Siapa sangka???

Ini juga asli aku. Jadi maklum ya kalo jelek.. Ini kisah nyata, tentang nenek buyutku dari ayah. Tentu aja bukan aku yang ngalamin sendiri. Cuma denger dari cerita ibu. ^^

*****

             Cemas,… hanya itulah rasa yang ada di benak keluargaku saat ini. Apa yang akan terjadi nanti pada nenek buyutku? Menurut dokter, kondisinya bukan semakin membaik, tapi semakin memburuk.
            Hari itu, pamanku yang mendapat giliran menjaga nenek ada acara mendadak di kantornya. Karena tak ada yang tahu kalau pamanku akan ada acara mendadak, semua beristirahat di rumah sehingga tak ada satu pun yang menjaga nenek. Ibuku tiba-tiba merasakan ada yang aneh, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang entah mengapa membuat hatinya was-was.
            Ibuku menceritakan perasaannya. Semua ikut berpikir. Nenek! Batinku. Saat itulah tiba-tiba telepon bordering mengagetkan kami.
            “Halo?” Kata ibuku mengangkat telepon itu. Dinyalakannya loudspeaker jadi suara telponnya bisa terdengar.
            “Ini benar rumah Ibu Lia?” Tanya seorang dalam telepon.
            “Iya, ini saya sendiri. Ini siapa ya?” Jawab ibuku.
            “Kami dari rumah sakit. Saat ini nenek anda keadaannya sangat mengkhawatirkan.”
            “Apa?!” Kata ibu. Semuanya pun ikut terhentak. Kemana pamanku yang seharusnya menjaga nenek? Apa artinya ini? Kenapa nenek? Semua pertanyaan mengambang dalam pikiran kami. Semua kaku, tak ada yang bergerak saking kagetnya.
            “Ba…bagaimana?” Tanya ibuku.
            ‘Tuit…tuit…tiiiiiiiii…….t…’ Terlambat, telepon sudah ditutup. Tak tahu kenapa. Seharusnya rumah sakit tidak mungkin melakukan hal itu.
            Ibuku mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju pintu. Aku mengikuti ibu setelah sadar dari lamunanku. Baru saja akan membuka pintu, ada seseorang mengetuknya. Ibu membuka pintu. Langsung masuk beberapa orang perawat memba wa ranjang. Di atasnya terbaring nenek buyutku!! Lengkap dengan alat bantu pernafasan dan alat-alat penunjang hidupnya. Kami kaget lagi untuk kedua kalinya.
            “Ada apa ini?” Tanya ibuku pada para perawat itu.
            “Tadi kami mendapat telepon bahwa beliau ingin pulang ke rumahnya. Jadi kami bawa ke sini.” Jawab seorang perawat.
            “Tapi bukankah seharusnya peralatan itu tidak boleh keluar dari rumah sakit?” Tanya ibuku lagi yang terlihat masih sangat bingung
            “Yah…. Tadi kami juga berpikir begitu. Tapi, ada seorang dokter memberi tahu kami bahwa keadaannya sangat mendesak dan kami boleh membawa nenek ibu pulang beserta peralatannya.” Kata perawat itu.
            “Apa tadi ada yang menelepon?” Kami semua menggeleng. Ibuku mengambil telepon lalu menelepon pamanku. Bertanya, apakah ia yang menelepon rumah sakit. Ternyata tidak.
Keluarga kami, selain paman, semuanya ada di situ. Tidak heran jika kami bingung siapa yang menelepon rumah sakit.
            “Maaf, tadi siapa nama orang yang menelepon?” Tanya ibuku pada perawat itu.
            “Dia bilang namanya Albertus Sardi.” Jawab perawat.
            “An…Anda yakin?” Tanya ibuku takut.
            “Iya, saya yakin. Ini buktinya!” Kata perawat itu seraya mengambil catatan kecil dari sakunya. Di situ tertulis nama Albertus Sardi yang menelepon untuk kepulangan Ny. Shinta, nenek buyutku.
            Aku melihat sekelilingku. Semua keluargaku terlihat sangat takut dan cemas. Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu. Albertus Sardi,.. Albertus Sardi,…? Om Albert!!!
            Iya, benar itu Om Albert. Ibu pernah cerita, Dulu ibu punya kakak, namanya Albert. Dia cucu kesayangan nenek karena dialah yang paling dekat dengan nenek ibu saat itu. Tapi Om Albert mendadak divonis dokter menderita kanker. Om Albert sudah menjalankan berbagai macam terapi, sampai akhirnya ia mendapatkan remisi dan dinyatakan membaik. Tapi tiba-tiba saat ibuku berusia 13 tahun, kanker Om Albert kambuh dan tidak bisa diselamatkan lagi. Akhirnya ia meninggal. Hal itu sudah terjadi la…..ma sekali sejak ibuku remaja. Tapi, Om Albert menelepon???? Hah??? Hal yang sangat tidak mungkin… Bagaimana bisa?!
            “Kalau boleh tahu, nama dokter yang menyuruh membawa tadi siapa ya?” Tanya ibuku masih dalam keadaan bingung.
            “Sebenarnya kami sendiri belum pernah melihat dokter itu sebelumnya. Kami pikir beliau pasti dokter baru di rumah sakit. Kalu tidak salah, tadi saya sempat melihat namanya Dr. Bondan Rahayu.” Jawab si perawat.
            Ibuku mengangkat gagang telepon. Ditekannya nomor demi nomor dengan gemetar. Tak lama kemudian, ibuku menutup teleponnya. Wajahnya pucat.
            “Barusan,.. Aku menelpon rumah sakit. Dan, kata mereka tidak pernah ada dokter bernama Dr. Bondan Rahayu.” Kata ibuku pelan.            Keluargaku, aku, dan para perawat sangat terkejut.
            “Tap….tapi…tapi, saya tadi benar-benar disuruh Dr. Bondan Rahayu! Benar! Saya berani bersumpah!”
            “Mungkin, Tuhan mengirim Albert dan dokter itu untuk kita.” Kata ibu sambil menatap salib di dinding. Kami semua memutuskan berdoa bersama untuk mensyukuri bahwa Tuhan telah mengutus malaikatnya untuk mengembalikan nenek di tengah tengah kami.
            Kian hari, kondisi nenek justru semakin membaik di rumah. Perawat datang berjaga silih berganti. Semua masih takjub atas kejadian kemarin. Akhirnya, nanek buyutku sadar dari komanya. Kami sangat bahagia. Hal pertama yang diucapkan nenek begitu membuka mata adalah,
            “Albert…” Nenek memanggil nama itu berulang-ulang.
            “Kemarin… Albert datang saat aku ingin pulang.” Lanjut nenek.
Semua anugerah Tuhan. Siapa sangka? Om Albert bisa datang untuk nenek. Tuhan Maha Bisa! Bersyukurlah untuk semua yang kita dapat, karena bersyukur itu GRATISSS!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar