Just The Way U Are >> 1


           Beberapa gerombolan cewek sedang ngobrol di parkiran. Tunggu… parkiran? Ya! Parkiran! Tepatnya mereka ngobrol untuk mengisi waktu karena menunggu datangnya seseorang. Eh, dua orang ding.. Cewek-cewek itu udah ada di sana dari pagi banget, berlomba datang paling pagi biar bisa dapet tempat di depan. Karena menurut mereka, dengan berdiri di paling depan dan menjadi cewek pertama yang dilihat orang itu, mungkin orang itu bakal mengingat wajahnya.
            Tepat lima belas menit sebelum waktu masuk sekolah, sebuah mobil Sport putih disusul  motor Ninja hitam masuk ke gerbang dan dengan mulus parkir bersebelahan di sebuah petak parkiran, tempat yang sepertinya udah disediakan khusus buat mereka. Hampir bersamaan, pengendara motor membuka helmnya dan pengemudi mobil membuka pintu melangkah keluar.
            Cewek-cewek yang tadi ngobrol udah mengalihkan pandangan sejak motor dan mobil itu masuk gerbang. Dan setelah pemiliknya menampakkan diri, –membuka helm dan keluar dari mobil– cewek-cewek itu jadi histeris. Suasana langsung riuh. Apalagi setelah dua orang tadi mulai berjalan memasuki gerbang sekolah, bisik-bisik riang terdengar di semua gerombolan itu. Nggak cukup sampai di situ, setelah kedua orang itu menginjakkan kaki di halaman sekolah, cewek-cewek tanpa disuruh mengekor, merasa bangga bisa berjalan di belakang dua orang itu.
            Cewek-cewek yang nggak ikut nunggu di parkiran, nunggu di koridor dan lorong-lorong yang akan dilewati dua orang itu. Mereka langsung merapikan rambut dan seragam mereka begitu mendengar sorak heboh dari gerbang, tanda dua orang yang mereka nanti udah datang, dan langsung pasang senyum sok manis saat orang-orang itu melewati mereka. Pemandangan ini sukses membuat cowok-cowok yang lain memandang iri, berharap merekalah yang ada di situ. Dan semua kehebohan ini bukan cuma terjadi hari ini atau satu dua kali, tapi setiap hari sejak dua orang itu masuk sekolah ini, hal-hal pagi hari seperti pagi ini udah menjadi rutinitas, mungkin baru bakal berhenti setelah dua orang itu lulus.
            Hmm… siapa sih sebenernya dua orang menghebohkan itu?

***
            Pengendara motor bernama Gabriel, sedangkan yang datang dengan mobil bernama Alvin. Gabriel dan Alvin adalah saudara kembar, tapi nggak identik. Kalau mereka nggak lahir di tanggal yang tepat sama dari rahim ibu yang sama pula, nggak akan ada orang yang bisa bilang atau mengira mereka kembar. Mereka sama-sama berwajah oriental–keturunan  orang tua mereka yang Tionghoa, sama-sama memiliki rambut dan bola mata berwarna hitam. Oh ya.. mereka juga sama-sama terkenal dan menonjol di sekolah, walaupun dengan cara yang berbeda. Hanya itu. Selebihnya mereka jauh berbeda.
            Gabriel, akrab dipanggil Iyel. Mewarisi mata tajam ayahnya. Tubuhnya tinggi atletis. Kulitnya lebih gelap daripada Alvin karena sering berada di bawah terik matahari –akibat semua pertandingan dan latihan basketnya. Iyel orang yang supel, mudah bergaul dan ramah pada siapa saja. Jenis orang yang lincah, aktif, dan nggak bisa diam. Sorak sorai dan teriakan histeria selalu ada setiap Iyel turun ke lapangan basket, mencetak angka demi angka dengan lemparan-lemparan ampuhnya. Sebagian besar piala kemenangan lomba basket di sekolah adalah hasil keringatnya.
            Alvin, memiliki mata teduh ibunya. Tubuhnya tegap dan jangkung. Murid teladan tapi nggak cupu. Digilai cewek-cewek karena gayanya yang cool, dan terkenal karena prestasinya yang menggunung. Perpustakaan jadi laku gara-gara dia (cewek-cewek pada nongkrong di situ Cuma buat ngeliatin Alvin, yang kadang saat istirahat menghabiskan waktu di perpustakaan). Kebanggaan sekolah, kesayangan guru, dan digilai cewek, tapi sama sekali nggak sombong ( ,rajin menabung dan rajin menyiram bunga – ngaco!).
            Jenis senyum mereka juga beda, kalo Iyel : jenis senyum yang bikin orang –khususnya cewek– spot jantung karena super deg-degan. Kalo Alvin : jenis senyum yang bikin orang –khususnya cewek lagi– meleleh saking terpesonanya.
            Mereka sama-sama jago nyanyi dan main musik, tentu aja alat musik yang mereka mainkan juga beda menurut kepribadian mereka. Iyel jago banget main gitar, permainan gitarnya bukan Cuma bikin cewek-cewek histeris, tapi juga bikin cowok-cowok melongo. Alvin sih jago piano… gayanya yang cool pas banget sama kesan piano yang elegant. Pokoknya mereka sama-sama memainkan itu dengan keren dan fantastis!
            Walau punya kepribadian yang bertolak belakang, Iyel dan Alvin tetep bisa akur dan akrab. Sejauh ini, mereka sama sekali nggak pernah bertengkar hebat. Paling-paling bertengkar rebutan remote TV ato waktu menjagokan tim sepak bola. Selebihnya mereka tentram-tentram ajaa...

*****
            Acha berjalan deg-degan memasuki sekolah barunya. Acha penasaran melihat lautan cewek yang mengelilingi sesuatu, dia menengok jam tangannya, masih lima menit dari jadwal masuk sekolah. Mungkin Acha bisa menyempatkan diri melihat apa yang dikerumuni cewek-cewek itu. Maka dia berjalan lebih cepat ke sana.
            Makin dekat, Acha bisa mendengar gumaman, teriakan, dan sorakan histeris cewek-cewek makin jelas. Rasa penasarannya jadi lebih besar. Acha memaksa diri berdesakan menuju pusat kerumunan itu. Dan betapa kagetnya Acha, yang mereka kerumuni itu cowok yang lagi main basket!
Hello! Mbakyu, Cici’, Kakak-kakakku yang cantik, ngeliat cowok aja heboh banget sih?! Pliss deh, cowok berjuta-juta kali di bumi ini!
Acha geleng-geleng heran. Emang sih, cowok itu keren, keren banget malahh.. tapi buat Acha, nggak penting banget kalo sampai histeris kayak gitu. Dari pandangan Acha, cowok itu menikmati semua ke-alay-an cewek-cewek yang memandangnya, dia tersenyum dan melambai pada lautan cewek, yang disambut mereka dengan teriakan yang lebih histeris lagi. Merasa nggak tertarik, dengan menyesal karena buang-buang waktu datang ke tempat itu, Acha berdesakan lagi keluar dari kerumunan cewek-cewek yang menurutnya gila.
BUK!!
Belum sempat Acha berhasil menerobos kerumunan, bola basket sukses menghantam kepalanya.
“Aw!!” teriak Acha memegangi bagian belakang kepalanya yang ketimpuk bola.
“Aduuhh… sori-sori…”
Acha menoleh, cowok keren yang tadi!
“Maaf ya… sakit nggak?” tanya cowok itu.
Idih mas, ganteng-ganteng pertanyaannya nggak mutu banget yak!, batin Acha.
“Ya iyalah! Duuh…” Acha mengusap kepalanya.
Cowok itu ikut mengusapnya dengan tampang menyesal.
“Heh!” Acha menjauhkan tangan cowok itu dari kepalanya.
“Soriiii…”
Acha memutar bola matanya. Bukan karena sebel atau nggak mau maafin cowok itu, tapi karena makin perhatian tuh cowok sama kesakitannya, gerombolan cewek-cewek di sekeliling Acha makin mandang Acha sinis.
So Fantastic… Elastic…Fantastic…Elastic… Ring Ding Dong Ring Ding Ding… Digiding… Digiding ding ding…
Acha mengerutkan keningnya, kok keluar lagu Ring Ding Dong dari speaker sekolahnya??
“Haha… anak baru ya?” tanya cowok itu.
“Kok tau?”
“Itu bel masuk sekolah kita… Cuma anak baru yang bakal bingung dengerin ada lagunya SHINee diputer pake speaker sekolah.”
Acha mangut-mangut, memandang sekelilingnya. Gerombolan cewek-cewek tadi udah pada ngacir ke kelas masing-masing dengan tampang nggak rela. Ada juga yang masih bisik-bisik sama temennya sambil nunjuk-nunjuk Acha. Tiba-tiba aja rasa sakit Acha ilang.
“Oh ya! Aku juga harus masuk kelas!” seru Acha.
Cowok itu ketawa.
Males menanggapi atau bertanya kenapa cowok itu ketawa, Acha pergi dari tempatnya berdiri. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik.
“Emm… Bisa tunjukin kelas XB di mana nggak?”

*****


Bikin cerbung nih~ tapi nggak janji nasibnya gimana piss ^^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar