Best Friend IV

Rival sejati…

     “Ma, Citra berangkat dulu ya!” Teriak Citra sambil berjalan menuju mobil.
            Hari ini Citra teramat sangat senang. Hari ini ulangan Fisika, Citra sudah sangat menguasai pelajaran ini dan dia yakin dia akan mendapat nilai tertinggi.
            Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Citra terus menghafal catatannya. Sudah terbayang di benak Citra bahwa Pak Heru akan memberinya uang. Memang, untuk meningkatkan semangat siswa, Pak Heru sang guru Fisika, jika ada 1 anak yang nilainya tertinggi di kelas saat ulangan, akan diberi uang 10ribu rupiah. Citra, selalu jadi anak tersebut. Jadi, dia sengaja mengurangi uang jajannya hari ini, seperti yanng sering dilakukannya saat ulangan dengan Pak Heru.
           
***

            “Anak-anak, Bapak kemarin sudah mengumumkan akan ada ulangan. Jumlahnya 40 soal pilihan ganda. Nggak boleh ada yang mencontek. Sebelumnya saya cek kalian.” Ucap Pak Heru tegas saat masuk kelas.
            Satu persatu anak-anak diperiksa, kalau-kalau ada yang menyimpan contekan. Mulai dari rambut, belakang hem, kantong, sabuk, kaus kaki, dan tangan diperiksa, ternyata cukup banyak yang berhasil ditemukan. Bukan Citra tentunya.
            Setelah yakin tak ada yang menyimpan contekan, Pak Heru mulai membagikan soal. Lalu, saat beliau sampai di meja Citra…
            “Citra, bapak harap kamu bisa hebat seperti biasanya.” Kata Pak Heru sambil mengacungkan jempol ke Citra.
            “Beres, Pak!” Jawab Citra diiringingi senyum Pak Heru.
            “Semua sudah dapat?”
            “Sudah, Pak!”
            “Bagus, sekarang kalian boleh mulai mengerjakan.”
            Banyak yang garuk-garuk kepala, tertunduk karena lupa, melihat langit-langit untuk mengingat, tapi nggak buat Citra. Dia mengerjakan dengan lancar-lancar saja… Tapi ada satu soal yang Citra ragukan.
            “Hmm… Antara A dan D” Gumam Citra.
            “Oke, D!” Gumamnya lagi.
Citra selesai pertama, sepertinya… Tapi, setelah Citra menengok kiri kanan ternyata ada juga yang sudah selesai. Rio!!!
            Rio santai…Santai banget. Kayak nggak ada beban. Tapi Citra masih ragu atas 1 jawabannya. Rio menatap Citra. Citra yang dari tadi memperhatikan Rio kaget. Rio tersenyum. Manisss banget, dan untuk pertama kalinya Citra ngrasa deg-degan sama cowok…
            Pak Heru sangat cermat. Setelah selesai istirahat, hasil ulangan sudah bisa dibagikan. Tapi ada yang ganjil hari ini.
            “Anak-anak, rupanya murid baru kita kali ini bisa mengalahkan murid unggulan kita.”
Kata Pak Heru sebelum membagikan. DEG! Citra kaget. Dia sudah bisa mengira, Rio! Citra menoleh ke arah Rio. Rupanya Rio sudah dari tadi memperhatikannya. Riio tersenyum sambil melambai ringan ke arah Citra. Manisss banget.
            “Ya, Rio silahkan maju ke depan!” Kata Pak Heru. Rio maju dengan bangga. Sementara Citra, menyimpan iri yanga amat sangat. Baru kali ini ada yang bisa mengungguli dia.
            “Anak-anak, selisih nilai Rio dan Citra, sangat tipis. Citra salah 1, dan Rio betul semua.” Semuanya bertepuk tangan untuk Rio. ‘Harusnya tepuk tangan itu buat aku!’ Batin Citra sambil menatap Rio yang terlihat polos itu penuh dendam.
            “Ini, Rio hak kamu.” Kata Pak Heru sambil memberikan uang pada Rio. Rio menerimanya lalu kembali ke tempat duduk.
            “Setelah ini pelajaran Olah Raga. Silahkan kalian berganti pakaian.” Ucap Pak Heru sembari keluar dari kelas sehabis membagikan hasil ulangan.
            Anak-anak cewek pada berhamburan ke kamar mandi. Yang cowok ganti di kelas. Hati Citra udah mulai lega, soalnya hari ini tanding basket. Citra suuuka banget sama yang namanya basket. Plis deh! Citra gitu loh! Apa sih pelajaran yang gak dia bisa?
           
 ***


Setelah berganti baju, anak-anak baris di lapangan lalu melakukan pemanasan yang dipimpin Citra. Cewek-cewek centil sebangsa Nia pada kipas-kipas pakai tangan. Siang itu emang matahari lagi ganas-ganasnya. Pemanasan di lapangan udah kayak dijemur. Paaanaaaas banget. Citra aja udah kringetan. Cuma satu yang dari tadi santai-santai aja, Rio! Siapa lagi?
            Setelah pemanasan, Pak Doni-guru olah raga- memerintahkan anak-anak duduk di kanopi. Yang cewek di sebelah kiri, n yang cowok di sebelah kanan.
            “Minggu lalu bapak sudah mengatakan hari ini penilaian basket.” Kata Pak Doni.
            “Ya pak!!!” Jawab anak-anak serempak.
            “Citra, bapak mau kamu bertanding satu lawan satu dengan Rio. Karena bapak lihat dari nilai olah raga di sekolahnya, dia termasuk pandai. Dia menarik perhatian bapak, dan kamu sebagai murid unggulan bapak, bapak harap kamu dapat mengunggulinnya. Kamu siap?”
            “Baik, Pak!” Jawab Citra.
Citra maju ke lapangan, begitu juga Rio. Anak-anak cewek udah mulai teriak-teriak “GO RIO GO RIO GO!!!!” dengan histeris untuk menyemangati Rio. Yang cowok-cowok gak mau kalah. Mereka neriakin yel-yel mereka dengan semangat “CITRANYA SATU TAPI FANSNYA BANYAK…. CITRANYA SATU TAPI FANSNYA BANYAK!!!”. Emang gila tuh cowok-cowok. Hampir semua dari mereka parnah ditolak Citra. Bukannya sakit hati, eh… malah bikin P3C ato PCCC (Persatuan Calon Cowok Citra) Bahkan persatuan itu udah kayak koprasi, ada simpanan pokok-lah, simpanan wajib-lah, n simpanan suka rela. Uangnya? Buat nraktir anak-anak CTG yang diketuai Citra. Miring kan?!
            Pertandingan itu berjalan seru. Udah laaaaaaama banget di antara Rio dan Citra belum ada yang mencetak angka. Para suporter udah mulai lemes. Pemainnya udah pada kringetan. Tapi akhirnya…Prrrriiiiiit!!! Suara peluit Pak Doni berbunyi. Rio memasukan bola. Cewek-cewek mulai teriak-teriak lagi. Citra terjatuh lemas. Sedangkan Rio tersenyum bangga. Sekali lagi, Rio mengungguli Citra.

***

            Itu tadi dalam pelajaran Fisika dan olah raga. Sehabis istirahatt setelah olah raga, ada pelajaran musik. Pelajaran ini saaangat amat sekali disukain sama Citra. Citra tu jenius musik. Berbagai macam alat musik bisa dia kuasai. Mulai dari pianika, suling, gitar, keyboard, piano, drum, sampai biola, Cita pantes banget diacungin jempol. Dan, hari ini penilaian. Semua anak bebas memilih alat musik apa yang akan mereka mainkan. Seperti biasa, Citra memainkan piano. Permainan piano Citra sangat memukau.
            Citra mulai menggerakkan jarinya. Tuts-tuts piano ditekannya dengan lincah. Lagu ceria yang dimainkannya membuat anak-anak nggak sadar mulai menari. Melihat itu, semangat Citra bertambah. Ia memainkannya lebih bagus lagi. Citra mendapat tepuk tangan yang sangat meriah saat selesai. Gurunya langsung memberi nilai A pada daftar nilai Citra.
            Kini giliran Rio. Rio juga memainkan piano. Lagunya lagu sedih. Suara piano Rio mengalun lembut sangat indah. Semua terhanyut dalam lagu itu. Lagu itu seolah memiliki kekuatan membuat yang mendengarnya mengingat kenangan bersejarah mereka. Sesaat setelah lagu itu selesai, suasana sunyi. Tapi setelah itu terdengar suara tepuk tangan yang saaaaangat meriah. Bahkan dari luar pun terdengar riuhnya tepuk tangan. Rupanya, orang yang lewat memutuskan berhenti menikmati lagu yang dimainkan Rio. Pak Boby, guru musik, langsung tanpa pikir panjang menulis nilai A+ dalam daftar nilai Rio. Sekali lagi, Rio tersenyum bangga sedangkan Citra menatap Rio penuh dendam.

***

Kriiiiiiiiiing!!!!!......Suara bel istirahat. Anak-anak CTG langsung berkumpul di kantin.
            “Gimana? Rio persis sama yang kuceritain kan?” Tanya Kira.
            “Yups! Betul banget! Rio tu keren abis ya? Jago basket lagi. Nia mau tu kalo bikin album sama Rio. Rio main piano, Nia yang nyanyi! Pasti laku deh…” Jawab Nia sambil mengkhayal.
            “Yee… Perbaikin dulu tuh suara! Suara fals gitu mau nyanyi sama Rio!” Kata Kira mengomentari.
         “Eh, tapi…tapi, bener loh, si Rio itu emang perfect banget. Rendy lewat deh!” Kata Ara menyambung.
            “Kamu kenapa sih, Cit? Kok dari tadi nglamun terus?” Tanya Kira melihat Citra yang dari tadi diam sambil cemberut.
            “Heh… Mata kalian tuh katarak ya? Cowok kaya Rio dibangga-banggain. Dia tuh cowok ter-sok yang pernah aku kenal tau gak?!” Jawab Citra emosi.
            “Halah… bilang aja kamu sirik kan sama Rio? Dari tadi dia bisa ngalahin kamu. Ternyata seorang Citra bisa kalah juga, berarti Rio tu hebat donk!” Kata Kira membela saudarannya.
            “Udah…udah! Ngapain sih bertengkar Cuma karna hal sepele kayak gini?” Ara menengahi.
            “Mungkin buat kamu ini hal sepele! Tapi buat aku ini pencemaran nama baik! Harusnya semua tepuk tangan hari ini tuh buat aku! Semua gara-gara RIO!!!” Bentak Citra sambil pergi dari kantin sambil meninggalkan Nia yang merengut, Ara yang melongo, dan Kira yang menggelembugkan pipi.

***

            Citra pergi ke halaman belakang. Dia merenung. ‘Sebenernya ini bukan salah Rio. Cuma akunya aja yang ngiri. Tapi kan tetep aja! Nyebelin!’ Batin Citra.
            “Dorrrr!!” Triak seseorang dari belakang Citra. Citra yang sedang melamun sangat kaget. Dia menoleh, RIO!
            “Ngapain kamu ke sini?” Tanya Citra kasar.
            “Boleh aja dong! Ini kan tempat umum. Kamu yang ngapain nglamun di tempat kayak gini. Ntar kesambet loh!” Jawab Rio.
            “Bukan urusanmu!” Kata Citra sambil beranjak pergi. Tapi Rio menarik lengan Citra.
            “Apa sih salahku? Dari tadi kamu nglihatin aku penuh dendam banget. Aku tuh pingin punya banyak temen n gak punya musuh.”
            “Kamu dah punya banyak temen, kok! Bahkan banyak fans! Layanin tuh fans-fans kamu!”
            “Tapi, Cit! Citra!” Citra pergi, langkahnya lemas tapi pasti.
‘Sorry, Yo! Aku nggak bisa jadi temenmu, mendingan kita jadi musuh! Musuh sejati yang gak akan pernah damai buat selamanya!’ Batin Citra.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar