Jika Aku Menjadi... 2

Hhh… Gimana nih nggak ada yang nyantol! batin Ify bicara pada dirinya sendiri.



Tapi besok remidi nggak boleh nol!


Habis gimana? Salah sendiri punya kapasitas otak minim…


Udah deh! Ayo baca lagi.

Ify menghentikan lamunannya. Tadi hasil ulangannya dibagi dan ada gambar nol besaaar banget di lembar jawabannya. Dari 40 siswa di kelasnya, ada 15 yang remidi, termasuk Ify. Hal ini seenggaknya bikin kekhawatiran Ify berkurang karena ada yang nemenin.

Ify memandang buku di pangkuannya, dia sedang duduk belajar di tempat tidurnya. Satupun nggak ada kata yang nyantol di otaknya. Walopun udah dari pulang sekolah tadi dia langsung buka buku, membacanya bikin kepala Ify malah jadi pusing, alhasil berkali-kali kegiatan belajar Ify diselingi lamunan. Ify emang bukan jenis orang yang gampang belajar. Kalo nggak karena nilainya nol besar, dia nggak akan segininya peduli soal remidi.

Ahhh! Tau ah!

Akhirnya Ify menyerah. Ditutupnya buku keras-keras dan bangkit berdiri. Ify membuka jendela kamarnya, memandang langit yang penuh bintang.

Nggak krasa udah malem…

Ify berjalan ke balkon kamarnya, tempat kesukaannya. Kamar Ify ada di lantai dua. Dari balkon ini Ify bisa melihat pemandangan daerah perumahannya dari atas, lampu-lampu rumah bagai kunang-kunang menghias malam yang gelap. Angin malam yang dingin menerpa Ify, membuat badan Ify sedikit gemetar. Ify mengalihkan pandangan ke langit. Malam ini bintang-bintang bersinar terang dan bulan purnama tampak diantaranya. Tiba-tiba Ify kepikiran remidinya besok. Dan betapa dia udah membuang-buang waktu berdiri di sini.

Hhh… Siapa sih yang nyiptain ulangan? Pasti orang yang seneng liat anak kayak gue menderita!


Ya! Anak kayak lo, Fy! Kalo anak kayak Alvin mahh…


Tunggu-tunggu! Kok jadi Alvin sih?!


Ya! Seandainya gue jadi Alvin, pasti gue nggak usah repot-repot mikirin remidi ato nilai nol, bahkan remidi pun nggak mungkin. Minimal nilai sembilan puluh dehh…


Nggak! Kalo gue yang jadi Alvin, justru Alvin bakal oon dan pemalas, karena gue ya gue. Tapi kalo Alvin jadi gue…

Pluk!

“Aww!” Ify merintih.

Dipungutnya benda yang udah jatuh mengenai kepalanya. Sebuah benda bulat warna putih. Ify memandang ke atas, heran dari mana asal benda itu.

“Siapapun yang nglempar, gue doa’in kena getahnya! Sakit tau!”

Ify melempar keras-keras benda itu di lantai balkonnya.

“Hah?”

Benda itu terbelah! Di dalamnya ada secarik kertas. Ify mengambil dan membacanya, lalu langsung ketawa dengan tulisan singkat di kertas itu.

Selamat! Anda punya satu permintaan! Yey!

Ayo segera gunakan. 

“Ni orang gila kali ya? Emangnya gue percaya?!”

Hahahaha! Coba ahh…

Dengan iseng, Ify menutup mata, lalu bergumam, “Seandainya gue jadi Alvin dan Alvin jadi gue.”

Ify membuka matanya, dan ketawa histeris lagi. Heran atas kekonyolan dirinya sendiri. Setelah puas merasa dapet hiburan, Ify balik ke kamarnya dan langsung tenggelam dalam selimutnya. Menyerah dengan buku pelajaran Biologi, memperkirakan besok seenggaknya bisa dapet nilai 40.



*****

KRIIIIIIIIIIIIING!!!!!!!!

Suara jam beker. Ify meraba-raba dari mana asal bunyi itu, matanya masih tertutup rapat. Setelah menggenggam jam beker itu, dia melemparnya sembarangan, berusaha menghilangkan bunyi yang mengganggu tidurnya. Lalu Ify kembali terlelap.

Tunggu! Gue kan nggak punya jam beker!

Mata Ify langsung terbuka. Dipandangnya tempat asing tempatnya berada. Bukan lagi tempatnya tidur tadi malam. Bukan wallpaper Tinker Bell yang ada di tembok kamarnya, tapi cat bersih warna biru langit. Ify mengamati sekitarnya masih dengan terheran-heran. Diputuskannya bangun dan mencuci mata, mengira dia sedang bermimpi. Maka Ify bangkit dan menuju pintu yang sepertinya pintu kamar mandi.

“AAAAAAAAAAAAAA!!!!!”, Ify berteriak kencang.

Cowok bertubuh tinggi tegap dengan rambut acak-acakan terpantul di cermin yang seharusnya memantulkan bayangan Ify. Ify mendekati cermin itu, merabanya dengan pandangan takjub. Ify segera menyalakan keran di depannya dan mencuci matanya dengan air sebanyak-banyaknya. Tapi bayangannya tidak berubah. Ify mengedarkan pandangan di tubuhnya sendiri dan langsung berteriak histeris lagi. Karena bukan tubuh Ify yang selama 15 tahun ini melekat padanya yang ada, tapi tubuh cowok yang nggak asing lagi di kehidupannya. Alvin!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS