Love + Love = ?? >> 3

Part 3...

@Kamar Tea
"Aduhh... Otak gue pegel-pegel!" keluh Tea sambil memijat-mijat kepalanya.

"Gimana sih?! MOS kok tugasnya bikin cerita horror. Apa hubungannya coba? Panitianya nggak mutu tu!" kata Tea yang dari tadi susah payah nyari inspirasi buat bikin cerita horror.

Tuk! suara jendela kaca dilempar pake sesuatu. Tea spontan nengok ke arah jendela.

Tuk! dilempar lagi. Ternyata pake batu. Tea membuka jendela kacanya dan melongok ke bawah (kamar Tea = lantai 2).

What?! Dia! Aduuhh... Otak gue keseleo!

Tea cepet-cepet nutup jendelanya begitu liat orang yang ngelemparin batu itu.

Tuk! Tuk...tuk...tuk...tuk! lemparan batu bertubi-tubi menghujam jendela kamar Tea. Tea membuka jendelanya dengan emosi.

"Heh! Bisa pecah kaca jendel gue kalo elo lemparin kayak gitu!!!" bentak Tea pada orang di bawah.

"Habis,,, Neng Tea nggak mbuka-mbuka jendelanya sihh!" kata orang itu. Udah ketahuan siapa?

"Ihh! Lagian kurker banget sih ngelemparin jendela orang! Nggak liat, tu ada pintu! Ada belnya pula!"

"Nggak asyik dong, Neng! Biar kayak di film-film gitu... Si cowok manggil ceweknya pake ngelemparin batu ke jendela."

"Pede banget sih! Emang lo cowok gue?!"

"Belom, tapi bakal! Hahaha..."

"Belom dan nggak akan!!!" Tea menutup jendelanya lagi. Tapi buru-buru membukanya lagi mengingat nasib jendelanya kalo dia nggak buka, dilemparin batu.


"Heh! Ngapain sih ke sini?!" bentak Tea.

"Neng Tea turun dulu, dong!" kata orang itu.

"Ogah!" 

"Ya udah gue lemparin lagi ni..."

"Iya-iya! Hihh!"

Tea lari keluar dari kamarnya.


@Jalan depan rumah Tea

"Apa?!" bentak Tea begitu sampai.

"Galak amat sih, Neng? Orang diapelian juga."

"Ihh! Cepetan apa! Gue sibuk ni!"

"Oke, Neng! Neng Tea pasti belom bikin cerita horror kan?"

"Ihh! Sotoy banget, sih!"

"Gue juga belom, kok! Jalan-jalan yok, Neng... Cari wangsit!"

"Ogah banget!"

"Ayolahh... Yayayayaya???"

Ya udah lahh... Siapa tau dapet inspirasi...

"Tapi ada syaratnya!"

"Apa?"

"Dilarang manggil Neng! Jijik tau!"

"Oke! Yok!"

Tea n Aji (ooo...) jalan.


@Jalan
Suasana diem... Tea nengok ke sana kemari nyari inspirasi. Siapa tau ada setan lewat yang bisa jadi tokoh utama di ceritanya.

"Lo pasti bertanya-tanya, deh... Gue tau rumah lo dari mana." kata Aji.

"Nggak tuh!" jawab Tea sinis.

"Gue nggak mau kasih tau! Rahasia negara!"

"Siapa juga yang nanya!"

"Udah dapet inspirasi belom?"

"Belom!"

"Gue udah, lho... Mau tau nggak?"

"Nggak!"

"Gue mau bikin cerita tentang cewek yang kesasar di skolahan kita malem-malem n ditolongin sama cowok yang ternyata hantu! Wah pinter ya gue!!!"

"Pede! Siapa yang nanya!" Ampun, Te... Kasian banget si Aji dari tadi disengak’in...

"Gue mau tanya..." kata Aji tiba-tiba serius.

"Gue nggak mau jawab." kata Tea sinis.

"Lo kok, benci banget sama gue?"

"Nggak tuh!"

"Hahaha... katanya nggak mau jawab!"

"Tau ah!"

"Serius ni... Gue pingin tau." Aji serius lagi.

"Gimana nggak? Lo tu udah bikin malu di hari pertama gue yang harusnya perfect!"

"Ya ampuuunn... Masalah itu! Gue kan cuma bercanda!"

"Tapi bercandaan elo tu gue anggep serius!"

"Oke deh, gue bakal perbaikin itu!"

"Ha? Caranya?"

"Ada deh... Tunggu aja kejutanku besok! Eh, gue pulang dulu ya! Biasa orang sibuk..." Aji lari ninggalin Tea yang menatapnya bingung.

*****
Tea sampe di sekolah kayak biasa, celingukan sana-sini.

Mana? Nggak ada yang beda, kok! Maksud Aji kemaren tu apa? Gaje deh!

Akhirnya Tea mutusin langsung ke kelas n nganggep kemaren Aji nggak serius.

Di kelas...
Semua anak di dalam kelas terpana mEllahat kedatangan Tea.. Nggak ada mata yang nggak memandangnya. Tea ngerasa aneh tapi familiar sama tatapan mereka.

"Ckck... Bidadari jatuh dari langit!" kata seseorang. Tea menoleh heran ke arahnya.

"Widiihh... Dewi kayangan lagi liburan!" kata seorang lagi. Tea spontan noleh ke sumber suara.

"Gillaa... Roro Jonggrang idup lagi!"

Oke! Ini ada apa'an sih?!

Dengan bingungnya Tea jalan ke bangkunya, naruh tas, n duduk manis. Dalam sekejap, bangku Tea udah dirubungin cewek-cewek.

"Nyalon di mana? Rambut lo bisa halus gitu?" tanya cewek di sebelah Tea.

"Iya nih... Kulit lo juga bagus banget! Mandi susu ya?" tanya yang laen.

"Wow! Itu kan gelang limited edition terbaru ntu! Mahal banget lho!" kata seorang cewek sambil nunjuk-nunjuk gelang yang dipakai Tea ke temen-temennya.

Tea tambah bingung n heran. Tapi Tea yang lain yang ada dalam pikiran Tea yang lagi duduk manis, lagi melambung tinggi ke langit n nggak mikir kalo bakalan jatoh.

"Rumah lo dimana?" tanya seorang cowok dari belakang. N Tea baru sadar, kalo cewek-cewek udah ngilang dari sekitar bangkunya, diganti cowok-cowok.

"Boleh minta nomer hape nggak?"

"Pin BB?"

"Udah punya cowok?"

"Ntar ada acara nggak?"

"Gue anterin pulang mau?"

Kriiinggg.....!!!! bunyi bel masuk.

Fyuhh.... batin Tea lega. Karena dia udah sumpek n bingung banget ngehadepin pertanyaan mupeng bertubi-tubi itu.

Cowok-cowok langsung bubar, tapi...

"Ntar ngobrol lagi ya!" kata mereka kompak.

Tea langsung memasang tampang capek n melas.

Nggak lama, Tea nyusul keluar kelas n baru kepikiran kalo dari tadi Aji nggak keliatan.

Dia kemana ya? Apa dia yang bikin pagi ini jadi aneh banget?

"Kalo waktu itu gue nggak ngaco, pasti kayak gini deh, keadaan yang bakal lo hadepin. Lo seneng nggak?"

Tea kaget ngeliat Aji udah ngehadang dia di pintu kelas.

"Te?" tanya Aji lagi.

"Emm... Kayaknya iya deh..."

"Jadi?"

"Makasih ya."

"Makasih? Gue pikir lo bakal marah-marah lagi!"

"Ya... Makasih. Jadi ini kan, maksud lo kemaren? Gue seneng kok! Banget!"

"Ya iyalah... Neng Tea kan suka dipuji..."

"Heh!"

"Iya-iya... Ya udah, ke kelompok yukk?"

Tea masang senyum manis di wajahnya yang bikin Aji mematung terpesona.


@Lapangan, kelompok Rafflesia
"Berarti yang belom dateng Aji, Tea, n Milka... Mana ya mereka?" kata Marco pada siapapun yang mau ndengerin.

"Kak Marco!" kata Tea n Aji kompak begitu sampe di tempat.

"Oke! Berarti Milka nggak masuk nih? Udah jam segini lho..." kata Marco lagi.

"Nggak mungkin, Kak, Milka pasti masuk!" kata Tea.

"Yaa... Berarti dia telat! Telatnya pake banget kalo dia beneran masuk." kata Nico tiba-tiba muncul.

"Hoy!!" Teriak seseorang. Spontan semua noleh. Terlihat Milka lagi lari ke arah mereka.

"Haduhh... Hoshh... Sorry... Hoshh... Telattt... Hosh...Hoshh..." Milka ngos-ngosan begitu sampe.

"Mil, kok bisa telat, sih?" bisik Tea.

"Gue, tadi malem chatting sampe pagi... Jadi kesiangan deh!" jawab Milka yang nggak sadar kalo dia ngomong tanpa berbisik.

"Salah sendiri chatting sampe pagi! Udah tau besoknya sekolah!" kata Nico ketus.

"Iya, Kak... Maaf..."

"Ya udah... Sekarang kumpulin tugas aja! Cerita horror... Ayo mana!" kata Marco. Anak-anak langsung ngumpulin kertas-kertas berisi cerpen-cerpen horror mereka.

"Punya lo mana, Mil?" tanya Marco.

"Aduhh!" Milka menepuk dahinya.

"Gue lupa bikin..." kata Milka melas.

"Ckckckck...." Nico geleng-geleng kepala. "Udah telat, nggak bikin tugas!"

"Mil, terpaksa lo harus kena hukuman."

"Hukuman apa, Kak?"

"Hormat ke tiang bendera sampe pulang sekolah. Udah sana!"

"Ya ampunn kak.,... Nggak ada yang lebih ringan ya? Hari panas gini..."

"Ini kan masih pagi, Mil! Manja banget, sih! Sana!"

"Yahhh..."

Milka akhirnya jalan ke tiang bendera. Tea cuma bisa masang ekspresi 'sabar ya, Mil!'

"Udah! Jangan diliatin terus. Kita cek tugas-tugas kalian, ya! Mulai dari punya Aji..." kata Marco memulai.


@Depan Tiang bendera
Aduuhhh.... Gue laperr... Tadi pagi lupa sarapan, kalo sarapan nggak keburu... Hari ini sial banget sih! Gara-gara chatting ni... Aduhh... Aw! Kepalgue... Pusing... Aduhh... Burem,,, AHH!!
Brukk! Milka jatuh pingsan.

Otomatis semua orang langsung ngerubungin dia. Marco langsung ngegendong Milka ke UKS. Kelihatan banget wajahnya khawatir.


@UKS, pulang sekolah
Milka membuka matanya.

Gue di mana?

"Akhirnya, udah sadar, Mil. Nih, minum dulu." kata Marco menyodorkan gelas pada Milka.

Milka mengubah posisi tidurnya jadi duduk n minum air dari gelas itu.

"Belom sarapan ya, Mil?" tanya Marco.

Milka cuma bisa ngangguk, belom punya tenaga.

"Si Tea lagi beli makanan buat lo kok, di kantin. Tunggu aja, ya!" kata Marco sambil senyum manis.

Saking ampuhnya tu senyum, Milka langsung ngerasa mendingan.

Tokk...tokkk....tokkk.... suara pintu UKS diketuk. Ella.

"Eh, elo." kata Marco senyum ngeliat Ella.

"Mil, gue pergi dulu ya, udah janjian sama Ella. Bentar lagi Tea dateng, kok. Gue tinggal ya..." kata Marco meninggalkan Milka n menghampiri Ella.

Milka cuma bisa menatapnya
melasssss.......

*****
@UKS
"Milka...!!! Lo udah sadar, Mil! Mana yang sakit? Amnesia, anemia, insomnia?" seru Tea begitu sampe di UKS. Tangannya bawa nampan berisi semangkok bakso n teh anget.

"Aduuh, Te! Kayaknya gue gegar otak deh!" seru Milka membalas.

"Lebai deh, Mil! Nggak mungkin lah pingsan doang sampe gegar otak!"

"Lha lo dulan yang lebai, lebih nggak mungkin lagi kan kalo gue amnesia, apa lagi anemia, n insomnia? Apa hubungannya coba!"

"Gue kan cuma khawatir sama lo, Mil..." Tea meletakkan nampan yang di bawanya di meja sebelah tempat tidur Milka.

"Yey! Lo khawatir sama gue..."

"Dah! Nggak usah GR! Eh, Kak Marco mana? Bukannya tadi nungguin lo di sini?"

Wajah Milka langsung kusut.

"Udah pergi tadi sama Ella."

"Ella?"

"He'e! Te, lo ngerasa nggak Kak Marco sama Ella deket n akrab banget?"

"Iya sih... Napa? Cemburu? Nggak trima?!"

"Ehh... Kok jadi lo yang swt sih! Iyalahh... Gue kan..."

"Suka sama Kak Marco! Iya Mil... gue ngerti."

"Yaa... Kayaknya gue mau nyerah aja deh..."

"Yahh! Kok nyerah sih!"

"Soalnya, kalo Kak Marco bisa deket sama cewek kayak Ella, nggak mungkin lah Kak Marco ngelirik gue!"

"Emang!"

"Heh!"

"Iya...iya bercanda, kok... Lo kok jadi rendah diri gitu sih? Kayak bukan Milka, deh! Jangan-jangan lo gegar otak beneran ya?"

"Gue udah nggak punya harapan."

"Lho... Mana Milka Emilia fans super fanatiknya Marco Grenaldi? Lagian selama janur kuning belum melengkung, masih ada harapan!"

"Emangnya mo kawin! Tau ah Te.."

"Mil, belom tentu juga kan Kak Marco deket sama Ella tu mereka jadian. Lagian belom ada pengumuman mereka jadian, kan?"

"Tapi, Te... Kalo mereka jadian diem-diem gimana?"

"Kalo Kak Marco sepopuler yang lo bilang, nggak mungkin lah jadian tanpa ada berita yang nyebar."

"Tapi kalopun mereka nggak jadian kan belom aja, mereka kan masih PDKT."

"Udahlah, Mil. Jangan dipikirin dulu, ntar tambah sakit lho. Ni, makan dulu baksonya."

Milka cuma senyum n makan baksonya.


@setengah jam kemudian, telepon umum sekolah
"Yahh... Kok pake gembes segala sih! Ya udah deh... Iya... Cepetan lho!... Hiiihhh!" Tea menutup telponnya dengan jengkel n berjalan cepat menuju gerbang sekolah.

Kenapa sih mobilnya hobi banget ngadat? Pasti gara-gara deg-degan deh, mau ditumpangin sama gue! Ahhh... Milka udah dijemput san! Moga-moga nggak lama deh!

Karna kelewat serius jengkel, Tea nggak sadar kalo di depannya ada batu n... kesandung, deh... Tapi :...

"Kalo jalan liat-liat kenapa sih!" ucap seseorang yang menopang tubuh Tea biar nggak jatuh. Sadar akan itu, Tea langsung berdiri tegak n masang muka siap tempur.

"Kalo nggak ikhlas nolong mending nggak usah, deh!" balas Tea sengak.

"Udah ditolongin, bukannya terima kasih malah nyolot! Dasar sok!" kata orang itu datar.

"Apa?!! Bilang sekali lagi!"

"Udah sok, budeg ya? Kasian amat sih hidup lo!" masih dengan  tanpa emosi.

"Enak aja! Heh! Lo tu yang sok! S O K! Mentang-mentang anak kepala sekolah lo pikir sikap lo bisa diterima gitu aja?! Dasar nyolot!" seru Tea. Udah tau kan, orangnya siapa?

"Terserah." katanya sambil berjalan menjauhi Tea.

"Lo ngerasa hebat kan, punya ortu berkuasa! Mungkin harta lo banyak, tapi sikap lo nol!" bentak Tea setengah berteriak. Nico menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tea tajam.

"Ngerasa diri sendiri udah perfect? Ngaca dong, kalo mau ngatain orang!" dengan ekspresi n suara datar tentu aja... Nico langsung berbalik pergi, ninggalin Tea yang syok.


@Esok paginya, di kelas XF...
Brukk! Tea membanting tasnya begitu sampe kelas.

"Aduh aduhh... Non Tea kenapa? Pagi-pagi gini udah emosi gitu?" kata Aji, yang duduk di samping Tea.

"Diem lo!" bentak Tea sambil mEllarik Aji sinis. Aji langsung meringis, mamerin gigi-giginya.

"Apa'an sih! Ihhh!!!" bentak Tea mengalihkan pandangannya dari Aji.

"Napa sih, Te? Kasian kan, Aji perhatian tu sama lo." kata Milka menghampiri meja Tea.

"Biarin! Gue lagi bad mood."

"Bad mood kenapa?" tanya Milka.

"Gara-gara Mr. Sok itu tu!"

"Mr. Sok siapa lagi?"

"Siapa lagi kalo bukan... DIA!" bentak Tea di kata "DIA" saat melihat Nico dan Marco masuk ke kelasnya. Milka n Aji spontan menoleh ke arah mata Tea.

"Nggak mungkin Kak Marco lahh!" kata Milka tanpa memalingkan pandangan dari Marco.

"Ya bukanlah! Satunya!" ucap Tea jengkel.

"Kak Nico?" tanya Aji. Tea cuma masang wajah sinis n itu udah cukup menjawab.

"Mau ngapain coba dia ke sini?!" kata Tea.

"PERHATIAN TEMEN-TEMEN!" teriak Marco yang sekarang ada di depan kelas, dengan Nico di sampingnya. Kelas jadi hening.

"Buat yang berminat jadi pengurus OSIS, silakan isi formulir ini n kumpulin ke gue, Nico, ato Helen." kata Marco mengangkat setumpuk formulir pendaftaran yang dipegangnya.

"Nanti kalian akan diseleksi sama OSIS yang lama, termasuk gue tentu aja, n dipilih sama guru-guru lewat wawancara. Paling lambat nyerahin formulirnya besok. Gitu aja, makasih!" kata Marco n langsung berjalan keluar, diikuti Nico di belakangnya.

"Gue kira apa'an... Ternyata dia nampang doang!" kata Tea.

"Nampang?" tanya Milka bingung.

"Ya! Dari tadi kan yang ngomong Kak Marco!"

"Ya ampuun Te... Eh, ngomong-ngomong kalian mo daftar nggak?"

"Gue sih kalo Non Tea daftar, gue mau..." kata Aji melirik Tea sambil menaikkan alisnya.

"Ihh! Ogah banget! Ntar ketemu sama Mr. Sok!" kata Tea.

"Emang dia ngapain lo sih, Te?" tanya Milka.

"Dia tu ya..."

Kriiiingggg....Kriiiinggg..... ucapan Tea terpotong bel masuk.

"Ntar gue cerita pas istirahat." kata Tea. Milka mengangguk.


@kantin, jam istirahat
"Gitu lho Mil, sok banget kan!" kata Tea di akhir ceritanya tentang kejadian kemaren.

"Tea Tea... Wajar dong Kak Nico gitu... Dia kan ngingetin lo buat hati-hati, nolongin lo pula, ehh... lonya malah bentak-bentak dia!"

"Nyebelin Mil! Lo kok bela'in dia sih!"

"Bukannya gitu Te... Gue tu..."

"Apa?!"

Milka cuma diem, mematung, menatap ke depan, tapi bukan ke arah Tea.

"Mil?" tanya Tea heran, mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Tea. Ajaibnya, Milka sama sekali nggak berkedip.

"Mil?" tanya Tea lagi.

"Kak Marco, Te... Jalan ke sini..." kata Milka lirih masih dalam posisinya.

Tea menoleh ke belakang, kEllaatan Marco emang lagi jalan ke arah mereka. N begitu Marco berhenti di depan mereka, Milka langsung mengubah posisinya sewajar mungkin. Tapi itu malah bikin posisinya nggak wajar.

"Hai Mil, hai Te!" sapa Marco.

"Hai, Kak!" balas Tea. Milka cuma senyum, jantungnya sih lagi maraton.

"Napa, Kak?" tanya Tea.

"Emm... Cuma mo tanya aja, kalian daftar OSIS nggak?"

"Nggak tertarik." kata Tea.

"Lo, Mil?" tanya Marco menatap Milka. Milka jadi grogi ditatap Marco.

"Emm... Belom tau, Kak." kata Milka.

"Daftar aja, Mil! Asyik lho jadi OSIS!" seru Marco semangat.

"Kok Kak Marco jadi semangat sih?" tanya Tea.

"Eh? Nggak kok, emm... Milka kan belom tau, siapa tau berminat."

"Emang kanapa kalo gue daftar, Kak? Lagian kan nggak mesti keterima juga..."

"Jangan pesismis gitu! Gue tau lo pinter." Marco semangat lagi.

"Kok kayaknya Kakak pingin banget sih, Milka daftar?" tanya Tea penasaran.

"Yaa... Pasti bakal asyik n seru aja kalo ada Milka."

Deg!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS