Best Friend VI

Tuhan adil, kok…

Citra dan Rio sekarang teman akrab. Anak-anak CTG jadi iri pada Citra. Tapi Citra nggak tahu itu. Ada satu lagi yang nggak diketahui anggota CTG, Nia yang lucu dan imut-imut ternyata punya penggemar rahasia! Suatu hari, Nia nemuin surat di lokernya…
Dear Nia…

Nia…
1 + 1                  = 2 mataku selalu menatap wajahmu
3 + 3                  = 6 indraku merasakanmu
12 + 12              = 24 jam ku nanti kenalan denganmu
50% + 50%      = 100% ku sayang kamu
182, 5 + 182,5   = 365 hari ku merindukanmu

Dari penggemar rahasiamu

“Cieeeeeee……!!!!!!” Teriak semua CTG seelah Nia membacakan suratnya.
“Tuh kan… Nia banyak fansnya! Nia gitu loh!” Kata Nia bangga.
“Mungkin tuh orang katarak kali ya naksir sama Nia?” Kata Kira bercanda.
“Jangan gitu lagi…Nia kan imut-imut.” Kata Ara.
“Ara baik deh. Gak kaya Kira. Wek!” Nia ngomong sambil melet ke Kira. Kira langsung menggelembungkan pipinya.
“Aku penasaran deh, penggemar rahasianya Nia tuh kayak apa.” Kata Citra.
“Iya…ya…” Kata Nia.
“Aku tau! Gimana kalo kamu kasih surat balasan ke dia. Taruh aja di loker kamu. Kamu bilang pingin ketemuan.” Kata Kira.
“Wah Kira pinter!” Jawab Nia.

Dear penggemar rahasia Nia…

Makasih ya suratnya. Tapi Nia penasaran nih pingin ketemu.

Dari Nia

Nia meletakkan suratnya di loker. Esoknya dia dapat balasan…

Dear Nia…

Kita ketemuan di tempat biasa kamu nongkrong sama anak-anak CTG.
Aku pakai baju putih, celana jins, dan topi biru. Besok jam 3.

Dari penggemar rahasiamu.

Nia seneng banget! Dia nggak sabar ketemu penggemar rahasianya itu. Anak-anak CTG yang lain juga. Mereka memutuskan mengintip diam-diam saat Nia bertemu dengan penggemar rahasianya.


Nia dan CTG sudah sampai di restoran tempat mereka biasa kumpul-kumpul. Mata Kira mulai berkeliling mencari  orang yang memakai baju putih, celana jins, dan topi biru.
            “Itu dia!” Kata Kira.
            “Wah…Kayaknya cakep deh.” Kata Nia sambil menghampiri cowok itu.
Nia langsung duduk di kursi. Dia penasaran wajah di balik topi yang dilihatnya.
            “Hai! Ini aku, Nia!” Kata Nia. Cowok itu memalingkan wajahnya melihat Nia. ‘Bener kan! Ganteng!’ Batin Nia.
           


“Nia, kenalin aku Okky.” Kata cowok itu sambil mengulurkan tangan. Nia membalas uluran tangan Okky.
            “Okky udah pesen makanan?” Tanya Nia.
            “Belum, kan nunggu Nia.” Jawab Okky.
            “Pelayan!” Panggil Nia.
            “Mau pesan apa?” Tanya sang pelayan.
            “Nia pesen kentang balado sama jus strobery yang pakai es krim, mesis, dan susu kental manis. Okky mau apa?” Tanya Nia.
            “Sama deh.”  Jawab Okky.
Nia dan Okky akhirnya mengobrol. CTG sampai bosen nungguin. Okky kayaknya bisa memaklumi sikap Nia yang kayak anak kecil. Sedangkan Nia, ngrasa nyaman banget deket Okky.
Akhirnya, jam setengah lima
            “Udah?” Tanya Citra pada Nia yang setelah Okky pulang menghampiri CTG.
            “Udah. Ganteng, keren, tinggi, lucu, asyik, pengertian, baik, namanya Okky.” Jawab Nia alas kali tinggi bagi dua sama dengan luas segitiga.
            “Nia…Nia…Baru ketemu aja udah kayak gini gimana nanti kalo udah pacaran?” Tanya Ara heran.
            “Nia sama Okky udah pacaran kok! Tadi Okky bilang suka sama Nia, terus Nia terima.” Jawab Nia.
            “Tapi kan kamu baru ketemu dia sekali!” Kata Kira.
            “Gak papa dong! Kesan pertama itu kan perlu.” Bantah Nia.
            “Iya deh…” Jawab Citra.
I just wanna say I love u
I just wanna say I love u uuu..uuu Suara HP Kira berbunyi. Rendy!
            “Halo?” Kata Kira mengangkat teleponnya.
            “Halo Kir, aku mau pulang. Kamu jemput aku di bandara ya!” Jawab Rendy.
            “Oke!” Kata Kira sambil menutup Hpnya.
            “Yes…yes…yes…!!!!” Teriak Kira kaya orang gila.
            “Ada apa sih?”Tanya Nia yang marah karena teriakan Kira membuyarkan lamunannya tentang Okky.
            “Rendy mau pulang ke Indonesia!” Jawab Kira senang.
            “Oh, itu. Pantesan seneng banget!” Kata Citra santai.
            “Aku disuruh jemput dia di bandara loh!” Kata Kira lagi.
            “Hmm… Rendy mau pulang?” Tanya Ara tiba-tiba. Kira yang dari tadi lonjak-lonjak langsung berubah ekspresi.
            “Sorry Ra, aku lupa. Nggak papa kan?” Tanya Kira.
            “Nggak papa kok! Aku tau kamu udah baaaanyak banget berkorban buat aku. Lagian, aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi kok sama dia.” Jawab Ara tulus. Kira tersenyum bahagia, dia langsung memeluk Ara.
            “Makasih ya, Ra!” Bisik Kira pada Ara.
            “Sama-sama.” Kata Ara sambil melepaskan pelukan Ara.
‘Citra sama Rio, Nia sama Okky, Kira sama Rendy. Aku sama siapa dong?’ Batin Ara.


Saat istirahat, seperti biasa CTG berkumpul di kantin.
            “Kamu kenapa, Ra? Kok dari tadi nglamun?” Tanya Citra melihat dari tadi Ara diam dan melamun.
            “Ng…nggak papa kok! Aku Cuma ngrasa aja, di antara CTG Cuma aku yang nggak punya cowok. Apa karena aku jelek dan miskin?” Jawab Ara sedih.
            “Nggak kok, Ra! Kamu tuh malah manusia terbaik di dunia. Hati kamu tuh caaantik banget dan kamu juga nggak miskin kok! Kamu malah kaya akan kasih sayang dan ketulusan” Kata Kira.
            “Waaah… Kira udah jago puitis nih…! Kira, bikinin Nia puisi dong buat Okky!” Kata Nia polos.
           




“Kamu kok bisa ngrasa gitu sih, Ra?” Tanya Citra lagi.
            “Cit, kamu punya Rio. Kira sama Rendy. Nia sama Okky. Tapi aku?” Jawab Ara.
            “Oh, itu. Tenang, Ra. Anak kayak kamu itu pasti gampang dapet cowok! Mungkin belum waktunya aja.” Kata Kira menghibur.
            “Makasih ya temen-temen. Kalian emang sobatku yang paling baik sedunia!” Kata Ara.
            “Udah lah… Daripada suasananya nggak enak terus kayak gini, aku mau ajak kalian jemput Rendy nanti di bandara. Mau kan?” Tanya Kira.
            “Ye… Bilang aja minta ditemenin.” Kata Citra.
            “Iya deh… iya…” Kata Kira sambil menggelembungkan pipinya.
            “Okey, kita ikut!” Kata Ara dan Nia bersemangat.


Di rumah Kira…
            “Rambut aku udah rapi kan? Dandanku nggak menor kan? Baju aku maching nggak sih? Aduh… ni jepet susah amat sih dipasang!” Tanya Kira yang dari tadi riiibet banget.
            “Udah kok, udah! Kiraku sayang udah caaantik banget!” Kata Ara menghibur.
            “Sama Nia cantikan mana?” Tanya Nia.
            “Cantik semua!” Jawab Ara.
            “Udah, yuk! Ntar telat loh!” Seru Citra.
            “Iya!” Jawab CTG bersamaan.
Sesampainya di bandara…
            “Eh, itu Rendy!” Teriak Nia. CTG langsung menghampiri Rendy. Kira langsung berlari memeluknya.
            “Aku kangen banget sama kamu, Kir!” Kata Rendy.
            “Aku juga.” Kata Kira sambil melepas pelukannya.
            “Kenalin, ini Ikbal. Temen aku di Amerika. Dia juga dari Indonesia.” Kata Rendy sembari menunjuk cowok tinggi, tegap, gagah, dan keren di sampingnya.
            “Kira,” Kata Kira sambil mengulurkan tangan.
            “Ikbal.” Kata Ikbal sambil membalas uluran tangan Kira.
            “Ikbal, ini sobat-sobat aku. Citra,” Sambil menunjuk Citra.
            “Nia,” Sambil menunjuk Nia dan saling berjabat tangan.
            “Dan Ara.” Sambil menunjuk Ara. Mereka berjabat tangan.
            “Yang namanya Ara itu, manis juga.” Bisik Ikbal pada Rendy.
            “Iya lah… Sohibnya cewekku emang cantik-cantik!” Bisik Rendy pada Ikbal.
            “Udah yuk! Kalian langsung ke tempat biasa aja. Aku sama Ikbal mau pulang dulu naruh tas, terus langsung ke sana.” Ajak Rendy.


            “Jadi kamu ke Indonesia Cuma liburan? Terus kamu ke Amerika lagi?” tanya Kira pada Rendy saat sudah ada di restoran tempat biasa mereka.
            “Iya. Ya kan, Bal?” Tanya Rendy sambil menatap Ikbal.
            “Ikbal!” teriak Rendy. Ikbal dan Ara dari tadi saling berpandangan.
            “Cieee… Ara!!!” Teriak CTG.
            “Tuhan adil kan?” Tanya Citra
            “Iya.” Jawab Ara lirih.


-END-

Hoho.. tamat deh...
Nggantung ya ceritanya?? Ya maap~ Maklum, pemula! hehe..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Best Friend V

Damai itu indah…

            “Anak-anak, lusa kita akan mengadakan kegiatan kemah selama 3 hari 2 malam.  Bapak harap kegiatan ini dapat memberi kalian pelajaran tentang mengenal alam dan mencintai lingkungan sekitar kita.” Kata Pak Gun.
            “Horeeee!!!” Teriak anak-anak serempak. Mereka ulai ribut membicarakan apa saja yang akan mereka bawa.
            “Dengarkan daftar regu satu tenda kalian yang sudah bapak bentuk! Citra, Nia, Kira, Ara, …………………………………………………………………………………..”
CTG langsung senang mendengar mereka satu regu. CTG emang cepet banget bisa damai. Masalah tempo lalu sudah terselesaikan. Citra emang ngajarin anggotanya buat jadi orang pemaaf. Kalau bertengkar nggak pernah mereka lebih dari 3 hari. Itulah mengapa CTG awet adem ayem sampai sekarang.

***

            Hari itu pun tiba. Anak-anak CTG naik mobil Citra. Citra yang simpel bawaannya Cuma dikit. Ara yang sederhana tasnya ringan. Kira yang imut juga gak terlalu mentingin barang-barang yang gak perlu. Tapi….
            “Tedy? Udah. Ouwi? Udah. Selimut? Udah. Bantal? Udah. Jacket? Udah? Bedak? Udah. Pelembab? Udah. Krim segala macem? Udah. Komik? Tu, wa, ga, pat, ma, udah.Apa ya yang belom?” Tanya Nia yang dari tadi ribet banget.
            “Otak kamu tuh yang belom! Bawa barang banyak banget? Sampe kayak jualan tas gitu. Apa gak keberaten?” Jawab Citra.
            “Otak Nia udah kok di kepala. Apa ketinggalan ya? Aduh… Gimana ni kalo ketinggalan?!” Tanya Nia bingung.
            “Nia…Nia…” Kata Ara, Kira, dan Citra sambil geleng kepala.
            “Udah ayo cepetan! Kita udah ketinggalan rombongan nih!” Ajak Citra.
            “Siap Bos!!!” Kata anggota CTG yang lain sambil hormat.
Mereka pun naik mobil dan segera berangkat. Dalam perjalanan…
            “Eh Ni, liat tuh saodaramu!” Kata Kira usil sambil menunjuk kerbau yang sedang makan rumput.
            “Masak? Berarti Nia punya kakak? Tapi, ibu Nia kok nglahirin kakak kayak gitu sih? Pasti dia vegetarian, deh! Makan rumput terus.” Jawab Nia.
            “Nia…Nia…” Kata yang lain lagi sambil geleng-geleng kepala.
            “Eh Cit, itu kan mobilnya Rio.” Kata Ara menengok ke belakang.
Citra melihat kaca spion. Terlihat Rio melambai pada Citra, seolah mengetahui Citra melihatnya. Citra langsung berpaling.
            “Mana? Mana?” Tanya Nia dan Kira yang mulai ribet gara-gara ingin melihat Rio.
            “Rio…” Kata Nia, Kira, dan Ara serempak melihat senyum menghiasi wajah Rio. Manisss banget!
            “Kalian tuh kok bisa sih segitunya sama Rio? Biasa aja kali!” Kata Citra.
            “Rio tuh cakep…” Kata Kira.
            “Rio tuh keren…” Kata Nia.
            “Rio tuh pinter…” Kata Ara.
            “Rio tuh perfect… sempurna” Kata mereka bertiga serempak dengan mengucapkan ‘sempurna’ dengan nada lagunya Andra & The Backbone.
Citra Cuma geleng-geleng kepala melihat perilaku teman-temannya itu. Dia terbayang lagi kejadian di taman. Rio kelihatan polos banget. Citra jadi berpikir kok dia bisa nyimpen dendam sama Rio? ‘Nggak! Pokoknya nggak boleh! Rio tuh musuhku! Selamanya!’ Batin Citra.

***

Mereka sudah sampai. Suasana di situ saaaangat indah. Udaranya masih segar dan membuat pikiran tenang. Anak-anak diberi waktu istirahat setelah perjalanan panjang melelahkan.
           “Sejuk banget!” Ucap Kira sambil membentangkan tangannya menikmati angin sepoi-sepoi.
Ara segera mengambil novelnya dan mencari tempat duduk yang  nyaman.
            “Baca di tempat kayak gini emang paling top!” Gumam Ara.
            “Aduh!! Rambutku rusak nih!” Ucap Nia sambil berkaca menyisir rambutnya yang acak-acakan akibat tidur di mobil tadi.
            Sementara Citra masih duduk di jok mobil dengan pikirannya yang bercampur aduk pada Rio. Kasihan, iri, iba, marah, bahkan… suka! ‘Gak! Rio tuh musuh Citra, musuh!’ Batin Citra.
            Beberapa saat setelah mobil Citra sampai, mobil Rio sampai. Mata Kira yang dari tadi beerkeliling melihat pemandangan segera mengenali mobil Rio.
            “Rio!!!” Teriak Kira melambaikan tangan ke arah Rio. Nia, Ara, dan Citra spontan menoleh. Pintu mobil terbuka, muncul sesosok cowok tinggi memakai celana jins panjang, kaos merah dan jaket.
            “Hai!” Rio membalas lambaian Kira. Rio tersenyum. Manissss banget.

***

Teeeeet……..Teeeeet……. suara bel berbunyi.
            “Bagi para ketua regu, harap segera berkumpul di halaman tengah. Saya ulangi, bagi para ketua regu harap segera berkumpul di halaman tengah. Terima kasih.” Suara Pak Gun berkumandang. Citra dan para ketua regu yang lain sambil membawa tas langsung menuju halaman tengah.
            “Bapak memanggil kalian untuk memberi informasi. Tempat kita mendirikan tenda nanti adalah di tengah hutan. Bapak harap kalian bisa memimpin anggota regu kalian supaya nggak tersesat. Bapak akan membagikan peta, jangan sampai hilang! Mengerti?”
            “Mengerti, Pak!” Jawab anak-anak serempak.
Pak Gun membagikan tenda. Namun saat itu Rio tiba-tiba ingin buang air kecil. ‘Kok nggak ada kamar mandi?’ Batin Rio. Karena sudah nggak tahan, dia memutuskan masuk hutan dan BAK di sana. Tapi sementara itu para ketua regu sudah dibagikan tenda dan nggak ada yang sadar bahwa Rio nggak ada. Mereka semua berangkat. Tanpa Rio…
            Betapa kagetnya Rio menyadari dia ditinggalkan. Dia segera mengambil tas dan berjalan menuju hutan sambil mencari-cari jalan. Rio menelusuri segala semak belukar. Dengan susah payah, dia berjalan, berjalan, berjalan, dan berjalan terus… Sementara itu…
            Citra dkk. Sedang dalam perjalanan bersama rombongan. Mereka menyanyi sambil foto-foto pake gaya narsis, sok imut, malah ada yang manjat pohon berasa kera (teringat nenek moyangnya kali ya?)
            “Cit, pinjem petanya donk!” Kata Kira.
            “Nih…” Kata Citra sambil memberi peta pada Kira.
            “Thanks ya!” Jawab Kira. Anak-anak CTG jadi ngrubungin dia buat nglihat peta sambil terus jalan.
            “Ih…” Citra mengeluh, tali sepatunya lepas. Dia membungkuk untuk membetulkan. Tapi, lepas. Dibetulkan lagi, lepas. Dibetulkan lagi,….
            “Awas ya kamu kalo lepas lagi!” Bentak Citra pada sepatunya.
Tapi saat Citra menoleh, dia sudah ketinggalan jauh dari rombongan.
            “Gimana nih? Mana petaku dibawa Kira lagi!” Keluhnya lagi.
Citra mulai sibuk berjalan mencari rombongannya. Dan tiba-tiba…
            “Aduh!!!” Teriak dua orang yang berbeda saat kepala mereka saling terbentur.
            “Rio?!” Teriak yang seorang.
            “Citra?!” Teriak yang seorang lagi.
            “Kamu ngapain di sini?” Bentak Citra sok gak peduli. Padahal dia kaget sekaligus seneng. Kagetnya kerena Rio ada di sini, senengnya karena berarti dia gak sendirian.
            “Galak banget sih? Aku tuh tadi ditinggal waktu buang air kecil. Kamu sendiri ngapain di sini? Kesasar?!” Kata Rio tak acuh.
            “Iya.” Jawab Citra kasar.
            “Apa? Kesasar?!” Kata Rio sambil tertawa sekeras-kerasnya.
            “Apa sih?” Tanya Citra heran.
           



“Lucu aja, seorang Citra, bisa-bisanya kesasar. Bukannya justru kamu yang nunjukin jalan? Yang mimpin mereka? Katanya Citra tuh cewek terhebat, tercantik, terpinter, terbijaksana? Buat aku itu bukan ter, tapi sok!!!” Jawab Rio.
            “Apaan sih!? Kalo Cuma jelek-jelekin gak usah ngomong aja deh sekalian!”
            “Iya. Sorry, aku Cuma bercanda kok.”
            “So?”
            “Apa? Soto? Bakso?”
            “So what? Kita sekarang mau apa?”
            “Dasar cewek gak berdaya, lagaknya tau semua di muka bumi ini!”
            “Heh!! Aku serius!”
            “Kamu bawa tenda kan? Mendingan kita cari tempat buat bikin kemah aja. Soalnya, dari tadi aku telpon temen-temen gak ada sinyal.”
            “Tenda? Jangan bilang kita satu tenda? Terus kita mau bikin di mana? Mau makan apa? Aku gak bawa bekal.”
            “Ya enggak lah! Kamu pikir aku cowok apaan? Tadi, waktu aku cari jalan, aku lihat ada sungai. Kita bisa bikin tenda di pinggir sungai itu. Nanti makannya, kita bisa bakar ikan.”
            “Kamunya tidur di mana?”
            “Di Johar. Ya, di luar donk!”
            “Ya udah! Ayo, cap cuz!!”
Dan….


            “Ini tempatnya?” Tanya Citra pada Rio saat sampai di pinggir sungai. Sungai itu indaaaaah banget. Pinggir-pinggirnya banyak tumbuh rumput yang subur. Airnya mengalir deras melewati bebatuan jadi tampak seperti air terjun mini. Citra terkagum-kagum melihatnya.
            “Iya. Kenapa?”
            “Bagus banget.”
            “Rio gitu loh!”
            “Heh. Mulai!”
            “Udah. Sini, bantuin aku bangun tenda!” Seru Rio yang sedang sibuk mengatur tenda.
            “Iya!” Kata Citra sambil menghampiri Rio.
Setelah membangun tenda, mereka masak. Citra mencari ranting dan batu. Rio menangkap ikan dengan kayu. Setelah semua ditata rapi, Rio mengambil korek dan mulai membakar ranting. Ikan yang sisiknya sudah dibersihkan, ditusuk dengan kayu dan ditancapkan di pinggir api hingga matang. Sambil menunggu, Citra dan Rio mengobrol.
            “Yo, maaf ya selama ini aku selalu bentak-bentak kamu?” Kata Citra
            “Iya. Tapi aku nggak nyangka loh, kamu yang di sekolah judes abiz dan jaim, ternyata seasyik ini.”
            “Iya lah… Jangan pernah nilai orang dari sisi luarnya aja.”
            “Iya Bu guru! Jadi, sekarang kita damai ni?”
            “Iya. Damai!”
Mereka bersalaman. Senyum tampak jelas banget di wajah Citra. Apalagi ketulusan di wajah Rio. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup Citra maupun Rio.
            “Eh, ikannya udah mateng. Makan yuk!” Ajak Citra.
            “Oke, lomba, siapa yang paling cepet dia yang menang!”
            “Siapa takut?”
Rio dan Citra makan lahap baaanget. Malam itu mereka ngobrol sepuasnya.
            “Kamu ngantuk?” Tanya Rio.
            “Iya. Kamu yakin tidur di luar?”
            “Iya lah… Met tidur ya!”
            “Ya.”
Citra masuk tenda sedangkan Rio menggelar sleeping bag-nya di depan tenda. Dalam tidurnya mereka berdua mimpi indaaah banget.
            Sementara itu…


           

“Gimana nih? Di sini nggak ada sinyal.” Tanya Ara pada teman-temannya.
            “Aduuuuh… Harusnya tadi aku nggak minta petanya Citra!” Kata Kira.
            “Kalian cari Citra? Kata temen-temennya Rio juga nggak ada.” Kata Nia.
            “Kalo Rio sih udah dari tadi berangkat nggak ada! Tapi Citra?!” Kira tampaknya sangat khawatir dan merasa bersalah.
            “Sudah, anak-anak tenang dulu. Sekarang lebih baik kalian tidur. Menurut bapak, Citra pasti sedang bersama Rio. Dan kalau benar begitu, Citra pasti aman. Ini sudah malam, besok kita cari lagi sampai ketemu!” Ucap Pak Gun menenangkan. Anak-anak menurut, walaupun mereka masih cemas dan nggak bisa tenang.
 ‘Ini semua salahku. Cit, sorry ya!’ Batin Kira sebelum tidur.


Cuit…Cuit…Cuit…Burung berkicau (Aneh ya?) hari sudah pagi. Sementara yang lain masih tidur, Rio dan Citra sudah bangun dan membuat sesuatu. Apa ya?
            “Yo, kamu bikin apaan sih?” Tanya Citra yang baru keluar dari tenda.
            “Ini petasan. Aku dulu diajarin waktu masih di desa.” Jawab Rio.
            “Di desa? Ortu kamu kan pengusaha tajir. Bukannya kamu tinggal di Bali?” Tamya Citra lagi, Rio tersenyum.
            “Kamu bisa jaga rahasia kan?” Tanya Rio. Citra mengangguk.
            “Ayahku yang sekarang bukan ayah kandungku. Dulu, aku, ibu, dan ayah kandungku tinggal di Jogja, di desa. Kami keluarga yang bahagiaaa… banget. Aku suka banget main sama tetangga-tetanggaku. Ayahku kuli tambang, dia kerja di Gunung Merapi. Pulangnya seminggu sekali. Suatu hari, Pak Kades bilang ayahku meninggal kena longsor. Ibuku nangis seharian. Akhirnya, kami mutusin pindah ke kota buat cari kerja. Saat itulah ibuku ketemu ayahku yang sekarang, dia bos ibuku. Nah, karena itu aku jadi sepupuan sama Kira. Kami tinggal deket rumahnya Kira, terus ayahku buka cabang perusahaan di Bali, kami pindah ke Bali deh…” Cerita Rio panjang kali lebar sama dengan luas.
            “Oh… Terus, petasannya buat apa?” Tanya Citra.
            “Kamu tuh pinter tapi oon ya? Kalo ini kita luncurin, bisa buat tanda. Mereka pasti lagi cari kita. Setahu aku, hutan ini tuh nggak ada penghuninya, jadi kalo kita nyalain ini, pasti mereka langsung tau kalo yang nyalain kita.” Jalas Rio. Citra mengangguk tanda mengerti sekaligus kagum.
Citra mulai sibuk membantu Rio. Mereka kelihatan udah bertemen laaaama banget. Nggak akan ada yang ngira kalau sebelumnya mereka rival.
            “Udah jadi. Ayo nyalain!” Ajak Rio.

            “Rio!!!! Citra!!!!!!!!” Teriak anak-anak dan para guru mencari Citra dan Rio.
Dug…Dug…Dug…Duer!Duer!!Jezzz… (Suara petasan yang dinyalakan Rio)
            “Eh, ada petasan!” Teriak Nia.
            “Emang di sini ada petasan ya? Setau aku, hutan ini tuh kosong, nggak ada penghuninya.” Kata Ara.
            “Atau jangan-jangan itu Rio dan Citra?” Tanya Kira.
            “Tapi emangnya mereka punya n bawa petasan?” Tanya Ara.
            “Ya, enggak tau juga. Tapi, dulu Rio pernah bikinin aku petasan waktu tahun baru. Waktu itu aku pingin banget nyalain kembang api, tapi ortuku nggak mau beliin, terus Rio bikinin aku petasan deh…Terus…” Jawab Kira sambil membayangkan saat itu.
            “Udah deh, nggak usah pake curhat segala! Sekarang kita cari sumber petasan itu.” Kata Ara menengahi.
            Anak-anak CTG memberitahu hal itu ke Pak Gun, mereka lalu mencari sumber petasan yang sudah berkali-kali berbunyi itu. (Rio kan bikinnya banyak)
            “Yo, kamu yakin ini berhasil?” Tanya Citra.
            “Ya… 99% deh.” Jawab Rio.
            “Terus 1%nya gimana?”
           




“Ya, kita tinggal di sini terus.”
            “Kok gitu sih?”
            “ya maunya gimana?”
Sementara itu, Pak Gun daa. (dan anak-anak) sudah menemukan mereka. Citra dan Rio sedang duduk di batu sambil menunggu.
            “Citra!!!” Teriak seseorang dari belakang. Citra menoleh…
            “Kira!!!” Teriak Citra sambil berlari menghampiri sobatnya itu. Mereka berpelukan. Rio berjalan menghampiri mereka.
            “Rio, bagaimana kamu bisa bersama Citra?” Tanya Pak Gun pada Rio.
            “Saya tertinggal waktu berangkat tadi dan saya bertemu Citra yang tersesat sewaktu mencari jalan.” Jawab Rio.
            “Baguslah. Bapak memang percaya pada kamu, kamu bisa diandalkan dan bertanggung jawab. Bapak bangga pada kamu.”
            “Terima kasih, Pak!” Kata Rio. Pak Gun tersenyum.


            Anak-anak melanjutkan kemah mereka. Masih ada waktu 2 hari lagi. Sekarang Citra dan Rio berteman akrab. Mereka sering sekali mengobrol saat istirahat. Anak-anak CTG yang lain heran mengingat betapa antinya Citra pada cowok apalagi pada Rio. Termasuk Kira yang sekarang marah banget pada Citra karena menganggapnya merebut Rio.
            Hari pulang tiba… Semua pulang membawa kenangan indah. Terlebih Citra dan Rio.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Best Friend IV

Rival sejati…

     “Ma, Citra berangkat dulu ya!” Teriak Citra sambil berjalan menuju mobil.
            Hari ini Citra teramat sangat senang. Hari ini ulangan Fisika, Citra sudah sangat menguasai pelajaran ini dan dia yakin dia akan mendapat nilai tertinggi.
            Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Citra terus menghafal catatannya. Sudah terbayang di benak Citra bahwa Pak Heru akan memberinya uang. Memang, untuk meningkatkan semangat siswa, Pak Heru sang guru Fisika, jika ada 1 anak yang nilainya tertinggi di kelas saat ulangan, akan diberi uang 10ribu rupiah. Citra, selalu jadi anak tersebut. Jadi, dia sengaja mengurangi uang jajannya hari ini, seperti yanng sering dilakukannya saat ulangan dengan Pak Heru.
           
***

            “Anak-anak, Bapak kemarin sudah mengumumkan akan ada ulangan. Jumlahnya 40 soal pilihan ganda. Nggak boleh ada yang mencontek. Sebelumnya saya cek kalian.” Ucap Pak Heru tegas saat masuk kelas.
            Satu persatu anak-anak diperiksa, kalau-kalau ada yang menyimpan contekan. Mulai dari rambut, belakang hem, kantong, sabuk, kaus kaki, dan tangan diperiksa, ternyata cukup banyak yang berhasil ditemukan. Bukan Citra tentunya.
            Setelah yakin tak ada yang menyimpan contekan, Pak Heru mulai membagikan soal. Lalu, saat beliau sampai di meja Citra…
            “Citra, bapak harap kamu bisa hebat seperti biasanya.” Kata Pak Heru sambil mengacungkan jempol ke Citra.
            “Beres, Pak!” Jawab Citra diiringingi senyum Pak Heru.
            “Semua sudah dapat?”
            “Sudah, Pak!”
            “Bagus, sekarang kalian boleh mulai mengerjakan.”
            Banyak yang garuk-garuk kepala, tertunduk karena lupa, melihat langit-langit untuk mengingat, tapi nggak buat Citra. Dia mengerjakan dengan lancar-lancar saja… Tapi ada satu soal yang Citra ragukan.
            “Hmm… Antara A dan D” Gumam Citra.
            “Oke, D!” Gumamnya lagi.
Citra selesai pertama, sepertinya… Tapi, setelah Citra menengok kiri kanan ternyata ada juga yang sudah selesai. Rio!!!
            Rio santai…Santai banget. Kayak nggak ada beban. Tapi Citra masih ragu atas 1 jawabannya. Rio menatap Citra. Citra yang dari tadi memperhatikan Rio kaget. Rio tersenyum. Manisss banget, dan untuk pertama kalinya Citra ngrasa deg-degan sama cowok…
            Pak Heru sangat cermat. Setelah selesai istirahat, hasil ulangan sudah bisa dibagikan. Tapi ada yang ganjil hari ini.
            “Anak-anak, rupanya murid baru kita kali ini bisa mengalahkan murid unggulan kita.”
Kata Pak Heru sebelum membagikan. DEG! Citra kaget. Dia sudah bisa mengira, Rio! Citra menoleh ke arah Rio. Rupanya Rio sudah dari tadi memperhatikannya. Riio tersenyum sambil melambai ringan ke arah Citra. Manisss banget.
            “Ya, Rio silahkan maju ke depan!” Kata Pak Heru. Rio maju dengan bangga. Sementara Citra, menyimpan iri yanga amat sangat. Baru kali ini ada yang bisa mengungguli dia.
            “Anak-anak, selisih nilai Rio dan Citra, sangat tipis. Citra salah 1, dan Rio betul semua.” Semuanya bertepuk tangan untuk Rio. ‘Harusnya tepuk tangan itu buat aku!’ Batin Citra sambil menatap Rio yang terlihat polos itu penuh dendam.
            “Ini, Rio hak kamu.” Kata Pak Heru sambil memberikan uang pada Rio. Rio menerimanya lalu kembali ke tempat duduk.
            “Setelah ini pelajaran Olah Raga. Silahkan kalian berganti pakaian.” Ucap Pak Heru sembari keluar dari kelas sehabis membagikan hasil ulangan.
            Anak-anak cewek pada berhamburan ke kamar mandi. Yang cowok ganti di kelas. Hati Citra udah mulai lega, soalnya hari ini tanding basket. Citra suuuka banget sama yang namanya basket. Plis deh! Citra gitu loh! Apa sih pelajaran yang gak dia bisa?
           
 ***


Setelah berganti baju, anak-anak baris di lapangan lalu melakukan pemanasan yang dipimpin Citra. Cewek-cewek centil sebangsa Nia pada kipas-kipas pakai tangan. Siang itu emang matahari lagi ganas-ganasnya. Pemanasan di lapangan udah kayak dijemur. Paaanaaaas banget. Citra aja udah kringetan. Cuma satu yang dari tadi santai-santai aja, Rio! Siapa lagi?
            Setelah pemanasan, Pak Doni-guru olah raga- memerintahkan anak-anak duduk di kanopi. Yang cewek di sebelah kiri, n yang cowok di sebelah kanan.
            “Minggu lalu bapak sudah mengatakan hari ini penilaian basket.” Kata Pak Doni.
            “Ya pak!!!” Jawab anak-anak serempak.
            “Citra, bapak mau kamu bertanding satu lawan satu dengan Rio. Karena bapak lihat dari nilai olah raga di sekolahnya, dia termasuk pandai. Dia menarik perhatian bapak, dan kamu sebagai murid unggulan bapak, bapak harap kamu dapat mengunggulinnya. Kamu siap?”
            “Baik, Pak!” Jawab Citra.
Citra maju ke lapangan, begitu juga Rio. Anak-anak cewek udah mulai teriak-teriak “GO RIO GO RIO GO!!!!” dengan histeris untuk menyemangati Rio. Yang cowok-cowok gak mau kalah. Mereka neriakin yel-yel mereka dengan semangat “CITRANYA SATU TAPI FANSNYA BANYAK…. CITRANYA SATU TAPI FANSNYA BANYAK!!!”. Emang gila tuh cowok-cowok. Hampir semua dari mereka parnah ditolak Citra. Bukannya sakit hati, eh… malah bikin P3C ato PCCC (Persatuan Calon Cowok Citra) Bahkan persatuan itu udah kayak koprasi, ada simpanan pokok-lah, simpanan wajib-lah, n simpanan suka rela. Uangnya? Buat nraktir anak-anak CTG yang diketuai Citra. Miring kan?!
            Pertandingan itu berjalan seru. Udah laaaaaaama banget di antara Rio dan Citra belum ada yang mencetak angka. Para suporter udah mulai lemes. Pemainnya udah pada kringetan. Tapi akhirnya…Prrrriiiiiit!!! Suara peluit Pak Doni berbunyi. Rio memasukan bola. Cewek-cewek mulai teriak-teriak lagi. Citra terjatuh lemas. Sedangkan Rio tersenyum bangga. Sekali lagi, Rio mengungguli Citra.

***

            Itu tadi dalam pelajaran Fisika dan olah raga. Sehabis istirahatt setelah olah raga, ada pelajaran musik. Pelajaran ini saaangat amat sekali disukain sama Citra. Citra tu jenius musik. Berbagai macam alat musik bisa dia kuasai. Mulai dari pianika, suling, gitar, keyboard, piano, drum, sampai biola, Cita pantes banget diacungin jempol. Dan, hari ini penilaian. Semua anak bebas memilih alat musik apa yang akan mereka mainkan. Seperti biasa, Citra memainkan piano. Permainan piano Citra sangat memukau.
            Citra mulai menggerakkan jarinya. Tuts-tuts piano ditekannya dengan lincah. Lagu ceria yang dimainkannya membuat anak-anak nggak sadar mulai menari. Melihat itu, semangat Citra bertambah. Ia memainkannya lebih bagus lagi. Citra mendapat tepuk tangan yang sangat meriah saat selesai. Gurunya langsung memberi nilai A pada daftar nilai Citra.
            Kini giliran Rio. Rio juga memainkan piano. Lagunya lagu sedih. Suara piano Rio mengalun lembut sangat indah. Semua terhanyut dalam lagu itu. Lagu itu seolah memiliki kekuatan membuat yang mendengarnya mengingat kenangan bersejarah mereka. Sesaat setelah lagu itu selesai, suasana sunyi. Tapi setelah itu terdengar suara tepuk tangan yang saaaaangat meriah. Bahkan dari luar pun terdengar riuhnya tepuk tangan. Rupanya, orang yang lewat memutuskan berhenti menikmati lagu yang dimainkan Rio. Pak Boby, guru musik, langsung tanpa pikir panjang menulis nilai A+ dalam daftar nilai Rio. Sekali lagi, Rio tersenyum bangga sedangkan Citra menatap Rio penuh dendam.

***

Kriiiiiiiiiing!!!!!......Suara bel istirahat. Anak-anak CTG langsung berkumpul di kantin.
            “Gimana? Rio persis sama yang kuceritain kan?” Tanya Kira.
            “Yups! Betul banget! Rio tu keren abis ya? Jago basket lagi. Nia mau tu kalo bikin album sama Rio. Rio main piano, Nia yang nyanyi! Pasti laku deh…” Jawab Nia sambil mengkhayal.
            “Yee… Perbaikin dulu tuh suara! Suara fals gitu mau nyanyi sama Rio!” Kata Kira mengomentari.
         “Eh, tapi…tapi, bener loh, si Rio itu emang perfect banget. Rendy lewat deh!” Kata Ara menyambung.
            “Kamu kenapa sih, Cit? Kok dari tadi nglamun terus?” Tanya Kira melihat Citra yang dari tadi diam sambil cemberut.
            “Heh… Mata kalian tuh katarak ya? Cowok kaya Rio dibangga-banggain. Dia tuh cowok ter-sok yang pernah aku kenal tau gak?!” Jawab Citra emosi.
            “Halah… bilang aja kamu sirik kan sama Rio? Dari tadi dia bisa ngalahin kamu. Ternyata seorang Citra bisa kalah juga, berarti Rio tu hebat donk!” Kata Kira membela saudarannya.
            “Udah…udah! Ngapain sih bertengkar Cuma karna hal sepele kayak gini?” Ara menengahi.
            “Mungkin buat kamu ini hal sepele! Tapi buat aku ini pencemaran nama baik! Harusnya semua tepuk tangan hari ini tuh buat aku! Semua gara-gara RIO!!!” Bentak Citra sambil pergi dari kantin sambil meninggalkan Nia yang merengut, Ara yang melongo, dan Kira yang menggelembugkan pipi.

***

            Citra pergi ke halaman belakang. Dia merenung. ‘Sebenernya ini bukan salah Rio. Cuma akunya aja yang ngiri. Tapi kan tetep aja! Nyebelin!’ Batin Citra.
            “Dorrrr!!” Triak seseorang dari belakang Citra. Citra yang sedang melamun sangat kaget. Dia menoleh, RIO!
            “Ngapain kamu ke sini?” Tanya Citra kasar.
            “Boleh aja dong! Ini kan tempat umum. Kamu yang ngapain nglamun di tempat kayak gini. Ntar kesambet loh!” Jawab Rio.
            “Bukan urusanmu!” Kata Citra sambil beranjak pergi. Tapi Rio menarik lengan Citra.
            “Apa sih salahku? Dari tadi kamu nglihatin aku penuh dendam banget. Aku tuh pingin punya banyak temen n gak punya musuh.”
            “Kamu dah punya banyak temen, kok! Bahkan banyak fans! Layanin tuh fans-fans kamu!”
            “Tapi, Cit! Citra!” Citra pergi, langkahnya lemas tapi pasti.
‘Sorry, Yo! Aku nggak bisa jadi temenmu, mendingan kita jadi musuh! Musuh sejati yang gak akan pernah damai buat selamanya!’ Batin Citra.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Best Friend III

Datangnya Rio…

            Saat istirahat, seperti biasa CTG berkumpul di kantin. Dan Kira menceritakan apa yang dikatakan mamanya kemarin.
            Rio? Rio itu siapa?” Tanya Ara.
            “Rio itu saudara sepupu aku dari Bali. Kata Mama, dia bakal pindah ke sini n sekolah di sini juga. Kalian pasti suka deh ma dia! Dia tu asyik, humoris, lucu, jago gitar, jago basket, pinter lagi!”
            “Emang dia seumuran sama kita?”
            “Tua beberapa hari aja sih sama aku. Kan kita sama-sama bulan April.”
            “Oh.. Bagus deh!” Kata Ara tanpa memalingkan wajah dari novelnya.
            “Dia mulai pindah ke sini kapan?” Tanya Citra.
            “Katanya dia nyampe sini hari ini. Mungkin, lusa dia pindah ke sekolah ini.”
            “Wah, asyik donk!” Kata Nia.
Hari ini Kira terasa  melayang di udara pake baling-baling bambunya Doraemon. Seneng banget Rio dateng. Dia gak sabar nunggu Rio dateng. Teringat masa kecilnya, dia sering banget main sama Rio. Pernah saat mereka kekunci di gudang waktu di rumah nenek…
            “Yo, gimana nih? Aku takut.” Kata Kira kecil.
            “Udah, kamu tenang aja. Selama masih ada aku. Semua pasti bakal terkendali.”
            “Tapi gimana kita bisa keluar dari sini?”
            “Bentar, aku mikir dulu.” Kira rasanya aman kalau deket sama Rio.
            “Eh, itu ada jendela!” Kata Rio melihat jendela yang terbuka.
            “Tapi kan itu tinggi banget!” Kata Kira.
            “Kamu naik aja ke pundak aku.”
            “Nanti kamu keluarnya gimana?”
            “Ntar, habis kamu keluar panggilin mama sama papa aku buat bukain gudang.”
            “Bener, kamu nggak takut aku tinggal sendirian?”
            “Enggaklah! Aku kan cowok!”
Kira tersenyum mengingat masa itu. Betapa pemberaninya Rio padahal masih kecil. Rio kayak kakak buat Kira, yang selalu nglindungin dan menjaga Kira. Mereka sudah nggak bertemu selama 5 tahun. Tepatnya sejak Rio pindah ke Bali. ‘Kira-kira kayak gimana ya Rio sekarang?’ batin Kira.

***

            Hari sudah sore. Kata mama, Rio datangnya malam. Kira bosan sekali menungggu. Sedikit-sedikit dia melirik jam dinding. Dan, dia melihat sebuah buku resep! Kira segera beranjak dari tempat tidur. Terlintas di pikirannya, ‘Rio pasti seneng kalo aku masakin’ Maka dia mengambil buku resep itu dan menuju dapur.
            Dibukannya satu persatu halaman buku resep itu. Lalu muncul sebuah menu yang terlihat menggiurkan : Makaroni Goreng Telur. Kira baru ingat, Rio suka makaroni. Maka ia memutuskan untuk memasak menu itu.
            Kira mulai sibuk menyiapkan bahan-bahan : 
·         Makaroni bentuk kerang
·         Telur dua butir
·         Indofood bumbu Soto Ayam
Dan, sore itu adalah sore ter-menyenangkan dalam hidup Kira. Kira memasak dengan riang gembira sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Pembantu Kira sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Asal tahu saja, tahunya udah dipetis tinggal tempe. Bukan,.. asal tau aja, kalo Kira udah seneng, walaupun ada hujan badai, tanah longsor, angin topan, bahkan Tsunami sekalipun, Kira nggak akan pernah bisa berhenti nyanyi-nyanyi gak jelas.
            “Auw!!” Teriak Kira karena tangannya kena percikan minyak.
            “Huhh.. mungkin emang bener kata orang. Masak itu butuh perjuangan. Apalagi kalau masaknya dengan CINTA…. He…he…he…” Kata Kira
N, Tadam!! Jadilah masakan Kira… Kira mengambil 1 potong dan,
           “Yummy,…enak! Wah, harus daftar sekolah koki ni!” Kira puas dengan rasa masakannya. Dia mulai mengatur meja makan. Juga mengatur kamar yang akan ditempati Rio jadi sekeren-kerennya.
            Kira menunggu dengan sabar di teras depan saat sebuah mobil memasuki gerbang rumahnya. Itu mobil mama! Pintu mobil di buka, keluarlah cowok gagah, ganteng, dan keren banget! Kira terasa mau pingsan ngelihatnya. Dia bahkan lebih cakep dari Rendy.
            Rio!” Teriak Kira sambil berlari menghampiri Rio yang baru keluar dari mobil.
            “Kamu Kira?” Tanya Rio melihat cewek cantik di depannya. Kira mengangguk. Rio tersenyum.Manisss banget.
-sedikit tentang Kira- : cewek cantik, rambut panjang sepunggung dengan poni yang lucu dan imut-imut. Matanya jernih, kayak masih anak-anak, bulu matanya lentik.
            “Ayo tante tunjukin kamar kamu!” Kata mama Kira sambil membawa tas Rio.
            “Ng…nggak usah, Ma! Biar Kira aja yang nganterin.” Kata Kira sambil merebut tas Rio yang dibawa mama. Rio tertawa kecil. Manisss banget.
            “Ayo, Rio!” Ajak Kira. Rio berjalan masuk mengikuti Kira.

***

            “Jadi ortu kamu ke luar negri?” Tanya Kira saat sedang santai ngobrol di ruang tamu dengan Rio.
            “Iya, makannya untuk beberapa bulan aku bakal tinggal di sini.” Jawab Rio.
            “Cuma beberapa bulan?” Tanya Kira yang terlihat kaget dan kecewa.
            “Lha, iya. Emang mau berapa abad?” Rio bertanya balik.
            “Ng… maksud aku, ng… gak papa deh lupain aja!” Jawab Kira malu. Rio tertawa kecil. ‘Aduh…ganteng banget!’ batin Kira, dia udah gak tahan lihat Rio.
            “Ng…ehm…aku ke kamar dulu ya!” Pamit Kira lalu berlari ke kamar.
Sampai di kamar Kira meloncat-loncat di tempat tidur.
            Rio…Padahal Cuma 5 tahun, tapi kamu kok berubah banget sih? Rasanya tiap aku deket sama kamu, aku jadi deg-degan.” Gumam Kira lirih. Dia nggak bisa membayangkan selama beberapa bulan bakal tinggal serumah dengan Rio. Padahal… Di lain pihak. Rio-nya sendiri santai. Maklum, Rio tu cowok yang cool.
            “Aduh..!” Kira menepuk keningnya. Dia ingat, dia belum nawarin makaroni goreng telur masakannya. Dia berlari ke ruang makan.
            “Fyuh…untung, masih anget.” Kata Kira lega sambil meniup poninya. Dia berjalan gugup ke ruang tamu. Rio sedang membaca buku.
            “Mm… Rio, ini masakan aku loh! Cobain deh.” Kata Kira.
            “Makasih ya.!” Kata Rio sambil tersenyum. Manisss banget. Kira seneng, Rio mau makan masakannya. Karena emang, itu dia masak buat Rio. Ohh…Rio!
            “Enak! Enak banget! Boleh minta lagi?” Tanya Rio.
            “Oh…ya? Tentu aja, ini aku masak buat kamu semua kok. Silahkan…”
            “Wah,.. Sebanyak ini aku mana habis. Mau nggak makan sama-sama?”
            “Mau banget!!”
Dan, mereka pun makan sambil ngobrol seru. ‘Ternyata, sifat kamu gak berubah.’ Batin Kira.

***

            Hari ini Rio mulai masuk sekolah. Kira seneng-seneeeng banget. Hatinya udah gak berbunga-bunga lagi, tapi berpohon-pohon. Sekalian tuh, kalo satu pohon kan ada bunganya, ada daunnya, ada tangkainya, juga ada buahnya, pokoknya lengkap deh.
            “Anak-anak, hari ini kalian kedatangan murid baru dari Bali.” Ucap Pak Gun pagi ini.
Rio masuk dengan keren abiss. Semua cewek kaku nglihat dia. Kira tersenyum bangga mengingat Rio adalah sepupunya.
            “Ja…jadi itu sepupu kamu, Ra? Ya ampyun… keren banget!” Kata Nia sambil menepuk-nepuk bahu Kira tanpa mengalihkan pandangan dari Rio.
           ‘Pelajaran hari ini asyik banget’, mungkin itu yang terpikir di benak setiap anak cewek di kelas. Mereka bahkan nggak merhatiin pelajarannya Pak Gun, tapi malah sibuk berfantasi dengan khayalan mereka bersama Rio. Termasuk juga anak CTG. Tapi nggak buat Citra! Citra emang pantang sama yang namanya cowok. Udah banyaaaak banget cowok yang ditolak sama dia. Plis deh, Citra gitu loh! Dia lebih mentingin ilmu daripada cowok.
            ‘TEEEEET TEEEET…..TEEEET…..’
Suara bel istirahat berbunyi, anak-anak mulai berhamburan keluar. Tapi melihat Rio di kelas membaca buku, anak-anak cewek pada di kelas. Ada yang minta fotolah, tanda tanganlah, bahkan nomor HP. Kira menggelembungkan pipinya tanda jengkel. Ditariknya Rio dari kerumunan cewek-cewek yang udah kayak lautan itu.
            Rio…Aku kenalin, ini sobat-sobat aku!” Kata Kira memperkenalkan CTG setelah mendapat tempat persembunyian yang aman dari kejaran cewek-cewek rese yang ngejar Rio.
            “Yang imut ini Nia.”
            “Nia,” “Rio,” Tubuh Nia langsung kaku nglihat senyum Rio. Dia terus nglihatin tangannya yang habis jabat tangan sama Rio. ‘Ni tangan gak akan pernah kucuci.’ Batin Nia.
            “Yang manis ini, Ara.” Ara tersenyum
            “Manis? Dirubung semut dong?” Kata Rio mencairkan suasana. Semuanya tertawa.
            “Loh? Citra mana?” Tanya Kira.
            “Hai teman-teman! Di kantin ada menu baru loh! Tempura. Ni aku beliin!” Kata Citra yang tiba-tiba muncul.
            “Dan yang ini Citra.” Kata Kira.
            “Hai Cit!”
            “Hai juga!”
Citra menatap mata Rio dalem-dalem. Daaaleeem banget. Dan, dia rasa ada sesuatu di dalam diri Rio.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS