Seremm...

Tadi pagi aku baca majalah GADIS di perpustakaan. Akhir-akhir ini aku lagi suka baca buku di perpus sambil nunggu bel masuk jam 8.05. N yang aku baca biasanya rubrik Misteri-nya majalah GADIS. Ceritanya bagus-bagus lho, kisahnyata semua. Tentang hantu-hantu, rumah berhantu, legendanya, macem-macemlahh... N yang paling aku inget cerita ini :

Ada seorang selir (aku lupa namanya) yang cantik banget tapi sombong akan kecantikannya. Karena makin lama makin jengkel sama kelakuan selirnya, Raja menggores pipi kanan sampai pipi kiri selir itu pakai samurai. Sehingga kulit pipinya robek. (Bisa bayangin gak? Serem yoo...) Terus Raja bilang gini "sekarang apakah ada yang akan mengatakan kau cantik?"
Si selir sedih banget n nutupin lukanya dengan memakai kain di sekitar mulutnya. N 'katanya' sampe sekarang hantu selir itu sering berkeliaran dan bertanya pada setiap orang yang ditemuinya "apakah aku cantik?". Orang yang menjawab "nggak" atau malah ngeri ngeliat wajah si selir bakal langsung dilukain, dibunuh, ato dirasukin sama selir itu. Jadi kalo orang ketemu selir itu dan ditanya begitu, orang itu harus jawab "biasa saja" ato "begitulah", maka selir bakal mikir dulu bakal ngapain, selama tu selir mikir, orang itu jadi punya kesempatan lari.

Ada lagi yang paling aku inget karena menurut aku mengenaskan banget. Di zaman perang saudara, ada yang namanya camp konsentrasi, buatan Hitler. Di situ dibuat 2 ruangan yang muat buat 4.000 orang lebih masing-masing ruangannya. Para tawanan bakal dimasukin dalam ruangan itu. Cuma butuh waktu 20 menit sampe para tawanan itu meninggal karena gas beracun yang disemprotkan dalam ruangan. Mengenaskan banget kan? Katanya di sisa tempat itu sekarang sering kedengeran orang meratap n nangis, menunggu ajalnya.

Yang ini menjijikkan banget. Ada sebuah keluarga kaya yang nyewa tukang buat merenovasi rumahnya. Tukang itu (aku lupa namanya) kepingin memiliki harta keluarga itu. Apalagi di daerah asalnya, si Tukang termasuk orang berada, maka dia sakit hati diperlakukan sebagai budak. Suatu malam, seluruh keluarga itu dibantai sama si Tukang, sampai meninggal. Mayatnya disembunyikan di loteng. Awalnya nggak ada yang tau. Baru ketahuan waktu rumah keluarga itu kebakaran, kelihatan mayat-mayat keluarga yang dulu tinggal di dalamnya. Warga yang marah menangkap si ukang dan menghukum gantungnya. Belom cukup, setelah meninggal, mayat Tukang itu dikuliti! Parahnya lagi, kulitnya dijual ke warga untuk dibuat dompet, tas, dll. Ihh... Aku nggak bisa bayangin!

Oh ya, yang ini dari guru aku. Dulu waktu perang apa gituu... (aku lupa) ada camp konsentrasi, yang kalo ada tawanan yang memberontak bakal langsung dibunuh. Mayat-mayat tawanan itu diambil lemaknya n lemaknya dijadikan sabun! Ihh...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gadis di Jendela

            “Gilang, tolong pindahkan itu ke kamarmu!”
            “Iya, Bu.”
            Aku segera mengambil dus berisi buku-bukuku ke dalam kamar. Ibu masih sibuk menata peralatan dapur. Sedangkan ayah masih memindahkan barang-barang ke dalam rumah. Hari ini aku pindah rumah. Ketika jabatan ayah naik , kami memutuskan meninggalkan rumah sederhana  kami dan membeli rumah di perumahan elite.
            Setelah kamarku beres, selagi hari masih sore, aku keluar untuk berjalan-jalan. Rumah-rumah maupun lingkungan di sini jauh berbeda dengan di rumahku yang lama. Di sini sepi, tak banyak anak yang keluar rumah. Mungkin karena kebanyakan dari mereka orang kaya, yang lebih memilih bermain komputer daripada lompat tali. Terkadang lewat sekolompok anak dengan sepeda mahal mereka. Jika sore-sore begini, di rumahku yang lama, aku dan teman-temanku juga berkeliling kompleks dengan sepeda. Kangen rasanya. Tapi aku yakin, tak lama lagi aku pun akan ikut bersepeda dengan mereka, walaupun sepedaku tak semahal milik mereka.
            Pandanganku jatuh di rumah besar dengan halaman sempit yang jaraknya tiga rumah dari rumahku. Rumah itu bercat putih bersih, tirai dan pagarnya pun bercat putih, kontras dengan rumah di kanan-kirinya yang berwarna-warni cerah. Dengan jendela tinggi lebar dan pintu besar, rumah itu mirip rumah-rumah jaman Belanda. Halaman sempitnya subur, penuh bunga mawar putih. Tak ada bunga atau pohon apapun di halaman rumah itu selain mawar putih.
            Aku mendekati rumah itu untuk melihat lebih jelas mawar-mawar putih indahnya. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan di balik tirai dari jendela di lantai dua rumah itu. Ketika tirainya disibakkan, seorang gadis seumuranku tampak. Rambutnya panjang, wajahnya cantik, dia memakai gaun hijau muda yang serasi dengan kulit putihnya. Aku tersenyum padanya, dia tetap diam dengan ekspresi datar.
            “Aku boleh memetik salah satu mawar putih ini?”, tanyaku untuk mencairkan suasana, karena aku mulai tertarik dengan gadis itu. Ekspresinya langsung berubah menjadi senang. Dia mengangguk sambil tersenyum manis. Melihat itu, aku menjulurkan tanganku ke sela-sela pagar dan memetik setangkai mawar putih.
            “Gilang!”, teriak sebuah suara.
            Aku menoleh ke arah suara itu, terlihat ayah melambaikan tangannya tanda menyuruhku pulang. Aku kembali memandang gadis itu.
            “Aku dipanggil, aku pulang dulu ya!”, kataku padanya.
            Gadis itu mengangguk sambil tersenyum lesu. Wajahnya menunjukkan rasa kecewa. Aku kembali tersenyum padanya dan langsung berlari pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku meletakkan mawar putih putih yang tadi kupetik di dalam gelas kaca yang kuisi air. Sebelum tidur, kuletakkan di atas meja di sebelah tempat tidurku.
~~~~~
            Aku melihat sekelilingku. Bunga mawar putih terhampar di mana-mana. Kenapa aku bisa ada di kebun mawar putih? Ke mana pun mata memandang, yang ada hanya mawar putih.
            “Gilang,…”, sebuah suara lembut terngiang di telingaku. Aku membalikkan badan mencari sumber suara itu. Gadis itu! Dia duduk di hamparan rumput. Padahal tadi semua penuh mawar putih. Karena penasaran, kudekati dia. Ketika aku duduk di sebelahnya, gadis itu tersenyum memandangku. Dia memberikan setangkai mawar putih padaku sambil tersenyum manis. Kuterima mawar putih itu dengan sedikit bingung dan kubalas senyumnya.
            “Namamu siapa?”, tanyaku. Gadis itu menunduk, diam membisu.
            “Kamu nggak mau beri tahu namamu?”, tanyaku lagi. Gadis itu mengangguk, kemudian menoleh padaku dan tersenyum kecil.
            “Emm,.. Kamu suka banget ya sama bunga mawar putih?”, tanyaku. Gadis itu mengangguk dengan semangat.
            “Kenapa?”, tanyaku lagi. Gadis itu kembali diam dan menunduk.
            “Gilang!”, suara ayah memanggilku. Tiba-tiba langit cerah berubah menjadi mendung. Aku merasa harus pergi dari sini.
            “Langit mendung, bentar lagi pasti hujan. Aku mau pulang biar nggak kehujanan. Kamu mau ikut?”
            Gadis itu menggeleng, masih menunduk.
            “Nanti kamu kehujanan. Yakin nggak mau?”
            Gadis itu menggeleng lagi.
            “Gilang!”, ayah memanggilku lagi.
            “Aku harus pulang.”, aku bangkit berdiri. Gadis itu memandangku dengan memelas. Aku tak tega, tapi aku harus pulang.
            “Ayo ikut.”, kataku sambil mengulurkan tangan. Gadis itu menjauh dariku, dia bangkit berdiri dan berjalan mundur. Tiba-tiba di belakangnya muncul hutan lebat. Gadis itu terus berjalan mundur sambil memandangku, semakin masuk ke dalam hutan, kemudian menghilang di balik rerimbunan pohon.
            Setelah gadis itu menghilang, semuanya berputar. Hujan turun dengan lebat. Bunga-bunga mawar putih mengering, lalu semuanya menghilang ditelan bumi. Aku berlari sekencang yang aku bisa, tapi semua yang tampak tetap sama. Aku sangat takut, aku berteriak minta tolong. Aku lelah dan jatuh tersungkur. Suara ayah memanggilku kembali muncul, ayah memanggilku berkali-kali. Entah kenapa, suaraku tak bisa muncul. Tenggorokanku serasa tercekat. Tiba-tiba semuanya gelap. Gelap… Gelap…
~~~~~
            “Gilang! Gilang! Bangun, Gilang!”
            Aku membuka mata. Kulihat ayah dan ibu duduk di pinggir tempat tidurku.
            “Kamu kenapa?”, tanya ayah.
            “Nggak papa kok, emang aku kenapa?”, tanyaku bingung.
            “Tadi kamu teriak-teriak minta tolong. Terus tiba-tiba kamu berhenti teriak dan kayak orang kecekik. Kamu mimpi buruk ya?”, kata ibu.
            “Iya.”, jawabku.
            Jadi semuanya tadi Cuma mimpi? Baguslah…
            “Ya udah, bangun! Jalan-jalan sana cari temen. Mumpung hari Minggu.”, suruh ibu sambil bangkit dan menyibakkan tirai kamarku. Kemudian ayah dan ibu berjalan keluar kamar.
            Aku duduk terdiam di atas tempat tidurku. Aku masih ingat mimpiku semalam. Semuanya terasa nyata, sama sekali tak seperti mimpi. Lagipula, bagaimana bisa gadis itu muncul dalam mimpiku? Nggak, mimpi cuma bunga tidur. Cuma bayangan visual yang dibuat otak saat kita sedang tidur. Pasti karena kemarin aku baru bertemu gadis itu. Nggak mungkin nggak.
            Aku menoleh ke samping. Mawar putih itu masih di tempatnya. Masih sama seperti semula aku letakkan di situ. Aku tersenyum lega, semuanya normal. Aku bangkit dan bergegas mandi. Aku tidak sabar menemui gadis itu lagi. Aku masih penasaran padanya, kenapa dia hanya mengangguk dan tersenyum, tak pernah bicara.
            Setelah memakai sandal, aku langsung berjalan pergi ke rumah bercat putih yang jaraknya tiga rumah dari rumahku. Rumah gadis itu.  Seolah tahu kedatanganku, begitu aku berdiri di depan pagar rumahnya, gadis itu menyibakkan tirai dan tersenyum manis dari jendelanya. Aku balas tersenyum padanya.
            “Hai..!”, kataku sambil melambai padanya. Senyumnya makin mengembang.
            “Emm,.. Aku boleh tahu nama kamu?”, tanyaku.
            Gadis itu menggeleng. Aku mengernyitkan dahi, kenapa sama seperti dalam mimpiku?
            “Kamu suka banget ya sama bunga mawar putih? Kenapa?”, tanyaku lagi untuk meyakinkan bahwa ini tak sama seperti mimpiku semalam.
            Gadis itu terdiam. Ekpresinya bingung. Apa mungkin, gadis itu bisu? Jadi dia tak bisa menjawab pertanyaanku.
            “Maaf, apa kamu bisu?”, tanyaku.
            Gadis itu menggeleng kencang, kemudian dia tersenyum. Aku mengalihkan pandangan ke indahnya bunga-bunga mawar putih. Kupandangi bunga-bunga itu, sangat memikat hati. Membuatku seolah ditarik ke dunia penuh mawar putih. Seolah menyuruhku melupakan segalanya dan hanya memperhatikan mawar-mawar putih indah itu.
            “Aku nggak bisu kok, Gilang.”, ucap sebuah suara. Aku menoleh ke gadis itu. Dia sedang memandangiku sambil tersenyum penuh arti. Suaranya sama seperti suara dalam mimpiku. Persis sama. Gadis itu membalikan badannya.
            “Masuklah..!”, ucap gadis itu.
            Angin berhembus kencang, membuat pagar rumah gadis itu terbuka lebar. Apa nggak dikunci? Aneh… Tak tahu kenapa, aku akhirnya melangkahkan kaki masuk ke rumah itu. Aku membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Bagian dalam rumah pun serba mawar putih dan serba putih. Gadis ini benar-benar pecinta mawar putih.
            “Gilang..”, kata gadis itu sambil berjalan menuruni tangga.
            “Silahkan duduk..”, ucap gadis itu, aku pun duduk.
            Kami mengobrol. Banyak hal yang kami bicarakan. Dia asyik juga. Senyumnya sangat manis. Aku merasa beruntung kenal dengan gadis seperti dia. Herannya, setiap aku memulai pembicaraan yang berhubungan dengannya, entah namanya, dengan siapa dia tinggal, atau apa pun yang menyangkut dia, dia selalu mengalihkan pembicaraan. Kebanyakan obrolan kami tentang keseharianku. Aku semakin larut dalam dunianya. Serasa tak ingin beranjak dari sini.
            “Gilang, apa kamu mau ikut sama aku?”, tanyanya tiba-tiba.
            “Ikut? Ikut kemana?”, tanyaku bingung.
            “Gilang, aku tertarik sama kamu, apa kamu mau ikut sama aku?”
            “Ikut kemana?”
            “Ikut sama aku, tinggal di sini sama aku. Selamanya.”
            Aku kaget. Baru kusadari, gadis itu mengeluarkan suara tanpa menggerakkan mulutnya. Tiba-tiba aku merasa takut. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini.
            “Maaf, aku nggak mau. Permisi.”, aku berlari keluar dari rumah itu.
            Sesampainya di jalan depan rumah, kupandangi sekelilingku. Hari masih pagi, padahal tadi di dalam terasa lama sekali aku mengobrol dengan gadis itu. Kulihat rumah itu. Aku tersentak. Tak ada rumah, pagar, atau tirai warna putih bersih. Yang ada rumah dengan cat putih yang sudah banyak terkelupas, pagar berkarat, dan tirai lusuh berwarna putih kusam. Halamannya kosong, cuma ditumbuhi rumput liar yang jarang. Pandanganku beralih ke jendela tempat gadis itu biasa berada. Ada sesosok bayangan di balik tirai. Ketika tirainya disibakkan, tampak gadis itu, dia tersenyum manis padaku, kemudian menghilang dalam gelap. Aku sangat takut, aku berlari ke rumahku. Saat masuk ke kamar, aku kembali terkejut, mawar putih yang kuletakkan dalam gelas berisi air, yang kutaruh di atas meja di sebelah tempat tidurku, tak ada. Yang ada hanya gelas berisi air jernih.
~~~~~
            Semilir angin sejuk menerpa wajahku. Hari ini memang sangat cocok untuk bersepeda. Setelah puas berkeliling perumahan ini, aku dan teman-teman memutuskan beristirahat di taman yang tak jauh dari rumahku.
            “Eh, katanya kemarin Si Ari ilang ya?”, ucap seorang temanku.
            “Ilang?”, tanyaku.
            “Halah,.. Paling diajak sama Rose-Rose itu! Ari kan cakep.”, kata temanku yang lain.
            “Hah?! Maksudnya apa?”, tanyaku lagi tambah bingung.
            “Oh iya, kamu kan baru ya di sini, Lang! Jadi gini, kamu lihat rumah putih itu? Itu loh, tiga rumah dari rumahmu. Nah, dari dulu di sini tuh banyak cowok seumuran kita ilang, gara-gara diajak sama Rose, penunggunya rumah itu. Semuanya cakep! Centil juga ya, si Rose itu?! Buat masalah yang ini, aku ngerasa beruntung loh nggak cakep. Nih, si Vanno yang udah pernah diajak.”, cerita salah seorang temanku.
            “Iya, orangnya tuh cantik. Waktu aku pertama lihat, dia tuh senyum sama aku dari jendela di lantai dua. Pertama ke situ, aku lihatnya, rumah itu serba putih, rumahnya, pagernya, tirainya, serba putih lah… Terus halamannya tuh isinya mawar putih. Karena tertarik, aku petik salah satu mawarnya terus aku bawa pulang. Setelah ketemu dia, tiap malem aku mimpi’in dia terus. Sampe suatu hari dia ngajak aku masuk ke rumahnya, terus dia ngajak aku buat tinggal sama dia selamanya. Aku langsung bilang nggak mau terus aku lari dari rumah itu. Katanya sih, kalau imannya nggak kuat, kita bakal mau diajak dan nggak tahu deh, apa jadinya.”, cerita Vanno panjang lebar.
            “Lho emangnya kenapa kok Rose kayak gitu?”, tanyaku masih bingung.
            “Nggak tahu lah! Tapi kalo menurut legendanya di sini sih, ceritanya gini… Dulu, Rose itu anaknya salah satu bangsawan Belanda. Dia seumuran sama kita. Dia tinggal di rumah itu sendirian, soalnya ayah sama ibunya harus tinggal sama Jendral VOC. Nah, dia jatuh cinta sama pemuda Indonesia. Pemuda itu suka banget sama warna putih, sedangkan Rose suka banget sama mawar putih. Mereka sama-sama bikin rumah itu serba putih dan nanam bunga mawar putih di halaman rumahnya. Pemuda itu selain cakep banget, juga baik dan perfect banget, makanya Rose cinta mati sama dia. Akhirnya, Rose milih tinggal di sini terus demi pemuda itu. Waktu Belanda kalah dari Jepang, keluarga Rose harus pulang ke negerinya. Rose nggak mau ikut sama keluarganya. Keluarga Rose nganggep Rose nggak mau ikut gara-gara si pemuda, jadi keluarga Rose membunuh pemuda itu. Setelah tahu, Rose patah hati terus bunuh diri. Sejak itu, tiap ada cowok cakep lewat, sering digodain sama Rose pakai senyumnya yang katanya maniiis banget. Terus, kalau cowok itu metik mawar putih milik Rose, bakal dikejar-kejar terus sama Rose. Kalau Rose tertarik, dia bakal diajak pergi sama Rose, nggak tahu kemana. Kalau cowok itu nolak, Rose bakal ngelepasin dia. Tapi kebanyakan sih mau,…”
            “Terus kalo udah diajak nggak bakalan balik?”
            “Kadang ada yang balik, biasanya sekitar sebulanan. Tapi pas balik, dia jadi nggak waras, alias gila. Dia bakal jadi fanatik banget sama mawar putih dan tiap malem mimpi ketemu Rose. Katanya sih, Rose ngebalikin karena udah bosen. Tapi bukan berarti Rose bosennya sebulanan, soalnya waktu Rose beda sama waktu kita. Misalnya, seharian sama Rose bisa jadi cuma beberapa menit di sini.”, ucap Vanno. Aku percaya, karena aku sudah pernah mengalaminya.
            “Terus yang balik nasibnya gimana?”, tanyaku.
            “Masuk RSJ lahh.. Gimana lagi? Eh Lang, kamu ati-ati loh! Kamu kan cakep.”
            Aku hanya tersenyum. Aku memang merahasiakan pengalamanku dengan Rose, buat apa diceritakan? Aku menganggap itu cuma mimpi buruk sekaligus mimpi indah. Karena Rose memang cantik banget, dan sebenarnya aku hampir mau ikut dengannya…
           

           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hanya Angan yang Tersisa

            Hidup…. Kadang aku  berpikir, hidup itu seperti secangkir teh. Akan menjadi manis jika diberi gula. Dan akan terasa hambar bila dibiarkan begitu saja. Seperti halnya hidup. Akan terasa lebih manis jika diisi kenangan-kenangan indah. Tapi akan jadi kosong jika dibiarkan mengalir begitu saja. Aku setuju iklan-iklan di TV, hidup itu cuma sebentar.
Kadang aku heran, kenapa banyak orang yang tidak menghargai hidupnya sendiri. Padahal, banyak orang yang rela menderita dan melakukan apa saja untuk bisa terus hidup. Seperti halnya aku….
Kenalkan, namaku Lani. Seorang anak perempuan kecil yang tak berdaya. Hidupku hanyalah berbaring di ranjang rumah sakit. Sambil kadang menatap kebun bunga dari jendela. Selalu terbayang dalam hatiku, berlari-lari di antara bunga-bunga mekar yang indah. Tapi, apa daya… Aku tak punya kaki.
Semua berawal saat aku sedang berlibur di rumah kakek. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti saat itu. Aku tidak mengerti kenapa langit itu biru. Aku tidak mengerti kenapa laut selalu berombak. Aku tidak mengerti kenapa kupu-kupu bisa terbang dan aku tidak. Pikiranku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan ala fantasi anak-anak.
Aku makin penasaran. Hingga suatu hari aku sedang duduk-duduk di teras rumah kakek sambil memandang awan. Tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang melintas di depanku. Indah sekali sayapnya. Aku tertarik memiliki kupu-kupu itu. Aku bangkit dari duduk dan mulai mengejar kupu-kupu itu. Mataku terus mengikuti kupu-kupu itu seraya terus mengejarnya. Aku sama sekali tidak meperhatikan lingkungan sekitarku. Aku sampai mana, dan aku ada di mana.
Kupu-kupu itu berhenti sejenak. Aku mulai melihat sekelilingku. Kanan, pohon. Kiri, pohon. Belakang, hutan. Bawah, jurang! Aku  belum tahu bahayanya jurang. Kupu-kupu itu terbang menuju seberang jurang seolah menantangku menangkapnya. Aku pikir, jika kupu-kupu bisa terbang, aku pun pasti bisa. Aku merentangkan kedua lenganku sebagai sayap. Kukepak-kepakan pelan-pelan, kutekuk lututku, kemudian aku mengambil ancang-ancang, dan lompat!
Aku terus mencoba terbang, tapi aku tetap tak bisa. Aku jatuh, hal yang pertama kkupikirkan adalah menatap langit. Warnanya tetap biru, tak berubah selalu biru. Kenapa? Aku berpikir kenapa langitnya biru? Aku lupa kalau aku sedang jatuh dari atas jurang yang sangat tinggi. Sampai akhirnya, aku memutuskan pertanyaan di pikiranku, suatu saat aku akan mengecat langit, agar tidak selalu biru lagi. Aku tersenyum. Aku lega.
Aku melihat ke bawah, laut! Aku ingat aku sedang jatuh. Tapi aku santai. Aku pasti jatuh di atas laut. Kata kakek, kita tidak perlu takut pada ombak. Ombak itu teman. Dan obak ada di laut. Jadi laut juga teman.
Aku hampir sampai ke atas laut, dan “BYURRR…!!” Aku jatuh ke laut. Aku senang. Aku selamat dan tak luka sedikit pun. Aku mencoba merangkak ke tepian pantai, karena aku jatuh di bagian laut yang dekat pantai, dangkal. Tapi tiba-tiba ombak datang, seolah menarikku. Aku tidak bisa berenang, tapi aku berusaha melepaskan diri sebisaku. Aku tersangkut di antara batu karang, Aku mencoba lepas, badanku bisa. Tapi kakiku tidak. Aku menarik-narik kakiku. Tapi karangnya sangat kuat. Aku menarik, terus sekuat tenaga… Aku, lepas. Darah… Lautnya penuh darah. Kakiku di karang itu. Badanku tidak. Kakiku berdarah, lepas, benar-benar lepas. Ombaknya surut. Aku berhasil sampai di tepi. Kakiku rasanya sa….kit sekali!
“Lani!” Teriak seseorang. Aku menoleh.
“Kakek!!!” Aku senang melihat kakek. Kakek keget melihatku. Tanpa Kaki.
“Kam…kamu..!” Kakek terlihat takut melihat darah bercucuran dan kakiku yang hilang. Dia segera memanggil seorang yang lewat situ dan membawaku ke rumah sakit.
Dokter dan para suster membersihkan darah di kekiku. Aku diberi sesuatu berwarna coklat dan kakiku diperban. Aku belum mengerti, kenapa aku tidak pulang. Kata kakek, aku harus tinggal di rumah sakit sampai kakiku sembuh. Aku pikir tinggal di rumah sakit itu seperti liburan. Tampatnya enak, bersih, kasurnya empuk, makanannya lezat dan orangnya baik-baik. Aku senang disuruh tinggal di sini. Awalnya…
Kian hari aku bosan, orang yang lewat hanya itu itu saja. Aku tidak boleh pergi dari tempat tidur, padahal aku ingin jalan-jalan dan mengejar kupu-kupu lagi. Makanannya juga makin hari makin tidak enak. Karena keseringan di kasur aku jenuh. Aku ingin pulang. Setidaknya aku ingin pergi dari sini. Aku meminta pada kakek. Kalau aku bosan dan ingin pulang.
Kakek terlihat sedih dan pucat. Aku tidak mengerti. Baru pertama kali aku melihatnya seperti itu. Biasanya kakek selalu tersenyum dan membuat aku tertawa.
“Lani, akhirnya kamu harus tahu. Kakek berat mengatakan ini padamu. Luka di kakimu permanen. Dan kamu… kamu tidak punya kaki lagi.” Kakek mengatakannya dengan pelan dan nadanya memilukan.
Aku tidak punya kaki! Kaki kan untuk jalan, untuk lari, untuk main. Berarti, aku tidak akan pernah bisajalan-jalan lagi di pantai, aku tidak bisa lagi lari-lari di taman, aku tidak bisa lagi main kejar-kejaran sama kupu-kupu. Aku menangis… Sekencang-kencangnya! Aku mau kakiku… Aku pasti bukan apa-apa tanpa kakiku. Aku terus menangis. Sampai aku terhenti karena berpikir. Bararti aku tidak bisa pulang!
Yah… Sebenarnya aku tak perlu pulang ke rumahku. Ibuku tak menginginkanku, ayahku meninggalkanku. Itulah mengapa aku selalu di rumah kakek. Aku ingin pulang. Jika ingin pulang, artinya pulang ke rumah kakek. Tak apalah… Yang penting pergi dari sini.
“Berarti, aku tidak bisa pulang?” Tanyaku pada kakek sambil masih tersedu-sedu.
“Ya, kamu akan selalu di sini. Sebaiknya kamu mulai membetahkan diri di sini. Karena kamar ini akan menjadi rumahmu.” Kata kakek. Aku menangis lagi. Aku tidak mau…tidak mau!!!!

Di sinilah aku sekarang, merenung di kamar memikirkan hidup. Sekarang aku mengerti, langit akan selalu biru tak akan berubah. Seperti waktu tak akan pernah kembali. Seandainya, aku tak pernah mengejar kupu-kupu itu…
Hidup… Tak akan ada habisnya bila dibicarakan. Apapun arti hidup, pasti menyangkut jiwa dan raga. Jiwaku hancur, ragaku rusak. Hidupku hambar. Kenangan indah tak pernah kualami lagi. Yang tersisa hanyalah angan-angan…


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Siapa sangka???

Ini juga asli aku. Jadi maklum ya kalo jelek.. Ini kisah nyata, tentang nenek buyutku dari ayah. Tentu aja bukan aku yang ngalamin sendiri. Cuma denger dari cerita ibu. ^^

*****

             Cemas,… hanya itulah rasa yang ada di benak keluargaku saat ini. Apa yang akan terjadi nanti pada nenek buyutku? Menurut dokter, kondisinya bukan semakin membaik, tapi semakin memburuk.
            Hari itu, pamanku yang mendapat giliran menjaga nenek ada acara mendadak di kantornya. Karena tak ada yang tahu kalau pamanku akan ada acara mendadak, semua beristirahat di rumah sehingga tak ada satu pun yang menjaga nenek. Ibuku tiba-tiba merasakan ada yang aneh, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang entah mengapa membuat hatinya was-was.
            Ibuku menceritakan perasaannya. Semua ikut berpikir. Nenek! Batinku. Saat itulah tiba-tiba telepon bordering mengagetkan kami.
            “Halo?” Kata ibuku mengangkat telepon itu. Dinyalakannya loudspeaker jadi suara telponnya bisa terdengar.
            “Ini benar rumah Ibu Lia?” Tanya seorang dalam telepon.
            “Iya, ini saya sendiri. Ini siapa ya?” Jawab ibuku.
            “Kami dari rumah sakit. Saat ini nenek anda keadaannya sangat mengkhawatirkan.”
            “Apa?!” Kata ibu. Semuanya pun ikut terhentak. Kemana pamanku yang seharusnya menjaga nenek? Apa artinya ini? Kenapa nenek? Semua pertanyaan mengambang dalam pikiran kami. Semua kaku, tak ada yang bergerak saking kagetnya.
            “Ba…bagaimana?” Tanya ibuku.
            ‘Tuit…tuit…tiiiiiiiii…….t…’ Terlambat, telepon sudah ditutup. Tak tahu kenapa. Seharusnya rumah sakit tidak mungkin melakukan hal itu.
            Ibuku mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju pintu. Aku mengikuti ibu setelah sadar dari lamunanku. Baru saja akan membuka pintu, ada seseorang mengetuknya. Ibu membuka pintu. Langsung masuk beberapa orang perawat memba wa ranjang. Di atasnya terbaring nenek buyutku!! Lengkap dengan alat bantu pernafasan dan alat-alat penunjang hidupnya. Kami kaget lagi untuk kedua kalinya.
            “Ada apa ini?” Tanya ibuku pada para perawat itu.
            “Tadi kami mendapat telepon bahwa beliau ingin pulang ke rumahnya. Jadi kami bawa ke sini.” Jawab seorang perawat.
            “Tapi bukankah seharusnya peralatan itu tidak boleh keluar dari rumah sakit?” Tanya ibuku lagi yang terlihat masih sangat bingung
            “Yah…. Tadi kami juga berpikir begitu. Tapi, ada seorang dokter memberi tahu kami bahwa keadaannya sangat mendesak dan kami boleh membawa nenek ibu pulang beserta peralatannya.” Kata perawat itu.
            “Apa tadi ada yang menelepon?” Kami semua menggeleng. Ibuku mengambil telepon lalu menelepon pamanku. Bertanya, apakah ia yang menelepon rumah sakit. Ternyata tidak.
Keluarga kami, selain paman, semuanya ada di situ. Tidak heran jika kami bingung siapa yang menelepon rumah sakit.
            “Maaf, tadi siapa nama orang yang menelepon?” Tanya ibuku pada perawat itu.
            “Dia bilang namanya Albertus Sardi.” Jawab perawat.
            “An…Anda yakin?” Tanya ibuku takut.
            “Iya, saya yakin. Ini buktinya!” Kata perawat itu seraya mengambil catatan kecil dari sakunya. Di situ tertulis nama Albertus Sardi yang menelepon untuk kepulangan Ny. Shinta, nenek buyutku.
            Aku melihat sekelilingku. Semua keluargaku terlihat sangat takut dan cemas. Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu. Albertus Sardi,.. Albertus Sardi,…? Om Albert!!!
            Iya, benar itu Om Albert. Ibu pernah cerita, Dulu ibu punya kakak, namanya Albert. Dia cucu kesayangan nenek karena dialah yang paling dekat dengan nenek ibu saat itu. Tapi Om Albert mendadak divonis dokter menderita kanker. Om Albert sudah menjalankan berbagai macam terapi, sampai akhirnya ia mendapatkan remisi dan dinyatakan membaik. Tapi tiba-tiba saat ibuku berusia 13 tahun, kanker Om Albert kambuh dan tidak bisa diselamatkan lagi. Akhirnya ia meninggal. Hal itu sudah terjadi la…..ma sekali sejak ibuku remaja. Tapi, Om Albert menelepon???? Hah??? Hal yang sangat tidak mungkin… Bagaimana bisa?!
            “Kalau boleh tahu, nama dokter yang menyuruh membawa tadi siapa ya?” Tanya ibuku masih dalam keadaan bingung.
            “Sebenarnya kami sendiri belum pernah melihat dokter itu sebelumnya. Kami pikir beliau pasti dokter baru di rumah sakit. Kalu tidak salah, tadi saya sempat melihat namanya Dr. Bondan Rahayu.” Jawab si perawat.
            Ibuku mengangkat gagang telepon. Ditekannya nomor demi nomor dengan gemetar. Tak lama kemudian, ibuku menutup teleponnya. Wajahnya pucat.
            “Barusan,.. Aku menelpon rumah sakit. Dan, kata mereka tidak pernah ada dokter bernama Dr. Bondan Rahayu.” Kata ibuku pelan.            Keluargaku, aku, dan para perawat sangat terkejut.
            “Tap….tapi…tapi, saya tadi benar-benar disuruh Dr. Bondan Rahayu! Benar! Saya berani bersumpah!”
            “Mungkin, Tuhan mengirim Albert dan dokter itu untuk kita.” Kata ibu sambil menatap salib di dinding. Kami semua memutuskan berdoa bersama untuk mensyukuri bahwa Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk mengembalikan nenek di tengah tengah kami.
            Kian hari, kondisi nenek justru semakin membaik di rumah. Perawat datang berjaga silih berganti. Semua masih takjub atas kejadian kemarin. Akhirnya, nanek buyutku sadar dari komanya. Kami sangat bahagia. Hal pertama yang diucapkan nenek begitu membuka mata adalah,
            “Albert…” Nenek memanggil nama itu berulang-ulang.
            “Kemarin… Albert datang saat aku ingin pulang.” Lanjut nenek.
Semua anugerah Tuhan. Siapa sangka? Om Albert bisa datang untuk nenek. Tuhan Maha Bisa! Bersyukurlah untuk semua yang kita dapat, karena bersyukur itu GRATISSS!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cukup Satu Senyum Tulus…

Akhirnya cerpen ASLI aku, alias bukan copas. Jadi maap kalo gaje n wagu banget.. ^^

*****

             Aku benci dunia ini! Teman, keluarga, semua sama saja. Semua cuma bisa mengecewakanku. Tidak ada yang benar-benar sayang padaku. Aku benci semuanya! Buat apa aku hidup kalau tak punya harapan? Semua orang cuma pura-pura baik di depanku. Tapi dibelakangku, aku yakin mereka ngomongin aku, ngegosipin aku, jelek-jelekin aku. Aku capek…!!
            Hujan deras malam itu tidak mengurungkan niatku untuk pergi dari rumah. Buat apa tetap bertahan di sana jika keadaannya seperti neraka. Ayah ibu yang selalu bertengkar, adik yang menyebalkan. Semua hanya bisa membuatku tambah terbebani.
            Aku bingung mau ke mana. Aku tak peduli badanku basah kuyup kehujanan. Tak ada niat untuk berteduh. Aku hanya ingin terus berjalan dan berjalan, tak tahu mesti ke mana. Rumah teman? Teman siapa? Bukannya aku sama sekali tak punya teman. Aku merasa tidak punya teman yang bisa kupercaya. Semua hanya topeng. Di depanku mereka berlagak baik. Tapi aku tahu, dari tatapan mereka, mereka bukan temanku. Hidupku hancur. Aku tak tahu harus ke mana dan ke siapa. Membayangkan wajah orang-orang di sekitarku, membuatku tambah terluka. Aku ingin punya segalanya. Tak perlu harta, setidaknya seseorang untuk bisa dipercaya. Yang bisa diajak berbagi. Aku bosan hidup dengan semua ini. Penuh penderitaan dan kesengsaraan. Bukan ragaku, tapi jiwaku.
            Pulang, aku ingin pulang. Aku ingin pulang ke tempat yang nyaman, ke tempat satu-satunya orang yang bisa dipercaya semua orang. Tuhan. Dari sela-sela pohon kulihat sebuah danau. Hujan sudah berhenti. Bulan yang muncul perlahan seolah ajaib. Seakan-akan menyambutku, mengundangku datang ke danau itu. Bulan itu seakan tersenyum. Tanpa sadar, aku melangkahkan kaki menuju danau itu. Aku berjalan, tak peduli apapun dan siapapun. Gemuruh angin yang menyibakkan rambutku semakin membuatku yakin, aku diundang ke tempat itu. Kakiku tenggelam dalam air. Terasa dinginnya menusuk tubuhku. Tak apa, aku ingin pulang. Aku melangkahkan kaki lagi. Kini air sudah setinggi leherku. Aku menutup mata, bersiap tenggelam. Dan, aku masuk ke air. Sesak, dadaku terasa sesak, tapi kubiarkan. Aku ingin  pulang.
            ‘Dita, bangun, Dit! Belum saatnya. Belum saatnya kamu pulang. Bangunlah!’, bisik sebuah suara.
Aku membuka mataku. Bau yang tak asing lagi. Bau rumah sakit. Aku terbaring dalam selimut. Lengkap dengan alat infus di tanganku. Orang tuaku tidur di sofa tak jauh dari tempat tidurku. Kenapa? Padahal aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang! Bahkan Tuhan saja tidak menerimaku di rumahnya. Lalu siapa yang bisa menerimaku?
            “Dita, kamu sudah sadar?”, tanya ibu mengagetkanku.
Huh! Topeng, cuma topeng!
            “Dita!!!”, teriak sebuah suara, disusul suara-suara lainnya. Teman-temanku berlari dari pintu ke tempat tidurku.
“Akhirnya, kamu sadar. Kita semua khawatir sama kamu!”, ucap seorang temanku. Khawatir? Tak mungkin. Semua cuma pura-pura.
            Pagi ini aku terpaksa masuk kelas. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju kelas. Sebenarnya aku malas kembali ke sekolah ini, aku malas bertemu teman-teman yang lain, aku malas mendengarkan pelajaran yang membosankan. Tapi mau apa lagi? Aku harus buktikan ke orang tuaku kalau aku bisa  berguna buat mereka, walaupun sebenarnya agak canggung juga kembali ke sekolah setelah mencoba bunuh diri kemarin. Apalagi berita aku bunuh diri sampai muncul di Koran. Aku jadi tambah malas…
            Baru saja aku menginjakkan kakiku di lantai kelas, aku tertegun. Aku diam, bingung ingin marah atau menangis. Aku tak bisa bergerak, badanku gemetar. Mereka meletakkan fotoku di atas meja dengan bingkai dan pita hitam! Jahat sekali! Itu kan tanda orang mati!
            “Hei, itu ada arwahnya Dita, bangkit dari kubur!” teriak seorang cowok.
            “Bukan dari kubur kalii! Dari danau! Gimana matinya? Enak?!” sahut yang lain.
            Jadi mereka ingin aku mati? Oke, aku mati! Aku akan mati buat kalian! Orang-orang jahat! Kenapa kemarin aku harus gagal mati segala? Kenapa? Di dunia ini saja tak ada yang ingin aku hidup! Kenapa aku tidak dibiarkan mati?!
            Aku tak kuat lagi. Aku berlari sekencang-kencang menuju taman belakang sekolah. Kusandarkan kepalaku di batang pohon. Aku menangis sepuasnya. Mereka jahat sekali! Aku benci mereka! Kulihat kanan kiri. Ada sebuah paku di tumpukan kayu. Paku itu sebenarnya akan digunakan untuk merenovasi gerbang sekolah. Tapi berguna juga untuk alat bunuh diri. Aku mengambil paku itu. Daripada aku hidup hanya untuk bahan tertawaan dan korban penindasan, lebih baik aku mati. Masuk neraka pun tak apa. Toh, aku sudah pernah merasakan neraka di sini. Buat apa takut?
            Kuperhatikan paku itu. Ujungnya masih tajam, walaupun sudah berkarat. Sempurna sekali. Jika aku menusukkan paku itu ke pergelangan tanganku, otomatis nadiku akan putus, darahku tidak mengalir lagi, dan aku akan mati! Dan, walaupun itu gagal, karat dari paku itu aku membuat kulitku infeksi, kemudian aku akan terserang tetanus, tak kuobati, dan akhirnya juga aku akan mati. Aku menggenggam erat paku itu dan mulai membidik pergelangan tanganku. Dan kutusukkan!
“Sendirian? tanya seseorang sambil menggenggam tanganku, seoalah mencoba mencegahku menusukkan paku itu ke tangan. Karena jengkel, kutepiskan tangannya dan kubuang paku itu. Aku menoleh, ingin melihat wajah orang yang membuatku gagal mati. Rio!
            “Aku tahu perasaanmu.”, kata Rio.
Tahu perasaanku? Nggak mungkin! Dia disukai anak-anak satu kelas, ayah ibunya pun terlihat rukun. Dia punya adik yang lucu dan manis. Tak mungkin dia tahu rasanya jadi aku!
            “Aku dulu juga sama kayak kamu. Menyendiri, capek sama semua yang ada di dunia ini. Marah sama orang tua, saudara, temen-temen.”
            Nggak mungkin! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku! Lagian buat apa juga kamu nyegah aku nusukkin paku itu?! Aku tuh udah nggak tahan hidup di sini!”, bentakku. Dia tersenyum. Senyum yang tulus. Senyumnya membuatku nyaman, seolah semua bebanku hilang. Senyum yang kudambakan selama ini. Senyum dari seseorang yang bisa menyayangiku.
            “Aku tahu. Aku pernah. Aku pernah ngrasain gimana dihjauhin, bahkan diolok-olok sama temen-temen, gimana rasanya jadi kambing hitam dalam keluarga, yang Cuma dijadiin alasan buat bela diri sama ortuku. Aku juga pernah nyoba bunuh diri kayak kamu gini. Tapi ada seseorang yang datang tiba-tiba memberi aku satu semangat baru yang bisa bikin aku ngelupain segalanya. Senyum. Dia tahu apa yang aku rasain, walaupun nggak pernah aku ungkapin. Dia satu-satunya yang bisa aku percaya setelah Tuhan. Semua beban di hati aku, rasanya langsung hilang begitu lihat senyumnya. Sayangnya dia sudah meninggal. Ya, setelah aku dapat banyak temen, punya keluarga yang rukun dan nyenengin, semua itu berkat dia. Dan aku berniat nyebarin virus senyumnya. Biar semua orang yang hidupnya lagi terpuruk, bisa ngerasain gimana ampuhnya senyum tulus dari seorang sahabat. Karena dia, aku tahu, mati bukan satu-satunya cara buat ngehindarin masalah, justru itu cara buat lari dari masalah. Dan orang yang lari dari masalahnya itu Cuma pengecut!
            Terserah aku mau dibilang pengecut atau apa! Itu semua udah tak penting!
            Oh, gitu. Maaf deh kalau aku nyegah kamu buat jadi pengecut. Maaf kalau aku nyegah kamu dari dosa yang bakal kamu terima kalau bunuh diri nanti. Maaf kalau aku nyegah kamu buat bikin aib di keluarga kamu. Maaf kalau aku njggak piingin lihat kamu menderita.
            Aku terdiam, benar. Aku mungkin bakal dosa dan bikin aib dalam keluarga. Aku tambah bingung. Aku tidak mau itu semua terjadi. Tapi gimana caranya aku bisa tahan hidup sama temen-temen dan keluarga kayak sekarang ini?
            “Ya.. Kamu bener kok. Kamu nggak salah. Tapi, gimana caranya aku bisa nyelesai’in semua masalahku?” tanyaku pada Rio. Dia tersenyum, senyum seperti tadi. Senyum yang bikin aku bakal berpikir berkali-kali untuk bunuh diri lagi. Dan aku tahu, senyum itu adalah pertanda akhir semua penderitaanku. Senyum itu bakal nunjukin jalan yang harus aku tempuh.
            Rio bagai malaikat yang dikirim Tuhan padaku. Darinya, pelan-pelan aku belajar cara percaya diri. Prinsipnya adalah, apapun yang dipikirkan orang lain tentang kamu, bukanlah urusan kamu. Aku jadi lebih berani berteman. Sekarang temanku ada di mana-mana… Orang-orang yang dulu menghinaku menyesali perbuatan mereka dan minta maaf. Aku tidak takut lagi mereka melakukan apa di belakangku. Yang terpenting bagiku sekarang, aku punya seseorang yang bisa dipercaya. Selalu ada tiap aku menengok ke belakang. Selalu berada di dekatku, walaupun tidak bisa kulihat keberadaannya. Namanya terukir dengan tinta emas di dalam hatiku. Bayangannya tak mungkin hilang dari benakkku.
            Hari demi hari aku lalui dengan gembira. Seperti di surga. Bahkan pengalamanku mencoba bunuh diri dulu, seolah hanya sebuah mimpi buruk. Rio sangat berjasa akan hal itu. Aku dan Rio paling suka menatap langit. Membayangkan surga ada di balik awan-awan itu. Rumah terakhir saat kita semua pulang nanti, rumah Tuhan. Ketika kami berdua menatap langit bersama, Rio berkata sambil tersenyum, kalau dia ingin hidup lebih lama.  Saat itu aku tak mengerti maksud perkataannya. Tidak aku sangka, aku akan mengerti maksudnya dengan cara yang sama sekali tidak aku sukai…
            Siang ini aku akan menjenguk Rio. Rumahnya searah dengan rumahku. Aku berjalan dengan hati tak sabar ke rumah Rio. Aku tak sabar melihat senyumnya lagi. Sudah seminggu ini dia tidak masuk. Tapi baru sekarang aku sempat menjenguknya. Begitu sampai di jalan depan rumahnya, aku heran sendiri. Banyak sekali mobil di halaman rumahnya. Orang-orang juga banyak berdatangan. Ramai sekali rumah Rio..
            “Permisi, Bu? Di sini sedang ada apa ya? Kok, ramai sekali?” tanyaku pada seorang ibu yang tak jauh di dekatku.
            “Loh, adik tidak tahu? Anak orang yang tinggal di sini kan baru saja meninggal. Kalau tidak salah, namanya Rio. Ya! Namanya Rio.”
            Rio? Meninggal? Nggak, nggak mungkin! Aku berlari menahan tangis masuk ke rumahnya. Menembus orang-orang yang berkumpul ramai. Dan dengan rasa tak percaya, tanpa sadar aku terduduk. Itu Rio! Itu mayat Rio! Ibunya menangis histeris di sebelahnya. Aku mendekati jenazahnya. Di sampingnya, ada sebuah foto dengan bingkai dan pita hitam. Foto Rio yang sedang tersenyum. Senyumnya yang membuat aku tak akan pernah lagi memikirkan soal kematian. Dan kini dia tergeletak tak berdaya. Dia mati. Aku hampir tak percaya. Kupandangi terus mayatnya.
            “Kamu Dita, ya?” Tanya seseorang. Ayah Rio. Aku hanya mengangguk sambil terus menangis.
            “Kemarin, sebelum meninggal, Rio menitipkan surat. Katanya untuk kamu. Ini suratnya.” Ucap bapak itu. Dia menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku segera menerimanya dan kumasukkan dalam kantungku.
            Sore itu, setelah menghadiri pemakaman Rio, aku pulang ke rumah dengan tidak semangat. Rio, pelindungku, sahabatku, telah tiada. Aku melemparkan tasku ke kasur. Aku masih tak percaya, Rio sudah meninggal. Oh, ya! Suratnya! Aku mengambil surat itu. Kubuka dan kubaca.

Buat Dita,..

Dit, kalau kamu buka surat ini, aku pasti sudah nggak ada lagi di dunia ini. Aku sudah pulang ke Tuhan. Terima kasih kamu sudah memberi hari-hari indah padaku. Saat-saat bersamamu yang paling membuatku bahagia.
          Maaf, aku belum pernah bilang ke kamu, mungkin sudah terlambat kalau aku cerita sekarang. Tapi aku cuma nggak mau kamu sedih, dan aku nggak mau kamu ikut menanggung penderitaanku. Aku sakit kanker. Sejak tiga bulan sebelum aku membujukmu nggak bunuh diri (Oh ya, jangan pernah coba bunuh diri lagi ya?!). Aku hanya ingin memberimu semangat, seperti yang diberikan sahabatku sebelum dia meninggal dulu. Nggak disangka, malah keterusan sampai kita akrab. Aku senang kita bisa akrab.
          Aku tahu, pasti akan ada waktunya aku pergi. Karena kankerku sudah parah, dan nggak mungkin disembuhkan lagi. Obat-obat yang kuminum hanya untuk membuatku hidup lebih lama. Dan kini, Tuhan sudah memanggilku. Aku ingin kamu janji, jangan pernah merasa sendiri lagi. Karena aku akan selalu ada di sampingmu. Tiap kamu menatap langit. Ingatlah aku di sana, sedang memandang kamu dan memberi senyum terbaikku untukmu.

Salam sayang,
Rio…
         
          Sekarang, hari ini, tepat 2 tahun Rio pergi. Tiap aku ada masalah, aku selalu memandang langit, dan menebak apa yang akan dikatakan Rio padaku untuk memberi aku semangat. Dan setelah itu, aku bangkit dan menyelesaikan masalah itu. Tak lupa, aku membayangkan senyumnya. Satu-satunya senyum yang akan aku kenang di dalam hatiku , selamanya...
Suatu hari nanti, bila aku pulang, aku yakin akan bertemu Rio di sana. Semangatnya selalu kukenang. Dia sahabat terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Sekarang aku tak lagi meragukan adanya sahabat sejati. Rio nyata, bukan topeng, tidak pura-pura, dan senyumnya tulus. Kini aku menularkan virus senyum Rio pada orang lain. Seberapa bencinya pun aku pada orang, aku selalu berusaha memperlihatkan senyumku yang paling tulus pada mereka. Supaya mereka tahu, bahwa ada seseorang yang akan setia memberi senyumnya untuk mereka, kapanpun saat mereka merasa terpuruk. Cukup dengan satu senyum tulus, hati seseorang bisa berubah. Aku belajar dari Rio…           
            

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS