I Hate You Because I Love You

Copas cerita ICIL. Pinjem ya penulis... ^^

*****

Siang yang panas.itulah pendapat Ify mengenai hari itu. Ia baru saja menyelesaikan beberapa praktikum dan kini ia sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman sekolahnya.

“Hufft..akhirnya” ucap Ify ketika sudah berada di dalam mobil. Diputarnya kunci mobilnya 1kali, 2 kali, 3 kali, sampai berkali-kali, tapi mobilnya tidak menuruti kehendak Ify agar segera menyala.

“Aaaah..kenapa mesti mogok sih?” teriaknya kesal. Ia segera keluar dari mobil dan menendang bannya untuk sekedar melampiaskan kekesalannya.

“Kenapa lo? Mobil lo mogok ya?” ucap seseorang. Ify menoleh. DEG! Alvin! Tiba2 saja wajahnya mendadak panas. Ia segera memalingkan wajahnya dan berkata ketus,”bukan urusan lo!”

Alvin terlihat mengerutkan keningnya, tasnya ia sampirkan di bahu, dan segera berjalan menuju Ify. “Boleh gue liat?”. Ify hanya melihat sekilas pada Alvin dan membuang pandangannya kembali. Wajah Alvin terlihat
pucat menurut Ify.

Alvin langsung membuka kap mobil Ify dan memeriksa mesinnya tanpa meminta persetujuan dari Ify. “Emang lo ngerti?” ucap Ify jutek. Alvin mengangkat wajahnya dan berkata,”Lo lupa kalo gue kerja di bengkel sebelah? Gue
udah biasa nanganin mesin mobil”.

Ify tidak lupa, tau banget malah. Alvin yang setiap pulang sekolah kerja dulu di bengkel sebelah, Alvin yang pernah menjadi kapten tim futsal sekolah mereka, Alvin yang simpel tapi cool, Alvin yang cuek tapi ramah.
Ya, ia tau semua itu. Dan satu lagi, Alvin yang sudah berhasil masuk ke pikiran
Ify belakangan ini, orang yang diam2 dikagumi oleh Ify.

“Mesin mobil lo rusak. Ada beberapa kabelnya yang putus” ucap Alvin yang membuyarkan lamunan Ify. “Oh” ucap Ify singkat.

Alvin melihat Ify sejenak. “Mobil lo tinggal disini aja dulu. Biar gue bawa ke bengkel sebelah” kata Alvin. “Trus, lo pulang naik apa?”

“Gue pulang naik taksi aja” ujar Ify seolah-olah tidak peduli. Ia segera menelepon taksi. Selama beberapa menit, mereka hanya diam. Alvin pura2 menyibukkan dirinya dengan mesin mobil Ify, tapi tak jarang ia
malihat ke arah Ify. Begitu taksi datang, Ify segera masuk ke taksi tanpa
berkata apa2 pada Alvin. Alvin hanya bisa menatap kepergian Ify dan menghela
napas panjang. ‘Dia kok jutek banget ya sama gue?’.

***

Didalam taksi, Ify terus memikirkan sikapnya pada Alvin tadi. Ia menyesalinya.’Kenapa gue harus kayak gitu siih?’ batinnya kesal.

Itulah Ify. Setiap berhadapan dengan Alvin, ia selalu memasang tampang jutek dan berbicara dengan nada ketus. Tapi kalo gak liat Alvin sehari aja, pasti dicariin. Tapi giliran ketemu, balik jutek lagi deh.

Ify merasa benci dengan Alvin, benci kenapa ia slalu sekelas sama Alvin, benci kenapa harus Alvin yang ia suka, kenapa harus Alvin?

‘Aaaaaah…kenapa sih gue harus sekelas mulu sama Alvin?’ batinnya sambi mengacak-acak rambutnya frustasi.

***

Alvin berjalan lesu menuju kamarnya. Ia hari ini tidak kerja di bengkel. Ia hanya menitipkan mobil Ify segera izin pulang karena tidak enak badan. Ray yang melihat kakaknya lesu begitu, segera menyusulnya di kamar.

“Kenapa lo kak? Lesu banget” ujar Ray sambil duduk di sisi tempat tidur Alvin. Alvin tetap memejamkan matanya sambil berkata,”gak papa. Cuma capek dikit aja udah maen futsal”.

Ray langsung menaruh telapak tangannya di kening Alvin. Panas.

“Lo demam deh kayaknya. Gue panggilin mama ya!” Alvin hanya mengangguk. Kepalnya terasa berat. Tak berapa lama kemudian, ia tertidur.

***

Ify celingak-celinguk ke sekeliling kelas. Tapi yang dicariin gak ktemu2.

“Hayoo..nyariin Alvin kan?” seru Gabriel, sahabat Ify. Ify kaget dan langsung cengengesan.

“tau aja. Dia kemana?” kata Ify. Gabriel memang sahabat Ify yang paling dekat dengannya. Hanyasama Gabriel lah ia bisa mengeluarkan semua isi hatinya.

“Dia sakit. Kayaknya kecapean udah maen futsal kemaren. Kemarin aja dia udah pucat banget”.

“Owh..” itu saja kata yang keluar dari mulut Ify. Selebihnya pikirannya yang bergerak. Ia terus memikirkan Alvin yang sedang sakit sekarang. Tapi ia juga tidak berani menjenguknya.
Secara, gengsi gitu!!

***

Kini anak2 kelas XII hanya sibuk melengkapi nilai mereka masing2. Ada yang lagi berurusan sama guru soal nilai, ada yang nyantai aja di kelas karena nilainya udah beres, ada juga yang ujian praktikum kayak kelasnya
Alvin dan Ify sekarang. Kali ini kelas mereka sedang praktikum olahraga, lari.
Salah satu dari sekian banyak jenis olahraga yang dibenci Ify.

“Vin, lo gimana sama Ify?” tanya Iyel sesudah giliran anak laki2 yang lari. Kini giliran anak2 perempuan.

:”Gimana gimana maksud lo?” tanya Alvin balik.

“Maksud gue, lo kapan mau bilang ke Ify tentang perasaan lo ke dia?” kata Iyel. Gemas juga dia ngeeliat Ify sama Alvin. Sama2 suka, tapi pada gengsi.

Alvin tersenyum kecil mendengar penuturan Iyel. “Gue gak tau Yel. Dia jutek banget kalo sama gue. Benci banget dia kayaknya” kata Alvin pelan.

Tiba2 terdengar suara orang yang menjerit. Alvin dan Gabriel langsung menoleh ke arah sumber suara. Disana terlihat Ify yang tengah terduduk memegangi lututnya yang berdarah. Alvin dan Iyel segera melangkahkan kakinya
untuk menolong Ify. Tapi baru beberapa langkah, Alvin menghentikan langkahnya. Dilihatnya
Cakka sudah mendekati Ify dan menolongnya untuk berdiri. Gabriel yang melihat
kejadian itupun ikut berhenti. Ia menoleh ke arah Alvin yang sudah kembali ke
posisinya semula.

“Lo gak cemburu kan?” tanya Gabriel sambil menghampiri Alvin.

“Cemburu? Cemburu kenapa coba? Lagian, Ify tuh emang cocoknya sama Cakka yang ganteng, mantan kapten basket lagi” kata Alvin,”tajir pula” tambahnya dengan senyum pahit.

“Ify tuh bukan cewek matre tau! Kalo emang dia lihat dari fisik dan dompetnya yang tebel, dari dulu juga dia pasti udah nerima Cakka. Tapi dia gak ngasih jawaban ‘iya’ kan ke Cakka?”

“Gue tau. Cakka aja yang udah bisa dibilang perfek gitu masih ditolak sama Ify, apalagi gue. Setidaknya orang yang pantas ngedampingin Ify itu adalah orang yang sederajat sama dia” kata Alvin lirih.

Gabriel tidak tau lagi harus berkata apa. ‘Andainya lo tau Vin’

***

Perpisahan sekolah. Semua siswa kelas XII hadir untuk acara tersebut. Tak terkecuali dengan Alvin dan Ify. Alvin tampak sangat khusyuk memperhatikan Ify yang terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna biru cerah
yang tengah ia kenakan sekarang. Rambutnya ia biarkan terurai begitu saja,
tidak seperti teman2 lainnya yang menghabiskan lebih banyak uang buat ke salon
untuk menyanggul rambut mereka. Itu adalah salah satu hal yang disukai Alvin
dari Ify. Sederhana.

“Vin, lo bilang lo mau ngelanjutin kuliah di Malang kan, sambil kerja di bengkel punya om lo itu?” kata Iel. Alvin Cuma mengangguk.

“Berarti lo bakal lama ninggalin jakarta kan? Lo gak ada niat buat bicara sama Ify?”

Alvin sudah bisa menduga kemana arah pembicaraan Iel. Alvin mengedikka bahunya. “Lo bilang aja Vin ke dia. Seenggaknya, dia tau perasaan lo ke dia kayak gimana. Ntar lo juga kebawa pikiran mulu ke dia. Daripada lo pusing
sendiri sama perasaan lo, mending lo bilang aja ke dia. Itung2, buat ngilangin
sedikit beban pikiran lo lah!” kata Iel semangat.

Alvin merenungi kata2 Iel barusan. Ia tau Iel benar. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya pada Ify. Sekarang atau tudak selamanya.

“Gue mau ngomong sama dia Yel. Lo bisa kan bantuin gue?”

Iel tersenyum lebar dan mengangguk pada Alvin.

***

“Iel apa2an sih nyuruh gue ke sini?” ucap ify kesal.

“Gue yang minta” Ify menoleh. Dilihatnya Alvin sudah berdiri di sampingnya. Ify menarik napas, berusaha mengatur debaran jantungnya.

“Ngapain lo minta Iel buat nyuruh gue ke sini pas temen2 lain pada perpisahan?” kata Ify ketus.

“Gue pengen ngomong sama lo. Boleh?” kata Alvin sambil duduk di bangku taman tempat mereka sekarang berada. Mau tidak mau, Ify mengikuti langkah Alvin dan duduk di sampingnya.

“Gue mau pamit Fy. Gue mau pindah ke Malang”

JEDERRR!! APA??

“Trus, ngapain lo pake acara pamit segala ke gue?”

Alvin menghela nafas. Dia seharusnya sudah bisa menebak kalo Ify akan berkata seperti itu.

“Gak papa. Gue Cuma pengen lo tau aja. Selain itu, gue pengen lo tau perasaan gue ke elo fy” ucap Alvin pelan.

Jantung Ify makin berdetak kencang. Ia menunduk, tidak kuasa memandang Alvin.

“Gue tau fy kalo gue bukan orang yang selama ini lo harap2in buat jadi pendamping lo. Gue sadar gue Cuma seorang montir yang gak mungkin bisa ngedapetin putri kayak elo, mimpiin hal itu pun kayaknya gak pantes deh. Tapi
gue Cuma mau lo tau 1 hal fy. Gue bakal selalu & selalu sayang sma lo. Gak peduli
bagaimana pun juteknya lo ke gue” kata Alvin tersenyum. Ia lalu menarik nafas
dan melanjutkan,”Maafin gue ya fy. Gue udah berani masukin lo ke pikiran gue, maafin
gue yang selalu menatap lo dari jauh, maafin gue karena udah berani nyimpen perasaan
ini ke elo, maafin gue karena udah berani ngagumin lo diem2, maafin gue ya fy,
maaf”.

Ify tidak berkata apa2. Tidak terasa air matanya mengalir turun ia hanya bisa terisak mendengar kata2 Alvin. Alvin yang melihat Ify menangis, langsung gelagapan.

“Eh, lo kenapa fy? Gue salah ngomong ya? Sori, gue gak ada niat nyakitin elo fy. Gue..”

“Lo bodoh tau gak?”ucap Ify sambil menyeka air matanya. Alvin bingung mendengar perkataan Ify barusan.

“udah sejak kapan Vin?”

Alvin menatap Ify sejenak. “Dari kelas X gue udah suka sama lo Fy”.

“Lo emang bodoh. Kenapa baru sekarang bilangnya?” kata Ify menangis kembali.

Alvin tambah panik. “Fy, udah dong. Gue..gue..gue bingung kalo lo nangis”

Ify menghapus air matanya dan bertanya,”Vin, lo mau tau gimana perasaan gue?”

Alvin ingin bilang tidak, tapi dia penasaran juga. Akhirnya ia mengangguk.

“Gue juga sayang sama lo Vin”. Alvin terkejut sekaligus senang dengan perkataan Ify barusan. Ia tersenyum lebar, dan untuk pertama kalinya senyumnya dibalas oleh Ify dengan senyum manisnya.

Kini ia dan Ify akan menjalani hari2 baru mereka sebagai sebuah pasangan.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar