Best Friend V

Damai itu indah…

            “Anak-anak, lusa kita akan mengadakan kegiatan kemah selama 3 hari 2 malam.  Bapak harap kegiatan ini dapat memberi kalian pelajaran tentang mengenal alam dan mencintai lingkungan sekitar kita.” Kata Pak Gun.
            “Horeeee!!!” Teriak anak-anak serempak. Mereka ulai ribut membicarakan apa saja yang akan mereka bawa.
            “Dengarkan daftar regu satu tenda kalian yang sudah bapak bentuk! Citra, Nia, Kira, Ara, …………………………………………………………………………………..”
CTG langsung senang mendengar mereka satu regu. CTG emang cepet banget bisa damai. Masalah tempo lalu sudah terselesaikan. Citra emang ngajarin anggotanya buat jadi orang pemaaf. Kalau bertengkar nggak pernah mereka lebih dari 3 hari. Itulah mengapa CTG awet adem ayem sampai sekarang.

***

            Hari itu pun tiba. Anak-anak CTG naik mobil Citra. Citra yang simpel bawaannya Cuma dikit. Ara yang sederhana tasnya ringan. Kira yang imut juga gak terlalu mentingin barang-barang yang gak perlu. Tapi….
            “Tedy? Udah. Ouwi? Udah. Selimut? Udah. Bantal? Udah. Jacket? Udah? Bedak? Udah. Pelembab? Udah. Krim segala macem? Udah. Komik? Tu, wa, ga, pat, ma, udah.Apa ya yang belom?” Tanya Nia yang dari tadi ribet banget.
            “Otak kamu tuh yang belom! Bawa barang banyak banget? Sampe kayak jualan tas gitu. Apa gak keberaten?” Jawab Citra.
            “Otak Nia udah kok di kepala. Apa ketinggalan ya? Aduh… Gimana ni kalo ketinggalan?!” Tanya Nia bingung.
            “Nia…Nia…” Kata Ara, Kira, dan Citra sambil geleng kepala.
            “Udah ayo cepetan! Kita udah ketinggalan rombongan nih!” Ajak Citra.
            “Siap Bos!!!” Kata anggota CTG yang lain sambil hormat.
Mereka pun naik mobil dan segera berangkat. Dalam perjalanan…
            “Eh Ni, liat tuh saodaramu!” Kata Kira usil sambil menunjuk kerbau yang sedang makan rumput.
            “Masak? Berarti Nia punya kakak? Tapi, ibu Nia kok nglahirin kakak kayak gitu sih? Pasti dia vegetarian, deh! Makan rumput terus.” Jawab Nia.
            “Nia…Nia…” Kata yang lain lagi sambil geleng-geleng kepala.
            “Eh Cit, itu kan mobilnya Rio.” Kata Ara menengok ke belakang.
Citra melihat kaca spion. Terlihat Rio melambai pada Citra, seolah mengetahui Citra melihatnya. Citra langsung berpaling.
            “Mana? Mana?” Tanya Nia dan Kira yang mulai ribet gara-gara ingin melihat Rio.
            “Rio…” Kata Nia, Kira, dan Ara serempak melihat senyum menghiasi wajah Rio. Manisss banget!
            “Kalian tuh kok bisa sih segitunya sama Rio? Biasa aja kali!” Kata Citra.
            “Rio tuh cakep…” Kata Kira.
            “Rio tuh keren…” Kata Nia.
            “Rio tuh pinter…” Kata Ara.
            “Rio tuh perfect… sempurna” Kata mereka bertiga serempak dengan mengucapkan ‘sempurna’ dengan nada lagunya Andra & The Backbone.
Citra Cuma geleng-geleng kepala melihat perilaku teman-temannya itu. Dia terbayang lagi kejadian di taman. Rio kelihatan polos banget. Citra jadi berpikir kok dia bisa nyimpen dendam sama Rio? ‘Nggak! Pokoknya nggak boleh! Rio tuh musuhku! Selamanya!’ Batin Citra.

***

Mereka sudah sampai. Suasana di situ saaaangat indah. Udaranya masih segar dan membuat pikiran tenang. Anak-anak diberi waktu istirahat setelah perjalanan panjang melelahkan.
           “Sejuk banget!” Ucap Kira sambil membentangkan tangannya menikmati angin sepoi-sepoi.
Ara segera mengambil novelnya dan mencari tempat duduk yang  nyaman.
            “Baca di tempat kayak gini emang paling top!” Gumam Ara.
            “Aduh!! Rambutku rusak nih!” Ucap Nia sambil berkaca menyisir rambutnya yang acak-acakan akibat tidur di mobil tadi.
            Sementara Citra masih duduk di jok mobil dengan pikirannya yang bercampur aduk pada Rio. Kasihan, iri, iba, marah, bahkan… suka! ‘Gak! Rio tuh musuh Citra, musuh!’ Batin Citra.
            Beberapa saat setelah mobil Citra sampai, mobil Rio sampai. Mata Kira yang dari tadi beerkeliling melihat pemandangan segera mengenali mobil Rio.
            “Rio!!!” Teriak Kira melambaikan tangan ke arah Rio. Nia, Ara, dan Citra spontan menoleh. Pintu mobil terbuka, muncul sesosok cowok tinggi memakai celana jins panjang, kaos merah dan jaket.
            “Hai!” Rio membalas lambaian Kira. Rio tersenyum. Manissss banget.

***

Teeeeet……..Teeeeet……. suara bel berbunyi.
            “Bagi para ketua regu, harap segera berkumpul di halaman tengah. Saya ulangi, bagi para ketua regu harap segera berkumpul di halaman tengah. Terima kasih.” Suara Pak Gun berkumandang. Citra dan para ketua regu yang lain sambil membawa tas langsung menuju halaman tengah.
            “Bapak memanggil kalian untuk memberi informasi. Tempat kita mendirikan tenda nanti adalah di tengah hutan. Bapak harap kalian bisa memimpin anggota regu kalian supaya nggak tersesat. Bapak akan membagikan peta, jangan sampai hilang! Mengerti?”
            “Mengerti, Pak!” Jawab anak-anak serempak.
Pak Gun membagikan tenda. Namun saat itu Rio tiba-tiba ingin buang air kecil. ‘Kok nggak ada kamar mandi?’ Batin Rio. Karena sudah nggak tahan, dia memutuskan masuk hutan dan BAK di sana. Tapi sementara itu para ketua regu sudah dibagikan tenda dan nggak ada yang sadar bahwa Rio nggak ada. Mereka semua berangkat. Tanpa Rio…
            Betapa kagetnya Rio menyadari dia ditinggalkan. Dia segera mengambil tas dan berjalan menuju hutan sambil mencari-cari jalan. Rio menelusuri segala semak belukar. Dengan susah payah, dia berjalan, berjalan, berjalan, dan berjalan terus… Sementara itu…
            Citra dkk. Sedang dalam perjalanan bersama rombongan. Mereka menyanyi sambil foto-foto pake gaya narsis, sok imut, malah ada yang manjat pohon berasa kera (teringat nenek moyangnya kali ya?)
            “Cit, pinjem petanya donk!” Kata Kira.
            “Nih…” Kata Citra sambil memberi peta pada Kira.
            “Thanks ya!” Jawab Kira. Anak-anak CTG jadi ngrubungin dia buat nglihat peta sambil terus jalan.
            “Ih…” Citra mengeluh, tali sepatunya lepas. Dia membungkuk untuk membetulkan. Tapi, lepas. Dibetulkan lagi, lepas. Dibetulkan lagi,….
            “Awas ya kamu kalo lepas lagi!” Bentak Citra pada sepatunya.
Tapi saat Citra menoleh, dia sudah ketinggalan jauh dari rombongan.
            “Gimana nih? Mana petaku dibawa Kira lagi!” Keluhnya lagi.
Citra mulai sibuk berjalan mencari rombongannya. Dan tiba-tiba…
            “Aduh!!!” Teriak dua orang yang berbeda saat kepala mereka saling terbentur.
            “Rio?!” Teriak yang seorang.
            “Citra?!” Teriak yang seorang lagi.
            “Kamu ngapain di sini?” Bentak Citra sok gak peduli. Padahal dia kaget sekaligus seneng. Kagetnya kerena Rio ada di sini, senengnya karena berarti dia gak sendirian.
            “Galak banget sih? Aku tuh tadi ditinggal waktu buang air kecil. Kamu sendiri ngapain di sini? Kesasar?!” Kata Rio tak acuh.
            “Iya.” Jawab Citra kasar.
            “Apa? Kesasar?!” Kata Rio sambil tertawa sekeras-kerasnya.
            “Apa sih?” Tanya Citra heran.
           



“Lucu aja, seorang Citra, bisa-bisanya kesasar. Bukannya justru kamu yang nunjukin jalan? Yang mimpin mereka? Katanya Citra tuh cewek terhebat, tercantik, terpinter, terbijaksana? Buat aku itu bukan ter, tapi sok!!!” Jawab Rio.
            “Apaan sih!? Kalo Cuma jelek-jelekin gak usah ngomong aja deh sekalian!”
            “Iya. Sorry, aku Cuma bercanda kok.”
            “So?”
            “Apa? Soto? Bakso?”
            “So what? Kita sekarang mau apa?”
            “Dasar cewek gak berdaya, lagaknya tau semua di muka bumi ini!”
            “Heh!! Aku serius!”
            “Kamu bawa tenda kan? Mendingan kita cari tempat buat bikin kemah aja. Soalnya, dari tadi aku telpon temen-temen gak ada sinyal.”
            “Tenda? Jangan bilang kita satu tenda? Terus kita mau bikin di mana? Mau makan apa? Aku gak bawa bekal.”
            “Ya enggak lah! Kamu pikir aku cowok apaan? Tadi, waktu aku cari jalan, aku lihat ada sungai. Kita bisa bikin tenda di pinggir sungai itu. Nanti makannya, kita bisa bakar ikan.”
            “Kamunya tidur di mana?”
            “Di Johar. Ya, di luar donk!”
            “Ya udah! Ayo, cap cuz!!”
Dan….


            “Ini tempatnya?” Tanya Citra pada Rio saat sampai di pinggir sungai. Sungai itu indaaaaah banget. Pinggir-pinggirnya banyak tumbuh rumput yang subur. Airnya mengalir deras melewati bebatuan jadi tampak seperti air terjun mini. Citra terkagum-kagum melihatnya.
            “Iya. Kenapa?”
            “Bagus banget.”
            “Rio gitu loh!”
            “Heh. Mulai!”
            “Udah. Sini, bantuin aku bangun tenda!” Seru Rio yang sedang sibuk mengatur tenda.
            “Iya!” Kata Citra sambil menghampiri Rio.
Setelah membangun tenda, mereka masak. Citra mencari ranting dan batu. Rio menangkap ikan dengan kayu. Setelah semua ditata rapi, Rio mengambil korek dan mulai membakar ranting. Ikan yang sisiknya sudah dibersihkan, ditusuk dengan kayu dan ditancapkan di pinggir api hingga matang. Sambil menunggu, Citra dan Rio mengobrol.
            “Yo, maaf ya selama ini aku selalu bentak-bentak kamu?” Kata Citra
            “Iya. Tapi aku nggak nyangka loh, kamu yang di sekolah judes abiz dan jaim, ternyata seasyik ini.”
            “Iya lah… Jangan pernah nilai orang dari sisi luarnya aja.”
            “Iya Bu guru! Jadi, sekarang kita damai ni?”
            “Iya. Damai!”
Mereka bersalaman. Senyum tampak jelas banget di wajah Citra. Apalagi ketulusan di wajah Rio. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup Citra maupun Rio.
            “Eh, ikannya udah mateng. Makan yuk!” Ajak Citra.
            “Oke, lomba, siapa yang paling cepet dia yang menang!”
            “Siapa takut?”
Rio dan Citra makan lahap baaanget. Malam itu mereka ngobrol sepuasnya.
            “Kamu ngantuk?” Tanya Rio.
            “Iya. Kamu yakin tidur di luar?”
            “Iya lah… Met tidur ya!”
            “Ya.”
Citra masuk tenda sedangkan Rio menggelar sleeping bag-nya di depan tenda. Dalam tidurnya mereka berdua mimpi indaaah banget.
            Sementara itu…


           

“Gimana nih? Di sini nggak ada sinyal.” Tanya Ara pada teman-temannya.
            “Aduuuuh… Harusnya tadi aku nggak minta petanya Citra!” Kata Kira.
            “Kalian cari Citra? Kata temen-temennya Rio juga nggak ada.” Kata Nia.
            “Kalo Rio sih udah dari tadi berangkat nggak ada! Tapi Citra?!” Kira tampaknya sangat khawatir dan merasa bersalah.
            “Sudah, anak-anak tenang dulu. Sekarang lebih baik kalian tidur. Menurut bapak, Citra pasti sedang bersama Rio. Dan kalau benar begitu, Citra pasti aman. Ini sudah malam, besok kita cari lagi sampai ketemu!” Ucap Pak Gun menenangkan. Anak-anak menurut, walaupun mereka masih cemas dan nggak bisa tenang.
 ‘Ini semua salahku. Cit, sorry ya!’ Batin Kira sebelum tidur.


Cuit…Cuit…Cuit…Burung berkicau (Aneh ya?) hari sudah pagi. Sementara yang lain masih tidur, Rio dan Citra sudah bangun dan membuat sesuatu. Apa ya?
            “Yo, kamu bikin apaan sih?” Tanya Citra yang baru keluar dari tenda.
            “Ini petasan. Aku dulu diajarin waktu masih di desa.” Jawab Rio.
            “Di desa? Ortu kamu kan pengusaha tajir. Bukannya kamu tinggal di Bali?” Tamya Citra lagi, Rio tersenyum.
            “Kamu bisa jaga rahasia kan?” Tanya Rio. Citra mengangguk.
            “Ayahku yang sekarang bukan ayah kandungku. Dulu, aku, ibu, dan ayah kandungku tinggal di Jogja, di desa. Kami keluarga yang bahagiaaa… banget. Aku suka banget main sama tetangga-tetanggaku. Ayahku kuli tambang, dia kerja di Gunung Merapi. Pulangnya seminggu sekali. Suatu hari, Pak Kades bilang ayahku meninggal kena longsor. Ibuku nangis seharian. Akhirnya, kami mutusin pindah ke kota buat cari kerja. Saat itulah ibuku ketemu ayahku yang sekarang, dia bos ibuku. Nah, karena itu aku jadi sepupuan sama Kira. Kami tinggal deket rumahnya Kira, terus ayahku buka cabang perusahaan di Bali, kami pindah ke Bali deh…” Cerita Rio panjang kali lebar sama dengan luas.
            “Oh… Terus, petasannya buat apa?” Tanya Citra.
            “Kamu tuh pinter tapi oon ya? Kalo ini kita luncurin, bisa buat tanda. Mereka pasti lagi cari kita. Setahu aku, hutan ini tuh nggak ada penghuninya, jadi kalo kita nyalain ini, pasti mereka langsung tau kalo yang nyalain kita.” Jalas Rio. Citra mengangguk tanda mengerti sekaligus kagum.
Citra mulai sibuk membantu Rio. Mereka kelihatan udah bertemen laaaama banget. Nggak akan ada yang ngira kalau sebelumnya mereka rival.
            “Udah jadi. Ayo nyalain!” Ajak Rio.

            “Rio!!!! Citra!!!!!!!!” Teriak anak-anak dan para guru mencari Citra dan Rio.
Dug…Dug…Dug…Duer!Duer!!Jezzz… (Suara petasan yang dinyalakan Rio)
            “Eh, ada petasan!” Teriak Nia.
            “Emang di sini ada petasan ya? Setau aku, hutan ini tuh kosong, nggak ada penghuninya.” Kata Ara.
            “Atau jangan-jangan itu Rio dan Citra?” Tanya Kira.
            “Tapi emangnya mereka punya n bawa petasan?” Tanya Ara.
            “Ya, enggak tau juga. Tapi, dulu Rio pernah bikinin aku petasan waktu tahun baru. Waktu itu aku pingin banget nyalain kembang api, tapi ortuku nggak mau beliin, terus Rio bikinin aku petasan deh…Terus…” Jawab Kira sambil membayangkan saat itu.
            “Udah deh, nggak usah pake curhat segala! Sekarang kita cari sumber petasan itu.” Kata Ara menengahi.
            Anak-anak CTG memberitahu hal itu ke Pak Gun, mereka lalu mencari sumber petasan yang sudah berkali-kali berbunyi itu. (Rio kan bikinnya banyak)
            “Yo, kamu yakin ini berhasil?” Tanya Citra.
            “Ya… 99% deh.” Jawab Rio.
            “Terus 1%nya gimana?”
           




“Ya, kita tinggal di sini terus.”
            “Kok gitu sih?”
            “ya maunya gimana?”
Sementara itu, Pak Gun daa. (dan anak-anak) sudah menemukan mereka. Citra dan Rio sedang duduk di batu sambil menunggu.
            “Citra!!!” Teriak seseorang dari belakang. Citra menoleh…
            “Kira!!!” Teriak Citra sambil berlari menghampiri sobatnya itu. Mereka berpelukan. Rio berjalan menghampiri mereka.
            “Rio, bagaimana kamu bisa bersama Citra?” Tanya Pak Gun pada Rio.
            “Saya tertinggal waktu berangkat tadi dan saya bertemu Citra yang tersesat sewaktu mencari jalan.” Jawab Rio.
            “Baguslah. Bapak memang percaya pada kamu, kamu bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Bapak bangga pada kamu.”
            “Terima kasih, Pak!” Kata Rio. Pak Gun tersenyum.


            Anak-anak melanjutkan kemah mereka. Masih ada waktu 2 hari lagi. Sekarang Citra dan Rio berteman akrab. Mereka sering sekali mengobrol saat istirahat. Anak-anak CTG yang lain heran mengingat betapa antinya Citra pada cowok apalagi pada Rio. Termasuk Kira yang sekarang marah banget pada Citra karena menganggapnya merebut Rio.
            Hari pulang tiba… Semua pulang membawa kenangan indah. Terlebih Citra dan Rio.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar