The Popularity is Not at All

Udah lama nggak ngganti cerita copas-an jadi nama temen-temen aku :) ... 4 u Putri... :*

****

Nikolas Kevin Wijaya. Seorang penyanyi muda yang sedang naik daun. Suara merdu, wajah tampan, dan senyum manis, membuat cowok berusia 16 tahun ini mempunyai begitu banyak penggemar. Dari remaja, anak-anak, bahkan kalangan dewasa. Kebanyakan dari para penggemarnya adalah gadis-gadis seumurannya. Maklum saja, senyumnya yang ramah, langsung membuat setiap orang yang melihat terpesona.

Nikolas Kevin, atau biasa dipanggil Niko menaiki sebuah panggung yang begitu megah. Saat ini Niko sedang mengisi salah satu acara live music di salah satu stasiun televisi swasta.

"Selamat malam semua!" teriaknya disertai senyuman mautnya.

Para penonton berteriak histeris, begitu melihat idolanya berada di atas panggung.

Sebuah musik lembut mengalun. Niko menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik. Menenangkan. Semua penonton ikut bergerak, menggoyangkan badan mereka ke kiri dan kanan.

"Dinginnya salju tak membuatku berhenti." Niko memulai kalimat pertama dalam lagunya yang langsung disambut teriakan histeris dari para NikHolic, nama club penggemarnya.
"Panasnya api tak membuatku menyerah
Rasa ini akan selalu ada
Hanya untukmu hanya untukmu

Matamu selalu membuatku terpana
Senyummu membekukan jiwaku
Tapi sikapmu padaku
Tak pernah berubah

Reff: Kau terus acuhkan diriku
Tak pernah sekalipun
Kau menanggapi perkataanku
Oh dirimu...
Oh kasihku...

Meski cinta ini tak pernah kau balas
Meski cinta ini tak pernah kau anggap
Aku akan selalu mencintaimu
Dirimu butakan diriku

Reff: Kau terus acuhkan diriku
Tak pernah sekalipun
Kau menanggapi perkataanku
Oh dirimu...
Oh kasihku...

I'll never stop to loving you
I'll never stop to loving you
My love..."

Musik berhenti mengalun, seiring dengan berakhirnya lagu yang dibawakan Niko. Para NikHolic langsung berteriak kembali, meneriakan kata "Niko" berkali-kali. Niko tersenyum melihat mereka semua. Dia berhasil membawakan lagu 'Rasaku' yang merupakan lagu ciptaannya sendiri, dengan sempurna.

"Terima kasih semua... Selamat malam..." Niko kembali mengakhiri perkataannya dengan senyuman.
@@@

Dua hari berlalu setelah acara live music yang sukses membuat para NikHolic berteriak histeris.

Seorang gadis berambut keriting duduk di sebuah sofa ruang tamu. Tangan kanannya memegang remote televisi, berkali-kali dia memindahkan saluran televisi, mencari acara yang cukup seru. Dia melirik jam dinding yang ada di depannya. 03.30 p.m. Gadis itu menghela napas.

"Pantesan acaranya gosip semua. Jam segini emang jadwalnya acara gosip. Huh!! Bosen!!" gumamnya lirih, lalu menyandarkan badannya pada sofa. Dia menyimpan remote TV di sampingnya.

"Nikolas Kevin Wijaya, atau yang kita kenal dengan nama Niko, sukses membuat acara live music dua hari yang lalu berlangsung meriah. Dalam kesempatan ini kita..."

Gadis itu segera menyambar remote TV yang ada di sampingnya dan membesarkan volume TV. Seorang cowok tampan dengan senyuman manis sedang menjadi bintang tamu acara gosip tersebut.

"Bagaimana caranya bisa sesukses sekarang?" tanya host acara itu.

"Dengan kesungguhan dan percaya diri," jawab Niko.

"Apa menurutmu penting, arti sikap bagi seorang entertain?"

"Penting! Sangat penting! Sebagai seorang public pigure, jangan membuat kita sombong..."

Belum sempat Niko menyelesaikan kalimatnya, gadis itu langsung mematikan TV-nya.

"Dasar munafik!!!" gadis itu bergumam agak keras.

Dia kembali menyandarkan badannya pada kursi, memejamkan matanya. Pikirannya melayang jauh, ke masa anak-anaknya dulu. Niko. Dia sudah tak asing lagi dengan nama itu, apalagi orangnya. Niko adalah sahabatnya dari semenjak TK. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.

"Niko gak bakalan pernah lupain Putri. Meskipun nanti Niko jadi artis, Niko gak bakalan jauhin Putri. Niko gak bakalan sombong sama Putri."

Gadis itu, yang bernama Putri, masih teringat perkataan Niko ketika mereka masih duduk di bangku SD. Bayangannya berganti, menuju beberapa bulan yang lalu.

"Niko! Niko!" Putri berteriak-teriak memanggil Niko yang sedang memberikan tanda tangan pada para NikHolic. Niko menoleh sebentar, memandang Putri yang berpenampilan 'sangat' biasa, lalu dia kembali memandang kertas yang sedang ditandatanganinya, seolah-olah dia sama sekali tak mengenal Putri. Tak terasa, air mata mengalir perlahan pada pipi Putri, dia segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.

"Put! Sorry... Tadi gue bukannya mau ngacuhin lo. Tapi gue lagi sibuk tadi. Lo liat sendiri kan?" kata Niko pada keesokan harinya di rumah Putri.

"Tapi setidaknya lo senyum kek! Lo tau gak sih? Sikap lo tadi kaya lo gak pernah kenal gue?!" kata Putri marah.

"Ya... bukannya gitu. Tapi kan lo... lo..." Niko bingung meneruskan perkataannya.

"Tapi gue apa?! Gue cupu?! Atau gue jelek?! Atau gue gak penting!! Iya?! Makanya lo pura-pura gak kenal gue?! Iya kan?! Lo malu punya temen kaya gue?!" bentak Putri mulai emosi.

Niko terdiam, perkataan Putri barusan sangat tepat dengan alasannya mengacuhkan Putri. "Bu... bukan gitu... Tapi..."

"Tapi apa?! Mendingan lo pergi dari rumah gue!!! Sekarang!!!" teriak Putri, emosinya tak bisa dia tahan lagi.

"Ta... tapi... Put..."

"Pergi!!!" teriak Putri lagi. Tapi Niko masih tetap diam. "Atau gue yang pergi?!" Putri mulai berdiri.

"Eh... Iya iya... Gue pergi." Niko menahan Putri dan mendudukannya kembali. Dia melangkah keluar rumah dengan wajah kecewa.
@@@

Sore itu Niko berjalan dengan seorang gadis cantik. Rambutnya lurus sebahu. Matanya benin gagak sipit. Gadis itu sangat manis. Namanya Elisabeth Stella Sedjati, atau biasa dipanggil Ella.

Siapa sih yang gak kenal Ella? Seorang aktris muda yang sama-sama sedang naik daun seperti Niko. Meskipun masih berusia 16 tahun, tapi kemampuan aktingnya tak perlu diragukan lagi. Ella merupakan aktris muda profesional.

Sesekali mereka tertawa, bukan hanya gosip belaka kalau mereka dikatakan dekat. Banyak yang bilang kalau mereka pacaran. Buktinya sore itu. Mereka berencana nonton film bareng di bioskop favorit Ella.

Putri yang kebetulan sedang berada di situ bersama Sonia, melihat mereka. Sekali lagi, hatinya sakit melihat Niko berduaan dengan cewek lain. Apalagi mereka saling pegangan tangan. Putri langsung mengajak Sonia pulang dan membatalkan acara nonton mereka. Sonia hanya mengikuti keinginan sahabatnya itu.
@@@

Pagi ini Putri merubah penampilannya. Rambut ikalnya yang biasa ia ikat dua, kini dibiarkan tergerai. Kacamata minusnya ia ganti dengan soft lens. Baju seragamnya yang super duper gombrang ia ganti dengan bajunya yang sedikit kecil. Rok abu-abu pendeknya yang kepanjangan sepuluh centi di bawah lutut, ia ganti dengan rok abunya yang selutut. Kaus kaki yang biasanya nutupin lutut, kini hanya lima centi di atas mata kaki.

Putri memandang pantulan dirinya di cermin. Lumayan, setidaknya ia tak terlihat cupu lagi sekarang.

'Gue... Bukan Putri cupu lagi!' batinnya sambil menganggukkan kepala.

Terdengar klakson motor Sonia dari halaman depan. Putri segera mengambil tas biru langitnya dan berlari keluar rumah. Sebelum keluar, dia kembali melihat pantulan dirinya pada cermin sebentar.

"Putri!! Ini beneran lo?!" kata Sonia bengong sambil liatin Putri dari ujung rambut sampai ujuk kaki.

"Ck ck ck..." Sonia berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gilaaaaaaa... cantik banget lo!" kata Sonia masih geleng-geleng kepala.

"Makasih," kata Putri tersenyum malu.

"Lama-lama gue bisa naksir nih sama lo," kata Sonia memandang Putri tepat di matanya.

"Soniaaa!! Lo masih normal kan?" kata Putri memastikan. Sonia memang tomboy, tapi gak mungkin kan dia lesbi?

"Gak tau nih... Lo mau gak jadi cewek gue?" tanya Sonia masih memandang mata Putri.

Putri mengerutkan kening, dia mulai memikirkan yang aneh-aneh tentang Sonia. Melihat ekspresi Putri, Sonia mendadak tertawa. "Bercanda kali Put! Gue masih normal laaaahhh! Gimana sih lo!" Sonia menepuk pelan pipi Putri, sikapnya seperti laki-laki.

"Buruan! Mau bareng gak? Ntar gue tinggal lho!" kata Sonia karena Putri tak kunjung naik.

"Lo? Beneran masih normal kan?" tanya Putri ragu.

Sonia memandang Putri gemas. "Ya iya laaahh Putriiiii... Gue masih normal! Buktinya gue gak nyium lo kan? Terus... gue juga masih suka sama ketua taekwondo itu." Ada semburat merah di pipi Sonia ketika dia menyebutkan 'ketua taekwondo'.

Putri tersenyum lega. "Ya udah... Ayo berangkaaatt!" kata Putri sambil mendudukan dirinya menyimpang, pada motor Sonia.

Hampir semua anak-anak pada bengong melihat perubahan pada penampilan Putri. Putri yang cupu, sekarang menjadi primadona SMA Pelita. Bahkan, Niko sampai terbengong-bengong melihat perubahan Putri.

"Put... Pulang sekolah, gue tunggu di Taman Bukit. Dateng ya," kata Niko pada Putri sambil tersenyum ramah.

Putri hanya mengangguk menanggapi perkataan Niko.

"Sukses lo Put!! Anak-anak pada melek semua liat penampilan lo! Perfect!" kata Sonia dan mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Putri.
@@@

Putri melihat Niko duduk di bawah pohon yang cukup besar. Niko melipat kakinya dan menyimpan kedua tangan nya di atas lutut. Dia memandang lurus ke depan, yang memperlihatkan pemandangan kota dari atas bukit. Angin berhembus pelan, menggerakkan rambut ikat Niko.

Putri berjalan menghampiri Niko, tanpa berkata apa-apa, dia duduk di samping Niko.

"Sorry lama," kata Putri.

Niko menoleh, memandang wajah Putri yang semakin cantik. Tiba-tiba saja, jantungnya berdetak cepat. "Gak pa-pa," jawab Niko. "Lagian, gue juga baru dateng."

"Put..." kata Niko memecah keheningan.

"Hmm..." Putri masih tak berani memandang Niko.

"Lo tau gak? Kenapa gue ngajak lo ke sini?"

"Ngenang masa kecil?"

"Bisa jadi. Tapi bukan itu maksud gue."

"Lalu?"

"Gue mau bilang kembali tentang perasaan gue sama lo."

Putri memandang Niko sebentar, lalu dia mengalihkan pandangannya lagi. "Emangnya kapan lo pernah ngomong itu sama gue?"

"Waktu SMP, gue berkali-kali bilang itu sama lo, tapi gak pernah lo jawab." Niko menghela napas. "Dan sekarang, gue mau tau jawaban lo."

Putri tersenyum sinis. "Ya... Gue inget. Lo bilang itu sebelum lo jadi artis kan?" Niko mengangguk. "Jujur. Dulu gue pernah suka sama lo, tapi sekarang udah enggak." Putri menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Niko.

"Lo gak nyadar?" Niko menggeleng. "Semenjak lo jadi penyanyi terkenal, lo berubah! Be-ru-bah!!!"

"Berubah gimana?" tanya Niko bingung.

"Lo berubah! Lo jadi egois! Lo lebih mentingin penampilan dari pada hati! Lo hanya nilai orang lewat fisik doang! Bahkan lo juga tega sama gue! Sahabat lo sendiri! Gue gak nyangka! Seorang Niko, yang dulu gue kenal sebagai orang yang peduli, sekarang berubah! Gue kecewa sama lo Nik!" Tak terasa, Putri meneteskan air matanya ketika dia bicara tadi.

"Sorry... Gue udah ngelakuin hal bodoh. Gue salah! Maafin gue Put! Tapi gue bener-bener cinta sama lo... Gue janji, gue bakalan berubah. Gue gak peduli lagi penampilan lo seperti apa sekarang, yang jelas lo yang terbaik buat gue. Gue mohon Put..." Niko memegang tangan Putri, tapi Putri segera menepisnya.

"Gue gak pantes buat lo! Gue cupu, jelek bego... Lo lebih cocok sama Ella, kalian sama-sama perfect!" Putri mengacungkan kedua jempolnya dan berusaha tersenyum.

"Tapi Put..." Niko kembali memegang tangan Putri, menahannya yang hendak berdiri. Putri melepaskan genggaman Niko dari tangannya.

"Sorry... Gue udah ganggu kehidupan lo yang sempurna." Putri pergi meninggalkan Niko tanpa berbalik lagi sedikitpun.

"Aaaaagggghhh...!" Niko berteriak meluapkan Ellasalannya. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri.

Kepopuleran sudah ia dapatkan dengan mudah, penggemar yang banyak, dan uang. Tapi sekarang, semuanya menjadi terbalik. Kenapa dia sangat sulit untuk mendapatkan cinta yang sangat diinginkannya. Sulit, sangat sulit.

Niko teringat Ella, semua salah paham tentang hubungannya dengan Ella. Padahal Niko hanya ingin mencomblangkan Ella dengan sahabatnya, Yovan. Kenapa sekarang semuanya menjadi sulit?
@@@

Tiga hari berlalu setelah kejadian di Taman Bukit waktu itu. Niko dan Putri jarang bertemu. Sekalinya mereka bertemu, Putri langsung memalingkan muka atau mendadak pergi. Niko sadar sekarang, kepopuleran bukan segalanya. Dia sadar bahwa bukan kepopuleran yang sangat diinginkannya. Tapi cinta. Cinta sejati dari seorang gadis, yang diinginkannya. Dan sekarang semuanya hancur. Cintanya belum terbalas karena perubahan sikapnya sendiri.

Niko semakin tak semangat, pembuatan video clip untuk album keduanya terhambat karena pikirannya yang selalu kemana-mana. Om Dito, managernya Niko pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia menyuruh Niko istirahat supaya bisa secepatnya menyelesaikan pembuatan video clip.

"Ag... Putri mana?" tanya Niko pada Sonia di sekolah suatu hari. "Biasanya kalian berduaan terus."

Sonia baru saja akan membuka mulutnya, tapi Niko sudah menyela duluan. "Putri sakit ya? Sekarang dimana?"

Sonia memandang Niko kesal. "Mau gue kasih tau gak?!"

"Iya... iya... jangan marah dong," kata Niko nyengir.

"Putri kemarin sakit flu sama demam, sekarang juga masih sakit. Dia lagi di rumahnya. Ya udah... gue duluan ya? Ada urusan," kata Sonia dan langsung ngacir.
----------------------------------------------------

Sepulang sekolah, Niko langsung ke rumah Putri. Dilihatnya Putri sedang tertidur pulas. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah. Niko menarik kursi belajar Putri dan membawanya ke sisi ranjang, lalu dia duduk pada kursi itu.

Setelah beberapa menit, Putri mengucek-ngucek matanya. Perlahan dia membuka matanya. Putri terlonjak kaget begitu melihat Niko duduk di sampingnya. Dia langsung memasang tampang jutek.

"Ngapain lo kesini?!" tanya Putri ketus.

"Mau jengukin lo, emang gak boleh?"

"Enggak!"

"Put... Lo masih marah sama gue?"

"Enggak!"

"Put... Gue gak ada apa-apa sama Ella. Sumpah!" Niko mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. "Gue cuma mau nyomblangin Ella sama Yovan doang."

"Terus? Apa hubungannya sama gue?"

"Ya... Karena gue sayang sama lo Put... Itu tandanya gue gak playboy." Niko terdiam sebentar, dia menemukan suatu pemikiran yang cukup bagus. "Bentar! Gue punya sesuatu buat lo." Niko langsung pergi keluar kamar.

Tak berapa lama terdengar suara genjrengan gitar di luar kamar Putri. Putri menatap pintu kamarnya penasaran. Perlahan-lahan, Niko masuk sambil memainkan gitar dan bernyanyi.
"Salju itu kini telah mencair
Api panas pun ikut redup
Tapi rasa ini tetap ada
Dan hanya untukmu

Matamu terus membuatku terpana
Senyummu terus membekukan jiwaku
Ku terus berharap
Supaya kau mempedulikanku

Reff: Ku harap kau berubah
Mau menatapku
Mau menerima
Cinta yang kuberikan
Pada dirimu

Aku berharap kau mau
Memaafkan semua kesalahanku
Diriku yang banyak kekurangan
Diriku yang selalu mengharapmu"

Perlahan-lahan alunan gitar dan nyanyian yang Niko mainkan berhenti. Putri masih menatapnya tak percaya. Niko menghampiri Putri, dan menggenggam tangannya.

"Gimana? Bagus gak?" tanya Niko.

"Bagus bagus." Putri mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Lagu tadi, gue ciptain khusus buat lo." Niko menghela napas sebentar. "Gue harap lo suka. Gue sadar, selama ini gue terlalu egois. Lo bener, jadi artis membuat gue lupa. Bahkan sama sahabat sendiri. Tapi cinta gue sama lo gak pernah berubah. Dan satu lagi! Gue janji! Gue gak bakal egois dan sombong lagi! Gue bakalan coba peduli sama orang-orang di sekitar gue. Gue janji Put!" Niko menatap Putri menunggu Putri mengatakan sesuatu.

Putri balas menatap Niko, mengerutkan keningnya, bingung. "Kenapa? Kok gak diterusin kata-katanya? Maksudnya, lo nembak gue gitu?" tanya Putri polos.

Niko menepuk keningnya dan memandang Putri gemas. "Iya Putriaa. Masa lo gak ngerti sih? Ngerusak suasana romantis aja."

"Hehehe... Sorry Nik... Tapi lo gak nanya apa-apa sih. Terus gue mesti jawab apa?" kata Putri nyengir.

"Ok! Gue tanya! Lo mau gak jadi cewek gue?"

"Mau!" jawab Putri langsung.

Niko melongo menatap Putri. "Buset dah! Lo langsung jawab gitu aja! Emang gak ada romantis-romantisnya lo ya! Mmm... Minggu depan, lo mau memenin bikin video clip gue gak?"

"Boleh boleh," jawab Putri sambil tersenyum.

Niko refleks memeluk Putri. "Makasih Put!"

Putri kaget bercampur senang ketika tiba-tiba saja Niko memeluknya. Niko melepaskan pelukannya, dia memegang pundak Putri, menghadapkan wajah Putri supaya menatapnya. Putri dapat merasakan detakan jantungnya sendiri.

Keduanya terdiam, mereka saling pandang. Ada sesuatu seperti magnet yang membuat mereka mendekat. Mereka masih bertatapan, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Putri dapat merasakan desahan napas Niko, dia merasakan detakan jantungnya semakin cepat. Tak pernah dia sebegitu dekat dengan cowok manapun. Wajah Niko semakin mendekat, Putri memejamkan matanya. Dan...

"Huatchim!!!"

Bersin Putri menghasilkan hujan lokal pada wajah Niko. Putri nyengir ketika melihat butir-butir air pada wajah Niko.

"Sorry..." kata Putri pelan sambil menggosok-gosok hidungnya yang gatal.

"Its okay!" kata Niko. Dia segera berlari menuju kamar mandi, membersihkan hujan lokal yang tiba-tiba turun. 'Untung gak sama cairan idungnya yang muncrat ke gue,' batin Niko.
===The End====

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar