Cuma Gue yang Bisa II

PART II
Keren kahn ceritanya?? Ngakak  nggak?? Iya dong! (PD) Ni Part 2-nya.. 
*****

Hari ini adalah saat-saat yang paling Putri tunggu, karena hari saatnya Nico datang untuk mengajar Putri sebagai guru privat. Tapi, karena besoknya Sony ada ulangan
Matematika, Nico lebih memilih untuk mengajar Sony. Tentu saja Putri
merasa kesal.

"Nih, Son caranya gini.." Nico mengajari Sony dengan pelan-pelan. Putri cemberut melihat mereka berdua.

"Ooh, gitu, Kak? Gue ngerti!" Kata Sony.

"Son, lu kan udah ngerti! Sekarang giliran gue yang diajarin!” Kata Putri.

"Put, ngalah dong sama adek lo! Adek lo kan besok mau ulangan!" Seru Nico.

"Ganggu aja nih, Kak Putri.." Kata Sony. Putri melotot kearah Sony. Akhirnya ia mengalah, Putri menelepon Milka.

"Halo?"


"Mil, kerumah gue dong!"

"Gu..gue..lagi sama Kak Aji.."
"HAH!?" Teriakan Putri didengar oleh Sony dan Nico. Milka yang disebrang sana mendengar teriakan Putri, menutup telinganya.

"Lo sama Kak Aji?"

"Iya, Put. Gue lagi ngobrol doang sih.."

"Ajak aja deh, ada Kak Nico ini,"

"Oke deeh, gue sama Kak Aji meluncuur.." Putri mengakhiri pembicaraannya.

"Put, kenapa lo? Tambah gak waras aja.."

"Tapi lo suka kaan?hehee.."

"O-G-A-H! OGAH!!" seru Nico.

"Son, udah belom lo? Gantian napa!?"

"Enak ajaa, baru satu materi yang diajarin!"

"Emang berapa materi??"

"5."

"Bujug! Ah elo Son ganggu acara gue ama Kak Nico aja sih!" Tuduh Putri.

"Apaan siih!!" Putri sama Sony jadi berantem gara-gara rebutan minta diajarin sama Nico.

"BERISIIIK!!!" Teriak Nico. Putri dan Sony langsung berhenti.

"Gue pulang nih, lama-lama!" Ancam Nico.

"Yaaahh, Kak Nico jangaan pulaaang!" Mohon Putri.

"Iya, Kak.." Sony juga ikut-ikutan.

"Lagian pada berantem!" Nico duduk lagi disamping Putri dan Sony. Kemudian Milka dan Aji datang.

"Co, teriakan lo kedengeran sampe luar tauk!" Seru Aji.

"Untung aja kagak ada bonyok mereka berdua!" Kata Nico.

"Ciyeeekaan Putri, Kak Niconya direbut sama Sony..hehee..jealous deh.."
Celetuk Milka. Saking kesalnya tangan Putri ngedorong muka Milka.

"Aduuuh!!" Seru Milka. Milka memegang wajahnya.

"Diem lo!" kata Putri melengos.

"Daripada di kacangin, mending lo maen ama gue sama Kak Aji hehee.." kata Milka.

"Maen apaan?"

"Gak tauu.." kata Milka.

"Kalo gitu gak usah ngomong!!" Seru Putri.

"Co, kasian tuh si Putri mukanya udah ngeluarin aura neraka, hihii.." kata Aji.

"Sabodo teuing," kata Nico masa bodo.


Sementara itu..

"Sini deh, gue ajarin," kata Milka.

"Gak mau gue! Udah males gue belajar!" Putri terus melengos. Putri paling
susah baeknya kalo udah ngambek, Milka aja gak bisa berkutik.

Kemudian Putri memilih untuk pergi kekamarnya meninggalkan Nico, Sony, Milka, dan Aji.

"Lah, lah..pergi orangnya.." kata Aji. Nico menoleh kearah Putri.

"Yaaahh, Kak Putri ngambeek.." kata Sony.

"Yah, susah deh kalo Putri udah ngambek," kata Milka.

"Serius tuh anak ngambek?" Tanya Nico. Milka mengangguk.

"Asik dah, mulai perhatian sama Putri.." Celetuk Aji. Kepala Aji langsung dijitak sama Nico.

"Sakiit, gila!" Seru Aji.

"Bodo!" Nico langsung menyusul Putri kekamarnya.

***
TOK TOK TOK! Nico mengetuk kamar Putri. Tapi tak ada jawaban. Kemudian Nico memutar kenop pintu Putri, ternyata tak dikunci. Nico melihat Putri sedang bersembunyi di dalam selimut. Nico
menghampiri tempat tidur Putri, duduk disamping Putri.

"Ngambek lo ya?" Tanya Nico. Putri tak menjawab.

"Jangan kayak anak kecil napa! Lo harusnya ngertiin adek lo, Put. Adek
lo kan mau ulangan! Lo kan besok gak ada ulangan harusnya lo ngalah!"
Ujar Nico. Putri tetap tak mau keluar dari selimut. Kesabaran Nico udah
habis, ia langsung menarik selimut Putri, Putri menarik selimutnya lagi
dari Nico, jadi maen tarik-tarikkan selimut.

"Iiih, jangan di tariikk!!!" Seru Putri.

"Makanya jangan ngumpet di dalem selimuut!!"

Karena tenaga Nico lebih besar, selimut Putri pun sukses ditarik sama Nico. Rambut Putri berantakan. Nico tak bisa menahan ketawanya.

"Apa lo ketawa-ketawa!!" Seru Putri.

"Muka lo gokil, Put! Hahahaa.." Tawa Nico meledak. Putri semakin kesal, Putri pun mendorong muka Nico dengan tangannya.

"Iiiih, nyebelin banget siih loo!!!" Seru Putri.

"Udah ah, yaudah deeh, maafin guee..ayo turuun!" Ajak Nico. Tapi tiba-tiba Putri cengengesan. Nico mengangkat alis.

"Kenapa lagi lo? Kesambet?" Tanya Nico.

"Hehehee..kok lo perhatian banget sih sama guee, Kak? Lo ada hati ya, ama guee?" Tanya Putri.

"Ngomong ama tangan!!" Seru Nico. Nico keluar dari kamarnya, Putri pun tertawa sendiri.
***
"Aduaduh, yang tadi ngambeeek.." celetuk Milka.

"Udah baikan nih ceritanya??" Tanya Aji.

"Tau, akh!" Gerutu Nico.

"Kak Putri, maafin gue deeh," kata Sony.

"Maaf lo diterima tapi ada satu syarat!"

"Apaan?"

"Traktir gue di O La La!"

"Sedeng lo!!" Sony langsung masuk kedalam rumah. Putri hanya tertawa melihat ekspresi muka adiknya.

"Sini gue ajarin!" Kata Nico.

"Nggak ah," Putri menjulurkan lidah.

"Brengsek banget lo, Put! Kalo gitu daritadi ngapain gue nyusul lo, terus minta maaf sama lo!" Kata Nico.

"Gue kan cuma ngetes lo doang, Kak! Lo tuh perhatian gak ama gue, dan
ternyata lo perhatiaan banget ama gue, makin kesemsem gue ama lo, Kak!"
Kata Putri kegirangan. Milka dan Aji tertawa.

"Nyebelin banget sih lo!!" Kata Nico.
***
Hari Sabtu tiba, saatnya mereka mengikuti LDK OSIS, dengan sangat terpaksa Nico harus menjemput Putri di rumahnya, karena Kevin menjemput Anin. Putri sudah menunggu Nico didepan
rumahnya.

"Ayo cepetan!" Ajak Nico. Nico terbelalak melihat barang bawaan Putri. Putri
membawa dua tas, yang satu tas ransel, yang satu tas tentengan.

"Heloo, Veronika Putri, lo bukan mau liburan, lo mau LDK, kenapa
lo kayak mau liburan sih!?" Seru Nico, Nico mengambil tas tentengan Putri
dan membawanya ke teras.

"Yaaah, itu kan barang bawaan guee!"

"Ribeeet! Udah ah! Naek cepetaan!!" Putri memajukan bibirnya dan naik ke motor Nico.
***

"Akhirnya lo berdua dateng juga! Lu ngapain sih berdua?" Tanya Kevin.

"Pacaran dulu, Kak!" Jawab Putri. Tapi kemudian kepalanya dijitak sama Nico.

"Diem lo! Gue sumpel mulut lo pake kertas!" Ancam Nico. Putri memanyunkan bibir.

"Kejam banget lo, ama Putri!" Seru Anin.

"Kalo didiemin, tambah gak waras dia!"

Kemudian para pengurus kelas XII memanggil mereka untuk berbaris di
lapangan. Mereka memperkenalkan diri pada para pengurus kelas XII
sekaligus inti baru OSIS.

Hari sudah larut malam, jam 12, saatnya JURIT MALAM.

Putri menjadi gemeteran, Nico yang melihat ekspresi muka Putri menjadi heran.

"Kenapa lo? Takuut?" Tanya Nico.

"Ng..nggak kok," kata Putri.

"Muka lo gak bisa boong, idung lo tuh kembang kempis!" Kata Nico sambil menunjuk kearah hidung Putri.

"Lo tuh perhatian bangeeet sih ama guee..hehee.." kata Putri nyengir.

"Ngomong tuh ama tembok!" Seru Nico. Putri cemberut, mereka berdua
menunggu giliran untuk ikut jurit malam, tiba-tiba Kevin berlari
menghampiri mereka.

"Kenapa, Vin?" Tanya Nico.

"Gini, Anin tiba-tiba sakit, terus panitia gak ada yang bisa jagain
dia, jadinya gue harus ngejagain dia, Co. Lo jurit malam bareng Putri
doang gak papa kan? Kagak bakal lo di makan sama Putri! Paling di samber
doang lo!" Seru Kevin.

"Ah elo maah, Vin."Kata Nico.

"Gue tau, Co, lo pengen banget bersama gue, tapi sayang gue gak bisa,
maafkan diriku, hatiku tertuju pada Anin bukan padamu, kurelakan kamu pada
Putri," kata Kevin melankolis sambil merangkul pundak Nico.

"Iiih jijik gue ama lo!" Seru Nico. Kevin tertawa ngakak.

Kemudian kelompok Nico dipanggil untuk giliran jurit malam.

"Semoga kembali dengan selamaat!!" Kata Kevin.

"Doain gue, Vin! Mudah-mudahan gue gak di makan sama Putri!" Kata Nico.


Nico dan Putri mendengarkan instruksi dari kelas XII.

"Kalian harus menemukan petunjuk-petunjuk di kertas ini yaa,"

Nico dan Putri segera berangkat mengitari sekolah yang sangat gelap untuk
mencari petunjuk-petunjuk yang telah tersebar di sekolah. Tempat
pertama adalah, ruang OSIS.

"Kak, petunjuknya mana nih??" Tanya Putri.

"Nih gue lagi nyari!" Nico mencari petunjuk di atas rak. Saat Putri menoleh ke jendela, Putri melihat "putih-putih" di jendela.

"DITAAAA!!!" Teriak Putri, Nico pun terkejut dan menghampiri Putri.

"Lo kenapa teriak?" Tanya Nico. Putri langsung bersembunyi di balik punggung Nico.

"Ituuu.." Putri menunjuk kearah jendela, Nico menyipitkan mata.

"Ya, ampun Putri..itu kan sprei putih yang di jemur sama penjaga sekolah!" Kata Nico. Putri melongo.

"Beneran?"

"Iyee..parno duluan sih lo! Ayo ah, gue udah nemuin petunjuknya, sekarang kita ke Ruang lab biologi!"


Mereka melanjutkan perjalanan, dalam jurit malam tersebut, memang di
rutenya di penuhi oleh kerjaan para pengurus yaitu membuat
"hantu-hantuan', yang ternyata sukses membuat Putri takut setengah
mampus. Nico sampai risih mendengar Putri teriak terus begitu melihat
'hantu'.

"Kak Nico! Itu ada yang terbang!"

"Itu cuma bola di tutupin kain putih!"

"Itu apaan!? Hantu!"

"Itu guling!!"


Putri terus ketakutan, karena tak biasanya ia mengikuti jurit malam, dulu
saat SD ia pernah ikut tapi baru masuk ke areanya, langsung pingsan
duluan, dan sekarang baru kali ini dia mengikuti jurit malam. Sampailah
mereka di area terkahir yaitu area yang cukup menakutkan, kelas XII IPA
3, kelas paling pojok dan agak angker, katanyaa..

Nico dan Putri mencari-cari petunjuk itu di pelosok kelas, dari kiri ke
kanan, depan belakang, atas bawah (??). Tiba-tiba Putri mendengar suara
ketawa perempuan. Mukanya menjadi pucat, kakinya gemeteran.

"Kak Nicoo.." panggil Putri.

"Apaan sih, Put?" Tanya Nico yang masih mencari petunjuk.

"Denger gaa?"

"Denger apaan sih?"

"Denger hi-hi-hi.."

"Hah apaan?" Tanya Nico heran.

"Hi-hi-hi-hi.."

"Ngomong yang bener dong Put! Jangan kayak orang kumur-kumur begituu!!!" Seru Nico.

"Iiih, denger suaraa ketawaa ceweek!!" Seru Putri.

"Aaah itu mah kerjaannya anak OSIS!" Kata Nico enteng.

"Tapi tetep aja gue takuut," kata Putri.

"Baca doa aja lo"

Putri mengikuti saran Nico untuk berdoa, Putri komat-kamit membaca doa gak
tau doa apaan, yang tahu cuma Putri sama yang di Atas. Tapi saat ia
menoleh ke arah jendela, Putri melihat
seseorang-yang-berdiri-tak-tahu-siapa-darimana-mau-kemana-kenapa-melihat-kearah-Putri.
Putri semakin gemeteran, dia langsung menghampiri Nico dan tak sengaja
mendorong badan Nico sehingga kepalanya Nico nabrak meja, nasib..nasib..

"Aduuuuh!! Apaan sih Put!!! Benjol lagi kepala gue nih!" Kata Nico sambil memegang kepalanya.

"Ituu.." kata Putri sambil menunjuk ke
seseorang-yang-berdiri-tak-tahu-siapa-dari-mana-mau-kemana-kenapa-melihat-kearah-Putri.
Nico melihat kearah jendela. Nico menyipitkan mata.

"Itu?" Tanya Nico. Putri mengangguk. Nico menghampiri
seseorang-yang-berdiri-tak-tahu-siapa-dari-mana-mau-kemana-kenapa-melihat-kearah-Putri.
(kasian banget Putri -,-). Nico mendekati, Putri semakin takut.

"Lo anak OSIS kaan?" Tanya Nico. Dia tak menjawab terus menunduk.

"Woi, jawab dong!" Kata Nico. Dia tetap tak menjawab. Kemudian Nico melihat kearah jendela, ternyata petunjuk terakhir ada disitu.

"Hei, siapapun lo, gue berterima kasih sama lo, lo udah ngasih tau,
tempat petunjuknya, hehee.." Kata Nico. Kemudian Putri
menggoyang-goyangkan bahu Nico. Nico berbalik kearah Putri.

"Apaan sih, Put? Dia anak OSIS kok!! Terima kasih lo sama dia!"

"Dia bukan anak OSIS, Kak Nico!! Bego banget siih!!" Seru Putri.

"Apaan sih? Lo yang bego! Dia kan anak OSIS, iya kaa.." Saat Nico
menoleh kearah 'itu', ucapan Nico berhenti. Dia menghilang, tak ada
jejak. Muka Nico semakin pucat. Gemeteran.

"Tuuh, kan gue bilang juga apaaa!!" Kata Putri.

"Jadi..tadi..yang di..depan.. gueee??" Tanya Nico gelagapan.

"SETAAANN!!" Teriak Putri. Putri dan Nico langsung lari terbirit-birit ke tempat panitia.

Marco, Milka, Aji, Kevin, Anin dan beberapa panitia lainnya
terkejut mendengar teriakan Nico dan Putri. Nico dan Putri datang dengan
napas terengah-engah.

"Lo berdua kenapa??" Tanya Marco.

"Gue liat setan, Mar!!" Seru Nico. Semua terbelalak.

"Ah, bohong lo! Itu Kak Irva tau!" Kata Marco.

"Nggak! Itu beneran! Bener kan, Put?" Tanya Nico. Putri mengangguk.

"Nggak, itu Kak Irva! Gue panggil Kak Irva!" Marco memanggil Irva yang sedang berdandan ala hantu.

"Apaan sih, Mar!" Kata Irva.

"Kak, tadi lo yang nakut-nakutin Putri sama Nico kan?" Tanya Marco.

"Hha? Maksud lo paan? Gue baru mau jalan ke tempat jurit malam!" Seru Irva.

Semua terdiam, mendengar statement Irva yang katanya ia tak menakut-nakuti Nico dan Putri.

"Tuh kaan, lo sih kagak percaya!" Seru Nico.

"Jadiii..kalian berduaa..ngeliat..setaan?" Tanya Milka dengan muka pucat.

"Iya!" Kata Putri.

Mereka yang sedang duduk di tempat yang agak sepi itu diam, tak bergerak..


krik

krik

krik

krik

.....


"DITAAAA!!!!" Tiba-tiba semuanya kabur, gara-gara mendengar cerita Putri dan Nico yang bertemu hantu beneran.
***
"Terima kasih yaa, buat semuanya, sekarang kalian sah menjadi anggota pengurus OSIS yang baru, yaaa..meskipun ada kejadian yang kurang mengenakkan yang terjadi pada
Nico sama Putri, setidaknya kita bisa bersenang-senang,hehee.." kata
Septian sebagai ketua OSIS yang lama.

"Bukannya seneng-seneng, ketakutan setengah mati!!" Seru Nico.

"Iya,iya, yaaa..gue harap kejadian ini gak bakal terjadi lagi deh, yaah sekarang kalian boleh pulang!"

Semua anak-anak sudah berhamburan pulang kerumah, tentu saja Nico harus
mengantar Putri pulang kerumah. Putri senyam-senyum melihat Nico. Nico
menjadi risih dibuatnya.

"Kak Nico kemaren thanks yaa.."

"Thanks? Buat apaan?"

"Udah nemenin gue pas jurit malam, hehee..makin demen gue ama lo!" Kata Putri.

"Tadinya gue mau numbalin elo ke 'itu' supaya lo gak ganggu idup gue lagi, tapi ntar gue di gaplok ama bonyok lo!" Kata Nico.

"Tapi kan kalo gak ada gue, idup lo gak bakal berwarna, Kak...hehee.."

"Yeeuuh, hidup gue warnanya malah item, suram gara-gara ketemu lo!"

"Aaaah, Kak Nico mah jangan malu-malu gituu deeh, hheeee.." Putri semakin mendekatkan diri pada Nico.

"Jauh-jauh loo!!!" Nico kabur dari Putri.

"Huwaaa! Kak Nicoo! Tungguin gueee!!"Putri langsung mengejarnya.
***
Nico sedang bermain Gitar dengan asal-asalan di balkon kamarnya. Nyanyinya juga asal-asalan, nada kemana, nyanyi kemana, tapi teteeepp..suaranya nampol *PLAAK*. Tapi
entah kenapa, pikirannya saat ini tertuju pada Putri. Sekali lagi PUTRI.
Ketika Nico sadar bahwa sedari tadi dia selalu mikirin Putri terus,
kepalanya langsung dipukul-pukul.

"Ngapain sih lu, Co! Mikirin anak sarap kayak gituu!!!" Gerutu Nico.

Tiba-tiba handphone Nico berbunyi..Nico mengambil handphonenya yang ditaruh di meja
belajar. Nico terbelalak melihat pesan yang masuk ke hapenya.


From: 0856 9305XXXX

Hai..Ganteeeng!!^^



"Buset! Siapa nih yang ngirim sms kayak gini!?" Seru Nico. Nico memutar-mutar otaknya, berpikir siapa yang ngirim sms kayak gitu. Memang banyak
cewek-cewek yang mengirim pesan ke handphone Nico hampir setiap hari,
tapi baru kali ini ada pesan yang sangat agresif seperti itu.

"Pasti ini nomornya Putri!?" Seru Nico. Nico mengetik sms dengan cepat dengan sangat nafsu.

To: Putri gila

Heh!! Ini nomor lu ya, Put! Ngapain lu sms guee??



Tak sampai 2 menit, balasan dari Putri datang..


From: Putri gila

Heheeee..kok lo tau sih ni nomor gue?? Jangan2 dulu lo nanya2 ke Milka minta nope gue yaaa?heheee..


Nico bergidik ngeri, kemudian Nico membalas lagi..


To: Putri gila

Buset daah ni anak satuu! Lo tuh kege-eran banget siih!! Yang bakal ngirim SMS sedeng kayak gitu cuma lo doang pelakunya!!


Kemudian balasan datang dari Putri..


From: Putri gila

Ehh, besok ngajarin gue kaaan??



Nico pun membalas sms Putri..


To: Putri gila


Tapi gue sparing dulu sama SMA Tunas Pusaka,


Balasan dari Putri datang..


From: Putri gila


Sparing dulu? Asiiiikk..gue sama NICE bakal nonton sparing loo! Gue mau jarkom anak-anaknya dulu yaa!! Dadaaah, Kak Nicooo..mimpiin gue yaaa!!^^




To: Putri gila

Idiih alaaah, gak bakal guaa mimpiin loo!


"Mampus dah besok! Kelompok cewek-cewek gak waras itu bakal nonton sparing guee! Aduuh!!" Decak Nico.

"Berdoa aja deh guee!" Pasrah Nico.

***
"Kenapa lagi sih lo, Co? Setrika dirumah lo rusak lagi?" Tanya Kevin sambil memakan gorengan ngutang di penjaga kantin.

"Nggak, setrika dirumah gue kan dicolong lo,Vin. Gara-gara dirumah lo, lo gak boleh pake setrika soalnya langsung rusak, makanya lo nyolong setrika
rumah guee!" Seru Nico.

"Bener-bener lu, Co! Nyari masalah ama guee!!" Kata Kevin sambil nyomot Chitato Nico.

"Anjrit lu, Vin! Nyari ribut sih nyari ribut! Tapi jangan nyomot Chitato gue!!" Seru Nico sambil memegang Chitatonya.

"Woii! Ni kantiin! Bukan area Smack Down!!" Lerai Marco. Tapi Nico sama Kevin tetep ngelanjutin main nyolot-nyolotan.

"Ji, jangan cengok kayak gitu dong!! Bantuiin guee misahin nih dua orang
gila!!!" Seru Marco. Tapi Aji tetap mengacuhkan omongan Marco
yang sedari tadi berkicau-kicau kayak burung beo. Matanya terpaku
kearah seorang gadis yang sedang memesan mie goreng bersama temannya.
Aji memegang kamera analognya yang daritadi berada di sampingnya,
Aji bersiap-siap memencet tombol shutternya dan..

JEPREET!

Aji mengambil foto gadis tersebut tanpa ketahuan. Aji tersenyum memandang
foto yang ia ambil. Aji tak sadar jika Marco, Kevin, dan Nico sudah
berada dibelakang Aji sambil melirik kamera Aji.

"Ketauan lo yaaa!!!" Seru mereka semua. Aji hampir jatuh dari kursinya, dan kemudian ia mengelus dadanya.

"Kampret lo bertigaaa!! Kalo gue mati disini gimanaa!!?" Teriak Aji.

"Yaaah, gue sujud syukur, Ji. Saingan gue berkurang hehee.." celetuk Kevin.
Tiba-tiba kepala Kevin dijitak oleh Marco dan Nico.

"Paan sih lo berduaaa!?" Ringis Kevin sambil memegang kepalanya.

"Ketauan lo, yaa motoin Milkaa..asiiik daah.." Goda Marco. Aji jadi salting.

"Apaan sih!?" Seru Aji. Nico, Kevin, dan Aji duduk di depan Aji.

"Lo suka Milka, yaaa??" Selidik Nico. Aji terdiam. Tiba-tiba muka Marco, Nico, dan Kevin semakin maju kearah Aji.

"Lo bertiga udah kayak mau nyerang guee tau gak! Singkirin tuh muka
minyakan lo pada dari depan guee!!" Kata Aji. Mereka mundur dan
kembali duduk menghadap Aji dan memegang muka mereka masing-masing.

"Elu kali, Ji yang minyakan! Muka gue kinclong gini!" Gerutu Kevin sambil memegang-megang mukanya.

"Woelaaah..biasa aja kali, Vin! Ampe dipegang-pegang mulu tuh muka, kagak bakal kabur ninggalin elo!" Kata Nico.

"Yaaa, siapa tau ajaa muka gue tiba-tiba minyakaan ntar fans gue pada ngabur semua!" Kata Kevin.

Tiba-tiba seseorang memanggil dari kejauhan, suara paling cempreng yang pernah mereka dengar,

"Kak Nicooooo!!!!"

Nico menoleh kearah suara, ketika Nico tahu kalau yang manggil itu Putri, Nico
langsung menyembunyikan muka ke dalam buku. Putri berlari sambil membawa
mie gorengnya dan tiba-tiba...

GEDEBUK!

Putri jatuh tersandung, terus mie goreng kemanaa? Putri mencari-cari mie gorengnya
dan ia temukan di...kepala Nico. Nico melotot kearah Putri, Putri hanya
nyengir.

"Putriiiiy!!!!!" teriak Nico.

"Waduh! Murka nih si Nico!" Kata Marco. Aji hanya menahan tawa.

"Wakakakakk, gila! Ancur muka lo, Co!!" Kevin tertawa terbahak-bahak sampai sakit
perut. Putri yang melihat kepala Nico dipenuhi dengan mie gorengnya,
langsung panik dan mencoba mengambil mie goreng yang di kepala Nico.

"Ya, ampuuun!! Kak Nicooo!! Im so sorry.." kata Putri panik.

"Sori,sori..sori pala lo!bersihin rambut gueee!!!" Suruh Nico.

"Kalo diliat-liat makin ganteng aja lo, Co. Harusnya daridulu aja, rambut lo
di pakein mie goreng, siapa tau jadi trendsetter, hahaa." celetuk
Marco.

"Sompret lu, Mar!!" Seru Nico. Marco dan Kevin membantu Putri untuk membersihkan rambut Nico.

"Rambut gua bau mie goreng niih!" Gerutu Nico.


Aji melirik kearah Milka yang sedari tadi ketawa, Milka pun melirik kearah
Aji gara-gara daritadi merasa diperhatikan. Aji langsung
mengalihkan perhatiannya pada Chitato Nico dan langsung memakannya. Nico
pun yang sadar kalo Chitatonya dimakan, langsung menoyor kepala Aji.

"Nyari-nyari kesempatan lu yak pas gue lagi panik gara-gara rambut guee!!" Kata Nico.

"Heheee..piis, Co!" Kata Aji nyengir. Tiba-tiba Milka duduk di samping Aji.
Otomatis Aji terkejut dan jantungnya berdebar-debar.

"Kak, gue duduk disini ya, pegel gue berdiri terus, laper lagi." kata Milka.

"Iyaa,iyaa.." Milka langsung melahap mie gorengnya seperti orang yang tak makan
selama seminggu. Tiba-tiba Aji tertawa. Milka mengangkat alis melihat
Aji yang sedari tadi tertawa.

"Kenapa lo, Kak? Udah gila?" Tanya Milka.

"Gokil banget lo, Mil. Kayaknya pas lo makan jiwa cewek lo ilang yaa?"
Tanya Aji. Milka tersedak, dan langsung mengambil es jeruk punya
Aji. Aji terkejut, cewek manis kayak Milka bisa kehilangan jiwa
ceweknya pas makan.

"Walaaah, es jeruuk gueee!!!" Seru Aji. Milka hanya nyengir.

"Gue belom minum sama sekali tuuh!!" Kata Aji.

"Gue beliin lagi deeeh, abis minuman di depan gue cuma punya lo doang siih.." kata Milka nyengir.

"Gue minta dua, Mil!" Kata Aji.

"Enak ajaa! Nggak!" Milka segera pergi ke tukang jualan minuman.


Sementara itu, Nico sudah selesai membersihkan rambutnya, meskipun masih
tercium bau mie goreng. Putri pun memesan kembali mie goreng.

"Kak, kemaren sukses gaak?" Tanya Putri cengengesan. Nico menatap Putri heran.

"Sukses apaan?" Tanya Nico sambil meminum es tehnya.

"Sukses mimpiin gue, hehee.."

Nico yang sedang minum, begitu mendengar kata-kata Putri, Nico tersedak dan
langsung menyembur muka Marco. Kevin, Aji, Milka, dan Putri langsung
menganga, dan setelah itu tertawa.

"Nicoooo!!!!" Teriak Marco.

"Sori, Mar..!Gara-gara lu sih!" Kata Nico sambil memukul bahu Putri.

"Lah? Kok gue yang disalahin siih! Kan gue cuma tanya lo sukses gak kemaren mimpiin guee??" Tanya Putri.

"Tadinya gue udah mimpi nikah sama Demi Lovato, eehh lo dateng, mimpi gue berubah jadi.." kata Nico.

"Mimpi indah, Kak?" Tanya Putri dengan mata berbinar-binar.

"Nggak. Jadi mimpi buruk!" Putri mencibir.


TEEEEETTT...bel masuk berbunyi..

Nico, Aji, Kevin, dan Marco beranjak dari tempat duduknya.

"Kita duluan yaa!" Kata Marco.

"Oke!" Kata Milka yang masih sibuk makan batagor. (hah?udah mie goreng sekarang batagor?)

"Kak Nico!!! Ntar gue sama NICE bakal ngedukung Kakak sparing lho!!" Kata Putri.

Nico mengacuhkannya, sedangkan Kevin, Aji dan Marco menggoda-godai Nico sambil jalan menuju kelasnya.

"Mil, ntar temenin gue yaa!" Kata Putri.

"Iya,iyaa..emang anggota tim basketnya siapa aja, yang ikut sparing?" Tanya Milka.

"Kak Nico, Kak Aji, Kak Marco, 2 orang lagi anak kelas X." kata Putri.

"Oooh gituu.." kata Milka.

'Kak Aji ikut basket juga yaa?' Batin Milka.
***
"Heuh! Emang bener-bener ya, anak-anak, masa gue disuruh piket sendiri!"Gerutu Milka sambil menyapu kelasnya.

"Putri, malah bikin spanduk sama poster buat nyemangatin Kak Nico! Gue
malah ditinggalin!" Lanjut Milka. Tiba-tiba sebuah pesawat-pesawatan
kertas yang terbang, masuk kedalam kelas X-3. Pesawat itu jatuh ke
lantai, dan Milka mengambilnya dengan kesal.

"Ini lagi! Siapa sih yang maen pesawat-pesawatan!? Masa kecil kurang
bahagia apaa?" Kata Milka, ia sudah mau membuang pesawat itu, tapi ia
melihat sebuah tulisan di salah satu sisi pesawat.

To: Milka Emilia

Jangan cemberut terus, piket itu tugas mulia lho, hehee..
Apa perlu aku kasih bunga mawar putih sekarang juga?
Jangan deh, besok aja, tunggu mawar putihnya di atas meja kamu besok yaa

AS



Milka langsung celingak-celinguk mencari sosok cowok berinisial "A" itu,
Milka sangat penasaran dengan sosok asli cowok tersebut. Tapi tidak ada
orang di sana, hanya Milka.

***
Tim basket SMA Citra Bangsa sudah bersiap-siap dan sedang melakukan pemanasan yang dipimpin oleh kapten timnya yaitu Nico. Setelah pemanasan mereka melakukan briefing. Setelah briefing selesai, mereka bersiap-siap dilapangan menghadapi SMA Tunas Pusaka.

Begitu peluit dibunyikan, persaingan sengit antara Kapten tim SMA Citra
Bangsa, Nico dengan kapten tim SMA Tunas Pusaka, Michael dimulai. Tim
basket SMA Tunas Pusaka adalah tim basket terkuat di kawasan Jakarta,
mereka sering memenangkan berbagai kejuaran, sedangkan tim basket SMA
Citra Bangsa, dulu dipandang sebagai tim dengan kemampuan yang
biasa-biasa saja, seluruh murid SMA Citra Bangsa berharap dengan adanya
Nico sebagai kapten tim basket sekolahnya bisa memperbaiki dan
meningkatkan prestasi tim basket sekolahnya.


Tim Citra Bangsa (CB) mulai kewalahan menghadapi permainan gesit Tim
Tunas Pusaka (TP). Terutama Michael, kapten tim TP. Meskipun bisa dibilang
Michael tak setinggi Nico, tapi permainan Michael cukup membuat Nico kewalahan.
Nico tak bisa mengimbangi Michael.

"Gawat kalo kayak gini!" Gumam Nico.

Saat ini bola berada di tangan Nico, Nico pun mencari-cari anggota timnya
yang masih bebas. Marco dan Aji dijaga ketat oleh tim TP, Nico tak
bisa mengoper bola ke Marco ataupun Aji. Nico akhirnya mengoper ke
anak kelas X, Obiet. Saat Obiet melakukan shoot, sayang bolanya
meleset, tak masuk.

Kali ini saatnya Nico mendribble bola dan memasukkan ke ring, saat Nico sudah bersiap-siap untuk shoot bola, tiba-tibaa..

"Kak Nicooooo!!!!!!" Teriak Putri dari pinggir lapangan sambil memegang poster bertuliskan "NICO GANTEENGG!" walaah.. -,-

Teriakan Putri diikuti oleh teriakan-teriakan anggota NICE yang lain.

"DITAAAA!!!!NICOOO!!!!" Mereka semua memberikan semangat kepada Nico, termasuk si trio macan, Monica, Grace dan Fifin.

Milka yang berada disamping Putri hanya menutup kupingnya. Nico, Marco,
Aji dan semua pemain yang sedang sparing menganga melihat kelakuan
cewek-cewek gak waras nan sedeng yang tak lain dan tak bukan fans
fanatik Nico. Sekali lagi NICO.

Shoot bola Nicopun tidak masuk ring tapi malah memantul ring, dan tiba-tiba..

BUUGGHHHH!!

"Aduuuhh!!!"


Semua penonton terbelalak melihat kejadian yang baru saja mereka lihat.
Nico ketimpuk bola basket yang ia lempar sendiri. Nico meringis
kesakitan. Setengah muka Nico memerah, akibat ketimpuk bola basket.
Sekali lagi, BOLA BASKET. Karena terjadi sesuatu yang tidak
diperkirakan, akhirnya pelatih tim CB meminta waktu istirahat, Nico
langsung berlari ke pinggir lapangan. Putri menghampiri Nico untuk melihat
cowok itu.

"Ya ampuun Kak Nicoo!! Muka lo meraaah!!" Kata Putri panik sambil memegang
muka Nico yang merah akibat terkena bola basket. Sekali lagi, BOLA
BASKET.

"Aduuh, sakit, monCoong!! Jangan keras-keras megangnya!!" Gerutu Nico.

"Makanya jangan ngeliatin gue mulu, Kak!" Kata Putri.

"Geer banget lo!!" Kata Nico.

Tiba-tiba Michael memandang Nico dan Putri yang sedang berdua di pinggir
lapangan. Putri dan Nico yang daritadi merasa diperhatikan, menoleh kearah
cowok itu.


"Putri?"

"Michael?"
***
"Aduuh, kok pala gue kunang-kunang siih?" Keluh Putri sambil memegang kepalanya. Putri merasa
kepalanya sangat sakit dan pusing. Padahal hari ini Putri dan beberapa
pengurus OSIS yang lain akan pergi wisata ke Puncak selama seminggu
(walaaah lama amat!). Putri berusaha untuk mengangkat kepalanya, tapi tak
kuat, akhirnya ia memilih untuk memanggil mamanya.

"Mama!" Panggil Putri dengan suaranya yang agak serak.

Bu Helen yang mendengar suara anak gadisnya memanggil dirinya pun datang.

"Ya, ampun Putri kamu kenapaa??" Tanya Bu Helen sambil memegang kening Putri.

"Gak tau nih, Ma. Tiba-tiba kepala Putri sakiit.." keluh Putri.

"Badan kamu panas, Sayang. Kamu gak usah ikut jalan-jalan ya.." Kata Bu Helen.

"Hah? Gak mau, Ma..Aku udah janji sama Milka, aku gak mau batalin janji aku.." kata Putri.

"Tapi kamu sakit kayak gini, Putri..kalo kenapa-kenapa gimana?"

"Aku bisa jaga diri kok, Ma. Mama siapin obat-obatan aku ajaa.." kata Putri. Kemudian Pak Angga dan Sony datang kekamar Putri.

"Kamu masih tetep pengen ikut jalan-jalan, Put?" Tanya Pak Angga.

"Iya, Pa..Papa anterin aku ke sekolah yaa.." kata Putri.

"Nanti kalo kamu bener-bener gak kuat, kamu telpon Papa yaa.." Putri mengangguk.

"Yah, elu, Kak. Ngerepotin aja!" Kata Sony. Bu Helen melotot kearah Sony.

"Sony! Kakak kamu lagi sakit!" Gerutu Bu Helen. Putri menjulurkan lidah pada Sony, dan Sony pun membalasnya.

"Yaudah, Ma. Aku siap-siap dulu, yaa.." Putri berusaha bangun dari tempat tidurnya dan bersiap-siap.
***

Milka terus melirik jam tangannya, sambil melihat-lihat kearah gerbang.

"Aduuh, Putri mana siih?" Keluh Milka.

"Putri belom dateng, Mil?" Tanya Nico.

"Asiik, daah Kak Nicoo..nyariin Putri..kangeen yaa?" Goda Milka.

"Idiiihh..gak bakalan mungkin gua kangen sama cewek gila kayak Putri.." kata Nico.

"Inget, Kak. Hukum karma itu berlaku lho, jangan ngomong asal kayak gitu," ujar Milka.

"Emang kenyataannya kan?" Nico pun meninggalkan Putri dan masuk kedalam Bus.

"Mil, Putri masih belom dateng?" Tanya Anin yang menghampiri Milka.

"Iya, Kak. Jangan-jangan masih molor lagi dirumah.." Decak Milka.

Kemudian senyuman Anin dan Milka mengembang, orang yang paling mereka tunggu pun datang. Putri terengah-engah.

"Put, akhirnya lo dateng juga!!" Seru Milka.

"Gue kesiangan, Mil!" Kata Putri. Anin terus menatap Putri.

"Put, muka lo pucet!" Kata Anin.

"Eh, iya jugaa..lo sakit?" Tanya Milka.

"Ah, nggak kok, cuma migran doang, minum obat juga sembuh!" Kata Putri enteng.

"Yaudah deh, masuk bis yuk!" Ajak Anin. Mereka bertiga masuk kedalam bis.


Anin, Milka, dan Putri masuk ke dalam bus lewat pintu belakang, sehingga mereka bertiga bertemu dengan Nico, Kevin, Marco dan Aji.

"Weisssh, dateng juga lo! Gue kira lo masih molor mimpiin Nico dirumah, hahaa!" Celetuk Kevin.

"Ahelah, lu titisan Ki Joko Bodo ya, Kacak? (Kak Kevin maksudnya =p) tau aja lu
gue mimpiin Kak Nico kemaren, hihii.." kata Putri cengengesan.

"Baru tau lo, Put? Dia kan suka ikut-ikutan ritual bareng Ki Joko Bodo, ckakak.." Celetuk Marco.

"Kucrut, lo!" Kata Kevin.

Putri melihat Nico yang sedang tidur sambil memakai headset di telinganya.
Kepalanya nyender di jendela. Putri hanya cengar-cengir ngeliat Nico
tidur. Kemudian Putri melirik kamera Aji.

"KaJi (Kak Aji, Putri maen ngerubah nama orang niih, cuma Nico aja yang gak diganti -,-)
pinjem kamera lo dong!" Kata Putri. Aji memberikan kameranya pada
Aji. Kemudian Putri bersiap-siap mengambil foto Nico yang sedang tidur.

JEPRET!!

Nicopun terbangun begitu mendengar suara jepretan kamera, dan mendapati Putri sedang memegang kamera Aji. Putri hanya nyengir.

"Putri!!! Apus foto gueee!!!" Teriak Nico sambil mengambil kamera dari tangan Putri.
Tapi kemudian tak sengaja Nico memegang tangan Putri. Nico pun terkejut dan
menghentikan gerakannya yang sedari tadi ingin mengambil kamera Aji.

"Put, badan lo panas.." kata Nico.

"Ah, enggak kok, perasaan lo aja kaliii, lo kan perhatian banget ama guee.." Sela Putri. Nico hanya menatap Putri ngeri.

"Pede dahsyat lo!" Nico duduk kembali di bangkunya. Putri dan Milka mengambil tempat duduk di depan tempat duduk Nico dan Aji.

Anin yang sedang duduk sendiri tiba-tiba dideketin oleh Kevin.

"Ag, sendirian aja nih, hehee.." kata Kevin. Anin hanya memandang sinis.

"Lo ngapain sih duduk disini??" Tanya Anin.

"Emangnya gak boleeh??"

"Ini tempat duduknya Rahmi, sori lu balik aja ke alam lo!" Usir Anin. Kevin langsung pergi menjauhi Anin.

'Kok si Anin sensi banget sih, ama gue?' Batin Kevin yang kembali duduk di samping Marco.


Sementara itu di tempat duduk Milka dan Putri, Milka terus menerus makan snack yang dibawanya.

"Mil, lo tuh maruk banget! Daritadi makan snack kagak berhenti! Perut lo perut karet ya?" Tanya Putri.

"Gue kalo bosen makan mulu, Put. Heeheee.." Kata Milka sambil memakan snacknya.

Tiba-tiba Putri merasakan kepalanya berkunang-kunang dan sakit. Putri terus memegang
kepalanya. Milka memandang Putri dengan penuh khawatir.

"Put, lo kenapa??" Tanya Milka. Nico dan Aji yang mendengar dari belakang langsung berdiri dan melihat keadaan Putri.

"Putri kenapa, Mil?" Tanya Aji.

"Katanya kepalanya sakit, Kak." Kata Milka. Milka memegang kening Putri.

"Ya, ampun! Badannya panas banget!" Kata Milka. Anin pun melihat keadaan Putri.

"Mil, kenapa?" Tanya Anin.

"Putri badannya panas banget!" Kata Milka panik. Tiba-tiba Nico melepas jaket yang dia pakai.

"Mil, suruh Putri pake jaket gue, supaya gak kedinginan," kata Nico sambil memberikan jaketnya. Milka mengangguk.

"Put, pake jaketnya Kak Nico ya," Putri menuruti omongan Milka, setelah memakai
jaket Nico, Milka pun merangkul Putri supaya Putri bisa tidur di bahunya.

"Put, tidur aja yaa," kata Milka. Putri pun memejamkan matanya dan kemudian tertidur.

Di bangku Aji dan Nico..

"Co, lo kok sekarang jadi perhatian banget sih sama Putri?" Tanya Aji sambil berbisik.

"Ehm, gue..gue..gue kasian ngeliat dia pucet kayak gitu, cewek gila kan bisa sakit juga!!" Kata Nico gelagapan.

"Kok gue ngerasa lo jadi suka sama Putri yaa?" Pikir Aji. Nico terbelalak.

"Mana mungkin gue suka sama Putri, Ji. Lo yang bener ajaa!" Kata Nico.

"Gak ada yang nggak mungkin, Co. Kalo lo ngomong kayak gitu, lo bisa kena karma lho!"

"Omongan lo ama Milka sama aja, Ji! Pasti ngomongin karma!" Gerutu Nico. Aji
hanya mengangkat bahu melihat tingkah laku sahabatnya.
***

Akhirnya mereka sampai di Villa yang menjadi tujuan mereka. Sebagian anak sudah turun dari bus kecuali Putri, Milka, Anin, Nico, Kevin, Marco, dan
Aji. Mereka khawatir dengan keadaan Putri yang sedang sakit.

"Put, udah nyampe, lo bisa bangun gak?" Tanya Milka.

"Kepala gue pusing, Mil.." keluh Putri.

"Aduuh gimana dong??" Tanya Milka.

"Gue aja deh yang gotong Putri ke kamar," kata Nico. Semua terbelalak.

"Kenapa lo pada ngeliatin guee?" Tanya Nico.

"Perhatian banget lo ama Putri!" Seru Kevin.

"Ngejutekin salah! Merhatiin salaah! Yang bener apaan??"

"Yaaa..gak tau, gak salah juga sih lo gotong Putri, Putri kan lagi sakit." kata Aji.

Nico pun membopong Putri keluar dari bus, dan membawanya kekamar. Anin, Milka,
Aji, Marco, dan Kevin yang melihat dari belakang hanya
terbengong-bengong.

"Kalo dipikir-pikir mereka cocok jugaa!" Kata Marco.

"Betul banget lo, Mar!" kata Aji.

"Yaudah ah, masuk dulu ke Villa!"
***

Nico membawa Putri kekamarnya dan menaruh Putri di tempat tidur. Jujur Nico merasa sangat khawatir dengan keadaan Putri. Putri terlihat lemas dan
pucat. Putri mencoba membuka matanya dan ia mendapati Nico sedang duduk
disampingnya.

"Hehee..Kak Nicoo.." kata Putri.

"Lo lagi sakit masih aja bisa cengengesan!" Seru Nico.

"Abis kan Kak Nico ada disini!" Kata Putri.

"Udah tau lo masih sakit, ngapain lo ikut jalan-jalan??" Tanya Nico.

"Jarang-jarang Kak bikin acara kayak gini! Jadi gue mau ikut!" Kata Putri.

"Heuh, lo nyusahin gue sama yang laen aja deh!" Gerutu Nico.

"Aduuuh, pala gue pusing banget!"

"Lo tidur deh, jangan banyak gerak dulu," kata Nico. Nico menutupi badan Putri dengan selimut, supaya Putri tak merasa kedinginan.

"Ntar kalo ada apa-apa, bilang gue ya, Put. Gue ada di kamar sebelah lo." Nico keluar dari kamar Putri.

"Thanks, Kak Nico.." Gumam Putri tapi tentu saja Nico tak mendengar karena
Putri mengatakannya dengan suara kecil. Kemudian Putri pun tertidur.
***
Waktu sudah menunjukkan jam 8, saatnya mereka menyantap makan malam mereka.

"Nah, anak-anak sekarang kalian makan dulu, setelah itu acara bebas,
kalian boleh keluar tapi gak boleh sampai lebih jam sepuluh!" Perintah
Pak Arif sang pembina OSIS.

"Baik, Pak!" Ujar seluruh anak-anak. Mereka menyantap dengan lahap makanan mereka.

"Mil, gimana tuh si Putri? Masih tidur?" Tanya Marco.

"Masih, Kak. Badannya lemes gitu," kata Milka.

"Lagian ngapain sih, sakit kayak gitu tetep ikut?" Keluh Aji.

"Yaaah, elo tau sendiri lah Kak, si Putri kan susah banget kalo dibilangin," kata Milka.

"Yaelah, udah ah, jangan dibahas lagi, mending makan aja dulu!" Kata Nico.

Akhirnya mereka menghabiskan makanannya dulu, setelah itu Milka membawa
makanan Putri kekamarnya. Anin, Nico, Kevin dan Aji pun ikut kekamar
Putri, untuk melihat keadaannya.

"Buseet, si Putri tidurnya pules banget, melebihi kebo," celetuk Kevin. Nico pun menjitak kepala Kevin.

"Apaan sih lu, Co! Yang gue ledekin kan Putri bukan lu! Kenapa lu yang
marah!?" Gerutu Kevin. Nico diam saja, otomatis karena mendengar ocehan
Kevin dan reaksi Nico. Kevin menyipitkan mata.

"Lu mulai suka sama Putri yaa?" Selidik Kevin. Nico tak bisa berkata apa-apa dan lebih memilih keluar kamar.

"Lah, kabuur..kayak bener nih," kata Marco. Melihat sahabatnya keluar dari kamar Putri, Aji pun menyusulnya.


Nico sedang memandang langit malam di balkon, langit malam penuh bintang. Nico masih mengingat kata-kata Kevin.

"Lu mulai suka sama Putri yaa?"
"Gue suka sama Putri??" Gumam Nico pada diri sendiri. Nico masih bingung
akan perasaannya pada Putri, apakah temen, sahabat atau sayang. Tiba-tiba
seseorang menepuk bahu Nico.

"Eh, elo Ji.." kata Nico.

"Kenapa lo, Co?" Tanya Aji.

"Gak tau, Ji." Gumam Nico.

"Gue bingung ya, sama lo kok pas Kevin ngomong kayak tadi lo langsung
kabur? Lo beneran suka sama Putri?" Tanya Aji. Nico hanya menghela napas.

"Gue...gak tau, gue bingung sama perasaan gue sendiri, Ji. Entah
kenapa, kalo ada Putri di deket gue, gue ngerasa nyaman, tapi kalo dia
gak ada, gue ngerasa ada yang kurang." Kata Nico dengan jujur.

"Berarti Putri sukses masuk ke kehidupan lo," kata Aji.

"Ha? Maksud lo?" Tanya Nico heran.

"Putri sukses nyusup ke kehidupan lo, gue kan kenal lo dari kecil, Co.
Daridulu banyak cewek yang nembak lo, tapi gak ada yang lo terima
karena lo gak nyaman didekat mereka, makanya hidup lo jauh dari cinta,
tapi semuanya berubah pas lo ketemu Putri yang rada gila, sedeng, ato
apapun itu. Putri tuh bukan berbeda, tapi istimewa, lebih istimewa
dibandingkan yang laen, cuma dia yang bisa bikin lo ancur kayak gini,
hahaa..dulu kan sebelum ketemu sama Putri, lo tuh cowok jaim, Co.." tutur
Aji. Nico mencerna kata-kata sahabatnya.

"Jadi kesimpulannya??" Tanya Nico. Aji menghela napas, dan garuk-garuk kepala.

"Yaelah, bloon banget sih, kesimpulannya lo suka sama Putri!" Kata Aji.

"Berarti gue kena karma ya, Ji?" Tanya Nico.

"Yap, lo udah kena karma dari Putri, makanya kalo ngomong tuh dijaga!!" kata Aji. Nico hanya manyun.

"Lo jangan ngomong-ngomong dulu ya sama Marco dan Kevin. Ntar dia ngegodain gue," kata Nico.

"Lo malu kalo semua tau lo suka sama Putri??" Tanya Aji.

"Bu..bukannya malu, Ji. Tapi..gue belom siap ajaa.." Kata Nico.

"Ngapain harus malu? Apa salahnya lo suka sama cewek? Putri juga cewek
biasa kok, kecuali lo suka sama gue..baru lo malu," kata Aji.

"Kampret lo! gak bakal deeh," kata Nico meringis. Aji hanya tertawa.

"Ke kamar Putri gih, Putri butuh lo," suruh Aji.

"Kan ada Milka," kata Nico enteng.

"Nicoo..mau gue tendang ke kolam renang??" Tanya Aji.

"Huuuh, yaudah deh, gue kesana." kata Nico. Aji tersenyum dan merangkul bahu Nico.

"Itu baru namanya babu gue, eh sahabat gue ding, hehee.." kata Aji. Nico menoyor kepala Aji.

"Cumi lu!"
***
Nico memutar kenop pintu kamar Putri, Nico mendapati Milka yang masih tetap merawat Putri dan menunggu Putri terbangun dengan sabar. Nico pun menghampiri Milka yang sudah terlihat kelelahan.

"Mil, lo capek kan? Sini biar gue yang jagain lo jalan-jalan aja dulu," suruh Nico. Mata Milka terbelalak.

"Kenapa lo mandang gue kayak gitu?" Tanya Nico.

"Gak biasanya lo perhatian sama Putri, Kak. Lo kan sensi banget sama dia!" Tutur Milka.

"Putri juga temen gue, Mil. Udah sono pergi!" Kata Nico.

"Titip Putri yaa! Jangan ngapa-ngapain Putri lho!" Kata Milka.

"Gak bakal!!" Kata Nico. Milka meninggalkan Nico dan Putri.

Nico terus memandang wajah Putri yang sangat pucat, terlihat sangat lemas.
Nico sangat khawatir dengan keadaan Putri. Kemudian Nico mengelus pipi Putri
dengan lembut.

"Put, bangun dong, sepi tau kalo lo gak ngoceh," gumam Nico sambil tertawa kecil.

"Put, lo tuh udah tau sakit, masih aja kekeuh ikut jalan-jalan, kasian
temen-temen lo pada khawatir sama lo, terutama Milka, udah jagain lo,
dan..gue jujur gue juga khawatir sama lo," gumam Nico.

Tanpa sadar, Nico menggenggam tangan Putri. Terus menggenggamnya.
Tiba-tiba, mata Putri terbuka sedikit demi sedikit, Nico pun melepas
genggamannya.

"Kak..Nicoo?" Gumam Putri serak.

"Udah bangun lo, Put?" Putri ingin bangun dari tempat tidurnya, tapi di larang oleh Nico.

"Bego! Lo masih sakit gini, mau bangun!" Larang Nico.

"Kok lo perhatian banget sih, Kak..hehee.." Kata Putri.

"Masih aja lo cengengesan,"

"Milka mana, Kak?"

"Dia lagi keluar, kasian daritadi udah jamuran nungguin lo sadar, yaudah terpaksa gue yang gantiin Milka." kata Nico.

"Bilang aja lo mau ngeliatin gue, kan?" kata Putri. Nico langsung mencubit tangan Putri.

"Awww, sakiiit!" Ringis Putri.

"Yeuh, makanya jangan ngomong kayak gitu! Lama-lama gue tinggal nih!" kata Nico.

"Eh,eh, jangan dooong!!" kata Putri. Putri membangunkan badannya.

"Put, makan ya," kata Nico sambil memberikan makanan Putri yang sudah agak dingin. Putri menggeleng-gelengkan kepala.

"Lo mau sembuh kagak? Jangan bikin gue tambah repot deh!!" Gerutu Nico.

"Gue maunya disuapin lo, Kak!" Kata Putri polos. Mata Nico terbelalak.

"Eh, ogah guaa!" Tolak Nico.

"Yaudah, gue gak mau makan," kata Putri. Nico menepok jidatnya.

"Ampuun dah ni anak, masih aja bikin gue stress, yaudah nih gue
suapin!!" Akhirnya Nico menyuapi Putri. Nico menyuapi Putri dengan sabar.
Baru kali ini Putri melihat Nico perhatian padanya. Kali ini bukan Nico
yang selalu memancarkan kekesalan terhadapnya, tapi memancarkan
ketulusan.

"Put, sekarang minum obat!" Suruh Nico yang sedang membuka bungkusan obat Putri. Putri langsung menutup mulutnya.

"Put, buka mulut lo," suruh Nico. Putri menggelengkan kepala dengan tangan masih menutup mulutnya.

"Putri, bukaaa.." Putri tetap menolak.

"Veronika Putriii!!! Bukaaaa!!!" teriak Nico. Putri tetap menolak.
Nicopun turun tangan, ia langsung menarik tangan Putri. Tapi tenaga Putri
cukup kuat.

"Putriiiiy!!! Buka mulut looo!!!" Kata Nico sambil menarik tangan Putri.

"Nggak mauuuuu!!!" teriak Putri dengan tangan masih menutup mulutnya.

"Put, buka gak!? Gue udah naik darah nih! Lo gak mau sembuh apa!?" Seru
Nico. Akhirnya Putri mau membuka mulutnya dan terpaksa meminum obatnya.

"Gitu, kek daritadi! Udah ah gue mau tidur!" Kata Nico. Tapi Putri menarik tangan Nico. Jantung Nico pun mulai berdebar-debar.

"Yaaahh, jangan dong, Kak!!! Temeni guee disinii! Milka kan belom dateng!!" Rengek Putri. Nico melengos.

"Iya, iyaa, gue temenin lo disini, tapi lo tidur!" Suruh Nico.

"Okeokee..jangan ngapa-ngapain gue yaa Kak!" Celetuk Putri sambil menutup badannya dengan selimut.

"Gak bakaaal!!!" Seru Nico.

Putri pun mulai tertidur, Nico menunggu Putri sambil membaca buku di samping
jendela kamar. Nico melirik Putri yang sudah tertidur lelap. Nico pun
menghela napas sambil tersenyum kecil melihat muka Putri yang tertidur
seperti anak kecil.

"Bener-bener nih gue kena karma, kenapa gue bisa suka sama cewek gila
kayak lo, ya?" Gumam Nico sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Kemudian handphone Putri yang ditaruh di atas meja, berbunyi..Nico pun mengambil handphone Putri dan melihat siapa yang menelepon.

"Nomor tak dikenal??" Gumam Nico. Nico masih berpikir apakah ia harus
menjawabnya atau tidak, tapi ia memilih untuk mengangkatnya karena bisa
saja itu telepon penting.

"Halo?" Jawab Nico.

"Halo? Putri?"

Nico tertegun, seorang cowok menjawab dari sebrang.

"Maaf, ini bukan Putri."

"Oh, bukan Putri.."

"Ini siapa ya?"

"Guee.."

***

"Putri?"

"Michael?"

Nico menengok kearah Putri dan kearah Michael. Nico mengangkat alis, Putri masih
menatap Michael tapi sambil mengobati muka Nico. Begitupun Michael, Michael masih
menatap Putri.

"Kok udah kayak telenovela sih?" Gumam Nico. Karena Putri terus menatap Michael, Putri jadi menekan muka Nico yang sakit.

"Aduuuuhhh!!!" Teriak Nico. Putri pun tersentak.

"Ya, ampun! Kak Nicoo!!" Kata Putri panik. Putri ingin menyentuh wajah Nico, tapi Nico menepis tangannya.

"Udah, gue gak papa, pertandingan masih harus dilanjutin!" Nico beranjak
dari duduknya dan meninggalkan Putri. Michael pun juga pergi menuju
lapangan.

Pertandingan pun dimulai, seluruh anggota NICE masih bersorak-sorai
menyemangati Nico, tapi tanpa Putri. Putri hanya diam saja, Milka memandang
wajah sahabatnya itu, Putri tampak lemas dan murung.

"Put, lo kenapa? Lo gak mau dukung Kak Nico?" Tanya Milka. Putri tersenyum masam.

"Lagi gak semangat gue, Mil. Gue..pulang duluan yaa.." Putri mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Milka.

"PUTRI!! Lo mau kemana!?" teriak Milka, Nicopun menoleh kearah Milka kemudian melihat Putri yang mulai menjauhi lapangan.

'Putri kenapa?' Batin Nico.

"Nicooo!!! Ambil!!!" Seru Aji. Nicopun mulai berkonsentrasi di
pertandingan, menghilangkan Putri dari pikirannya sebentar sampai
pertandingan selesai.


***

Nico, Aji, dan Marco berjalan menuju parkiran mengambil motor mereka,
kemudian Nico melihat kearah Milka yang sedang mengobrol dengan Michael.
Setelah itu Michael menstarter motornya dan
pergi meninggalkan Milka. Nico menghampiri Milka.

"Mil, lo kenal Michael?" Tanya Nico.

"Michael itu kakak kelas gue sama Putri pas SMP," ujar Milka.

"Oooh,"

"Kak, lo kerumah Putri kan?" Nico mengangguk.

"Gue ikut dong, Kak! Gue mau tau Putri kenapa," kata Milka.

"Emangnya si Putri kenapa? Pantesan tadi dia gak dukung-dukung gue lagi,"

"Oooh lo kesepian yaa gak didukung sama Putri??" Celetuk Milka.

"Ah, apaan sih lo!?" Kata Nico salting.

"Boong, buktinya lo salting gitu, hahaa!" Kata Milka.

"Lama-lama mulut lu gua lakban!" Ancam Nico.

"Hahaa..udah ah, ayo kerumah Putri!" Ajak Milka.

Milka dan Nico menghampiri Aji dan Marco yang menunggu Nico daritadi.

"Mar, Ji mau ikut gue sama Milka gak kerumah Putri??" Tanya Nico.

"Wah kebetulan tuh, gue ada urusan sama Tante Helen," kata Marco.

"Lo Ji?"

"Yaudah deh, dirumah juga gue gak ada orang,"

Mereka pergi ke parkiran motor, mereka sudah bersiap-siap dengan motor, saat Milka mau naik ke motor Nico tiba-tiba.

"Ehh, jangan naek motor gue Mil!" Seru Nico.

"Lho? Kenapa?"

"Eng..eng..mo..motor guee...gak kuat kalo goncengin lo, Mil, hehee."kata Nico gelagapan.

"Lo kira gue karung beras, Kak?? Huuuh, Kak Marco gue ama lo deh!" kata Marco.

"Yaaah, jangan deh lo sama Aji aja deh, ban motor gue kempes, hehee.."kata Marco.

"Boleh gak?" Tanya Milka pada Aji.

"Yaudah, Mil..naek aja," kata Aji. Milka naik ke motornya Aji. Aji
menatap Marco dan Nico, mereka mengacungkan jempolnya. Kemudian mereka
melajukan motornya dengan cepat menuju rumah Putri.


***


TOK..TOK..TOK..begitu mendengar suara
ketukan pintu, Sony yang sedang bermain PS, membuka pintu rumah dan
mendapati Nico, Milka, Marco, dan Aji didepan rumahnya.

"Son, Kak Putri ada?" Tanya Milka.

"Ada tuh, lagi ngerem di kamar, daritadi pas pulang sekolah." Kata Sony.

"Ngerem? Ngapain? Bertelor?" Tanya Marco.

"Tau tuh, hibernasi kali, masuk, Kak." Ajak Sony. Sony mengajak Milka, Nico, Aji, dan Marco masuk ke dalam.

"Son, nyokap lo mana?" Tanya Marco.

"Mama lagi ngegosip dulu dirumah tetangga," kata Sony enteng. Marco terbelalak.

"Ngegosip?"

"Yaaa tau lah, namanya juga ibu-ibu gaul, kan lagi ada gosip baru ArMarco
sama Luna Maya, langsung deh Mama ngegosip di rumah sebelah," ujar Sony.

"Gue panggilin Kak Putri dulu ya," Sony pergi kekamar Putri. Nico dan
Marco langsung menyerbu PS Sony saat Sony sedang memanggil Putri.

Sedangkan Aji diam saja, kemudian ia melirik Milka yang sedang membaca tulisan yang ada di selembar kertas yang dipegangnya.

"Baca apaan?" Tanya Aji. Milka terkejut dan kemudian menyembunyikan suratnya.

"Eng..bukan apa-apa kok," kata Milka gelagapan. Milka langsung
menhampiri Nico dan Marco yang sedang bermain PS. Aji yang terus
menatap punggung Milka tersenyum sendiri.


***

"Kak Putri!! Ada Kak Nico tuh!!" Kata Sony sambil menggoyang-goyangkan badan Putri yang ditutupi selimut.

"Gue gak mau aah," tolak Putri. Sony mengangkat alis, tak biasanya Putri gak mau bertemu Nico.

"Tumben lo kagak mau nemuin Kak Nico, biasanya lu yang paling demen kalo
Kak Nico dateng, kasian tuuh nungguin lo, ada Kak Milka juga tuh, Kak Marco
sama Kak Aji juga ada!" Kata Sony.

"Kenapa jadi pada ngumpul disini sih!? Udah ah, gue gak mau!" Putri menolak kehadiran mereka.

"Yaudah deh, gue ngomong dulu sama mereka," Sony keluar dari kamar Putri.

'De, kenapa gue bisa ketemu lo lagi sih?' batin Putri.


***

"Son, kakak lo mana?" Tanya Milka.

"Gak mau keluar tuh," kata Sony.

"Belom selesei bertelor kali, hihii.." celetuk Marco. Nico langsung menoyor kepala Marco.

"Yaaaahhh!!! Ih lo berdua tuuh!! Gak tau diri banget, sih! Maen kagak
ngomong-ngomong!!" Teriak Sony. Marco dan Nico hanya nyengir.

"Gue kekamarnya Putri deh," Milka beranjak dari duduknya dan pergi ke
kamar Putri. Milka melihat Putri sedang bersembunyi di balik selimut warna
birunya. Milka duduk di samping Putri.

"Put, lo kenapa sih? Kak Nico udah nungguin lo, tuh." kata Milka.

"Gue gak mau, Put. Gue lagi gak mood," kata Putri.

"Duuuh, Put, kasian Kak Nico. Kak Nico udah ngebela-belain dateng abis
sparing buat ngajarin lo," kata Milka. Kemudian Milka menoleh kearah
pintu, ia mendapati seseorang masuk ke kamar Putri dan mengisyaratkan
agar Milka keluar, ia duduk di samping Putri.

"Aduuuuh, Mil..suruh aja pulang, kasih ongkos goceng! Ato nggak sogok
aja Chitato ntar dia juga pulang! Gue lagi males ngapa-ngapain
gara-gara Michael! Kok bisa-bisanya gue ketemu sama Michael disekolah!!" Seru
Putri dari balik selimutnya.

"Kenapa sama Michael?" Putri terkejut mendengar suara "MILKA". Sekali lagi "MILKA".

"Mil, kenapa suara lo yang Sopran jadi Bariton gitu, Mil?" Tanya Putri.
Tapi "MILKA" tetap tak menjawab. Putri langsung keluar dari tempat
persembunyiannya.

"Milka, lo ja.." omongan Putri karena didepannya itu bukan Milka. Milka berubah jadi cowok? *PLAAAK*.

"Kak Nico?"

"Bukan, gue Milka." celetuk Nico.

"Pantesan, biasanya kan suara Milka lembut kayak anak kucing, kok
tiba-tiba berubah jadi suara bariton kayak komandan perang, gue kira
suara Milka pecah, punya jakun..ckck" decak Putri.

"Pikiran lo tinggi banget! Ayo cepetan belajar!" Suruh Nico.

"Nggak ah, gue gak mau.."

"Lah? Kemaren kan lo yang mau!" kata Nico.

"Sekarang gue gak mau! Pulang lo! Bawa tuh temen-temen lo!" Kata Putri. Nico mengangkat alis.

"Mana duit goceng sama Chitatonya?" Kata Nico.

"Auk ah!" Seru Putri.

"Eh, gue mau nanya dong." kata Nico.

"Nanya apaan?"

"Katanya kan, Michael kakak kelas lo pas SMP, tapi kok tadi pas denger omongan lo, lo benci banget sama Michael?"

"Lo mau tau?"

"Iyalah gue mau tau."

"Tapi ada syaratnya!"

"Apaan?"

"Lo jadi cowok gue!" Nico terbelalak dan langsung ngejitak kepala Putri. Putri meringis kesakitan.

"Aduuuh, sakiit!"

"Amit-amit gua jadi pacar lo!"

"Awas lo ntar kena karma!"

"Gak bakaaal, cepetan ceritain!"


***

Putri dan Milka menginjakkan kakinya di depan gerbang SMP Bina Sejahtera.
Akhirnya MOS selesai, dan mereka tak memakai atribut lagi. Putri dan
Milka masuk di kelas yang sama yaitu 7-1.
Kemudian saat mereka berlari menuju kelas mereka tiba-tiba..

BRUUK!


Putri terjatuh karena menabrak seseorang. Milka yang melihat Putri terjatuh pun segera menolongnya.

"Put, lo gak papa?" Tanya Milka dengan nada penuh khawatir.

"Gue gak papa kok, Mil.." kata Putri. Putri melihat sebuah uluran tangan seseorang di depan wajahnya. Putri mendongak keatas dan mendapati seorang
cowok tersenyum manis padanya.

"Maaf, ya. Gue gak liat," kata cowok itu. Putri membalas uluran tangannya dan berdiri.

"Ah, gak papa kok, Kak." Kata Putri dengan menyunggingkan senyuman manisnya.

"Oh, iya nama lo berdua siapa?"

"Putri kelas 7-1."

"Milka kelas 7-1."

"Gue Michael kelas 8-5."

"Kak, kita kekelas dulu yaa..!" Kata Putri. Putri dan Milka berlari meninggalkan Michael. Michael terus memandang punggung gadis cantik bernama
Putri tersebut.


Saat ini Milka tak bisa pulang bareng Putri karena dijemput Kakaknya. Putri yang sedang berjalan sendirian, tiba-tiba disentuh bahunya. Putri menoleh
kebelakang, seseorang tersenyun padanya.

"Kak Michael?"

"Sendirian, Put?" Putri mengangguk.

"Pulang bareng yuk, kebetulan searah sama gue." Michael dan Putri akhirnya pulang bareng.

Mereka terus mengobrol panjang lebar, mulai dari kesukaan masing-masing sampai guru-guru terkiller di sekolah. Mereka berdua merasa cocok satu
sama lain. Semenjak itu, Putri dan Michael semakin dekat, mereka sering
pulang bareng ataupun pergi bareng. Michael pun selalu mengirim pesan
singkat untuk Putri. Tiba-tiba saat mereka bersmsan, Michael menyatakan
perasaannya pada Putri. Putri sangat terkejut membacanya. Cowok yang sangat
ia sukai ternyata menyimpan perasaan yang sama padanya, dan Putri pun
menerima Michael sebagai pacarnya.

Putri menjalin hubungan dengan Michael hampir 1 tahun. Sekarang Putri sudah duduk di kelas 8 dan Michael di kelas 9. Karena Michael adalah kapten tim
basket sekolahnya, sehingga Putri pun menjadi eksis karena berpacaran
dengan orang yang paling eksis satu sekolahan.

Bel pulang sekolah pun berbunyi, Putri yang melihat Michael sedang bermain basket di lapangan segera memanggilnya.

"Kak Michaelo!!" Panggil Putri. Michael pun menghampiri Putri.

"Kenapa, Put?"

"Ntar anterin aku, yuk ke toko buku!"

"Wah, aku gak bisa, Put. Maaf yaa.."

"Kenapa?"

"A..aku..aku..aku mau belajar kelompok!" Kata Michael gelagapan.

"Oooh, yaudah deh, aku pulang yaa!" Putri meninggalkan Michael dan Putri pergi ke toko buku sendirian.


Setelah dari toko buku, Putri pergi ke mall sambil mencuci mata, kemudian ia pergi ke sebuah cafe untuk makan siang, saat ia mau masuk ke dalam
cafe tersebut, langkah Putri terhenti, ia melihat pacarnya sedang bersama
cewek lain, yaitu teman sekelasnya sendiri, Oik.

Michael menoleh kearah pintu masuk dan mendapati Putri berdiri disana dengan air mata yang jatuh di pipinya. Kemudian Putri pergi meninggalkan cafe
itu dan Michael menyusulnya.


"Put!!" Panggil Michael. Putri mengacuhkannya dan terus berlari pulang tanpa melihat kebelakang.


Malamnya Putri mengirim pesan singkat ke Michael.


Kak, maaf aku mau minta PUTUS, terima kasih buat semuanya


Setelah itu mereka tak pernah berkomunikasi, dan yang bikin Putri lebih sakit hati lagi, 3 hari kemudian setelah Putri putus dengannya, Michael
jadian dengan Oik. Itu yang membuat Putri lebih sakit hati.

"Brengsek banget tuh cowok, Put!"

Putri hanya menangis dan memeluk Milka, ia tak menyangka bahwa akan jadi begini sakitnya.


***

"Blagu sih lu! Masih SMP aja pacaraan!!" Kata Nico. Putri memanyunkan bibir.

"Tapi keren kaan? Jadian satu tahun?"

"Meskipun satu tahun, tapi tetep aja sakit hati!"

"Tadinya gue udah berkomitmen gue gak bakal suka sama cowok lagi, eh
pas gue ketemu ama lo, komitmen gue ilang, hehee.." kata Putri
cengengesan.

"Ooooh, jadi gue yang bikin lo gila??" Tanya Nico.

"Betul sekali!!" Kata Putri. Nico hanya geleng-geleng kepala.

"Haaah, gue kira Michael itu cowok yang dulu lo kejar-kejar gitu sebelum gue,"

"Dia yang ngejar-ngejar gue tau, Kak!"

"Soalnya lo belom bayar utang ama dia!" Celetuk Nico.

"Enak ajaa, sekarang tenang aja, Kak. Gue sukanya ama lo, bukan sama
cowok muka minyakan kayak dia (maaf ya buat SD -,-), gue ama Kak Michael
hanya masa lalu doang kok, sekarang kan gue demennya ma lo, hehee.."
kata Putri nyengis. Nico bergidik ngeri.

"Udah lega kan? Ayo cepetan kebawah ditunggu sama yang laen." Ajak Nico.

"Kak Nico!" Nico menoleh kearah Putri.

"Makasih ya, udah denger cerita gue! Sekarang gue lega!" Kata Putri sambil menyunggingkan senyum manisnya.

DEG! Jantung Nico berdebar-debar. Baru kali ini jantungnya
berdebar-debar jika melihat senyuman Putri. Nico langsung berbalik badan,
Nico gak mau jika Putri melihat mukanya memerah.

"Kak Nico!" Panggil Putri.

"Paan lagi?"

"Gendong!" Pinta Putri sambil nyengir. Nico terbelalak.

"Enak ajaa! Badan lo kayak karung beras gitu minta gendong!" Tolak Nico.

"Aaaah, gue lagi gak enak badan dan pikiran nih!" Kata Putri. Nico hanya
menghela napas. Kemudian Nico menghampiri Putri dan jongkok. Putri
tersenyum, Putri langsung memegang bahu belakang Nico, dan Nico pun
menggendongnya (gendong belakang, aku lupa namanya apaan..hehee..)

"Put, makan apaan sih lo?"

"Gue? Makan nasi laah.."

"Kok berat gini sih!? Banyak dosa kali lu!"

"Sembarangan!!" Gerutu Putri.
***
Tags:
·         "Ini siapa ya?"

"Gue..Adit"

Nico terdiam,

"Elu, Dit. Ngapain lu nelpon Putri? Lu kan udah punya Ella, masih aja godain anak orang!"

"Yeee..sembarangan lu, Co! Gue kan bilang sama Putri kalo gue mau balikin bukunya dia. Eh, kok malah lu yang ngangkat hapenya Putri? Ngapain lu, Co??"
"Lo lupa apa? Sekarang kan pengurus OSIS lagi jalan-jalan ke Puncak. Si Putri sakit, gue lagi nungguin dia, Milkanya lagi keluar."

"Ooh, gitu salam aja deh buat Putri. Thanks yaa!"
"Oke!"

Nico mengakhiri pembicaraannya.

'Ternyata si Adit, gue kirain siapaa..' Nicopun melanjutkan membaca bukunya sambil menunggu Milka datang.
·        
***
·        
Pagi hari di Puncak memang sangat menyegarkan, udaranya masih sangat sejuk dan menyegarkan badan. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, jadi
daerah di sekitar Villa masih begitu sepi. Milka memang sudah berencana
untuk bangun pagi-pagi. Ia ingin merasakan udara yang segar dan ingin
menenangkan pikirannya dari masalah yang terjadi antara Milka dan
Papanya. Milka merenggangkan badannya yang pegal-pegal.

"Aduuuhh, badan gue pegel bangeeet, gara-gara Putri niih, manipulasi tempat tidur,
ngungsi deh gue di kursi.." keluh Milka sambil memutar-mutar kepalanya.
Kemudian Milka melihat seorang cowok yang sedang berkutat dengan kamera
analognya, cowok itu sedang mengambil objek-objek pemandangan di
sekitar Villa. Milka pun tertarik untuk menghampirinya. Milka menepok
pundak cowok itu.

"Eh, elo Mil..."

"Kak Aji, lo lagi ngapain? Ngambil foto yaa?" Tanya Milka.

"Nggak, lagi nyangkul! Udah tau lagi ngambil foto, heu.." kata Aji sambil membidik sasarannya.

"Gue kira cuma gue doang yang bangun pagi, kok lo bangun pagi, sih?"

"Bangun pagi itu menyegarkan, lo sendiri kan juga bangun pagi, kenapa? lagipula gue pengen ngambil foto pemandangan
Puncak dipagi hari, siapa tau gue bisa ngirim fotonya buat lomba," kata
Aji.

"Alasannya sama sih Kak, hehee,Kak, jalan-jalan yuk, mumpung masih pagi!" Ajak Milka. Aji terbelalak.

"Ntar dulu deh, Mil. Ntar kalo pada nyariin gimana?" Tanya Aji.

"Kan masih pagi inii..ayolaaah.." Kata Milka sambil menarik tangan Aji.
Jantung Aji pun berdebar-debar. Aji pun menerima ajakan Milka.
·         ***
·         "Waaah, ternyata dibelakang Villa ada kebun teh, keren banget lagi pemandangannya." kata Milka takjub. Aji tak kalah takjubnya dengan
Milka, ia pun mengabadikan pemandangannya dengan kamera analognya.

Saking takjubnya, Milka berlari-lari sendiri, tapi tiba-tiba..Milka tersandung
dan terjatuh. Aji pun yang melihatnya langsung berlari kearah Milka.

"Mil, lo gak papa?" Tanya Aji panik, Aji melihat dengkul Milka yang terluka. Milka meringis kesakitan.

"Sakit tau, Kak!!" Ringis Milka. Aji pun membopong Milka dan duduk di sebuah gardu kecil.

"Gue ngobatinnya pake apaan nih?" Gumam Aji. Akhirnya Aji mengeluarkan
saputangan dari kantongnya, dan membersihkan luka Milka.

"Kak, gue bawa plester nih," kata Milka.

"Yeuuh bilang kek daritadi lo bawa plester, kan gue jadi gak panik!" Kata
Aji. Milka hanya nyengir. Aji pun memasang plester di dengkul Milka.

"Bisa jalan gak?" Tanya Aji.

"Bisa kok," Milka beranjak dari duduknya dan kembali berjalan. Kali ini Aji
di sampingnya, takut Milka jatuh lagi, gara-gara anaknya kayak bola
pimpong gak bisa diem.

"Mil, gue foto yaa!" Kata Aji.

"Apaan sih lo, Kak? Muka gue masih ileran gini, lo mau foto, bikin gue malu ajaa!" Tolak Milka.

"Ileran, hahaaa..ketauan lo yak kalo tidur ngiler..gak papa, gak keliatan ilernya inii.." kata Aji.

"Haaahh, susah ya jadi orang cantik, bawaannya pengen di foto terus, yaudah
deh.." kata Milka sambil merapihkan rambutnya yang masih berantakan.
Aji hanya geleng-geleng kepala. Aji pun bersiap-siap dengan
kameranya. Milka pun tersenyum dengan manis.

JEPRET!

Foto pun berhasil diambil, Milka dengan pemandangan kebun teh di belakangnya.

"Sekarang ekspresi jelek, Mil!" Celetuk Aji.

"Yeuuuh, orang cantik mau digimanain juga tetep cantik, Kak! Gak bakal jelek!" Balas Milka. Aji hanya melengos.

"Mendingan jalan lagi, yuk, Kak!" Ajak Milka.

Aji dan Milka melanjutkan jalan-jalannya, mereka melewati perumahan
penduduk di sekitar kebun teh, seperti biasa, Aji mengambil foto-foto dengan kamera kesayangannya.

BRUKKK!!

Milka dan Aji menoleh kebelakang. Mereka melihat seorang Ibu-ibu yang
membawa tampah berisikan gorengan untuk dijual, terjatuh di tengah
jalan. Milka pun menghampiri Ibu-ibu tersebut dan menolongnya.

"Ibu gak papa?" Tanya Milka khawatir.

"Gak papa, Neng. Ibu tadi cuma kesandung," kata Ibu itu. Milka pun segera
membantunya berdiri, dan kemudian Milka membereskan gorengan jualan Ibu
itu yang masih layak dijual.

"Aduuuh, Neng jangan repot-repot ntar tangan Eneng kotor," kata Ibu itu.

Aji yang berada di depan mereka tersenyum melihat ketulusan hati Milka yang ikhlas menolong Ibu-ibu yang sedang kesusahan.

"Gak papa kok, Bu. Milka ikhlas," Milka menoleh kearah Aji yang sedang memperhatikan mereka.

"Kak Aji! Ngapain bengong disitu? Bantuiin!!" Suruh Milka. Aji pun ikut
membantu Milka. Ibu itu hanya tersenyum melihat seorang anak perempuan
dan anak laki-laki yang baru dikenalnya menolongnya dengan ikhlas.

"Ini, Bu." Kata Milka sambil memberikan tampahnya.

"Makasih ya, kalo boleh tau nama kalian siapa yaa?" Tanya Ibu-ibu itu.

"Saya Milka, Bu. Panggil aja Milka." Kata Milka.

"Saya Aji, kami dari Jakarta, Bu." kata Aji.

"Saya Marni. Makasih ya, Neng Milka, Nak Aji udah bantu Ibu," Bu Marni mengucapkan terima kasih kepada Aji dan Milka.

"Bu, kita boleh gak ikut Ibu jualan?" Tanya Milka sambil menyenggol lengan Aji.

"Iya, Bu. Boleh kan?" tanya Aji.

"Waah, Ibu gak enak sama kalian," kata Bu Marni. Milka langsung mengambil tampah Bu Marni dari tangan Bu Marni.

"Gak papa kok, Bu. hehee, kami lagi waktu bebas soalnya," kata Milka.

"Baiklah kalo kalian memaksa," kata Bu Marni.

Mereka menyusuti jalan-jalan setapak di perkampungan tersebut.

"GORENGAAAN!!" Teriak Bu Marni. Milka menatap Bu Marni dengan penuh kagum, Bu Marni
adalah seorang Ibu-ibu yang berumur sekitar 50 tahun tapi masih
semangat untuk mencari nafkah. Milka pun tak mau kalah dengan Bu Marni.

"GORENGAAANN!!!!" Teriak Milka membahana seluruh kampung. Aji yang sedang mengambil
foto pun terkejut mendengar teriakan Milka.

"Suara lo, Mil! Elo mah bukan mau jualan, mau nyari ribut!" Seru Aji. Milka hanya
menjulurkan lidah pada Aji. Bu Marni tertawa melihat tingkah laku
mereka. Kemudian Aji dan Milka mengantar Bu Marni ke warung untuk
mengantar gorengan.

"Neng Milka, Nak Aji makasih ya, udah mau bantu Ibu..Ibu gak tau gimana caranya membalas terima kasih ke kalian."

"Sama-sama Bu, kita ikhlas lahir batin," kata Aji tersenyum.

"Kita pergi dulu ya, Bu!" pamit Milka.

"Hati-hati, yaa!" Kata Bu Marni.
·         ***
·         "Waaah, seru juga bantuin Bu Marni jualan, hihiii.." kata Milka. Aji hanya tersenyum melihat Milka.

"Kenapa lo, Kak liatin gue? Vinep yaa?" Celetuk Milka cengengesan.

"Lama-lama lo kayak Putri deh," kata Aji.

"Sory gue gak sesedeng Putri," kata Milka. Kemudian Milka melihat beberapa ekor kuda beserta pemiliknya di pinggir jalan.

"Kayaknya asik tuh naik kuda!" Kata Milka dengan mata berbinar-binar.

"Hha? Lo yakin mau naik kuda?" Tanya Aji.

"Yaiyalaah gue yakin!" Milka langsung pergi meninggalkan Aji.

"Eh, eh tunggu Mil!!" Aji segera menyusul Milka.

"Bang, boleh naik kudanya gak?" Tanya Milka sambil mengelus-elus kuda yang berwarna putih.

"Oh, boleh-boleh Neng,"

"Bayar gak?"

"Kalo Neng gak usah bayar deh, gratis." kata Abang-abang itu.

"Asiiik," Abang itu membantu Milka untuk menaiki kuda tersebut.

"Mas, gak naek kuda?" Tanya Abang itu pada Aji.

"Nggak, Bang." Kata Aji.

"Kenapa lo, Kak? Takut yaa..?"

"Apaan? Gue bukan orang norak kayak lo, Mil! Gue lagi males," kata Aji. Milka hanya cemberut saja.

"Bang, kalo saya yang bawa kudanya gak papa kan? Gak saya bawa pulang kok, tenang aja, ntar saya balikin," kata Aji.

"Iya, deh, kebetulan saya mau sarapan dulu, titip kudanya yaa," Aji membawa kudanya berjalan-jalan dengan Milka diatasnya.

"Kak, gue gak yakin lo bisa bawa kudanya," kata Milka.

"Weiish jangan salah, gue masternya bawa kuda,nih.." Kata Aji.

"Muka lo kagak bisa dipercaya," kata Milka enteng.

"Liat dong kudanya, buktinya dia fine-fine aja tuh gue bawa, orang ganteng siih," celetuk Aji.

"Wooo..narsis!!" Aji hanya tertawa. Kemudian Aji pun melepas tali
kudanya. Milkapun langsung panik, karena Aji mulai menjauh dari
kudanya.

"Yah,yah,yah, Kak! Kok dilepas!? Gue takuut!!" Milka panik setengah mampus.

"Jangan panik gitu! Ntar kudanya malah bawa kabur lo beneran! Diem!" Suruh Aji.

Aji memegang kameranya dan mengambil foto Milka.

"Mil, senyuum!!" Milka pun tersenyum.

JEPRET!

Foto kedua Milka berhasil diambil. Setelah Itu, Aji membawa Milka dan
kuda putih itu berjalan-jalan mengelilingi kebun teh yang sangat luas.
Mereka melihat para petani sedang memanen daun teh.

"Gue pengen nCoba deh metik daun teh," kata Milka sambil memandang para petani.

"Apa aja juga lo coba, Mil!" kata Aji.

"Gue kan penasaraan!"

"Balik yuk, kasian abangnya nyari nih kuda," Aji membawa kudanya
kembali ke pemilik sebenarnya. Setelah itu mereka kembali
berjalan-jalan.

"Walah, udah jam 9? Balik yuk!" Ajak Milka.

Tiba-tiba Milka melihat seorang anak perempuan jatuh dan menangis. Otomatis Milka segera berlari melihat keadaan anak kecil itu.

"Dek, gak papa?" Tanya Milka dengan penuh khawatir.

"Kaki aku sakit, Kak." Kata anak itu sambil menangis.

"Kakak obatin, yaa.." Milka membersihkan lukanya dan menempelkannya dengan plester.

Aji pun kembali tersenyum melihat kebaikan dan ketulusan hati Milka, tanpa sadar ia kembali mengambil foto Milka.

"Makasih ya, Kak."

"Sama-sama, Dek. Nama kamu siapa?"

"Nama aku Osa, Kak."

"Aku Milka," kata Milka sambil tersenyum. Osa pun melirik kearah Aji yang sedang memandang mereka berdua.

"Itu pacar Kakak yaa?" Tanya Osa polos. Muka Milka memerah.

"I..itu bukan pacar a..aku kok! Cuma temen!" Sanggah Milka.

"Kakak cocok kok sama dia, hehee.." kata Osa.

"Kamu bisa aja sih," kata Milka. Aji pun menghampiri mereka.

"Ji, kenalin dia Osa," kata Milka.

"Osa."

"Aji."

"Tuh kaan, cocoook.." kata Osa polos. Muka Milka dan Aji pun memerah. Mereka salting.

"Adduuuh, Osa. Udah ah!" Kata Milka malu-malu.

"Hehee..aku pulang dulu ya, Kak! kapan-kapan kita main yaa!" Kata Osa.

"Iya, hati-hati yaa!!"


Setelah Osa pergi meninggalkan Milka dan Aji, mereka berdua hanya diam-diam saja. Tak bicara, saking malunya.

'Aduuuh Osa, pake ngomong kayak gitu lagi..gue kan maluu..' batin Milka.

'Gila, malu setengah mampus gue! Emang beneran gue sama Milka cocok?
Tapi kalo dipikir-pikir anak kecil kan gak bisa bohong, asik juga di
bilang cocok sama Milka,' Batin Aji.

"Ehm, Mil..balik yuk," ajak Aji. Milka mengangguk.

Mereka pun kembali ke Villa.
·         ***
·         "Woi! darimana lu berdua! pacaran yaa?" Tuduh Marco.

"Ih, sembarangan aja lo ngomong, Kak! Kagak! Orang jalan-jalan doang!" Sanggah Milka.

"Yaudah ah, masuk cepetan, mau sarapan nih!" Ajak Marco.

"Ayo, Kak!" Ajak Milka. Milka menyusul Marco kedalam Villa. Sedangkan
Aji masih berdiri menatap punggung kecil Milka yang mulai menjauh
dari hadapannya.

"Mil, jujur gue dapet banyak banget pelajaran hari ini dari lo, dan gue
bisa ngeliat sisi ketulusan dan kebaikan hati lo yang ngebuat gue kagum
dan..jatuh cinta sama lo, Mil.." gumam Aji dengan suara kecil.
Tiba-tiba Milka keluar lagi dari Villa.

"Ngapain lo diem disini?? Mau jadi patung selamat datang?? Kagak ada yang mau dateng, Kak!!" Celetuk Milka.

"Malah banyak kali yang dateng, abis yang jadi patungnya ganteng banget," balas Aji.

"Pede dahsyat lo!" Kata Milka. Aji hanya tertawa dan mengikuti Milka masuk kedalam Villa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS