Cuma Gue yang Bisa III

·        PART III
H     Ga usah banyak omong dehh... Ni Part 3-nya.. ^^

**    ***
Su   Sudah 3 hari mereka berada di Puncak, mereka menghabiskan waktu mereka
dengan bersenang-senang sampai puas, tanpa Putri. Karena Putri sakit,
jadinya nggak boleh ikut acara. Tapi, Milka sahabat sehidup sematinya
(??) setia menemani Putri saat kesepian, termasuk Anin, Aji, Marco,
dan Kevin. Sebenarnya Nico termasuk, tapi mungkin gara-gara Nico jaim,
gak mau orang-orang tahu dia suka sama Putri, jadinya kadang-kadang dia
keluar kamar.

Hari ini, Putri sudah baikan, akhirnya Putri boleh mengikuti kegiatan,
yaitu menjelajahi alam yang berada tak jauh dari Villa. Mereka dibagi
dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 4 orang, yaitu 2
cewek dan 2 cowok. Marco mengumumkan anggota-anggota masing kelompok
yang ia rundingkan dengan pembina OSIS, guru-guru lain, serta pengurus
kelas XII.


"Kelompok 1...."

"Kelompok 2...."

"Kelompok 3...."

"Kelompok 4, Aji, Milka, Nico dan...Putri." kata Marco singkat.


"WHAAAAT!!!??" Teriak Nico yang mengejutkan semua peserta.

"Ada masalah, Co??" Tanya Marco.

"Yaiyalah, masalah! Masalah idup mati guee!!" Seru Nico. Nicopun menghampiri Marco dan berbisik di telinganya.

"Mar, gue gak bisa pindah kelompok??" Tanya Nico. Marco menggeleng.

"Gue bayar deeeh.." Marco menggeleng lagi.

"Mar, pliiisss, ntar kalo gue mati dijalan gara-gara Putri gimana?? Kan
nanti lo kehilangan sahabat lo yang paling ganteng dan menawan ini,
Mar.." kata Nico cemberut.

"Kalo emang lo mati dijalan, berarti udah takdir, Co. Udah ah balik ke kelompok lo!!" Suruh Marco. Nico berjalan dengan lemas.

'Sebenernya siih, gue agak seneng juga sekelompok ama Putri, tapi kan
ntar kalo pada tau gue suka sama dia, diketawain satu sekolah,' pikir
Nico. (masih aje jaim, Co -,-).

"Ehh, Kak Nicoo heheee..kita sekelompok lagi, Kak. Emang kita gak bisa
di pisahin, Kak, hehee.." kata Putri cengengesan. Nico yang begitu melihat
Putri langsung menjauh, dan Putri pun cemberut.

"Yaaa..Tuhaaan, kenapa saya bisa suka sama makhluk gagal seperti ini,
Tuhaaan.." Gumam Nico sambil mengacak-acak mukanya, eh rambutnya -,-.

"Kenapa lo, Co?" Tanya Aji sambil menepuk bahu Nico.

"Gak papa, Ji. Ji.." Panggil Nico.

"Hm?"

"Kalo misalnya gue mati dijalan gimana?"

"Maksud lo?"

"Kalo misalnya gue mati gara-gara Putri di tengah perjalanan, lo mau bantuin nguburin gue gak?" Tanya Nico.

"Kan ada tukang gali kubur, Co. Ngapain gue ikut-ikutan nguburin elo,
kurang kerjaan banget, masa tukang gali kubur ganteng kayak gue?" Tanya
Aji narsis. Nico menoyor kepala Aji.

"Kok gue bisa ya suka sama produk gagal kayak Putri??" Tanya Nico.

"Karma berlaku, Co." Kata Aji.

"Iiih, serem banget omongan lo, Ji." Kata Nico bergidik ngeri.


Sementara itu Milka dan Putri...

"Put, beneran lo udah sehat??" Tanya Milka.

"Udah, Mil. Gue udah sehat lahir batin," kata Putri optimis.

"Ntar kalo misalnya lo pingsan?"

"Ntar lo minta Kak Nico ajaaa, biar Kak Nico yang ngangkatin guee,hehee.."

"Yeuuuh, itu mah lo yang mau, Put." Kata Milka. Putri hanya nyengir-nyengir gak jelas.

Nico dan Aji pun menghampiri mereka berdua.

"Putri, Milka, ayo siap-siap." Ajak Aji. Nico yang melirik kearah Putri,
melihat Putri sedang melambai-lambaikan tangannya pada Nico. Ingin sekali
Nico jedotin kepalanya ke pohon duren.

"Sekarang giliran kelompok 4, Aji bawa tuh anak-anak buah lo," suruh Marco.

Nico, Aji, Putri dan Milka memulai perjalanannya. Aji sebagai ketua kelompok, dia yang memegang kertas petunjuknya.

"Jalan ke utara temukan petunjuk yang ditempel di sebuah pohon besar," kata Aji.

"Utara kemana?" Tanya Milka.

"KESANA!!!" Teriak Nico dan Putri bersamaan dengan arah tangan yang
berbeda, Nico kekiri, Putri kekanan. Aji dan Milka hanya mengangkat alis.

"KESANAAA!!!" Teriak mereka lagi, dengan arah yang masih berbeda, Nico kekanan, Putri kekiri. Gak ada ketemu-ketemunya.

"O,iya gue lupa, gue kan bawa kompas." kata Milka sambil mengeluarkan kompas dari saku jaketnya.

"Kalo gitu ngapain lo tanya, Mil??" tanya Nico sambil melengos. Milka hanya nyengir,

"Oooh, utara kesana," kata Aji sambil menunjuk kearah depan mereka.
Mereka pun mengikuti Aji yang berjalan di depan. Mereka sampai di
depan pohon besar yang ditempelkan sebuah petunjuk.

"Jalan ke kanan, lewati kebun teh, temui seorang petani yang membawa petunjuk jalan." kata Aji.

"Yaelah, ribet amat dah," kata Nico.

"Yang penting kita bisa bareng, Kak!" kata Putri.

"Weiissh, jauh-jauh lo dari guee!!" Kata Nico sambil menghindar dari Putri.

"Put, baek-baek lo, jangan kayak orang sedeng gitu dong!" Seru Milka sambil memakan snacknya.

"Lo bawa dari Villa?" Tanya Aji. Milka mengangguk.

"Abis, pasti kan kalo jelajah kayak gini bakal ngebosenin, jadinya gue
bawa snack dari Villa, lagian gue juga laper, hehee.." kata Milka
sambil mengunyah snacknya sampai muncrat-muncrat.

"Mil, biasa aja ngunyahnya dong! Muncrat kemana-mana tauu!!" Seru Putri sambil membersihkan mukanya.

"Sori, Put!!" Seru Milka. Kunyahan Milka pun muncrat kearah Nico dan Aji.

"Jorok banget sih lu, Mil!!" Seru Nico.

"Heheee..maaf, Kak.."

"Stop! Jangan ngomong dulu kalo kunyahan lo belom abis!!" Kata Nico.

"Ooh berarti selama ini, yang bikin snack cepet abis di Villa tuh elo, Mil??" Tanya Aji.

Milka hanya nyengir dan mengangguk.

"Pantesan cepet banget abisnya, maruk banget lo!" Kata Nico.

"Udah ah, ayo jalan!"

Mereka berjalan menyusuri kebun teh yang luas, mereka mencari-cari
petani yang membawa petunjuk. Nico, Aji, Putri, dan Milka bertanya
kepada setiap petani yang mereka temui, tapi hasilnya nihil. Sudah
setengah jam mereka bertanya ke beberapa petani yang ada disana tapi
tak ada satupun yang membawa petunjuk.

"Adduuhh, gue capeek," keluh Milka.

"Sama gue juga!" Kata Aji sambil mengelap keringat dengan saputangannya.

"Kak Nico, gue capeek," keluh Putri.

"Ngapain lo ngomong sama gue!? Gue bukan emak lo!" Seru Nico.

Milka membenarkan kunciran rambutnya yang mulai berantakan, tapi
matanya tertuju kepada seorang petani yang berusia sekitar 50an sedang
duduk di sebuah gardu kecil tempat Aji mengobati lukanya.

"Bu Marni??" Tanya Milka. Aji, Putri dan Nico sontak menoleh kearah Milka. Milka menghampiri petani tersebut.

"Bu Marni juga jadi petani??" Tanya Milka.

"Iya, Neng Milka, soalnya gorengannya udah abis terjual, Neng." kata Bu Marni.

"Ibu, punya petunjuk dari OSIS?" Tanya Milka. Bu Marni pun mengeluarkan
sebuah amplop dari kantongnya. Ia memberikannya pada Milka.

"Makasih, ya Bu!" Kata Milka. Milka membawa amplopnya ke Putri, Nico dan Aji. Aji membuka amplopnya.

"Sebelum memulai perjalanan, kalian harus menemukan sebuah keranjang
yang berada di sekitar kebun teh, itu adalah petunjuk jalan yang
sebenarnya." kata Aji yang membacakan petunjuk tersebut.

"Ajegilee!! Kebon teh kan luas gini! Gimana cari keranjangnya??" Keluh Nico.

"Bisanya ngeluh mulu lu, Co!" Kata Aji.

"Yaudah deh, sekarang berpencar aja," kata Milka.

Mereka berpencar mencari keranjang tersebut, ada nyari di bawah tanaman teh, nyari di sela-sela pohon, dan ditempat yang lain.

Aji..

"Aduuh, dimana siih keranjangnya?" Keluh Aji yang masih mencari-cari
letak keranjang tersebut. Aji mencrai di sela-sela teh tersebut.

Tiba-tiba Aji merasa bahwa Aji diliatin dari tadi. Dan memang benar
daritadi Aji diliatin oleh sekumpulan gadis-gadis desa yang sedang
bergosip sambil melirik-lirik Aji yang sedang mencari keranjang.
Aji pun bisa mendengar suara mereka.

"Eleuh-eleuh meni kasep pisan, nya.."

"Kayak Bondan Prakoso tuh!"

"Cocok teu sama abdi??"

Aji bergidik ngeri melihat mereka.

'Tenang, Ji. Mereka gak bakal ngapa-ngapain lo.' pikir Aji. Aji
tetap mencari keranjang tersebut, tapi tiba-tiba bahunya dicolek. Aji
terkejut dan mendapati 3 orang cewek di depannya sedang tersenyum. Muka
Aji pun pucat, mereka mulai mendekat.

"Namina teh saha?" Tanya cewek 1.

"Eleuh-eleuh, kasep pisaaann..!" Seru cewek 2 gemes.

"Boleh di cubit teu pipina??" Tanya cewek 3.

'Buseet! Cewek desa lebih ganas daripada cewek kota! Bisa mati gue
disini! Ih, baru liat apa cowok ganteng, pas ngeliat gue pada mupeng
gitu!' Batin Aji sambil berusaha menjauh dari 3 cewek itu.

"Aduuuh, kok malah jauh pisan sih dari kita, sinii doong!" Kata Cewek 1.

Saking takutnya Aji langsung kabur, dari mereka. Tapi 3 cewek nekat itu mencoba mengejarnya.


Putri...

"Diatas pohon gak ada, di bawah pohon gak ada, di belakang pohon gak
ada, di depan pohon gak ada, di samping pohon gak ada," Putri masih
mencari-cari keranjang tersebut di tempat yang sama, di pohon yang sama
(ya, mana ketemuu!!).

"Ya, ampuuun dimana siih!?" Keluh Putri. Pandangan Putri tertuju pada
seorang Ibu-ibu dengan penampilan yang sangat berantakan, rambut
acak-acakan, melihat kearah Putri sambil tersenyum tapi senyuman yang
cukup mencurigakan.

"Waduh, perasaan gue gak enak nih, ah gue jalan aja ketempat yang
laen." Putri berjalan menyusuri jalan setapak disamping kebun teh.
Sesekali Putri menoleh kebelakang, Ibu-ibu itu terus mengikuti Putri. Muka
Putri semakin pucat. Putri memepercepat langkahnya, dan Ibu itu juga
mempercepat langkahnya.

"Huaaaa, gue mulai paniik!" Gumam Putri. Putri mulai berlari, tapi Ibu itu juga berlari, dan tiba-tiba Ibu itu teriak.

"Sitiii!! Ulah kabur ti Emaaak!!" Teriak Ibu itu. (ada yang tau artinyaa? =p)

"Huaaaa!!! Saya bukaaan Sitiii!!" Teriak Putri. Ternyata yang ngikutin Putri adalah orang gila. Sabar ya, Put.

"Maneh teh Sitiiii!!! Maneh teh pasti poho ka Emak!!" Teriak Ibu gila itu.

"Huaaaaahh!!! Saya bukan Sitiii!! Saya Putri!! Veronika Putriii!!! Kak Nicooooo!!!" Teriak Putri sambil memanggil nama Nico.

Putri pun masih berjuang untuk lepas dari orang gila yang kurang waras itu.


Nico...

Nico mencari di sekitar kebun teh bawah, sama seperti yang lain Nico juga masih belum menemukan keranjang tersebut.

"Emang ya, bener-bener anak-anak kelas XII, naronya dimana sih!?
Jangan-jangan kagak ditaro dikebon, malah dibawa sama mereka." Gerutu
Nico.

Nico mencari di sekeliling kebun tapi tak di temukan, Nico mulai putus
asa dan ia memilih untuk duduk di bangku yang tak jauh dari kebun teh,
Nico mengambil sebotol air mineral dari tasnya dan meminumnya, kemudian
pandangannya mengarah pada sebuah keranjang kecil di bawah pohon. Nico
celingak-celinguk, tak ada orang sama sekali. Nicopun menghampiri
keranjang tersebut dan membawanya kebangku.

"Wah, banyak daon tehnya, apa gue cari di bawah keranjangnya?" Nico pun
mengacak-acak isi keranjang tersebut, sehingga daun teh yang ada di
dalam keranjang berjatuhan. Tiba-tiba ada yang berteriak.

"Keranjang daun tehnya ilaaang!!" Teriak seorang petani.

"Yang bener??"

"Iyaaa!!"

Nico yang mendengarnya pun menelan ludah, pandangannya pun tertuju pada keranjang yang ia pegang.

"Jangan-jangan.."

"Eta!!! Eta keranjangnna!!!" teriak salah seorang petani. Semua mata tertuju pada Nico. Nico mulai mengeluarkan keringat dingin.

"Ayaaaa maliiingg!!!"

"Eh, tunggu! Saya bukan maliingg!!" Nico pun di kerubungi oleh para petani, banyak yang menggebukinnya (malang nian nasibmu!).

"Euh, rasaiin biar nyaho maneh teh!!" Seru Ibu-ibu sambil memukulnya dengan topi capingnya.

"Aduuuh, saya bukan maling!!!" Teriak Nico.

"Mana ada maling teh ngakuu!!" Teriak Bapak-bapak.

"Yang bener aja, orang ganteng kayak gini dibilang maliing!!"

Nico pun terbebas dari para petani yang kurang waras itu, dan memilih untuk kabur, dari mereka.


Milka..

Milka masih mencari-cari keranjang keramat tersebut, Milka mulai
kelelahan, ia duduk di bawah pohon, dan mengibas-ngibaskan tangannya.

"Kak Milka??" Seseorang memanggilnya.

"Osa??" Milka beranjak dari duduknya.

"Kak Milka ngapain disini?" Tanya Osa.

"Hehee..Kak Milka lagi nyari keranjang yang ada petunjuknya, daritadi gak ketemu," keluh Milka.

"Maksud Kak Milka ini?" Osa menunjukkan sebuah keranjang yang baru saja
ia temukan dan keranjang itu berisi amplop-amplop bertanda OSIS. Milka
terbelalak.

"Ya, ampuun, ternyata sama kamu, Sa! Kamu ketemu di mana?"

"Osa ketemu di sana tuh, dikira Osa ini gak ada yang punya, jadi Osa ambil aja," jawab Osa singkat.

"Jangan Osa ambil yaa, keranjang ini penting banget, ayo kita taro di
tempat semula," ajak Milka. Osa mengangguk. Milka menggandeng tangan
Osa.

"Osa makasih yaaa! Udah bantuin Kak Milka," Milka mengacak-acak rambut Osa. Osapun tersenyum.

"Sama-sama Kakak Cantik! Osa balik dulu ya, Kak!" Pamit Osa. Milka melambai-lambaikan tangannya pada Osa.

Kemudian Putri, Aji, dan Nico pun datang sambil berlari. Milka terheran-heran melihat mereka bertiga yang seperti dikejar setan.

"Lo bertiga kenapa?" Tanya Milka.

"Gila! Gue dikejar cewek-cewek yang rada gila!" Kata Aji.

"KaJi, masih mending elo! Gue dikejar orang gila beneraan!!" Seru Putri.

"Gue di kejar satu kampuung!!" Kata Nico.

"Ahahahaaa..kasian banget sih lo bertiga, nih gue udah dapet petunjuknya!" Kata Milka sambil menunjukkan sebuah amplop.

"Hah, bacain, Mil!" Suruh Aji. Milka membuka amplopnya.

"Pergilah menuju jembatang, dan sebrangi jembatannya, di ujung jembatan kalian dapat menemukan petunjuk baru!" kata Milka.

"Cabut, udah mau sore nih!" Ajak Nico. Mereka pun pergi menuju jembatan.
·         ***
·         Akhirnya mereka sampai di sebuah jembatan kecil yang terbuat dari bambu dan tidak ada pegangannya. Dibawah jembatan itu adalah sungai beraliran kencang. Putri yang
melihatnya pun gemeteran. Milka, Aji, dan Nico pun sudah berada di
jembatan tersebut.

"Putri! Ayo!!" Seru Milka.

"Putri! Cepetan!" Seru Aji. Putri menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lo kenapa??" Tanya Milka.

"Gue takut, Mil!!" Seru Putri.

Nicopun melengos melihat Putri yang sangat ketakutan, akhirnya ia balik
kearah Putri dan menggenggam tangan Putri. Jantung Putri pun berdegup
kencang, Nico tak pernah menggenggam tangan Putri, dideketin aja ogah.
Muka Putri pun memerah. Nico tak berkata apa-apa selama di jembatan.
Karena digenggam Nico, rasa takut Putri pun hilang, genggaman tangan Nico
memberikan Putri kekuatan untuk menghilangkan rasa takutnya. Kemudian
sampailah mereka di ujung jembatan tersebut.

"Nah, ni dia petunjuknya!" kata Aji sambil membuka amplopnya.
Tiba-tiba Milka menyolek-colek lengan Aji. Aji dan Milka melihat
kearah Nico dan Putri. Mereka menahan tawa.

"Kenapa lo pada ngeliatin gue?" Tanya Nico.

"Woelah, Co..nyantai.." kata Aji.

"Kak Nico, udah kali megangin tangan Putri, Putri juga gak bakal kabur kok,hehee.." celetuk Milka.

Nico dan Putri terbelalak, mereka melihat tangannya, dan kemudian mereka melepas tangan mereka. Muka Nico dan Putri pun memerah.

"Jalanlah menuju hutan, disana akan ada arah petunjuk yang akan membawa kalian ke Villa, jangan sampai nyasar," kata Aji.

"Akhirnya ke Villa juga.." ujar Milka lega.

Mereka mulai memasuki kawasan hutan, hutannya dipenuhi pohon-pohon besar dan tanaman merambat.

"Aduuuh, rambut gue nyangkut!" Rambut Milka tersangkut di dahan pohon.
Aji pun membantu Milka melepaskan rambutnya. Muka Milka memerah,
karena baru kali ini Aji berada di dekatnya.

"Udah, Mil.." kata Aji.

"Euhm...makasih ya Kak.." kata Milka menunduk malu. Aji pun salting.

"Yuk, jalan lagi," kata Aji.

Sementara itu Nico dan Putri yang berada jauh di belakang Milka dan Aji..

"Huah!!Huah!! Ada yang narik gue! Kak Nicooo!!" Seru Putri panik. Nico
menoleh kebelakang dan kemudian menghela napas melihat tingkah laku
Putri.

"Putri, itu cuma dahan pohon! Jaket lo kesangkut!" Kata Nico sambil melepas sangkutan dahan pohon dari jaket Putri.

"Hehheeee.." Putri nyengir. Putri pun berjalan di belakang Nico. Tiba-tiba..

BRUKKK!!!

Otomatis begitu mendengar suara itu, Nico langsung menoleh kebelakang. Putri terjatuh, Nico pun berlari kearah Putri.

"Put, lo gak papa kan?" Tanya Nico khawatir.

"Kaki gue terkilir, Kak..sakit.." ujar Putri lirih. Nico membuka sepatu
Putri dan melihat pergelangan kaki Putri yang terkilir. Putri pun menangis.

"Jangan nangis napah!? Lo udah gede, Put!!" Seru Nico.

"Maaf ya, Kak. Gara-gara gue, lo jadi repot terus, maaf.." gumam Putri
sambil sesenggukan. Nico hanya menghela napas. Nico yang tak tega melihat
Putri menangis, mulai menghapus air mata Putri yang jatuh di pipinya.

"Udah, Put jangan nangis, gue..gue..gak mau liat lo nangis.." Kata Nico sambil mengelus pipi Putri.

"Gue...gue..suka sama lo, Put..." gumam Nico tanpa sadar. Putri pun terbelalak.

"Hah? Gue ngomong apaan??" Tanya Nico yang mulai sadarpun gelagapan.

"Lo suka sama gue, Kak??" Tanya Putri tak percaya.

Nico pun panik, tak tahu harus ngomong apa, mukanya pucat.

'Aduuuh bego lu, Co!!! Kok bisa sih gue keceplosan!! Gue pengen harakiri disini!! Daripada nahan malu gue!!' Pikir Nico.

"Lo beneran suka sama gue??"

"Maksudnya sukaa..sebagai..temen..ya! Sebagai temen!" Jawab Nico.

Putri pun menghela napas dan memasang wajah kecewa.

"Gue kira lo udah kecantol ama gue, Kak.." kata Putri.

"Hha? Kecantol?? Gak bakalan, Put!!" Seru Nico.

"Liat aja nanti, lo bakal klepek-klepek sama gue!"Kata Putri.

"Gue bilang gak bakal!" kata Nico.

"Bisa jalan gak lo?" Tanya Nico. Putri menggeleng.

Nico jongkok membelakangi Putri. Putri pun tersenyum, Putri memegang pundak Nico dan Nico pun menggendongnya.

"Kak Nico.." Panggil Putri.

"Hm?"

"Lo suka kan sama guee?"

"Suka sebagai temen!!" Sanggah Nico.

"Aaaah, bohoong!!" Kata Putri tak percaya.

"Gue turunin nih!" Ancam Nico.

"Yaaaah, jangan doong!"

"Makanya jangan ngomong yang nggak-nggak!" Keluh Nico.

Mereka pun berjalan menyusuri hutan menuju Villa karena semua orang sudah menunggu mereka berdua termasuk Milka dan Aji.
·         ***
·         Semester 2 pun dimulai, semua murid SMA Citra Bangsa mulai berdatangan ke sekolah (diloncat supaya gak kelamaan heheee ceritanya anak OSIS
udah pada pulang  =p). Seperti biasa Milka datang lebih
paling awal. Kemudian ia mendapati sebuah surat, foto, tapi tak ada
mawar putih. Padahal yang paling ditunggu-tunggu Milka adalah mawar
putihnya.

Hei, Milka Emilia

Akhirnya aku bisa ngeliat kamu lagi di sekolah, keep smile yaa, cantiiik :))


NB: O,iya maaf aku gak bisa ngasih mawar putihnya, pas nyari di tukang langganan abis katanya, hehee..besok aja yaa..

A



Milka tertawa ngakak begitu membaca surat dari seseorang berinisial A tersebut.

"Dikira gue nanem sendiri, gataunya beli juga di abang-abang, hahaa.."
kata Milka. Kemudian ia memandang foto dirinya. Mata Milka terbelalak,
itu adalah foto saat Milka berada di Puncak bersama anak-anak OSIS.
Saat Milka tertidur menjaga Putri yang sedang sakit,

"Berarti dia anak OSIS juga??" Gumam Milka. Milka memutar otaknya,
pikirannya tertuju pada si waketos SMA Citra Bangsa tersebut, Aji.
Aji yang selalu berada di dekatnya, dia yang selalu membawa kamera
analognya kemana-kemana. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, gak cuma Aji,
yang lain juga banyak yang selalu membawa kamera.

"Aaah gak mungkin Kak Aji.." Milka menggeleng-geleng kepala, dan langsung memasukkan suratnya ke dalam tas.
·         ***
·         Mata Putri langsung berbinar-binar begitu melihat Nico, Marco, Kevin, dan Aji sedang bermain basket di lapangan. Putri menarik napas dan kemudian..

"KAK NICOOOOOO!!!!!" Teriak Putri yang menggema di seluruh kawasan
sekolah, Nico, Kevin, Marco dan Aji yang mendengar teriakkan Putri
langsung menutup kupingnya.

"Suara lo, Put!! Melebihi toa sekolaah!!!" Teriak Kevin.

"Kuping gue budek nih!" Seru Nico.

"Eh, denger gak??" Tanya Aji.

"Denger apaan?" Tanya Marco balik.

"Denger suara orang-orang lari kearah lapangan, kayak mau nyerbu nih lapangan, Mar!" Kata Aji.

"Perasaan gue udah gak enak, nih, Ji.."kata Nico menelan ludah.

Mata Nico tertuju pada arah utara, Aji kearah timur, Kevin kearah
selatan, dan Marco kearah barat, segerombolan cewek-cewek yang muncul
dari 4 penjuru mata angin (lebay banget -,-) langsung menyerbu lapangan
karena melihat Nico, Kevin, Marco, dan Aji, the most perfect guy di
Citra Bangsa yang tidak mereka pandang selama liburan semester 1. (ajib
banget fansnya mereka T.T)

"NICOOOO!!!!"

"MARCOOOO!!"

"AJII!!"

"KEVIN!!!!"

Mereka berempat ingin segera kabur dari lapangan, tapi terlambat,
mereka sudah tenggelam di dalam lautan cewek-cewek ganas Citra Bangsa.

"Aduuuh, Nicooo tambah maniiiss!!"

"Aji Cakeeepp iih!!"

"Marco kereeenn!!"

"Kevin tambah lucuu deeh! Gemeeess!!"

Cewek-cewek ganas tersebut melakukan hal yang semena-mena pada mereka (-,-).

"Huwaaaa!!! Toloong guee!!" Teriak Nico.

"Mamaaaa toloong Marcoo!!!" Teriak Marco.

"Tuhaaan!!! Ampuni sayaaa!!" Teriak Aji.

"Eh, eh jangan dipegang lama-lama rambut guee!! 2 jam nih gue tata!!" Teriak Kevin.


Putri hanya cengo melihat kerusuhan yang terjadi di lapangan yang
menimbulkan korban berjumlah 4 orang (kok kayak berita?). Kemudian bahu
Putri disenggol oleh Milka.

"Ada apaan tuh?" Tanya Milka.

"Fans mereka semakin ganas, apalagi NICE," kata Putri.

"Selamet kagak tuh mereka?" Tanya Milka.

"Gue harus turun tangaaan!!!" Putri melemparkan tasnya pada Putri dan masuk ke kerumunan fans Nico.

"Milka, doain gueee!! Supaya gue gak mati gara-gara keganasan mereka!!" Teriak Putri.

"Gue doain, Put!! Hati-hati dijalan yaa!!" Kata Milka sambil menonton kerusuhan tersebut.

Putri mencoba masuk kedalam kerumunan tersebut, tapi maklum karena badan
Putri yang terlalu kecil, badannya di gencet sama fans-fans Nico yang
berbadan lebih besar. Putri pun sampai jatuh.

"Heuuh, bener-bener!" Putri pun menarik lengan baju seragamnya dan
berusaha sekuat tenaga untuk masuk kedalam kerumunan cewek-cewek gila
yang kurang waras (??). Akhirnya sampailah Putri ditengah-tengah
kerumunan.

"Put, tolongin gueee!!!" Teriak Nico.

"Woooiii!!!! Minggir!!!!" Teriak Putri, tapi cewek-cewek itu masih tetap
genit, centil, gila, sama Nico. Ada yang nyubitin pipi Nico, ada yang
narik baju Nico dll. Kemudian otak Putri pun jalan, maksudnya bukan
jalan-jalan, maksudnya ada ide.

"Heeiiii!!! Semuanyaaa!!! Liat tuuh ada Vincentius Nicolas lagi manjat pohon
jambu di depan gerbaaaangg!!!" Teriak Putri. (masih inget part 1 yang Nico
ngibulin Putri??).

"Hah? Di depan gerbang?? Ayo!!!" Semua cewek fansnya Nico langsung kabur kearah gerbang.

"Dasar cewek-cewek bego!!" Kata Putri sambil tertawa.

"Sama kayak lo, pas gue ngibulin lo, lo juga kena tipu ama guee!" Kata Nico. Putri manyun.

"Gue khilaf tauk!!" Seru Putri.

TEEEEEETTT...bel masuk berbunyi, semua cewek-cewek dengan muka kecewa akhirnya pada pergi ke kelas masing-masing.

"Put, tas lo nih! Bawa apaan sih lo? Berat banget!" Seru Milka sambil memberikan tas Putri pada pemiliknya.

"Bawa dosa dia!!" Celetuk Nico.

"Ngapain dosa lu bawa-bawa, Put?" Tanya Milka polos.

"Mau gue bagi ke elo!" Kata Putri. Milka mencibir. Kemudian Marco, Kevin, dan Aji datang dengan muka acak-acakan (??).

"Buset! Kenapa lo? Udah kayak kena angin puting beliung lo bertiga!" Kata Nico.

"Yaaahh, tuh kan rambuut guee!! Ji, minta gel rambut dong!" Kata Kevin.

"Iiihh, beli sono diwarung! Ngapain juga gue bawa ke sekolah, yang ada langsung abis ama lo!" Kata Aji.

"Mar, minta dong!"

"Eh, ngapain gue pake gel? Gak pake aja gue udah ganteng, apalagi pake gel? Melebihi elo kali Vin!"

"Co, lo punya gak?"

"Nggak!" Jawab Nico singkat.

"Put, punya gak?" Marco, Nico, Aji, Milka dan Putri terbelalak.

"Dih bego lu Vin!! Putri kan cewek!!" Kata Marco. Kemudian mata Kevin
tertuju pada Anin yang sedang berjalan sendirian menuju kelasnya.

"Ninn.." Panggil Kevin.

"Kenapa lo? Udah kayak kena bencana alam lo, Vin.."

"Gue diserbu sama cewek-cewek, o,iya ngomong-ngomong lo punya gel gak??" Tanya Kevin. Anin terbelalak.

"Pasti punya kaaan??" tanya Kevin. Anin melotot pada Kevin.

"Oooh lo pikir selama ini gue cowok, haaah??" Tanya Anin sambil memukul-mukul buku biologi yang super duper tebal.

"A..a..bukannya gitu, Nin..lo kan tomboy, gue pikir lo pasti pake gel,
rambut lo bagus gitu, lo bukan cowok, tapi..kayak cowok.." kata Kevin
nyengir.

GEDEBUUUG!!!

Muka Kevin ditimpuk dengan buku Biologi yang super duper tebal.

"Ngomong tuh ama buku!!!" Anin langsung meninggalkan Kevin. Tapi begitu
sadar buku Biologinya ada di Kevin. Anin langsung berbalik dan
mengambil buku Biologinya dari tangan Kevin.

"Yaaahh..tuh kaan salah ngomong guee.." kata Kevin. Kemudian Marco menepuk pundak Kevin.

"Hancur hancur hancur hatikuu..hancur hancur hancur hatikuu..hancur
hancur hancur hatikuu..hatikuu hancuuurr.." Marco menyanyikan lagu
Olga, dengan Aji dan Nico sebagai backing vokal, Milka dan Putri
sebagai model video klip(??).

"Huaaaa...berisiiik lo padaaaa!!!" Kevin langsung kabur ninggalin mereka.

"Eh, Put ngomong-ngomong ntar sahabat gue bakal sekolah di sini kelas X." kata Marco.

"Yang bener, Kak? X berapa?"

"Katanya X-3 berarti bareng lo berdua kan?" Tanya Marco.

"Eh, bener juga tuuh, kita Kekelas dulu yaa!!" Pamit Putri. Putri dan Milka
pergi menuju kelasnya. Aji masih sibuk memandang Milka yang sedang
berlari bersama Putri. Begitupun Nico, tapi dia cuma sesekali doang, takut
ketauan Marco (pengen gue timpuk lama-lama si Nico! Jaim bangeeett!!
*ditimpuk balik sama NICE*)

"Woelah, takut banget lo Milka ilang hehee.." celetuk Nico.

"Emang lo nggak, Co? Lo daritadi ngeliatin Putri teruusss!!" Teriak Aji
tapi langsung di bekep sama Nico. Marco pun menoleh kearah mereka. Nico
hanya nyengir.

"Hah? Nico ngeliatin siapa??" Tanya Marco.

"Gue..guee..guee.." Pandangan Nico tertuju pada Bu Valent yang sedang berjalan menuju area kelas X.

"Gue ngeliatin Bu Valent!!!" Seru Nico. Marco dan Aji cengo.

"Hah? Bu Valent?? Lo gak sakit kaaan?" Tanya Marco.

"Nico udah gak waras, Mar!!" Seru Aji, tapi kemudian mulutnya di bekep lagi. Nico cuma nyengir.

"Tunggu, kayaknya ada yang disembunyiin sama lo berdua deeh.." tuduh Marco.

"Ntar aja gue ceritain di kantin!" Kata Aji.

"Aji!"

"Kenapa? Lo maluu??"

"Eh gue kayaknya dipanggil sama Pelatih, hehee..gue cabut duluaan!!" Nico langsung kabur dari Marco dan Aji.

"Kapan dipanggilnya??" Tanya Marco.

"Dodol, dia cuma boong doang supaya bisa kabuur!!"

"Apaan sih yang diumpetin??"

"Ntar gue ceritain." kata Aji.
·         ***
·         "Aduuhh..sialan tuh si blangsak! pake ngebocorin lagi ke Marco, muka gue taro dimana niih!!" Gumam Nico. Kemudian ia mulai berlari
menuju kelas dan tiba-tiba..

BRUUKKK..

Nico menabrak seorang cewek, cewek itu terjatuh dan buku-buku barunya berserakan.

"Ah, sori banget! Gue gak sengaja!" Kata Nico sambil membantu cewek itu berdiri dan membereskan bukunya.

"Eng..enggak papa kok, makasih ya," kata cewek itu.

"Sori gue duluaan!!" Nico segera berlari Kekelasnya. Cewek itu tetap memandang Nico yang sedang berlari.

"Senyumnya manis bangeet, siapa ya namanyaa??" Tanya cewek itu.
·         ***
·        
·         Kelas X-3 yang tadinya riuh menjadi sunyi karena Bu Winda datang sambil membawa penggaris kayu dan beberapa berkas.

"Anak-anak kita kedatangan anak baru pindahan dari Bandung," kata Bu Winda.

Beberapa anak-anak cowok berdiri dari bangkunya untuk melihat kearah jendela.

"Subhanallah.." puji Setio.

"Yaa..Tuhaann..ada bidadari jatuh dari langiit!!" Seru Gelbert.

"Mil, ganteng kan guee??" Tanya Georgi pada Milka. Milka menahan ketawa.

"Hah? Berasa ganteng lu? Liat tuh di mulut lo masih ada nasi
belepotan!" Teriak Milka. Semua anak tertawa terbahak-bahak terutama
Grace yang suaranya 2 kali lipat lebih kencang dari pada anak-anak yang
lain. Sion jadi malu setengah mampus.

"Baek-baek lo, Nov! Lo ketawa, langsung tsunami nih pulau Jawa!" Seru Georgi.

"Paan maksud lo, Gor!!" Teriak Grace yang menggema seluruh isi kelas.

"Bang Ardiiii!!! Belain Grace!!" Rengek Grace, tapi saat Grace melirik
Ardi, ternyata Ardi juga mulai terpesona pada gadis yang berada di
depan pintu itu.

"Ondemande..geulis pisaan euy!" (dari padang ke sunda??) seru Ardi. Grace pun mengeluarkan aura neraka.

"ARDIIIIIII!!!!" Teriak Grace sambil menjewer kuping Ardi. Semua
anak-anak menutup kupingnya sampai-sampaei gambar pahlawan yang ada di
kelas pada jatoh semua.

"Adududuuduuh..sakiit..udah yaa Grace cantiiik..maafin Bang Ardi doong, Bang Ardi khilaf.." mohon Ardi.

"Udah,udah jangan berisik! Grace! Ardi! Jangan berantem, berantemnya
di pengadilan negeri aja!! Christin silahkan masuk!" Suruh Bu Winda.

Seorang gadis cantik, berpostur tinggi, rambut ikal, kulit putih,
hidung mancung, dengan angin semilir berhembus mengibaskan rambutnya
yang halus, memasuki ruang kelas. Kelas yang tadinya seperti neraka,
panas luar biasa, menjadi surga yang sejuk adem yang didatangi oleh
seorang bidadari. (alay banget bahasanya XD).

"Nama saya Christina Hermawan, kalian boleh panggil saya Christin.." kalimat Christin terhenti begitu semua cowok menyapa Christin.

"Haiii..Christinaa...." Sapa semua cowok bagaikan paduan suara.

"Kalian juga boleh panggil saya cantik..hehee.." kalimat Christin kembali terhenti.

"Haiii...cantiiikk.."

"Ah maaf, saya cuma bercanda, jangan dimasukkin ke hati, masukkin aja ke kantong, hehee.."

"Serius juga gak papa kok, cantik eh, salah Chris..hehee.." kata Ardi, tapi kemudian dipelototin sama Grace.

"Christin kamu duduk di sebelah Milka yaa..di depan gadis cantik berambut panjang itu.." kata Bu Winda menunjuk kearah Milka.

"Ya, ampuun Bu..jangan mujii gituu..Milka jadi maluu.." kata Milka.

"Yang mana, Bu?"

"Itu yang kulitnya putih kayak sadako,"kata Bu Winda.

"Yaaah, ujung-ujungnya nyindir jugaa!!" Gerutu Milka. Putri hanya tertawa.

"Hei, nama gue Putri."

"Christin."

"Gue Milka."

"Christin."

"Lo sahabatnya Kak Marco ya?" Tanya Putri.

"Kok lo tahu?"

"Hehee..gue dikasih tau Kak Marco tadi, ntar kita kekantin bareng aja," kata Putri.

"Oke,"
·         ***
·         "Fin, mau ikut gak?" Tanya Milka.

"Nggak ah, gue mau ngerjain tugas mulia dulu!"

"Tugas mulia? Apaan?"

"Moto-motoin Kak Evan, hehee.."

"Huoo..fanatik banget lo sama Kak Evan!!" Kata Putri.

"Emang lo nggak?"

"Hehee..iya juga sih,"

"Gue tinggal dulu yaa!!" Fifin langsung kabur entah kemana.

"Cok, kekantin!" Ajak Milka.
·         ***
·         "Ooooh jadii Nicoo suka sama Putriiii???" Teriak Marco. Tiba-tiba mulutnya di bekep sama Nico.

"Biasa aja dong, teriaknya!!" Kata Aji.

"Beneran lu, Co?" Tanya Kevin sambil nyomot chitato Nico. Kemudian kepala Kevin di timpuk sendok sama Nico. (sadiiiss)

"Sompret lo! Dibilangin jangan nyomot chitato gue!!!" Seru Nico sambil merampas chitato miliknya.

"Awas lo pada ngebocorin! Gue bakal semena-mena sama lo berdua!" Ancam Nico yang kemudian meminum es jeruknya.

"Eh Co tuh Putri!" Kata Aji. Nico langsung menyembur kearah Aji begitu mendengar nama "Putri".

"Iuuuuhhh.." Seru Kevin dengan memasang tampang jijik.

"Paraaahh.." kata Marco.

"Elo, Co!!! Sedeng loo!!" Seru Aji sambil mengelap mukanya dengan tisuue.

"Khilaf gue, Ji!" Seru Nico.

"Kak Nicooo!!!" Panggil Putri yang langsung duduk di deket Nico.

"Vin, geser dong!!" bisik Nico.

"Widiiih siapa tuhh, cantik bangeet.." kata Kevin takjub.

"Eiit, berani-berani lo deketin Christin, gue tendang lo!" Ancam Marco.

"Vin, geseeerr!!!" Teriak Nico.

"Apaan sih! Nggak ah!!" Tolak Kevin.

Sementara itu, Milka duduk di samping Aji. Aji pun jadi salting, begitupun Milka.

"Aduuuhh, si cantik sama si ganteng mukanya pada merah semuaa.." goda Kevin.

"Aduuh, meni hareudang pisan di sini," celetuk Marco.

"Berisik lo pada!!" Seru Aji.

"Kok gak ada yang godain gue sama Kak Nico sih, kan kita juga deketan.." kata Putri.

"Ngarep banget lo, Put!!" Kata Milka. Putri mencibir.

Kemudian pandangan Putri tertuju pada seorang gadis yang berada
didepannya yang sedari tadi memandang Nico dengan wajah tersipu-sipu.

·         'Kok Christin mandangin Kak Nico terus sih?' Batin Putri dengan penuh kecurigaan.

"Kak Nico, lo pacaran sama Putri?" Tanya Christin.

Semua yang ada di meja tersebut memandang kearah Christin. Christin masih memasang wajah manisnya.

"Gue gak pacaran kok sama Putri," jawab Nico.

"Kok Putri deket-deketin Kak Nico terus sih? Kak Nico gak risih?? Padahal kan Putri bukan pacar Kak Nico. Kalo gue jadi Kak Nico gue bakal ngejauh deh,
daripada orang-orang salah paham." kata Christin enteng.

Putri yang mendengar kata-kata Christin, merasa sangat sakit hati, Putri pun sampai melempar-lempar BB-nya ke meja.

"Put, berasa kaya lo? Sini deh BB-nya buat gue!" kata Kevin.

"Bacot lu, Kak!" Kata Putri. Kevin pun bergidik ngeri melihat aura Putri yang berubah menjadi aura neraka.

"Gimana Kak Nicoo? Lo gak risih?" Tanya Christin. Putri mulai meremas-remas sendok yang ada di meja.

"Chris, bisa gak sih diem, tau gak sih kalo yang lo omongin malah bikin Putri
sakit hati, kalo Putri mau deket-deket Kak Nico kan terserah dia, Kak Nico
juga gak kenapa-kenapa kok! Kenapa lo yang sewot!" kata Milka nyolot.

"Lho? Kenapa? Gue ngomong kenyataan, kalo gue jadi Kak Nico gue pasti bakal risih," jawab Christin.

"Nih anak-anak lama pengen gue sumpel pake bakso deh!" Seru Milka.

"Sabar, Mil!" Kata Aji.

"Chris, jangan ngomong kayak gitu," kata Marco.

"Kenapa? Gak boleh?" Tanya Christin polos. (kelewat polos!)

Tiba-tiba Putri beranjak dari tempat duduknya dan memandang Christin dengan sinis.

"Chris, gue gak tau urusan lo sama gue apa, tapi sori gue gak terima kata-kata
lo tadi, gue balikin deh kata-kata lo! Kayaknya lo suka sama Kak Nico,
bener kaan? Makanya lo pura-pura polos didepan Kak Nico supaya lo
terkesan manis dan lucuu, padahal lo bermuka dua! Muka lo yang satu
lagi ditaro dimana cantiik?? Di kantong? Di tas??" Sindir Putri yang
mulai kesal dengan Christin. Christin bangun dari tempat duduknya.

"Asiiik tontonan gratiis!!" kata Kevin. Nico saat itu hanya menelan ludah, tak bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali Nico menaruh mukanya di mangkok bakso milik Milka, supaya mukanya gak dilihat oleh banyak orang.

"Kalo gue suka kenapa? Lo mau marah? Nangis??" Balas Christin.

"Eh, sori yaa..gue gak bakal nangis, lo yang bakal nangis 7 hari 7 malem
gara-gara Kak Nico gak suka sama lo..Mana mungkin Kak Nico mau sama cewek
bermuka dua kayak lo! Kak Marco, urusin nih anak, bilangin jangan sok
polos, muak tau gue liatnya!" Seru Putri yang langsung pergi Kekelasnya.

"Ciyeeekaan Nicoo direbutin dua ceweeek.." Celetuk Kevin. Aji menjitak kepala Kevin.

"Bukan saatnya lo ngelawak, Vin!" Kata Aji. Kevin hanya mencibir.

Christin menghentakkan kakinya, karena kesal dengan perkataan Putri. Christin pun pergi meninggalkan kantin.

"Sob, gue nyusul Putri dulu ya!" Kata Nico.

"Mau nyatain cinta yaa?" Celetuk Kevin.

"bawel lu!!" Kata Nico.

'Chris, lo beneran ya suka sama Nico?' Batin Marco.
·         ***
·         Putri masih meremas-remas BB-nya di pekarangan sekolah. masih mengingat kata-kata Christin yang kelewat polos. Kata-kata yang menjatuhkan harga
dirinya di depan Nico.

"Tampang aja Cakep, hati lo busuk juga, Chris!!Iiih amit-amit dah gue temenan ama cewek centil kayak diaa!" Gerutu Putri.

"Kenape lo?" Tanya seseorang. Putri mendongakkan kepalanya keatas. Ternyata Nico yang ada di depannya. Nicopun duduk di sampingnya.

"Kenapa lo disini? Lo khawatir yaa ama guee?? Pasti laaah..Lo kan demen sama guee..hehee.." kata Putri cengengesan.

"Apaan sih lo!?" Kata Nico.

'Kapan ya gue bisa nyatain perasaan gue sama Putri? Putrinya kayak gitu, gue kan jadi takut..' batin Nico.

"Kenapa, Kak? Mikirin guee?" Celetuk Putri.

"Ngarep lo! Ngomong-ngomong lo sebel sama Christin ya?"

"Yaiyalaah!!! Gue kan kesel di omongin kayak gituu!!! Sok innocent banget sih tu orang!?" ketus Putri.

"Gue juga kalo jadi lo, gue juga kesel," kata Nico. Kemudian Putri menatap Nico. Nico pun menjadi salting saat di liatin sama Putri.

"Kak, jujur, lo risih gak sih kalo gue deket-deket sama lo?" tanya Putri.

'Waduuh, gue ngomong apaan nih? Kalo gue ngomong iya, ntar Putri marah-marah gak
jelas, kalo gue ngomong nggak, ntar dia kegirangan lagi..tapi jujur gue
malah seneng,' pikir Nico. (Co, bikin geregetan tau gak!?).

"Kak Nico jawaaabb!!!" Seru Putri.

"Gueee...gueee.."

"Gue apaan??"

"Gueee..."

"Apaan?"

"Gue mules!!! Duluan yaa!" Nico langsung kabur meninggalkan Putri.

"Heuh! Kak Nico susah di tebak nih!!" Gerutu Putri.
·         ***
·         Bel masuk sudah berbunyi, Putri memasang wajah cemberutnya saat Christin datang ke kelas, begitupun Christin, Christin memasang wajah juteknya, sedangkan Milka, memandang Christin dengan
tatapan membunuh kayak mau ngejagal Christin (sadis amat!). Christin pun duduk disamping Fifin, di depan Putri dan Milka.

"Fin, kok lo betah sih duduk di sini?? Gue aja ngerasa panas banget di
sini..hiiihh.." kata Christin memanas-manasi Putri dan Milka. Mereka juga
gak mau kalah.

"Put, kayaknyaaa..emang bener yaa disini panas banget kayak nerakaa!"
Kata Milka sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Christin pun mendengar
dari depan.

"Yaiyalah, ratunya setan ada di depan kitaa!!" Balas Putri. Saking kesalnya Christin langsung berdiri dan menatap Putri sinis.

"Mau lo apa siih!?" Seru Christin.

Tiba-tiba semua anak di X-3 melihat Putri dan Christin berantem, seperti
tontonan gratis, ada yang sambil makan, sambil ngerekam, sambil makan
popcorn berdua sama pacar. (lo kira bioskop!)

"Widiihh kayak di pelem-pelem ya!" Kata Ardi. Di setujui oleh semua anak-anak X-3.

"Mau guee??" Tanya Putri.

"Lo jangan sok innocent di depan orang-orang! Kata-kata lo nyakitin tau
gak! Suatu saat orang-orang bakal tau kebusukan lo, Chris! Bikin orang
keki aja lo!" Kata Putri nyolot.

"Lo tuh ya!!" Teriak Christin sambil menunjuk ke muka Putri. Tangan Christin pun di tepis Milka.

"Lo mau apa? Ngadu sama Kak Marco? Ngadu aja!" Kata Milka.

"Awas lo, ya! Gue yakin Kak Nico bakal lebih milih gue dari pada Veronika Putri
yang kegatelan gak jelas kayak kekurangan obat gatel!" Ancam
Christin.

"Eh,eh nyadar diri dong! Gue gatel lo apaa?? Bentol?? Bentol kan bikin
keki orang mulu!" Kata Putri sambil ketawa begitu melihat muka Christin
yang panas. Christin pun langsung pergi keluar dari kelas.

"Yaaahh, kabuur!!Gak seru aaahh!!" Kata Putri.


Yak 1-0 buat Putri (??)
·         ***
·        
·         "Kak Nicooo!!!" Panggil Putri. Putri pun langsung memeluk lengan Nico.

"Iiih..ih apaan lo! Lepasin lengan guee!!" Kata Nico.

"Ntar kerumah gue kaann??" Tanya Putri sambil memain-mainkan alisnya.

"Gue mau ngajarin Sony! Bukan lo! Lepasin lengan guee!!" Kata Nico, tapi tiba-tiba lengan satunya di peluk juga sama Christin.Christin memasang senyum manisnya di depan Nico.

"Eh, bentol! Ngapain lo ikut-ikutan??" Tanya Putri.

"Bentol, bentol..elu gatel! Terserah guee!!" Balas Christin.

"Kak Nico duduk di bawah pohon aja yuk! lebih romantis!" Ajak Putri sambil menarik lengan kanan Nico.

"Di sana aja Kak Nico! Disana gak ada uletnya!" Ajak Christin sambil menarik lengan kiri Nico.

"Iiihh!! lepasiin tangan Kak Nicoo!!" Seru Putri.

"Elo yang lepasiin!!" Ujar Christin.

Christin dan Putri bertengkar di depan Nico, sedangkan Nico gak bisa berbuat
apa-apa. Kevin, Aji, Marco dan Milka hanya bisa geleng-geleng
kepala doang.

"Woi!! Bantuin guee!!" Teriak Nico. Temen-temennya mulai melerai Christin dan Putri.

Putri ditarik oleh Kevin, tapi Putrinya tetap meronta-ronta.

"Put, udah napa!! Kayak singa lo!!" Seru Kevin.

Sedangkan Christin ditarik sama Marco.

"Chris, udah-udah.." Kata Marco menenangkan.

Tapi antara Kevin-Marco dengan Christin-Putri tenaganya lebih kuat Christin-Putri.

"Iiih pengen gue tarik rambut lo, Put!!" Seru Christin sambil menarik rambut Putri.

"Aduuuhh!!!sakit!!" Putri tak mau kalah, ia juga menarik rambut Christin.

"Woi! Udah!! Diliatin sama satu sekolahan!!" Lerai Aji.

"Putri! Jangan kayak anak kecil!!" Kata Milka.

"Co, tanggung jawab lo! Gara-gara lo nih!" Tuduh Aji. Di setujui oleh Milka.

"Lah kenapa gue sih!?" Kata Nico.

"Lo sih kegantengan!!" Seru Kevin yang masih sibuk narik-narik Putri.

"Udah anugrah Tuhan, Vin!! Masa gue sia-siain!"

"Bantuin doong, Co!! Jangan ngoceh teruus!!" Kata Marco.

"Woii!!!Udaaahhh!!!" Teriak Nico, yang membuat Putri dan Christin berhenti jambak-jambakkan rambut. Putri dan Christin menunduk malu.

"Aduuuh, gue dicakar Putri.." ringis Christin sambil memegang tangannya, Marco pun melihat luka Christin.

"Widiiih, diem-diem buas juga lo, Put.." kata Kevin takjub. Putri pun yang
sedikit kesal sama Kevin langsung mendorong muka Kevin jauh-jauh.

"Ayo ke UKS," ajak Marco.

"Mar, beneran Christin kena Cakar Putri?" Tanya Nico khawatir. Marco mengangguk.

"Gila lo, Put! Anak orang tuh, kuku lo udah kayak setan gitu, kagak dipotong, bahaya kan!" Kata Nico.

"Biarin! Biar nyaho! Gue emang sengaja manjangin kuku, supaya gue bisa
nyakar-nyakar muka orang centil kayak Christin!" Gerutu Putri.

"Haaahh, kayak anak kecil lo, Put. Ji, awasin anak-anak kelas X
latihan, gue bantuin Marco dulu!" Nico meninggalkan Putri dan yang lain.

"Yaaahh, kedudukannya satu sama.." kata Milka. Kemudian bahu Milka di senggol sama Aji.

Putri pun memasang wajah jeleknya ke Milka, wajah penuh air mata dengan
mulut manyun. Milka, Kevin, dan Aji pun terkejut melihat wajah Putri
yang sangat amat menyedihkan.

"Anjrit, muka lo jelek banget, Put!" Ceplos Kevin, tiba-tiba kepalanya dijitak sama Aji.

"Bego banget sih lu, Vin! Orang lagi sedih malah di ketawain!" kata Aji.

"Hueeee..Milkaaaa!!!" Putri langsung berlari memeluk Milka. Milka pun
mengelus-elus rambut Putri yang berantakan, seperti Ibu yang memeluk
anaknya (??).

"Udah lah, Put..lagian sih lo make nyakar Christin.." kata Milka.

"Pokoknya awas aja, si Christin berani-berani nyari perhatian sama Kak Nico, gue bejeg-bejeg mukanya tuh!!" kata Putri sambil menghapus air mata dengan tangannya.

"Whahahaa..keren lu, Put!" Kata Kevin.

"Yaudah, sekarang supaya lo enakan, mending ke Kantin, yuk. Woi, anak kelas X! Latihan sendiri dulu ya!" Suruh Aji.

"Siiip!"

"Ayo,"

Milka, Putri, Kevin dan Aji pun pergi menuju kantin untuk menenangkan Putri yang sedang nangis gara-gara Nico.
·         ***
·         Tiap hari, Putri dan Christin semakin sering berantem, tentu saja karena ingin merebut perhatian sang Vincentius Nicolas, selebritis sekolah. Saat ini, the most perfect guy di Citra Bangsa sedang
membuka forum terbuka (??).
·        
·        
·         “Co, lama-lama tuh cewek dua makin ganas!” Seru Marco. Disetujui oleh Kevin dan Aji. Nico hanya menghela napas dan meminum es jeruknya.
·        
·        
·         “Co, kapan lo bertindak??” Tanya Aji. Nico memutar-mutar sedotannya.
·        
·        
·         “Gue gak tau, Ji.” Kata Nico.
·        
·        
·         “Kenapa? Kurang pede??” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Gue takut gak diterima sama Putri..” ujar Nico. Kevin yang sedang makan bakso jadi keselek.
·        
·        
·         “UHUUK!!UHUUKK!!” Kevin batuk-batuk. Aji yang panik langsung memukul-mukul punggung Kevin. Marco langsung mengambil sebuah gelas yang ada di
depan matanya dan memberikannya pada Kevin, Kevin pun langsung meminumnya,
tapi..
·        
·        
·         “PEDEEEESSSSS!!!!” Teriak Kevin kepedesan.
·        
·        
·         “Heh! Bego lo, Mar! Yang lo kasih itu gelas sambel!!!” Seru Aji. Marco mencium gelas tersebut dan langsung nyengir.
·        
·        
·         “Oooh, iya..heheee..sori, Vin.” Kata Marco nyengir.
·        
·        
·         “Aiirr!!!” Teriak Kevin. Kevin langsung mengambil es jeruk punya Nico yang hanya di pelototin saja dan langsung di minumnya.
·        
·        
·         “Kevin saraaap!!!” Seru Nico.
·        
·        
·         “Akhirnyaaa..legaaa..” kata Kevin. Kevin melihat Nico yang melotot kearahnya.
·        
·        
·         “Kenapa lo, Co?” Tanya Kevin polos.
·        
·        
·         “Es jeruuukk gueeee, saraap!!!” Seru Nico sambil menimpuk Kevin pakai sendok.
·        
·        
·         “Woi! Baek-baek lo, Co!! Gue beliin deeh!!” Kata Kevin yang langsung membelikan Nico es jeruk. Emosi Nico mereda dan kembali duduk di bangkunya.
·        
·        
·         “Gila! Gue heran sama lo! Kok lo bisa mikir kalo lo bakal gak diterima Putri??” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Gak tau, gue mikirnya kayak gitu..”
·        
·         “Co, gue tanya deh, mana ada sih yang mau nolak elo, elo ganteng, elo keren, elo manis, elo pinter, elo kapten tim basket, apa lagi kurangnya??” kata Kevin.
·        
·        
·         “Baru kali ini lo muji gue, Vin. Biasanya lo gak mau kalo gue lebih ganteng daripada lo,” sindir Nico.
·        
·        
·         “Maksud gue lo ganteng, kedua setelah gue hahaa..” kata Kevin, kemudian kepala dotoyor Aji.
·        
·        
·         “Eh, sipit! Seneng banget sih lo noyor pala gue!? Demen lo ama gue? Sori meskipun tampang lo lumayan, tapi gue gak napsu ama lo!” kata Kevin.
·        
·        
·         “Gak napsu? Terus kenapa lo pas di Puncak lagi tidur malah meluk gue??Adanya juga lo yang demen..” balas Aji. Mata Nico dan Marco terbelalak.
·        
·        
·         “Sumpah lo, Ji??” Tanya Nico.
·        
·        
·         “Gila, kan? Dia meluk guee!! Untung Milka kagak liat gue! Ancur reputasi gue!” kata Aji bergidik ngeri.
·        
·        
·         “Iiiih, gue kan khilaf, Ji. Soalnya gak ada guling, makanya gue meluk lo. Badan lo kan kayak guling punya gue..” kata Kevin jujur. Aji yang mendengar kata-kata Kevin langsung menjauh.
·        
·        
·         “Kenapa, Ji?” Tanya Kevin.
·        
·        
·         “Jauh-jauh lo dari guee!!” Tolak Aji.
·        
·        
·         “Heran gue, kenapa lo bisa mikir kayak gitu??” Tanya Marco.
·        
·        
·         “Gue ngerasa dia gak bener-bener gak suka sama gue, dia Cuma nge-fans doang, gue malah mikirnya dia masih suka sama Michael. Secara Michael first love-nya Putri..” kata Nico. Aji, Kevin, dan Marco
hanya memandang Nico sambil mendengar ceritanya Nico.
·        
·        
·         “Kenapa pada mandang gue kayak gitu coba?” Tanya Nico.
·        
·        
·         “BEGOOOO!!!!” Teriak Kevin, Marco dan Aji bersamaan. Nico sampai bersembunyi di kolong meja, saking takutnya.
·        
·        
·         “Sumpah bego banget nih anaak!!” Seru Kevin.
·        
·        
·         “Lo sendiri ngerasa bego kagak, Vin?? Mau nembak Anin aja lo susah banget!!” Kata Marco.
·        
·        
·         “Gue gak bego, kok!!”
·        
·        
·         “Iya, lo gak bego! Tapi dodol!!” Seru Aji.
·        
·        
·         “Dodol di Garut, sipiiit!!” Kata Kevin.
·        
·        
·         “Apa kata lo, dah!!” kata Aji.
·        
·        
·         “Jadi lo ngeraguin perasaan Putri ke elo, Co?” Tanya Marco.
·        
·        
·         “Dibilangin gue gak tau!!” Sanggah Nico sambil keluar dari kolong meja.
·        
·        
·         “Itu berarti namanya lo gak percaya sama Putri, percuma aja lo suka sama dia tapi gak percaya sama dianya,” kata Marco.
·        
·        
·         “Gue bukannya gak percaya sama Putri..tapi takutnya gara-gara ada Michael, dia jadinya balikkan sama Michael, dulu kan Putri sayang banget sama Michael,” kata Nico.
·        
·        
·         “Yaaahhh..Michael doang…eh, Michael siapa sih??” Tanya Kevin. *GUBRAAK*
·        
·        
·         “Bego lu, Vin! Kalo kagak tau gak usah nanyaa!!” kata Marco.
·        
·        
·         “Gue yakin, Putri gak bakal balik lagi sama Michael, Co. Makanya cepetan, lo tembak Putri supaya Christin gak bakal ngejar-ngejar lo lagi!” Seru Aji.
·        
·        
·         “Lo pada harus dukung gueee yaa!!” kata Nico dengan semangat berkobar-kobar.
·        
·        
·         “Coha, Sob!!” kata Aji. Diacungkan jempol oleh Marco dan Kevin.
·        
·         Di cafe Milolet...

Putri memasang wajah cemberutnya sambil memandang Sonia yang sedari tadi
mengobrol dengan Jacob berdua. Saat ini Jacob sedang liburan di Indonesia,
karena sekolahnya di Jepang sedang libur musim panas.

"Jacob maaah, jangan godain akuu!" Seru Sonia dengan muka memerah.

"Ahahahaa..aku gak godain kok!" Kata Jacob sambil memperlihatkan wajah
manisnya. Muka Putri semakin ditekut yang sedari tadi melihat kemesraan
Sonia dan Jacob.

"Kacang-kacang!! Tahuu! Aiiir!!" Teriak Putri, tapi tak digubris oleh mereka.

"Istigfaaar gue sebanyak-banyaknya! Kacaaangg!!! Tahuuu!!! Aiir!!!"
teriak Putri semakin kencang, sehingga semua orang yang berada di cafe
tersebut melihat kearahnya.

"Baek-baek lo, Put! Kenapa lo?" Tanya Jacob polos.

"Gak kenapa-kenapa!!" Putri pun meninggalkan mereka.

"Putri!!!" Panggil Sonia.

"Udah deh, Sonia. Biarin ajaa," kata Jacob, Sonia mengangkat bahu.
·         ***
·         Putri berjalan dengan cemberut, muka di tekuk, menggerutu tak jelas.

"Huh! Nyebelin! Bikin gue mupeng aja nih si Jacob sama Sonia!!" gerutu Putri. Putri pun duduk di halte, sambil menunggu bis.

"Kenapa gue gak bisa kayak gitu sama Kak Nico.." gumam Putri lirih.
Kemudian seseorang dengan honda jazz birunya berhenti didepan halte.
Putri pun terheran-heran melihatnya.

"Kayaknya gue kenal nih mobil," ujar Putri. Seseorang dari dalam mobil membuka kaca mobilnya.

"Kak Nico?"

"Put, ngapain lo disini? Cepetan masuk!" Ajak Nico. Putri pun masuk ke
mobil Nico. Sesekali Putri melirik kearah Nico yang sedang menyetir.

"Kak, darimana?" Tanya Putri.

"Ooh, gue tadi abis jalan sama anak-anak pembawa sial!" kata Nico.

"Ha? Pembawa sial?"

"Itu, Aji, Kevin, Marco." celetuk Nico. Putri hanya tertawa.

"Lo sendiri darimana?" Tanya Nico balik.

"Tadi gue jalan bareng Sonia sama Jacob, tapi gue malah jadi tukang kacang," keluh Putri.

Nico tertawa terbahak-bahak..

"Lo ngetawain gue ya?" Tanya Putri.

"Udah tahu, Jacob sama Sonia pacaran, masih aja lo ngikut!" Tawa Nico meledak.

"Gue tadinya gak mau ikut! Tapi si Sonia maksa!" Seru Putri.

"Yaudah deh gini aja, mau ikut gue gak?" Tanya Nico.

"Kemana?"

"Kemana aja boleeeh, mau gak?" Tanya Nico.

"Hmmm..boleh deh, asal sama Kak Nico hehee.." kata Putri nyablak.

"Yeuuuh, udah ah! Ngeri gue dengernya!"

Nico melajukan mobilnya dengan cepat, menuju tempat yang belum pernah di
ketahui oleh Putri, yaitu sebuah danau kecil cantik yang agak jauh dari
kota. Putri pun takjub dengan pemandangan di sekitarnya. Terdapat sebuah
dermaga kecil dengan sebuah perahu di sampingnya.

"Keren banget, Kak!" Kata Putri takjub.

"Tempat rahasia gue sejak kelas 2 SMP, tapi dulu gue kesininya pake sepeda, bukan pake mobil, hahaa.." kata Nico.

"Kok gue baru tau ya, ada tempat sekeren ini," kata Putri.

"Sekarang tahu kan?"

"Hehee..iya.." kata Putri nyengir. Nico mengajaknya duduk di bawah pohon yang besar dan rindang.

"Kalo gue lagi kesel ato marah sama bokap nyokap gue, gue sering
kesini, Put. Dulu yang tahu cuma gue, sekarang lo jadi tahu deh," kata
Nico.

"Kalo gitu ngapain lo ngajak guee??" Tanya Putri.

"Ehehehee..bener juga," kata Nico nyengir.

Pembicaraan mereka terhenti, tak ada topik pembicaraan. Mereka diam saja disitu.

"Put, pulang yuk udah sore," ajak Nico.

"Kak Nico.."

"Apa?"

"Gue..gue.."

"Gue apaan?"

"Gue suka sama lo, Kak!" Kata Putri. Putri menyatakan perasaannya.

"Apaan sih lo, Put? Masih aja bercanda! Ayo pulang!" Nico menarik tangan Putri, tapi Putri langsung menepisnya.

"Putri?"

"Gue gak bercanda! Kenapa lo nyangkanya gue bercanda sih!? Gue serius!!" Seru Putri. Nico terus menatap Putri.

"Mungkin gara-gara gue suka kayak orang gila yang selalu berantem sama
Kak Christin ngerebutin lo, lo jadi gak suka sama gue, tapi gue tulus!
Gue emang bener-bener suka sama lo!" Kata Putri.

"Sori, Put. Gue gak bisa jawab sekarang," jawab Nico.

"Yaudah deh, Kak. Gue tau lo pasti punya banyak pertimbangan, seperti
kata lo, kita nyusul Sonia sama Jacob lebaran monyet hehee..pulang yuk!"
Ajak Putri. Nico masih menatap Putri, Putri berusaha untuk tetap tersenyum
meskipun di dalamnya ia sangat sakit, Putri merasa bahwa ia telah ditolak
oleh Nico secara tak langsung.

·         ***
·         Saat pelajaran Pak Duta berlangsung, bukannya memperhatikan pelajaran malah melamun. Nico masih mengingat kejadian kemarin sore. Rasanya bagaikan mimpi.

"Mungkin gara-gara gue suka kayak orang gila yang selalu berantem sama
Kak Christin ngerebutin lo, lo jadi gak suka sama gue, tapi gue tulus!
Gue emang bener-bener suka sama lo!"

Kata-kata itu masih terngiang di pikirannya, pikirannya tak bisa lepas dari Putri. Tiba-tiba..

BLETAAK!!!

Penghapus papan tulis mendarat di jidatnya, Nico pun meringis kesakitan.

"Kamu ngelamunin apa, Nico??" Tanya Pak Duta.

"Nggak ngelamunin apa-apaan, Pak!" Kata Nico.

"Awas kalo saya liat ngelamun lagi, saya bakal ngelempar papan tulis ke jidat kamu!" Ancam Pak Duta.

"Weissh baek-baek, Pak!" Kata Nico.

"Co, lo kenapa?" Tanya Aji yang merupakan teman sebangkunya.

"Ng..nggak papa, kok, Ji!" Sanggah Nico yang mulai berkonsentrasi dengan pelajaran. Aji hanya mengangkat bahu.
·         ***
·        
·        
·        
·         Jam terakhir merupakan jam olahraga bagi kelas X-3, guru olahraga mereka, Pak Guntur tidak masuk karena ada urusan. Jadi mereka berolahraga bebas. Saat itu kelas XI IPA 2 juga tak ada guru,
sehingga Nico dan Aji bisa keluar melihat gadis-gadis mereka sedang
berolahraga (??). Nico dan Aji duduk di bawah pohon di samping lapangan.
·        
·        
·         “Put, ada Kak Nico tuh!” Bisik Milka sambil menunjuk kearah Aji dan Nico. Putri pun menoleh kearah Nico dan matanya menjadi berbinar-binar.
·        
·        
·         “Kak Nicooo!!!” Sapa Putri kegirangan.
·        
·        
·         Sementara itu…
·        
·        
·         “Ji, gue jadi jiper mau nembak dia..anaknya sedeng kayak gitu..” bisik Nico.
·        
·         “Jaim lo, Co! Emang lo sendiri gak sedeng apa?” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Ya, nggak laah..” kata Nico.
·        
·        
·         Balik ke Putri-Milka..
·        
·        
·         “Pasti dia mau merhatiin guee!!” Kata Putri optimis.
·        
·        
·         “Ya, ampun Put, PD lo gak ilang-ilang deh,” kata Milka sambil berjalan seperti orang bijak.
·        
·        
·         “Gini yaa..kalo misalnya lo kayak gitu terus, bisa-bisaaa..” kalimat Milka terhenti karena Putri sudah menghilang entah kemana, seperti di telan buaya (??). Milka celingak-celinguk mencari Putri
dan ternyataaa…
·        
·         Putri sudah berada di samping Nico ngegodain Nico, Milka hanya garuk-garuk kepala.
·        
·        
·         “Eeeehh, Kak Nicooo..hehee..lagi ngeliatin guee yaa??” Goda Putri. Nico ingin menjauh tapi tangannya ditarik sama Putri supaya Nico tak bisa kabur kemana-mana.
·        
·        
·         “Aji..gue takuut..ni anak makin gila ajaa!!” kata Nico gemeteran.
·        
·        
·         “Nih anak, maen nyosor aja, tambah agresif lagi,” Aji juga gemeteran.
·        
·        
·         “Put, lepasin tangan guee..banyak yang ngeliatin tauu!!” kata Nico.
·        
·        
·         “Hehee..biarin aja, biar disangka pacaraan hahaa..” kata Putri. Tiba-tiba si Trio Macan datang.
·        
·        
·         “PUTRIIII!!!!” Teriak mereka bersamaan.
·        
·        
·         “Kenapa Kakak-kakakku yang baik dan cantik??” Tanya Putri dengan memasang muka polosnya.
·        
·        
·         “Jangan memonopoli Nico sendiri dooong, mentang-mentang lo ketua fans club!!” kata Fifin.
·        
·        
·         “Aduuuh, ganggu aja niiih, Putri lagi mau berduaan sama Kak Nicoo..ambil aja tuh Kak Aji, dia lagi single!” kata Putri.
·        
·        
·         “Lah? Kok guee!!” kata Aji.
·        
·        
·         “De, mau gak?” Tanya Grace.
·        
·        
·         “Yaiyalah guee mauuu!! Gak ada Nico, Aji pun jadii!!” kata Monica kegirangan.
·        
·        
·         “Mampus gue!!” Aji langsung kabur dari mereka.
·        
·         “AlMiliin!!! Jangan pergiii!!!” Monica dan Grace mengejar-ngejar Aji. Fifin pun mengambil posisi duduk di samping Nico.
·        
·        
·         “Put, Nico kok tambah ganteng, yaa??” Tanya Fifin.
·        
·        
·         “Oooh, iya doong, makin hari kan Kak Nico makin ganteeng!!” Kata Putri.
·        
·        
·         “Makin gemes guee ama lo, Co!!” kata Fifin sambil nyubit pipi Nico.
·        
·        
·         “Sakiiit gilaaa!!” Ringis Nico.
·        
·        
·         “Aduuuhh Nicoo sakiiit yaaa? Sini Fifin yang cantik bakal ngobatin Nico yang ganteengg..” kata Fifin.
·        
·        
·         “Pliiiss, don’t touch me!!” kata Nico.
·        
·        
·         “Kalo sama Kak Anin, gak mau, ama gue mau gaakk??” Tanya Putri sambil memainkan alisnya.
·        
·        
·         “Apalagi elooo!!! Singkirkan tanganmu jauh-jauh!!” Kata Nico bagaikan telenovela (??).
·        
·        
·         Tiba-tiba seorang cewek sudah berdiri di hadapannya dengan memasang tampang polosnya.
·        
·        
·         “Siang, Kak Anin..” Sapa Christin.
·        
·        
·         “Ha? Tumben lo nyapa gue? Biasanya lo mandang gue sinis..” kata Fifin heran.
·        
·        
·         “Kak Anin, emangnya Kak Nico gak risih apa, kalo Kakak ngedeketin Kak Nico terus??” Tanya Christin dengan tampang (kelewat) polos.
·        
·        
·         ‘Lagi-lagi ngomong kayak gitu..’ batin Putri.
·        
·        
·         “Maksud lo apaan sih, Nona Cantik?” Tanya Fifin yang sudah mulai berdiri di depan Christin.
·        
·        
·         “Maksud gue, Kak Nico pasti risih laah, dideketin sama lo dan sama cewek gatel yang behelan itu!” kata Christin enteng.
·        
·        
·         “Makin menjadi-jadi si Christin..” gumam Nico.
·        
·        
·         “Eh, basi banget sih omongan lo!” kata Putri.
·        
·        
·         “Put, jangan nambah masalah deh!” Seru Nico.
·        
·        
·         “Justru dia yang nambah masalah, Kak!” kata Putri. Putri pun maju (layaknya jagoan =p)
·        
·         “Hey, Nona Cantik, gak ada kata-kata laen yaa? Apa Cuma kata-kata itu doang yang ada di mulut lo?? Basi!!” sindir Putri.
·        
·        
·         “Emang cuma kata-kata itu doang yang cocok sama cewek-cewek macam lo!” Kata Christin.
·        
·        
·         “Helloo…Christina Hermawan, jangan muna deh, lo sendiri juga mau kan deket-deket sama Kak Nicoo??” kata Putri memanas-manasi Christin. Muka Christin udah merah, tak bisa berkutik.
·        
·        
·         “Bagus, Put.” Bisik Fifin.
·        
·        
·         “Dia udah gak bisa ngapa-ngapain di depan gue, Kak!” kata Putri.
·        
·        
·         “Elo, ya!” kata Christin, tangannya hampir saja mendarat di pipi Putri. Putri sudah memejamkan mata, tapi..
·        
·        
·         “Eh, gak pake ya, tampar-tamparan!” kata Nico sambil memegang tangan Christin.
·        
·        
·         “Put, gak papa kan?” Tanya Fifin, dan kemudian Milka pun datang.
·        
·        
·         “Put, lo gak papa?” Tanya Milka. Putri menggeleng.
·        
·        
·         “Picik pikiran lo, Chris!!” seru Milka. Christin hanya memandang jutek Putri, Fifin, dan Milka.
·        
·        
·         Tiba-tiba Marco dan Kevin datang.
·        
·        
·         “Eh ada apaan nih?” Tanya Marco.
·        
·        
·         “Mar, sahabat lo yang paling cantik ini mau nampar Putri.” Jawab Nico.
·        
·        
·         “Beneran, Chris?” Tanya Marco. Christin menunduk.
·        
·        
·         “Jawab, Chris!” Seru Marco.
·        
·        
·         “Kenapa sih, pada ngebelain Putri!! Sampe lo juga ngebelain Putri!! Kesel gue ama lo!!” Teriak Christin sambil berlari entah kemana meninggalkan mereka.
·        
·        
·         “Christin!!!” Panggil Marco. Tapi tak digubris Christin.
·        
·        
·         “Sob, gue ngejar Christin dulu, ya!” Marco meninggalkan mereka semua.
·        
·        
·         Kemudian Aji yang baru saja dikejar-kejar Monica dan Grace datang sambil terengah-engah.
·        
·        
·         “Ada kejadian apaan lagi nih? Gue ketinggalan yaa?” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Iyee..abangnya mau pulang!!” Celetuk Kevin.
·        
·        
·         “Ji, temen-temen gue mana?” Tanya Fifin sambil celingak-celinguk nyariin temen-temennya.
·        
·        
·         “Udah pada tepar semua di kantin!” kata Aji.
·        
·        
·         “Gue ke kantin dulu ya! Dadah Nico ganteng!” Kata Fifin sambil nColek dagu Nico. Nico bergidik ngeri.
·        
·        
·         “Put, lo gak papa kan?” Tanya Nico.
·        
·        
·         “Ng..nggak kok, gue gak papa..”
·        
·        
·         “Kalo kata gue Putri masih shock, Kak. Euh, si Christin bisanya cari muka doang! Pengen gue timpuk deh mukanya pake bola basket!!” kata Milka.
·        
·        
·         “Sadis gila lo, Mil!” kata Kevin takjub.
·        
·        
·         “Biarin! Biar nyaho tuh anak!!” kata Milka.
·        
·        
·         “Putri biar gue yang urus dulu, Mil, ambilin tas Putri ya, Ji ambil tas gue!” kata Nico sambil merangkul bahu Putri.
·        
·        
·         “Siip!” kata Aji.
·        
·        
·         “Okidoki!” kata Milka.
·        
·        
·         “Gue ngapain?” Tanya Kevin.
·        
·        
·         “Kelaut aja lo!”
·        
·        
·         “Iiih ogah, mending gue godain Anin aja! Sukses, Co!” Kata Kevin.
·        
·        
·         “Sukses apaan sih!?” kata Nico, tapi Kevin udah jauh.
·        
·        
·         Nico dan Putri kembali duduk di bawah pohon tempat mereka duduk tadi, Nico khawatir dengan keadaan Putri yang masih shock gara-gara Christin. Wajah Putri pucat.
·        
·        
·         “Kak, baru kali ini gue mau ditampar orang..” gumam Putri.
·        
·        
·         “Ngapain sih lo pikirin? Anggep aja Christin lagi sensi, beres kan?” Kata Nico enteng.
·        
·        
·         “Tetep aja gue takuut, lo kan gak pernah ngerasaiin..” kata Putri yang tiba-tiba nangis.
·        
·        
·         “Yah,yah kok lo nangis!! Jangan nangis doong!!” kata Nico. Tapi tangisan Putri tiba-tiba meledak.
·        
·        
·         “HUWEEEEE!!!!!” Putri terus menangis. Semua murid yang berada disekitar situ, memandang Nico dengan penuh curiga.
·        
·        
·         “Put, berenti dong!! Kan gue jadinya yang disalahin!!” kata Nico.
·        
·        
·         “Abiiiss..”
·        
·        
·         “Udah deh berentii!!” Nico mengeluarkan saputangan dan menghapus air mata Putri dengan saputangannya. Jantung Putri pun berdegup kencang.
·        
·        
·         “Udah, berenti nangisnya, jelek tau!!” Kata Nico jaim, nyembunyiin mukanya yang merah.
·        
·        
·         “Hehee..kok lo perhatian banget sih??” kata Putri.
·        
·        
·         ‘Ini dia saat yang paling gue tunggu-tunggu, gue harus nyatain perasan gue..mumpung lagi bagus nih suasananya..’ pikir Nico sambil menarik napas dalam-dalam.
·        
·        
·         “Soalnya..gue…”
·        
·        
·         “Ha?”
·        
·        
·         “Gue…”
·        
·        
·         “Gue…”
·        
·        
·         “Su…”
·        
·        
·         “Woi! Co, nih tas lo!!” teriak Aji dari belakang pohon.
·        
·        
·         GUBRAAAK!!!
·        
·        
·         ‘Hancur sudah momen-momen romatis guee..dasar ] blangsak!’ batin Nico sambil menatap Aji dengan aura penuh neraka.
·        
·        
·         “Put, ini tas lo!” Kata Milka sambil memberikan tas biru Putri.
·        
·        
·         “Thanks, Mil.”
·        
·        
·         “Kayaknya kita muncul pada saat yang salah deeh..” gumam Aji.
·        
·        
·         “Hah? Apaan, Kak?” Tanya Milka.
·        
·        
·         “Nggak kok,”
·        
·        
·         “Pulang ah, Put sekalian gak?” Tanya Nico.
·        
·        
·         “Beneran??” Tanya Putri dengan mata-mata berbinar-binar.
·        
·        
·         “Iyeee..ayo cepetan!” Ajak Nico.
·        
·        
·         “Kak, yang tadi thanks yaa..udah nemenin guee..pokoknya gue gak boleh nangis lagi!!” kata Putri optimis.
·        
·        
·         “Iya, soalnya kalo nangis jelek! Udah yuk cepet, kasian adek lo nunggu!” kata Nico.
·        
·        
·         “Mil, bareng gak?” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Boleh, deh ngirit ongkos, mumpung gratis, hehee..” kata Milka nyengir. Aji hanya mencibir.
·        
·        
·         “Ngomong-ngomong Kevin mana?” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Lagi sibuk sama Anin, tinggalin aja!” kata Nico.
·        
·        
·         Mereka pun pergi menuju parkiran, tapi tiba-tiba Putri melihat sesosok cowok yang sangat dikenalnya sedang duduk di depan pos satpam, seorang cowok dengan seragam SMA Tunas Pusaka.
·        
·        
·        
·          “Putri?”
·        
·        
·         “Kak Michael?” Putri pun menghampiri Michael yang tengah berdiri di depan pos satpam.
·        
·        
·         Nico terbelalak melihat Michael berdiri memandang Putri dengan wajah berseri-seri.
·        
·        
·         “Aduuh, ada yang terbakar api cemburu niih..” Goda Aji.
·        
·        
·         “Api cemburu?? Jangan-jangan..Kak Nico…” kata Milka sambil menyipitkan mata.
·        
·        
·         “Apaan, Mil?” Tanya Aji.
·        
·        
·         “Suka yaaa sama Putri?? Hayooo..ngakuuu..” kata Milka. Nico hanya mengelap keringat.
·        
·        
·         ‘Sial! Tau juga akhirnya nih anak,’ batin Nico.
·        
·        
·         “Bener, kaan??” Tanya Milka.
·        
·        
·         “Iya,iyaa gue sukaa sama Putri..” Aku Nico.
·        
·        
·         “Akhirnya ngaku juga lo, Kak..kena pelet lo ya ama Putri?” celetuk Milka.
·        
·        
·         “Hah? Putri melet gue?” Tanya Nico.
·        
·        
·         “Ya, nggak laah!! Bego banget sih lo, Kak!” kata Milka.
·        
·        
·         “Kira-kira yang ngomongin apaan ya?” Tanya Aji.
·        
·        
·         ***
·        
·        
·         “Ngapain lo kesini, Kak?” Tanya Putri.
·        
·        
·         “Gue pengen ketemu lo, Put.” Kata Michael.
·        
·        
·         “Ketemu gue?? Sori, gue mau pulang..” kata Putri yang berjalan meninggalkan Michael, tapi..tangannya di tarik sama Michael.
·        
·        
·         “Put, tunggu dong, gue mau ngomong sama lo!” kata Michael.
·        
·         “Apaan siih?? Gue udah ditungguin,” kata Putri sambil melipat tangan di dadanya.
·        
·        
·         “Ehm, gini aja deh, gue pengen kita ketemuan hari Sabtu di CafĂ© Milolet, jam 3 sore..” kata Michael.
·        
·        
·         “Gue mau nonton Idola Cilik dirumah,” kata Putri.
·        
·        
·         “Ayolah, Put..gue pengen cerita sama lo,” Williamu Michael.
·        
·        
·         “Euh, Minggu aja deh! Tapi jam 5, gue pengen nonton raport Idola Cilik dulu!” kata Putri.
·        
·        
·         “Iya, deh. Terserah lo, gue pulang ya, Put..” Michael memakai helmnya dan segera melajukan motornya dengan kencang.
·        
·        
·         ‘Kira-kira mau ngomong apaan tuh orang?’ Pikir Putri.
·        
·        
·        
·         ***
·        
·        
·         “Waduh, Co! Tangannya Putri di pegang tuh!!” kata Aji. Milka melihat muka Nico memancarkan aura neraka, saking cemburunya.
·        
·        
·         “Kak Aji jangan dipanas-panasin dong!! Liat mukanya udah kayak mau ngebunuh Kak Michael tuh!” kata Milka sambil menunjuk kearah muka Nico.
·        
·        
·         “Eh, iya..juga..stay cool, bro!!” kata Aji.
·        
·        
·         “Berisik lu!!” seru Nico.
·        
·        
·         Putri pun menghampiri Milka, Nico dan Aji setelah mengobrol dengan Michael sebentar.
·        
·        
·         “Sori, ya pada nunggu lama.” Kata Putri.
·        
·        
·         “Emang lama!!” Jawab Nico ketus.
·        
·        
·         “Nico!” seru Aji.
·        
·        
·         “Apaan sih!? Udah ah, mending pulang!” kata Nico mendahului mereka bertiga menuju tempat parkir.
·        
·         “Kak Aji, Kak Nico kenapa?” Tanya Putri.
·        
·        
·         “PMS kali..”jawab Aji enteng. Milka hanya mengangkat bahu.
·        
·        
·         “Aaah, yaudah deh, paling ntar udah adem sendiri.” Kata Putri.

***

·         "Haiii!! Kak Nicoo!!" Sapa Putri yang sedang bersama Sonia dan William serta Monica (masih pendekatan). Nico terbelalak, Putri masih bersikap gila seperti biasa. Sikap yang paling
dibenci dan sekaligus di tunggu Nico.

"Eh, William denger deh kemaren gue kencan tau sama Kak Nico, hehee.."kata Putri.

"MUSTAHIIL!!!" Teriak William. Putri pun menjambak rambut William.

William juga menja"Aduh, aduh! Rambut kebanggaan gueee!!!" Seru William. William tak mau kalah, mbak rambut Putri.

"Eeeh! Jangan berantem doong!!" Lerai Sonia.

"Jacob! Ini kantin! Bukan ring tinju!! Ganggu selera makan gue aja lo berdua!" Seru Kevin.

"William, udah dong!" Kata Monica. Begitu melirik Monica, William langsung melepas rambut Putri.

"Nih, gara-gara nenek lampir itu,Mon! Rambut Bang William jadi rusak kaan??" Keluh William pada Monica.

"Wooo..ngadu!" Seru Putri. William hanya menjulurkan lidah. Putri yang menoleh kearah Nico, terbelalak. Christin sudah duduk di sampin Nico.

"Nico, my prince Charming! Bantuin Christin kerjain ini dong! Christin gak ngerti!" Keluh Christin.

"Sini deh, gue bantuin." kata Nico.

"Asiiik.." Christin kegirangan. Putri pun menjadi panas, begitu Christin
melihat kearahnya, langsung menjulurkan lidah. Putri mulai naik darah.
Putri langsung mengambil buku berwarna pink milik Christin dan melemparnya
ke lantai. Semua mata terbelalak dengan perbuatan Putri.

"Aaaah! Buku gueee!!!" Teriak Christin. Christin pergi mengambil bukunya yang terjatuh.

"Buku gue basaah," kata Christin. Kemudian Christin menghampiri Putri dengan wajah kesal.

"Eh! Gue tau lo gak suka gue deket Nico, gue terima!! Tapi gue gak
terima kalo gue diginiin!! Ini buku kesayangan guee!!" Christin mendorong
bahu Putri. Putri pun tak terima. Putri juga mendorong Christin tapi sampai
terjatuh.

"Putri!" Seru Sonia.

Nicopun yang melihat langsung turun tangan. Nico membantu Christin berdiri.

"Chris, lo gak papa?" Tanya Nico khawatir.

"Gue gak papa," kata Christin sambil membersihkan buku kesayangannya.
Begitu melihat Putri, Nico langsung menarik tangan Putri dan menatapnya
dengan tatapan tajam.

"Put, lo tuh apa-apaan sih!? Maksud Christin baik, makanya gue bantuin
dia! Kenapa lo malah buang bukunya Christin!! Lo tuh siapanya gue?? Lo
gak berhak buat ngatur gue!!" Seru Nico pada Putri. Semua murid yang ada
di kantin terdiam, begitu mendengar teriakan Nico.

Putri baru melihat Nico semarah ini padanya, Putri tahu dia salah, tapi dia
tak suka dengan sikap Christin yang membuat dirinya jengkel. Air mata
jatuh di pipinya, ia menunduk malu. Putri menarik tangannya dari
genggaman Nico dan pergi dari kantin.

"Putri!!!" Panggil Nico.

"Kak, biar aku, William sama Monica aja yang ngejar!" Kata Sonia. Nico menuruti kata-kata adeknya.
·         ***
·         Putri menangis tersedu-sedu di toilet, ia tak menyangka bahwa Nico bisa semarah itu padanya.

"Gue benci Kak Nico..kenapa malah ngebelain Christin..daripada guee..."
gumam Putri sesenggukan. Matanya sudah merah, ia ingin menghentikan
tangisannya tapi tetap tak bisa, air mata tak bisa berhenti keluar dari
matanya.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu toilet tersebut, Putri mendongakkan
kepala. Sonia sudah berada di depannya dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Put.." ujar Sonia.

"Sonia, gue benci Kak Nicoo..." Putri menangis terisak-isak. Sonia tak tega melihat sahabatnya itu. Sonia pun memeluk Putri.
·         ***
·         Sonia mendapati kakaknya sedang bermain piano sendirian, Sonia mengintip dari balik pintu. Sonia melihat wajah Kakaknya yang memancarkan wajah penuh penyesalan dan kesedihan.

Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hati ku terdalam
Sungguh aku cinta padamu

Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku
Seumur hidupku

Trimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku

Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku
Seumur hidupku



Nico mengakhiri permainannya, dan menoleh kearah pintu.

"Sonia, gue tau lo ada di situ dari tadi." kata Nico singkat. Sonia pun masuk kedalam ruang musik.

"Kak, kakak gak papa kan?" Tanya Sonia.

"Sonia, gue jahat banget ya sama Putri?" Tanya Nico.

"Kakak gak jahat kok, kalo kakak jahat kenapa banyak orang yang masih
sayang sama Kakak, kayak aku, Kak Aji, Kak Kevin, dan yang lain, Putri?
Putri masih sayang sama Kakak.." gumam Sonia.

"Tapi gue udah ngomong sesuatu yang jelas-jelas udah bikin Putri sakit
hati sama gue, gara-gara gue ngeliat Putri kayak tadi, gue ngerasa kalo
gue bukan cowok yang pantas buat Putri, dan gue baru sadar kalo..gue
sayang sama Putri.." aku Nico. Sonia tersenyum, kemudian memeluk kakaknya.

"Nyatain dong perasaan Kakak ke Putri, Putri selalu menunggu Kakak, Putri selalu sayang sama Kakak.." kata Sonia.

"Beneran?"

"Gak percaya nih sama Sonia??"

"Hahaa..gue percaya kok, adek gue yang paling cantik!!" Nico langsung mencubit hidung Sonia.

"Aduuuuh...sakiiit.." Ringis Sonia.

"Lo bantu gue, ya.."

"Siiip!!"
·         ***
·         Nico sedang melirik-lirik kearah samping, mencari Putri. Tapi Putri tak kunjung datang, yang datang malah Christin.

"Heiii..nyariin Christin yaa?" Tanya Christin.

"Nggak."

"Terus ngapain nengok kesana terus??"

"Gue nyari Putri." Kevin yang mendengar pengakuan Nicopun tersedak.

"Kenapa lo, Vin??" Tanya Aji dan Marco.

"Gak papa, gue cuma kaget, si Nico nyari Putri."

"Hah? Ngapain nyari Putri?? Gak penting banget tau gak?" Ujar Christin. Nico menatap Christin.

"Kemaren Putri udah bikin gue malu di kantin! Makin gak waras kan??"

Tiba-tiba Nico menggebrak meja, sehingga semua murid melihat kearah mereka.

"Jangan jelek-jelekkin Putri di depan mata gue! Sekali lagi lo
jelek-jelekkin Putri di depan gue, gue gak bakal segan-segan bikin lo
lebih malu disini!!" Ancam Nico dengan menatap Christin dengan aura
neraka. Tatapannya sangat dingin, membuat Christin ketakutan. Nico
meninggalkan semuanya dan pergi mencari Putri.

Nico pergi Kekelas Sonia dan mencari-cari keberadaan Putri.

"Sonia, Putri mana?" Tanya Nico.

"Putri gak masuk, Kak.." kata Sonia.

Nico pun kecewa begitu mendengar perkataan Sonia. Nico kembali Kekelas dengan lemas.

"Put..maafin guee.." gumam Nico lirih.
·         ***
·         Nicopun memutuskan untuk pergi kerumahnya Putri, ia membuka pagar pintu rumah Putri dan memencet bel.

Seorang anak berumur 13 tahun membuka pintu rumah.

"Putrinya ada?" Tanya Nico.

"Ada kok, Kak. Masuk dulu," Sony mempersilahkan Nico masuk dan duduk di ruang tamu.
·         ***
·         "Kak Putri ada temen lo tuh!" Kata Sony.

"Siapa?"

"Gak tau liat aja sono!"

Putri pun beranjak dari tempat tidurnya dan turun kebawah. Saat Putri sudah
sampai di ruang tamu, ia melihat seseorang yang tak mau ia temui.

"Putri.." kata Nico. Putri memandang Nico sinis.

"Ngapain lo kesini? Mau marah-marahin gue lagi?" Tanya Putri ketus.

"Bu..bukan gitu..Put, dengerin gue.."

"Dengerin apaan? Kata-kata yang bikin gue tambah sakit hati? Bikin gue malu?? Mendingan lo pulang deh!" Seru Putri.

"Put, dengerin dulu!"

"PERGII!!!" Teriak Putri. Nicopun pergi meninggalkan rumah Putri. Saat Putri
menoleh kebelakang ia mendapati Sony sedang berdiri didepannya.

"Apa lo?"

"Kok adegan yang baru gue liat kayak adegan di sinetron yaa?"

"Bacot lu, Son!!" Seru Putri. Putri pun pergi kekamarnya.

"Kak Putri kenapa sih? PMS kali ya?"
·         ***
·         Putri melangkahkan kakinya dengan lemas menuju kelas. Putri lagi gak mau berurusan dengan siapa-siapa, termasuk William.

"Weiissh, si Ipi baru dateeng, kok mukanya ditekuk gitu, Mbak??" Celetuk William. Putri menatap tajam William dengan aura neraka.

"BACOT LU!!" Seru Putri. William pun menjadi ketakutan setengah mati.

Putri duduk di sebelah Sonia yang sedang membaca novel.

"Put, kamu gak papa kan?" Tanya Sonia.

"Gue gak papa kok," jawab Putri singkat.

"Kemaren Kak Nico ke rumah kamu ya?" Tanya Sonia. Putri mengangguk.

"Terus Kak Nico ngomong apa?"

"Gak ngomong apa-apa. Gue usir, gue gak mau liat dia."

"Putri.."

"Gue benci sama dia, Sonia!!" Seru Putri.

"Euhm supaya kamu gak bete lagi, nanti ikut aku, William, sama Monica ke mall yuk!" Ajak Sonia. Putri menghela napas.

"Yaudah deh,tapi pulang dulu kaan?" Tanya Putri.

"Iya, nanti William jemput kamu kok!" Kata Sonia.
·         ***
·         William, Sonia, Monica, dan Putri sudah sampai di Mall, dan berniat untuk pergi makan. Setelah mereka selesai makan..

"Put, Sonia, gue sama Monica jalan dulu yaa!" Kata William.

"Mau kemana??" Tanya Putri.

"Ada deeehh, hehee.." William menggandeng tangan Monica keluar dari restaurant. Kemudian Jacob pun datang.

"Hai, Put! Hehee.." sapa Jacob nyengir sambil merangkul bahu Sonia.

"Sonia, kok lo gak bilang kalo bawa nih kunyuk satu! Gue kira lo udah balik ke alam lo, Cob!" Gerutu Putri.

"Gue kan masih libur, makanya gue mau menghabiskan waktu dengan pacar gue tercinta.."

"Kalo tau Jacob dateng gue gak bakal ikut deeh,"

"Yah kalo aku bilang ada Jacob, pasti kamu gak mau dateng, mending
sekarang ikut kita aja yuk," ajak Sonia sambil mengedipkan mata kearah
Jacob.

"Iya, Put..gue jamin lo gak bakal jualan kacang lagi deh, kalo perlu lo jalan ditengah-tengah gue sama Sonia.." kata Jacob.

"Bener, yaa.."

Putri pun menerima ajakan Sonia dan Jacob, mereka pun bertemu Kevin, Aji, dan Marco. Di belakangnya pun ada William dan Monica.

"Kenapa kalian ada disini??" Tanya Putri heran. Kemudian Putri melihat sesosok cowok yang dikenalnya. Nico.

"Ngapain lo disini?" Tanya Putri sinis. Tiba-tiba Nico menarik tangan Putri dan membawanya kabur.

"Semuanya!! Siapiin yaa!!" Teriak Nico.

"Siiippooo!!!"
·         ***
·         Nico mengajaknya ke lantai yang paling atas. Putri mencoba melepas pegangan tangan Nico, tapi tangan Nico terlalu kuat.

"Iiihh, lepasiiin!!!" Kata Putri. Nico diam saja.

"Lo mau bawa gue kemana?? Lo mau mempermalukan gue lagii?" Tanya Putri.
Nico sudah tak tahan dengan ocehan Putri, tiba-tiba Nico pun menggendong
Putri dan membawanya terus sampai lantai atas.

"Heeh! Kak Nicooo!!! Turunin gueee!!!" Putri meronta-ronta. Nico tak menggubrisnya. Sampai-sampai para pengunjung melihat mereka.

Begitu sampai ke lantai atas, Nico menurunkan Putri.

"Mau ngapain?" Tanya Putri.

"Liat kebawah!" Suruh Nico.

"Gak mau!!"

"Liat!!"

"Gak mau!!"

"Liaaaatt!!!" teriak Nico. Putri menghela napas.

"Dibawah kan cuma Arena ice skating doang!"

"Makanya lo liaat!!" Seru Nico.

Putri pun melihat kebawah. Dan Putri pun tak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Air mata tiba-tiba keluar dari matanya.
·         VINCENTIUS NICOLAS

LOVES

VERONIKA PUTRI
·        
Nama mereka diukir di Arena ice skating tersebut dengan bongkahan es, Putri tak percaya dengan apa yang tertulis disana, bahwa Nico cinta Putri.
Putri melihat teman-temannya di bawah sedang mengacungkan ibu jarinya
pada mereka. Putri pun menatap Nico. Nico hanya tersenyum.

"Gimana? Gue mau malu-maluin lo lagi??" Tanya Nico. Putri pun menangis.
Dan Nico hanya bisa tertawa melihat gadis cantik itu, kemudian ia
memeluk Putri.

"Kak Nico, maafin Putri yaa, Putri salaah.." kata Putri sesenggukan.

"Gak papa kok, Put. Gue baru sadar kalo gue sayang banget sama lo, Veronika Putri." kata Nico.

"Berartii..kita jadiaaan??" Tanya Putri.

"Oooh, lo mau nungguin sampe lebaran monyeet??" Celetuk Nico.

"Hahaaa..lucu lo, Kak!" Kata Putri.

"Ngapain coba nungguin sampe lebaran monyet? Sekarang juga bisa wakakakak.."

"Huuuh.."

"Turun, yuk!" Ajak Nico sambil menggenggam tangan Putri dengan erat.
·         ***
·         "Asiiik daah, udaah jadiaaann!" Goda Kevin. Nico sama Putri mukanya memerah.

"PEJE! PEJE!!" Teriak Marco.

"Bacot lo semuaa!!!" Teriak Nico.

"Sekarang kita makan-makan ajaa!!" Ajak William.

"Yang bayar Nico sama Putri!!!" Kata Aji.

"Ahahahaaaa.." mereka tertawa bersama. Sementara itu Nico dan Putri..

"Beneran yaa udah jadiaan? Kok gue ngerasa mimpi?? Gue pengen cubit pipi guee!" Seru Putri.

"Sini gue yang cubit!" Kata Nico. Nico mencubit pipi Putri dengan sangat kencang.

"AWWWW!!!sakiiitt!!! Kak Nicooo!!!" Kata Putri. Nico pun menjulurkan lidah.
Putri pun mengejar Nico yang berlari meninggalkan Putri sendirian.
·        
·         ***
·        

·        
·         “Mil, udah sampe,” kata Aji. Milka turun dari motor Aji dan memberikan helmnya pada Aji.
·        
·        
·         “Thanks ya, Kak.” Kata Milka tersenyum. Aji pun jadi salting.
·        
·        
·         “Eum..Mil,” panggil Aji. Milka menoleh.
·        
·        
·         “Kenapa, Kak?”
·        
·        
·         “Besok mau berangkat bareng gak? Gue jemput..” Tawar Aji. Muka Milka memerah.
·        
·        
·         “Gu..gue takut ngerepotin lo, Kak.” Kata Milka.
·        
·        
·         “Kalo ngerepotin ngapain gue tawarin ke elo, Milkaa..” kata Aji sambil tertawa kecil. Jantung Milka berdegup kencang begitu melihat senyuman Aji.
·        
·        
·         “I..iya deh, gue masuk dulu ya..” Milka menutup pagar rumahnya.
·        
·        
·         Aji yang bersiap-siap untuk pergi, tiba-tiba mendengar suara teriakan Milka.
·        
·        
·         “Papaa!!!Jangaaaann!!!” Teriak Milka. Aji terkejut, ia turun dari motornya dan segera masuk ke dalam rumah Milka.
·        
·        
·         “Papa bakar semua alat lukis kamu, supaya kamu gak bisa melukis lagi dan kamu bisa konsentrasi ke pelajaran!!” Kata Pak Rendra.
·        
·        
·         “Papa jahaaatt!!!” kata Milka dengan suara serak.
·        
·        
·         “Milka!!” Seru Aji. Milka dan Pak Rendra menoleh kearah Aji. Aji berlari kearah Milka .
·        
·        
·         “Mil, lo gak papa?” Tanya Aji dengan nada penuh khawatir.
·        
·         Milka tak menjawab, ia tetap menangis. Aji tak tega melihat Milka hancur seperti itu.
·        
·        
·         “Oom, kenapa Oom bakar semua alat lukisnya?? Udah jelas Milka lebih suka melukis daripada menjadi dokter, Oom!!” Kata Aji membela Milka.
·        
·        
·         “Kamu ya, yang mempengaruhi Milka supaya Milka tidak nurut pada saya??” Ucap Pak Rendra.
·        
·        
·         “Bukan saya, tapi Anda sendiri yang membuat Milka tidak nurut kepada Anda,” jawab Aji enteng.
·        
·        
·         “Berani-beraninya kamu!!” Tangan Pak Rendra hampir mendarat di wajah Aji.
·        
·        
·         “Jangan, Pa! Kak Aji gak salah!” Bela Milka. Milka berdiri di depan Aji, supaya Papanya tidak bisa menampar Aji. Kemudian Pak Rendra menarik tangan Milka.
·        
·        
·         “Milka, masuk kamu!! Kamu pergi dari sinii!!” Usir Pak Rendra.
·        
·        
·         “Kak Aji, Kakak pulang aja!!” Suruh Milka.
·        
·        
·         “Tapi, Mil..”
·        
·        
·         “Pulang, Kak! Gue gak papa kok!” kata Milka. Aji menuruti omongan Milka yang menyuruhnya pergi.
·        
·        
·         Tapi Aji masih khawatir dengan keadaan Milka, akhirnya ia memilih untuk pergi kerumah Putri untuk bicara tentang masalah Milka dengan Nico dan Putri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS