Best Friend III

Datangnya Rio…

            Saat istirahat, seperti biasa CTG berkumpul di kantin. Dan Kira menceritakan apa yang dikatakan mamanya kemarin.
            Rio? Rio itu siapa?” Tanya Ara.
            “Rio itu saudara sepupu aku dari Bali. Kata Mama, dia bakal pindah ke sini n sekolah di sini juga. Kalian pasti suka deh ma dia! Dia tu asyik, humoris, lucu, jago gitar, jago basket, pinter lagi!”
            “Emang dia seumuran sama kita?”
            “Tua beberapa hari aja sih sama aku. Kan kita sama-sama bulan April.”
            “Oh.. Bagus deh!” Kata Ara tanpa memalingkan wajah dari novelnya.
            “Dia mulai pindah ke sini kapan?” Tanya Citra.
            “Katanya dia nyampe sini hari ini. Mungkin, lusa dia pindah ke sekolah ini.”
            “Wah, asyik donk!” Kata Nia.
Hari ini Kira terasa  melayang di udara pake baling-baling bambunya Doraemon. Seneng banget Rio dateng. Dia gak sabar nunggu Rio dateng. Teringat masa kecilnya, dia sering banget main sama Rio. Pernah saat mereka kekunci di gudang waktu di rumah nenek…
            “Yo, gimana nih? Aku takut.” Kata Kira kecil.
            “Udah, kamu tenang aja. Selama masih ada aku. Semua pasti bakal terkendali.”
            “Tapi gimana kita bisa keluar dari sini?”
            “Bentar, aku mikir dulu.” Kira rasanya aman kalau deket sama Rio.
            “Eh, itu ada jendela!” Kata Rio melihat jendela yang terbuka.
            “Tapi kan itu tinggi banget!” Kata Kira.
            “Kamu naik aja ke pundak aku.”
            “Nanti kamu keluarnya gimana?”
            “Ntar, habis kamu keluar panggilin mama sama papa aku buat bukain gudang.”
            “Bener, kamu nggak takut aku tinggal sendirian?”
            “Enggaklah! Aku kan cowok!”
Kira tersenyum mengingat masa itu. Betapa pemberaninya Rio padahal masih kecil. Rio kayak kakak buat Kira, yang selalu nglindungin dan menjaga Kira. Mereka sudah nggak bertemu selama 5 tahun. Tepatnya sejak Rio pindah ke Bali. ‘Kira-kira kayak gimana ya Rio sekarang?’ batin Kira.

***

            Hari sudah sore. Kata mama, Rio datangnya malam. Kira bosan sekali menungggu. Sedikit-sedikit dia melirik jam dinding. Dan, dia melihat sebuah buku resep! Kira segera beranjak dari tempat tidur. Terlintas di pikirannya, ‘Rio pasti seneng kalo aku masakin’ Maka dia mengambil buku resep itu dan menuju dapur.
            Dibukannya satu persatu halaman buku resep itu. Lalu muncul sebuah menu yang terlihat menggiurkan : Makaroni Goreng Telur. Kira baru ingat, Rio suka makaroni. Maka ia memutuskan untuk memasak menu itu.
            Kira mulai sibuk menyiapkan bahan-bahan : 
·         Makaroni bentuk kerang
·         Telur dua butir
·         Indofood bumbu Soto Ayam
Dan, sore itu adalah sore ter-menyenangkan dalam hidup Kira. Kira memasak dengan riang gembira sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Pembantu Kira sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Asal tahu saja, tahunya udah dipetis tinggal tempe. Bukan,.. asal tau aja, kalo Kira udah seneng, walaupun ada hujan badai, tanah longsor, angin topan, bahkan Tsunami sekalipun, Kira nggak akan pernah bisa berhenti nyanyi-nyanyi gak jelas.
            “Auw!!” Teriak Kira karena tangannya kena percikan minyak.
            “Huhh.. mungkin emang bener kata orang. Masak itu butuh perjuangan. Apalagi kalau masaknya dengan CINTA…. He…he…he…” Kata Kira
N, Tadam!! Jadilah masakan Kira… Kira mengambil 1 potong dan,
           “Yummy,…enak! Wah, harus daftar sekolah koki ni!” Kira puas dengan rasa masakannya. Dia mulai mengatur meja makan. Juga mengatur kamar yang akan ditempati Rio jadi sekeren-kerennya.
            Kira menunggu dengan sabar di teras depan saat sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya. Itu mobil mama! Pintu mobil di buka, keluarlah cowok gagah, ganteng, dan keren banget! Kira terasa mau pingsan ngelihatnya. Dia bahkan lebih cakep dari Rendy.
            Rio!” Teriak Kira sambil berlari menghampiri Rio yang baru keluar dari mobil.
            “Kamu Kira?” Tanya Rio melihat cewek cantik di depannya. Kira mengangguk. Rio tersenyum.Manisss banget.
-sedikit tentang Kira- : cewek cantik, rambut panjang sepunggung dengan poni yang lucu dan imut-imut. Matanya jernih, kayak masih anak-anak, bulu matanya lentik.
            “Ayo tante tunjukin kamar kamu!” Kata mama Kira sambil membawa tas Rio.
            “Ng…nggak usah, Ma! Biar Kira aja yang nganterin.” Kata Kira sambil merebut tas Rio yang dibawa mama. Rio tertawa kecil. Manisss banget.
            “Ayo, Rio!” Ajak Kira. Rio berjalan masuk mengikuti Kira.

***

            “Jadi ortu kamu ke luar negri?” Tanya Kira saat sedang santai ngobrol di ruang tamu dengan Rio.
            “Iya, makannya untuk beberapa bulan aku bakal tinggal di sini.” Jawab Rio.
            “Cuma beberapa bulan?” Tanya Kira yang terlihat kaget dan kecewa.
            “Lha, iya. Emang mau berapa abad?” Rio bertanya balik.
            “Ng… maksud aku, ng… gak papa deh lupain aja!” Jawab Kira malu. Rio tertawa kecil. ‘Aduh…ganteng banget!’ batin Kira, dia udah gak tahan lihat Rio.
            “Ng…ehm…aku ke kamar dulu ya!” Pamit Kira lalu berlari ke kamar.
Sampai di kamar Kira meloncat-loncat di tempat tidur.
            Rio…Padahal Cuma 5 tahun, tapi kamu kok berubah banget sih? Rasanya tiap aku deket sama kamu, aku jadi deg-degan.” Gumam Kira lirih. Dia nggak bisa membayangkan selama beberapa bulan bakal tinggal serumah dengan Rio. Padahal… Di lain pihak. Rio-nya sendiri santai. Maklum, Rio tu cowok yang cool.
            “Aduh..!” Kira menepuk keningnya. Dia ingat, dia belum nawarin makaroni goreng telur masakannya. Dia berlari ke ruang makan.
            “Fyuh…untung, masih anget.” Kata Kira lega sambil meniup poninya. Dia berjalan gugup ke ruang tamu. Rio sedang membaca buku.
            “Mm… Rio, ini masakan aku loh! Cobain deh.” Kata Kira.
            “Makasih ya.!” Kata Rio sambil tersenyum. Manisss banget. Kira seneng, Rio mau makan masakannya. Karena emang, itu dia masak buat Rio. Ohh…Rio!
            “Enak! Enak banget! Boleh minta lagi?” Tanya Rio.
            “Oh…ya? Tentu aja, ini aku masak buat kamu semua kok. Silahkan…”
            “Wah,.. Sebanyak ini aku mana habis. Mau nggak makan sama-sama?”
            “Mau banget!!”
Dan, mereka pun makan sambil ngobrol seru. ‘Ternyata, sifat kamu gak berubah.’ Batin Kira.

***

            Hari ini Rio mulai masuk sekolah. Kira seneng-seneeeng banget. Hatinya udah gak berbunga-bunga lagi, tapi berpohon-pohon. Sekalian tuh, kalo satu pohon kan ada bunganya, ada daunnya, ada tangkainya, juga ada buahnya, pokoknya lengkap deh.
            “Anak-anak, hari ini kalian kedatangan murid baru dari Bali.” Ucap Pak Gun pagi ini.
Rio masuk dengan keren abiss. Semua cewek kaku nglihat dia. Kira tersenyum bangga mengingat Rio adalah sepupunya.
            “Ja…jadi itu sepupu kamu, Ra? Ya ampyun… keren banget!” Kata Nia sambil menepuk-nepuk bahu Kira tanpa mengalihkan pandangan dari Rio.
           ‘Pelajaran hari ini asyik banget’, mungkin itu yang terpikir di benak setiap anak cewek di kelas. Mereka bahkan nggak merhatiin pelajarannya Pak Gun, tapi malah sibuk berfantasi dengan khayalan mereka bersama Rio. Termasuk juga anak CTG. Tapi nggak buat Citra! Citra emang pantang sama yang namanya cowok. Udah banyaaaak banget cowok yang ditolak sama dia. Plis deh, Citra gitu loh! Dia lebih mentingin ilmu daripada cowok.
            ‘TEEEEET TEEEET…..TEEEET…..’
Suara bel istirahat berbunyi, anak-anak mulai berhamburan keluar. Tapi melihat Rio di kelas membaca buku, anak-anak cewek pada di kelas. Ada yang minta fotolah, tanda tanganlah, bahkan nomor HP. Kira menggelembungkan pipinya tanda jengkel. Ditariknya Rio dari kerumunan cewek-cewek yang udah kayak lautan itu.
            Rio…Aku kenalin, ini sobat-sobat aku!” Kata Kira memperkenalkan CTG setelah mendapat tempat persembunyian yang aman dari kejaran cewek-cewek rese yang ngejar Rio.
            “Yang imut ini Nia.”
            “Nia,” “Rio,” Tubuh Nia langsung kaku nglihat senyum Rio. Dia terus nglihatin tangannya yang habis jabat tangan sama Rio. ‘Ni tangan gak akan pernah kucuci.’ Batin Nia.
            “Yang manis ini, Ara.” Ara tersenyum
            “Manis? Dirubung semut dong?” Kata Rio mencairkan suasana. Semuanya tertawa.
            “Loh? Citra mana?” Tanya Kira.
            “Hai teman-teman! Di kantin ada menu baru loh! Tempura. Ni aku beliin!” Kata Citra yang tiba-tiba muncul.
            “Dan yang ini Citra.” Kata Kira.
            “Hai Cit!”
            “Hai juga!”
Citra menatap mata Rio dalem-dalem. Daaaleeem banget. Dan, dia rasa ada sesuatu di dalam diri Rio.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar