Jika Aku Menjadi... 5

Hei... sorry lama. Wah, kayaknya ceritanya jadi gaje nih... Sorry ya :)

*****
           
 “Lo siapa?” tanya Alvin dan Ify kompak.
            “Gue? Kalian nggak tahu siapa gue?”
            Orang itu berdiri di atas meja n bergaya a la Pahlawan Bertopeng (itu lho yang di Sinchan)
            “Gyahahaha!” seru orang itu sambil ketawa-tawa bangga, “Gue adalah malaikat Rio, yang paling keren, paling ganteng, dan paling menawan seantero jagad!”
            “Ssst.. Vin, gue baru liat ada malaikat narsis!” bisik Ify.
            “Iya nih, orang gila kali. Lo punya nomer RSJ nggak?” balas Alvin.
            “Weits! Saudara-saudara.. gue denger lho kalian ngomongin gue!” seru Rio.
            “Serius deh, lo siapa? Kok tiba-tiba bisa nongol di sini?” tanya Alvin.
            “Gue kan udah memperkenalkan diri…” ucap Rio sambil turun dari meja.
            “Hadehh… Kalo lo memperkenalkan diri sebagai malaikat, gue nggak percaya! Mana ada sih malaikat di sini, narsis lagi!”
            “Yee.. malaikat boleh narsis juga dong! Kalian mau bukti?”
            Rio menjentikkan jarinya, dan Cring-cring! Muncul tiga mangkok bakso lengkap dengan es teh nya, di atas meja.
            “Wuihhh…” Ify dan Alvin memandang kagum sekaligus ngiler.
            “Percaya kan?” tanya Rio, menaik turunkan alisnya.
            “Oke deh.. tapi buat apa lo di sini? Kurang kerjaan?” tanya Ify.
            “Kurang kerjaan?! Wah… Anda menghina! Malaikat kayak gue ini sibuuuuukkk banget! Nggak mungkin ada waktu buat kurang kerjaan.”
            “Narsis gila sih lo!” seru Alvin dingin.
            “Tunggu, kalo gitu ngapain lo di sini?” tanya Ify lagi.
            “Santai sob, gue di sini mau menyertai kalian… Tepatnya nemenin.”
            Alvin dan Ify langsung melongo heran memandang Rio.
            “Oke, lebih tepatnya lagi dan alasan sebenernya, gue dihukum.”
            Alvin dan Ify makin melongo lagi.
            “Hhh… Gue jelasin…”
            Rio menjentikkan jarinya. Seketika, muncul gumpalan asap di hadapan Alvin dan Ify, lamat-lamat terlihat bayangan di dalam asap itu, bayangan itu semakin jelas…

>>>>Flashback : on>>>>>
            Rio ada di sebuah ruangan serba putih, semua perabotan di situ terlihat halus dan empuk, seolah terbuat dari awan. Rio duduk di sebuah kursi, menggoreskan pulpennya pada secarik kertas, di sampingnya terlihat selembar kertas lagi dengan tulisan yang sama. Setelah selesai menulis, Rio menjentikkan jarinya. Dalam sekejap kedua kertas itu terbungkus sebuah benda berwarna putih.
            Rio keluar dari ruangan itu, berjalan santai di atas awan. Rio terus berjalan sampai dia sampai di sebuah taman. Rio menghampiri kolam yang ada di taman itu, memandang ke air di dalamnya. Tapi bukan bayangan Rio yang terpantul di air, melainkan langit malam bumi. Rio tersenyum iseng, lalu melemparkan dengan asal kedua kertas yang telah terbungkus tadi, dan pergi meninggalkan taman.
            Rio membuka sebuah pintu, di balik pintu itu, ruangan serba putih yang tadi tampak. Rio langsung terperanjat kaget melihat seorang kakek-kakek dengan mahkota emas dan berwibawa duduk di sebuah sofa. Seketika kekagetan Rio berubah menjadi ketakutan.
            “Rio, kamu tahu kenapa saya ada di sini?” tanya kakek itu.
            “Ap… Apakah karena kertas ajaib yang saya buat?” Rio balik bertanya.
            “Ya. Kertas ajaib buatanmu telah mengubah dua anak manusia. Kamu harus bertanggung jawab.”
            Rio mengangguk cepat.
            “Kamu sudah tahu bahwa kita tidak boleh mewujudkan permohonan manusia yang keluar dari batas kewajaran mereka. Karena manusia itu rakus, tidak pernah puas, selalu ingin lebih. Mereka bisa memanfaatkan kesempatan kecil menjadi kejahatan besar. Untung saja, manusia yang menggunakan kertas ajaibmu tidak meminta hal yang membahayakan orang lain. Sebagai hukumannya, kamu harus turun ke bumi dan membantu apapun yang mereka butuhkan sampai tubuh mereka kembali normal.”
>>>>>>>Flashback : off>>>>>>>>

            Asap itu menipis dan menghilang. Alvin dan Ify memelototi Rio.
            “Jadi lo yang bikin kertas itu?” tanya Alvin.
            “Dan itu berarti lo yang bikin kami kayak gini?” tanya Ify.
            “Yup! Tapi itu kan permohonan kalian. Kertas itu ada dua, dan permintaan bisa dikabulkan Cuma kalau dua manusia yang menerima kedua kertas itu meminta hal yang sama. Dan kebetulan kalian yang dapet, kalian sama-sama pingin jadi orang lain.”
            “Tapi buat apa lo bikin kertas kayak gituan?” tanya Ify.
            “Iseng aja.” Jawab Rio.
            “ISENG?!”
            “Weits… santai!”
            “Oke, terus kapan kami bakal kembali jadi normal?”
            “14 hari lagi.”
            “14 hari? 2 minggu? Lama amat!”
            “Daripada selamanya? Lagian udah aku tulis kok di kertasnya.”
            “Nggak ada! Gue nggak liat.”
            Rio menjentikkan jarinya. Cring-cring! Kertas yang dipegang Ify tadi malam tiba-tiba muncul di depan mereka.
            “Liat tuh! Di sini…”
            Rio menunjuk sudut kanan bawah kertas dengan telunjuknya.
            “Mungkin kalian butuh ini.”
            Rio menjentikkan jarinya. Cring-cring! Muncul kaca pembesar di depan kertas itu. Tulisan di sudut kanan bawah jadi kelihatan.
            Masa berlaku : 14 hari
          Masa tenggang : 2 jam
          SMS gratis dan smsan sepuasnya : tekan *10101010*1#
          Alvin dan Putri saling berpandangan, heran. Sementara Rio cengar-cengir gaje.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS