Cinta 2 Hati

Copas-an juga ni. Pinjem ya penulis... ^^

******

Ify menatap rumah barunya yang berkonsep minimalis dengan cat abu-abu.

“Fy, kok malah ngelamun aja? Ayo masuk” Ucap bu Gina (ibu Ify dan Deva) kepada putri tercintanya.

“Ayo kak masuk!” Seru Deva, adik Ify, sambil menggandeng tangan Ify dan memaksanya masuk ke dalam rumah barunya. Ify hanya tersenyum kepada Deva.

“Gimana rumah baru kita? Bagus khan?” Tanya pak Doni yang tak lain papahnya Deva dan Ify.

“Bagus banget dech pah!!” Seru Deva.

“Kamu suka ga Fy?” Tanya Pak Doni kepada Ify.

“Suka” Singkat Ify.

“Ify, kamar kamu di atas sebelah kamar Deva, yang ada balkonnya” Ucap bu Gina. Ify segera menuju kamarnya. Ia menatap sekeliling kamarnya.

“tok tok tokkkk” Seseorang mengetuk pintu kamar Ify.

“Kak, gue boleh masuk ga?” Tanya deva yang berada di depan pintu kamar Ify. Tak ada jawaban dari Ify. Ify langsung membuka pintu kamarnya. Di lihatnya Deva di depan pintu kamarnya dengan membawa gardus.

“Barang lo ada yang ketinggalan kak” Ucap Deva sambil tersenyum.

“Makasih Dev” Ify segera mengambil gardus tersebut dari tangan Deva, lalu menutup pintu kamarnya.

Dilihatnya gardus itu, kemudian IFY tersenyum. Beberapa pot kaktus di dalam gardus tersebut. Ify menata rapi kaktusnya di jendela. Beberapa, ada yang ia letakkan
di balkon.

***


Hari ini, hari pertama Ify dan Deva masuk sekolah baru.

@SMA Citra Bangsa (kelas XI.IPA.4)

“Pagi murid murid sekalian” Sapa bu Ucie pada seluruh muridnya.

“pagi buuu” Jawab murid XI.IPA.4 serempak.

“Hari ini kita kedatangan murid baru, ia pindahan dari Bandung. Alyssa silahkan masuk” Ify yang sedari tadi berada di luar kelas, mendengar namanya di sebut segera memasuki kelas.

“Silahkan perkenalkan nama kamu”

“Nama saya Alyssa Saufika Umari, biasa di panggil Ify.” Ucap Ify singkat.

“Sudah selese? Kamu tidak ingin memperkenalkan darimana kamu pindah, dulu kamu sekolah dimana?” Tanya bu Ucie.

“Nothing special about me, mam” Jawab Ify. Bu Ucie, hanya tersenyum mendengar pengakuan Ify.

“Okay, kamu bisa duduk dengan Sivia.” Ucap bu Ucie sambil menunjuk ke arah Sivia. Ify lalu duduk bersama Sivia. Pelajaran pun di mulai.

@ SMA Citra Bangsa (kelas X-7)

“Perkenalakan, nama saya Deva Ekada Saputra, saya pindahan dari SMA 79 Bandung.”

“Cukup perkenalannya, kalian bisa kenalan sama Deva lagi waktu istirahat. Deva, kamu bisa duduk dengan Ray” Ucap bu Oki.

@Kantin

“Dev!!! Boleh tau ga? Kenapa lo pindah ke Jakarta?” Tanya Ray.

“Bokap gue kerjanya di pindah ke Jakarta, hehehe”

“Owhhh… Oh ya Dev, kenalin ni temen gue namanya Ozy” Ucap Ray sambil merangkul Ozy.

“Deva”

“Ozy” merekapun saling berjabat tangan.

Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas.

“Fy, lo pulang sama siapa? Rumah lo dimana?” Tanya Sivia.

“gue pulang sama adek gue. Di perumahan permata indah blok D.36”

“Wah deket rumah gue donk, Cuma beda blok doank Fy?”

“Besok berangkat bareng aja?”

“Boleh, nanti gue sms lo dech fy. Nomer HP lo berapa?”

“sini pinjem HP lo” Ify pun mengetikkan nomer HPnya.

“Kak Ify!!!!!!! Cepetan!!!” Seru Deva yang berada 100 meter dari Ify.

“Gue tunggu di pintu gerbang”

@gerbang Sekolah

“Vi, gue duluan ya? Apa lo mau bareng gue?” Tanya Ify.

“Ga dech Fy, gue sama gebetan gue, hehehe” Ucap sivia dengan pipi merona.

“Oke, gue duluan ya? Bye” Ify pun masuk ke dalam mobilnya. Mobil Deva pun berlalu dari hadapan Sivia. Tak lama gebetan Sivia datang. (pasti udah pada tau dech siapa gebetannya Sivia)

@Mobil

Deva melirik ke arah Ify sesekali Deva tersenyum ke kakaknya.

“Lo ngapain liatin gue mulu? Liatin jalan noh!!” Seru Ify.

“Kak…”

“Apaan!!!”

“Gak pa-pa, gue seneng lo udah jadi galak lagi, hehehe” Ify melotot mendengar pengakuan Deva lalu menonyor kepala Deva.

“gitu donk kak!! Gue seneng dech liat lo yang kaya gini. Jangan sedih lagi ya kak?”

“Hahahaha OKE bos kecil”

@ Rumah Ify

“Mau kemana lo Dev?” Tanya Ify.

“Muterin kompleks kak, lo mau ikut?”

“Ikut donks” Ify dan Deva berpamitan kepada mamahnya.

“Hati-hati ya jangan nyampe nyasar”

Sepanjang jalan, Deva dan ify hanya saling diam. Ify terlalu asyik dengan pikirannya.

“Kak…”

“Hmmm”

“Ga jadi dech”

“gue tau lo mau ngomong apa. Tenang aja Dev, gue bakalan lupain dia kok” (siapa ya?? Hayo tebak-tebakkan. Hehehe…)

“Gue seneng dengernya. Gue ga berharap lo lupain dia, gue Cuma harap, sikap lo bisa balik kaya dulu. Gue pengen lo bisa tunjukin ke gue kak, kalo lo itu Kak Ify yang bawel, ceria, ga kaya sekarang murung, kerjaannya
nangis. Maaf ya kak kalo Deva ngamong kaya gini.”

“Gak pa-pa kok Dev, hmmm udah sore, pulang yuck?”

Deva hanya mengangguk. Sesekali Ify mengacak-acak rambut Deva, membuat Deva manyun.

@Kelas XI.IPA.4

“Ify!!!!! Sorry ya hari ini ga jadi bareng, gue kesiangan” Ucap Sivia sambil ngap-ngapan gara-gara abis marathon.

“Hahaha gak pa-pa kok. Lo pulang ma siapa?”

Sivia menepuk keningnya.

“Gue lupa Fy, hari ini gue ada kumpulan ma anak basket. Oh ya!! Lo mau ikut basket ga?” Ify tampak berfikir sejenak. Hatinya sakit saat mendengar kata basket. Lalu akhirnya ia mennggeleng sebagai isyarat “engga”
sambil tersenyum.

“Nanti gue latihan basket deket komplek, lo liat ya? Nanti gue kenalin lo ketemen gue dech, dia sekolah disini tapi ga sekelas sama kita”

“Emphhh.”

“Ayo lah Fy, please” Mohon Sivia. Sebenarnya Ify males banget berhubungan dengan benda bulat dan ring basket. Tapi ia juga ga tega melihat Sivia memelas, dia tidak ingin membuat teman barunya kecewa.

“Tapi lo nyamper gue ya? Gue takut nyasar, heehe” Ucap Ify.

“Oke dech.”

Pak Joe pun datang. Pelajaran sejarah 2jam! Ify dan Sivia udah mule melek merem mendengarkan penjelasan pak Joe. Pelajaran pak joe berakhir, dan di sambut dengan pelajaran
bu Oki, pelajaran B.Indonesia. Bu Oki menjelaskan tentang biografi Ir.
Soekarno, lalu beralih ke hikayat dan tentang novel.

Teeeeeetttttettttttttetttttt

Akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Deva, Ray, dan Ozy segera meluncur ke kantin. Begitu pula dengan Ify dan Sivia.

@Kantin

“Kak, nanti lo pulang sendiri ya? Gue ada urusan!” ucap Deva saat bertemu Ify di kantin.

“Hah? Lo saraf ya? Kalo gue nyasar gimana?”

“naik taksi kali kak…”

“Lo mau kemana sich?”

“Ada dech. Bilang mamah ya kak, gue pulang telat!”

“Ogah! Lo kan bawa HP! Bilang aja sendiri! Weksz” Ucap Ify sambil menjulurkan lidahnya. Ify lalu pergi dari hadapan deva, dan mencari tempat duduk bersama Sivia.

“Tadi adik lo?”

“iya, kenapa?”

“Hahaha, lucu ya?”

“Lucu apanya? RESE iya!”

@ Gerbang Sekolah

Ify masih setia menunggu taksi lewat. Tapi tak satupun taksi yang berlalu lalang di hadapannya. Deva udah pulang bersama Ray dan Ozy. Sivia pulang sekolah langsung
kumpul sama anak basket. Kini benar-benar tinggal Ify seorang yang ada di
sekolah. Ify akhirnya memutuskan untuk jalan kaki.

Ify melihat kios majalah di emperan. Ia tertarik untuk melihat-lihat majalah di kios tersebut.

“Cari majalah apa neng?” Tanya si penjual kios pada Ify.

“Majalah bobo nya satu mang”

“Ini neng” ucap penjual kios sambil menyodorkan majalah Bobo.

“Makasih mang” Ify mengambil majalah Bobo dari tangan penjual kios lalu menyodorkan uang 20ribuan.

“Kembaliannya ambil aja mang”

“wah makasih neng’

Ify kemudian melanjutkan jalannya.

“Nguengggg” sebuah cagiva merah melintas dengan cepat, dan menyerempet tubuh Ify alhasil ify terjatuh ke dalam kubangan air. Rok OSIS nya berubah menjadi warna coklat. Si pemilik Cagiva pun akhirnya menepikan
caginyanya dan membuka kaca fullfacenya.

“Sorry, lo gak pa-pa?” Tanya cowo Cagiva tersebut.

“gak pa-pa pala lo peyang! Liat nich!! Rok gue jadi kotor” Sewot Ify. Cowo tersebut lalu menaiki cagivanya dan berkata…

“Cepetan naik, gue anterin lo pulang” Ify melotot, ia tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran cowo cagiva tersebut.

“cepetan naik!!” Seru cowo tersebut. Tapi Ify tetep keukeh diam di tempat. Akhirnya cowo cagiva tersebut turun dari cagivanya dan menggendong tubuh Ify, Ify meronta tak mau. Tapi cowo cagiva tersebut tetep
menggendong Ify dan menaruh Ify di Cagivanya.

“Pegangan!” Seru cowo cagiva.

“Ga mau!” Ucap Ify tak kalah seru. Cowo tersebut menarik gasnya dengan kencang, Ify spontan melingkarkan tangannya ke perut cowo tersebut.

Sesaimpainya di rumah Ify….

“Sorry, tadi gue ga sengaja” Kata cowo tersebut meminta maaf.

“Hmm… udah sana lo pergi!”usir Ify. Ify kemudian masuk ke dalam rumahnya. Setelah Ify menghilang dari hadapannya, cowo tersebut lalu tancap gas.

@ Rumah Ify

“Ya ampun Ify!!! Kok roknya dekil gto? Deva nya mana?” Tanya mamahnya Ify.

“Gara-gara Deva! Deva pulang telat, jadi Ify pulang jalan kaki, eh pas di jalan di sruduk ama cowo rese!”

“tapi kamu gak pa-pa kan Fy? Ada yang lecet ga?”

“Aduh mamah……. Ify gak kenapa-kenapa kok, be calm okay moms?”

“Syukur dech, ya udah sana cepetan kamu bersehin badan kamu”

Ify segera masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.

@ Kamar Ify

From : 081*********

Nanti gue jemput lo. Sivia

*

To : 081*********

Jam berapa?

*

Ify men-save nomer Sivia.

From : Sivia

4 sore

*

To : Sivia

Ok

Diliriknya jam berbentuk kepala mickey mouse yang bertengger manis di meja belajar Ify. 15.30 WIB. Ify segera mengganti pakaiannya lalu berpamitan kepada mamahnya.

“mah Ify mau main”

“Jangan pulang kemaleman ya Fy? Ngomong-ngomong Deva kok belum pulang?”

“Deva di rumah RAY kok mah, tenang aja mah, rumah RAY di sekitar sini juga kok”

“Ohhh, syukur dech”

Sivia akhirnya tiba di rumah Ify. Mereka berdua pun segera meluncur ke lapangan basket di komplek mereka. Sesampainya disana, sudah ada cewe dengan rambut di
kucir satu dan deker NIKE abu abu di tangan kanannya.

“Via, sini!” Ucap cewe rada tomboy tersebut sambil melambaikan tangannya kea rah Sivia.

“Hai Ag, kenalin ni temen gue namanya Ify.”

“Ify”

“Agni” mereka pun berjabat tangan. Tak berapa lama datangnlah gerombolan cowo basket dengan Cagivanya masing-masing. Ify setengah tak percaya.

‘Dia? Pasti bukan dia! Jangan sampe cowo yang nyerempet gue’ Batin Ify. 3 cowo tersebut membuka fullfacenya. Ify dan cowo Cagiva merah tersebut sontak kaget.

“Lo lagi!!! Sial banget hidup gue! Ketemu lo lagi lo lagi!! Dasar cowo rese” Omel Ify pada cowo cagiva yang menyerempatnya tadi siang.

‘Gila ni cewe manis banget’ pikir cowo cagiva yang menyerempet Ify.

“ikh lo budek ya!!! Minta maaf kek!! Lo tuh Cuma bilang sorry!! Tapi lo ga tau kan betapa sakitnya pantat gue harus mendarat di aspal berlubang yanga ada genangan airnya!”

“tadi kan gue udah minta maaf!” ucap cowo tersebut pada Ify.

Hmmm kira kira siapa ya cowo nya?

‘gue bakalan lupain dia kok’
“Lo udah kenal dia Fy?” Tanya Sivia heran.

“Belum!! Yang gue tau, dia itu cowo rese, nyebelin yang udah nyerempet gue tadi siang”

“Hah? Lo nyerempet nich cewe Yo?” Tanya salah satu teman cowo cagiva tersebut. (wkwkwk kan semuanya naik cagiva ya? >.<)

“Ga sengaja Cak, hehehe” jawab cowo Cagiva merah tersebut yang bernama Rio.

“Parah lo yo? Minta maaf ke’” Sambung Gabriel teman Cakka dan Rio.

“gue udah minta maaf kok” Ucap Rio ga ngerasa bersalah. Ify mendelik, matanya seakan mau keluar dari tempatnya (aduh serem dech, hahaha).

“Ag, Vi, gue balik ya udah sore” Ucap Ify.

“Yahhh Fy, kita kan baru mau mule latihan basketnya” Ucap Sivia lesu.

“Gue mau pulang, mau nyuci rok OSIS, tuh cowo ga mau bertanggung jawab nyuciin rok gue!”

“hahahaha” Cakka tertawa puas. Rio memelototi Cakka yang sedang tertawa, Gabriel menyikut perut Cakka. Cakka akhirnya mengerem tawanya.

“perlu gue anter?” Tanya Rio. Ify menatap sinis. Tapi yang di tatap malah cengo sambil senyam senyum tak karuan.

‘Ya Tuhan, ni cewe biar kata galak tapi manis banget’ batin rio sambil menatap wajah Ify. Ify risih dengan tatapan Rio.

“heh!! Ngapain lo liatin gue kaya gto!!!????” Sewot Ify.

“Mau gue anterin pulang ga?” Tanya Rio.

“GA PERLU!!!”

Cakka yang berusaha menahan tawanya, akhirnya ngakak lepas.

“gue pulang duluan ya Ag, Vi.”

“Ati-ati Fy” Ucap Agni dan Via bebarengan.

“Bye kak Iel, bye kak Cakka”

“Bye Ify” Ucap Cakka dan Agni kompak.

“Kok gue engga?” celetuk Rio. Ify hanya menjulurkan lidahnya. Ify akhirnya terpaksa pulang jalan kaki.

“Gila tuh cewe, manis banget!” gumam Rio.

“Aduh kayaknya ada yang lagi fall in love dech” ledek cakka.

“Dea cs aja klepek-klepek liat pesona gue, lha nich cewe malah engga, aneh banget?”

“Berarti matanya Ify ga buta kaya Dea cs yo!” celetuk Gabriel

“Hahahahaha” Agni dan Sivia tertawa puas

@rumah Ify

Sudah jam 7 malem, tapi Deva belum pulang juga. Mamah nya jadi khawatir kalo Deva kesasar.

“Ify, jemput Deva di rumah ray donk sayang”

“Iya dech mah. Tapi ada ongkos jalannya”

“Ya elahhh Fy, sama mamah sendiri masa pke perhitungan segala”

“Di dunia ini ga ada yang gratis mah, hehehe”

“Ya udah, besok mamah yang jemput kamu pulang trus kita makan di J.CO”

“nah gto donk mah, hahaha, Ify pergi dulu ya mah”

“Lho Fy?? Ga bawa mobil?”

“Ikh mamah udah mau jadi nenek nich, mobilnya khan di bawa Deva, ya Ify jalan kaki mah”

“Owh iya, mamah lupa, heheh maklum Ify udah mau masuk kepala 4”

Ify akhirnya menjemput Deva di rumah Ray. Dia mencoba mengingat alamat rumah Ray, yang pernah Deva kasih.

“Blok H.41” Ucap Ify lirih. Ify memberanikan diri mengetuk pintu.

Toktoktoktoktok….

Tak ada orang yang membukakan pintu.

‘apa gue salah rumah ya?’ Batin Ify. Tapi Ify tetap mengetuk pintu. Ify mengetuk pintu sambil melihat ke arah belakang, dia takut kalo ada setan di
belakangnya.

Toktoktoktoktok

Tiba tiba……..

“Awwww” Seru seseorang sambil memegangi hidungnya. Rupanya, Ify ga sadar, kalo pintu yang ia ketuk sudah di buka dan ia mengetuk hidung seseorang.

“Maaf” Ucap Ify meminta maaf sambil menunduk.

“Lo cari siapa?” Tanya orang tersebut sambil mengelu-elus hidungnya. Ify memberanikan diri untuk menatap wajahnya.

“Hah lo lagi! Emang sial hidup gue ketemu lo mulu!” Kesal Ify saat mengetahui orang yang di hadapannya adalah Rio.

“Ify? Cari siapa lo? Atau lo kangen sama gue?” Tanya Rio PD.

“GR lo! Gue cari rumah Ray tau! Tapi kayaknya gue, nyasar dech!”

“Hahaha.. lo emang nyasar!! Rumah Ray tuh yang depan!” ucap Rio sambil menunjuk ke rumah di depannya.

“Ya udah dech gue ke rumah Ray. Makasih”

Ify akhirnya mengetuk pintu rumah yang dimaksud oleh Rio.

Toktoktoktoktok

Tapi yang muncul malah Cakka.

“Ify?”

“hah?? Kak Cakka?”

“Lo cari siapa Fy?”

“cari rumah Ray. Aduhhh gue salah rumah lagi dech kayaknya! Sialan dech kak Rio! Jangan-jangan gue di kibulin” Gerutu Ify kesal.

“hahaha, Rio ga ngibul kok, Ray itu adek gue. Ngomong-ngomong ngapain lo nyariin Ray? Lo ga lagi naksir adek gue khan?”

“Deva disini ga?” Tanya Ify ga nyambung.

“deva?” Cakka mengernyitkan dahinya dan berfikir sejenak.

“Iya Deva. Deva itu adek gue. Katanya, pulang sekolah dia mau main tempat Ray”

“Owhhh, ada tuh di dalem, masuk aja gih”

Cakka mengantarkan Ify ke kamar Ray. Deva sedang asyik bermain PS bersama Ray. Ozy malah udah ngebo (maksudnya tidur).

“Dev, dicari kakak lo tuh” Ucap Cakka. Deva lalu menoleh ke arah Ify. Ify berkacak pinggang dengan sungut di kepalanya.

“Ozyyy bangun zyyy” Bisik Deva.

“Hmmm apaan Dev?” Ucap Ozy setengah sadar.

“udah malem, pulang yuck”

“Ya elah, gue lagi enak tidur nich. Lo main aja sama Ray”

“gue di jemput monster”

“mana monsternya Dev” Seru ozy saat mendengar deva menyebut kata MONSTER.

“DEVAAAAAAA!!!!” Seru Ify lalu menjewer telinga Deva.

“Aduh ampun kak” Ucap Deva sambil meringis kesakitan.

“Gue pamit pulang dulu kak, maaf udah ngerepotin. Pulang dulu ya Ray”

“Ati-ati” Ucap Ray dan Cakka hampir bebarengan.

“Eh tunggu bentar” uCap Ify.

“Ada apa lagi Fy?”

“Adek lo gondrong?”

“iya, emang kenapa?” Ify menatap Ray lekat-lekat. Ray cengo.

“Kalo deva nakal, lo bilang gue ya?”

“Hahaha sip kak!”

“sialan lu kak!” celetuk Deva.

“Bye Ray, bye kak Cakka”

@Mobil.

“Kak, gue aja napa yang bawa mobilnya?”

“Lo bawel amadh si Dev, tinggal duduk manis juga.”

“Groookkk” Ozy ngorok di Jok belakang.

“Rumah Ozy dimana Dev?”

“Kebon Jeruk?”

“Hah? Demi apa?”

“Demilovato!?”

“DEVA!!! Gue serius!!!”

“Gue juga serius kak!!”

Akhirnya Ify mau ga mau nganterin Ozy dulu ke rumahnya. Jam setengah 10, Ify dan Deva baru tiba di rumahnya. Mamah dan papah Deva sudah menunggu di teras rumah.

Blablablablablabla…………….

Deva di marahin abis-abisan sama ortunya. Udah kaya perang dunia dech. Hahaha lebay!

“Makanya mah, Deva di beliin PS3 biar ga kluyuran kemana-mana” celetuk Ify.

“Tumben lo bela gue, kak”

“Kalo lo ilang kaya tdai, yang repot juga gue!”

“berarti lo ga ikhlas donk bela gue.nya?”

“May be yes may be no”

“IFYYYY!!!!!!!!!!!!” Seru mamah Ify saat memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar Ify. Ify teringat sesuatu, dia langsung berlari menuju kamarnya.

“Ify!! Ini apa? Mamahkan tadi bilang suruh di cuci roknya!” Omel mamah Ify saat mendapati rok OSIS Ify yang ternyata belum Ify cuci.

“Aduh mah, Ify tadi lupa”

“Pokoknya mamah ga mau tau!! Kamu yang harus nyuci nich rok!”


***

@kantin

“Fy, itu bungkusan apaan?” Tanya Sivia penasaran dengan bungkusan yang Ify bawa.

“Kado” singkat Ify.

“Buat siapa?” Tanya Agni ikut penasaran.

“Kak Rio” Agni dan Sivia saling berpandangan.

“Ga salah Fy?” Ucap mereka bebarengan. Ify hanya geleng kepala sambil tersenyum. Tak berapa lama, Rio cs pun datang.

“Kak rio” sapa Ify sambil memberikan senyum termanisnya.

“Ga salah Fy, lo nyapa Rio?” Tanya Cakka berasa aneh. Ify hanya menggeleng.

“Nih kak kado buat lo” Ucap Ify sambil menyodorkan bingkisan yang di bungkus rapi dengan kertas kado berventuk hati. Gabriel, Cakka, sivia, dan Agni melongo.

“Apaan nich?” Tanya Rio penasaran.

“Buka aja sendiri” Rio lalu membuka bingkisan yang Ify kasih dengan semangat ’45!

“Hah? Ini kan rok OSIS?” Tanya rio, saat mengetahui isi bingkisan tersebut adalah rok OSIS yang kotor.

“emang lo kira apaan kak? Pokoknya lo harus nyuci rok gue sampe bersih dan wangi!!!”

“Hahahahhahaha” Cakka, Gabriel, Sivia, dan Agni tertawa ngakak.
@Kelas XI.IPA.4

“Fy, sabtu besok kita kemah” Ucap Sivia.

“Hah? Dalam rangka apaan emangnya pake ada kemah sgala?”

“Hari pramuka dodol!!!” Ucap Agni sambil menonyor kepala Ify.

“Owhh, semua siswa ikut kemah?”

“Engga kok, siswa nya dipilih.” Jawab Sivia

“Alhamdulillah” Ucap Ify sambil mengelus dada.

“Lho emang kenapa Fy?”

“itu artinya, kemungkinan besar gue ga kepilih. Hahaha”

“Eitttsss kata siapa? Lo masuk dalam daftar kemah fy!” Seru Agni. Ify ngangap.

“hah?? Kok bisa?” Agni hanya mengedikkan bahunya.

@Rumah Ify

“Kak, lo kepilih ikut kemah ya?”

“Iya nich RESE bgt!”

“Hahaha, gue sich engga kemah kak.”

“Iya lo emang ga kemah minggu ini, tapi minggu depan lo kemah 3hari!!! Sukur!!! Gue sich Cuma semalem wekz”

“Biarin!!”

“Ify, kamu yakin mau ikut kemah?” Tanya mamah Ify sedikit khawatir. Ify menatap lekat-lekat mata mamahnya.

“Kali ini mah” mamahnya lalu tersenyum.

@kamar Ify.

“Kak, gue bleh masuk?”

“Masuk aja Dev” Deva lalu mengambil posisi di kasur Ify.

“Kak, gue seneng banget dech. Sejak kita pindah rumah. Sikap lo jadi membaik. Lo ga cuek, lo ga murung.” Ify, yang sedang duduk di kursi belajarnya, lalu bangkit dan menyebelahi Deva.

“Yang lalu ya biarin berlalu, kan lo sendiri yang bilang Dev”

“Tapi….” Deva menggantungkan kata-katanya.

“Gue kan pernah bilang ke elo Dev, biarkan suatu saat nanti gue melupakannya. Bukan berarti gue sengaja melupakannya, tapi lupa dengan sendirinya”

“Iya dech. Kak, tapi apa lo ga kangen sama Dia?” (aduh aku penasaran juga, pengen di bongkar, tapi nanti ga seru. Tapi gue yakin yang baca pasti udah ngerti. Hahha).

“Kadang gue Tanya sama diri gue sendiri, dia lagi ngapain disana?”

“Lo ga cari pengganti dia kak?”

“kalo gue bisa nunggu, gue bakal nunggu”

“Kak, tapi kan…” (ya elah si Deva ngomongnya di gantung mulu).

“Iya gue ngerti. Dia emang pernah bilang, kalo dia ga balik selama waktu 2 bulan…” Ify menarik napas sejenak. “Kalo dalam waktu 2 bulan dia ga balik, berarti gue boleh cari cowo laen”

“sekarang gue taya, menurut lo, status lo sekarang apaan?”

“gue anggep, gue dan dia udah putus”

“Lo yakin kak udah nganggep DIA putus”

“Ini udah setahun lebih Dev, emang siapa juga yang mau di gantungin kaya gini”

“Terserah lo aja dech kak, gue dukung lo aja. Asal lo bisa balik kaya kakak gue yang gue kenal dulu”

“Kak, boleh nanya ga?”

“apaan?”

“Gue denger-denger lo ga ikut basket ya? Terus gue perhatiin, lo ga pernah main piano lagi dech kak?”

“Lo Tanya, tapi lo sendiri udah tau jawabannya”

“Kak, lo tuh munafik tau ga”

“Let it flow, Dev”

“Huaohmmmm” Ify menguap. Deva tau itu hanya alibi kakaknya, biar dirinya cepat kluar dari kamarnya.

“gue ngantuk Dev mau tidur, dilanjut besok”

“Alibi lo!!”

“Hahahaha” Ify tertawa. deva akhirnya kluar dari kamar Ify.

Ify menatap kaktus-kaktus yang ia letakkan di pinggir jendela kamarnya.

‘Gue emang bukan kaktus yang kuat. Yang mampu bertahan di panasnya terik matahari. Gue Cuma duri kaktus yang lemah’ Batin Ify.

Terlalu banya kenangan yang tidak pernah bisa ia lupakan. Ify berjalan mendekati piano di kamarnya. Ia tarik kursi kecil, lalu memposisikan duduknya senyaman mungkin.
Dengan ragu, Ify memencet salah satu tuts pada keyboard tersebut. Ify menarik
napas dalam-dalam, dengan keyakinan penuh jemarinya memainkan sebuah lagu
melankolis yang sudah lama tak ia mainkan.

I can't remember when you weren't there

When I didn't care for anyone but you

I swear we've been through everything there is

Can't imagine anything we've missed

Can't imagine anything the two of us can't do


Through the years

You've never let me down

You turned my life around


The sweetest days I've found

I've found with you

Through the years

I've never been afraid

I've loved the life we've made

And I'm so glad I've stayed

Right here with you

Through the years

I can't remember what I used to do

Who I trusted whom, I listened to before

I swear you've taught me everything I know

Can't imagine needing someone so

But through the years it seems to me

I need you more and more

Through the years

Through all the good and bad

I know how much we had

I've always been so glad

To be with you

Through the years

It's better everyday

You've kissed my tears away

As long as it's okay

I'll stay with you

Through the years


Deva yang mendengar dari kamarnya sontak kaget saat mendengar alunan lagu Through The Years dari arah kamar kakaknya. Ia keluar kamar dan menuju kamar Ify, untuk memastikan bahwa kakaknya lah yang benar-benar bermain piano. Pintu kamar Ify tak terkunci, ia mengintip sedikit. Teranyata kakaynya yang benar-benar memainkan lagu tersebut.
Deva tak berani bertanya banyak tentang permainan piano Ify yang semalem.

“Dev, sorry yak lo semalem lo ke ganggu”

“Hah? Maksud kakak?”

“Semalem kan gue main piano. Sorry ya kalo lo ke ganggu”

“Gak pa-pa kak, gue seneng dengernya.” Deva menatap Ify, ia memperhatikan mata Ify.

“tenang dev, gue ga nangis kok”

“Syukur dech…”

“Udah yuck berangkat, gue yang bawa mobil ya dev”

“Lo yakin kak udah mau bawa mobil lagi?”

“Lo pikun ya? Waktu nganter Ozy pulang, siapa yang bawa tuh mobil kalo bukan gue?”

“Owh ya, hahaha”

@Kelas X-7

“Dev, ngelamun aja lo” Seru Ozy.

“Eh lo Zy, Ray mana”

“Mana gue tau. Lo ngelamunin apaan sich?”

“woy brooo” Sapa Ray yang baru datang.

“Eh Dev, tadi lo ngelamun apaan?” Ozy mengulangi perkataannya.

“kakak gue”

“hah? Kakak loe?” Tanya Ray penasaran.

“Sikap kakak gue udah sedikit balik, dia udah mule ceria”

“Emang tadinya gimna Dev?” Tanya Ozy ikut penasaran.

“Dulu sikap kakak gue tuh ceria banget, bawel, tapi karna sesuatu hal sikapnya berubah, dia jadi murung jarang ngomong,tapi sekarang sikapnya udah sedikit ceria lagi” Deva menjelaskan tentang sikap kakaknya yang berubah, tapi ia tidak menjelaskan alasannya. Ozy dan Ray manggut-manggut.

@Kantin

“Nich rok OSIS lo udah gue cuci!” Ucap Rio sambil melempar Rok OSIS ke arah Ify. Dengan sigap Ify menangkapnya dan menjembrengnya.

“Rajin juga lo kak nyuci rok gue, hahahaa”

“Cieeee ada yang udah damai nich?” Ledek Gabriel.

“Idih dame!!! Siapa bilang? Ogah gue dame sama cowo rese kaya dia!” sewot Ify.

“yah Fy, kok lo gto bgt sich? Kan gue udah nyuci rok lo” Ucap Rio sok memelas.

“Udah Fy, maafin aja si Rio napa. Kasihan tuh mukanya kaya baju belum di setrika” Goda Cakka sambil cekikikan.

“Yeee emang klo lo udah nyuci rok gue, kita dame? Ga ada dalem kamus gue tuh kak, wekz” Ucap Ify pada Rio. Rio manyun kaya Donald duck. Ify kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk memesan es jeruk.

Di sisi lain….

“De, tuh murid baru yang tempo hari gue certain ke elo” ucap salah seorang teman Dea yang bernama Zevana.

“Owhh, jadi dia yang udah ngebuat cowo gue berpaling”

“Samperin aja De”

“Gue bakal buat perhitungan ma tuh cewe”

Ify membawa es jeruknya dan berjalan menghampiri teman-temannya dan Rio cs. Dea datang dan menyenggol tangan Ify, reflek es yang di pegang Ify menumpahi baju Dea.

“Lo buta ya? Jalan pake mata donk!! Liat nich baju gue jadi kotor” Sewot Dea.

“Dimana-mana jalan itu ya pake kaki, kalo liat pake mata” Ucap Ify santai. (padahal Ify kesal banget, cz Dea menabraknya dengan sengaja).

“Lo ngajak ribut ya!!!?”

“Gue sebenernya malas ribut sama lo!! Tapi lo duluan yang cari masalah. Lo duluan yang DENGAN sengaja nyenggol tangan gue!!” ada penekanan saat Ify mengatakan dengan. Dea merebut es jeruk yang ada di tangan Ify dan menyiramnya dari atas kepala Ify (waduh!!! Ifynya berasa kaya taneman aja). Rio cs dan Ify cs, Cuma menatap kesal saat Dea menyiram Ify. Rio langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Lo gila ya De!!!!” bentak Rio.

“Lo yang gila Yo!!! Cuma gara-gara ni cewe lo mutusin gue!!!”

Dea dan Rio akhirnya saling cekcok sendiri. Ify lalu mengambil semangkuk bakso milik Cakka dan menyiramnya ke baju Dea.

“Makan tuh bakso!” Ucap Ify dengan nada tinggi sambil menyiram bakso ke arah Dea. Semua yang ada di kantin sontak melihat ke arah Ify dan Dea. Sivia, Agni, Cakka, Gabriel, dan Rio menatap heran ke arah Ify. Menatap tak percaya.

“Makasih kak buat siraman es jeruknya!! Gue seneng banget!!” Ucap Ify kesal.

“RESE lo!!! Baju gue jadi kotor!!!”

“Lo cuci aja sendiri!! Klo lo males! Lo bawa aja tuh seragam lo ke Laundry! Bukan Cuma baju lo yang kotor!! Baju gue juga kotor!!!”

“Awas lo!!! Gue bakal buat perhitungan dengan lo!!!” Ucap Dea sambil mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Ify. Dea lalu pergi meninggalkan kantin.

“Gila Fy, lo nekat banget!! Lo tau ga? Kak Dea itu cewe yang paling ditakutin! Lo orang pertama yang berani ngelawan dia” Ucap sivia, seakan salut dengan keberanian Ify.

“Bodo amadh!!!’ Ucap Ify cuek.

“Fy, lo mau pulang ga?” Tanya Rio dengan wajah sedikit bersalah.

“ya iyalah gue mesti pulang! Gila aja! Baju gue kotor gini!! RESE bgt tuh cewe!”

“Hahahah, sabar aja fy. Maklum aja dia marah sama lo, secara diakan mantannya Rio.” Celetuk Gabriel. Rio mendelik ke arah Gabriel.

“so what? Apa urusannya sama gue coba!!! Udah akh gue mau pulang!!!”

Ify izin pulang. Rio mengantar Ify pulang. Sempet berantem dulu, karna Ify ga mau di anter pulang sama Rio. Tapi Deva ga bisa nganterin kakaknya pulang karna ada ulangan sejarah.

@Mobil

“sorry ya Fy…” Ucap Rio pelan.

“Hidup gue kena malapetaka kalo deket lo trus kak!”

“kan gue udah minta maaf fy”

“Lo putusin tuh kuntilanak kenapa sich?”

“Hahahha kuntilanak? Hahaha”

“Gue Tanya kak!! Lo malah ketawa!”

“Udah ga cocok Fy. Dia manja banget”

“trus apa hubungannya sama gue?”

“Mungkin dia tau kali, kalo gue suka sama elo” ceplos Rio.

“Ga lucu!! Gue Tanya serius!!” Rio menepikan mobilnya di dekat pedagang es kaki lima.

“Ngapain kita berhenti disini kak? Lo kan mesti balik ke sekolah”

Rio menatap mata Ify dalam-dalam. Ify menelan ludah. Dag-dig-dug detak jantung Ify tak beraturan.

“gue putus sama Dea, karna sikap Dea terlalu protektif. Gue dikekang ga boleh ini itu, apa yang dia minta gue harus turutin, gue harus selalu ada kapanpun Dea mau”

“Truuu..uussss apa hubungannya sama gue?” Ucap Ify gelagapan. Rio masih menatap ke Ify. Sejenak ia menarik napas, lalu menjawab pertanyaan Ify.

“Gue suka sama lo Fy, mungkin dea tau kalo gue suka sama lo”

“Kak, becandaan lo ga lucu”

“Gue ga becanda Fy, gue serius” Ify mengalihkan pandangannya dari Rio. Rio memutar wajah Ify. Rio menatap Ify lekat-lekat, membuat Ify kikuk.

“Gue suka sama lo, Fy. Kalo waktu itu gue ga nabrak lo, kalo waktu itu gue ga ketemu lo di lapangan basket, kalo waktu itu lo ga nyasar ke rumah gue, gue ga mungkin kenal dan suka sama lo. Lo cewe pertama yang bersikap cuek ke gue. Lo juga cewe pertama yang berani nyuruh gue nyuci Rok.” Ify tak ingin mendengar penjelasan Rio lebih banyak lagi. Ify menepis tangan Rio yang sedari tadi memegang pipi Ify.

“Baju gue kotor! Gue mau pulang!! Cepetan jalan!!”

Rio akhirnya mengantar Ify pulang. Sepanjang perjalanan mereka berdua diam seribu bahasa. Mereka berdua asyik menikmatipikiran mereka yang sedang kacau.

“Makasih kak udah anterin gue balik”

“Segali lagi sorry buat yang tadi. Gue balik Fy”

Rio segera tancap gas balik ke sekolah.
@Kamar Deva

“Tadi lo pulang kenapa kak?” Tanya Deva pada kakaknya yang sedang duduk di kasurnya.

“Baju gue kotor”

“Kok bisa?”

“Huwahahaha. Lo mau denger ceritanya ga?”

“Akhh lo banyak cingcong kak! Cepetan cerita kak! Gue penasaran”

“Jadi tuh kak Dea itu mantannya kak Rio dia jealous sama gue dan blablablabla” Ify menjelaskan kejadiannya. Tapi Ify tidak menceritakan tentang Rio yang menyatakan rasa sukanya.

“huwahahaha… Tapi gue bingung, kok lo berani ngelawan kak Dea sich?”

“Gue gregetan! Masa iya sich, gue harus terima di siksa di muka umum! Gue bales aja tuh si Kuntilanak , biar gue ga tengsin juga” (maaf ya Dealova, this is just story)

“Hahahaha, salut dech gue sama elo, kak”

***

Jum’at!

“hai kak,” sapa Ify saat melihat sosok Rio di kelasnya.

“Eh, empbh lo Fy” Kata Rio sedikit gugup.

“Thanks buat yang kemarin ya kak udah mau jadi sopir gue, hehehe”

“Hehehe” Rio hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

‘Ify udah lupa sama yang kemarin gue bilangin? Tapi syukur dech dia ga ngejauhin and ga ngebenci gue’ Pikir Rio.

***

Tiba juga hari Sabtu! Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi Ify sudah bangun dan sudah rapi. Ia menenteng kayu bakar dan menggendon ransel.

“Jaga diri kamu ya Fy, jangan sampe telat makan. obat maag udah di bawa? Obat Asma ga ketinggalan kan? Aduh Fy, mamah khawatir banget” cerocos mamah Ify.

“Iya mah, udah semua kok.”

Tak lama kemudian, Rio bersama cagiva merahnya tiba di rumah Ify. Deva yang udah ikutan bangun, sontak berlari dari lantai 2 kamarnya.

“Kak Ify!!!” Jerit deva sambil menuruni anak tangga. “iPod lo ketinggalan”

“Thanks ya Dev”

“Mah, Ify pergi dulu ya?” Pamit Ify.

“Rio sama Ify pergi dulu tante” Pamit Rio sambil tersenyum ramah.

“Nak Rio, tante titip Ify ya. Kalo Ify kenapa-kenapa langsung hubungin tante.”

“mamahhhhh” gerutu Ify.

“Ya ampun mamah lupa, Ify kan ga boleh bawa HP. Trus gimana mamah ngehubungin kamu Fy?” cerocos mamah Ify masih dengan kepanikannya.

“Aduh mah, baru juga pergi kemah. Cuma semalem mah. Please dech ga usah khawatir banget” Rio Cuma tersenyum manis. Deva yang ngeliat mamahnya khawatir banget jadi cekikikan.

“Kak Rio, gue titip my sister ya! Jagain dia. Sorry kak, kalo mamah gue terlalu cerewet, secara kak Ify itu ga pernah kemah sebelumnya. Hahahaa”

“Oke dev” Ucap Rio sambil mengacungkan jempolnya ke arah Deva. “Pergi dulu tante” lanjut Rio.

***

Sivia duduk dengan Gabriel, lagi di panah asrama sich jadinya pengen berduan mulu.hahaha. Agni duduk dengan Ify. Katanya sich biar Ify ga di tempeleng sama Dea, kalo Ify duduk sama Rio kan bahaya 12! (nah lho apaan dech nich bahaya 12? Hahaha). Padahal, Agni pengen banget duduk sama Cakka, tapi demi Ify demi sahabatnya, jadi Agni ikhlas ga duduk sebelahan sama Cakka.

“Liat aja tuh anak, bakal habis kali ini” Bisik dea kepada Zevana.

@Perkemahan

“Ayo semuanya kumpul! Sekarang waktunya pasang tenda. Jam 12 kita istirahat, jam 1 kita kumpul disini buat hiking dan halang rintang, kalian mengerti?” Jelas Pak Joe.

“Iya pakkk” Jawab murid murid serempak.

Ify setenda dengan Agni dan Sivia. Mereka sedang sibuk memasang tenda.

“Putus asa gue!” Kata Agni kesal.

“Huwaaaaaa Cape!!!!!” seru Ify, yang kemudian ambil posisi duduk.

“alamak, kayaknya Cuma tenda kita doank dech yang ga jadi-jadi. Aduh masa kita tidur ga pke tenda” Keluh sivia karna tenda yang di pasang ga kelar-kelar.

“Dasar anak bawang! Masang tenda aja ga bisa!” Ketus Dea yang melintas di depan Ify.

“Yeee, sirik aja lo kak” Celetuk Ify sambil mentap sinis ke arah Dea.

“Heh lo!!! Gue bakal buat perhitungan sama lo!!!!” Ucap Dea lalu meninggalkan Ify cs. Dea kemudian memasuki tendanya yang sudah jadi. Ada pandangan iri dari Ify cs saat melihat tenda Dea sudah dapat berdiri.

“Bruuukkkk”

“Aaaaaaa” Jerit Dea yang berada di dalam tendanya.

“Kyaa huwahahahhaaa” semua anak yang ada di TKP (bhaaa bahasa gue TKP, kaya apaan aja, ckckck) langsung tertawa ngakak saat melihat tenda Dea ambruk! Hahahahaa. Dea keluar dari tendanya dengan keadaan kucel, rambutnya berantakan kaya benang kusut. Ify dengan jail mendekati Dea yang lagi manyun.

“Huwahahaha muke lo kak? Busyet!! Mirip siamang” Celetuk Ify. Anak-anak yang mendengarnya pun ikut tertawa. Zevana yang berusaha nahan tawanya akhirnya tertawa lepas juga.

“Hahahahaha”

“Sialan lo Fy!! liat aja lo!!” Ancam dea. “Lo lagi Zev! Tolongin gue ke’!!!” Kesal dea.

Rio cs pun tertawa. Cakka ketawa sampe guling-guling. Bener-bener ngakak waktu liat tendanya Dea ambruk.

“Eh kak!! Jangan ketawa aja! Bantuin kita pasang tenda napa!” Ucap Agni pada Cakka.

“gila!!! Lebih konyol dari OVJ” celetuk Gabriel yang masih tertawa juga.

Tadaaaaaa…… Tenda Ify cs akhirnya kelar juga berkat bantuan Rio cs. Waktu masih menunjukkan pukul 11 siang. Masih ada waktu istirahat 2 jam lagi. Gabriel mengajak sivia
jalan-jalan keliling perkemahan.

“Vi…”

“Siang gini udaranya masih seger ya?”

“Hmm Iya kak”

“Iya seseger muka lo. Mau pagi siang sore malem, muka lo tetep aja seger Vi. Bikin hati gue ikut seger” Gabriel mulai menggombal.

“bilang aja lo mau ngegombal kak”

“Hahahaha, ketauan dech”

“Kak… lo pernah pacaran?” Tanya Sivia. Gabriel yang emang punya kebiasaan jail, akhirnya mengetes Sivia melalui kejailannya.

“Pernah donk. sekarang aja gue itu sebenernya udah punya pacar, dan gue deketin lo itu buat jadi selingkuhan gue. Cewe-cewe diluar sana banyak yang ngejar-ngejar gue, gue pernah delapan.in cewe sekaligus” sivia membelalakan matanya. Bibirnya manyun. Air matanya berasa udah mau menetes saat mendengar pengakuan Gabriel.

“Huwahahahaa. Lo mau aja gue kibulin”

“Akh!! RESE lo kak!!!”

“Tapi kalo cewe-cewe disana pada ngejar-ngejar gue itu fakta”

“Narsis lo kak!”

“vi…”

“Hmmm”

“Gue suka sama lo, Cuma lo yang berhasil ngerampas hati gue” Sivia menatap mata Gabriel. Tak Nampak kebohongan dari mata Gabriel.

“Gue sayang sama lo. Gue pengen lo jadi cewe gue” Sivia tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

Di tempat lain…

“Fy, soal yang di mobil…” Ify mengernyitkan alisnya.

“Kenapa kak?”

“Gak pa-pa”

“Kak, gue mau Tanya. Kalo misalnya gue udah punya cowo, apa yang bakal lo lakuin? Lo bakal ngelepas gue apa lo tetep berjuang buat ngedapetin gue.”

“Kalo lo sayang sama cowo lo dan cowo lo juga sayang sama lo, gue bakal lepasin”

“Lo yakin kak bakal lepasin? Ga nyesel lo??”

“ya nyesel sich, tapi mau gimana lagi, kan lo nya udah punya cowo”

“Kenapa lo ga ngeyakinin gue biar gue bisa jatuh cinta sama lo kak”

“Cinta ga bisa di paksain Fy”

“pasrah amadh kata-kata lo kak, hahaha”

“Hahaha, udah akh Fy ganti topic. Oh ya fy, tadi Deva waktu pagi-pagi kok ngasih iPod ke lo, penting banget apa tuh iPod” Ify merogoh saku celananya dan mengeluarkan iPodnya.

“Lo mau tau kak?” Tanya Ify. Rio hanya mengangguk. Ify kemudian memasangkan salah satu headset ke telinganya dan satunya lagi ia pasangkan ke telinga Rio.

“Lo dengerin dech kak, lo pahamin setiap makna kata dari lagu itu” Ify menyetelkan lagu through The years. Mereka berdua saling diam, menikmati setiap alunan musikdi lagu tersebut.

“Keren banget Fy. pantes lo suka banget”

“hehehe.. kak, gue masuk ke tenda dulu ya?”

“Iya, ati-ati Fy, moga tendanya ga ambruk kaya punya si Dea”

“Hahaha, lo bisa aja kak”

@ Tenda Ify

“Agni!!!!! Lo mojok sama kak Cakka?” Tanya Ify saat melihat Agni yang sedang tiduran di dalem tenda sambil membaca novel.

“Kangen sich gue sama kak Cakka, tapi kak cakkanya lagi nyebelin. Alesannya banyak banget waktu gue ajak berduaan.”

“Lo nya terlalu agresif kali, hahahaa”

“Sialan lo Fy!!”

“Sivia mana?” Tak lama kemudian Sivia masuk ke dalem tenda sambil senyum-senyum.

“Dihh! Nape lo? Dateng dateng langsung senyam senyum?” Tanya Ify saat melihat tingkah Gaje Sivia. Agni tidak menghiraukannya.

“Gue jadian sama kak Gabriel” jelas Sivia sambil senyum. Agni yang lagi tiduran langsung bangun dan menaruh novelnya. Sivia menjelaskan panjang lebar.

Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Waktunya hiking dan haling rintang!
Seluruh siswa yang mengikuti kemah antusias mengikuti hiking. Jalan yang di tempunh bukan mendaki gunung. Melainkan sawah sungai, dll. Hahaha

“Aduh Rioooo tolongin gue donkk” Ucap Dea manja. Rio akhirnya nolongin Dea melewati sungai.

Ify masih berdiri di pinggir sungai, tatapannya kosong.

“Lo takut?” Tanya Rio membuyarkan lamunan Ify.

“Engga kok”

“Trus kenapa ga jalan malah bengong aja?” Ify hanya menggeleng. Rio berusaha memegangi Ify, tapi Ify melepasnya. Dea yang memperhatikan dari sebrang sungai tersenyum puas.

@Sawah

Kali ini seluruh pasukan kemah (halah berasa kaya pasukan benteng takeshi aja hahaha) berjalan melewati sawah. Sawahnya penuh lumpur, untuk mengangkat satu kaki aja beratnya naudzubillah
kaya dorong tronton. Tubuh seluruh siswa yang mengikuti kemah di penuhi lumpur.

“Hahaha, liat dech muka lo Ag, udah kaya bedakan lumpur” Ucap Sivia sambil tertawa. Ify yang sedari tadi diam akhirnya tertawa.

“Rioooooo… Tolongin gue donkkk” Seru Dea manja. Ify bersikap cuek.

“Lo manja banget sich!” Sewot rio.

“Ikhh lo kok gto sich? Tolongin gue kek” Rio akhirnya menolong Dea dan berjalan sambil menuntu Dea. Ify yang melihat Rio dengan Dea, lama-lama risih juga. Rasanya ingin menghilangkan sosok Dea dari hadapnnya
sekarang juga.

Ify dengan susah payah akhirnya berusaha jalan sendiri tanpa pertolongan siapapun. Melihat Rio dan Dea, tubuh Ify seakan memiliki kekuatan luar bisa ia sanggup berjalan
di lumpur. (secara kan lagi panas hati, hahaha). Ify melintasi Dea, Dea
menyenggol bahu Ify. Ify menatap Dea dengan geram lalu mendorong Dea secara
sengaja hingga terjatuh di lumpur.

“Rese lo Fy!!!” Ucap Dea kesal dengan wajah yang belepotan lumpur.

“Lo duluan yang nyenggol gue!” Ucap Ify tak kalah seru.

“Liat aja nanti, wekz” Ucap Ify sambil menjulurkan lidahnya. Rio yang sudah berjalan di depan terlebih dahulu, akhirnya berhenti dan menghampiri Ify dan Dea. Dea segera bangkit dari lumpur dan mendorong Ify. Ify
Cuma pasrah waktu di dorong. Rio yang melihat Dea mendorong Ify, langsung
kesal.

“DEA!!!! Lo apa-apaan sich??” kesal Rio saat melihat Dea mendorong Ify.

“Dia duluan yang dorong gue!!!”

“Lo kira gue buta!!! Gue liat pake mata gue sendiri, lo yang sengaja dorong Ify”

“Kenapa sich lo selalu bela dia? Lo suka?”

“Iya kalo gue suka kenapa? Apa ada yang salah ha??” Rio kemudian membantu Ify berdiri. “Ayo Fy, sini biar gue bantu”

Ify kemudian berdiri dan berjalan dengan di tuntun Rio. Rio dan Ify meninggalkan Dea yang masih diam di tempat. Ify menghadap Dea lalu menjulurkan lidahnya.

***

Setelah acara hiking selesai, seluruh murid di beri waktu untuk mandi dan istirahat. Karna malam harinya akan di adakan acara api unggun. Ify, Sivia, dan Agni
menuju kamar mandi yang sudah ada di perkemahan.

“Ayo Fy, cepetan!” Seru Agni.

“Bentar Ag” ify menggeledah isi tasnya. Sivia yang di luar tenda gregetan nunggu Ify yang ga keluar-keluar.

“Lo ngapain sich Fy? lama banget!!”

“Bentar Vi, gue lagi cari obat gue”

“Hah?? Obat apaan emangnya?”

“Asma”

“hello Alyssa Saufika Umari…. Kita mau mandi kali, ngapain bawa obat?”

“KETEMU!!!” seru Ify sambil mengeluarkan obat Asma nya dan menaruhnya di dalam saku celananya.

“Hello Via sayangggg… cuacanya tuh udah mule dingin, idung gue udah mule FLU. Ga ada salahnya khan kalo gue jaga-jaga.”

“Aduh!!! Lo berdua lama banget tau ga? Cepetan donk, badan gue risih bgt nich, emang lo berdua ga risih apa badan penuh lumpur gto?”

Ify, Sivia, dan Agni akhirnya pergi mandi. Busyet!! Kamar mandinya terisi penuh. Secara kamar mandi umum jadi mandi nya mesti gentian. Ify pergi mandi terlebih dahulu,
Sivia dan Agni menunggu giliran kamar mandi lain. Cukup 10menit ify mandi.
Kedua temannya masih setia di dalam kamar mandi. Tiba-tiba Ify merasakan
dadanya sulit untuk bernafas.

‘aduh kenapa asma gue mesti kumat sich?’ pikir Ify kesal. Ia segera merogoh sakunya dan memakai obat asmanya. Agni terkejut
saat keluar dari kamar mandi mendapati Ify yang sedang sesak napas.

“Fy, lo ga pa-pa??” Tanya Agni panic. Ify menggeleng.

“Gue panggil PMR ya Fy” lagi-lagi Ify hanya menggeleng. Tak berapa lama kemudian ASMA ify reda.

“Fy, lo pucet banget? Lo kenapa Fy?” Tanya Sivia setelah selesai mandi.

“Asma gue barusan kambuh, hehehe”

“GILA lo!! Sempet-sempetnya cengengesan, gue panic banget bego!!!” Gerutu Agni.

“Sorry dech Ag, tadi itu lo ga usah panic juga ga pa-pa kan gue selalu bawa obat asma gue”

“Hah? Asma lo kumat Fy? lo tiduran aja di tenda PMR.” Ucap Sivia.

“Ikh lo berdua kok panic banget sich? Gue aja biasa aja”

***

Acara api unggun pun dimulai. Sivia sama Gabriel lengketnya kaya amplop sama perangko. Agni sok jual mahal sama cakka. Ify?? Ify menikamati pikirannya. Sedangkan Rio
diam-diam memperhatikan Ify.

‘salah ga sich kalo gue suka sama kak Rio?’ Pikir Ify ga karuan.

Deg! Jantung Ify berdebar-debar saat tiba-tiba Rio datang dan memakaikan jaket ke tubuh Ify, sontak kaget dan kikuk.

“Thank’s kak”

“Fy…” Ify menoleh kea rah Rio, jantungnya berdebar, begitu pula jantung Rio.

“Kenapa kak?” Kata IFY berusaha santai sambil memberikan senyum manisnya.

“Senyum lo manis banget”

“Gombal lo kak!” Tangan Ify menyentuh sesuatu di tanah.

“Kak, kok ada yang licin ya?”

“Apanya Fy?”

“Tanahnya kak” Ify lalu melirik ke tanah. Wajahnya menjadi pucat.

“Kakkkk, ular” Ucap Ify lirih.

“Apa Fy?”

“Ada ular kak”

“Hah?”

“ADA ULAR!!!!!!!!!!” Jerit Ify ketakutan tapi masih diem di tempat.

“Dimana Fy?” Tanya Rio panic.

“di tangan gue!” semua murid berlarian. Tapi Ify masih diem di tempat dengan kringat dingin yang mule mengucur. Rio mengambil kayu lalu menyingkirkan ular tersebut.

“Fy, lo gak pa-pa?” Ify tak bisa menjawab, dadanya sesak sekali.

“IFY! Asma lo kambuh!!!” Obatnya lo taro di mana?” Tanya Sivia.

“D…d…diiii… taaa….ssss” Kata Ify putus-putus.

“Di sebelah mana Fy? biar gue ambilin”

“Di… tas… bag…bagian.. de..pp..pan”

Tak berapa lama Sivia menuju tenda PMR menemui Ify yang udah di gotong ke tenda PMR.

“Fy, kok ga ada?”

‘asma gue kenapa kambuhnya lama banget, God!! Please, cukup! Gue udah ga sanggup GOD!’

“Fy, lo taro mana obat asma lo?”
“Fy, lo taro dimana obat asma lo”

“Diii.. tas… ba…bag..bagian.. depan…”

“Ga ada fy, gue udah geledah isi tas lo”

‘ga mungkin ga ada? Gue taro di tas bagian depan kok’

@Luar tenda PMR

“Kak Dea? Ngapain lo disini?” Tanya Agni ketus.

“Mau liatin sohib lo dia masih idup apa ga?” Agni emosi langsung mendorong Dea hingga tersungkur. Sebuah benda terjatuh dari jaket Dea.

“Owhhh jadi lo malingnya kak, ngapain lo ambil obatnya Ify??”

“Jaga mulut lo Ag!! Gue bukan maling!!”

“Kalo bukan maling trus apaan? Copet??”

“Kembaliin!! Itu obat gue!” Dea berusaha merampas obat Ify dari tangan Agni.

“Singkirin tangan lo dari Agni!!!” Seru Cakka sambil menatap geram.

“Lo apa-apaan sich Cak, lepasin tangan gue ga?!”

“Ga akan gue lepasin! Agni cepetan lo kasih obatnya ke Ify” Agni menuruti perintah Cakka.

Di dalam tenda, Ify udah ngap-ngapan ga karuan, mukanya udah pucet, keringet dinginnya ngucur bagaikan kran air yang bocor. Agni segera memberikan obat ASMA kepada
Ify. Setelah beberapa menit, asma Ify akhirnya sembuh juga.

“Fy lo istirahat aja” Suruh Rio. Ify berusaha memejamkan matanya.

Di luar tenda…

“Cepetan lo masuk!! Lo minta maaf sama Ify!!!”

“GUE GA MAU!!!” Cakka terus saja menarik tangan Dea. Mau ga mau akhirnya Dea masuk ke dalam tenda PMR. Agni dan Sivia menatap dengan tatapan sinis. Ify yang baru saja tertidur akhirnya terbangun mendengar
keributan di sekelilingnya.

“Kak Dea” Kata Ify lirih. Dea hanya menunduk dan tak bisa berkata apa-apa.

“Cepetan lo minta maaf!” ucap Cakka dengan nada tinggi. Rio menatap Dea geram.

“Maafin gue kak” semua yang di tempat melongo saat Ify meminta maaf.

“Maafin gue kak. Lo pantes kok ngejahatin gue. Lo pantes ngebenci gue…”

“Lo udah gila ya? Harusnya dea yang minta maaf ke elo!” Ucap Rio geram.

“Karna gue, kak Dea jadi jahat kak. Maaf ya kak, kalo gue suka sama kak Rio. Tenang aja kak, gue sadar diri kok, lo jauh lebih pantes buat kak Rio” Rio meninggalkan Ify dengan kesal. Dea masih tak mengerti dengan
apa yang di pikirkan Ify.

“Huoahmm, semuanya gue ngantuk mau tidur dulu” Ify mengalihkan pembicaraan.

***

Pagi ini seluruh siswa sudah mengemas barang-barang bawaannya untuk kembali pulang. Sebelum pulang, mereka memberikan kesan dan berdo’a bersama. Ify yang masih lemes,
dipapah Sivia dan Agni. Dea semakin merasa bersalah saat mendengar kata-kata
Ify.

Ify memilih duduk di dekat jendela. Pandangannya menatap keluar jendela. Pikirannya kosong entah kemana.

“Boleh gue duduk disini?” Ify menoleh kea rah sumber suara tersebut. Ify lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.

“Kak, jangan bilang mamah kalo asma gue kambuh” Kata Ify masih menatap ke jendela.

Sepanjang perjalanan Rio dan Ify hanya terpaku diam. Hingga akhirnya Ify tertidur. Rio menyandarkan kepala Ify ke bahunya dan terus menggenggam tangan Ify.

Rio mengantarkan Ify pulang. Mereka masih saling bungkam. Hingga di depan rumah Ify….

“gue masuk duluan kak” Ify kemudian keluar dari mobil Rio dan menenteng tas bawaannya. Rio menatap punggung Ify dari damalm mobil hingga Ify menghilang di balik pintu.

@Kamar Ify

“Kak Ify, gue boleh masuk?” Tanya deva yang berdiri di depan pintu kamar Ify. Ify membuka pintu kamarnya sambil tersenyum kecut. Deva dan Ify mengambil posisi di kasur Ify.

“Dev, gue sayang kak Rio. Gue suka sama kak Rio” Ify mulai meneteskan air matanya.

“Gue tau kak, udah kliatan”

“2 Minggu lagi kak Rio TO buat UN, gue mau balik ke Bandung Dev”

“Lho kak? Bukannya anak kelas 12 TO, kita tetep masuk ya?”

“Bikinin surat izin seminggu buat gue ya Dev”

“Tapi kak lo mau ke Bandung sama siapa?”

“Gue mau kesana sendiri”

“Lo udah gila ya kak!! Mamah ga bakal ngijinin lo!!!”

“Gue mau ngehindar dari kak Rio! Gue ga bisa ngelanjutin perasaan gue lebih dalem lagi!”

“Lo udah saraf ya kak! Lo sendiri yang bilang kalo lo suka sama kak Rio”

“gue yakin lo tau jawabannya dev!”

“Lo gila kak! Saiko!” Deva kesal dan membanting kamar Ify.

@Rumah Rio

Drrrrtttt

Rio meraih HP nya di kasur. Dea calling. Rio mengangkat telpon Rio.

“Hallo yo, kita keluar malem ini bisa ga”

“Bisa! Sekalian ada yang mau gue omongin sama lo”

“Kita ketemuan di taman kompleks aja” Rio lalu menutup telponnya dan segera mengambil jaketnya yang tergantung di kamarnya.

@Taman

“Yo…. Embhhh” Dea menarik napas sebelum akhirnya ia melanjutkan perkataannya.

“Maafin gue soal Ify yang kemaren”

“Lo Gila ya! Kalo kemaren Ify kenapa-kenapa, gue harus bilang apa ke nyokapnya! Lo mau tanggung jawab!” Emosi Rio meletup.

“Gue lakuin itu karna gue cemburu sama Ify! Sejak Ify pindah ke sekolah kita, lo ga pernah nyapa gue. Lo ga pernah pergi sama gue, lo ga pernah mau ngobrol sama gue”

“Itu karna lo masa lalu gue”

“Tapi yo?” Dea menggantungkan kata-katanya.

“De, biarkan masa lalu itu menjadi sebuah kenangan untuk lo dan gue. Sebuah kenangan yang ga harus kita lupain, dan sebuah kenangan yang ga harus untuk kita ingat selalu” Kedua nya diam, menikmati pikiran mereka
masing-masing sambil menatap bintang yang bertaburan di langit malam

@Rumah Ify.

Dari kamar Ify, Ify menelpon Deva. (ya elah kamar sebelahan aja pake telpon-telponan segala).

“Halo dev, gue udah mutusin buat nyatain perasaan gue ke kak Rio”

“Lo serius kak?”

“Iya Dev, gue bakalan ngelupain semua kenangan masa lalu gue”

“yang lalu biar jadi kenangan aja kak, lo ga harus ngelupain kok. Udah sono lo ke rumah kak Rio. Kunci mobil ada di atas kulkas”

“Tumben lo baik sama gue. Hah di atas kulkas”

“Iya di atas kulkas, udah sono. Good luck my sister”

“Thanks my brother” Ify mengakhiri telponnya dan segera menuju rumah Rio. Rasa lelah setelah pulang kemah, hilang begitu saja. Ify ingin sekali mengatakan pada Rio ’gue sayang
banget sama lo kak. Gue pengen lo selalu menemani hari-hari gue’

Tiba juga Ify di rumah Rio. Dengan mantap ia ketuk pintu rumah Rio. Tapi yang kluar justru mbok minah pembantu Rio.

“Maaf, non siapa ya?”

“Saya Ify mbok, temennya kak Rio. Kak Rio nya ada mbok?”

“Wahh den Rio nya lagi keluar non” Nampak raut kecewa di wajah Ify.

“Makasih ya mbok saya pamit dulu” Ify melangkahkan kaki dengan gontai.

“Non, tunggu” Seru mbok Minah. Ify menghentikkan langkahnya dan berbalik badan kea rah mbok Minah.

“Coba non susul den Rio di taman kompleks deket sini non” Ify menyunggingkan senyumnya.

“Makasih ya mbok” Ify segera menancapkan gasnya menuju taman.

Ia parkirkan mobilnya dekat taman. Berjalan penuh percaya diri menuju taman. Ify mengehntikan langkahnya. Matanya terus mencari sosok Rio. Hingga akhirnya ia menemukan
seseorang yang ia cari. Ify menghentikan langkahnya, ia menatap dengan
pandangan tak mengerti. Tak terasa butiran air matanya bergulir membasahi Ify.
“Gue sayang lo yo” Dea mengecup pipi Rio dengan lembut.

Ify menatap dengan tatapan tak percaya. Kini Ify benar-benar dapat merasakan butiran air matanya telah berjatuhan membasahi pipi. Ify masih terus menatapnya walaupun hatinya teramat sakit. Ify berjalan mundur sambil terus menatap, menatap, dan menatapnya.

“Kreeessseeekkkk”

Kaki Ify tak sengaja menginjak botol aqua kosong. Rio menoleh ke arah sumber suara. Ify lalu berlari, ia tak ingin Rio dan Dea mengetahui keberadaannya.

“Ify?” Ucap Rio dan Dea hampir bersamaan.

Ify tak menoleh ke belakang, ia terus saja berlari. Sesekali mengusap air matanya yang mengalir.

“Gue harus susul Ify” Seru Rio lalu melepaskan tangan Dea yang mengandengnya.

***

@Rumah Ify

Ify berlari menuju kamarnya. Ia banting pintu kamarnya dengan keras. Deva yang sudah tertidur di kamarnya jadi terbangun. Deva berusaha menelpon kakaknya, tapi HP Ify non-aktif.

Ify menangis sejadi-jadinya. Ify bingung dengan dirinya, bukankah ia seharusnya senang Dea dengan Rio? Bukankah ia sendiri yang bilang dia sadar diri dan Dea jauh lebih pantes buat Rio?

***

Pagi ini, Ify berangkat pagi sekali ke sekolah. Matanya sembab. Deva berangkat bareng Ray, karna mobilnya di bawa Ify. Ify duduk di bangkunya. Ia melipat tangannya di atas meja dan menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Ia tak ingin seseorang mengetahui kalo dirinya sedang menangis.

“Pagi Fy, kesambet setan apaan lo pagi-pagi gini udah berangkat?” Tanya Agni yang baru dateng. Ify tak menggubris perkataan Agni. Ify bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Agni yang masih penuh dengan tanda Tanya.

Ify berjalan gontai mengelilingi sekolah. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menariknya ke dalam pelukannya. Jantungnya berdegub kencang. Tapi baru beberapa detik Ify melepas pelukan tersebut dan menatap sinis ke arahnya.

“Pergi lo dari hadapan gue!” Ucap Ify lirih tanpa melihat ke arah Rio sedikitpun. Tapi Rio tetep memegang erat tangan Ify.

“Lepasin tangan gue!!” Rio teteap memegang erat tangan Ify. Ify menatap Rio dengan tatapan tajam.

“Lepasin tangan gue! Gue gasudi liat muka lo lagi! Mending lo pergi jauh dari hadapan gue!! Pergi!!!!” Seru Ify. Dengan lemes Rio melepaskan tangan Ify.

***

Ify hanya diam seribu bahasa di kelas. Di ajak ke kantin, dia justru menatap sinis ke arah Sivia dan Agni. Mereka berdua jadi serem untuk mengajak Ify ngobrol.

@Kantin.

“Hai girls! Ngelamun aja lo pada! Kesambet setan lho” Suara Cakka sanggup membuyarkan lamunan Sivia dan Agni.

“Ya elah yo! Lo malah ikut-ikutan ngelamun” celetuk Gabriel.

Deva, Ray dan Ozy yang lagi di kantin akhirnya gabung ke meja Rio cs.

“Kak Rio, kakak gue lo apain sich?” Celetuk Deva, Rio hanya diam.

“Kak Rio!! Gue Tanya sama lo!!”

“Gue,gue, akh gak pa-pa” Ucap Rio gelagapan dan beranjak dari tempat duduknya.

“Sikap kak Ify berubah lagi! Kalo gini caranya gue angkat tangan! Kalo kak Ify ngambek udah susah sembuhnya!” Rio menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Deva.

“Yo, sebenernya lo sama Ify ada masalah apaan sich?” Tanya Gabriel curiga. Tapi yang di Tanya masih diem.

“Sejak kak Ify pindah ke Jakarta, sikapnya mulai berubah dia jadi bawel jadi cewe ceria lagi. Gue seneng liat perubahan sikap kak Ify. Tapi sekarang gue ga tau apa masalah kalian berdua. Dan sekarang gue yakin, kak Ify pasti lagi nangis di kelas. Dia bakalan ngelamun. Diem.”

“STOP Dev!” Seru Rio. Rio akhirnya meninggalkan Mejanya dan ke kelas Ify.

Rio hanya melihat Ify dari jendela kelas. Ia tak berani untuk masuk ke dalam kelas Ify.

***

Sudah seminggu Ify dan Rio tak bertegur sapa. Sikap Ify jadi jutek, cuek, dan sering ngelamun. Rio juga lebih banyak diam. Temen-temennya ga bisa bantu, soalnya mereka berdua diam ga ada yang mau cerita.mereka udah coba Tanya ke Deva tapi Deva justru menjawab “Mana gue tau, kalo udah kayak gini gue angkat tangan. Kak Ify ga bakalan curhat sama gue, kecuali hatinya udah tenang. Tapi sampe detik ini kak Ify belum mau curhat, brarti hatinya masih belum tenang”

Minggu depan kelas 12 TO. Tapi anak kelas 11 tetep masuk seperti biasa, kelas 10 masuk siang.

“Mah, Ify mau ke Bandung berangkat hari minggu besok” Ucap Ify kepada mamahnya dengan tatapan serius.

“Tapi kamu harus sekolah Fy”

“Mah, Cuma seminggu mah, kali ini aja mah”

“Mamah ga izinin kamu ke Bandung sendirian!”

“Mamah, Cuma kali ini mah. Cuma kali ini aja Ify ke Bandung sendirian mah” Ify terus saja merengek hingga air matanya menetes.

“Mamah khawatir sama kamu Fy, nanti kalo asma kamu kambuh gimana? Siapa yang mau nolongin kamu”

“Mamah lupa ya, kalo rumah Bandung kan masih ada mbok Nar. Please mah, kali ini aja.” Mamah Ify akhirnya luluh juga.

“Tapi mamah ga nangung kalo kamu kenap-kenapa disana” Ify mengangguk lalu mencium pipi kanan mamahnya.

“Devaaaaaaaa!!! Buka pintu lo!!!” Seru Ify sambil menggedor pintu kamar Deva.

“Apaan sich lo kak! Brisik banget tau” Ify langsung nyelonong masuk ke kamar Deva.

“gue besok ke Bandung, lo berangkat sekolah bareng mobil Ray aja”

“Hah? Demi apa lo ke Bandung? Mamah kasih izin??”

“Iya donk mamah kasih izin, hahaha”

“Lo ga usah ketawa dech. Munafik tau ga! Luarnya lo kliatan ketawa tapi hati lo saat ini lagi nangis” Ify terdiam mendengar perkataan Deva.

“Gue ke kamar dulu Dev, nanti gue balik lagi kesini”

@Kamar Rio

Rio yang sedang melamun, terkaget saat mengetahui HP nya bergetar. Rasanya malas sekali untuk mengangkat telpon. Ia lirik ponselnya. Ify calling. Rio coba membelalakan matanya lebih lebar. Ternyata benar Ify.

“Halo kak Rio”

“Eh lo Fy, ada apa?”

“Gue mau ketemu sama lo sekarang”

“Hah?” Rio bingung harus ngejawab apa.

“Gue mau ketemu sama lo sekarang kak, di lapangan basket kompleks. Sekarang” Ify lalu memutuskan telponnya. Rio masih bengong tak percaya.

@Kamar Deva

“Deva!!! Gue pinjem bola basket lo!!”

“hah? Lo mau main basket kak? Ga salah denger gue?”

“cepetan mana bolanya!”

“Bukannya…”

“Gue emang punya kenangan buruk tentang basket! Tapi biarin kenangan itu menjadi sebuah sebuah masa lalu.”

“Tapi lo udah saraf ya kak, mau main basket malem-malem gini? Ini jam 8malem”

“bodo amadh!” Ify ngelonyor pergi begitu saja.

@Lapangan Basket

Ify masih menunggu Rio. Ify mendrible bolanya lalu memasukkanya ke dalam ring. Penampilan Ify kali ini beda dari biasanya. Biasanya feminism, sekarang beda banget, dadannyajauh lebih cuek. Ia mengenakan celana pendek dan kaos biasa, di tangan kanannya ia memakai daker. Rambutnya yang biasa ia gerai, ia kucir satu.

Rio dengan penuh semangat menuju lapangan basket. Ia seakan melihat titik terang untuk berdamai dengan Ify. Ia parkirkan cagivanya di tepi lapangan. Rio terkejut saat melihat penampilan Ify.

“Buktiin kalo lo emang sayang sama gue” Ucap Ify sambil melempar bola basket kea rah Rio. Rio dengan sigap menangkapnya.

“kita tanding basket! Kalo lo berhasil cetak 1 angka, gue bakalan maafin lo. Tapi kalo lo yang kalah, lo lupain gue.” Rio menatap Ify tak percaya. Rio bingung harus menjawab apa. Otaknya trus berfikir.

“Kalo gue yang menang, lo harus harus mau jadi pacar gue. Tapi kalo gue yang kalah, gue bakalan relain lo pergi” Ucap Rio mantap.
Rio ga nyangka kalo Ify mahir banget main basket. Rio sampe kewalahan. Udah setengah 9 lebih 10, tapi satupun dari mereka belum ada yang berhasil mencetak angka.

“Masuk!!!!” Seru Ify saat mengetahui bola yang ia lempar masuk ke dalam ring. Rio tertunduk lemas. Tapi Ify justru tersenyum puas.

“Sorry kak, gue yang menang” Ucap Ify lalu melangkah meninggalkan Rio. Rio menarik Ify ke dalam pelukannya.

“Biarkan gue meluk lo walau sebentar” Bisik Rio. Rio berusaha menahan air matanya.

“Kak Rio…”

“Jangan lo lepasin pelukan ini Fy, gue masih pengen meluk lo.” Ify membiarkan tubuhnya di peluk Rio hingga beberapa menit.

“Udah malem kak, udah waktunya gue pulang” Rio lalu melepaskan pelukannya. Ify mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buat lo kak” Ucap Ify sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang. “Lo buka di rumah aja ya kak” Rio meraih kotak tersebut dari tangan Ify.

***

Sesampainya di rumah, Ify mengepak baju-bajunya yang akan ia bawa ke Bandung. Ify mengambil sebuah pot kaktus kecil untuk ia bawa ke Bandung.

***

@Rumah Rio

Rio membuka surat dari Ify.

Dear kak Rio

Hai kak Rio. Mungkin ini saatnya gue harus jujur ke lo. Lo harus tau siapa gue yang sebenernya. Maaf kalo sedikit menyakitkan atau bahkan sangat menyakitkan buat lo.

Lo inget ga waktu kita kemah gue pernah Tanya sama lo Kak, gue mau Tanya. Kalo misalnya gue udah punya cowo, apa yang bakal lo lakuin? Lo bakal
ngelepas gue apa lo tetep berjuang buat ngedapetin gue.’

Trus lo jawab, Kalo lo sayang sama cowo lo dan cowo lo juga sayang sama lo, gue bakal lepasin’

Jawaban lo selalu gue inget

Rio menghela napas. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya akan Ify ucapkan di dalam surat tersebut.

Gue kecewa dengan jawaban lo, tapi apa yang bisa gue perbuat. Itu udah gue anggap sebagai jawaban mutlak dari lo.

Sebenernya gue udah punya pacar.

Deg! Jantung Rio seakan berhenti berdetak. Rio terus membaca surat Ify.

1 tahun lalu, sebelum gue pindah ke Jakarta, gue punya pacar. Tapi dia pergi ke luar negri. 2 bulan! 2 bulan, dia berjanji bakal balik ke Bandung. Tapi sampe 1 tahun dia ga balik ke
Bandung, hingga akhirnya gue pindah ke Jakarta.

Mungkin lo bingung dengan status gue, gue masih pacaran atau udah putus. Gue anggep gue dan cowo gue udah putus. Tapi mendengar jawaban lo waktu kemah, gue harus
melepas lo dan menunggu cowo gue balik ke Bandung. Gue akan berusaha setia
menunggu cowo gue.

Andai waktu itu lo bilang ga akan ngelepas gue, gue bakal ngelepas cowo gue demi lo. Gue sayang sama lo kak….

Maaf, jika ini terlalu menyakitkan buat lo

Maaf, jika gue harus datang ke kehidupan lo tanpa permisi

Maaf, jika akhirnya gue harus pergi ninggalin lo

Maaf, jika gue mencintai lo.

Tak terasa Rio menitikkan air mata nya. Rio membuka kotak dari Ify, ada sebuah keeping CD. Rio menyetelnya lewat laptopnya. Ify mengenakan dress putih. Lalu mendentingkan sebuah alunan piano dan menyanyikan
sebuah lagu Simfoni Hitam.




Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu

Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu


T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….

T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Ify mengakhiri permainannya lalu tersenyum dan berkata…

“Hai kak Rio” Ucap Ify dalam Video tersebut sambil melambaikan tangannya.

“Sukses buat TO nya, semangat kak!!”

“Sekali lagi gue minta maaf. Gue seorang pembohong yang udah masuk ke kehidupan lo. Kak Dea jauh lebih pantes buat lo. Kak Dea, bukan gue! Bukan seorang pembohong kaya gue.”

Rio menyesal telah menjawab pertanyaan Ify seperti itu. Andai perkataanya dapat di ralat, ia akan meralatnya detik ini.

“Arrrrghhhhh” Erang Rio sambil mengacak-acak rambutnya.

***


Rio berjalan menuju kelas Ify. Tapi ia tak menemukan sosok Ify. Rio belari menuju kantin. Hanya ada Sivia dan Agni.

“Vi, Ag, Ify udah dateng belum?”

“Ify ga masuk, ada urusan keluarga”

Rio curiga. Rio berjalan ke kelas Deva.

“Dev, kok lo masuk?? Bukannya lo sama Ify ada urusan keluarga?” Tanya Rio sambil menyipitkan matanya.

“Emhbhpp, itu, anuuu, aduhh” Deva gugup.

“Lo ngomong yang jelas donk Dev”

“Kak Ify, kak Ify ke Bandung”

“Hah? Berangkat kapan? Semalem aja gue masih main basket sama dia”

“Jam 5pagi kak Ify berangkat ke Bandung”

“Ngapain dia kesana?”

“Yeee, mana gue tau kak. Oh ya kak, kak Ify bilang” Deva menggantungkan kalimatnya. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Rio.

“Kak Ify bilang, lo mesti mikirin TO sama UN dulu. Kak Ify ga bakal ilang”

Rio masih tak mengerti apa yang sebenernya ada di dalam otak Ify.

***

Akhirnya Ify tiba juga di Bandung, di rumah lamanya. Ify keluar dari mobilnya sambil menarik koper di tangan kanannya dan di kirinya menenteng sepot kaktus. Ify mengetuk
pintu rumahnya. Tak berapa lama seorang wanita tua membuka pintu rumahnya dan
memperhatikan penampilan Ify yang mengenakan celana pendek di atas lutut dan
baju yang di luarnya di lapisi kemeja yg sengaja tak di kancing dan lengan
kemeja yang di linting hingga siku. Rambutnya pun sengaja ia kucir. Wanita
tersebut menyipitkan matanya lalu tersenyum.

“Non Ify?”

“Mbok Nar”

“Ayo masuk non” Ify masuk ke dalam rumahnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tiba-tiba fikirannya tertuju pada Rio.

“gue kecewa sama lo kak, andai lo ga ngomong lo bakal ngelepas gue. Gue bakal di Jakarta” Gumam Ify. Tiba-tiba hp nya bergetar, Ify merogoh sakunya dan mengangkat telponnya.

“Lo GILA ya! Lo ke Bandung sendirian! Kalo lo kenapa-kenapa gimana?” cerocos cowo di sebrang telpon sana dengan nada kesal.

“Lo ga ada hak buat ngatur gue! Buktinya gue ga kenapa-kenapa di jalan, dan gue udah nyampe dengan selamat di Bandung”

“Lo balik ke Jakarta”

“Hello kak Rio, lo ga lupa sama perjanjian kita tadi malem khan?”

“Lupain perjanjian kita yang semalem. Lo balik ke Jakarta apa gue yang ke Bandung?”

“Ga dua-duanya! Lo pikirin dulu tuh TO lo. Ada urusan yang mesti gue selesein di sini”

“Lo balik ke Jakarta!”

“engga kak!! Gue, gue, gue mau nenangin diri gue dulu”

“Fy….” Nada suara Rio merendah.

“Hmmm”

“Soal Dea yang di taman, lo jangan salah sangka ya?”

“hahaha, itu hak lo kak mau ciuman sama siapa ke’ mau pacaran sama siapa ke’ toh gue juga udah punya…”

“Fy, yang waktu kemah. Apa bisa gue ralat perkataan gue”

“Lo sendiri kak yang bilang buat ngelepas gue”

“Gue kira lo ngomong becandaan Fy”

“Udah ya kak, gue cape mau istirahat”

“iYa, gue juga udah selese nich istirahatnya”

“See you”

“Fy, gue berharap lo ga ninggalin gue, gue nyesel banget udah ngomong kaya gto”

“Ga ada yang perlu disesali. Kalo urusan gue udah selese, lo bakal tau semuanya”
Ify mengakhiri pembicaraanya dengan Rio. Kini jemarinya sibuk berkutat dengan keypad HP nya.

To : kak Rio

Lupain tentang gue. Gue ga mau Cuma gara-gara gue TO dan UN lo jadi ke ganggu. Tentang kak Dea yang kemaren? Gue emang cemburu. Tapi it’s okay, lo bukan siapa-siapa gue. =D

***

Setelah kemarin seharian Ify istirahat, Ify ingin jalan-jalan memutari kota Bandung. Ga jauh-jauh sich, Ify hanya memutari daerah rumahnya aja.

Langkahnya menuju sebuah taman di kompleksnya. Tatapannya menyapu seluruh isi taman, hingga akhirnya tertuju pada sebuah ayunan. Ify berjalan dan duduk di ayunan tersebut sambil tersenyum. Pikirannya tertuju pada 10 tahun lalu saat ia masih kelas 1 SD.

“Ayo kak dorong ayunannya….” Rengek gadis kecil itu.

“Akhhh cape Fy, kamu enak tinggal duduk”

“Ya udah sini kak duduk aja di ayunan”

Rintik hujan perlahan mulai membasahi taman.

“Kak, hujan!!!”

“Ayo pulang” mereka berlarian sambil menikmati rintik hujan yang membasahi tubuh mereka.

Bruuukkk

“Huwaaaa sakit” gadis kecil bernama Ify itu terjatuh, tangisnya meledak sontak membuat teman kecil lelakinya menghentikan larinya dan menghampiri Ify.

“Ayo sini aku gendong” Ucapnya sambil berjongkok di depan Ify.

“Udah ga usah nangis, kan udah aku gendong”

Lamunan Ify terbuyar saat sebuah bola basket menggeliding dan berhenti tepat di kakinya. Ify mengambil bola tersebut dan celingukan mencari siapa pemilik bola tersebut. Seorang anak laki-laki berseru ke arahnya.

“Kak, itu bola ku, balikin donk” Ify tersenyum dan membalikan bola basket tersebut.

Ify berjalan meninggalkan taman, langkahnya membawa dirinya ke sebuah toko buku. Pikirannya kembali tertuju pada masa lalunya.

“Berapa mba?” Tanya Ify pada penjaga kasir.

“10.000” ify merogoh sakunya, wajahnya memucat saat ia mengetahui bahwa dirinya lupa membayar uang.

“Nih mba uang nya” Ucap seorang lelaki yang tak lain teman kecil Ify. Ify trsenyum lega.

“Makasih kak”

“Cari majalah apa mba?” tegur salah seorang penjaga toko tersebut. Ify segera tersadar dari lamunannya. Ify hanya menggeleng lalu tersenyum meninggalkan toko tersebut.

Rasanya tubuhnya lelah setelah seharian muter-muter ga karuan. Ify memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia hempaskan tubuhnya ke kasur. matanya mulai terpejam.
Ify benar-benar lelah.

***

Rio menatap layar HP nya. 1 inbox. Rio langsung membacanya tapi tak membalasnya. Dirinya putus asa untuk mendapatkan Ify, benar-benar tak mengerti apa yang ada di otak
Ify. Rio mencoba menghubungi Ify, tapi malah yang ngangkat operatornya.

***

Ify melihat jam dinding di kamarnya. Sudah jam 7 malem. Ify bergegas mandi dan makan malam.

“Mbok, sepeda yang di gudang tolong di benerin ya? Mbok suruh mang dadang pompa bannya, Ify mau sepeda-sepedaan”

“Kapan non?”

“Lebaran kucing mbok! Ya sekarang lah! Besok pagi Ify mau sepeda-sepedaan” mbok Nar Cuma manggut-manggut.

“Eh iya non, tadi ibu non telpon nanyain kabar non, trus mbok bilang aja non baik-baik aja lagi ke toko buku”

“Sibh dech”

“Oh ya non, mbok lupa kalo non ada titipan surat”

“Hah? Dari siapa mbok?”

“Ini non suratnya” ucap mbok Nar sambil menyodorkan surat kepada Ify.

“Makasih ya mbok”

Ify membuka surat tersebut sambil berjalan menuju kamarnya.

Dear Ify.

Gimana kabar Bandung? Maaf baru kasih kabar sekarang

Ify membaca surat tersebut dari halaman satu ke halaman berikutnya. Ada 5 lembar surat. Ify trus membacanya. Air matanya mulai banjir ga karuan. Ify kesal. Ia membanting semua benda-benda di kamarnya. Figura foto yang berdiri tegak di meja belajarnya, jatuh ke lantai. Kacanya berserakan kemana-mana.

“Huahuhuhu” Ify menangis sejadi-jadinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2malam, tapi Ify belum bisa memejamkan matanya. Ia duduk di sebuah kursi kecil depan pianonya. Ify meraih HP nya lalu berusaha menghubungi seseorang. Di pencetnya nomer Rio.

***

Rio mencari HP nya yang tertindih di bawah bantal. Lalu mengangkat telponnya sambil mata yang masih terpejam.

“Lo gila ya telpon tengah malem gini!!!” Kesal Rio. Tak ada jawaban dari sebrang telpon. Hanya sebuah alunan lagu indah yang sedang di nyanyikan yang di iringi dengan dentingan sebuah piano. Rio mengenal suara tersebut. Ia trus mendengarkan hingga lagu tersebut berakhir.

Tak ku sangka dirimu hadir di hidupku
menyapaku dengan sentuhan kasihmu
Ku sesali cerita yang kini terjadi
mengapa disaat ku telah berdua

Maafkan bila cintaku
tak mungkin ku persembahkan seutuhnya
Maaf bila kau terluka
karena ku jatuh di dua hati

Maafkan bila cintaku
tak mungkin ku persembahkan seutuhnya padamu
Maaf bila kau terluka
karena ku jatuh
Karena ku jatuh di dua hati

“Tutututtttt” Setelah lagu selese, Ify mematikan telponnya. Rio berusaha menghubungi Ify kembali, tapi HP nya sudah nonaktif

***

“Gue Cuma mau kasih tau isi hati gue” gumam Ify.

Esok paginya Ify bangun pagi-pagi sekali. Ify mengeluarkan sepedanya dan bersepeda mengelilingi kompleksnya yang di Bandung. Matanya tertuju pada lapangan basket, tapi ia terus mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya berhenti pada sebuah warung yang berpalang “Bubur Ayam”

“Bubur ayamnya satu bu” Ucap Ify ramah sama pada si penjual.

“ikh rese banget sich! Udah tau gue ga doyan pedes!!”

“Cuma setetes doank kali Fy, ga akan pedes kok”

“Mau setetes doank ke’ pasti pedesnya kaya di kasih sambel se-kolbak”

“hahahaa”

“Pokoknya gue ngambek!”

“Yahhhh jangan ngambek donk, Fy”

“Bodo!”

“Eh gak pa-pa dink kalo lo ngambek berarti lo pulang jalan kaki, kan lo ga bawa sepeda”

“Yahyahyah jangan gto donk kak, gue ga jadi ngambek dech”

“Ini bubur ayamnya mba” Kata penjual bubur itu. Ify menatap bubur ayam di depannya. Lalu tersenyum, ia memberi setetes sambel ke buburnya.

Sudah jam 9. Ify kembali ke rumahnya. Bukan untuk pergi mandi, tapi justru mengambil bola basket dan bermain di lapangan deket rumahnya. Ify mendrible bolanya dan memasukkannya
ke dalam ring. Masuk! Masuk! Dan masuk! Ify ingn sekali menangis, ia trus meluapkan emosinya dengan memasukan bola ke dalam ring basket.

“Hossh hossh hossh” Napas Ify terengah-engah. Ify mengambil minumnya di pinggir lapangan basket.

***

“Kak Ify lagi ngapain ya?” Gumam Deva.

“Woy dev, ngelamun aja lo!” Seru Ray sambil menepuk pundak Deva.

“Kak Ify lagi di Bandung, gue khawatir sama dia”

“Kakak lo udah gede kali”

“Biarpun udah gede, tapi sikapnya masih belum labil.”

“Gue liat kakak lo dewasa kok?”

“Kliatan dari luarnya sich iya dewasa, tapi aslinya ga kok”

“Masa sich?”

“Kakak gue suka ngamuk sendiri kalo ke inget masa lalu nya. Kadang dia bisa ceria, kadang dia bisa nangis, kadang dia bisa sinis ke semua orang”

“Masa lalu?” Tanya Cakka yang sudah berdiri tepat di belakang Deva. “Emang ada apa dengan masa lalu Ify, Dev”

“Gak pa-pa”

“Ceritain ga!”

“Enggak!”

“ceritain!”

“ya udah dech gue ceritain”

“Dulu waktu di Bandung, kak Ify itu punya sahabat cowo. Mereka akhirnya pacaran setahun lalu. Tapi baru 2 bulan pacaran, kak Ify udah di tinggal pergi ke luar negri. 2 bulan dia bakal balik ke Bandung, tapi sampe sekarang dia ga balik-balik juga. Sejak saat itu, kak Ify benci ulang tahun, benci basket, benci main piano.”

“ooooo” Cakka dan Ray dengan kompak membulatkan mulut mereka.

“Tapi yang bikin gue heran, malem hari sebelum kak Ify ke Bandung, dia nantangin kak Rio main basket. Trus sejak kenal kak Rio, kak Ify mulai berani main piano lagi”

“Hah Ify nantangin Rio main basket!? Ya jelas Rio yang menang lah!” Celetuk Cakka, yang kemudian di lanjutkan oleh Ray.

“Jangan-jangan kak ify fall in love sama kak Rio”

“Itu dia yang bikin gue bingung! Kak Ify tuh suka sama kak Rio tapi dia belum bisa ngilangin masa lalunya gue takut kak Rio Cuma jadi pelarian kak Ify seperti cowo-cowo yang sudah-sudah sebelumnya. Gue ga yakin kalo kak Rio yang menang waktu main basket sama kak Ify”

“Rio kan jago basket! Jangan sotoy lo! Gue temen dari kecilnya!”

“Kalo kak Rio yang menang, harusnya kak Ify ga bakal pergi ke Bandung. Tapi buktinya, kak Ify pergi ke Bandung, berarti kak Rio yang kalah”

“Ya mungkin aja si Rio yang menang, tapi Ify tetep pengen pergi ke Bandung, jadinya sama Rio di izinin dech” Cakka masih saja ngeyel.

“Ya elah kak, lu ngeyel banget sich sama gue! Gue adeknya kak Ify”

“Lha gue tetangga plus temen dari kecilnya Rio”

“Ify emang yang menang dalam basket malem itu” Ucap Rio yang tiba-tiba datang kaya jin.

“Hah? Demi apa? Ify beneran yang menang yo?” Rio hanya mengangguk. Cakka masih tak mengerti. Ray Cuma ikutan melongo.

***

Pagi ini Ify berencana mengelilingi kebun teh dengan di temani sepedanya. Ify menyusuri jalan-jalan kecil di kebun teh tersebut. lagi-lagi pikirannya teringat pada masa lalunya.

“ayo kak, kayuh sepedanya yang kenceng”

“aduh Ify, lo ga liat nich jalan ga rata, kalo jatoh gimana?”

“Kalo jatoh paling gue nangis”

“Yah lo sich bisanya cum nangis Fy” Ify memukul-mukul pundak cowo tersebut.

“Aw sakit nanti jatuh nich”

“Bruuuuk” Ify terjatuh dari sepedanya. Sikunya berdarah. Ingin sekali ia menangis, tapi percuma. Pangerannya ga akan pernah kembali untuk menolongnya.

Ify mengayuh sepedanya ke lapangan basket. Awan dilangit seakan mau tumpah. Tapi Ify tetap memutuskan untuk main basket. Rintik hujan yang mulai jatuh menjadi semakin deras, tapi Ify tetap saja mendrible bola basket dan memasukkannya ke dalam ring. Air matanya yang membasahi pipi tersapu oleh air hujan.

“Arggggggghhhhhhhh” Jerit Ify sambil menangis. Ify duduk di tengah lapangan. Ia tekuknya. Sambil trus menangis bersama derasnya hujan yang mengguyur Bandung siang itu.

Bola basket yang sedang di mainkan Ify, menggelinding entah kemana. Seseorang membawa payung, dan menghampiri Ify. Ify tak menyadarinya, ia trus saja menangis.

Hujan baru reda saat sore tiba. Ify masih tak menyadari, jika sedari tadi ada seseorang yang memayunginya. Ify berdiri dari tempatnya. Wajahnya kini hanya beberapa centi dengan orang yang memayunginya.
Ify menatap tak percaya. Ify benar-benar bingung. Ia memukul-mukulkan tubuh si pemayung tersebut sambil terus menangis.

“Lo jahat!!!!!!!!!!!” Jerit Ify dengan isak tangisnya.

“Kemana aja lo selama ini? Udah puas lo bikin gue sengsara selama setahun lebih! Siapa lo? Ngaca donk lo!!! Cowo ga guna!! Cowo pengecut!!!!” caci Ify. Tapi yang di caci justru menarik Ify ke dalam pelukannya. Ify tak bisa menolaknya. Pelukan yang selama ini ia rindukan.

“Maaf” Sebuah kata maaf terloantar dari cowo tersebut.

“Lo jahat kak lo jahat lo jahat” Ify terus saja mengatakan jahat.

“Caci aja gue trus sampe lo puas Fy, gue emang salah”

“Lo baru kasih kabar kemaren kak, lo tau? Tiap hari gue nungguin lo. Tiap hari gue nunggu kabar dari lo! 2 Bulan lo bakal balik! Lo sendiri yang bilang, lebih dari 2 bulan status kita putus! Lo sendiri yang bilang! Tapi gue….” Cowo tersebut memeluk Ify dengan erat. Ia dapat merasakan sakit hatinya Ify.

“Gue masih disini nungguin lo. Masih disini demi lo!! Apa lo tau itu kak? Apa lo ngertiin gue? Janji-janji lo semuanya bulshitt!!!”

“Maaf, kalo gue ga kasih kabar. Maaf, kalo saat ini gue baru bisa balik.”

“Ga ga perlu kata maaf dari lo!”

“Gue janji ga akan ninggalin lo lagi”

“Gua udah ga butuh semua janji lo! Yang gue butuhin bukti lo kak!!”

“Ayo kita pulang” Ify mengangguk pelan. Rasanya dia benar-benar lelah.

“Bruuukk” Ify pingsan.

***

Ify berjalan menuruni tangga. Seorang cewe dengan rambut ikalnya dan senyum manisnya seperti telah menyambut Ify.

“Acha?” Ucap Ify lirih.

“Kak Ify!!!!!!!! We’re back!” Ify benar-benar tak mengerti. Ini semua masih sepert mimpi baginya.

“Kak Ify, jangan hujan-hujanan lagi ya? Acha ga pengen liat kak Ify sakit. Untung aja tadi ada kak Alvin”

“Hah? Kak Alvin?”

“Iya, tadi kak Alvin yang nolongin kakak” ify masih merasakan jika ini benar-benar mimpi.

Tanpa perlu Acha beri tau, Ify sudah tau dimana Alvin sedang berada sekarang. Ify menuju kolam ikan di belakang rumahnya.

“Lo?” Ucap Ify.

“Sorry”

“Tolong bilang ke gue, kalo ini semua Cuma mimpi”

“Kenapa? Lo ga seneng gue balik?” Tanya Alvin heran (nah udah ketebak kan siapa cowo masa lalunya Ify). Ify terhenyak bingung mau jawab apa. Di satu sisi ia seneng kehadiran Alvin kembali, tapi di satu sisi ia juga sayang Rio. (aduh Fy ngalah aja dech, mending Alvinnya buat aku aja ya? Huwahahaha ngarep.com).

“Gue seneng kok”

“Lo udah baikkan? Ngapain lo ujan-ujanan kaya tadi?”

“Gue kangen pengen main basket! Gue kangen sama lapangan basket” Alvin cengo mendengar pengakuan Ify.

“Gue udah pindah ke Jakarta” Lanjut Ify.

“Trus ngapain lo disini?”

“Gue pengen mengenang semua masa lalu gue, sebelum akhirnya gue ngelupain itu semua” Jelas Ify.

“Lo mau ngelupain semua masa lalu kita?”

“Buat apa gue nginget semua kenangan itu, jika pada akhirnya lo aja ga pernah inget sama gue. Gue sampe ga inget berapa semua jumlah surat yang udah gue kirim buat lo. Berapa kali gue coba hubungin lo dalam sehari. Gue udah ga inget itu semua! Terlalu banyak sampe ga bisa ke itung!” Alvin menunduk merasa bersalah.

“Fy, maafin gue”

“Lo kira semudah itu minta maaf! Kalo hanya dengan kata maaf saja semuanya selese, trus gunanya penjara buat apa?”

“Trus sekarang mau lo apa fy?”

“Lo sendiri yang tau jawabannya” Ify meninggalkan Alvin

***

Pagi-pagi Alvin sudah mempersiapkan sepeda BMX nya. Alvin menyuruh mbok Nar untuk membangunkan Ify. Ify mengerti apa yang akan dilakukan Alvin.

“Ayo naik!” Seru Alvin saat melihat Ify sudah berdiri di depan rumahnya. Ify berdiri di pijakan kaki sepeda (sepedanya ga ada boncengannya. Bayangin sendiri cz susah jelasinnya, hehehe).

Alvin membawa Ify ke kebun teh. Ify benar-benar senang, sudah lama sekali ia tak bermain sperti ini.

“Fy, abis ini lo mau kemana?”

“Kita tanding basket! Kita lama udah ga tanding basket!”

“Hahahaha, lo mesti siap-siap kalah”

“Dih!!! Ogah banget gue kalah!”

Alvin menaruh sepedanya di tepi lapangan. Ify mendrible bola basket. Untuk pemanasan, Ify mencoba memasukkan bolanya ke dalam ring. Kini gantian Alvin yang mendrible bola dan memasukkan nya ke dalam ring. Alvin dan Ify saling berebut bola.

“Udahan akh gue cape!” Ucap Ify kesal.

“Hahaha”

“Ye, lo kok malah ketawa” Alvin berjalan menghampiri Ify.

“Lo udah ga marah sama gue?”

“Masih! Siapa bilang gue udah maafin lo! Emangnya enak apa di gantungin 1 tahun! Ga di kasih kabar setahun!” Ify melengos kesal.

“yahh ngambek lagi dech” Alvin berjongkok di depan Ify. Ify mengernyitkan alisnya.

“Ayo naik” Ify tersenyum, lalu naik ke gendongan Alvin (gendong belakang). Ify melingkarkan tangannya di leher Alvin.

“Kak sepedanya gimana?”

“Biarin taro situ aja dulu, gue pengen muter-muter sambil jalan kaki”

“Kak, emang lo ga berat ya ngegendong gue?”

“Berat sich, tapi ga pa-pa dech yang penting lo seneng. Anggep aja ini semua sebagai permintaan maaf gue.”

Alvin menggendong Ify ke sebuah taman. Alvin menaruh tubuh Ify di sebuah ayunan.

“Lo inget ga Fy waktu lo jatoh dari ayunan”

Ify mencoba mengingatkan ingatannya ke masa lalu nya.

“Ayo kak dorong yang kenceng”

“Nanti kalo jatoh gimana?”

“ga akan jatoh, kan Ify pegangan. Ayo kak Alvin…” rengek Ify.

“Asyikkkk”

“Bruuuukk” Ify terjatoh dari ayunan.

“Huwaaaaaaaaa” Tangis Ify meledak. Alvin bingung banget.

Alvin memutuskan untuk mengantar Ify pulang. Ia sudah siap dapet omelan dari orang tuanya dan orang tua Ify.

“Hahaha, iya gue inget. Gue jatoh dari ayunan, trus gigi gue yang udah goyang akhirnya putus juga”

“Lo ga tau khan betapa spot jantungnya gue waktu itu? Rasanya lebih tegang daripada naik rollercoaster”

“Trus lo tambah panic pas mulut gue ngeluarin darah, taunya itu darah dari gigi gue yang putus. Hahaha”

Ify tertawa lepas. Setelah 1 tahun lebih, ia tak pernah seceria ini, akhirnya ia dapet merasakan keceriaannya kembali.

***

Malam harinya, Ify menelpon Deva. Ify cerita panjang lebar. Deva, benar-benar terkejut, kakaknya sudah kembali seceria dulu.

“Kakak!!! kapan lo pulang!! Rumah suram tanpa lo!!”

“hahaha. Minggu pagi gue udah di Jakarta kok!”

“Roti Unyil nya kak jangan lupa!”

“Dihh! Males! Hahaha”

“Pelit!”

“biarin!”

“Kak, lo dapet salam dari kak Agni sama kak Sivia”

“Bilang ke mereka, gue kangen berat!!! Dadadah deva!! Kakak mau tidur dulu” Deva belum sempat mebalas kata-kata Ify, tapi telponnya sudah keburu di matiin sama Ify.

Ify mencoba mengaktifkan ponselnya. 20 sms dari Rio semua. 2 sms dari Agni dan Sivia. 35 missed call dari Rio. Ify menghela napas dan membanting tubuhnya ke kasur.

“Kak Ify, Acha boleh masuk ga?” Seru Ify yang berdiri di depan pintu kamar Ify. Ify segera membukakan pintu tersebut.

“Kabar Deva, gimana kak?”

“Cieee nyariin Deva nih, hahaha”

“Ikh kakak apaan sich!!”

“Deva baik-baik aja kok. Cha, kapan kamu sama kakak mu balik ke Singapore lagi?” Acha hanya mengedikkan bahunya.

“Lho kok?”

“Mungkin ga akan pernah balik ke sana lagi.”

“Cha, maafin kak Ify ya? Kak Ify ga sabar nunggu kakak kamu. Kak Ify ikut pindah ke Jakarta, dan Sabtu malem kak Ify harus balik lagi ke Jakarta.”

“Ini semua bukan salah kakak kok.” Acha menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bertanya pada Ify dengan tatapan serius.

“Acha denger dari mbok Nar, sikap kakak berubah sejak kak Alvin pergi ninggalin kakak, apa itu bener?” Ify tak bisa menjawab pertanyaan Acha.

“Kak Ify, apa kakak punya pacar selain kak Alvin?” Ify lagi-lagi hanya bungkam. Dia benar-benar bingung. Tapi kali ini Ify berusaha menjawab pertanyaan Acha.

“Kakak ga punya pacar selain kakak kamu”

“Kakak ga bohong sama Acha kan?”

“Oke, mungkin kakak emang harus jujur sama kamu. Kakak emang ga punya pacar selain kak Alvin, tapi kakak suka sama cowo lain.” Acha tersenyum mendengar pengakuan dari Ify.

“kok malah senyum sich Cha?”

“Cowo itu berarti hebat bisa ngambil hati kakak.” Ify semakin tidak mengerti.

“Mbok Nar cerita, kak Ify jadi murung. Kak Ify suka ngamuk, kak Ify suka sedih. Terakhir kali mbok Nar, telpon Deva. Deva bilang ke Mbok Nar, kalo kak Ify sikapnya mulai berubah, kak Ify mau main piano lagi kan? Kak Ify juga mau main basket lagi. Itu semua berkat cowo yang namanya MARIO” Ify membelakakan matanya.

“Kak Ify ga usah kaget gto! Selama Acha di luar negri, Acha selalu contact tentang kabar kak Ify lewat mbok Nar. Mbok Nar tau itu semua dari Deva.”

“Kok Acha ga marah sama kakak?”

“buat apa Acha marah sama kakak. Acha justru salut sama kak Mario. Dia bener-bener hebat, bisa bikin kakak berubah secara perlahan.”

“Tapi kak Alvin?”

“Semua jawaban itu yang tau Cuma kak Ify. Cuma hati kak Ify yang bisa nentuin. Kak Alvin juga ga akan marah kok. Kak Alvin bakalan seneng kalo kak Ify juga seneng”

“Cha, kak Alvin tau semua ini?”

“tenang aja kak, kak Alvin ga tau semua ini kok. Udah malem, Acha mau tidur dulu”

“Tidur di kamar kakak aja Cha. Lagipula sabtu malem, kakak balik ke Jakarta” Acha akhirnya tidur di kamar Ify. Ify bingung bukan kepalang.
Ify tak langsung tertidur. Ia sibuk membereskan pakaiannya yang akan di bawa pulang ke Jakarta. Sebuah dentingan piano mengalun indah malam itu. Lagu through the
years. Ify berjalan menuruni tangga.

“Kak Alvin?” Gumam Ify.

I can't remember when you weren't there

When I didn't care for anyone but you

I swear we've been through everything there is

Can't imagine anything we've missed

Can't imagine anything the two of us can't do

Through the years

Alvin tak menghentikan permainan pianonya. Ify tersenyum simpul, dan duduk menyebelahi Alvin. Ify ikut bernyanyi dengan Alvin.

***

Alvin sempet kesal dengan Ify, saat mengetahui Ify balik ke Jakarta sabtu malam sendirian. Tapi Ify berhasil meyakinkan Alvin. Alvin luluh juga.

“Gue balik dulu ke Jakarta” pamit Ify pada Acha dan Alvin.

“Hati-hati di jalan ya kak” Alvin bersikap cuek pada Ify. Ify tau, Alvin khawatir banget dengan dirinya.

“Gue bakal sering sering ke Bandung kok”

“Lo di Jakarta aja, biar gue yang kesana. Kalo lo ke Bandung, gue takut lo kenapa-kenapa di jalan” Ify tersenyum lebar mendengar perkataan Alvin.

***

Jam 1 malem, Ify tiba juga di Jakarta. Mamahnya sempet melotot, pas tau putri tercintanya pulang ke Jakarta malem hari. Tapi Ify cengengesan ga karuan. Pas di omelin,
Ify justru memeluk mamahnya.

“Yang penting sekarang Ify udah di rumah dengan selamat. Huaohmmm, Ify ngantuk banget mah, Ify mau tidur,dah mamah” Mamahnya Cuma bisa geleng-geleng kepala.

Ify menaruh kopernya di kamarnya. Ify mengintip kamar adeknya, dilihatnya deva yang sudah tertidur pulas, Ify tak tega untuk membangunkan adeknya. Ify memutuskan untuk
menyebelahi adeknya, dan tidur di kamar Deva. Tapi hingga jam 4 subuh, Ify
belum berhasil terlelap.

“Ify…”Ucap Alvin lirih. Ia terkejut saat mengetahui Ify masih menyimpan kaktus pemberiannya.

“Gue kira lo lupa sama masa lalu kita, gue kira lo lupa sama kaktus pemberian gue, Gue kira lo juga udah lupa sama lagu Through The years, Gue,…” Ify menempelkan telunjuknya ke
bibir Alvin. Alvin terdiam.

“Ga usah lo lanjutin. Gue inget semua itu. Gue inget berapa jumlah sambel yang lo kasih ke mangkuk bubur gue, gue inget kapan dan dimana lo bayarin buku yang mau gue beli, gue inget
setiap jam berapa kita bersepeda muterin kebun teh, gue inget lo selalu kalah
main basket sama gue, Gue inget lagu apa yang sering kita nyanyiin tiap malem,
gue inget itu semua” Alvin terhenyak. Dia tak menyangka memori otak Ify dapat
mengingat itu semua.

“Fy, sekali lagi maafin gue ya”

“Lo punya pacar selain gue?” Alvin menggeleng, kini Alvin menatap Ify tajam. Ify tersenyum lalu menggeleng.

***

“Ifyyyy” jerit Agni dan Sivia yang tiba-tiba udah nongol di kamar Ify kaya setan.

“Buset! Lo suara lo berdua kaya pake toa tau!”

“Abisnya lo tidur kaya kebo! Ya udah gue teriak aja di kuping lo”

“Hahaha, udah akh gue mau mandi dulu. Lo berdua di kamar gue aja”

Agni dan Sivia memutuskan untuk tetap di kamar Ify selama Ify mandi. Pandangan Sivia menyapu ke seluruh tepi jendela.

“Ag, gue baru nyadar kalo di kamar Ify banyak kaktus”

“Bukan cuma kaktus, liat dech. Disini juga banyak foto Ify sama Deva waktu kecil, anehnya ada 1cowo dan 1 cewe di dalem foto itu”

“Eh apaan nich?” Tanya Sivia saat melihat sebuah kotak besar. Sivia dan Agni menjadi penasaran, dengan ragu-ragu mereka membuka kotak tersebut. mata mereka terbelalak tak percaya.

“Hah? Bola basket?” Tanya Sivia tak percaya.

“Udah lusuh pula bolanya. Udah kempes”

“Setau gue Ify itu benci sama basket” Agni hanya mengiyakan lewat anggukannya.

Ify mengacak-acak rambutnya dengan handuk. Ify tersenyum saat melihat kedua temannya sedang menatap bola basket.

“Lo berdua kenapa?”

“Eh empBh lo Fy, ini itu anuuu” Sivia kaget.

“Hahaha, lo ngomong kaya balita aja! Belepotan banget!” Ify melirik ke arah tangan Agni yang sedang memegang bola basketnya.

“Lo berdua heran ya liat tuh bola?” Agni dan Sivia hanya mengangguk.

“Itu pemberian pacar gue.”

“Hah? Lo punya pacar fy?”

“Gue udah pacaran lama sama dia”

“Trus kak Rio”

“Kak Rio kan sama kak Dea”

“Pale lu somplak kak Rio sama kak dea! Dia uring-uringan dodol mikirin lo ke Bandung!”

“Fy, lo juju raja dech, lo cemburu kan waktu kak Dea nyium pipi kak Rio. Ngaku dech lo Fy?” Ucap sivia jail.

“Aduh Sivia yang cantik, gue udah punya pacar. Itu juga hak dia mau ciuman and pacaran sama siapa kali”

“Gue percaya! Lo jealous khan Fy, lo suka kan sama kak Rio? Jujur aja dech” Ify bangkit dari kasurnya dan mengambil sebuah foto dia dengan Alvin.

“Tuh pacar gue! Kalo masih ga percaya, lo berdua Tanya Deva aja”

“Gila Fy, ni cowo lo! Chinese banget Fy”

“Bukan! Papua banget baru bener!”

“Trus nasib kak Rio gimana?”

“Lo bawel banget sich Ag, itu sich urusan dia! Gue ngantuk akh! Cape baru nyampe Jakarta jam 1 pagi.” Ify menarik selimutnya. Matanya terpejam, tapi otaknya trus memikirkan Rio. Agni dan Sivia ikutan ambil posisi di kasur
Ify.

***

1 bulan setelah UN.

“Gue liat, sejak lo kalah basket sama Ify lo ga pernah ngobrol lagi sama Ify” celetuk Cakka saat sedang berjalan berdua pulang sekolah.

“Gue harus nepatin janji gue”

“Emang apa janjinya?”

“Kalo gue menang basket, Ify bakal jadi pacar gue. Tapi kalo Ify yang menang, gue harus lupain dia”

“Hah?”

“Lagipula Ify juga udah punya pacar”

“Trus maksudnya dia selama ini apa?” Rio menggeleng lemes.

“Sabar ya sob, cewe masih banyak. Kenapa lo ga balikan aja sama Dea?”

“Ify juga bilang gto”

“Ify susah banget di tebak sich! Gue bingung apa yg ada di dalam otaknya” Ucap Cakka sambil geleng-geleng kepalanya.

“Ini semua salah gue cak. Waktu itu Ify pernah Tanya ke gue kalo dia udah punya cowo apa yang akan gue lakuin

“Trus lo jawab apa yo?”

“Gue lepasin dia!” Cakka reflek menjitak Rio dan memasang wajah sangarnya.

“Lo pinter-pinter tapi bego ya! Lo kemakan omongon lo sendiri! Udah kemakan omongan sendiri, pas ada kesempatan kedua lo malah nyia-nyiain!”

“Bukan nyia-nyiain! Ify jago banget maen basketnya! Gue aja nyampe kewalahan.”

“Dih!!! Lo ga malu apa kalah sama cewe”

“Ah lo bawel Cak! Bantuin gue mikir napa!”

“Gue angkat tangan dech! Ini urusannya udah antara hati lo sama hatinya Ify” Cakka langsung ngibrit masuk rumahnya sebelum di timpuk pake sepatu oleh Rio.

***

Malam Promnight.

Ify memoles wajahnya dengan bedak tipis. Make-up yang ia kenakan minimalis, tidak terlalu menor tapi terkesan cantik. Dress yang ia kenakan warna merah marun selutut. Acara
promnight di mulai jam 9 malem sampe jam setengah 1. Tapi jam 8 malem, Ify udah
selese dandan.

“Tingtong….” Ify segera berlari kecil membuka pintu rumahnya. Ify terpaku melihat seseorang yang berada di depannya.
Ify bengong melihat cowo di depannya. Benar-benar bingung. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Seulas senyum tersungging di bibir cowo itu.

“Kak Alvin” Sapa Ify gugup. (gue kira Rio yang nyamper buat ke prom, hahaa).

“Hai Fy, lo cantik banget, mau kemana?”

“Makasih kak. Kok lo tau rumah gue yg di Jakarta?”

“Gue tau dari mbok Nar. Lo mau kemana Fy?”

“Gue mau ke acara prom”

“yahhh padahal gue pengen ngajak lo jalan” Ada raut kecewa dari wajah Alvin. Ify melirik jam tangannya. Masih setengah 9. Masih ada 3 jam untuk ke acara prom.

“Ya udah ayo, gue masih ada waktu 3jam buat ke acara prom”

Alvin membawa Ify ke sebuah restaurant dengan lampu agak remang-remang. Ify benar-benar takjub dengan restaurant tersebut. tempatnya romantis banget. Ify
sampe speechless.

“Lo suka ga Fy tempatnya.”

“Gue ga nyangka ada tempat sekeren ini di Jakarta” Gumam Ify.

Hanya seulas senyum yang terpancar di bibir Alvin. Alvin menggenggam tangan Ify. Pandangannya lurus menatap Ify. Jantung Ify berdegub 2x lebih kencang.

***

“Dev, kakak lo mana?” Tanya Cakka. Ia tahu, sohibnya si Rio sedang was-was menunggu kedatangan Ify.

“Tadi kak Ify udah berangkat duluan kok”

“Masa dia belum nyampe juga sich?” Tanya Agni ikutan cemas.

“Jangan-jangan dia di….” Celetuk Sivia.

“Apaan?” Gabriel penasaran.

“Di culik!!!” Semua melotot ke arah Sivia.

“Coba lo telpon kakak lo Dev?” Deva segera menghubungi kakaknya.

“Mailbox!” Rio sudah ambil ancang-ancang buat pergi. Tapi di cegah oleh cakka.

“Kita tunggu Ify aja disini”

***

“Ada yang mau gue omongin sama lo kak”

“Ngomong aja Fy”

“Lo janji ga bakal marah kan?”

“Gue janji.”

Ify berpikir sejenak. Ia masih bingung apakah ini waktu yang tepat. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10 lebih 15 menit. Udah ga ada waktu lagi.

“Maafin gue kak. Gue… Gue…”

“Lo suka sama cowo lain kan?” Tebak Alvin. Tebakan yang membuat Ify kaget.

“Lo?”

“Deva udah cerita semua nya sama gue. Maafin gue ya Fy, kalo gue ga bisa jagain lo.”

“Lo ga marah sama gue kak?”

“Buat apa gue marah sama lo? Gue justru terima kasih ma cowo yang udah ngerebut hati lo itu. Dia sanggup merubah sifat lo yang cuek sejak di tinggal gue”

“Lo tau dari Deva?”

“Deva sama Acha udah cerita, Mbok Nar juga udah cerita. Sekarang terserah lo aja Fy”

“Kak, maafin gue. Maafin gue harus ninggalin lo”

“Lo emang ninggalin gue sebagai pacar, tapi lo ga boleh ninggalin gue sebagai sahabat” Ify menatap Alvin dengan berkaca-kaca. Ify mengangguk dengan memberikan senyum manisnya.

“Udah ga usah nangis. Kasihan make-up lo. Kita bakal sahabatan untuk selamanya khan Fy?” Alvin mengacungkan kelingkingnya. Ify mengangguk pelan dan mengaitkan kelingkingnya.

Ify melirik ke jam tangannya. Udah jam 11!

“Kak, gue lupa mesti ke promnight sekolah”

“Mau gue anter Fy?”

“Ga usah kak, gue naik taksi aja”

***

Rio terus menatap jam tangannya. Ini udh jam 11 lebih. Rio udah benar-benar putus. Rio menyanyikan lagu dealova dengan sebuah piano. Semua mata tertuju pada Rio. Mereka
terkesima melihat Rio.

Aku ingin menjadi mimpi indah

Dalam tidurmu

Aku ingin menjadi sesuatu

Yang mungkin bisa kau rindu

Karena langkah merapuh

Tanpa dirimu

Oh... Karena hati tlah letih

Aku ingin menjadi sesuatu

Yang slalu bisa kau sentuh

Aku ingin kau tahu bahwa aku

Selalu memujamu

Tanpamu sepinya waktu

Merantai hati

Oh... Bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang

Memanggil rinduku padamu

Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Oh...
Hanya dirimu

Yang bisa membuatku tenang

Tanpa dirimu

Aku merasa hilang... dan sepi

Dan sepi...

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang

Memanggil rinduku padamu

Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang

Memanggil rinduku padamu

Seperti udara yang kuhela kau selalu ada


Selalu ada...

Kau selalu ada...

Selalu ada...

Kau selalu ada...

Sebuah applause meriah dari penonton. Sebuah penghayatan yang luar biasa dari Rio.

“Lo keren bgt bro!!!” Seru Gabriel memeluk pundak Rio.

“Ify belum dateng?” Tanya Rio lesu.

***

“Kenapa bang?” Tanya Ify pada sopir taksi.

“Jalannya macet non?”

“Gila! Ini udah jam 11 lebih bang! Masa masih macet”

“Ya maklum non, namanya juga Jakarta. Mau siang malem pagi sore kan macet mulu”

“Aduh bisa telat dech!”

***

“Gue yakin Ify ga akan dateng” Tapi hanya tersenyum pada Rio. Rio memutar otaknya, dan menepuk keningnya.

“Gue tau Ify dimana!” Seru Rio lalu berlari meninggalkan acara promnight.

***

Jam 12 kurang lima menit. Ify mendribble bolanya dan memasukan bolanya ke dalam ring basket.

“Ngapain lo disini?” Ify menoleh ke arah si pemilik suara dan berlari memeluknya.

“Gue ada urusan. Kalo gue paksain ke promnight, gue yakin pasti telat. Mending gue kesini aja”

“Lo cantik banget Fy pake dress merah”

“Hahaha, gombal!”

“Gimana kalo kita tanding basket. Kalo lo kalah, lo harus jadi pacar gue!”

“Ikhh ogah! Gue cantik-cantik gini masa maen basket! Gue pake dress nich!!”

“Gue juga udah pake jas item kaya gini”

“BTW, lo kesini naik apaan kak?”

“Gue lari dari sekolah sampe lapangan kompleks!” Ify menunduk.

“HAhaha, pokoknya gue mau main basket! Gue bakal buktiin ke elo Fy, klo gue bakal menang”

“Boleh!” (Kyaaa, main basket pake dress? Wkwkwk).

Ify duduk di tengah lapangan, napasnya terengah-engah. Rio menghampiri Ify dan tersenyum. Sesekali mengusap kepala Ify dengan lembut.

“Lo main basket di ajarin siapa kak?”

“Demi ngalahin lo, gue latihan basket tiap hari. Malemnya gue baru belajar.”

“Selamat ya kak, lo udah sukses ngalahin gue 5-1!” Ucap Ify sambil memasang wajah ngambeknya.

“Lo ngomong ga ikhlas banget sich Fy, kalo ga mau jadi pacar gue juju raja donk Fy”

“Iya Gue gak mau!! Gue gak mau!” Seru Ify. Rio menatap lemas kea rah Ify. Ify membisikkan sesuatu ke telinga Rio.

“Iya gue gak mau nolak lo jadi pacar gue” Rio tersenyum senang.

“Makasih Fy, udah malem. Ayo kita pulang”

“Gue cape kak” Rio mengangkat tubuh Ify. Ify tersenyum.

“Bilang aja lo minta di gendong”

“Hehehe, lo tau aja kak” Rio membopong (bukan gendong belakang lho?) tubuh Ify dari lapangan basket sampe ke rumah Ify.

“Gue sayang lo Fy” Ucap Rio saat menurunkan Ify di teras rumahnya.

“gue benci lo kak” Rio kaget.

“Hahaha. Gue benci! Benar-benar Cinta”

“Hahaha sialan lo Fy, bikin gue berhenti napas aja! Udah malem sana masuk.” Rio mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening Ify. Pipi Ify memerah.

***

Alvin tetap tinggal di Bandung. Tapi setiap akhir pekan, ia selalu ke Jakarta. Rio memutuskan untuk kuliah di Jakarta aja. Deva seneng banget liat kakaknya udah
kembali ceria. Deva bersyukur Ify bisa pacaran dengan Rio.


The End



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar