Dua Dunia 1

PART I
Udah lama yaa aku nggak nge-post cerita. Yang ini bukan Copas lho.. ASLI Aku..  Jadi maaf kalo gaje n aneh. hehe.. Tokohnya ICIL. n pasangan kesukaan aku, RiFy-Rio Ify. Tadinya mau aku bikin cerpen. Tapi belom jadi, aku keburu pingin nge-post. Jadi part I ni.. Baca yaa.. ^^

*****
 “Ify rasa hari ini cukup,” ucap Ify enggan. “minggu depan Ify ke sini lagi.” lanjut Ify. Ify memandang lagi bunga-bunga lili putih yang tadi diletakkannya, dengan tatapan haru. Jari-jarinya mengusap lembut nisan di hadapannya.
            “Ify pulang dulu ya, Ma..” bisik Ify. Ify bangkit berdiri, memandang nisan ibunya untuk terakhir kalinya, dan melangkah pergi.
            Ify berjalan melewati makam demi makam untuk sampai di pintu gerbang pemakaman. Matanya menangkap pemandangan ganjil. Dipandangnya sebuah makam. Makam itu ganjil baginya, karena seminggu yang lalu, terakhir kali dia ke sini, makam itu belum ada.
            “Hmm.. makam baru yaa..” gumam Ify.
            Entah kenapa Ify tertarik mendekati makam itu, kemudian berlutut di depannya. Dipandangnya nisan yang tertanam di makam.
MARIO STEVANO ADITYA HALING
24 Oktober 1994
23 Oktober 2010
            Di depan nisan, berdiri foto berpigura, foto cowok sebaya Ify, hitam manis dan tersenyum ceria. Ify bertanya dalam hati, apakah saat foto itu diambil, orang ini tahu suatu hari nanti dia akan meninggal. Sadar hari sudah mulai gelap, Ify bangkit, memperhatikan sekali lagi foto berpigura itu, kemudian seulas senyum muncul di wajah cantiknya.
            “Mario Stevano Aditya Haling yaa.. Siapapun lo, lo cakep.” gumam Ify.
            Ify melangkah lagi menuju pintu gerbang pemakaman, tempat ayahnya menunggunya di dalam mobil. Begitu keluar pemakaman, Ify langsung naik ke mobilnya dan melaju pergi.
           
            Sekelebat bayangan mendekati pintu gerbang pemakaman, memandang mobil APV warna coklat susu yang baru saja menghilang di tikungan.
            “Lo juga cantik.”

***
            “Kemarin Tante Mia baru melahirkan lho Ma, anaknya cewek. Cantik deh,, kayak Ify. Hehehe… Oh ya, mulai besok Papa mau ke Bandung, katanya sih ada bisnis, pulangnya seminggu lagi. Lama banget kan, Ma? Ify jadi sendirian deh di rumah, cuma ditemenin Bi Narti.” nada Ify melemah, terbayang dalam hatinya besok akan kesepian.
            Sudah seminggu berlalu sejak kedatangan terakhir Ify. Saat Ify menemukan makam baru yang nisannya tertulis MARIO STEVANO ADITYA HALING dengan foto cowok hitam manis terpajang di depannya. Itu berarti sudah seminggu berlalu juga, Ify tidak bisa melupakan senyum cowok itu. Senyum cerah ceria, seakan hari esok tak akan pernah ada habisnya. Tepatnya, Ify terpesona. Hari ini pun, Ify membawa sebuket bunga warna-warni, selain buket bunga Lili putih kesukaan ibunya, untuk diletakkan di makam baru itu.
            “Ify mau tanya, Mama kenal nggak sama Mario Stevano Aditya Haling? Makamnya nggak jauh dari sini. Maksud Ify, Mama mungkin ketemu dia di surga? Karena senyumnya kayak malaikat, Ma. Kalo Mama kenal, kenalin juga ya ke Ify. Hehehe…”
            Lo ngomong apa sih Fy!, bentak batin Ify pada dirinya sendiri. Dia merasa aneh, terpesona pada senyum orang yang sudah meninggal! Normal dikit, kek, Fy!, batin Ify lagi.
            “Kayaknya cerita Ify udah habis deh, Ma. Ify pulang dulu yaa.. Seminggu lagi, Ify ke sini. Da, Mama!”
            Tak ada acara mengusap nisan atau memandang bunga, mengenang betapa bunga itu membawa kebahagiaan dalam hati Ibunya dulu. Ify ingin segera mengunjungi makam baru itu lagi. Melihat sekali lagi senyum orang yang terkubur di dalamnya.
            “Hai.. Gue ke sini lagi.” Kata Ify riang begitu sampai di makam itu.
            Ify meletakkan buket bunganya di depan nisan. Matanya langsung tertuju pada foto cowok di hadapannya. Saat itulah Ify menyadari satu lagi arti dari senyum itu, senyum yang akan membuat orang lain tersenyum. Karena itulah yang dialaminya sekarang. Tersenyum begitu saja saat memandang foto itu.
            “Lo pasti bingung kenapa gue ke sini lagi… Sama, gue juga bingung sih. Kayaknya senyum lo deh, yang menarik gue dateng ke sini. Hehe.. Tau nggak, senyum lo senyum termanis yang pernah gue lihat. Gue jadi penasaran, lo orangnya kayak apa. Tapi gue yakin, pasti yang baik-baik. Lo pasti idola di sekolah lo, populer, cakep, baik, ramah, perfect! Nggak mungkin senyum malaikat kayak lo preman kan?”
            Kata Ify, sambil membayangkan cowok dalam foto itu berjalan di lorong sebuah sekolah. Melempar senyum ke semua orang yang ditemuinya, semua mata memandangnya kagum, orang-orang langsung memberi jalan ketika dia lewat…
            “Oh, ya… Nama panggilan lo siapa sih? Masa’ tiap kali gue harus nyebut lo Mario Stevano Aditya Haling? Eh!!”
            Ify kaget melihat langit mulai gelap.
            “Udah dulu ya, kasian Papa nungguin gue di depan. Sebenernya gue masih pingin ngobrol lama sama lo. Oke, mungkin bukan ngobrol karena cuma gue doang yang ngomong. Tapi nggak tau kenapa gue ngerasa elo ngedengerin semua kata-kata gue. Udah ah.. Biar gimana pun juga ini kan kuburan. Mumpung belom Maghrib, gue pulang dulu ya!”
            Ify bangkit berdiri tanpa melepaskan senyum dari wajahnya. Kemudian berjalan cepat menuju pintu gerbang pemakaman, untuk segera pulang bersama ayahnya.

            “Makasih.” terdengar suara ketika Ify berjalan menjauh

***
            “AAAAAARGHHH!!” teriak Ify jengkel.
            Seluruh anak di kelas langsung menoleh heran padanya. Untung aja saat itu guru yang mengajar mereka sedang ke toilet.
            “Lo kenapa sih Fy? Kumat ya?” tanya Shilla, teman sebangku Ify.
            “Kenapa sih banyak banget kata Rio hari ini?!! Gue bosen!” bentak Ify.
            “Ehh… Kok gue sih yang dibentak? Bukan salah gue dong kalo ada kata Rio di dunia ini. Sebenernya lo tu kenapa sih? Gue nggak mau ketularan gila. Udah cukup kemaren gue ikutan dihukum gara-gara ngeladenin lo main BINGO di kelas.”
            “Ya maaf Shil, soal ituu.. Masalahnya, hari ini kata Rio emang muncul di mana-mana!”
            Shilla memandang Ify dengan tatapan lo-beneran-gila-Fy?.
            “Hhh…” dengus Ify tak sabar. “Liat nih, soal Matematika udah tiga nomer ada Rio-nya. Terus tadi soal bahasa udah lima nomer pakai nama Rio. Tadi pagi, pembantu gue cerita dia habis kenalan sama tukang sayur yang namanya Rio. Papa gue cerita di Bandung nanti bakal ketemu klien yang namanya Rio. Sopir gue sakit dan digantiin sama sopir baru yang namanya Rio. Waktu gue ngobrol sama Pak Satpam, dia cerita anaknya namanya Rio. Dan siapa yang bisa ngejelasin kenapa Bu Winda nulis RIO di papan tulis???!!!” tutur Ify berapi-api.
            “Kebetulan doang kali soalnya banyak Rio-nya. Mungkin aja yang nulis buku lagi naksir orang yang namanya Rio. Pasti kebetulan juga orang-orang yang lo temuin hari ini namanya Rio. Lagian, please deh, ngapain lo ngobrol sama Pak Satpam? Dan baca baik-baik Ify sayang… Bu Winda nulis R10, bukan RIO! Nggak mungkin lo nggak tau itu soal koordinat, dan itu wajar banget karena kita lagi pelajaran Matematika!!” jelas Shilla, tak kalah membara.
            Ify baru aja akan membuka mulutnya ketika Bu Winda, guru mereka kembali dari toilet dan melanjutkan pelajaran. Maka Ify terpaksa menyimpan kata-kata yang akan dilontarkannya.

            “Shil…,” Ify langsung menoleh ke Shilla saat bel pulang bordering.
            “menurut lo, apa artinya semua kata Rio hari ini? Gue ngerasa aneh deh…” lanjut Ify.
            “Udahlah Fy, gue ada les, gue balik dulu ya!” Shilla langsung pergi ke luar kelas.
            “Yahhh…”

***
            Denting piano terdengar di setiap sudut rumah Ify. Alunan melodi indah yang mencerminkan pemainnya sedang kesepian. Ify yang memainkan piano itu. Hari ini ayahnya, untuk kesekian kalinya, meninggalkan Ify pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Pagi tadi terakhir kalinya Ify bertemu ayahnya sebelum beliau berangkat ke Bandung.
            “Keren…” bisik sebuah suara.
            Ify langsung menghentikan permainannya. Matanya sibuk menyapu seluruh ruangan. Dia sedang sendirian di rumah. Bi Narti, pembantunya, sedang belanja di supermarket.
            “Mungkin perasaan gue aja…” gumam Ify, kemudian kembali larut dalam pianonya.
            “Lo bagus banget mainnya.”
            Ify menoleh ke sebelahnya. Seorang cowok sedang berdiri di sampingnya, memandang penuh minat piano yang sudah berhenti dimainkannya.
            “Lo siapa?!” teriak Ify kaget.
            Cowok itu tampak kaget juga, mengalihkan pandangan dari piano ke Ify.
            “Nggak usah teriak-teriak dong! Gue kan di deket lo.” kata cowok itu.
            Kini Ify bisa melihat jelas wajah cowok itu.
            “T…Tunggu… E..lo,,, Mario Stevano Aditya Haling?” tanya Ify gemetar.
            “Hahaha…” cowok itu tertawa. “Harus berapa kali gue kasih tau ke lo, panggil aja gue Rio?”
            “Ri..Rio? Jadii…”
            “Waktu itu kan lo tanya, nama panggilan gue siapa, gue Rio.”
            “Nggak! Gue pasti mimpi!” Ify mengucek matanya, lalu membukanya lagi. Rio masih terlihat di depannya.
            “Tapi.. tapi..” ucap Ify gemetar. “Lo kan udah…”
            “Meninggal maksud lo? Iyalah.. Mana ada orang hidup yang kakinya nggak napak di lantai.”
            Ify melirik kaki Rio yang tampak melayang. Ify baru sadar, badan Rio transparan, meski terhalang bayangan Rio, Ify samar-samar melihat rak buku di belakang Rio.
            “AAAAAAA!!!!”
            Ify lari ke kamarnya. Langsung ditutupnya pintu kamar. Dia mendekati cermin di lemarinya. Menatap wajahnya sendiri yang tampak pucat karena ketakutan.
            “Ify.. Ini nggak nyata. Pasti cuma khayalan lo… Saking nge-fansnya sama senyum cowok itu. Iya, ini nggak nyata…” gumam Ify pada bayangannya di cermin.
            “Jadi lo nge-fans sama senyum gue?”
            Tiba-tiba Rio muncul di sebelah Ify.
            “AAAA!!!!” Ify berteriak lagi, langsung lari ke kasurnya, menyembunyikan diri dalam selimut.
            “Bisa nggak sih lo berhenti teriak-teriak?” tanya Rio.
            “AAAAAA!!!!!” teriakan Ify makin keras.
            BRAK!
            Pintu kamar Ify terbuka.
            “Non kenapa teriak-teriak? Ada maling?”
            Ify membuka selimutnya perlahan. Ify melihat Bi Narti yang tampak khawatir, berdiri di depan pintu kamarnya, menenteng dua kantong plastik berisi barang belanjaan di kedua tangannya. Mata Ify mencari-cari bayangan Rio yang sudah lenyap.
            “Barusan ada setan, Bi!!” kata Ify.
            Bi Narti tertawa.
            “Ahh.. Non Ify… Bibi kira apaan. Nggak mungkin lah Non di rumah ini ada setan. Udah ah, Bibi masak dulu ya.” Bi Narti meninggalkan kamar Ify.
            “Yahh… Kok nggak percaya sih…” ucap Ify lirih.
            Tanpa sengaja Ify menoleh ke samping. Dia langsung terlonjak kaget melihat Rio sedang duduk di kasurnya, di sebelahnya.
            “Apa mau lo?!” bentak Ify.
            “Nemenin lo. Lo kesepian kan?” tanya Rio menatap Ify sambil tersenyum.
            Ify diam, memandang senyum itu terpesona.
            “Heh! Ngapain sih lo mandangin gue kayak gitu?” tanya Rio.
            Ify langsung menggelengkan kepalanya, sadar.
            “Ehh.. Dari mana lo tau?” tanya Ify.
            “Gue kan denger waktu lo cerita ke Mama lo kalo Papa lo bakal ke luar kota hari ini. Dan dari nada lo, lo kelihatan kesepian.”
            “Tapi… Kenapa lo ada di sini?”
            “Aduhh… Gue kan udah bilang, gue mau nemenin lo!”
            “Nemenin?”
            “Iya, gue kira lo bakal seneng gue ke sini. Secara lo muji-muji gue terus. Ehh… Gue dateng, lo malah teriak-teriak.”
            Ify merasakan pipinya memerah.
            “Lo cantik deh, kalo lagi tersipu-sipu gitu.. Hehehe…” goda Rio.
            Ify menyembunyikan diri lagi dalam selimutnya.
            “Biar gimana pun juga lo hantu! Wajar dong gue teriak-teriak! Lo juga nggak usah GR!” bentak Ify.
            “GR? Hahaha…” Rio tertawa. “Gue udah biasa kali dipuji-puji gitu… Secara gue kan cakep, keren, dan seperti apa kata lo, senyum gue manis. Lo terpesona kan?”
            “Heh! Narsis juga lo! Gue jadi nyesel muji-muji lo!”
            “Gue yakin dalam hati lo nggak nyesel.” kata Rio tenang.
            “Oh ya,,,” lanjut Rio. “Lo juga jangan GR ya… Mama lo yang minta gue ke sini, nemenin lo. Karena lo cerita tentang gue ke Mama lo, Mama lo pikir lo mungkin nggak bakal kesepian kalo gue temenin. Jadi, gue bakal di sini terus sampai Papa lo pulang.”
            Ify membuka selimutnya, menatap Rio penasaran.
            “Mama? Lo kenal Mama gue?”
            “Lo kira gue bakal terima permintaan Mama lo kalo gue nggak kenal dia?”
            “Tapi,,,. Kenapa bukan Mama yang nemenin gue?”
            “Soal itu…” Rio tampak ragu-ragu. “Udah lah, nggak penting.”
            “Penting buat gue!! Kenapa Mama malah nyuruh lo yang dateng nemenin gue?!”
            “Heh! Mama lo bukan nyuruh ya, MINTA. Lo kira gue pembantu?”
            “Iya! Kenapa Mama malah MINTA lo?!” ulang Ify tak sabar.
            “Gini ya…” kata Rio dengan nada serius. “Ada banyak hal yang nggak perlu lo tau tentang dunia gue dan Mama lo. Termasuk kenapa Mama lo nggak bisa nemenin lo dan malah minta gue. Dan gue nggak berhak cerita alasan itu ke lo.”
            Ify langsung lemas karena kecewa.
            “Tapi tenang aja!” ucap Rio ceria., dia bangkit dari kasur Ify dan berdiri di hadapan Ify, menatap Ify. “Lo nggak bakal nyesel ditemenin gue!”

***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar