Love + Love = ?? > > 4

Hai-hai... sorry ya lama! Yang penting masih ada lanjutannya... hehe...

Part 4...


Deg! 
What?!

Milka nggak percaya sama apa yang dia denger barusan.

"Bakal Milka pikir-pikir kok, Kak." kata Tea melihat Milka udah mematung.

"Marco!" panggil seorang cowok dari jauh. Dia berlari ngedeketin Marco.

"Co, dipanggil Bu Ana tuh di ruang guru." kata cowok itu.

"Oh, pasti mo ngebahas pendaftaran besok. Ya udah, thanks ya!"  cowok itu mengangguk n pergi.

"Mil, Te, gue duluan ya." kata Marco.

"Iya, Kak." kata Tea, Milka cuma senyum.

"Oh ya, gue harap elo bisa ikut ya, Mil." kata Marco lagi, menatap Milka sambil senyum n berlalu pergi.
Tea n Milka mengamati kepergian Marco, n begitu Marco udah nggak keliatan...

"TEA!!! LO DENGER NGGAK TADI DIA NGMOONG APA??!!!" teriak Milka histeris. Ngebuat seisi kantin langsung menoleh heran ke arahnya.

"Sorry,.." kata Tea setengah malu.

"Apa'an sih, Mil! Malu-malu'in tau!" kata Tea.

"Teaa... Ya ampuuunn... Gue nggak nyangka..." kata Milka berbinar-binar nggak peduli sama Tea.

"Iya Mil iyaa... Berpohon-pohon ni ceritanya?" 

"Wahh,,, udah nggak berpohon-pohon lagi, berhutan-hutan! Eh, nggak... Ber suaka-suaka alam! Yang banyak pohon n bunganya sekalian!" 

"Jadi, elo daftar OSIS dong?"

"Ya iyalah! Secara yang minta Kak Marco, nggak mungkin lah gue nolak!"

"Katanya udah nyerah??" goda Tea.

"Iya sihh... Tapi Kak Marco ngasih harapan. Hehehe..."

"Ckck..."

Milka ngelanjutin senyum-senyumnya...


@Sekolah, besoknya.

Milka masuk kelas dengan semangat 2011. Tadi malem dia mimpi indah, dia jadi putri cantik n semua cowok di dunia ini jadi kodok. Milka harus nyium satu-satu kodok itu buat nemuin Marco, pangerannya... (dimana indahnya coba?!) Ucapan Marco kemaren udah cukup bikin Milka melambung sampe luar angkasa.

"Tea!" seru Milka menaruh tasnya. Tea yang lagi baca novel langsung noleh BT ke Milka.

"Hih! Lagi asyik nih..." kata Tea.

"Temenin gue ke aula yokk..." ajak Milka nggak merhatiin Tea yang BT.

"Ogah!" tolak Tea tanpa memalingkan pandangan dari novelnya.

"Ayolahhh Te..." 

"Penting bagi hidup gue ?"

"Peeenntiiiing banget bagi hidup gue."

"Apa'an sih? Cuma daftar OSIS aja minta ditemenin. Penakut banget."

"Bukan takut Te, ntar kalo gue jadi patung di sana kan, aman kalo ada elo."

"Ya ampuuun... Lagian, Mil. Elo kok bisa sih segitunya banget sama cowok?"

"Tea, elo belom ngerasain aja, deg-degannya kalo ngeliat cowok yang elo suka, cuma ngeliat, Te! Ngeliat aja udah deg-degan, apalagi di sebelahnya, ya ampunn... rasanya jantung mo pecah!"

"Lebai deh, Mil!"

"Eh, nggak kok. Liat aja ntar. Yokk Te, temenin..."

"Ya udah, karena gue baek hati n rajin menyiram bunga. Yokk.."

"Yey!"

"Cepet!"

Milka n Tea menuju ke aula.


@Aula

Di sini tempa penyerahan formulir pendaftarannya. Aula udah penuh sama anak-anak yang mo daftar OSIS. Ada tiga meja tempat pendaftaran, yang dijaga Marco, sebagai ketua OSIS, Nico, sebagai wakil ketua, n Helen sebagai sekretaris. Kebanyakan yang daftar cewek-cewek n di depan meja Marco n Nico.

Pasti mereka daftar cuma buat ketemuan terus sama Kak Marco n Mr. Sok! batin Tea.

Milka ikut antre di belakang, Tea berdiri di sampingnya, nggak masuk barisan.

"Te, ikutan daftar yokk temenin gue." kata Milka.

"Ngapain? Gue nggak punya motivasi, kok!" kata Tea.

"Yahhh... temenin gue, Te." 

“Lo ngomong lagi, gue tinggal nih!”

Milka langsung bungkam sambil cemberut.

Setelah menit demi menit berlalu, akhirnya Milka berada di barisan pertama, di depan meja Marco.

“Wah… akhirnya lo ikut Mil?” Tanya Marco, nggak ketinggalan senyumnya.

“Eh.. i..iya, kak.” Jawab Milka gugup.

“Sipp.. Kalo gitu, lo isi ini.” Marco ngasih selembar kertas, yang langsung diisi Milka.

“Lo nggak ikut, Te?” Tanya Marco ke Tea, sementara Milka nulis.

“Nggak, Kak. Nggak tertarik. Apalagi ada Mr. Sok yang super sok.”

“Mr. Sok?”

“Iya, Kak. Mr. Sok ituu... Hmmph!” Milka membungkam mulut Tea dengan tangannya. Tea berjuang melepaskan.

“Apaan sih, Mil?”

Milka Cuma melotot, bikin Tea n Marco mengerutkan dahi.

“Mr. Sok siapa tadi, Te?” Marco nanya lagi.

Baru aja Tea mau buka mulut, Milka udah nyela, “Kak, ini udah. Kita keluar dulu ya! Yang antri masih banyak tuh!”

Habis ngomong Milka langsung narik Tea keluar aula. 

“TEA! Apa sih yang lo pikirin?” bentak Milka.

“Hah? Maksud lo?”

“Lo mau cerita tentang Mr. Sok lo itu kan?”

“Iya! Emang kenapa?”

“Teeeaaa… Kak Marco tuh sahabatnya Kak Nico! Lo kira apa reaksi Kak Marco kalo sohibnya lo jelek-jelekin?”

“Iya juga yaa… Eh! Tapi si Nico Mr. Sok itu harus dikasih pelajaran!!” seru Tea membara.

“Pelajaran apa? Pelajaran buat nggak nolongin orang yang nggak tau balas budi?” ucap seseorang.

Milka n Tea langsung menoleh. Nico!

“Ups..” kata Tea lirih.

Nico berjalan mendekati mereka. 

“Kok diem? Udah.. terusin aja ngomongin gue. Gue nggak peduli, kok.” N dia pun berlalu pergi, melewati Milka n Tea yang melongo.


@Halte bus

Milka memandang langit. Hujan deras n dia nggak bawa payung. Tiba-tiba alisnya bertaut, melihat bukan langit lagi yang terlihat di atasnya, tapi sesuatu berwarna biru.

“Nggak dijemput?”

Milka menoleh ke samping, n langsung mematung takjub. Udah bisa nebak kan siapa?

“K…kak.. Mar…co…?”

Marco berdiri persis di sebelahnya. Lagi bawa payung warna biru yang menaungi mereka berdua.

“Haha… lo kok ngeliatnya gitu banget sih Mil?”

Milka langsung menunduk, nutupin mukanya yang udah mulai merah.

“Lo nunggu bus?” Tanya Marco.

Milka Cuma ngangguk-angguk.

“Ohh.. Emang mobil lo kenapa?” 

“Di bengkel, Kak.”

“Kok di bengkel? Bukannya kemaren-kemaren udah ya?”

“Iya tuh! Bengkelnya nggak bener! Baru dipake dua hari, tuh mobil langsung rusak lagi!” Milka langsung membara, memikirkan seandainya mobilnya ada, dia nggak bakal sumpek-sumpek naik bus.

“Hahaha…” Marco mengacak-acak rambut Milka.

Otomatis jantung Milka bersiap maraton plus minum degan. 

Ya ampun ya ampun ya ampun!!!

“Eh.. emm… Kak Marco sendiri nunggu bus juga?” Tanya Milka gugup.

“Nggak kok. Gue nunggu jemputan.”

“Kok nggak di parkiran?”

“Sebenernya tadi di parkiran. Tapi lihat lo kehujanan melas gitu, gue ke sini deh.”

Muka Milka memerah lagi. 

Kak Marco!!! Emang my hero ooooo!!!

“Lo sakit Mil?” Marco memandang Milka dengan tatapan khawatir, gara-gara muka Milka yang merah.

“Mm.. iya, agak pusing nih.” Jawab Milka bohong.

Untung Kak Marco ngira muka gue merah gara-gara sakit.

“Wajar sih, lo tadi udah kehujanan gitu. Mau bareng aja nggak? Kayaknya jemputan gue bentar lagi dateng.”

Waaa!! Kak Marco ngajakin gue bareng!!! Gue harus jawab apa???

“Ehh… emm… Gimana yaa…”

“Udahlah bareng aja, kalo naik bus kan, ntar lo masih harus jalan kan begitu sampe depan perum? Kalo masih ujan gimana? Lo sakit gini…”

“Emm….”

Aww! Kalo gue jawab ya, kesannya gue gampangan nggak ya? Tapi gue pingin banget bisa pulang semobil sama Kak Marco!! Enaknya gue jawab apa yaa?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kak klanjutannya mna ???
d.tunggu ya kak .

Intan mengatakan...

dlm proses.. hehe
oke, thnx ya

Posting Komentar