Best Friend II

Sahabat lebih penting…

Ara sedang berjalan pulang, ketika…
            “Ara! Tunggu Ra!” Suara Citra memanggilnya.
            “Ara!” Teriak Citra lagi sambil berlari mengejar Ara.
            “Apa sih?” Tanya Ara kasar.
            “Aku mau ngomong sama kamu!” Jawab Citra tegas. Membuat Ara takut dan mengikutinya.
            Mereka sekarang sudah duduk di café dengan segelas kopi di hadapan mereka. Ara diam saja sambil tertunduk, sementara Citra sibuk memikirkan kata-kata apa yang akan diucapkannya pada Ara,
            “Kamu mau ngomong apa sama aku?” Tanya Ara.
            “Sebenernya kamu tuh kenapa sih?”
            “Apa? Aku nggak kenapa-napa kok! Biasa aja.”
            “Terus apa maksud kamu ngejauhin kita-kita?”
            “Ya itu hak aku dong!”
            “Seenggaknya kamu bilang apa alasan kamu! Kita tu khawatir sama kamu!”
            “Suka-suka aku dong! Emang kalian siapaku?” Kata Ara menahan tangis.
            “Ra, aku tu sahabatmu! Kita tu sahabatmu!” Kata Citra sambil mengguncang-guncang tubuh Ara. Ara menangis sejadi-jadinya di pelukan Citra. Citra hanya mengelus pungung Ara.
            “Cit, kenapa sih aku nggak jadi Kira aja?” Tanya Ara. Citra tersentak mendengarnya. Dia nggak mengerti maksud Kira.
            “Kenapa? Emangnya kenapa sama Kira?” Tanya Citra. Ara melepas pelukannya
            “Kamu inget waktu Kira cerita dia jadian sama Rendy?” Tanya Ara. Citra mengangguk.
            “Aku seneng, seneng banget Kira udah punnya cowok. Tapi kenapa cowok itu harus Rendy?” Tanya Ara sambil menangis lagi.
            “Maksud kamu?”
            “Aku dah lama suka sama Rendy, nglihat Kira seneng banget karena Rendy nembak dia, hati aku sakit. Rasanya aku sedih banget kalo ketemu Kira.” Jawab Ara.
            “Jadi itu masalahnya.” Tanya seseorang. Suara itu dikenal Ara. Itu suara….Kira! Ternyata Kira dan Nia dari tadi menguping pembicaraan mereka. Kira dan Nia lalu duduk di sebelah Citra.
            “Kenapa kamu nggak cerita, Ra?” Tanya Kira. Ara hanya diam nggak menjawab.
            “Kalo aku punya cowok malah bikin persahabatan kita rusak, mendingan aku nggak usah punya cowok. Kalo perlu aku jomblo seumur hidup juga nggak papa! Karena buat aku persahabatan kita jauh lebih penting ketimbang cowok!” Kata Kira. Ara memeluk Kira.
            “Kalau kamu mau aku bisa putusin Rendy sekarang juga. Lagian, aku baru sadar kalo aku tu nggak suka sama Rendy, aku cuma ngidolain dia doank!” Kata Kira sambil melepas pelukan Ara.
            “Makasih ya, Kir!” Kata Ara.
            “Buat sahabatku tercinta, apa sih yang enggak?” Jawab Kira.
Lalu Kira mengambil HP-nya. Diketiknya SMS untuk Rendy.
                        Sorry,Rend. Qta putus.
Tak lama kemudian, Rendy membalas.
                        Tp knp? Qta kan jdian bru sbntar?
Kira membalas dengan berbohong.
                        Aq bosen m qm. Qm g asyk!
Rendy nggak membalas lagi. Buat Kira, itu udah cukup buat ngebuktiin betapa sayangnya dia sama sahabatnya. ‘Jujur Rend, aku terpaksa.’ batin Kira.
            “Okey! Aku dah putus sama Rendy!” kata Kira senang. Ara tersenyum lega.

***

            Keadaan sudah baik sekarang, Semuanya lega. Dan CTG membuat undang-undang baru : NGGAK ADA YANG BOLEH DIRAHASIAKAN. Semuanya setuju dengan  itu. Tapi..
          “Kir, tunggu Kir!” Teriak sebuah suara. Suara teduh, suara yang dikenal Kira, yang disukai Kira. Yang Kira bilang hanya mengidolakannya. Padahal nggak. Suara…Rendy.
            Kira lari…lari semampunya. Dia nggak memikirkan lagi kalau dia punya mobil. Tapi Rendy lebih sabar, tenang, dan lebih cerdik. Rendy nggak mengejar Kira, ia mengambil motor dan ngebut menuju Kira yang sudah jauh.
            “Kir, tunggu Kir!” Rendy membelok, dan kini ada di hadapan Kira.
            “Apa?” Jawab Kira sok santai padahal dia gemetaran, hatinya tak karuan.
            “Kir, aku tahu dan yakin. Kamu bukan orang kayak gitu. Pliss, Kir! Jelasin apa alasan kamu mutusin aku!” Rendy menatap Kira dengan mata penuh tanya. Kira takut melihatnya dan memalingkan wajah.
            “Kir! Jawab Kir! Aku…aku besok berangkat ke Amerika. Aku mau nerusin sekolah di sana. Orang tua aku dapet kerja di sana. Aku bakal sedih banget kalo kamu besok nggak dateng dan nganter aku ke bandara! Itu doang yang mau aku omongin. Makasih kamu mau buang waktumu buat dengerin. Permisi!!” Kata Rendy kasar. Nggak pernah Kira mendengar Rendy semarah itu. Ingin rasanya Kira berteriak pada Rendy kalau dia terpaksa. Tapi terlambat, Rendy sudah pergi dengan motornya. Meningalkan Kira yang pipinya menggelembung.
            “Aduh!!” Kira menepuk keningnya. Dia baru ingat mobilnya masih di sekolah. Dia pun segera lari menuju sekolah.
            “Fyuhh…” Ucapnya lega melihat mobilnya masih  di parkiran. Segera dinaikinya dan pulang ke rumah.

***
           
            Di kamar Kira memandangi foto Rendy. Sedih sekali rasanya. Kira masih memikirkan ucapan Rendy tadi… ‘Aku besok berangkat ke Amerika’ Kata-kata itu terbayang-bayang di pikirannya. Kira mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur dengan pipi menggelembung. ‘Apa aku bakal dateng ke bandara?’ Pikirnya.
            Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya. Citra! ‘Ya, Citra pasti bisa bantu. Dia kan bijaksana.’ Batin Kira. Dia segera turun dari tempat tidur, mengambil kunci mobil dan berangkat menuju rumah Citra.

***

            “O…gitu.” Kata Citra tanda mengerti setelah mendengar cerita Kira.
            “Iya, Cit. Kamu bisa bantu aku kan? Aku harus ngapain?” Tanya Kira.
            “Hmm…Gimana ya?” Jawab Citra sambil mengelus dagu seolah ia punya jenggot. Kira menunggu dengan sabar.
            “Kalo menurut aku, kamu dateng aja. Toh, habis itu kamu nggak akan ketemu dia lagi. Tapi inget, jangan sampe Ara n Nia tau!” Kata Citra.
            “Kalau soal Ara aku tau, tapi kalo Nia? Kenapa dia gak boleh tau?”
            “Hallahh… Kamu kok kayak baru tau  Nia aja? Dia kan ember bocor!”
            “Oh…iya ya.”
            “Dasar, pacarnya Udin” Citra. Disusul dengan pipi  Kira yang menggelembung.
Citra tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
            “Ya udah, thank’s ya!”
            “Buat sahabatku tercinta, apa sih yang nggak?” Kata Citra mengulang kata-kata Kira pada Ara kemarin. Kira tersenyum. Lalu meniup poinya tanda lega.
            “Ya udah, aku pulang dulu ya!” Pamit Kira.
            “Yaaahh… jangan pulang dulu dong! Cepet amat! Amat aja lagi di toilet. Temenin aku nonton DVD yuk!” Ajak Citra.
            “Nonton apa?”
            Madagascar dua.”
            “Boleh.”
           “Yuk!” Dan Citra menyetel DVD yang baru saja dibelinya lalu nonton bersama Kira.
            “Punya Pop Corn?”
            “Punya.”
            “Di mana?”
            “Di Kulkas.”
(Kayaknya gak penting banget ya adegan ini? Kita lihat aktivitas CTG yang laen aja yuk!)
NIA,….
            “Bi Inah!! Bi!! Bibi di mana?!” Teriak Nia.
            “Iya. Ada apa, Non?” Tanya Bi Inah.
            “Ih.. Bibi, nama aku kan Nia N  I-ni tambah A, NIA! Kok bibi panggilnya Non sih?”
            “Iya Nia, ada apa?”
            “Bi, Andy sama Kitty udah dikasih makan kan?”
            “Udah kok, Non. Maksud  bibi, Nia.”
            “Kalo Jackie?”
            “Udah.”
            “Ciko?”
            “Udah.”
            “Millo?”
            “Udah.”
            “Vany?”
            “Udah.”
“Fiko?”
            “Udah.”
            “Kalo Kyla?”
            “Kyla? Siapa itu?”
            “Aduh… itu kan kelinci baru Nia!”
            “Oh, maaf. Belum.”
            “Ntar kalo mati gimana?”
            “Nggak kok. Sekarang bibi kasih makan.”
            “Ya cepetan sana!” Bibi mengangguk dan pergi.
Emang, rumah Nia tu kaya kebun binatang. Banyaaaak banget peliharaannya. Mungkin cita-cita Nia jadi peternak hewan kali ya?
                        ARA,….
            “Ara? Ara sayang? Sini deh!” Kata ibu Ara.
            “Iya, Ma?”
            “Kamu beli di warung ya!”
            “Iya.” Ara pun segera berangkat menuju warung yang lumayan jauh. Setelah setengah perjalanan dia baru ingat dia nggak tahu harus beli apa. Lalu dia pun balik lagi.
            “Ma, aku suruh beli apa?”
            “Beli telur.” Ara berangkat lagi. Setelah lama berjalan dia baru ingat, dia nggak tahu harus beli telur berapa kg. Maka di pun balik lagi.
            “Ma, aku beli telur berapa kilo?”
            “Setengah aja.” Ara berangkat lagi. Sudah beberapa meter Ara baru ingat dia belum bawa uang. Maka dia pun balik lagi.
            “Uangnya mana, Ma?”
            “Ini…” Kata ibu Ara memberikan selembar 10 ribuan. Ara berangkat lagi. Tak lama berjalan, Ara baru ingat kalau dia punya sepeda. Maka dia pun kembali dan mengambil sepedanya.
            Setelah ambil sepeda dan sudah beberapa jauh. Ara lupa dia harus kemana. Maka dia pun balik lagi…

***
Esoknya… (Hari Minggu)
            “Cit, anterin aku ya?” Tanya Kira pada Citra lewat telepon.
            “Ngapain musti dianterin? Kan bisa sendiri.” Jawab Citra.
            “Tapi aku takut.”
            “Kenapa musti takut? Rendy nggak nggigit kok!”
            “Iya sih… tapi,”
            “Tapi apa? Udahan ya aku mau pergi dulu. Dee..”
            “Tunggu, Cit! Citra!” Tapi terlambat, Citra sudah menutup telponnya.
Kira mengglembungkan Pipinya dan mencari kunci mobil. Berangkatlah dia ke bandara.
Sementara di Bandara…
            Rendy menunggu cemas. Wajahnya pucat, dia nggak bisa membayangkan bila harus pergi tanpa melihat Kira untuk terakhir kali. Wajahnya ditekuk.
            “Pesawat Garuda X8 Jurusan Indonesia-Amerika akan berangkat lima menit lagi. Harap para penumpang segera masuk ke pesawat.” Ucap petugas pesawat.
            Wajah Rendy yang ditekuk sekarang malah dilipat. Dia khawatir Kira nggak akan datang. Dia sendiri nggak tahu kenapa Kira marah padanya, dia merasa nggak pernah berbuat salah pada Kira.
            Rendy melihat jam. Tinggal 3 menit lagi pesawatnya berangkat. Kali ini dia yakin Kira benar-benar nggak akan datang. Dia pun melangkah menuju pesawat..
            “Rendy! Rendy! Tunggu Rend!” Teriak seseorang. Rendy menoleh…KIRA!!
Rendy berlari  menghampiri Kira, begitu juga Kira. Dan mereka pun berpelukan. Kira menangis.
            “Maafin aku ya, Rend!” Kata Kira.
            “Kamu nggak salah kok! Tapi aku pingin tau, kenapa kamu putusin aku?”
            “Belum saatnya, Rend! Belum saatnya kamu tau!”
Rendy tersenyum, dia mengerti Kira nggak bisa dipaksa. Lalu dia melepas pelukannya dan melangkah menuju pesawat. Rendy tersenyum lega, Kira datang. Kira meniup poninya tanda lega. Dan semuanya berakhir bahagia.
            Kira pulang dengan hati berbunga-bunga. Kenapa ya nggak berdaun-daun? He…he…he… Pokoknya dia seneng banget. ‘Rendy emang cowok paling pengertian di dunia’ pikirnya. Sekarang sudah nggak ada lagi yang mengganjal hatinya. Hatinya lega selega-leganya manusia.
            I just wanna say I love u
            I just wanna say I love u uuu..uuu
Suara HP Kira berbunyi. Terlihat nama Citra di layar LCD-nya.
            “Hallo?” Kata Kira.
            “Hai, Kir! Gimana? Sukses?”
            “Iyalah…Kira gitu loh!”
            “PD!”
            “Ntar aku panggang!”
            “Aku kan gak nyuruh makan!”
            “Daripada kamu suruh, mendingan aku bilang sendiri!”
            “Dasar GR!”
            “Ntar aku goreeng!”
            “Ye… Kenyang dong!”
            “He…he…he…”
            “Gimana? Rendy gak marah kan?”
            “Gak lah… Dia kan cowok terpengertian di dunia.”
            “Ya baguslah!”
            “Thank’s loh!”
            “Ya, udah ya! De…”
Kira menekan tombol merah di HP-nya, kebetulan juga dia sudah sampai rumah. Kira menuju kamar sambil menyanyi dan menari. HP-nya berbunyi lagi, nama MAMA tertera di layar LCD-nya.
            “Hallo?” Jawab Kira. Seseorang berbicara di telpon dan Kira dibuatnya kaget sekaligus senang bukan kepalang.
            “Apa? Rio mau dateng?!” Teriak Kira riang gembira


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar