Jika Aku Menjadi... 1

PART 1
cerbung baru nih, yang lama lagi nggak ada ide (nggak niat banget yaa?) Maaf kalo jelek :)


****


            Ify memandang lembar jawabannya. Tangannya mengetuk-ngetukan pensil ke pelipisnya, berharap jawaban bisa muncul begitu saja dalam otaknya. Gara-gara begadang nonton film The Ring tadi malam, Ify jadi belum belajar untuk ulangan Biologi hari ini. Sekilas diliriknya Shilla, teman sebangkunya, lalu Ify cepat-cepat menggeleng. Gini-gini dia pantang mencontek saat ulangan! Mata Ify memandang seisi kelas, berharap mendapat inspirasi, walaupun dia tahu inspirasi nggak mungkin datang dengan cara seperti ini.

            Tanpa sengaja mata Ify menangkap sosok Alvin, sedang tidur di atas mejanya dengan menelungkupkan kepala di bawah kedua tangannya, lembar jawabannya yang tertutup berada di depannya.
            Alvin udah selesai ya?, Ify memulai hobbynya, bicara pada diri sendiri.
            Iyalahh! Otaknya encer gitu!
            Enak ya jadi Alvin…
            Iyaa, udah cakep, keren, kaya, pinter pula!
            Yup! Dan jangan lupa selalu rangking satu!
            Ify melihat lagi lembar jawabannya, yang tak ternoda, alias putih bersih. Karena nggak belajar, nggak satu pun soal bisa dijawab Ify. Hhh… Ify menghela napas pasrah, menyerah. Ditutupnya lembar jawabannya.
            Besok remidi aja deh!
            Eh, tapi masa dapat nol?
            Biarin! Resiko tanggung sendiri!
            Selang beberapa menit dari keputusan penting Ify, bel istirahat berbunyi, menandakan waktu ulangan sudah habis. Bu Winda, guru Biologi, berjalan menyusuri meja demi meja mengumpulkan lembar-lembar jawaban. Hingga Bu Winda sampai di meja Ify…
            “Lho, Ify? Kok kosong?” tanya Bu Winda heran melihat lembar jawaban Ify.
            “Nggak tau semua, Bu.” Jawab Ify dengan suara bergetar.
            “Nggak tau semua bagaimana?”
            “Ya, tadi malam saya belum belajar.”
            “Berarti nilai kamu nol!”
            “Iya Bu…”
            “Belum pernah ada nilai nol di kelas saya, sebagai hukuman, nilai remidi maksimal kamu hanya 60.”
            “60 Bu?” Ify memastikan, nggak percaya.
            “Ya! 60. Anak-anak…” Bu Winda mengeraskan suaranya.
            “Besok ulangan ini ibu bagi, remidinya lusa ya!”
            “Iya Bu…”
            Setelah Bu Winda meninggalkan kelas, satu persatu anak-anak keluar dari kelas untuk istirahat. Sedangkan Ify menyesali nasib di bangkunya.
            “Ya ampun Fy, masa satu pun soal lo nggak bisa?” tanya Shilla.
            “Lahh.. mau gimana lagi? Nyatanya otak udah paling mentok!” jawab Ify.
            “Emang lo ngapain sih sampai nggak belajar?”
            “Nonton The Ring. Hehe…” Ify malah cengengesan. Shilla menggelengkan kepalanya.
            “Ckck… nggak penting banget deh!”
            “Seru tau filmnya!”
            “Jadul kali tu film…”
            “Tapi kan gue baru nonton!”
            “Terserah lo deh, ke kantin nggak?”
            “Ayo!”
            Ify dan Shilla bangkit dari bangku mereka, berjalan keluar kelas. Sekilas sebelum keluar, Ify memperhatikan Alvin yang masih tidur di mejanya.

@Kantin
            “Shil, lo ngerasa nggak, Alvin tuh perfect?” tanya Ify setelah menyeruput es tehnya.
            “Napa lo nanya-nanya Alvin? Ciee… rupanya ada benih-benih cinta di sini!” jawab Shilla.
            “Ihh! Bukan gitu maksud gue! Liat aja ulangan tadi, nggak sampai sepuluh menit dia udah selesai! Otaknya kan tokcer banget, tajir, keren, cakep, liat aja fansnya yang bejibun!”
            “Iya sih… Tapi kan manusia nggak ada yang perfect, Fy.”
            “Tapi buat gue Alvin tu perfect!”
            “Ya udah, pacarin aja sono!” 
            “Tau ah! Susah ngomong sama lo!”

*****
            Alvin berjalan malas ke kantin. Dia masih jengkel, dibangunin dengan paksa sama Gabriel dan Cakka. Di kiri-kanannya, Gabriel dan Cakka berjalan santai. Cewek-cewek yang berada di jalur perjalanan mereka menuju kantin, langsung ngerapiin rambut, sok ketawa-ketiwi, bahkan ada yang terang-terangan mandangin mereka kagum. Gabriel senyum sana-sini dan melambai pada setiap orang yang dikenalnya, sementara Cakka berjalan sambil tebar pesona, berkali-kali mengacak-acak rambut bagian belakang kepalanya. Cuma Alvin yang cuek, dengan cool nya, berjalan sambil menatap lurus ke depan, tanpa menoleh kiri kanan.
            Sampai di kantin, mereka langsung menempati singgasana mereka, meja khusus mereka di kantin. Sebenernya nggak ada sih yang bilang itu meja khusus mereka, tapi karena mereka selalu duduk di situ, anak-anak yang lain secara otomatis menghindari duduk di meja itu. Maklum, Alvin, Cakka, dan Gabriel layaknya selebriti di sekolah mereka.
            Alvin, siswa kebanggaan sekolah. Selalu juara dalam semua perlombaan yang diikutinya. Kebiasaannya tidur setelah mengerjakan sesuatu, baginya adalah pengistirahatan otaknya, sebagai hadiah buat otaknya yang udah bekerja keras. Gayanya yang cool dan cuek semakin menambah ke-kerenannya, sebagai tambahan dari modalnya yang ganteng, tinggi, kaya, dan pintar. Dia udah bersahabat sejak SD dengan…
            Gabriel, ketua OSIS nan perfect. Sikapnya yang ramah dan murah senyum, membuatnya punya banyak teman hingga terpilih jadi ketua OSIS atas suara teman-temannya. Walau nggak sapintar Alvin, otaknya nggak bisa diremehin. Kesopanan dan senyumnya yang menawan sukses bikin cewek-cewek klepek-klepek. Dia mempunyai saudara sepupu bernama…
            Cakka, jagoan basket yang udah menambah koleksi piala basket sekolah. Kebiasaannya mengacak-acak rambut jika sedang ada di depan umum, karena baginya rambut yang berantakan itu keren. PD banget, narsis dan suka tebar pesona. Prestasinya di bidang pelajaran terglong rata-rata, hanya olah raganya yang menonjol. Permainan basketnya yang memukau selalu bisa bikin orang memandang takjub.
            Mereka jalan bertiga sejak MOS SMA setahun yang lalu. Gabriel udah lebih dulu kemana-mana bareng Alvin, Gabriel juga yang mengenalkan Alvin pada sepupunya, Cakka. Dan jadilah mereka pangeran-pangeran SMA Idola.

*****


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS