Crazy Day

Penulisnya ni cerita kreatif banget! Bukan aku lahh pastinya. Ni copasan juga. Pinjem ya penulis... ^^

*****

orang yang lagi duduk di laboratorium fisika bersama teman-temannya itu bernama
Ify.

Ify anak yang manis, imut, dan feminin. ify memang suka sama warna pink, benci
warna hitam, suka kelinci, dan bernci sama hewan yang sangar.
tapi, selama hidupnya, dia gak pernah mau dibilang feminin. dia selalu mau
dibilang tomboy.

selama 15 tahun perjalanan hidupnya, Ify gak pernah kenal yang namanya pacaran.
ogah banget deh!
bukannya gak ada yang mau sama Ify, banyak yang mau sama Ify. tapi Ify selalu
nolak dengan alasan yang simple. "gue gak mau! gue udah punya cowok
banyak. masak mau ditambahin lagi?" katanya.

yang dimaksud cowok banyak itu, dia punya ayah yang beneran dia sayangi, terus
dia punya kakak yang semuanya laki-laki. mamanya terlalu sibuk sama bisnisnya,
jadinya Ify kayak tinggal sama cowok doang.

dari TK, ify gak pernah mau maen sama cewek. dia selalu maen sama para cowok,
sampe sering berantem berebut robot-robotan. sobat-sobatnya dari kecil, hingga
sekarang masih satu sekolahan sama Ify.
mereka emang sahabat yang gak terpisahkan.
Rio, Iel, Ray, sama Ify. mereka emang udah ditakdirin bersama kali sejak dari
lahir.

Ify menguap lebar siang itu. jam pelajaran terkhir biasanya sisa tenaga sama
konsentrasi tinggal 0,001%. tapi sisa tenaga dan konsentrasi yang sekecil ini
malah digunain buat pelajaran fisika yang super ngebosenin.
Ify menoleh ke tiga sahabatnya yang sama-sama lagi bosen.
rio yang daritadi nguap aja, iel yang mainan bolpen, sampe ray yang cuma
ngelamun aja.

"sst.. sst.." ify memanggil ketiga sohibnya itu.
serentak mereka menengok.
iel menaikkan satu alisnya, "apa?" tanya Rio, sedangkan Ray tak
menampakkan ekspressi apapun.
"mainan yuk.." kata Ify.

"mainan? gila? orang gurunya aja kayak gitu.." kata Rio agak keras,
membuat bu guru menoleh.

"mario stevano aditya haling yang ada di pojok sana!! tolong diam!"
katanya, membuat rio langsung membeku seketika itu.
rio terlihat menuliskan sesuatu, lalu ia lipat-lipat dan diserahkannya pada
Ify.

gak bisa!! kan lo liat sendiri akibat ulah dan perbuatan lo.. waa..


ify meringis melihat muka rio yang jadi merah biru ijo setelah kena bentak dari
guru fisika itu.
ify melirik ke arah iel dan ray, dan mereka berdua serentak menggelengkan
kepala mereka.

ify langsung manyun.
sebel banget punya banyak temen cowok, tapi gak ada yang bisa diajakin nekat.
ify menundukkan kepalanya, dan dia melakukan rutinitas yang biasanya.
membayangkan para idolanya yang ia cintai.

ah.. Ozy, orang bersuara khas yang ia sayangi. udah lama ify memendam hasrat
bertemu sama Ozy. tapi gak pernah kesampean.
Deva. cowok super cool yang paling dikagumi sama ify.
satu lagi, Patton. orang yang kayaknya kocak, yang suaranya selalu berhasil
bikin Ify merinding setengah mampus.
ketiganya emang dari dunia tarik suara, karena emang dasarnya Ify suka nyanyi
dan musik.


Ify sebenarnya pengen banget tidur, apalagi ditemeni sama baying-bayang para idolanya tersayang, tapi ia takut kena semprot kayak si rio tadi itu.

Akhirnya dengan sangat amat terpaksa, Ify mengangkat kepalanya, memastikan si guru masih asyik nerangin dengan keadaan kelas yang super ngebosenin.


Ify menguap lebar, dan ia menoleh ke Rio, iel, dan Ray.


Mata ify hampir keluar saat itu, setelah menyadari yang ada di sampingnya bukan Rio lagi kayak dulu, tapi.. tapi orang yang sangat dikaguminya. OZY!!! Yeaa!!! OZY yang baru saja
dibayangkannya!!


Ify langsung gagap+sesak nafas ga karuan saking kagetnya.

Ozy Nampak menulis di selembar kertas, dan menyerahkannya ke Ify, persis sama seperti yang dilakukan Rio tadi.


Nape lu?? Gak bisa bercanda gue.. tau kan tadi si guru galak itu ngelabrak gue?


Ify makin kaget baca surat itu. Bukan karena apa-apa, tapi KOQ DIA TAU KEJADIAN YANG MENIMPA RIO SIH?! DAN DIA KOQ NGERASA JADI RIO??!


Ify langsung pusing ga karuan.

Kalo Ozy = Rio,,

Berartii..


Ify langsung menmajukan kepalanya, demi melihat siapa yang duduk di sebelah Ozy.


‘oh my god!!!’ ify shock berat. Dia kayak ketibanan duren.

Emang bener kayak dapet durian runtuh, tapi ini duriannya jatuh ke kepala ify semua. Mana bisa seneng? Yang ada kebingungan malah.


“DEVA??! PATTON?!”

Tanpa sadar, Ify berteriak lumayan keras, hingga membuat teman yang duduk di depan Ify menoleh serentak, namun untungnya si guru sedang konsen menulis di papan tulis hingga
tak memperdulikan teriakan histeris dari Ify.


“kenapa sih emangnya?” Tanya Deva dengan bisikan.

“koq lo kaget banget liat kita? Ada yang salah ya?” Tanya patton sembari mengoreksi dirinya.


Nafas ify belum bisa diatur dengan benar. Dia masih terengah-engah saking kagetnya.

Ify menggeleng-gelengkan kepalanya keras, membuat ketiga sobatnya memandangnya aneh.


“nama lo siapa?” Tanya Ify pada sosok di sebelahnya.

“ozy..” katanya.

“lo?” Tanya ify pada orang di sebelah ozy.

“deva” katanya singkat.

“lo?” tanyan ify pada cowok di sebelah deva.

“patton!! Kenapa sih lo? Koq lo aneh banget?” Tanya patton, masih dengan volume yang kecil.


Ify tiba-tiba bangkit dari kursinya, dan dia berjalan cepat ke depan.

“bu, ijin ke belakang, terimakasih..” ify langsung ngacir gitu aja keluar lab fisika.


Ketiga sobatnya dikelas geleng-geleng melihat tingkah super aneh Ify.


Di kamar mandi, Ify mencoba sebisa mungkin menenangkan dirinya sendiri, ia menarik nafas dari hidung, dan dikeluarkannya perlahan dari mututnya, agar dirinya merasa relax.

Ia membasuh mukanya, dan ia menengadah, melihat cermin di hadapannya, dia berharap masih menjadi ify, dan benar saja.. untung dirinya masih ify, kalo dia menjadi shilla atau Angel
yang penyanyi itu, dia akan mati mendadak.


“oh god!! Apa yang sebenernya terjadi? Apa salahku? Aku Cuma membayangkan para idolaku aja. Aku gak berharap sobat-sobatku jadi berubah bentuk.. jadi idolaku.. aku seneng,
tapi aku ga ingin.” Kata Ify, masih menatap cermin.

Ia mengambil HP yang dari tadi ada di sakunya, ia mengotak atiknya dan membuka galeri fotonya.

Oh.. fotonya dan para sahabatnya,

Apa?! Koq aneh.. seharusnya kalo yang nyata berubah, fotonya juga berubah donk? Nha ini koq ga berubah? Kenapa masi dalam wujud Rio, Ray, sama Iel?? Sebenernya ini tuh apa sih??


Haaahh.. daripada pusing mikirin, mendingan Ify balik ke kelas, daripada dicurigai karna ke WC kelamaan.

Setiap langkah kakinya menyimpan harapan, jika ia sampai lab fisika nanti, ia akan menemukan sosok Rio yang sedang bermain dengan pensilnya, Ray yang sedang melamun, dan Iel yang
sibuk mencatat pelajaran.


Ify melongok, yang ia dapati adalah Ozy yang sedang bermain dengan pensilnya, Deva yang sedang melamun dan Patton yang sibuk mencatat pelajaran.

Oh!! Sungguh kejam.


Ify duduk kembali di samping Ozy.

Ozy tersenyum bingung ke Ify yang dari tadi memandang wajahnya tak bosan-bosan.

“kenapa?” bisiknya.

Ify langsung mengalihkan pandangannya ketika ia tau kalau Ozy merasa aneh.

Ify menggeleng segera.


Pelajaran terakhir itu terasa cepat ketika Ify terus-terusan menoleh kearah Ozy, Deva, dan Patton. Kayaknya mereka itu Cuma mimpi!


“minjem HPnya donk!” pinta patton sambil menyodorkan tangannya.

Tanpa basa-basi lagi, Ify menyerahkan HPnya. Ia masih merasa gugup berada dekat 3 cowok itu.

“lo kenapa sih dari tadi aneh gitu sama kita?” Tanya Ozy.

“bener.. kayak bukan lo yang biasanya aja.. dari tadi lo diem.. padahal kan biasannya kalo ada kita, lo langsung cerewet..” kata Deva menambahkan.

“emang gitu ya?” ify mengajukan pertanyaan retoris yang ga penting itu.


“ah.. udah deh, yang penting sekarang cerita aja ngapa? Lo kenapa?” Tanya Deva.

“gue.. kaget..” kata Ify jujur.

Belum sempat deva angkat bicara, “lho?? Sejak kapan lo punya foto sama rio, ray, sama iel? Bukannya lo belum pernah ketemu? Bukannya lo ngefans berat sama mereka?” Tanya patton.


Yea!! Tepat!! Bagus!! Jadi ceritanya mereka tuker posisi, sobat-sobat ify yang lenyap ternyata menggantikan posisi 3 oran yang sedang duduk di bawah pohon bersamanya.

Ify hanya meringis.

“kapan tuh foto?” Tanya patton.

“uda lama..” kata ify singkat.


“cerita donk.. lo biasanya kan heboh banget kalo masalah idola lo.. sekarang lo bisa foto bareng mereka, koq lo malah biasa aja?” Tanya patton.

“mana? Mana?” akhirnya Ozy penasaran.

“oo.. iya nih.. koq lo ga cerita?” Tanya Ozy setelah melihat foto itu.


“ada apa sama lo? Lo emangnya kaget kenapa?” Tanya Deva, balik ke topik yang semula.


“ini dia yang mau aku jelasin..” kata ify sambil menarik nafas panjang.


Ketiga sohibnya siap mendengarkan dengan seksama.

Ify menceritakan tentang semuaaaaaaaanya.. tentang rio, ray, iel, tentang kekagetannya mereka ada di situ.. dan semua semua semua.


“hahahahahahahahahahahahahahahahaha..!!!” itulah respon yang ify dapet dari mereka.

“kenapa? Kenapa ketawa? Bukannya ikutan bingung?” ify protes.

“gimana mau ikutan bingung? Orang cerita lo impossible banget gitu!” kata Deva.


“lo gak jadi gue sih.. klo lo jadi gue, lo tau deh.. bingungnya!” kata Ify yang mulai terbiasa dengan ketiga sahabat barunya itu.


“oh ya??” Patton meremehkan seraya terbahak kembali.

Ify jadi manyun.


Ify merebut HPnya dari Patton dan mengetikkan satu nomer.


“tuliiit.. tulittt.. tuliiit..” HP Ozy tiba-tiba bordering nyaring, dan Ozy membukanya.

“kenapa lo miss call gue segala?” tanyanya pada Ify.


“hah?! Jadi nomernya rio? Koq ada di lo?” Tanya Ify herang.

“ngimpi kali lo dapet nomer si rio.. ini tuh nomer gue.. dari dulu juga udah nomer gue..” kata Ozy.


Ify menepuk jidatnya.

‘oh!! Cobaan macam apa ini?!’ batinnya.



Ify mencoba relax dan tenang, ia menghidupkan TV di kamarnya, dan memilih-milih channel.

Ify terhenti pada stasiun TV yang menyiarkan konser meriah.


Ify ternganga melihat siapa yang sedang bernyanyi itu.


“Rio?!” ify menjerit.

Rio Nampak berbeda dari biasanya di sekolah. Biasanya dia cuek dan rambutnya tak pernah rapi, bajunya juga kucel. Sepatu udah bolong pula.

Ini?

Rio yang super ganteng, rio yang bersih, yang gaya rambutnya trendy abis.


Ckckc.. ify sempat berdecak kagum melihat sisi lain dari Rio, rio yang ganteng.

Hihihihihi..


“ify..” tiba-tiba mama masuk.

Ify menoleh ke arah mamanya.


“kok senyum-senyum sendiri?” Tanya mama.

“hehe..” ify hanya meringis.


“pantesan.. orang ada rio ya?”


Lho? Emangya gue ngefans sama rio? Sejak kapan?

“emang ify suka sama rio, ma?” Tanya ify bloon.


Mama memandang ify heran.

“iya kan? Orang setiap ada rio di TV, kamu diem. Kamu terpaku. Terpesona..” kata mama.

‘doeeeeeeng!!! Mereka emang beneran tuker posisi!’


Ify tersenyum.

“ma.. ify mau ke rumah Ray..” kata ify.

“ray? Ray siapa? Ray artis itu?” Tanya mama.

Ups! Lupa..

“em.. deva maksudnya..” kata ify, dan ia bergegans menunggangi sepedanya.


Sampai di depan rumah ray yang sekarang jadi rumah deva..

“deva!!” ify memanggil lantang, kali ini ga akan salah sebut lagi.


Semenit kemudian, deva tampil dengan kaos merah yang kebesaran, topi warna hitam, dan celana pendek warna hitam.

“ape?” tanyanya


“lu ngerasa berda ga sih?” Tanya ify padanya.

“beda apanya? Lu itu yang dari tadi di sekolah beda.. bukan lo.. lo kenapa sih?!!” Tanya deva.

“kan gue dah jelasin kalo kalian ketuker.. lunya ga percaya sih!” kata ify.

“ya gimana percaya.. orang ga cerita kaga mungkin jga..” kata deva.


“anterin gue ke rumah si ozy sama si patton yuk” kata ify akhirnya.

“ngapain?” Tanya deva.

“ah.. udah! Buruan keluarin motor lu!” kata ify.


Deva akhirnya mengalah saja.

Sebenarnya dari tadi Ify mati-matian menahan emosinya.. menahan rasa ingin peluk deva sepuasnya,

Dari tadi ify deg-degan ga karuan. Tapi dia harus inget kalo deva itu ray,


“naek!” perintah deva.

Dengan hati yang masih berdebar, ia naik ke motor deva, huh! Impiannya sejak dulu ..


“tin!tin!tin!” klakson deva berteriak.

Sama seperti deva tadi, patton keluar dengan kaos biasa berwarna hijau dan celana tiga per empat warna putih.

“apa?” tanyanya.

“nih.. nganterin sahabat kita tercinta..” kata deva sambil melirik ify.

Ify segera turun dari motor.

“gue ada rencana! Lo ambil motor lo gih! Kita ke rumah ozy bareng-bareng.” Kata ify.

Patton bergegas ke dalam dan mengambil motor.


Mereka sampai di depan rumah rio, yang menjadi milik ozy sekarang.

“tante..” sapa Deva pada mama ozy.

“eh.. deva, patton, ify.. masuk..” kata tante mempersilahkan.

“makasih tante.. ozynya ada?” Tanya ify.


“oo.. dia lagi ke sekolahan.. ga tau urusan apa, kayaknya sih maen bola..” kata tante.

“oo.. gitu ya? Yaudah kita nyusul ke sekolah aja.. makasih ya tante..” ify naek ke motor deva lagi dan menyuruhnya ke sekolahan.


“lu kenapa sih keburu amat?” Tanya deva.

“ah.. ada yang perlu dikerjain nih.. bantuin gue ya? Ntar apa yang gue suruh, lo nurut aja ya?” kata ify.

“huh.. dasar susah ditebak.. okelah..” kata deva pasrah.


“ozy!!!” ify mendekati ozy yang bersimbah keringat.

“ngapain lo kesini? Mau ikutan maen bola?” Tanya ozy meledek.


“yee.. nggak.. lo ikut gue sini deh..” ify memaksa ozy keluar dari lapangan dan mengikutinya.

“heh.. heh.. emang gua kambing ditarik-tarik?” ozy melepaskan tangannya.

“yee.. iya deh! Nih gue lepas!!” ify juga melepaskan tangannya.


“woy!! Pada diem lagi.. sini ikutin gue!” ify melambai pada patton dan deva yang malah terdiam.


Mereka berpandangan, menagangkat bahu, lalu mengikuti ify.

“mau ke lab fisika?” Tanya ozy.

“yap!” ify membuka lab fisika yang ga pernah dikunci itu.

“ngapain? Kangen sama fisika?” Tanya patton.

“enak ajah!!” ify lalu mencari tempat duduknya tadi.


Ya! Ify menunjuk bangkunya tadi, dan duduk diatasnya.

“apa ngliatin? Cepetan duduk di tempat kalian!” perintah ify.

Ozy duduk dengan hati-hati di samping ify,

Patton dan deva juga duduk di tempat mereka yang tadi.


“lo ke..” deva angkat bicara.

“stoop!!” ify menyuruh deva diam.


“yang perlu kalian kerjain sekarang adalah.. kalian harus ulang kejadian tadi. Terserah pokoknya yang tadi!” kata ify.


Lalu ify menunduk, membayangkan para idolanya, karna dia bosan.

Beberapa saat kemudian, ify mengangkat wajahnya, dan menoleh ke samping. Harusnya sih cara ini bisa berhasil..

“kok masih kalian?!” ify marah sendiri.


“gue mau sobat gue baliiik…” ify mulai menangis.

“eh.. lu napa nangis?” Tanya ozy.

Sama seperti rio, ozy paling ga nahan kalo liat orang nangis.


Ozy mengelus kepala ify,, sama seperti yang dilakukan rio saat ify menangis.

“gue kangen sama rio! Gue kangen sama ray! Gue kangen sama iel! Huaaa.. mereka ga mungkin kembali..” kata ify tersedu.


“ada kita..” kata ozy menenangkan.

“iyaa..! tapi kalian bukan mereka! Aku emang fanatik banget sama kalian.. tapi ga ada yang bisa gantiin mereka sekalipun sifat kalian mirip..” ify makin meronta.


Patton dan deva mendekat.

“kita bisa apa kalo uda kayak gini?” Tanya patton.

“iya.. apa kita harus bilang ke rio, ray, sama iel?” Tanya deva.

“udh lah fy.. kita bakalan bahagiain lo kayak mereka koq..” kata ozy.


Ify mengusap air matanya.

Ia bergegas pergi ke taman belakang.


“gue kangen sama lo, io.. ray.. iel..” kata ify sambil tersedu.

“emang baru beberapa jam kita pisah.. tapi.. tapi gue gak bisa kebayang kalo selamanya bakal ga ada kalian di hidup gue..” kata ify.


Ozy, patton, dan deva muncul.

“ify!!”

Ify diam saja. Ia memilih tuk menunduk.


Ia membayangkan masa kecilnya yang penuh tawa bersama mereka.

Saat layangan ify nyangkut di rambut ray dan ga bisa lepas,,

Saat robot-robotan rio ketempelan permen karet ify,,

Saat komputer iel jadi hang gara-gara ify,, semuanya ga akan bisa terlupakan gitu aja.

“gue.. mau mereka balik.. gue seneng kalian disisni,, tapi disini bukan dunia kalian.. kalian hanya ada di panggung, hanya jadi idola.. ga bisa menggantikan sobat-sobatku..” kata ify
masih menunduk.


“lu aneh deh!” kata seorang dari mereka, yang suaranya lembut dan sangat di kenal ify.

Ify mendongak kaget.


“RIO?!” ify menghapus air matanya.

“kenapa? Lo daritadi ngomong apa’an sih? Gue ga ngarti deh.. sahabat-sahabat.. kita harusnya di panggung.. apa sih?” rio bertanya heran.

Perkataan rio sama sekali tak digubris.


“RAY?! IEL?!” ify memeluk ray dan iel.

“lo aneh..” kata ray.

“bener.. tadi lo suruh kita duduk di lab fisika, terus lo suruh ulang kejadian yang tadi.. terus yang sampe sekarang ga pernah gue ngerti.. emang kita ngegantiin sobat lo yang mana?
Perasaan sobat lo Cuma kita..” kata iel.


“emang!” kata ify yang tersenyum bahagia.

“tuh kan.. pertama, lo bilang kita berubah.. tukeran tempat ato apa lah itu.. terus lo ajak kita flashback di lab fisika. Terus lo nangis karena kita ga berubah wujud.. terus yang terakhir lo bahagia banget
lait kita.. maksud lo apa sih?” Tanya rio heran.


“mau tau?mm..” kata ify jail.

“kenapa emang?” Tanya iel.

“ada deh!!!!” ify tersenyum manja.

Dia ga tau sama apa yang terjadi beberapa jam yang lalu, yang jelas sekarang rio, ray, sama iel udha bailk lagi,, dia ga perlu kikuk lagi di depan ozy, deva, sama patton.

Ify sendiri juga bingung, ini Cuma khayalan, atau magic, atau apa juga ga tau.. yang penting bahagia!!


Ify tertawa sendiri


“gilak!” kata ray.

“ketularan lo kali!” kata ify.

Ray meringis. “o.. iya ya?”


“hahaha.. mereka tertawa bersama.

“sore nih.. bentar lagi sekolah tutup..” kata iel.

“pulang yuk iel?” ajak ray.

“oke!” katanya.


“lo berdua masi mau disini?” Tanya iel pada rio dan ify.

“betar.. ada yang mau gue omongin..” kata rio.

“yadah! See ya! Fy.. jangan ulangi keanehan lo besok ya!” kata ray.

“kalo sampe keulang.. gue bunuh lo!” ancam iel sambil tertawa.


“mo ngomong apa?” Tanya ify.


“gue tau apa yang terjadi sama lo..” kata rio tersenyum.

“tapi gue pura-pura ga tau..” kata rio.

“kok lo bisa tau?” Tanya ify.


“gue manggung..” kata rio masih terkagum mengingatnya lagi manggung.

“cakep banget gue..” kata rio lagi.


“ye!! Malah bangga! Koq lo bisa tau?” Tanya ify.

“gue juga pernah kali waktu itu. Kakak gue jadi lampard..” kata rio.


“buahahahahahahahaha..” tawa ify meledak.

“kenapa?” Tanya rio.

“lucu..” kata ify.

“oh ya.. emang penyebabnya apa?” Tanya ify.


“banyak ngehayal..” kata rio.

“jadi? Yang tadi beneran? Bukan Cuma halusinasi?” Tanya ify.

“bukan lah.. makanya lain kali ga usah berlebihan kalo ngehayal.. jadi kenyataan malah repot..” kata rio.


Ify tersenyum bahagia.

Ahh.. ga lagi-lagi ngehayal yang tinggi ah!


“eitz.. tapi jangan hilangin khayalan dari hidup lo..” kata rio.

“soalnya, khayalan kadang bisa untuk ngebangun kita,, agar kita berusaha keras buat dapetin tuh khayalan..” kata Rio menanggapi pandangan aneh ify.


“biar semangat ngejalani hidup!” kata rio menambahkan.

Ify terdiam, namun dalam hatinya membenarkan.


“udah sore nih.. ntar kita dikunci disini..” kata rio, lalu bangkit.

“he’e! pulang bareng ya! Tadi sepeda gue ada di ray..” kata ify.

“sip!!” rio mengacungkan jempolnya.


Langit oranye sore itu tersenyum, menyaksikan 4 sekawan yang takkan pernah terpisah oleh zaman

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS