Copas ???

BLOG APAAN SIH NI, ISINYA CERITA COPAS-AN SEMUA??!!!
wkwkwk... ga papa donk.. Blog itu kan buat berbagi, nahh.. aku berbagi cerita-cerita koleksi aku (baca : copas) hehe...
Jadiii... Bagi yang merasa udah pernah baca cerita-cerita di blog ini, wajar lahh... Kan ini copas-an.
ada yang nggak tau copas?? (ngece banget ya? ^^)
copas = copy paste.
n kebanyakan aku copas ffnya ICIL. Ada yang nggak tau jugaa?? Ckck..
ff => fan fiction
ICIL => Idola Cilik
Kalo digabungin jadinya...
copy paste fan fiction Idola Cilik
kayak anak TK dehh... =,="
Yaaa.... berarti kalo suatu saat penulis salah satu cerita copas-an aku baca blog ini (PD banget yahh? Jaga-jaga aja deh!) ,,, Aku ijin pinjem yaa... Biar nggak dikira melanggar hak cipta! Hoho,,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cuma Gue yang Bisa

PART I
Oyy! Copas ffnya ICIL lagi, ni..  Ceritanya keren banget, penulisnya TOP BGT! Hohoho... Aku bikin tag baru nihh... Cerpan. Cerita panjang. Pokoknya yang berpart-part gitu dehh.. Yodah baca aja!
Pinjem ya penulis...^^

******

"Anjriiit! Muka lo pengen gue bayar Kak!" Teriak Sony.

"Kampret! Tuntutan tauk! Sampe gue bangkotan juga, gue gak mau dandan kayak gini!!" Seru Putri. Sony tertawa terbahak-bahak melihat penampilan
kakaknya Putri yang seperti orang gila. Rambut di kuncir 5, pake tali
rafia, pake kalung pete cina. Kaos kaki satu merah satu putih.

"Put, mau dianterin gak?" Tanya Pak Angga.

"Iya, Pak. Mana mau Putri naek angkot dengan penampilan kayak orang sedeng gini?"

"Lo mah udah sedeng, Kak!" Celetuk Sony. Putri melempar sepatunya ke arah Sony.

"Putri! Jangan gitu sama adek kamu!" Kata Bu Helen. Putri cemberut.

"Sony, tuh Ma..awas lo, Son. Tahun besok kalo lo masuk sekolah gue, gue kerjain abis-abisan lo!" Ancam Putri.

"Gue gak takut sama lo!" Balas Sony.

"Eeehh, udah-udah! Ayo berangkat!" Ajak Pak Angga.

"Ma, berangkat ya!" Pamit Putri.

"Sony juga, Ma!" Pamit Sony.

"Hati-hati yaa.."
***
SMA Citra Bangsa saat itu sedang di penuhi oleh anak-anak kelas X yang berpenampilan sama seperti Putri. Mereka di periksa oleh pengurus OSIS
apakah barang mereka bawa lengkap.
Putri pun memeriksa tas kardusnya. Dan..

"Mampus gue! Gue lupa bawa snack yang disuruh!" Putri menepok jidat.

"Aduuh! Bego gue! Kalo gue pulang lagi..gak keburu, kalo gue tetep ikut
pemeriksaan, alamat dihukum, gue bakal dipermaluin ama
pengurus-pengurus OSIS sableng itu, gimana dong?" Pikir Putri. Kemudian
Putri melihat sebuah pintu kecil untuk masuk ke dalam sekolah yang tak
jauh dari gerbang sekolah. Tanpa sepengetahuan pengurus OSIS, Putri
mengendap-endap menuju pintu kecil itu. Setelah ia masuk melalui pintu
kecil, Putri celingak-celinguk melihat sekitar takut ada pengurus OSIS
yang melihatnya.

"Yes, gak ada! Yes!" Putri kegirangan.

"Lo kira lo bisa masuk ke sini dengan gampang??" Putri terkejut mendengar
suara itu, kegirangannya pun hilang. Seorang laki-laki tinggi, berkulit
putih sudah berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya.

'Subhanallah..ganteng amat ni cowok!' Batin Putri. Wajah Putri memerah, jantungnya berdebar-debar.

"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu? Sini gue periksa barang bawaan lo!" Cowok
itu mengambil tas kardus Putri dan memeriksanya. Sedangkan Putri, masih
terpesona dan terus memandang cowok manis itu.

"Manaa snacknyaa?" Putri tak menjawab, malah cengar-cengir sambil memandang si pengurus OSIS itu.

"Eh, gue tanya! Mana snacknya? Jangan masang muka mupeng kayak gitu, deh. Risih tau!" Seru cowok itu.

"Hehee..gue gak bawa, Kak!" Kata Putri cengengesan.

"Baru hari pertama udah ngelanggar peraturan!Oke!Kali ini gue kasih
toleransi! Besok kalo lo gak bawa, lo bakal dihukum! Ngerti?"

"Ngerti, Kak!" Kata Putri.

"Yaudah sana cari kelas lo!"

"Dadaahh, Kakak Ganteeng!!" Kata Putri sambil melambai-lambaikan tangannya. Cowok
itu terkejut dan bergidik ngeri melihat tingkah laku adik kelasnya.

"Mudah-mudah gue kagak ketemu tuh cewek lagi!" Gumam cowok itu.

***
Saat istirahat, Putri malah melamun dikelas, sambil mengingat wajah cowok putih yang ia temui tadi. Kadang-kadang senyum sendiri. Milka,
sahabat Putri sejak SMP terheran-heran melihat tingkah laku sahabatnya
yang agak kurang waras itu.

"Put, kenapa lo? Kesambet?" Tanya Sonia.

"Haaahh, ganteng banget deh, tu cowok..siapa ya namanyaa?" Tanya Putri.

"WOI!!" Teriak Milka. Putri terlonjak mendengar teriakkan Milka yang suaranya kayak komandan perang.

"Hah? Yaaah, tu cowok ilang kan dari lamunan gue! Lo siih!!" Gerutu Putri.

"Lah? Kok jadi nyalahin gue!? Emangnya lo ngelamunin apaan? Robert Pattinson
ngajak lo manjat pohon? Jonas Brothers ngamen di depan rumah lo? Ato
Logan Lerman ngapel ke kerumah lo?" Celetuk Milka

"Sori, Mil. Itu udah lewat..sekarang pikiran gue lebih realistis lagi, heheee.." Putri nyengir.

"Maksud lo?" Alis Milka terangkat.

"Gue ketemu cowok ganteng, pengurus OSIS, hehee.."

"Siapa namanya?" Putri langsung menghela napas.

"Dia pake blazer OSIS, Mil, jadinya gue gak liat namanya," Putri menghela napas.

"Emang Vinep?" Tanya Milka penasaran.

"Widiiih, Robert Pattinson lewaat, ya ampun Mil, kulitnya putih,
tinggi, keren, matanya tajem kayak mata elang, gayanya itu lho..bikin
gue klepek-klepek!" Seru Putri.

"Gue jadi penasaran.." gumam Milka. Tiba-tiba seorang pengurus OSIS memberikan pengumuman lewat speaker.

"Kepada seluruh kelas X, silahkan berkumpul di pinggir lapangan, sebentar lagi
demo ekskul basket di mulai!" Suruh para pengurus OSIS.

"Keluar yuk, Put!" Ajak Milka. Milka dan Putri keluar dari kelas dan duduk di
pinggir lapangan, anggota-anggota klub basket sedang melakukan
persiapan di tengah lapangan.

"Ayo, kita sambit! Eh, salah, sambut! Kapten sekaligus ketua ekskul basket SMA Citra Bangsa! Vincentius Nicolas Hartanto!!" Seru sang
pembawa acara, Wisnu.

Kemudian seorang laki-laki tinggi berperawakan tinggi dan putih muncul dari pinggir lapangan
memakai kostum tim SMA Citra Bangsa. Putri yang melihatnya langsung
melotot dan mendorong-dorong bahu Milka.

"Mil! Itu cowoknya!!" Seru Putri sambil menunjuk kearah cowok itu. Milka menyipitkan matanya.

"Kayak gitu lo bilang Robert Pattinson lewaat? Mata lo juling, Put?" Tanya Milka.

"Iiih, ganteng tau, Mil! Lo aja gak punya selera!" Gerutu Putri.

"Tapi lumayan juga sih, daripada lumanyun, hihii.." kata Milka nyengir.

"Ya, ampun ternyata kapten tim basket, makin demen gue ama dia!" kata Putri.

Kemudian sang Kapten tim memperkenalkan diri kepada semua anak-anak kelas X.

"Perkenalkan nama saya Vincentius Nicolas Hartanto, saya biasa dipanggil Nico, dan
saya adalah ketua sekaligus kapten tim! Kami akan melakukan demo ekskul
dengan bertanding melawan tim dari kelas X, yang mau daftar bisa
langsung temui saya, atau anggota tim yang lain terima kasih."
Nico
memberikan micnya kepada Wisnu.

"Gimana? Ganteng gak kaptennya??" Tanya Wisnu.

"GANTEEENG!!!" Teriak semua cewek-cewek, mulai dari kelas X sampai kelas XII.

"GANTEEEENGG BANGEEET!!" Teriak Putri cempreng. Milka sampai menutup kupingnya.

"Gila, Put! Suara lo cempreng banget!" Seru Milka. Putri hanya menjulurkan lidah.

Selama demo ekskul berlangsung, semua anak-anak menyerukan nama Nico.

"Kaak Nicoooo kereeenn!!!" Teriak Putri dari pinggir lapangan. Nico pun langsung terkejut mendengar teriakan suara cempreng Putri.

"Idiih alaah, tuh cewek yang tadi." gumam Nico.

Nico beserta anggota tim lainnya bertanding dengan tim yang terdiri dari
anak anak kelas X. Saat permainan berlangsung, tentu saja yang menjadi
pusat perhatian adalah Nico. Karena permainannya yang santai tapi cepat,
banyak menyumbnag angka, dan sangat keren. Putri pun terpesona melihatnya
seperti melihat seorang malaikat datang dari langit *lebay banget si
Putri*.

"Mil, gue putuskan!" Kata Putri.

"Putusin apaan?"

"Gue bakal nembak Kak Nico nanti sepulang sekolah!"

"Hah!? Makin gak waras lo, Put! Otak lo ditaro dimana? Di dengkul??" Tanya Milka.

"Kagak. Gue taro di kantong. Pokoknya hari ini gue mau nembak Kak Nico, liat tuh anak-anak yang laen, mukanya tuh udah pada mupeng gitu
ngeliat Kak Nico!" Kata Putri sambil merangkul pundak Milka dan
memperlihatkan tampang wajah anak-anak kelas X yang agak kesemsem sama
Nico.

"Emang lo nggak?" Tanya Milka.

"Yaah, gue juga sih, hehee..pokoknya gue nanti mau nembak Kak Nico!" Kata Putri.

***
"Co, ada surat buat lo!" Kata Aji. Aji memberikan secarik kertas warna biru, Nico langsung membuka dan membacanya.


Untuk Vincentius Nicolas Hartanto yang ganteng..

Gue tunggu lo di gerbang sepulang MOS, kalo gak dateng gue bakal dateng ke dalam mimpi lo, hehee

Dari


Veronika Putri



"Hah? Veronika Putri? Kayaknya gue pernah liat tuh nama," gumam Nico.

"Asik dah yang mau di tembak.." celetuk Aji.

"Ah males, lo aja yang nemuin, Ji." kata Nico.

"Yeuuh..cantik lho, Co anaknya, lo bakal kesemsem deh ama dia, anak kelas satu sih." kata Aji.

"Gila! Baru ketemu tadi udah nembak gue!?" kata Nico. Aji hanya mengangkat bahu.

"Perasaan gue gak enak nih kayaknya," gumam Nico.

"Udahlah temuin aja.." kata Aji.
***
"Put, udah siap?" Tanya Milka.

"Siap!"

"Tapi emangnya Kak Nico gak serem ngeliat penampilan lo kayak neneng pea
begini?" Tanya Milka sambil memandang Putri dari atas kebawah.

"Ya, mau gimana lagi? Kata pengurus OSIS gak boleh di lepas selama
masih di sekolah, mana dia juga pengurus OSIS lagi, harus berani malu
gue!"

"Yah elo kayak gak tau aja, urat malu lo kan udah putus pas lo baru lahir, Put!" Celetuk Milka.

"Sembarangan lo, Mil! Udah ya gue nunggu di gerbang dulu!" Putri berjalan menuju gerbang sekolah.

"Semangat, Put! Kalo gak diterima bunuh aja orangnya!" Teriak Milka.

"Jangan! Orang ganteng sayang kalo di bunuh!!" Teriak Putri. Milka hanya tertawa.
***
"Pak, saya numpang nunggu disini ya!" Kata Putri sambil mengambil tempat duduk yang ada di depan pos satpam.

"Nunggu jemputan?"

"Nggak."

"Terus?"

"Hehee..rahasia, Pak!" Kata Putri. Pak Yanto, satpam SMA Citra bangsa hanya menggaruk-garuk kepala.

"Yaudah deh, Neng masih disini kan? Bapak mau makan dulu di warteg!" Kata Pak Yanto.

"Sippo, Pak!" Putri menunggu Nico sendirian di depan pos satpam.

Putri sedang mencari-cari sosok Nico. Tapi tak kunjung datang.

"Jangan-jangan anak OSIS yang kayak Bondan Prakoso itu gak ngasih suratnya lagi sama Kak Nico? Awas tuh orang besok!" Gerutu Putri.
***
Saat ini Nico masih berada di ruang OSIS untuk mengumpulkan berkas-berkas anak kelas X dan di temani oleh Aji.

"Sialan nih, si Marco, mentang-mentang Ketua OSIS, seenak jidat nyuruh
kita beresin berkas-berkas, mana kagak ada yang bantuin lagi, berduaan
lagi sama lo di sini, Ji! Kalo cewek kagak papa, lah kalo sama lo,
disangka maho gue!" Gerutu Nico.

"Siapa juga yang mau, gue juga ogah!" Balas Aji. Setelah
berkas-berkas terkumpul semua, Aji menaruhya di rak dekat jendela.
Saat ia menaruhnya, Aji melihat dari jendela seorang anak kelas X
sedang menunggu seseorang di depan pos satpam.

'Itu anak yang tadi kan?' Batin Aji.

"Co, parah lo! Lo kan disuruh ke gerbang sama anak kelas X! Udah nunggu tuh!" Seru Aji.

"Hah? Beneran? Serius ya tuh anak!"

"Yaudah, lo kesana aja, biar gue yang ngurusin!" Kata Aji sambil mendorong Nico keluar dari ruang OSIS.

"Kira-kira siapa ya?" Gumam Nico.

Nico melihat seorang anak perempuan sedang duduk membelakanginya.

"Kalo diliat dari belakang, kayaknya gue pernah liat ni anak." Gumam
Nico. Nico menghampiri anak itu dan menyentuh bahunya, kemudian anak itu
menoleh dan langsung berdiri. Pandangan Nico berubah. Anak itu cuma
nyengir gak karuan.

"HAH!? Elo!?" Seru Nico sambil menunjuk kearah Putri. Putri hanya mengangguk sambil cengar-cengir.
***
"Aduuh, mana sih!?" Gumam Putri. Tiba-tiba ia merasa bahunya di sentuh oleh seseorang, dan kemudian saat ia berbalik, Putri mendapati sosok Nico di belakangnya, Putri langsung terkejut
dan berdiri sambil senyam-senyum.

'Aduh, gawat jantung gue udah mau bocor nih, ngeliat Kak Nico!' Batin Putri.

"HAH!? Elo!?" Seru Nico sambil menunjuk kearah Putri. Putri nyengir-nyengir gak jelas.

'Diliat deket, tambah keren aja!' Pikir Putri. Nico hanya geleng kepala.

"Mau ngomong apaan lo? Putri?" Tanya Nico.

'Ya, ampun nama gue di sebut sama dia! Kyaaaa!! Bisa mati ditempat gue!' Batin Putri.

"Ja..jangan panggil Putri, Kak! Panggil aja Putri!" Kata Putri gugup.

"Yee… Sama Aja! Mau ngomong apaan, Put? Gue gak bisa lama-lama, gue mau bantuin Aji dulu," kata Nico.

"Gu..gue..gue..guee.." kata Putri gugup, dia udah keringetan, tiba-tiba Putri kayak orang asma.

"Ni anak kenapa lagi?" Gumam Nico. Dan tiba-tiba..

BRUUK!

Nico terkejut. Tiba-tiba Putri pingsan. Nico langsung menggoyang-goyangkan bahu Putri.

"Lah? Ni anak kesambet ato apaan sih? Tiba-tiba pingsan!? Woi!
Banguun!!" Seru Nico. Kemudian Putri tersadar dan langsung cengar-cengir
lagi ke Nico.

"Lo gila ya?" Tanya Nico.

"Hehee..nggak kok, Kak. Abis gue klepek-klepek ngeliat lo, makanya gue pingsan hehee.." Ucap Putri. Nico meringis. Kemudian mereka berdua kembali berdiri.

"Lo mau ngomong apaan?" Tanya Nico.

"Guee..guee..guee.."

"Gue apaan??" Tanya Nico.

"Gue suka sama lo, Kak!!!" Seru Putri.

'Akhirnya gue bisa ngomong juga!' Batin Putri.

Nico mematung, tidak bergerak, tidak berkedip, tidak bernapas (mati dong?), tidak bersuara..

krik..

krik..

krik..

3 menit kemudian, Nico masih mematung, Putri sampai mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Nico, tetap tak ada tanggapan.

"Kayaknya shock banget nih orang," kata Putri.

"Kak Nico! Jawabannya apaan??" Tanya Putri. Akhirnya Nico tersadar dari lamunannya.

'Hha? Gue di tembak ama ni bocah?' batin Nico.

"Kak, gue demen banget nih ama lo, gue kesemsem sama lo pas tadi ketemu
di depan pintu, terus pas gue liat lo maen basket, gue makin kesemsem
sama lo, hehee..mau gak jadi pacar guee?" Tanya Putri.

'Wah, ni bocah bener-bener sedeng, gue jawab apaan dong?' pikir Nico.
Kemudian Nico punya akal bagaimana caranya bisa kabur dari Putri.

"Eh, liat tuuh! Ada Vincentius Nicolas yang paling ganteng satu sekolahan,
lagi manjat pohon!!" Teriak Nico sambil menunjuk ke arah pohon jambu
depan sekolahnya. Begitu mendengar nama Vincentius Nicolas, sontak Putri
langsung berbalik kebelakang untuk mencari "VINCENTIUS NICOLAS" yang Nico
maksud. (-,-)

"Hah? Mana? Mana? Kok gak ada di pohon!?" Kata Putri sambil terus
mencari-cari sosok "VINCENTIUS NICOLAS". Sekali lagi "VINCENTIUS NICOLAS".
Tiba-tiba Putri tersadar dan berpikir sejenak.

"Lho? Tadi Kak Nico bilang ada VINCENTIUS NICOLAS lagi manjat pohon? VINCENTIUS NICOLAS kan Kak Nico, nah Kak Nico kan tadi ada di depan gu.." omongan
Putri terhenti begitu melihat kebelakang sosok Nico sudah kabur entah
kemana.

"Yaaahh, gueee diboongiin!! Kak Nicooo!!!!" Teriak Putri. Putri langsung berlari mencari-cari Nico.
***
"Kenapa lo, Co? Kayak di kejar-kejar setan.." kata Aji sambil membereskan barang-barang yang ada di ruang OSIS.

"Sompret, bener-bener tuh cewek, sedeng gila!!" Seru Nico sambil mengatur napasnya.

"Hah? Maksud lo?" Tanya Aji heran.

"Ntar gue ceritain pas pulang, ayo cepetan! Gue gak mau ketemu si Putri
lagi!" Nico langsung menarik tangan Aji untuk segera pulang.

"Woi, tunggu dong! Ngunci ruangan dulu nih!" Aji langsung mengunci pintu ruang OSIS.

"Aduuh, Ji cepet dong lo kayak cewek deh, lama banget!!" Gerutu Nico.

"Yeee..daripada lo kayak banci dikejar trantib!" Balas Aji. Nico
langsung menoyor kepala Aji. Setelah mengunci mereka langsung berlari
menuju gerbang belakang, tapi tiba-tiba...

"KAK NICOO!!!" Teriak Putri dari sebrang.

"Ah! Tuh kan!" Decak Nico. Aji hanya menggaruk-garuk kepala, akhirnya Nico dan Aji membalikkan badan.

"Iih, Kak Nico jahat! Jawabannya apaan??" Tanya Putri dengan penuh pengharapan.

"Eh, denger ya! Gue gak mau pacaran sama lo! Lo jangan deket-deketin
gue lagi!" Kata Nico. Kemudian Nico meninggalkan Putri dan Aji
menyusulnya.

Putri terdiam di sana, tak bergerak. Putri di tolak. Hatinya hancur berkeping-keping.
***
"HUWAAAA!!!" Putri menangis kencang di rumah Milka. Milka jadi bingung harus berbuat apa, ia mengambil tissu dan memberikannya pada Putri.

"SROOOTT!" Kemudian Putri melempar tissu itu ke depan.

"Tisu.." kata Putri meminta tissu pada Milka.

"Tissu gue abis!! Satu pak gue beli tissu lo abisin dalam satu jam!
Liat tuh kerjaan lo, tissu penuh ingus lo bergeletakan di kamar gue!"
Gerutu Milka.

"Gue kan lagi patah hati, huwaaa!!!" Putri langsung memeluk Milka.

"Putri!!! Jangan meper ingus lo ke baju guee!!" Seru Milka sambil mendorong Putri menjauh dari badannya.

"Lagian sih, lo nekat banget! Makanya lo di tolak sama Kak Nico!" Seru Milka. Putri menghapus air matanya.

"Pokoknya gue gak bakal nyerah, di dalem kamus gue, gak ada kata TIDAK
yang ada kata BELUM! Berarti gue masih punya harapan!" Kata Putri.

"Tambah gak waras aja lo, Put!"

"Pokoknya gue harus bisa bikin Kak Nico nerima gue! Gue bakal cari
informasi sana-sini tentang Kak Nico, dan gue harus bikin Kak Nico
ngeliat gue!" Kata Putri dengan penuh tekad. Milka hanya geleng-geleng
kepala.
***
MOS SMA Citra Bangsa berakhir, jujur Putri merasa sangat kecewa karena
cuma saat MOS itu, Putri bisa melihat Nico dari dekat, tapii..gimana mau
lihat dari dekat?? Nico yang baru aja ngeliat Putri langsung kabur entah
kemana, Putri semakin merasa kecewa. Tapi Putri masih berpegang teguh pada
mottonya, yaituu..

"Tak ada kata "NGGAK" yang ada hanya kata "BELUM""

Putri tetap tidak mau menyerah untuk mendekati Nico, dengan semangat 45 bahkan 2012, ia tetap berjuang untuk mendekati Nico.

Jam pelajaran ke 3 dan 4, merupakan jam pelajaran Fisika, pelajaran
yang paling membosankan, apalagi kalo gurunya adalah Bu Valent, guru yang
dikenal paling jutek, tak pernah senyum, membuat hawa kelas yang panas
menjadi tambah panas. Bu Valent mengakhiri materinya yang ia tulis di
papan dan berbalik badan.

"Bagaimana? Ada yang mau bertanya?" Tanya Bu Valent. Semua diam, bukannya
karena sudah mengerti materi tapi karena udah takut duluan ngeliat muka
Bu Valent yang kayak singa mau makan orang. Bu Valent memandang ke
sekeliling kelas, dan tiba-tiba matanya mulai melotot begitu melihat
Putri yang sedang senyum-senyum sendiri.
***

Nico dan Putri sedang berpiknik di taman yang penuh bunga. Di taman itu
dipenuhi oleh sepasang kekasih yang sedang berdua termasuk Putri dan Nico.


"Kak Nico, coba ini deh! Putri yang masak lho!" Putri menyodorkan sebuah kotak makan kepada Nico.

"Ini beneran kamu yang buat?" Tanya Nico tak percaya. Muka Putri memerah dan mengangguk.

"Dicoba dong, Kak..jangan dipelototin doang.." Nico mengambil kotak
makan itu dari tangan Putri. Nico terus memandang kotak makan itu.

"Kenapa, Kak?" Tanya Putri.

"Aku gak mau makan kalo kamu gak mau suapin.." Kata Nico cemberut.

"Iiih banyak maunya deh, sini aku suapin.." Putri menyuapi Nico.

"Put, top markotop!" Puji Nico sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Hihii..makasih Kak Nico..!" Kata Putri. Saat itu mereka sedang bahagia
sekali, tapi tiba-tiba ada seorang Ibu mendekati mereka berdua dengan
tatapan tajam memandang mereka, tatapannya bagaikan monster yang mau
melahap Putri.

"Veronika Putriiii!!!"


"KYAAAA!!!!ADAA MONSTEEER!!" Teriak Putri yang kemudian membuyarkan
lamunannya yang sangat indah (??). Semua mata tertuju padanya, Putri
menjadi malu dan Bu Valent sudah berada di depan mukanya. Putri hanya
cengar-cengir saja. Bu Valent kembali melotot. Muka Putri mulai pucat.

"Putri!! Daritadi melamun terus!! Pake ngatain saya monster lagi!!"Seru Bu Valent.

"Yah, Bu maaf bukan maksud ngeledek Ibu, saya khilaf, tadi saya lagi
melamun terus saya ngeliat monster di depan saya, tapi mukanya agak
mirip Ibu gitu.." kata Putri. Milka yang mendengarnya menepok jidat.

"Cari mati lo, Put..gue doain lo selamet deh.." bisik Milka.

"Heeehh, apa kamu bilang?? Kamu bilang saya mirip monster??"

"Bu..bukan Bu..Bukan Ibu yang mirip monster, tapii monsternya yang mirip I..bu.." gumam Putri sambil nyengir.

"BERDIRI KAMU DIDEPAN KELAAS!!" Suara Bu Valent menggemparkan kelas X-3. Putri pun sampai terkejut di buatnya.

"Yah, yah Bu jangaaan!! Muka saya mau ditaro dimanaa??" Tanya Putri.

"Kamu taro aja di kantong, supaya gak malu!!"

"Sekarang, Bu?" Tanya Putri.

"SEKARANG!!" Dengan lunglai Putri berjalan menuju luar kelas dan berdiri di sana.

"Yaah, ternyata cuma mimpi.." Putri mendesah. Putri mengalihkan
pandangannya ke arah lapangan, dan kemudian ia melihat Nico yang sedang
berolahraga di lapangan bersama teman-teman sekelasnya. Putri pun
mesem-mesem gak jelas karena melihat Nico yang sedang bermain voli
dengan anak-anak cowok yang lain, senyuman Nico sangat manis dan menawan
saat itu. Putri mengintip kedalam kelas melalui celah pintu, meyakinkan
diri bahwa Bu Valent sedang mengajar dan tak akan keluar kelas, karena
Putri mau pergi ke lapangan untuk melihat Nico lebih dekat. Kemudian Putri
mengendap-endap pergi menuju lapangan.
***
"Co, servis bolanya!!!" Teriak Ardi.

"Iye,iye sabar dong! Gue lagi ngumpulin tenaga dalem!!" Kata Nico.

"Lagak lu, Co ngumpulin tenaga dalem!!" Seru Aji.

"Yee..orang jelek diem aja, orang ganteng mau nunjukkin kemampuannya dulu!"

Nico sudah bersiap-siap untuk menyerMils bola, tangan kanan sudah ia
gerakkan ke belakang, saat mau memukul bola yang ada di tangan kirinya,
tiba-tiba..

"Kak Nicooo!!!!" teriak seorang cewek dari belakang, membuat Nico kehilangan konsentrasi dan memukul bola kearah yang salah.


"BUUKKK!!!" Bola yang dipukul Nico mengenai kepala Adit yang sedang mengobrol dengan Ella anak XI IPA 4.

"Heh! Siapa tuh yang ngelempar bola voli kearah gue!? Kagak tau gue lagi seneng apa!?" Seru Adit nyolot.

"Nico pelakunyaaa!!!" Teriak Ardi.

"Yee elu, Co! Wah, ngajak ribut lo!" Kata Adit. Nico hanya nyengir.

"Sori, Bro! Tuh gara-gara cewek gila yang ada di sana ganggu
konsentrasi gue!" Nico menunjuk kearah Putri yang sedang
melambai-lambaikan tangannya pada Nico. Nico hanya bergidik ngeri melihat
tingkah laku Putri yang hiperaktif.

Setelah jam olahraga selesai, Nico menghampiri Aji yang sedang meminum minumannya di pinggir lapangan.


"Ya, ampun Co, tuh cewek keren juga, kagak nyerah ngejar-ngejar elo, haa.." kata Aji.

"Gue balik duluan kekelas ya, Ji! Ngeri gue disini ada Putri di situ!" Nico langsung melesat kabur kekelasnya.

***
"Yaaah, Kak Nico pergii.." Kata Putri dengan muka memelas.

"Siapa yang pergii??" Putri gemeteran. Saat ia berbalik badan, Bu Valent sudah melipat tangannya di depan dada, Putri hanya nyengir.

"Eheheheee..itu, Bu kucing tadi lewat udah pergi, Bu..hehee.."

"Awas kamu, ngelamun lagi di kelas! Saya hukum kamu ngepel lapangan!" Ancam Bu Valent.

"Yah,yah janji deh Bu, saya gak bakal ngelamun lagi di kelas..hehee.."
Putri mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Bu Valent akhirnya pergi
meninggalkan Putri, dan Putri pun bernapas lega.

"Baru kali ini gue ketemu guru super duper jahat," gumam Putri. Tiba-tiba Milka sudah ada di sampingnya dan merangkul bahunya.

"Hei, sahabat gue yang paling Vinep tapi masih Vinepan gue! Hehee.."

"Yeee..itu namanya nyindir apa muji sih?" Keluh Putri.

"Heheee..kekantin yuk!" Ajak Milka.
***

"Aduh,aduh kenyang banget guee!" Seru Milka sambil mengelus-elus perutnya.

"Yaiyalah lo kenyang, bubur ayam punya gue aja lo embat juga!" Keluh Putri. Milka hanya nyengir.

"Hehee..abis gue laper, Put!"

"Elu kayak orang kagak makan seminggu tau gak!?" Seru Putri. Milka memandang kearah depan dengan heran.

"Kenapa, Mil?" Tanya Putri.

"Kok banyak cewek-cewek yang lagi ngerapihin rambut, pake make-up,
nebelin lipgloss, sampe-sampe ada yang ngomong ama tembok gitu,sih?"
kata Milka sambil menunjuk kearah cewek yang terlihat sedang berlatih
mengucapkan "hai" dengan tembok. Putri hanya mengangkat bahu.

"Ni lorong kayak udah mau kedatengan orang ganteng aja!" Seru Milka.

"Emang orang ganteng yang mau dateng, haaah.." Milka terkejut melihat
Putri yang senyum-senyum sambil melihat kearah depan. Milka melihat
kearah depan.


4 orang cowok ganteng berjalan melewati lorong kelas, diikuti oleh
semilir angin mereka berjalan dengan gaya cool mereka, Nico, Aji,
Marco, dan Kevin. Semua cewek yang ada di lorong tersebut merebut
perhatian mereka berempat.

"Hai, Aji! Tambah ganteng aja deh!"

"Hai, Kevin ganteng!"

"Nico tambah maniis!"

"Hai, Marco!"

Semua cewek berebut tempat untuk memandang mereka lebih dekat. Milka hanya geleng-geleng kepala.

"Semua cewek yang disini sama aja kayak Putri, pada gak waras semua!" keluh Milka.

"Ayo, kekelas, Put!" Milka menarik tangan Putri.

"Aaaahh, gak mauu!!" Tolak Putri. Milka melipat tangannya dan melengos.


Nico, Aji, Kevin, dan Marco semakin dekat dengan Putri dan Milka. Nico
yang melihat Putri sudah berdiri sambil melambaikan tangannya, minta
tukar posisi dengan Marco.

"Mar, tuker tempat dong!" Kata Nico.

"Kenapa lo?"

"Iiih, gue merinding kalo ketemu dia," Marco dan Nico bertukar posisi. Putri pun mendekati Nico.

"Eeeehh, Kak Nicoo! Hehee..makin keren aja lo, Kak!" Puji Putri sambil menyolek bahu Nico dengan malu-malu.

"Heh, jauh-jauh lo dari gue!" Seru Nico.

"Aduuh, Kak Nico jangan malu-malu gitu doong, hehee.." Putri nyengir.

"Bener kan Mar? Gak beres nih orang!" Kata Nico. Milka yang sedang berdiri dengan memasang wajah jutek dideketin sama Kevin.

"Hei, cantik! Kelas X ya??" Kata Kevin. Milka memandang sinis Kevin.

"Ehm, punya obeng gak?" Tanya Kevin.

"Heh! Lo kira gue tukang reparasi elektronik apa punya obeng? Kagak punya laah!"

"Tapii..nomor hape punya kaann?" Gombal Kevin sambil mengangkat alisnya.

"Nih! Ngomong ama tangaan!!" Seru Milka sambil memperlihatkan telapak tangannya kearah muka Kevin.

"Iih, jutek amat sih, Mbak!" Kemudian kuping Kevin di jewer sama Aji.

"Aduh,aduh, sakiit Ji! Lo udah kayak emak gue aja!" Ringis Kevin sambil memegang kupingnya.

"Sori, temen gue rada-rada gila," kata Aji.

"Kalo perlu mulutnya ditutup pake lakban tuh, supaya gak gombal!" Kata Milka.

'Nih, anak manis juga ya..' Batin Aji.

"Nama lo siapa?" Tanya Aji.

"Gue Milka, kelas X-3."

"Gue Aji kelas XI IPA 2,"

"Oooh," Ujar Milka singkat.

Kemudian Milka menarik Putri yang sedang berusaha mendekati Nico.

"Kak Nico, maafin temen gue, ya! Belom gue kasih obat soalnya!" Ucap Milka.

"Pantesan, tambah gak waras aja ni orang, jangan 1 tablet doang di kasihnya, kalo perlu satu botol satu hari!" Kata Nico.

"Parah lu, Co!" Seru Marco.

"Ayo, Put! Malu-maluin gue aja lo!" Milka menarik Putri dengan paksa.

"Dadaaah, kak Nico!!"

Marco menepuk bahu Nico.

"Jarang-jarang punya penggemar fanatik kayak Putri, Co!" Celetuk Marco.

"Yang ada gue malah tambah serem ama dia!" Kata Nico.

"Kalo gitu buat gue aja deh, Co!" Kata Kevin.

"Ambil sono, goceng serauk!" Seru Nico.
***
"Put, lo mau ngapain lagi??" Tanya Milka. Milka melihat Putri yang membawa note kecil punyanya.

"Mau observasi, hehe!"

"Observasi apaan?"

"Observasi tentang Kak Nico!" Kata Putri.

"Lo belom nyerah?"

"Gak ada kata menyerah buat guee!" Kata Putri optimis.

"Yaaah, up to You laah!" Milka sudah menyerah menghadapi tingkah laku Putri yang sudah kelewat batas.

"Gue cabuut dulu, Mil!!" Putri pergi keluar kelas. Daripada bengong lebih
baik ia membaca buku novel kesukaannya saja. Saat itu, Milka merasa ada
yang memandangnya dari luar kelas, tapi Milka tidak menghiraukannya dan
kembali meneruskan kegiatannya.

***
"Gue nge fans bangeet sama Nicoo!"

"Aduuhh Nico kan kereen bangeet!!"

"Klepek-klepek gue ngeliatnya!"

"Ya, ampun Mas Nico kasep pisan, euy!


Hampir semua cewek Putri tanyai tentang Nico, sampai-sampai penjaga kantin
pun di tanyain sama Putri. Putri kerajinan. Kemudian Putri bertemu dengan
seorang cewek tomboy yang sedang memainkan handphonenya.

"Kak, gue mau tanya dong!" Kata Putri.

"Tanya apaan?" Putri mengambil posisi duduk di sampingnya.

"O,iya kenalin gue Putri kelas X-3." Putri mengulurkan tangannya.

"Gue Anin kelas XI IPA 1," Anin menyambut tangan Putri dan menjabatnya.

"Menurut lo, Kak Nico menarik gak?? Abis semua cewek yang gue tanyain
pada bilang menarik banget, banyak yang nge fans sama dia."Ujar Putri.
Anin mengangkat alis.

"Menurut gue, hmm..menarik sih, tapi gue gak ngefans tuh sama dia." Ucap Anin. Putri terkejut.

"Ajib lo, Kak! Lo gak kena pesonanya Kak Nico?" Tanya Putri.

"Gak ngaruh tuh sama gue! Emang kenapa lo nanya-nanya dia? Lo suka sama
dia?" Tanya Anin. Putri mengangguk. Putri bercerita kepada Anin tentang
penolakan tragisnya pas MOS.

"Gila, baru kali ini gue kenal cewek gokil bin nekat kayak lo, Put!" Kata Anin.

"Abis baru kali ini, gue kesemsem banget ama cowok!" Seru Putri.

"Emang pas SMP gak pernah?" Tanya Anin.

"Aaah, dulu di SMP gue cowoknya kelakuannya kayak alay semua, gak ada yang bener!" Seru Putri.

"Hmm asal lo tau, Put. Sejak Nico kelas X, kakak kelas banyak yang nge
fans sama dia, baru MOS aja dia eksis banget gara-gara bisa ngalahin
tim basket kelas XI dulu. Nico, bareng Aji, Kevin, dan Marco itu
bisa dibilang the most perfect guy di Citra Bangsa. Nico, kapten tim
basket yang berprestasi di bidang akademik dan non-akademik dan ketua
sekbid olahraga. Aji, si Ketua klub Fotografi sekaligus wakil ketua
OSIS. Kevin, Kapten tim futsal. Ditambah lagi sama Marco si Ketua
OSIS Citra Bangsa, makin eksis mereka." Ujar Anin.

"Waaw, kereen banget mereka, mereka gak punya fans club apa disini?" Tanya Putri.

"Kalo Kevin, dia udah punya, namanya Kevinlovers, tapi yang lain gak
punya tuh, soalnya gak tertarik buat bikin fans club, cuma si Kevin
doang yang punya! Gue aja ampe kesel kalo ngeliat cewek-cewek anggota
fans club Kevin udah nampang di depan kelas gue, kan Kevin sekelas sama
gue!" Gerutu Anin.

"Kak Nico gak punya? Padahal kan fansnya lebih banyak daripada Kak Kevin!"

"Yaah, Nico itu males berurusan sama cewek, jangan harap deh dia punya
fans club.." ujar Anin, kemudian mereka terdiam. Kemudian Putri berdiri.

"Kak gue tinggal dulu ya," kata Putri.

"Mau kemana?"

"Rahasia, besok juga lo bakal tau, apa yang gue lakuin!" Putri pergi meninggalkan Anin.
***
Besoknya..

Nico, Marco, Aji, dan Kevin terheran-heran melihat di depannya
sekumpulan cewek-cewek mulai dari kelas X sampai kelas XII semua
mengantri di satu tempat.

"Buset, ada apaan nih? Kayak ada pembagian BLT aja!" Seru Kevin.

"Ada apaan sih?" Tanya Marco.

"Tau deh,," Aji mengangkat bahu. Nico melihat ke sekeliling, matanya melotot.

"Lah? Kok foto gue dipajang disini??" Tanya Nico sambil mengambil selembaran foto Nico yang di tempel di dinding.

"Disini juga ada, Co!" Kata Aji.

"Disini juga!" Kata Marco. Sementara Kevin tertawa terbahak-bahak melihat foto yang ada di tangannya.

"Kenapa lo, Vin?" Tanya Nico.

"Muka lo jelek banget, Co! Hahahaaa!" Seru Kevin. Begitu Marco dan
Aji melihatnya, mereka juga ikut tertawa, Nico yang mulai kesal
mengambil foto itu dari tangan Kevin, matanya terbelalak, itu adalah
foto Nico yang sedang menguap pas nonton demo ekskul.

"Anjrit! Siapa yang ngambil ni foto!? Harga diri gue jatoh nih!" Seru Nico.

"Gokil banget yang ngambil tuh foto!" Tawa Kevin meledak. Kemudian Nico maju ke depan melihat siapa biang keladi dari semuanya.

Putri yang sedang mendata nama-nama cewek-cewek yang mengantri didepannya pun dikejutkan dengan kedatangan Nico.

"Kak Nicoo!!!" Putri melambai-lambaikan tangannya pada Nico. Otomatis
mendengar nama Nico, semua cewek menoleh kearah Nico. Nicopun terkejut.

"KYAAAA!!!NICOOO!!!" Jerit cewek-cewek itu dan mengejar-ngejar Nico. Nico yang melihatnya langsung kabur saking takutnya.

"Waduh, Nico diserang tuh!" Seru Marco.

"Yaah, susahnya jadi orang ganteng tuh kayak gitu," kata Aji.

"Kok fans gue gak pernah ngejar-ngejar kayak gitu ya?' Tanya Kevin.

"Gak nafsu Vin, sama lo!" Celetuk Marco.

"Yeee..sembarangan lo!" Gerutu Kevin.

Saat Kevin dan Marco sedang beradu mulut, Aji memandang seorang gadis yang berada di depan kelas sedang membaca buku tebal sambil
mendengarkan musik. Matanya tak luput dari gadis itu.

"Ji, kenapa lo?" Tanya Marco sambil merangkul bahu Kevin.

"Jangan ngerangkul gue deh, ntar disangka maho lagi!" Seru Kevin.

"Ah, nggak kok, cari Nico yuk, kasian tuh si Nico!" Aji mengajak kedua
sahabatnya untuk mencari Nico tapi pandangannya masih tertuju pada gadis
tersebut.

***
"Aduuhh, Kak Nicoo!! Mau kemana siih!? Sakiit tauu!!" Tangan Putri
ditarik oleh Nico dan diajak ke tempat yang agak sepi. Setelah sampai,
Nico melepaskan pegangan tangannya.

"Kak, ngapain sih kesini? Mau nembak gue yaa?? Hehee.." Kata Putri cengengesan. Mata Nico terbelalak.

"Idiih, ngarep banget lo! Gue mau minta pertanggungjawaban dari lo!" Nico mengambil beberapa lembar foto dari kantong celananya.

"Ini semua maksudnya apaa? Lo tempel-tempel di tembok, kalo muka gue
ganteng sih gak papa, ini muka gue jelek, malah lo tempel!?" Seru Nico
sambil memberikan foto-foto yang ada di tangannya. Putri melihat
foto-foto itu satu persatu. Ada yang lagi nguap, ada yang tidur
mulutnya mangap, dan beberapa pose jelek lainnya.

"Heheee..maaf, Kakak Ganteeng, tadinya gue pengen ngambil pose lo yang
paling oke, tapi malah dapetnya pose yang langka kayak gini, yaudah deh
terpaksa gue pake foto ini buat promosiin fans club lo!"Nico cengo mendengar penjelasan Putri.



"Hah? Apaan? Lo bilang apa?" Tanya Nico.

"Fans club!"

"Hah? Apaan?"

"Iiih, congek banget sih, F-A-N-S-C-L-U-B! Fans club!" Ucap Putri.

"Fans club?? Lo tuh kurang kerjaan banget sih, Put!!" Gerutu Nico.

"Biarin! Gue pengen tahu, seberapa banyak sih yang nge fans sama lo,
dan ternyata hampir seluruh cewek disini nge-fans sama lo, jadinya gue
pengen bikin fans club lo supaya kita bisa bertukar pikiran! Tau gak
namanya fans club lo apaan?"

"Emang apaan?" Tanya Nico.

"NICE!" Seru Putri.

"NICE? Baik?" Tanya Nico.

"Aduuh, ganteng-ganteng bego juga lo! NICE! N-I-C-E!" Kata Putri.

"Gue gak mau tahu! Mau namanya NICE kek! NICE kek! Bubarin!" Suruh Nico.

"Gak bisa!!" Tolak Putri.

"Gue bayar deh! Tapi lo bubarin! Gue gak mau berurusan sama cewek sarap kayak lo!"

"Lo mau bayar gue pake duit kek, daon kek, gue gak bakal bubarin!
Karena keputusan ada di ketua, dan gue ketuanya!!" Kata Putri. Nico
mengacak-acak rambutnya.

"Makin gila gue kalo berurusan sama lo!" Nico meninggalkan Putri.

"Kak, besok dateng ke pertemuan anggota NICE yaa!!"

"Ogah!!"
***

Pagi ini, Milka bangun terlalu cepat, karena tak bisa melanjutkan
tidurnya, Milka lebih memilih berangkat sekolah lebih awal. Saat itu,
yang baru datang hanya Milka sendiri, kelas masih kosong dan sekolah
terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang murid di sekolah. Kemudian,
pandangan tertuju pada sebuah surat, selembar foto dirinya dan
setangkai mawar putih di atas mejanya. Ia membaca surat itu.


Selamat pagi,

Aku kasih mawar putih yang cantik untuk gadis cantik yang ada di dalam foto ini


Milka memandang selembar foto yang ada di tangannya, di dalam foto itu
terdapat dirinya sedang tersenyum senang saat membaca novel
kesukaannya. Muka Milka memerah. Milka berjalan menuju keluar kelas dan
menengok kekiri dan kekanan. Tak ada orang di sekitar kelasnya.

"Siapa yang naro ini di meja gue?" Gumam Milka. Kemudian pandangannya
tertuju pada bunga mawar putih yang cantik itu. Milka mengambilnya dan
mencium aroma bunganya, dan kemudian tersenyum senang.

"Yaaah, siapa pun itu orangnya, gue berterima kasih sama lo!" Gumam Milka.
***
"Co, muka lo lecek banget! Udah di setrika belom?" Tanya Kevin.

"Belom! Setrika dirumah gue rusak, soalnya dipake terus ama lo buat nyetrika muka lo itu!" Kata Nico.

"Yeee..kampret lo, Co!" Seru Kevin.

"Kenapa sih lo, Co?" Tanya Marco.

"Kelakuannya si Putri makin sarap aja, dia bikinin gue fans club terus
ketuanya dia! Gila, gue paling males berurusan ama dia, sial mulu gue!"
Kata Nico curcol.

"Itu namanya Putri perhatian banget ama lo!" Kata Aji.

"Itu namanya bukan perhatian! Itu namanya mau nyiksa guee!" Kata Nico.
Kemudian Monica, Grace, dan Fifin memanggil Nico dari kejauhan.

"Lah, si trio macan dateng!" Gerutu Nico.

"Nico,Nico liat deh!!" Monica, Grace, dan Fifin menunjukkan sebuah kartu yang dipegang mereka. Nico menyipitkan mata.

"KTP versi baru??" Tanya Nico.

"Aduuh, Nicoo Vinep, Nico maniis, tapi sayang agak bego, liat baik-baik!" Kata Grace.

"Sebenernya lo mau muji gue apa nyindir sih?"

"Dua-duanya! Coba perhatikan baik-baik!" Suruh Grace. Nico memandang kartu yang dipegang Grace. Matanya terbelalak.

"Apa-apaan tuh!!?" Seru Nico.

"Kalo kita daftar di fans club lo, kita dapet kartu membernya lagi, cepet lho bikinnya! Cuma satu jam!" Monica malah promosi.

"Ajib banget fans clubnya Nico!! Pake ada kartu membernya segala lagi!" Kata Marco takjub.

"Pamor gue turun drastis nih!" Decak Kevin.

"Tuh, kan Ji! Idup gue tambah berantakan nih!" Kata Nico.

"Sabar, Co! Lo berdoa aja, doa orang teraniaya bakal dikabulin kok!"
Ucap Aji. Rasanya Nico mau nangis aja disitu terus meluk Aji supaya
di sangka maho (kok, malah ngarep?).


TEEETTT..bel masuk berbunyi...

"Udah, Co sekarang masuk kelas aja yuk." Ajak Aji. Nico merangkul bahu Aji dan hampir memeluk Aji.

"Jangan meluk gue! Gue masih normal!!" Seru Aji.
***
Saat Nico dan Aji masuk kedalam kelasnya, semua cewek lagi mengutak-atik handphonenya sambil senyam-senyum sendiri.

"Ini kelas apa RSJ, Ji?" Tanya Nico.

"Tauk, ah, ni sekolah kayaknya berisi anak-anak kurang waras."

"Termasuk lo ama gue dong?"

"Sori gue nggak, tapi lo kayaknya termasuk!" Celetuk.Aji. Kemudian
Aji dan Nico menghampiri satu-satunya cewek yang masih waras di
kelasnya, yaitu Intan.

"Git, anak-anak yang laen pada kenapa? Pada belom minum obat?" Tanya Aji.

"Sepertinya muncul Virus baru," kata Intan.

"Virus? Virus apaan? H1N1?" Tanya Nico.

"Virus NICE." Jawab Intan.

"Hha? Maksud lo apaan Tan?" Tanya Nico heran.

"Liat aja handphone mereka." Suruh Intan.

Nico dan Aji melirik handphone salah satu murid perempuan di kelasnya.
Mata mereka terbelalak. Di layar handphonenya terpampang foto paling
keren Nico, dan tertulis fansite NICE.

"Buset, ada fansitenya juga, si Putri niat banget! Websitenya,
Nicogantengsiapayangpunya.ning.com, keren amat alamatnya,hahaa" Kata
Aji takjub. (jangan dicari beneran ya, hihii..)

"Pengen bunuh diri nih, gue Ji, daripada gue menderita mulu ketemu sama Putri," ujar Nico.

"Tuh, di samping sekolah ada sumur, mau gue anterin?" Tanya Aji. Nico menoyor kepala Aji.
***

"Mil, daritadi gue gak ketemu Kak Nico nih. Hampa banget rasanya hidup gue, rasanya separuh jiwa gue pergi," ujar Putri melankolis. (perasaan
daridulu di kaitin sama lagunya Anang mulu deh -,-). Milka tak
menjawab, dia malah senyam-senyum sendiri sambil memandang setangkai
bunga mawar putih yang ada di tangannya. Putri mengangkat alis.

"Lo, kenapa, Mil? Kayaknya Virus gila gue nular ke elo deh.." Kata Putri. Tapi Milka tetap menghiraukannya.

"MILKA EMILIAAA!!!" Teriak Putri kayak kaleng rombeng. Milka terkejut bukan main.

"Apaan sih, Put??" Tanya Milka. Putri langsung merebut mawar putih dari tangan Milka.

"Mawar putih dari siapa nih?" Tanya Putri. Milka langsung merebut kembali mawar miliknya.

"Iiih, jangan diambiil!!" Kata Milka sewot.

"Marah, Mil..biasa aja deeh, emang dari siapa sih?" Tanya Putri penasaran.

"Gue gak tau," kata Milka.

"Hah? Gak tau? Jangan-jangan lo nyolong ya, dari kebun punya tetangga?" Tuduh Putri.

"Yeee..congor tuh dijaga, Put. Sembarangan aja! Tadi pagi ada yang naro ini di meja," kata Milka.

"Aaaah, bukan buat lo kali, buat gue dari Kak Nico hehee.."

"Yeee..Kak Nico gak bakal ngasih lo mawar putih, bunga bangke baru mungkin!" Celetuk Milka. Putri mencibir.

"Milka jahaaat niih! Kak Nicoo gak mungkin kayak gitu!" Kata Putri. Milka
hanya tertawa. Kemudian pandangan Putri tertuju kearah jendela, dan
hatinya pun menjadi berbunga-bunga. Nico dan gengnya sedang berjalan
melewati kelasnya.

Nico yang melihat kearah X-3, melihat sesosok cewek yang gak mau ia
temui. Putri melambai-lambaikan tangannya dengan riang gembira. Nico
bergidik ngeri sambil menyusul teman-temannya tanpa melihat kedepan
melainkan terus melihat kearah Putri, dan tiba-tiba...

JEDUUUG!!

Kepala Nico kejedot tembok. Sontak, Aji, Marco, dan Kevin menoleh
kebelakang dan mendapati Nico sedang meringis kesakitan sambil memegang
dahinya.

Putri dan Milka yang melihat dari dalam kelas terkejut juga, Nico
yang keren, ganteng, dan cool, kejedot tembok, menghancurkan
reputasinya sendiri di Citra Bangsa. Putri dan Milka langsung berlari ke
depan kelas untuk melihat keadaan Nico yang sedang jongkok dilantai
sambil memegang dahinya.


"Ya, ampun Kak Nicoo! Sakit, yaa? Sini deh..gue yang obatiin!" Tawar Putri.

"STOP! Jangan pegang jidat gue! Ntar tambah sial lagi guee!" Tolak Nico.
Putri yang jongkok tiba-tiba kesenggol murid lain dan hampir jatoh,
dan...tangannya mengenai dahi Nico pas di tempat yang sakit dengan cukup
kuat.

"Aduuuhh!!!PUTRIIII!!!" Teriak Nico. Aji, Marco, Kevin, dan Milka hanya menahan tawa.

"Ahhh, maaf, Kak!!! Tadi gue didorong!!!" Kata Putri.

"Co, jidat lo benjol! Hahahahaa..!" Tawa Kevin meledak. Nico menutup dahinya dengan tangan.

"Heh! Vin! Lama-lama mulut lo gue sumpel biji duren nih!" Ancam Nico. Kevin langsung menutup mulutnya.

"Makanyaa..Kak Nicoo jangan ngeliatin gue teruus, lo perhatiaan yaa sama guee?" Tanya Putri cengengesan.

"Iiih paan sih lo!? Nico langsung berdiri.

Aji sesekali melirik Milka dan melirik bunga mawar putih yang ada di
tangannya. Saat Milka sadar bahwa ia diperhatiin oleh Aji, Aji
langsung mengalihkan pandangannya pada Nico. Milka hanya mengangkat bahu.

"Co, gue kan baek dan tidak sombong, sini gue anterin deeh," tawar Marco.

"Yaudah, cepetan, sebelum orang-orang pada ngeliat gue dengan jidat
kayak gunung merapi nih!" Seru Nico sambil menunjuk benjolnya.

"Dadaaaah, Kak Nicoo!!" Putri kembali melambaikan tangannya.
***
Setelah pelajaran Biologi di laboratorium selesai dan waktunya untuk pulang, Milka kembali kekelas untuk mengambil tasnya, dan ia mendapatkan sebuah surat lagi beserta foto dirinya, foto pada saat ia mencium bunga mawar putihnya dengan tersenyum.


Hai,

Aku seneng kamu suka dengan bunga mawar putih yang aku kasih, kalo perlu aku kasih terus bunga mawar putih setiap hari di meja kamu,
supaya kamu terus tersenyum cantik seperti bunga mawar putih yang aku kasih.



Muka Milka memerah, ia segera memasukkan surat dan fotonya kedalam tas dan segera pulang.
***
Milka menempelkan foto-foto dirinya di dalam buku diary miliknya, dan ia menyediakan sebuah vas bunga kecil untuk menaruh bunga mawar putih yang ia dapat dari seseorang. Ia terus
memandang bunga mawar putih tersebut, dan tersenyum.

"Siapa ya yang ngasih ini ke gue?" Gumam Milka penasaran.
***
"Ya, ampuun Putri!?" Seru Bu Helen saat melihat anak gadisnya berkutat
dengan laptop apple putih dari pagi sampai malam. Bu Helen hanya
menggeleng-geleng kepala. Putri hanya nyengir.

"Kamu ini, pagi nge-net, siang nge-net, malam nge-net..cita-cita kamu mau jadi apa sih?" Tanya Bu Helen.

"Penjaga warnet, Ma!" Celetuk Sony yang sudah berada di belakang Mamanya. Putri melotot pada Sony.

"Aduuuh, Putri, kapan kamu mau belajar?" Tanya Bu Helen.

"Nanti, Ma. Dikit lagi!" Kata Putri sambil memandang laptopnya.

"Belajar apa?" Tanya Bu Helen.

"Belajar nge-net, Ma!" Kata Putri. Bu Helen menghampiri Putri dan menutup laptop Putri. Mata Putri terbelalak.

"Yaaahh, Mama!! Putri lagi ngupdate blog, Ma!" Seru Putri.

"Update Blog? Harusnya yang kamu update itu nilai kamu!" Bu Helen
langsung menaruh seluruh nilai ulangan Putri di atas laptopnya. Putri
kembali terbelalak.

"Kok ada di Mama sih??" Tanya Putri. Sony mengambil nilai-nilai ulangan Putri dan melihat semua nilainya.

"Emangnya Mama gak tau kamu nyembunyiin semua nilai kamu di mana? Kamu
gak bisa bohong sama Mama, Put!" Kata Bu Helen. Putri hanya nyengir.

"Widiih, ada tongkat (1), ada bebek (2), ada kursi (4), lo mau jualan
apa, Kak?" Kata Sony. Putri langsung mengambil paksa nilai-nilai
ulangannya dari Sony. Bu Helen langsung mengambil laptop Putri.

"Yah,yah Ma! Laptopnya mau dibawa kemanaa?" Tanya Putri.

"Mama sita dulu laptop kamu! Baru Mama balikkin kalo nilai kamu membaik!" Kata Bu Helen.

"Yaah, Mama..jangan dong! Pliiss..Laptop itu hidup mati Putri, Maa.." Mohon Putri.

"Gak ada laptop juga kamu masih bisa hidup, Put!" Kata Bu Helen.

"Tapi hati Putri mati, Maa.." Kata Putri beralasan.

"Kamu ganti aja hati kamu sama hati sapi beli di pasar!" Kata Bu Helen
sambil keluar dari kamar Putri. Putri cemberut. Sony masih berada di
sampingnya, sambil nyengir.

"Apa lo nyengir-nyengir!?" Tanya Putri.

"Laptopnya buat gue ya, Kak!" Kata Sony. Putri langsung melempar bantal yang ada di kasurnya ke Sony, tapi Sony udah kabur duluan.
***
Pagi hari, keluarga Putri sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Mukanya memelas, karena Putri tak bisa mengupdate blog fansite NICE, diakibatkan nilai Putri yang sangat buruk.
Putri cuma menatap roti bakarnya. Sesekali Sony melirik roti bakar Putri,
dan mencoba mengambil roti bakar Putri selagi Putri sedang melamun dan
cemberut. Tapi saat tangan Sony ingin mengambil roti bakar Putri, tangan
Sony langsung ditangkap Putri dan Putri melotot pada Sony, Sony hanya
nyengir.

"Kak, lepasin dong tangan gue!?" Seru Sony.

"Lo mau maling roti gue ya?" Tanya Putri.

"Hehee..tadinya..eh lo malah sadar duluan!" Kata Sony. Putri meremas tangan Sony. Sony meringis kesakitan.

"Aduuuh! Sakiit, jeleek!!" Ringis Sony. Karena dibilang jelek, Putri menambah kekuatannya.

"Aduh, lepasin kakak gue yang paling cantik!" Seru Sony. Putri melepaskan tangannya. Sony mengelus-elus tangannya.

"Putri, Papa dan Mama sudah putuskan." Kata Pak Angga.

"Putusin apaan, Pa?" Tanya Putri sambil melahap rotinya.

"Mama dan Papa bakal nyari guru privat buat kamu," kata Bu Helen. Putri tersedak.

"Hah? Guru privat!?" Tanya Putri.

"Iya, Mama sedih banget ngeliat nilai kamu yang sangat memprihatinkan!" kata Bu Helen.

"Tapi.."

"Gak tapi-tapian, Putri! Ini demi kebaikan kamu!" Kata Pak Angga. Putri menghela napas dan menuruti apa kata-kata orang tuanya.
***
"Seperti biasa, Milka gambar kamu sangat bagus!" Puji Pak Par, guru seni rupa dan seni budaya Citra Bangsa.

"Terima kasih, Pak!" Kata Milka. Setelah melihat hasil gambar Milka, Pak Par melihat gambar Putri.

"Ini gambar lidi?" Tanya Pak Par.

"Ini gambar orang, Pak! Masa lidi sih!?" Gerutu Putri.

"Itu bukan orang, Putri! Itu lidi!" Kata Pak Par.

"Kan saya yang gambar, Pak! Masa Bapak yang nentuin sih!" Kata Putri sewot.

"Haah..terserah kamu deh!" Pak Par meninggalkan meja Milka dan Putri.

"Mil, gambarin buat gue dong!"

"Nilai gue dobel jadinya!"

"Maksud lo?"

"Pak Par pasti tau yang gambarin itu gue, jadinya Pak Par ngasih
nilainya ke gue, bukan ke elo, hehee.." Kata Milka sambil terkekeh. Putri
hanya cemberut.

***
Nico sedang melamun di kelasnya sambil terus menghela napas, Aji yang daritadi ada di sampingnya hanya memandang dengan heran. Marco dan Kevin yang baru masuk ke kelas Nico
dan Aji berekspresi sama dengan Aji.

"Woi, Co!" Kevin menepuk punggung Nico dan Nico tersadar dari lamunannya.

"Kenapa lo? Mikirin Putri, yaa?" Celetuk Marco.

"Iiih, gak sudi!" Kata Nico.

"Terus lo kenapa?" Tanya Aji.

"Duit gue abis nih, gak mungkin kan gue minta lagi ama bonyok? Di pecat gue jadi anak!" Kata Nico.

"Lo mau kerja?" Tanya Kevin.

"Kalo bisa, paling nggak sesuai sama kemampuan gue, Vin."

"Jadi babu gue aja, Co!" Celetuk Kevin.

"Yeee..kurang asem lo!" Kata Nico.

"Ntar gue cari dulu deh, siapa tau ada yang butuh seseorang gituu.." kata Marco.

"Thanks, Mar, lo emang friend gue yang paling baek!" Nico hampir memeluk Marco.

"Lo seneng banget sih meluk orang, Co!!" Seru Marco.

***
Milka sedang duduk sendirian di pekarangan sekolah, sambil membuat sebuah sketsa untuk mengisi waktu luang saat istirahat. Sedangkan Putri? Putri sedang membuat pertemuan
rahasia dengan anggota klub NICE. Aji yang sedang di pekarangan
sekolah pun melihat Milka yang sedang sendirian.

'Deketin gak ya? Deketin gak ya?' Pikir Aji. Kemudian Aji memutuskan untuk menghampiri Milka.

"Sendirian?" Tanya Aji. Milka mendongak kearah suara.

"Iya, Kak." Kata Milka. Aji duduk di samping Milka.

"Putri mana?" Tanya Aji.

"Biasa, ada pertemuan yang mencurigakan dengan Klub NICE." Jawab Milka.

"Oooh," Tanggap Aji, kemudian Aji tertarik dengan sketsa Milka yang daritadi sudah ia lirik.

"Lo suka gambar ya?" Tanya Aji. Milka mengangguk.

"Gue seneng banget membuat sketsa dan melukis, soalnya dengan itu semua
waktu luang gue terisi dengan tidak percuma dan gue bisa mencurah hati
gue dalam sebuah lukisan." kata Milka.

"Gue juga kalo ada waktu luang, gue suka mengambil foto-foto dengan
kamera gue," Kata Aji sambil menunjukkan kamera analog miliknya.

"Lo suka fotografi?" Tanya Milka.

"Kalo gue gak suka, kenapa gue jadi ketua klub fotografi?" Tanya Aji. Milka tertawa kecil.

"Iya juga, yaa.." Aji sangat senang melihat senyuman manis Milka.

"O,ya dikit lagi seleksi OSIS, lo tertarik buat ikut gak?" Tanya Aji.

"Hmm..gak tau deh, Kak." Kata Milka.

"Kan lumayan buat ngisi waktu luang juga, Mil,"

"Gue pikir-pikir dulu, Kak, gue balik kekelas ya!" Kata Milka.

"Oke!"

***
Besoknya.. Pagi-pagi Marco langsung pergi ke XI IPA 2 untuk mencari Nico.

"Co, gue ada kerjaan buat lo!" Kata Marco.

"Hah? Serius? Bukan jadi babunya Kevin, kan?" Tanya Nico.

"Yaa nggaklaah..jadi guru privat mau gak? Kan nilai-nilai lo bagus, Co."

"Guru privat? Siapa yang gue ajar?"

"Anaknya temen nyokap gue."

"Lo tau anaknya?"

"Gak tau, Co. Tapi katanya kelas X, kok, jadi setidaknya lo masih inget
pelajaran-pelajaran kelas X. Kemaren gue sama nyokap ketemu temen
nyokap gue itu, katanya nilai anaknya amat sangat memprihatinkan, dan
gue merekomendasikan lo buat jadi guru privatnya, mau gak?" Tawar
Marco.

"Boleh gue coba, kapan?"

"Besok, lo gue anterin kerumahnya."

"Thanks, sob!"

"Sama-sama, o, iya ntar kita ngiter ke kelas anak X buat ngasih formulir seleksi OSIS!"

"Yaudah, deh!"
***
Untuk pergi kekelas-kelas, Marco meminta Aji, yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS terpilih dan Nico yang menjabat sebagai Ketua bidang olahraga untuk menemaninya ke kelas
X, karena kelas XI diambil alih oleh pengurus kelas XII. Saat mereka sampai di kelas X-3, muka Nico memucat.

"Mar, gue gak ikut masuk, ya!" Kata Nico.

"Enak aja, gue tau lo takut ketemu fans fanatik lo itu, tapi profesional dong, Co!" Kata Marco. Aji hanya mengangguk.

"Haah, nasib..nasib.." kata Nico. Marco mengetuk pintu kelas X-3.

"Masuk!" Suruh Bu Vera.


Putri yang melihat Nico memasuki kelasnya, langsung melambai-lambaikan tangannya pada Nico. Nico bergidik ngeri.

"Selamat siang semuanya, saya Marco dari kelas XI IPA 3 selaku ketua
OSIS, saya ingin mengumumkan bahwa besok akan diadakan seleksi OSIS,
kira-kira disini ada yang berminat untuk mengikuti seleksi?" Tanya
Marco.

Banyak anak-anak dari kelas X-3 ingin ikut seleksi OSIS, yang mau ikut
mereka mengambil formulir pendaftaran di Aji dan Nico. Milka menerima
ajakan Aji untuk mengikuti seleksi OSIS, ia mengambil formulirnya di
Aji.

"Akhirnya lo ikut juga," kata Aji tersenyum.

"Buat ngisi waktu luang,hehee.." kata Milka.

Bagaimana dengan Putri?? Sudah pasti ia ingin mengikuti seleksi tersebut
karena ada Nico. Saat Putri sudah berada di depan Nico, Putri hanya nyengir.

"Kak, mana formulirnya?" Tanya Putri.

"Gak ada."

"Kenapa gak ada?"

"Abis."

"Kenapa abis?"

"Banyak yang ikut."

"Kenapa banyak yang ikut?"

"Kenapa nanya ama gue? Tanya ama temen-temen lo!" Putri mulai cemberut,
kemudian melirik selembar kertas yang dipegang Nico dan di sembunyikan
di belakang. Putri menyipitkan mata.

"Itu apa? Pasti lo sisain satu buat gue yaa? Tapi lo boongin gue, lo mau kasih suprise buat gue kaan?" Tanya Putri.

"Ngarep banget lo! Yang gue pegang kertas kosong!" Seru Nico. Marco
yang agak sedikit kesal melihat tingkah laku Nico yang kayak anak kecil.
Marco mengambil paksa kertas yang di pegang oleh Nico.

"Nih, Put. Nanti ngumpulin formulirnya ke gue aja, ya!" Kata Marco. Nico menepok-nepok jidatnya.

"Hehee..makasih, Kak. Kak Nico, tunggu gue di OSIS! Hehee.." rasanya Nico ingin melakukan harakiri di sana.

"Terima kasih atas responnya, maaf mengganggu waktu belajar kalian, terima kasih.."

Marco, Aji, dan Nico keluar dari kelas X-3, Nico memasang wajah cemberut pada Marco.

"Kenapa lo?" Tanya Marco.

"Yaah gara-gara lo, Putri jadi ikut kan seleksi OSIS!"

"Itu terserah Putri, dia mau ikut, kok seleksi OSIS, kita gak bisa ngelarang, udah ah! Ayo ke kelas selanjutnya!" Ajak Marco.

"Rasanya gue mau harakiri di sini," kata Nico.

"Hah? hadap kiri?" Tanya Aji.

"Harakiri, dodool!!" Kata Nico.
***
Motor Nico dan Marco berhenti di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman yang luas.

"Ini bener rumahnya, Mar?" Tanya Nico sambil membuka helmnya.

"Iya, Co. Gue yakin ini rumahnya." Kata Marco sambil memastikan
alamat rumah yang ia pegang. Marco dan Nico turun dari motornya dan
memencet bel rumah itu.

Kemudian seorang satpam membuka pintu pagarnya.

"Pak, ini bener rumah Bu Helen?" Tanya Marco.

"Iya, Mas. Mas-mas ini siapa?" Tanya Pak Gito, satpam rumah tersebut.

"Saya Marco, ini Nico, saya anaknya Bu Lisa." kata Marco.

"Oooh, masuk dulu, saya panggil Bu Helen dulu," Pak Gito mempersilahkan Marco dan Nico masuk.

Mereka menunggu di teras rumah. Kemudian Bu Helen keluar dan menemui Marco dan Nico.

"Eh, nak Marco.." kata Bu Helen.

"Siang, Tante. Sesuai janji Marco, Marco bawa guru privatnya, temen Marco, namanya Nico." Kata Marco.

"Saya Nico, Tante.." Kata Nico.

"Saya Helen, ayo masuk kalian tunggu di gazebo aja, ya, Tante panggil anak Tante dulu," kata Bu Helen.

Nico dan Marco menunggu di gazebo yang berada di samping kolam renang di halaman belakang.
***
"Putri, ayo turun! Guru privatnya dateng!!" Kata Bu Helen.

"Hha? Udah dateng??" Tanya Putri yang langsung bangun dari tempat tidurnya.

"Iya, cepetan ganti baju!!" Suruh Bu Helen.

"Siapa gurunya, Ma?"

"Ntar juga kamu tau!" Putri segera ganti baju dan ikut Mamanya pergi ke gazebo.
***
"Kok Tante Helen lama ya?" Tanya Marco yang sudah mulai bosan.

"Iya, nih." Kata Nico. Kemudian Bu Helen datang bersama anak
perempuannya yang draitadi menunduk, sehingga wajahnya tak kelihatan.
Nico dan Marco berdiri.

"Maaf, ya, lama, ini anak saya, ayo jangan nunduk dong!" Kata Bu Helen.
Anak itu mendongakkan kepalanya. Nico dan Marco yang melihatnya
menganga.

"Ini anak saya, namanya Putri." Bu Helen memperkenalkan anaknya, yaitu Putri. Sekali lagi PUTRI.

"PUTRI!?" Seru Marco dan Nico.

"Hah? Kak Marco? Kak Nico?" Seru Putri. Bu Helen mengangkat alis.

"Kalian udah saling kenal?"

"Putri adek kelas kita, Tante."

"Ma, guru privatnya Kak Nico apa Kak Marco?"

"Nico." Hati Putri langsung berbunga-bunga.

"Kak Nico jadi guru privat Putri?? Ya, ampuuun!! Kalo gurunya Kak Nico, Putri semangat banget, Ma!!" Kata Putri kegirangan.

Nico berbisik pada Marco.

"Kenapa lo gak bilang kalo anaknya itu Putri??" Bisik Nico.

"Jujur gue gak tau, Co!"

"Boleh ngundurin gak?"

"Gak bisa, lo udah terikat kontrak sama Tante Helen." Nico hanya bisa pasrah.

"Nak Nico, jadwalnya mau kapan aja?" Tanya Bu Helen.

"Terserah Tante aja,"

"Gimana kalo Selasa, Kamis, Sabtu?"

"Setiap hari aja Ma!" Kata Putri.

"Hush, kamu, Put!" Putri hanya cemberut.

"Gimana mau yang Selasa Kamis Sabtu?"

"Iya, Tante."

"O,iya Tante juga punya anak kelas 2 SMP, kamu bisa ngajarin juga gak? Harinya sama aja,"

"Bisa kok, Tante."

"Yaudah, Tante panggilin anaknya dulu ya," Bu Helen kembali ke dalam.

"Ya, ampun Kak Nico, saking pengen deket ama gue, lo mau jadi guru privat gue, hehee.." kata Putri cengengesan.

"Iiih, sebenernya gak sudi! Tapi gue terpaksa, gue udah terikat janji ama nyokap lo!" Seru Nico.

"Oooh ternyata Kak Marco anaknya Tante Lisa ya?" Tanya Putri.

"Iya, Put, gue juga baru tau lo anaknya Tante Helen." Kemudian Bu Helen datang bersama anak laki-lakinya.

"Nah yang ini namanya Sony," kata Bu Helen.

"Lah? Kak Nico?"

"Sony?"

Mata Bu Helen, Marco, dan Putri terbelalak.

"Kamu kenal Nico, Son?" Tanya Bu Helen.

"Kak Nico itu kakaknya William, temen Sony, Ma, Sony kan sering kerumahnya William." kata Sony.

"Lo tau rumahnya Kak Nico, Son?" Tanya Putri.

"Tau laah,"

"Wah kalo gitu, kalo mau maen kerumah William, gue anterin deeh, hehee.." kata Putri.

"Iiih, bilang aja lo mau ketemu Kak Nico kaan? Pikiran lo kebaca banget, Kak!" Kata Sony.

"Udah jangan berantem! Nak Nico, bisa kan ajarin mereka berdua?" tanya Bu Helen.

"Yaa, mudah-mudahan gak stress duluan, Tante." kata Nico.

"Yaudah, Tante, kita berdua pulang dulu yaa.." Pamit Marco dan Nico.

"Kak Nico, berarti besok pulangnya bareng doong abis seleksi OSIS! Kan
mau ngajar guee, hehe!" kata Putri cengengesan. Nico bergidik ngeri.
Marco hanya menahan ketawa.

"Kayaknya idup lo gak jauh-jauh dari Putri, Co, hahaa.." kata Marco.

"Makin rusak aja idup gue, Mar," kata Nico.
***
Aji sedang bete di rumahnya, sehingga ia memilih berkeliling dengan motor Tiger-nya. Aji melajukan motornya dengan sedikit lambat, sambil memandang sekeliling komplek rumahnya.
Saat ia berada di blok AB, Aji mendengar suara seorang Bapak-bapak
membentak seseorang di rumahnya. Aji penasaran dengan suara tersbeut
sehingga ia menghentikan motornya tak jauh dari rumah itu.

"Kenapa sih?" Tanya Aji.

Kemudian Aji melihat seorang gadis yang keluar dari rumah tersebut
sambil menangis dan berlari meninggalkan rumahnya. Aji terkejut, ia
mengenal gadis itu.

"Lho? Itu kaann.."

Setelah melihat gadis tersebut, Aji segera memakai helm dan menyusul gadis tersebut.
***
"Pokoknya Papa gak mau ngeliat kamu melukis terus! Harusnya kamu sadar, kamu sudah besar, Milka! Kamu bisa memilih mana yang terbaik buat kamu, ternyata Papa salah kamu masih
belum bisa dewasa!" Seru Pak Rendra, ayah Milka.

"Pa, udahlah!" Kata Bu Jia.

"Kenapa Mama selalu membela Milka!? Milka itu belum bisa memilih mana yang benar mana yang salah!!" Kata Pak Rendra.

Milka merasa sakit hati mendengar omongan Papanya, ia merasa terlalu
diatur, tak bisa melakukan apa yang disukainya, air mata sudah jatuh di
pipinya. Papanya ingin Milka menjadi dokter seperti Papa dan Mamanya,
tapi Milka lebih memilih melukis yang merupakan kesukaannya dari kecil
daripada menjadi dokter.

"Papa bilang aku belum dewasa, Pa? Mungkin menurut Papa aku belum
dewasa, tapi menurutku sendiri aku udah dewasa! Aku udah memilih
sesuatu yang terbaik buat aku, melukis adalah yang terbaik buat aku!!"
Milka berlari menuju luar rumah meninggalkan Papa dan Mamanya.

"Milkaa!!!" Panggil Pak Rendra. Tapi Milka tak menanggapinya, Milka meninggalkan rumahnya dan pergi menuju suatu tempat.

Selama di perjalanan, Milka terus mengingat perkataan Papanya yang
membuat dirinya sakit hati. Air mata tak berhenti keluar dari matanya,
Milka terus menghapus air matanya, tapi tetap saja air mata itu tak
berhenti keluar dari matanya. Tiba-tiba saat Milka sedang merenung,
sebuah motor Tiger berhenti di sampingnya. Milka memandang sang
pengendara motor tersebut. Si pengendara motor itu memakai helm full
face sehingga Milka tak bisa melihat wajahnya.

"Lo siapa? Tukang ojek? Maaf Mas, saya gak mau naek ojek." Milka
meninggalkannya dan berjalan cepat, tapi si pengendara motor itu tetap
menyusul Milka sampai-sampai berhenti di depannya.

"Mas, saya kan udah bilang!? Saya gak mau naek ojek! Maksa banget sih!?
Tuh ada Ibu-ibu nunggu ojek di sana! Mending samperin aja tuh Ibu-ibu!
Jangan saya yang disamperin!!" Seru Milka sambil menunjuk kearah
Ibu-ibu yang sedang duduk menunggu ojek. Kemudian si pengendara motor
itu malah tertawa. Milka mengangkat alis.

"Lo beneran gak tau siapa gue?" Tanya si pengendara motor.

"Lo tukang ojek, kan?" Tanya Milka. Tawa si pengendara motor itu
meledak. Ia membuka helmnya, sehingga membuat mata Milka terbelalak.

"Masa orang ganteng kayak gini dibilang tukang ojek sih?"

"Kak Aji??"

"Bukan, tukang ojek! Iya, gue Aji!" Kata Aji sambil tertawa. Muka Milka memerah, malu setengah mati.

"Kok lo bisa ada disini, Kak?" Tanya Milka.

"Rumah gue di komplek ini juga, Mil. Gue lagi bete, jadinya gue keliling
komplek, terus pas gue lewat blok AB, gue denger ada
keributan..di..rumah lo.." Gumam Aji.

"Jadi lo denger ya?" Tanya Milka.

"Maaf,ya Mil.."

"Gak papa kok, Kak." kata Milka.

"Mending lo ceritain semuanya ke gue, ayo naek." Ajak Aji. Milka
menerima ajakan Aji untuk ikut dengannya, Milka naik ke motor Aji
dan pergi ke suatu tempat.
***
Aji dan Milka duduk di sebuah taman yang berada tak jauh dari rumah Milka.

"Sekarang lo cerita sama gue, Mil." kata Aji. Milka menghela napas.

"Papa gak mau gue jadi pelukis, Kak. Papa maunya gue jadi dokter,
sebagai penerus Papa. Gue pengen bikin Papa bangga, tapi bukan sebagai
dokter, sebagai pelukis. Gue merasa melukis itu adalah yang terbaik
buat gue, bukan menjadi dokter."Air mata menetes di pipi Milka.
Tangisannya tak bisa terbendung lagi.

Begitu Aji melihat Milka yang menangis, Aji mengeluarkan saputangan dari saku celananya, dan menghapus air mata Milka.

"Jangan nangis lagi ya, Mil. Mungkin bokap lo belom bisa nerima pilihan
lo, tapi gue yakin suatu saat bokap lo pasti bisa terima itu semua,
semangat, Mil. Jangan lemes kayak gitu, dong hehe.." kata Aji sambil
tersenyum pada Milka.

"Makasih ya, Kak." kata Milka.

"Sama-sama, Mil." kata Aji.

Kemudian mereka diam satu sama lain. Tidak ada topik pembicaraan, gak ada sama sekali, sunyi, sepi, senyap, apalagi sih? =p

"Mil.." Panggil Aji.

"Ke.kenapa, Kak?"

'Waduh, ngomong apaan nih gue? Deg-degan gue kalo di deket dia, bisa langsung mati gue disini..' batin Aji.

"Kak, kenapa?" Tanya Milka. Milka terus memandang Aji dengan rasa
penuh tanya. Aji yang merasa terus diliatin semakin salting.

'Aduuh, Mil..jangan ngeliatin gue kayak gitu dong..pengen bunuh diri gue disini..' batin Aji.

"Mil, cu..cuacanya cerah yaa?" Tanya Aji. Milka mengangkat alis.

'Hah? Kok gue ngomong kayak gitu!? Aduuuhh, bego!bego!bego!' Aji memukul-mukul kepalanya.

"Cuaca cerah?? Ya, ampun, Kak. Ada gledek kayak gitu, lo bilang
ceraah?? Lucu banget sih lo, Kak..hahahaaa.." kata Milka sambil
tertawa. Aji hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.

"Nah, gitu dong, Mil. Ketawa kayak gitu kan lebih cantik," kata Aji.

'Kok gue jadi ngegombal kayak gini, gue pengen jedotin pala gue ke
pohon duren deh!' batin Aji sambil memukul-mukul kepalanya lagi. Muka
Milka memerah, sambil menunduk.

TIK..TIK..TIK..air hujan mulai berjatuhan.

"Mil, ujan!! Ayo pulaang!!" Seru Aji. Aji dan Milka segera berlari menuju motor Aji dan segera pergi meninggalkan taman.
***
Sejak si "penggemar rahasia" Milka terus mengirim surat, foto dirinya, dan setangkai mawar putih, Milka selalu pergi ke sekolah lebih awal, supaya tak ada yang tahu bahwa Milka
mempunyai "penggemar rahasia". Milka menengok kekiri dan kekanan (udah
kayak nyebrang jalan =p) meyakinkan diri bahwa di sana hanya ada dia
sendiri. Mawar putih, sebuah surat, dan tak lupa sebuah foto dirinya
yang sedang tertawa lepas bersama Putri sudah berada di atas mejanya.
Milka tersenyum dan membuka lipatan surat tersebut.

Selamat pagi,

Jujur aku sangat senang melihat senyumanmu
Ku harap kamu bisa terus tersenyum seperti yang ada di dalam foto ini,
Tak lupa, mudah-mudahan mawar putih ini bisa membuatmu lebih sering tersenyum.


Kemudian Milka melihat sebuah inisial huruf yang tidak biasanya si
"penggemar rahasia" itu cantumkan. "A". Milka memutar-mutar otaknya.

"A? Anto? Asep?" Ucap Milka, tapi kenapa pikirannya tertuju pada Aji?

"Aji?? Kak Aji yang ngasih surat ini ke gue? Gak mungkin aah.."
kata Milka. Milka tidak memikirkan lagi tentang seseorang yang
berinisial "A" tersebut, ia memasukkan surat, foto dan mawar putihnya
ke tas, dan membaca novel.
***
Waktu istirahat, Putri langsung menarik Milka pergi ke kantin, alasannya karena ada Nico di sana. Putri duduk di tempat yang tak jauh dari meja Nico dkk. Putri terus memandang Nico yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Putri menjadi senyam-senyum sendiri. Kemudian ia mengambil handphonenya dan
mengambil foto Nico.

JEPRET!

Nico sadar bahwa dia difoto. Nico langsung menoleh kearah Putri. Putri hanya
nyengir dan melambai-lambaikan tangannya. Nico langsung pergi ke meja
Putri.

"Hai, Kak..hehee..makin ganteng aja lo, hari inii.." Kata Putri cengengesan.

"Lo ngapain ngambil foto-foto gue??" Tanya Nico.

"Mau gue abadikan di kamar gue, hehee..sama gue masukkin fansite!" kata Putri tanpa merasa bersalah.

"Hah? Bukannya laptop lo lagi disita sama nyokap lo? Gimana bisa masukkin ke blog?"

"Ya, ampuun, Kak Nico ganteeng, sekarang itu jaman teknologi udah canggih, kan bisa dari hape! Heheee, ntar jadi kan, Kak??"

"Jadi apaan??"

"Pulang bareng! hehee.."

"Enak ajaa, naek metromini aja lo!" kata Nico. Putri cemberut.

"Kak Nicoo maah, jahat banget siih, kan ntar Kak Nico mau ngapel kerumah guee..hehe.."

"Sembarangan!" Kevin yang mendengarnya, langsung menghampiri Nico.

"Lu mau ngapel, Co?" Tanya Kevin.

"Elo lagi dateng! Bikin rusuh aja lo, Vin!" Kata Nico.

"Beneran, Put? Si Nico mau ngapel kerumah lo?"

"Iya!" Seru Putri.

"NGGAK!" Seru Nico.

"Yaaah, gue kira lo kena karma, Co, jadi suka sama Putri."

"Amiiin!" Kata Putri. Nico melotot pada Putri.

"Jangan lupa lo dateng seleksi OSIS!" Kata Nico.

"Lo mengharapkan kedatangan gue, Kak?" Tanya Putri dengan mata berbinar-binar.

"Terpaksa." Nico langsung meninggalkan Putri.
***
Putri tak bisa duduk di kursi yang ada di depannya, ia terus mondar-mandir di sana. Bukannya bisulan, tapi karena deg-degan. Milka yang melihat Putri, sampai bosan. Mereka saat ini sedang
mengikuti seleksi OSIS, mereka akan di wawancarai oleh Aji, Nico, dan
tentu saja si Ketua OSIS, Marco.

"Put, duduk napah!?"

"Gue deg-degan, Mil!"

Kemudian seorang pengurus OSIS datang memanggil mereka berdua.

"Putri, Milka, ayo keruang OSIS!" Ajak si pengurus.

Mereka berjalan di belakang si pengurus OSIS itu, Milka terlihat
tenang, sedangkan Putri makin gak bisa diem, kayak cacing kepanasan.

"Put, diem, jangan kayak belut gituu!!" Seru Milka. Tapi tetap saja Putri tak bisa diam.

Putri dan Milka memasuki ruang OSIS. Marco, Aji, dan Nico sudah duduk di depan mereka. Sementara itu Nico berbisik ke Marco.

"Mar, gue boleh keluar gak?" Bisik Nico.

"Gue bogem lu, Co!" Ancam Marco. Nico memasang muka memelas, kemudian bergidik ngeri melihat Putri senyum-senyum kearahnya.

"Ya, gue cuma mau ngomong, jangan gara-gara kalian berdua kenal sama
kami, bukan berarti lo berdua bisa masuk secara gampang ke OSIS,
apalagi lo, Put. Lo paling deket banget sama Nico." Kata Marco sambil
melirik Nico.

"Pala lo, gue deket sama dia!" Seru Nico. Aji hanya menahan tawa.

"Secara si Putri fans fanatik lo, Co." Celetuk Aji.

"Lo ngomong lagi, Ji, lo gak bakal selamet ama gue!" Ancam Nico.

"Eh, lo berdua! Kenapa jadi berantem sih! Udah ah!" Marco marah-marah
sama Aji dan Nico. Akhirnya keributan bisa diredam, gara-gara Marco
mengancam mereka.

"Yaa..gue mau nanya sama Milka dulu, alasan lo ikut OSIS apa?" Tanya Milka.

'Mil, jangan ngomong kalo gue yang ngajak lo!' Batin Aji.

"Alasan saya ikut OSIS, karena dengan di OSIS saya bisa belajar berorganisasi di sini," jawab Milka. Aji sedikit bisa menghela napas.

"Kenapa harus OSIS? Kenapa gak di organisasi yang lain kayak PMR gitu?" Tanya Nico.

"Tapi saya lebih tertarik di OSIS, setidaknya saya bisa menyumbangkan
pendapat saya yang menurut saya patut di pertimbangkan supaya OSIS bisa
lebih beda istilahnya dan tidak bertele-tele seperti di organisasi
lain." kata Milka.

"Jadi kesimpulannya lo lebih milih OSIS daripada organisasi lain?" Tanya Marco. Milka mengangguk.

"Baiklah, gue terima jawaban lo, sekarang gue mau nanya lo, Put. Alasan lo masuk OSIS apa? Sama
kayak Milka, ato ada yang lain?" Tanya Marco sambil melirik Nico.

"Apa lo liatin gue? Ganteng?" Tanya Nico.

"Emang lo ganteng, Kak!" Putri nyerocos.

"Gue gak tanya ama lo!" Seru Nico. Putri cemberut.

"Yaaah..apa kata lo dah, Co."

"Alasan saya masuk OSIS, yaaa..soalnya ada Kak Nico hehee.."

GUBRAAK!!!

"Pikiran lo gampang banget ketebak, Put! Hahaa..selamat ya, Co!" Kata Marco. Nico hanya mengacak-acak rambutnya.

"Ada alasan lain gak, Put?" Tanya Aji.

"Hmmm alasan saya yang lain adalah.." Putri menjawab pertanyaan Aji
dengan begitu serius dan diplomatis, membuat Marco, Nico, dan Aji
terkagum-kagum dengan ucapan Putri. Setelah Putri selesai berbicara, smeua
bertepuk tangan termasuk Nico.

"Gak nyangka, orang sarap kayak lo, bisa diplomatis kayak gini," kata Nico.

"Aaaah, Kak Nico bisa aja, hehee.." Nico kembali bergidik ngeri.

"Oke, wawancara selesai, makasih ya, besok gue umumin siapa aja yang masuk. Lo berdua boleh pulang!" Kata Marco.

"Kak Nico bareng doong! Kan lo mau kerumah guee!!" Kata Putri.

"Apaan sih lo, Put!? Pulang aja pake metromini!"

"Aaaah, bilang aja lo pengen banget pulang sama gue, Kak..tapi lo malu, hehee.." Kata Putri.

"Jauh-jauh lo!" Kata Nico yang langsung kabur dari ruang OSIS, tapi
kemudian di kejar sama Putri. (walaaah.) Marco yang melihatnya, hanya
geleng-geleng kepala.

"Mil, Ji gue pulang duluan ya!" Pamit Marco. Sekarang di ruang OSIS hanya ada Milka dan Aji.

"Mil, lo pulang sama siapa?" Tanya Aji.

"Gue pulang sendiri, Kak."

"Bareng sama gue aja, ya. Udah sore banget," Tawar Aji.

"Gue gak enak sama lo, Kak."

"Kan komplek rumah lo sama gue sama, Mil. Lagian, blok rumah lo sama
rumah gue juga gak terlalu jauh." Milka berpikir sejenak, dan akhirnya
Milka menerima ajakan Aji.
***
Karena Nico kasian melihat tampang Putri yang sangat memelas, dengan sangat terpaksa Nico bareng sama Putri kerumah Putri. Sesampainya dirumah Putri..

"Tuuh, kaan..gue bilang juga apaa..lo pasti gak tega sama gue, soalnya
lo kan perhatian banget sama guee,hehee.." kata Putri cengengesan.

"Sembarangan!" Kemudian Nico dan Putri memasuki rumah dan Sony ada di ruang TV.

"Eh, lo berdua kok sore amat nyampe sini? Ngapain? Pacaran ya lo berduaa??" Tuduh Sony.

"Ih, ogah banget gue pacaran sama kakak lo yang makin sarap, Son.." Kata Nico. Putri mencibir.

"Jangan pasang muka jelek kayak gitu, Put. Ayo cepetan belajar!!" Ajak Nico. Putri mengikuti Nico pergi ke gazebo.
***

"Gila nilai lo, Put! Ancur total!!" Kata Nico saat melihat nilai-nilai ulangan Putri. Putri hanya nyengir.

"Lo tuh belajar gak siih?"

"Belajar!"

"Belajar apaan gue tanya??"

"Belajar semuanya, tapi pikiran gue malah tertuju sama lo, Kak! hehee.." ujar Putri cengengesan.

"Alasan aja lo! Yaudah sekarang belajar Fisika, nilai lo paling ancur di fisika!"

Nico mengajar fisika dengan penuh rasa sabar menghadapi Putri. Putri hanya
manggut-manggut saja mendengar penjelasan Nico, tapi materi tak ada yang
nyangkut satupun karena pikirannya tertuju pada hal lain.

'Besok pertemuan klub NICE ngebahas apa yaa??O,iya fansitenya gimana
tuh, belom gue update! Adduuhh Kak Nico keren banget siih!!' Batin Putri
sambil kesenengan sendiri.

"Lo udah gila ya?" Tanya Nico.

"Hehee..iya gue gila, gila sama lo, Kak! hehee.." Nico meringis mendengar kata-kata Putri.

"Yaudah sekarang lo kerjain nih soal, gue tunggu 15 menit." Nico
menunggu Putri menyelesaikan soal darinya dengan membaca buku sejarah,
Putri terus mencoba mengerjakannya, tapi tetap saja tidak bisa. Karena
udah bosan, Putri mengambil handphone dan mengupdate blog NICE. Nico
melotot begitu melihat Putri malah asyik dengan hapenya, kemudian Nico
mengambil dengan paksa hape Putri.

"Yaaahh!!! Kak Nicoo!!! Jangan diambiil!!!"

"Hape lo, gue sita! Gue balikin kalo lo udah selesai ngerjain soal!" Suruh Nico.

Putri cemberut. Begitu Putri melihat Nico kembali membaca buku sejarahnya,
Putri mengeluarkan Blackberry yang ada di tasnya. begitu Nico melihat
lagi, Nico langsung mengambil Blackberry Putri.

"Kak Riiooo!!!" Seru Putri.

"Cepetan selesein duluu!!"

Putri kembali cemberut, dan mulai mencoba mengerjakan soal fisikanya.

30 menit kemudian..

"Kak, gue udah selesai!!" Kata Putri. Nico mengambil kertas jawaban Putri,
baru beberapa detik melihat, Nico langsung mencoret jawaban Putri dengan
mudah. Putri menganga.

"Kok dicoreeet??" Tanya Putri.

"SALAH! Kerjain lagi!" Suruh Nico.

"Ya, ampun Kak, jangan marah-marah gitu dong, ntar gantengnya ilang, hehee.." kata Putri.

"Gara-gara otak lo bebel, jadinya gue marah-marah!" Nico membuang muka.

15 menit berlalu...

"Huwaaa..gue pengen nangis!!" Kata Putri. Putri mencoba lebih keras
mengerjakannya, sesekali Nico melirik Putri, tapi cepat disadari Putri.

"Kenapa lo, Kak ngeliatin gue? Mulai naksir gue yaa??" Tanya Putri.

"Iiih, no way!" Tolak Nico. Tiba-tiba Milka datang.

"Hai, Put!" Sapa Milka.

"Elo, Mil. Ngapain disini? Ganggu gue berduaan ama Kak Nico aja lo!" Kata Putri.

"Yeee..ngusir nih ceritanyaa?" Tanya Milka.

"Yaelah, bercanda, Mil. Lo mau ngapain?"

"Gue bete dirumah, akhirnya gue kerumah lo, eh ternyata lo berdua malah pacaran, hehe.." celetuk Milka.

"Sembarangan ngomong, lo Mil!" Seru Nico. Milka melirik soal yang di kerjakan oleh Putri.

"Ya, ampun Putri...ini kan soal paling gampang! Kok lo gak bisa siih?" Tanya Milka.

"Soalnya ada Kak Nico, jadinya pikiran gue tertuju pada Kak Nico hehee.." Celetuk Putri sambil melirik Nico.

"Yeee..nyalahin gue lagi! Bilang aja lo gak bisa!" Kata Nico.

"Sini deh, gue bantuin.." Milka membantu Putri mengerjakan soal dengan cara yang gampang.

"Ngerti gak?" Tanya Milka. Putri nyengir.

"Nggak, Mil..hehee.." Kata Putri.

GUBRAAK!!!

"Aduuh, sini deh gue yang ajarin," Nico akhirnya mengajarkan Putri dibantu
oleh Milka. Akhirnya setelah 1 jam diajari, Putri menjadi mengerti.

"Ya, amppuunn kok gampang banget siih!!" Seru Putri.

"Otak lo bebel sih!" Kata Nico menoyor kepala Putri.

"Kak Nico, baru kali ini, lo noyor kepala gue heheee.." kata Putri cengengesan.

"Dotoyor aja lo bangga banget, sih Put!" Kata Milka.

"Soalnya yang ngelakuin Kak Nico, coba elo. Ngapain gue banggain??" Celetuk Putri.

"Udah ah, gue pulang dulu, ntar kamis belajar MTK!" Kata Nico.

"Put, gue juga pulang ya, udah malem banget! Dadaaahh.." Pamit Milka.

"Mil, lo bareng gue aja," tawar Nico.

"Boleh deh, Put, Kak Nico gue pinjem dulu yaa!!" Kata Milka.

"Lo jangan tebar pesona sama Kak Nico, Mil! Ntar Kak Nico jadi gak suka lagi sama guee!!" Seru Putri.

"Kapan gue suka sama loo!!" Seru Nico. Putri hanya cengengesan.
***
"Putri!!! Kita diterimaaa!!!" Seru Milka. Putri terbelalak.

Milka Emilia

Veronika Putri


Namanya terpampang di daftar pengurus OSIS yang baru. Putri tak percaya,
tapi setelah itu dia jadi kegirangan karena dengan menjadi pengurus
OSIS, Putri bisa menjadi lebih dekat lagi dengan Nico.

Sepulang sekolah, Marco mengumpulkan seluruh anggota OSIS baru di lab
Biologi untuk mengadakan pengarahan. Saat di lab Biologi, Putri bertemu
Anin.

"Kak Anin, lo jadi pengurus juga?" Tanya Putri.

"Iya, Put. Gue di terima juga, hehee.." kata Anin. Kemudian Anin melihat
Kevin dengan sinis. Begitu Kevin melihat Anin, Kevin melambaikan
tangannya, tapi tak ditanggapi oleh Anin. Kevin hanya menghela napas.
Cewek yang ia sukai, jutek padanya.

"Baiklah, gue ucapkan selamat kepada kalian semua, kalian adalah
anggota baru OSIS, gue harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik.
Sekarang gue mau ngasih tau, kalo hari Sabtu gue beserta pengurus inti
bakal ngadain pelantikan anggota baru OSIS, jadi dimohon kesiapan
kalian semua, sekarang gue akan ngebagiin kelompoknya."

Marco mengumumkan anggota-anggota kelompok untuk LDK OSIS. Marco membuat kelompok yang terdiri dari 4 murid.

"Kelompok satu.."

"Kelompok 2.." Kelompok 2 adalah kelompok Milka.

"Kelompok 3, Anin, Kevin, Putri, dan..Nico." Begitu Nico mendengar namanya tergabung dalam kelompok yang sama dengan Putri..

"Hah? APAA!!?" Seru Nico shock.

"Kenapa, Co?" Tanya Marco.

"Mar, gue minta pindah kelompok doong! Pliiss.." Mohon Nico.

"Gak bisa, Co. Udah fix disetujuin sama anak kelas XII.." Kata Marco.

"Gue sekelompok sama Kak Nicoo?? Ya, ampuun...senangnyaaa!!" Kata Putri kegirangan. Nico hanya mengacak-acak rambutnya.

Memang benar kata Marco, hidup Nico tak jauh-jauh dari Putri. Dimana ada Nico, pasti disitu ada Putri.

"Ya, Tuhan, apa salah dan dosaku?? Kenapa Engkau memberikan kesialan untukku??" Tanya Nico.

"Gue bukan kesialan, Kak! Gue anugerah! Hehee.." Kata Putri.

"Lama-lama gue mati beneran disini nih!" Kata Nico.

"Orang sabar disayang Tuhan, Co!" Celetuk Aji. Milka hanya menahan tawa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS