi sahabat sejati, berlipat-lipat ganda asyiknya. Herannya, tiap kali Ibu ngomong sama aku, dia sama sekali nggak nganggep Valen. Padahal biasanya, kalau Valen main ke rumah, berdiri di depan pager pun tetep disapa. Tapi aku nggak ngungkit-ngungkit itu, takut Valen tersinggung.
            Waktu mobil berhenti, pintu mobil dibuka, aku langsung tahu kalau aku udah sampai di rumah. Begitu keluar mobil, aku langsung senyum,… Ini dia udara yang aku kangenin dari lama, nggak kayak udara rumah sakit yang baunya khas. Ibu ngedorong kursi rodaku sampai ke kamar. Aku langsung dibaringkan di tempat tidur. Kerasa banget bedanya, tempat tidur kamarku dan tempat tidur rumah sakit. Ah,… Rasanya kayak udah berabad-abad aku nggak ada di sini.
            Tapi rasanya ada yang beda, Valen… Dari aku sampai rumah tadi, nggak kelihatan, eh, aku emang nggak bisa ngelihat kok ya,… Nggak kedengeran suaranya. Mungkin dia langsung pulang ke rumah. Tak terasa,… Aku pun tertidur.
            “Sinta,…” bisik sebuah suara… Suara Valen.
            “Itu kamu Val?”
            “Iya, ini aku, Valen. Sin, mungkin ini hari terakhir kita bisa ketemu…”
            “Hah?! Kok  bisa? Jangan nglantur deh,… Kalau kamu nggak bisa ke rumahku lagi, aku yang maen ke rumahmu… Atau kamu pindah rumah?”
            “Bukan itu masalahnya…”
            “Terus?”
            “Kamu bakal tau sendiri nanti…”
Dan,… Suara Valen nggak terdengar lagi. Tapi,… Ah! Mungkin Valen Cuma bercanda, biasa… Dia orangnya kan gitu. Tapi ini kan malem-malem. Ibu selalu ngunci pintu kamarku. Kok Valen bisa masuk ya? Tau ah!! Mungkin dia minta dibukain kunci sama Ibu. Sekarang aku capek,… Dan aku kembali terlelap.
            “Sinta, udah pagi… Kamu harus bangun dan denger kabar gembira!” bisik ibu lembut di telingaku. Aku tertarik dengan kata ‘kabar gembira’, tanpa disuruh lagi, aku bangun.
            “Kabar gembira apa?”
            “Ibu sama Ayah udah pesenin donor mata buat kamu. Dan tadi malem, kata Dokter, donor itu udah tersedia, jadi tinggal nanti sore kamu operasi, dan kamu bakal normal lagi!”
            “Yang bener, Bu?”
            “Bener lah, masa’ ibu bohong! Udah, sekarang kamu siap-siap, biar nggak telat!”
            “Tapi kan operasinya masih nanti sore…”
            “Iya, tapi kita masih harus daftar ulang dan ngecek ulang donor mata itu pas atau nggak. Kan antri, jadi lebih cepet dateng, lebih baik.”
            “Oke!!”
            Aku bangkit dari tempat tidur dan dituntun ibu menuju kamar mandi. Aku seeeeeneng banget, hari ini, aku bakal normal lagi! Dunia nggak bakal gelap lagi di mataku.. Wah!!! Hari ini bakal jadi hari yang paling bahagia sebahagia-bahagianya hari yang paling bahagia di seluuuuruh dunia…
            Aku duduk di bangku rumah sakit. Rasanya aku udah biasa sama bau rumah sakit ini. AKu nggak sabar namaku dipanggil. Tapi Valen kok belum dateng-dateng juga, ya? Ah,… Mungkin dia belum tau aku bakal operasi hari ini. Mungkin lagi, dia sekarang lagi di rumahku, nungguin aku pulang dan beri aku kejutan, atau mungkin pesta atas kesembuhanku… Ya, aku nggak sabar nanti’in itu.
            “ Anak Sinta!” panggil perawat. Dengan semangat, aku masuk ke ruang operasi.
            Aku ditidurkan di sebuah kursi panjang. Seorang dokter menyuruh perawat menyuntikkan obat bius padaku. Sesaat kemudian, aku tak sadarkan diri.
            Saat bangun, semuanya masih gelap. Aku gelisah, apa operasiku tidak berhasil? Apa itu berarti aku masih buta? Aku nggak mau!!! Dugaan-dugaan lain terus muncul di pikiranku, sampai aku mendengar langkah kaki masuk.
            “Ibu?” tanyaku lirih.
            “Bukan. Aku dokter, nak.”
            “Dok, kok, masih gelap?”
            “Tentu saja! Perban di matamu belum dibuka. Jadi semuanya pasti masih gelap!”
            “Oh,…” gumamku lega.
            Tak lama kemudian, kurasakan tangan dokter membuka perban di mataku. Setelah balutan terakhir dibuka, di balik kelopak mataku, aku bisa melihat cahaya mulai masuk. Aku membuka mataku pelan-pelan. Tampak tembok putih rumah sakit, lemari, pintu, dan banyak lagi. Semua tampak jelas. Aku sudah bisa melihat lagi!
            Selama perjalanan ke rumah, aku asyik membayangkan, Valen akan datang dan menyambutku dengan meriah. Dia akan ikut dalam kegembiraanku. Aku harap bisa begitu.
           
            Hujan berkabut… Sudah dari tadi siang, aku menunggu datangnya Valen. Tapi Valen tak kunjung datang. Apa mungkin apa yang dikatakannya kemarin benar? Apa mungkin kami nggak akan bertemu lagi? Nggak! Aku nggak mau! Aku nggak tahu gimana hidup tanpa Valen di sisiku!
            “Sinta,…” panggil ibu.
            “Ya?” jawabku sekenanya.
            “Kamu kok murung gitu? Napa?”
            “Valen kok nggak dateng-dateng ya, Bu?”
            “Val….Valen?”
            “Iya, padahal dari kemarin, dari aku masuk rumah sakit, sampe ke sini, kami sama-sama terus. Tapi kenapa hari ini dia nggak dateng?”
            “Kamu yakin, kemarin kamu sama-sama Valen?”
            “Yakinlah… Masa’ aku nggak tahu sahabatku sendiri?”
            “Tapi…”
            “Tapi apa?!”
            “Waktu kamu kecelakaan sama Valen, Cuma kamu yang selamat.”
            “Nggak! Nggak mungkin! Waktu ibu bilang aku buta, Valen yang ngehibur aku! Nggak mungkin dia udah…”
            “Iya, dia udah meninggal.”
            “Nggak!!!”
            Aku menatap ke jendela. Samar-samar dari balik kabut, aku melihat sosok Valen sedang tersenyum. Aku ikut tersenyum dalam tangis. Aku tak menyangka Valen sudah meninggal.
            “Maaf, Sin. Aku bohongin kamu. Aku udah nepatin janjiku kan?” bisik Valen.
            “Iya… Makasih ya!”
            Lalu Valen menghilang. Aku terduduk. Jadi selama ini arwah Valenlah yang bersamaku? Pantas ibu tidak menganggap kehadiran Valen. Karena Valen memang tidak ada di situ. Aku masih terbayang saat-saat kami tertawa bersama. Aku tak pernah membayangkan kalau saat itu aku sedang tertawa bersama arwah Valen. Suatu hari nanti, kalau aku pulang ke Tuhan. Pasti aku bertemu Valen. Pasti…
           
           


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS