Cukup Satu Senyum Tulus…

Akhirnya cerpen ASLI aku, alias bukan copas. Jadi maap kalo gaje n wagu banget.. ^^

*****

             Aku benci dunia ini! Teman, keluarga, semua sama saja. Semua cuma bisa mengecewakanku. Tidak ada yang benar-benar sayang padaku. Aku benci semuanya! Buat apa aku hidup kalau tak punya harapan? Semua orang cuma pura-pura baik di depanku. Tapi dibelakangku, aku yakin mereka ngomongin aku, ngegosipin aku, jelek-jelekin aku. Aku capek…!!
            Hujan deras malam itu tidak mengurungkan niatku untuk pergi dari rumah. Buat apa tetap bertahan di sana jika keadaannya seperti neraka. Ayah ibu yang selalu bertengkar, adik yang menyebalkan. Semua hanya bisa membuatku tambah terbebani.
            Aku bingung mau ke mana. Aku tak peduli badanku basah kuyup kehujanan. Tak ada niat untuk berteduh. Aku hanya ingin terus berjalan dan berjalan, tak tahu mesti ke mana. Rumah teman? Teman siapa? Bukannya aku sama sekali tak punya teman. Aku merasa tidak punya teman yang bisa kupercaya. Semua hanya topeng. Di depanku mereka berlagak baik. Tapi aku tahu, dari tatapan mereka, mereka bukan temanku. Hidupku hancur. Aku tak tahu harus ke mana dan ke siapa. Membayangkan wajah orang-orang di sekitarku, membuatku tambah terluka. Aku ingin punya segalanya. Tak perlu harta, setidaknya seseorang untuk bisa dipercaya. Yang bisa diajak berbagi. Aku bosan hidup dengan semua ini. Penuh penderitaan dan kesengsaraan. Bukan ragaku, tapi jiwaku.
            Pulang, aku ingin pulang. Aku ingin pulang ke tempat yang nyaman, ke tempat satu-satunya orang yang bisa dipercaya semua orang. Tuhan. Dari sela-sela pohon kulihat sebuah danau. Hujan sudah berhenti. Bulan yang muncul perlahan seolah ajaib. Seakan-akan menyambutku, mengundangku datang ke danau itu. Bulan itu seakan tersenyum. Tanpa sadar, aku melangkahkan kaki menuju danau itu. Aku berjalan, tak peduli apapun dan siapapun. Gemuruh angin yang menyibakkan rambutku semakin membuatku yakin, aku diundang ke tempat itu. Kakiku tenggelam dalam air. Terasa dinginnya menusuk tubuhku. Tak apa, aku ingin pulang. Aku melangkahkan kaki lagi. Kini air sudah setinggi leherku. Aku menutup mata, bersiap tenggelam. Dan, aku masuk ke air. Sesak, dadaku terasa sesak, tapi kubiarkan. Aku ingin  pulang.
            ‘Dita, bangun, Dit! Belum saatnya. Belum saatnya kamu pulang. Bangunlah!’, bisik sebuah suara.
Aku membuka mataku. Bau yang tak asing lagi. Bau rumah sakit. Aku terbaring dalam selimut. Lengkap dengan alat infus di tanganku. Orang tuaku tidur di sofa tak jauh dari tempat tidurku. Kenapa? Padahal aku ingin pulang. Aku hanya ingin pulang! Bahkan Tuhan saja tidak menerimaku di rumahnya. Lalu siapa yang bisa menerimaku?
            “Dita, kamu sudah sadar?”, tanya ibu mengagetkanku.
Huh! Topeng, cuma topeng!
            “Dita!!!”, teriak sebuah suara, disusul suara-suara lainnya. Teman-temanku berlari dari pintu ke tempat tidurku.
“Akhirnya, kamu sadar. Kita semua khawatir sama kamu!”, ucap seorang temanku. Khawatir? Tak mungkin. Semua cuma pura-pura.
            Pagi ini aku terpaksa masuk kelas. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju kelas. Sebenarnya aku malas kembali ke sekolah ini, aku malas bertemu teman-teman yang lain, aku malas mendengarkan pelajaran yang membosankan. Tapi mau apa lagi? Aku harus buktikan ke orang tuaku kalau aku bisa  berguna buat mereka, walaupun sebenarnya agak canggung juga kembali ke sekolah setelah mencoba bunuh diri kemarin. Apalagi berita aku bunuh diri sampai muncul di Koran. Aku jadi tambah malas…
            Baru saja aku menginjakkan kakiku di lantai kelas, aku tertegun. Aku diam, bingung ingin marah atau menangis. Aku tak bisa bergerak, badanku gemetar. Mereka meletakkan fotoku di atas meja dengan bingkai dan pita hitam! Jahat sekali! Itu kan tanda orang mati!
            “Hei, itu ada arwahnya Dita, bangkit dari kubur!” teriak seorang cowok.
            “Bukan dari kubur kalii! Dari danau! Gimana matinya? Enak?!” sahut yang lain.
            Jadi mereka ingin aku mati? Oke, aku mati! Aku akan mati buat kalian! Orang-orang jahat! Kenapa kemarin aku harus gagal mati segala? Kenapa? Di dunia ini saja tak ada yang ingin aku hidup! Kenapa aku tidak dibiarkan mati?!
            Aku tak kuat lagi. Aku berlari sekencang-kencang menuju taman belakang sekolah. Kusandarkan kepalaku di batang pohon. Aku menangis sepuasnya. Mereka jahat sekali! Aku benci mereka! Kulihat kanan kiri. Ada sebuah paku di tumpukan kayu. Paku itu sebenarnya akan digunakan untuk merenovasi gerbang sekolah. Tapi berguna juga untuk alat bunuh diri. Aku mengambil paku itu. Daripada aku hidup hanya untuk bahan tertawaan dan korban penindasan, lebih baik aku mati. Masuk neraka pun tak apa. Toh, aku sudah pernah merasakan neraka di sini. Buat apa takut?
            Kuperhatikan paku itu. Ujungnya masih tajam, walaupun sudah berkarat. Sempurna sekali. Jika aku menusukkan paku itu ke pergelangan tanganku, otomatis nadiku akan putus, darahku tidak mengalir lagi, dan aku akan mati! Dan, walaupun itu gagal, karat dari paku itu aku membuat kulitku infeksi, kemudian aku akan terserang tetanus, tak kuobati, dan akhirnya juga aku akan mati. Aku menggenggam erat paku itu dan mulai membidik pergelangan tanganku. Dan kutusukkan!
“Sendirian? tanya seseorang sambil menggenggam tanganku, seoalah mencoba mencegahku menusukkan paku itu ke tangan. Karena jengkel, kutepiskan tangannya dan kubuang paku itu. Aku menoleh, ingin melihat wajah orang yang membuatku gagal mati. Rio!
            “Aku tahu perasaanmu.”, kata Rio.
Tahu perasaanku? Nggak mungkin! Dia disukai anak-anak satu kelas, ayah ibunya pun terlihat rukun. Dia punya adik yang lucu dan manis. Tak mungkin dia tahu rasanya jadi aku!
            “Aku dulu juga sama kayak kamu. Menyendiri, capek sama semua yang ada di dunia ini. Marah sama orang tua, saudara, temen-temen.”
            Nggak mungkin! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku! Lagian buat apa juga kamu nyegah aku nusukkin paku itu?! Aku tuh udah nggak tahan hidup di sini!”, bentakku. Dia tersenyum. Senyum yang tulus. Senyumnya membuatku nyaman, seolah semua bebanku hilang. Senyum yang kudambakan selama ini. Senyum dari seseorang yang bisa menyayangiku.
            “Aku tahu. Aku pernah. Aku pernah ngrasain gimana dihjauhin, bahkan diolok-olok sama temen-temen, gimana rasanya jadi kambing hitam dalam keluarga, yang Cuma dijadiin alasan buat bela diri sama ortuku. Aku juga pernah nyoba bunuh diri kayak kamu gini. Tapi ada seseorang yang datang tiba-tiba memberi aku satu semangat baru yang bisa bikin aku ngelupain segalanya. Senyum. Dia tahu apa yang aku rasain, walaupun nggak pernah aku ungkapin. Dia satu-satunya yang bisa aku percaya setelah Tuhan. Semua beban di hati aku, rasanya langsung hilang begitu lihat senyumnya. Sayangnya dia sudah meninggal. Ya, setelah aku dapat banyak temen, punya keluarga yang rukun dan nyenengin, semua itu berkat dia. Dan aku berniat nyebarin virus senyumnya. Biar semua orang yang hidupnya lagi terpuruk, bisa ngerasain gimana ampuhnya senyum tulus dari seorang sahabat. Karena dia, aku tahu, mati bukan satu-satunya cara buat ngehindarin masalah, justru itu cara buat lari dari masalah. Dan orang yang lari dari masalahnya itu Cuma pengecut!
            Terserah aku mau dibilang pengecut atau apa! Itu semua udah tak penting!
            Oh, gitu. Maaf deh kalau aku nyegah kamu buat jadi pengecut. Maaf kalau aku nyegah kamu dari dosa yang bakal kamu terima kalau bunuh diri nanti. Maaf kalau aku nyegah kamu buat bikin aib di keluarga kamu. Maaf kalau aku njggak piingin lihat kamu menderita.
            Aku terdiam, benar. Aku mungkin bakal dosa dan bikin aib dalam keluarga. Aku tambah bingung. Aku tidak mau itu semua terjadi. Tapi gimana caranya aku bisa tahan hidup sama temen-temen dan keluarga kayak sekarang ini?
            “Ya.. Kamu bener kok. Kamu nggak salah. Tapi, gimana caranya aku bisa nyelesai’in semua masalahku?” tanyaku pada Rio. Dia tersenyum, senyum seperti tadi. Senyum yang bikin aku bakal berpikir berkali-kali untuk bunuh diri lagi. Dan aku tahu, senyum itu adalah pertanda akhir semua penderitaanku. Senyum itu bakal nunjukin jalan yang harus aku tempuh.
            Rio bagai malaikat yang dikirim Tuhan padaku. Darinya, pelan-pelan aku belajar cara percaya diri. Prinsipnya adalah, apapun yang dipikirkan orang lain tentang kamu, bukanlah urusan kamu. Aku jadi lebih berani berteman. Sekarang temanku ada di mana-mana… Orang-orang yang dulu menghinaku menyesali perbuatan mereka dan minta maaf. Aku tidak takut lagi mereka melakukan apa di belakangku. Yang terpenting bagiku sekarang, aku punya seseorang yang bisa dipercaya. Selalu ada tiap aku menengok ke belakang. Selalu berada di dekatku, walaupun tidak bisa kulihat keberadaannya. Namanya terukir dengan tinta emas di dalam hatiku. Bayangannya tak mungkin hilang dari benakkku.
            Hari demi hari aku lalui dengan gembira. Seperti di surga. Bahkan pengalamanku mencoba bunuh diri dulu, seolah hanya sebuah mimpi buruk. Rio sangat berjasa akan hal itu. Aku dan Rio paling suka menatap langit. Membayangkan surga ada di balik awan-awan itu. Rumah terakhir saat kita semua pulang nanti, rumah Tuhan. Ketika kami berdua menatap langit bersama, Rio berkata sambil tersenyum, kalau dia ingin hidup lebih lama.  Saat itu aku tak mengerti maksud perkataannya. Tidak aku sangka, aku akan mengerti maksudnya dengan cara yang sama sekali tidak aku sukai…
            Siang ini aku akan menjenguk Rio. Rumahnya searah dengan rumahku. Aku berjalan dengan hati tak sabar ke rumah Rio. Aku tak sabar melihat senyumnya lagi. Sudah seminggu ini dia tidak masuk. Tapi baru sekarang aku sempat menjenguknya. Begitu sampai di jalan depan rumahnya, aku heran sendiri. Banyak sekali mobil di halaman rumahnya. Orang-orang juga banyak berdatangan. Ramai sekali rumah Rio..
            “Permisi, Bu? Di sini sedang ada apa ya? Kok, ramai sekali?” tanyaku pada seorang ibu yang tak jauh di dekatku.
            “Loh, adik tidak tahu? Anak orang yang tinggal di sini kan baru saja meninggal. Kalau tidak salah, namanya Rio. Ya! Namanya Rio.”
            Rio? Meninggal? Nggak, nggak mungkin! Aku berlari menahan tangis masuk ke rumahnya. Menembus orang-orang yang berkumpul ramai. Dan dengan rasa tak percaya, tanpa sadar aku terduduk. Itu Rio! Itu mayat Rio! Ibunya menangis histeris di sebelahnya. Aku mendekati jenazahnya. Di sampingnya, ada sebuah foto dengan bingkai dan pita hitam. Foto Rio yang sedang tersenyum. Senyumnya yang membuat aku tak akan pernah lagi memikirkan soal kematian. Dan kini dia tergeletak tak berdaya. Dia mati. Aku hampir tak percaya. Kupandangi terus mayatnya.
            “Kamu Dita, ya?” Tanya seseorang. Ayah Rio. Aku hanya mengangguk sambil terus menangis.
            “Kemarin, sebelum meninggal, Rio menitipkan surat. Katanya untuk kamu. Ini suratnya.” Ucap bapak itu. Dia menyerahkan sepucuk surat padaku. Aku segera menerimanya dan kumasukkan dalam kantungku.
            Sore itu, setelah menghadiri pemakaman Rio, aku pulang ke rumah dengan tidak semangat. Rio, pelindungku, sahabatku, telah tiada. Aku melemparkan tasku ke kasur. Aku masih tak percaya, Rio sudah meninggal. Oh, ya! Suratnya! Aku mengambil surat itu. Kubuka dan kubaca.

Buat Dita,..

Dit, kalau kamu buka surat ini, aku pasti sudah nggak ada lagi di dunia ini. Aku sudah pulang ke Tuhan. Terima kasih kamu sudah memberi hari-hari indah padaku. Saat-saat bersamamu yang paling membuatku bahagia.
          Maaf, aku belum pernah bilang ke kamu, mungkin sudah terlambat kalau aku cerita sekarang. Tapi aku cuma nggak mau kamu sedih, dan aku nggak mau kamu ikut menanggung penderitaanku. Aku sakit kanker. Sejak tiga bulan sebelum aku membujukmu nggak bunuh diri (Oh ya, jangan pernah coba bunuh diri lagi ya?!). Aku hanya ingin memberimu semangat, seperti yang diberikan sahabatku sebelum dia meninggal dulu. Nggak disangka, malah keterusan sampai kita akrab. Aku senang kita bisa akrab.
          Aku tahu, pasti akan ada waktunya aku pergi. Karena kankerku sudah parah, dan nggak mungkin disembuhkan lagi. Obat-obat yang kuminum hanya untuk membuatku hidup lebih lama. Dan kini, Tuhan sudah memanggilku. Aku ingin kamu janji, jangan pernah merasa sendiri lagi. Karena aku akan selalu ada di sampingmu. Tiap kamu menatap langit. Ingatlah aku di sana, sedang memandang kamu dan memberi senyum terbaikku untukmu.

Salam sayang,
Rio…
         
          Sekarang, hari ini, tepat 2 tahun Rio pergi. Tiap aku ada masalah, aku selalu memandang langit, dan menebak apa yang akan dikatakan Rio padaku untuk memberi aku semangat. Dan setelah itu, aku bangkit dan menyelesaikan masalah itu. Tak lupa, aku membayangkan senyumnya. Satu-satunya senyum yang akan aku kenang di dalam hatiku , selamanya...
Suatu hari nanti, bila aku pulang, aku yakin akan bertemu Rio di sana. Semangatnya selalu kukenang. Dia sahabat terbaik yang pernah ada sepanjang masa. Sekarang aku tak lagi meragukan adanya sahabat sejati. Rio nyata, bukan topeng, tidak pura-pura, dan senyumnya tulus. Kini aku menularkan virus senyum Rio pada orang lain. Seberapa bencinya pun aku pada orang, aku selalu berusaha memperlihatkan senyumku yang paling tulus pada mereka. Supaya mereka tahu, bahwa ada seseorang yang akan setia memberi senyumnya untuk mereka, kapanpun saat mereka merasa terpuruk. Cukup dengan satu senyum tulus, hati seseorang bisa berubah. Aku belajar dari Rio…           
            

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar