Another way to love IV

PART IV
Ini part terakhirnya... Bagus ga ceritanya? ^^

*****

Rio mengerjapkan matanya, melihat kamarnya yang masih gelap, membuat ia melirik ke arah jam tangannya, sudah pukul tujuh malam ternyata. Sesaat rio hening, tapi kemudian ia langsung terduduk di tempat tidurnya, bagaimana bisa di saat seperti ini ia malah tertidut pulas.
Dia mengecek hpnya, tidak ada satupun sms ataupun telpon yang masuk selama ia tertidur. Rio mencoba menelpon nomer yang sama seperti yang ia lakukan sebelum ia tertidur. Dan hasilnya tetap sama, nomer tersebut tidak aktif.
Setelah mandi kilat dan berganti pakaian, rio langsung bergegas turun ke bawah, dan menemui mamanya yang sedang menyiapkan makan malam mereka.
“Ma..”
“Apa yo ? bentar lagi masakannya mateng”
“Bukan itu. Rio mau nanya, alvin belum pulang ? tadi dia nelpon enggak ke rumah ?”
“Belum, dia bilang dia lembur malem ini di sekolah, tadi dia nelpon buru-buru, katanya hpnya lowbatt”
“Pantes..” gumam rio pelan.
“Kenapa yo ?”
“Hah ? oh enggak, enggak apa-apa. Ma, rio mau nyusulin alvin ke sekolah ya”
“Lho memang ada apa ?”
“Mau bantuin aja” jawab rio singkat, lalu langsung ngacir. Mamanya cuma bisa geleng-geleng kepala, sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan perbedaan yang terjadi di rio dan perang dingin antara rio dan alvin saat ini.
“Lo rio ?” seorang laki-laki yang nampaknya lebih muda darinya, menghampiri rio saat rio ingin masuk ke dalam mobilnya.
“Iya, lo siapa ?” tanya rio heran sambil memperhatikan anak itu lekat-lekat, di merasa belum pernah bertemu dengan anak ini sebelumnya.
“Kenalin gue deva, gue adeknya shilla”
“Oh iya, kenapa ?”
“Lo bisa ikut gue kan ? please..” rio tambah bingung melihat deva, ada tatapan pengharapan dan kekhawatiran yang bercampur aduk di matanya.
“Ikut kemana ?”
“Enggak ada banyak waktu buat jelasin itu, tapi gue harap lo bisa ikut gue sekarang, kakak gue lagi butuh lo banget..”
“Oke-oke, tapi emang shilla kenapa ?” entah kenapa, rio langsung merasa waswas mendengar ini ada hubungannya dengan shilla.
“Gue jelasin di mobil, ayolah..” paksa deva yang membuat rio cukup bimbang.
“Tapi gue harus pergi ke tempat lain..” rio mencoba menolak, wajah alvin terus terbayang di depan matanya.
“Shilla lagi kritis dan dia butuh elo !” mendengar kata-kata deva, membuat rio terdiam di tempatnya. Ada apa ini, mengapa semua menjadi begitu tiba-tiba dan membingungkan langkahnya.
“Udah ayo cepetan !” ajak deva lagi, rio tidak bisa menolak lagi. Senyum manis shilla, mata bening yang selalu memberinya kenyamanan, waktu-waktu yang shilla berikan untuknya, nasihat-nasihat dari shilla, bahkan air mata shilla terasa menari-nari di depan mata rio. Tanpa pikir panjang lagi, rio langsung mengikuti deva, dengan sejuta pertanyaan di hatinya, dengan sejuta kegundahan yang membebani pikirannya.
Sambil meregangkan otot-ototnya, alvin melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. Kadang pekerjaan dengan suasana yang menyenangkan, memang membuat waktu menjadi berjalan terlalu cepat.
“Udah jam delapan nih, lo pada pulang aja deh, lagian kan udah hampir sembilan puluh persen jadi, sisanya tinggal yang kecil-kecil bisa di lanjutin besok” ujar alvin ke teman-temannya. Teman-temannya mengangguk, dan mulai membereskan peralatan-peralatan yang mereka gunakan.
Satu persatu, mereka mulai pulang dan lama-lama hanya meninggalkan alvin dan iel berdua lagi di ruangan itu, entahlah, tapi mereka berdua tampaknya masih tampak asik menekuni pekerjaan mereka.
“Eh, udah sana pulang lo yel, ngeyel banget sih”
“Elo aja belom pulang” balas iel sambil nyengir.
“Nanggung abisan nih, bentar lagi jadi”
“Emang lo lagi ngelukis apa sih ?” tanya iel penasaran sambil berjalan ke arah alvin.
“Eits ! diem di tempat lo ! udah gue bilang kan, jangan lihat gambar gue dulu, entar aja, biar surprise” kata alvin. Iel hanya bisa melengos. Memang sudah sejak sejam yang lalu, alvin diam di balik kanvasnya, di sudut ruangan, menikmati kegiatan melukisnya, yang gambarnya ia rahasiakan dari teman-temannya.
“Kasih gue lihat dikit aja kenapa sih vin ?” tanya iel penasaran.
“Udahlah, yang jelas entar pas pembukaan, baru deh boleh gambar ini di buka”
“Ah pelit lo” cibir iel yang membuat alvin terkekeh.
“Udah sana lo balik” perintah alvin lagi.
“Iya-iya ketua, ini gue juga mau balik..” lagi-lagi alvin terkekeh, mendengar iel memanggilnya ‘ketua’ hal itu terasa janggal untuknya.
“Duluan ya bro..” ujar iel yang di balas jempol sama alvin. Sepeninggal iel, alvin terus melukis, terus mencurahkan apa yang ada di dalam pikirannya, apa yang ada di dalam hatinya. Kadang ia berdiri sebentar, untuk sekedar meregangkan otot-otot badannya, setelah itu ia kembali asik menghadap kanvasnya, menggoreskan kuasnya, membentuk mahakaryanya.
Alvin tersenyum puas, mendapati lukisannya telah selesai, alvin memandangi lukisan tersebut dalam diam, sejenak. Kemudian ia membereskan alat-alat melukisnya, dan memindahkan lukisannya ke atas panggung, tidak lupa ia tutupi lukisannya itu dengan kain putih, agar tidak ada orang lain yang melihatnya sebelum acara pembukaan.
Sedikit terkejut, karena jarum jam telah berpacu cepat, dari teakhir kali ia mengeceknya. Kini jarum jam tersebut, tengah menunjukkan angka, sebelas malam. Alvin memakai helmnya, dan mulai memacu motornya di tengah gelapnya malam.
Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang ganjil yang mengikutinya sejak tadi, itu juga yang membuat alvin terus-terusan mengecek kaca spionnya. Tapi yang ia lihat selalu saja jalan yang kosong di belakangnya. Alvin mencoba fokus, ia terus memacu motornya, toh sebelum ini ia telah berkali-kali pulang malam, bahkan sering lebih larut dari pada ini.
Tinggal satu belokan lagi, dan alvin akan segera sampai rumah dan bisa mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Sedikit menambah kecepatan, alvin menggas motornya lebih kencang, tepat ketika ia menyadari, sebuah jeep sedang melaju dengan amat kencang ke arahnya. Alvin mencoba menghindar, tapi terlambat, ujung bemper jeep tersebut telah mengenai ujung motor alvin.
“BRUUKK !!” kecepatan yang tinggi, membuat badan alvin terlempar dari motornya, melayang dan jatuh tak berdaya menyentuh aspal. Sementara pengemudi mobil jeep itu, hanya tersenyum melihat kondisi alvin, kemudian ia mengambil handphonenya, dan menelpon seseorang, untuk memberi tahu kabar ini secepat mungkin.
***
Entahlah sudah berapa lama rio duduk disini, hidungnya malah mulai terbiasa oleh bau alkohol yang menyengatnya sejak tiga jam yang lalu. Tangannya mengusap pipi shilla yang terbaring dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya. Wajah shilla yang lembut dan terlihat seperti malaikat kecil yang sedang tertidur.
“Rio..rio...”
“Iya shil, gue disini..” rio tersenyum. Sudah sejak tadi juga, shilla terus menerus mengigau memanggil namanya. Rio menyibakkan beberapa helai rambut shilla yang menutupi wajahnya, masih tidak abis pikir untuknya, bagaimana bisa seorang shilla yang ia kenal sebagai gadis yang mandiri dan berpikiran terbuka, ternyata dalamnya serapuh ini, memilih untuk mengiris nadinya sendiri, dengan pecahan kaca figura fotonya.
“Rio..ehm..kak..”
Rio menoleh sambil tersenyum melihat deva yang berdiri di belakangnya.
“Enggak usah pakai kak juga enggak apa-apa” ujar rio yang membuat deva nyengir.
“Enggak biasa. Oh ya, lo udah tiga jam duduk disini, lo pasti belum makan kan ? biar gue aja yang jagain shilla sebentar” ingin rasanya rio menolak, tapi cacing di perutnya nampak tidak setuju dengan pikiran rio.
“Oke, gue keluar sebentar, nanti gue balik lagi kesini” deva hanya tersenyum. Lantas, rio keluar dari kamar shilla, dan melepaskan baju sterilnya, dia juga mengambil hpnya yang tidak boleh di bawa masuk ke ruangan tersebut.
Mata rio melotot tajam melihat begitu banyaknya panggilan tidak terjawab yang memenuhi hpnya. Dengan cepat dia langsung menelpon kembali nomer yang menelponnya tersebut. Gelisah, rio tidak bisa diam di tempatnya, pikiran dan hatinya kalut saat ini.
“Halo..”
“Beres bos, semua udah beres” hati rio mencelos mendengar kata-kata lawan bicaranya. Dia langsung memutuskan sambungan telponnya. Kepalanya sedikit pusing, dia meraba kursi yang ada di sampingnya dan duduk disitu.
Jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya mengalir tanpa kendali, tangannya gemetar, keringat membasahi tubuhnya dan wajahnya pucat. Dia bahkan tidak sanggup membayangkan apa yang sekarang sedang terjadi. Beribu penyesalan langsung menghujani otaknya, mengutuk setiap langkah keegoisannya.
Drrtt..drrtt..drrtt...
“Ha..halo..” ucap rio parau.
“Yo, rio kamu dimana ?”
“Kenapa ma ?”
“Alvin..alvin kecelakaan..” rio dapat mendengar dengan jelas, mamanya sedang berbicara sambil menangis saat ini. Batinnya pun terguncang hebat, meski ia telah tahu lebih dulu, tapi tetap saja ini semua terasa begitu telak menusuk nuraninya.
Tanpa mempedulikan suasana hening yang mencekam dari rumah sakit di malam hari. Rio langsung berlari begitu menyadari rumah sakit yang alvin tempati sama dengan yang shilla tempati saat ini.
“Host..host..” rio mengatur napasnya sebentar. Dia menatap wajah-wajah sendu yang sedang menunggu alvin di depan ugd. Ada mamanya yang nampak sedang menangis sambil terus berdoa, papanya yang terlihat tegang dan berjalan kesana kemari, iel yang cemas dan tampak sibuk dengan telepon genggamnya, acha yang menangis di pelukan cakka dan tentu saja via yang duduk sendiri sambil menunduk dan meremas-remas tangannya.
“Vi..” panggil rio pelan.
“Alvin yo alvin..” tanpa di duga-duga, via langsung bangkit dan memeluk rio.
“Iya vi gue tahu..” rio mengelus-ngelus belakang kepala via dengan tangannya. Dia membiarkan via menumpahkan segalanya, membiarkan via menangisi alvin, karena sejujurnya ia sendiri ingin menangis sekarang. Satu yang membuat rio aneh, saat ini, saat via gadis yang ia pertahankan, menangis untuk rivalnya, tidak ada api cemburu yang berkobar di hatinya, saat ini dia hanya ingin menemani via, sebagai seorang sahabat.
“Keluarga alvin jonathan ?” tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut sambil melihat ke arah semua yang ada di ruang itu.
“Iya dok, gimana keadaan anak saya ?” tanya mamanya langsung. Semua yang ada disitu juga mendekat.
“Terjadi sedikit pendarahan di otaknya, tapi tidak terlalu fatal, dia akan melewati masa kritisnya, hanya saja kaki kirinya patah dan harus di gips untuk beberapa minggu ke depan” semua menghembuskan sedikit nafas lega mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
“Ya sudah saya permisi dulu, administrasinya harap segera di selesaikan, pasien sudah boleh dijenguk setelah di pindahkan ke kamar inap” jelas dokter itu lagi.
“Makasih dok..” ujar mamanya alvin sambil menjabat tangan dokter tersebut dan disusul oleh papanya. Kemudian kedua orang tuanya pergi untuk mengurus administrasi sesuai perintah dokter tadi.
“Gimana caranya alvin main bola kalo kakinya patah” gumam via pelan dan lirih. Semua mata memandangnya.
“Dia akan sembuh vi, percaya deh sama gue, dia bisa, dia jagoan..” hibur rio meski hatinya juga menanyakan hal yang sama. Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia perbuat untuk mempertanggungjawabkan semuanya, apakah ia harus mengakuinya sekarang, di depan semua orang ini, apakah mereka akan memaafkannya, apakah alvin akan memaafkannya ?
“Kok bengong yo ?” tanya iel yang menyadari perubahan rona muka rio. Rio hanya tersenyum tipis.
“Emang lo tadi dimana ? cepet banget sampai sininya ?” tanya iel lagi.
“Gue juga lagi disini, nungguin shilla”
“Shilla kenapa ?” tanya cakka ikutan.
“Nanti aja gue ceritainnya. Cak, mending elo anterin acha pulang deh..” ujar rio sambil melihat acha yang tidak kalah terguncangnya seperti via.
“Acha mau disini kak, enggak mau pulang”
“Udah hampir tengah malem cha, entar kamu sakit, besok aja pulang sekolah kamu jengukin alvin kesini” rio berusaha meyakinkan acha. Acha melirik ke arah cakka, dan cakka memberi kode dengan menganggukan kepalanya.
“Ya udah ayo kak cakka kita pulang” cakka hanya tersenyum, kemudian ia menggandeng acha, mengajaknya pergi dari situ.
Setelah semua prosedur selesai di lakukan, akhirnya alvin di pindahkan ke kamar rawat inap. Sama seperti yang rio lakukan terhadap acha, ia juga meminta agar orang tuanya pulang saja ke rumah. Sebenernya dia juga membujuk via, tapi via hanya menggeleng dan duduk di samping alvin yang terbaring lemah hingga sekarang.
“Tadi lo belom jadi cerita, shilla kenapa yo ?” tanya iel yang tidak betah dengan suasana hening yang membekap ketiganya.
“Dia ngelakuin percobaan bunuh diri sore tadi” iel dan bahkan via yang sedang sibuk memperhatikan alvin langsung menoleh ke arah rio dengan tatapan kaget.
“Ya..gue juga kaget kok, siapa sih yang ngira, cewek secerdas dia ngelakuin hal kaya gini” sambung rio lagi.
“Terus kenapa lo bisa ada disini ?” tanya iel lagi karena via merasa energinya sudah abis untuk menangis.
“Dia ngigau manggil-manggil nama gue terus..”
“Udah gue duga” potong iel.
“Apa ?” tanya rio bingung.
“Dia suka sama lo”
“Shilla memang suka sama kamu yo...” ujar via lirih mulai bersuara. Rio hanya tersenyum masam, kata-kata shilla saat menahannya tadi sore terngiang kembali di otaknya.
“Emang lo enggak pernah ngerasa apa, tatapan mata shilla yang dalem banget buat elo, itu kenapa gue suka ngejekkin lo berdua” sambung iel lagi.
“Apa dia baik-baik aja ?”
“Keadaanya masih kritis sama kaya alvin vi..”
“Kalo kamu mau nemenin dia boleh kok” rio menatap via, via hanya tersenyum. Rio berpikir sebentar, kemudian ia menatap alvin yang masih nampak tertidur.
“Tenang yo, gue sama via bakal jagain alvin disini” seolah bisa membaca kebimbangan rio, iel menepuk-nepuk pundak rio dan meyakinkan rio.
“Gue cuma mau ngecek keadaanya, nanti gue balik lagi kesini” via dan iel kompak tersenyum. Rio langsung berjalan menuju ruangan shilla yang berbeda satu lantai dari kamar alvin.
“Kok lo diluar dev ?” rio bingung melihat deva duduk di luar sambil memainkan hpnya.
“Di dalem ada mama sama papa” jawab deva cenderung tajam. Rio mengerti, memang hanya diijnkan dua orang saja yang masuk ke dalam ruangan shilla.
“Kalau boleh tahu, shilla ada masalah apa sampai dia...” rio menggantung kata-katanya, dia mencoba menemukan kata yang tepat.
“Lo enggak tahu ? gue pikir elo berdua deket” kata-kata deva bagai sambaran petir untuk rio. Deva benar, mereka berdua memang dekat, tapi hanya secuil saja yang rio tahu tentang shilla.
“Kita emang deket, tapi dia cenderung tertutup” ujar rio beralasan.
“Ya dia memang tertutup, tapi gue kira dia bisa terbuka sama lo”
“Gue enggak ngerti maksud lo ?”
“Shilla emang kaya gitu, dia selalu sok tegar di hadapan semua orang, padahal aslinya di itu sosok yang rapuh banget, dia selalu berusaha nuntasin masalah orang lain, tapi dia enggak pernah sekalipun minta tolong orang lain buat dengerin masalahnya, dia terlalu mandiri. Dia berlaku seolah-olah hidupnya ini enggak beban, seolah-olah dia itu orang paling bahagia dan sempurna, padahal kenyataannya nol besar. Dia cinta banget sama kegiatan tulis menulis, tapi bonyok gue yang otoriter dan konvensional itu, menentang keras cita-cita dia, buat mereka shilla itu harapan satu-satunya buat jadi penerus bisnis mereka, karena gue jelas-jelas udah jadi pembangkang dengan memilih jurusan seni..” deva jeda sebentar.
“Apapun yang bonyok gue minta dan suruh selalu di lakuin shilla, dia enggak pernah mau ngecewain siapapun. Tapi akhir-akhir ini kondisi psikis dia memang agak kurang stabil, kadang malem-malem gue suka denger dia nangis sendiri, atau malah kadang ketawa sendiri, ya, gue tahu dia bisa jadi gila lama-lama kaya gini. Sampai akhirnya gue nemuin tulisannya dia, dan semua itu tentang elo, orang yang menurut dia bisa ngasih dia semangat, dan elo tahu apa yang bikin gue terkejut pas baca tulisannya dia ? dia menuliskan semuanya sejujur mungkin, enggak ada lagi topeng yang dia pakai saat dia mencurahkan semua perasaannya tentang elo” rio terhenyak mendengar lanjutan penjelasan dari deva.
“Boleh gue baca tulisannya dia ?”
“Nih..” deva mengulurkan sebuah flashdisk ke arah rio.
“Semua ada disini ?”
“Enggak semua. Gue cuma sempet copas beberapa, sisanya ada di laptop shilla dan ya laptop itu tadi sore di banting dengan bejatnya sama bokap gue, itu juga mungkin yang bikin jiwa shilla terguncang dan ngelakuin hal ini”
“Sori, tapi bokap lo ngebanting laptop shilla cuma gara-gara dia enggak suka shilla nulis ? apa hubungan bokap lo sama shilla...”
“Shilla sih anak baik-baik, yang pemberontak itu gue. Keluarga gue enggak seharmonis yang orang lihat, banyak aib yang sengaja orang tua gue tutupin dan mereka maksa shilla untuk ikut permainan itu, mungkin sikap itu juga yang nurun ke shilla sampai dia jadi tertutup kaya gini” lagi-lagi rio terhenyak. Semua fakta tentang shilla yang baru ia ketahui malam ini, semakin membuatnya sadar, bahwa ia memang tidak sepenuhnya mengenal shilla, atau malah mungkin ia tidak mengenal shilla sama sekali.
“Deva” deva dan rio sama-sama menoleh. Deva melengos melihat siapa yang memanggilnya, sementara rio mencoba tersenyum kepada dua orang yang ia yakini sebagai orang tua shilla dan deva.
“Udah puas nyiksa shillanya ?” tanya deva sinis.
“Mama minta maaf..” ujar mamanya shilla yang menurut rio waktu mudanya pasti secantik shilla.
“Maaf ? jangan sama aku, tapi sama shilla !”
“Deva..”
“Apa sih pa ?! baru sadar sekarang saat kalian ngelihat shilla kaya gini ! kalian itu orang tua kita bukan sih ?! shilla yang selalu ngelakuin semua yang kalian mau tetap aja selalu salah di mata kalian !” rio bingung apa yang harus ia lakukan, posisinya sebagai orang luar jelas buatnya untuk tidak terlalu ikut campur.
“Papa tahu, kamu bener, kejadian ini memang baru membuka mata papa sama mama. Tolong kasih kita kesempatan lagi, kita berdua janji, kita akan ngelakuin semuanya dari awal, kita bangun lagi keluarga kita, kita lupain sama kebohongan yang ada, kita sama-sama hadapin ini” deva menatap laki-laki yang ia panggil papa dengan garang.
“Saat shilla udah kaya gini baru kalian bilang mau mulai semuanya dari awal ?! telat tahu enggak !!” bentak deva sambil mengepalkan tangannya, rio yang berdiri di samping deva langsung memindahkan posisinya menjadi penghalang di antara deva dan papanya.
“Dev, redain emosi lo !” ujar rio.
“Apa ?!”
“Gue emang bukan siapa-siapa dan enggak berhak ikut campur ! gue tahu lo kecewa sama keadaan ini dev ! tapi bukan berarti lo jadi kaya gini, mereka tetap orang tua lo ! dan menurut gue, kalo shilla ada disini sekarang, dia enggak akan suka ngelihat keributan ini, dia pasti mau ngasih kesempatan kedua buat orang tua lo” deva terdiam mendengar kata-kata rio.
“Semua keputusan ada di shilla, kalo dia mau nagsih papa sama mama kesempatan, aku juga” ujar deva sambil berjalan menjauh. Rio tersenyum, ia tahu deva berkata seperti itu, karena ia yakin bahwa shilla memang akan melakukan hal seperti itu, rio juga tersenyum karena merasa jiwanya yang asli telah kembali.
“Kamu rio ya ?” papa shilla tersenyum ke arahnya.
“Iya om tante, saya rio..”
“Shilla masih manggil-manggil kamu dari tadi, kamu masuk gih ke dalem” ujar mamanya. Rio mengangguk dan masuk kembali ke dalam.
Kondisi shilla masih tetap sama, meski layar monitor menunjukkan detak jantung shilla telah lebih stabil, tapi shilla masih saja terus memejamkan matanya.
“Hei, udah sampai mana lo mimpinya shil ?” tanya rio sambil mengusap pipi shilla.
“Gue enggak nyangka, enggak nyangka elo ternyata nyimpen banyak masalah dalam diri lo. Padahal elo orang yang selalu ngeyakinin gue dan semua orang, kalo dengan berbagi beban kita akan sedikit terangkat, iyakan ?”
“Alvin kecelakaan shil, dan gue tahu, itu gara-gara gue..” rio memejamkan matanya sejenak, mengingat ini, membuat perasaan bersalah di hatinya semakin berkembang.
“Elo bener, harusnya gue bahagia saat dia bahagia, gue harusnya ngalah sekali ini aja sama dia, toh dia udah beribu-ribu kali ngalah sama gue. Tapi kemarin, gue bener-bener enggak terima shil, gue enggak terima, saat gue tahu dia bisa dapetin hatinya via dan gue enggak, saat itu gue baru tahu rasanya menjadi kalah itu sangat-sangat enggak enak. Dan entah kerasukan setan darimana, gue pake cara kotor buat nyingkirin alvin, saudara gue sendiri, sahabat gue sendiri, dan sekarang gue nyesel shil, gue nyesel..” rio berhenti sejenak terbayang senyum alvin yang selalu ada untuk menyuportnya.
“Keadaanya emang enggak begitu parah, tapi kakinya patah, dan itu artinya dia enggak bisa main bola turnamen ini, dan elo tahu shil, gue rela ngeganti kaki gue dengan kakinya seandainya itu bisa. Sekarang gue harus gimana shil ? gue enggak mau jadi pengecut, gue tahu gue harus ngaku dan nerima semua konsekuensinya, dan sejujurnya gue takut semua orang ninggalin gue, gue takut alvin marah sama gue dan enggak mau untuk nemuin gue lagi, gue takut..” lirih, ada setetes air mata yang jatuh dari sudut mata rio. Hatinya kalut sekarang, ia takut tapi ia tidak mau terus terbebani dengan ini semua.
“Apapun yang terjadi, gue pasti ngaku shil, gue pasti bilang ke alvin kalo dia udah sadar, gue tahu itu pahit buat gue, tapi itu satu-satunya jalan yang paling baik kan ? dan elo tahu shil, saat gue ngelihat via nangisin alvin, gue enggak ada rasa marah sama sekali, gue malah pengen ngapusin air matanya dia, sebagai seorang sahabat..” entah karena malam yang telah semakin larut dan keletihan yang rio rasakan atau memang benar adanya, tapi rio melihat shilla seperti tersenyum untuknya.
“Gue curhat sama elo yang lagi koma gini aja gue ngerasa lega, gimana kalo gue curhat elonya lagi dalam keadaan sadar ya ? elo pasti udah nasehatin gue panjang-panjang..hehe..” rio terkekeh sebentar.
“Cepet sadar ya shil, entah kenapa gue enggak pengen lihat lo terus-terusan kaya gini, gue kangen sama semua nasihat lo, gue pengen ngelihat senyuman sama tatapan mata lo lagi yang selalu bisa bikin gue tenang..” sambil tersenyum rio terus mengusap-usap pipi lembut shilla.
Tidak ada bedanya dengan rio yang sedang nungguin shilla, via pun dengan setia menemani alvin yang tergolek lemah, dengan perban membalut kepalanya dan gips yang terpasang di kakinya. Iel telah terlelap dari tadi di sofa, tapi mata via masih terus terjaga, ia ingin terus memandangi alvin.
“Vin lo harus bangun vin, turnamen kan tinggal besok, elo harus buka acara, kan elo ketua panitianya, lagian lo utang sama gue, lo bilang selesai turnamen ini, lo bakal nemenin gue kan, lo bakal selalu ada buat gue kan” ujar via lirih. Air matanya sudah tidak mengalir lagi, tapi tatapannya nanar.
“Ini semua salah gue, seandainya dari awal gue enggak nerima rio, seandainya dari awal gue udah mantepin hati gue buat elo, enggak perlu ada yang sakit, enggak perlu ada rio yang menderita, enggak perlu ada elo yang berusaha ngerelain gue, enggak perlu ada perkelahian lo sama rio, semua salah gue vin..” desah via pelan. Tangannya menggenggam erat tangan alvin yang terasa begitu dingin.
“Ayo dong jagoan, lo bangun dong. Gue masih pengen ke hutan bareng lo, masih pengen duduk berdua di pinggir danau sama lo, masih pengen ngelihat bintang, masih pengen hujan-hujanan, masih banyak hal yang belom kita lakuin vin, masih banyak...”
“Dan gue bahkan belum sempet bahagian lo, gue belum sempet ngelakuin sesuatu buat elo. Tapi lo percaya kan vin sama gue ? gue sayang sama lo, gue sayang banget sama lo..”
“Gue enggak siap kehilangan lo alvin. Ini bukan hukuman dari Tuhan buat gue kan karena nyia-nyiain rio, gue udah ngelepasin rio, dan gue akan sekuat tenaga mempertahankan elo vin. Gue enggak mau kehilangan elo, gue enggak rela kehilangan elo, gue enggak bisa tanpa elo vin...” sesak memenuhi dada via, tapi tidak ada air mata yang tumpah, mungkin air mata itu telah habis.
“Tolong jangan kecewain gue, gue sayang sama lo..” ujar via sambil mengecup tangan alvin.
***
Sekolah terutama anak-anak panitia langsung heboh saat mendengar berita kecelakaan alvin. Padahal acara pembukaan turnamen tinggal beberapa jam lagi. Iel yang datang dengan kantong mata yang melingkar di bawah matanya dan terlihat agak lesu langsung di kerubutin sama teman-temannya.
“Yel emang bener alvin kecelakaan ?”
“Kecelakaan gimana ?”
“Parah enggak ?”
“Kondisinya dia sekarang gimana ?”
“Di rawat ? dirawat dimana ?” semua pertanyaan langsung menyerbunya yang membuat iel bingung harus menjawab pertanyaan yang mana.
“Stop ! gue jelasin oke ? alvin emang kecelakaan semalem, menurut hasil penyelidikan sih, motornya di tabrak sama mobil tapi sampai sekarang mobil itu masih di lacak sama polisi, kondisinya lumayan parah, ada pendarahan di otaknya dan kaki kirinya patah, sekarang dia masih di rawat dan sampai pagi ini dia belum sadar” semua yang ada disitu diam menyimak cerita iel, rasanya masih kemarin mereka melihat alvin yang begitu semangat berkerja.
“Terus sekarang kita harus gimana dong ?” celetuk seorang anak.
“Jangan nyerah, alvin enggak pernah kenal kata menyerah..” tiba-tiba rio muncul sambil tersenyum. Penampilannya telah kembali rapi, bukan lagi seperti rio beberapa hari belakangan ini.
“Yang rio bilang bener, kita enggak boleh negcewain alvin, sekarang ayo kita selesain tugas kita yang semalem belum selesai” sambung iel sambil merangkul rio, ia senang melihat sahabatnya telah kembali ke jalan yang benar.
“Itu apa yel ?” tanya rio sambil menunjuk ke arah panggung.
“Itu lukisannya alvin, alasan alvin baru pulang selarut itu, dia ngelukis itu kemarin dan dia bilang, lukisan itu sengaja dia bikin untuk acara pembukaan, karena dia mau nunjukkin itu ke seseorang” rio mendekat ke arah lukisan itu, tapi tangannya di tahan iel.
“Kenapa ?” tanya rio bingung.
“Jangan, enggak ada satupun yang boleh lihat dari kemarin, dia bilang baru boleh di lihat pas pembukaan” rio nampak kecewa karena ia begitu penasaran, tapi dia menuruti perintah iel.
“Gue enggak tahu alvin bisa ngelukis” guman rio. Iel tersenyum, dia mengambil beberapa kertas dan menyodorkannya ke rio.
“Lo lihat ini, ini denah konsep acara yang alvin gambar sendiri, sekarang lo lihat ruangan ini, semua tata letak ini alvin yang ngatur. Saudara lo itu ada bakat di seni bro..” terang iel semangat.
“Nyokapnya juga pinter ngelukis, tapi dia enggak pernah sekalipun coba ngegambar..” iel hanya tersenyum. Rio tambah meras miris, semalam ia baru tahu semua tentang shilla, dan kini dia juga baru tahu sisi lain dari seorang alvin, orang yang telah bertahun-tahun begitu dekat dengannya, orang yang nyawanya hampir saja rio gadaikan.
Masih dengan baju yang ia pakai dari semalam, via masih tetap bertahan di tempatnya menunggu alvin sadar, ia sama sekali tidak mau beranjak meski mamanya alvin telah membujuknya berkali-kali.
“Vi..via...” via terkejut melihat bibir alvin bergerak memanggil namanya.
“Iya vin, ini gue, elo udah sadar ?” tanya via sumringah. Tangannya memencet-mencet tombol bel memanggil suster, karena mamanya alvin sedang membeli sarapan.
“Jam berapa sekarang ?” pertanyaan alvin membuat via bingung, bagaimana bisa orang yang baru saja kecelakaan malah menanyakan jam ketika ia sadar.
“Jam ? ehm..jam sembilan..” ujar via sambil melirik jam tangannya.
“Gue mau ke sekolah vi..” kata alvin pelan.
“Buat apa ? lo baru aja sadar vin..”
“Jam sepuluh pembukaan turnamen vi” via terhenyak memandang alvin. Apakah kepala alvin terbentur sehingga ia begitu peduli pada urusan sekolah ?
“Vin..”
“Please vi..” alvin tersenyum sambil memeberikan via tatapan penuh harap.
Tingkat kesibukan semakin menjadi-jadi, semua oran sibuk berlalu lalang mengerjakan tugas mereka di menit-menit terakhir. Para tamu yang terdiri dari dewan guru, perwakilan orang tua dan tentu saja orang-orang yayasan telah datang. Rio yang secara aklamasi di pilih sebagai ketua sudah siap untuk membuka acara. Dia melihat papanya telah duduk di kursi paling depan dan tersenyum ke arah dirinya.
“Sebelum acara ini saya buka, saya mau memberitahukan kepada semua, bahwa sesungguhnya bukan sayalah ketua yang asli dalam acara turnamen ini, tapi berhubung ketua panitia yaitu saudara alvin jonathan berhalangan hadir, maka sayalah yang berdiri disini untuk membuka acara ini. Sesuai dengan apa yang telah di rencanakan oleh ketua kami alvin, acara ini resmi di buka dengan di bukanya kain putih di lukisan tersebut..” rio berjalan ke arah lukisan. Dia sendiri tidak mengerti gambar seperti apa yang ada di balik kain putih itu.
Tangannya telah memegang ujung-ujung kain putih itu. Perlahan demi perlahan rio mulai membuka kain putih itu. Dan rio menatap tak percaya dengan apa yang di tangkap matanya, begitupun semua hadirin yang ada disana, mereka terpaku pada apa yang mereka lihat di kanvas itu.
“Saya punya penjelasan untuk ini semua..”
***
“Saya punya penjelasan untuk ini semua..”
Semua yang ada disana menoleh ke arah pintu masuk. Bahkan ada beberapa yang berdiri untuk melihat siapa yang datang.
“Alvin” ucap rio pelan hampir tidak terdengar.
Alvin hanya tersenyum kecil. Di tangan kirinya terjepit kruk yang menopang badannya. Kondisinya jelas masih terlihat payah. Sambil tertatih-tatih dan di bantu oleh via yang berdiri di sampingnya, alvin berjalan menuju panggung. Rio yang baru tersadar dari lamunananya langsung turun untuk membantu alvin.
“Enggak usah yo, gue bisa sendiri..” tolak alvin sambil terus berusaha jalan ke atas panggung. Rio melirik ke arah via, berusaha mencari penjelasan tapi via hanya menggeleng.
“Pasti semua bingung, apa hubungan lukisan ini sama turnamen kali ini, untuk itu saya punya penjelasannya..” ujar alvin lirih sambil berdiri di samping lukisannya.
Bagai sedang ada di dalam pengaruh hipnotis, semua yang ada di ruangan itu menatap lurus ke arah alvin dan lukisannya. Sesungguhnya lukisan itu sangat sederhana, di dalam lukisan itu, tergambar punggung seorang anak laki-laki kecil yang sedang bergandengan dengan papanya. Latarnya tampak seperti sebuah taman kota, mereka terlihat berjalan ke arah matahari yang hampir terbenam. Tidak begitu istimewa tapi ada sebuah daya tarik yang mampu membuat orang untuk tidak berpaling dari lukisan tersebut.
“Lukisan ini menceritakan tentang hubungan seorang ayah dan anaknya, hubungan yang begitu dekat, hubungan yang begitu bersahabat, hubungan yang begitu privat, seperti layaknya seorang ayah dan anak pada umumnya. Energi itulah yang menghubungkan lukisan ini dengan turnamen kali ini..” alvin jeda sebentar, rasa sakit di kepalanya berdenyut hebat.
“Ibu memang elemen paling utama dalam kehiudpan kita, tapi bukan berarti juga kita harus melupakan sosok ayah, tanpa dia yang berkerja keras siang malam, tidak mungkin untuk kita bisa merasa hidup nyaman dan tenang. Ayah selalu di gambarkan sebagai sosok yang keras, galak, cenderung otoriter bahkan kadang kasar..” alvin menatap mata papanya yang sedang menatap matanya, dan ia hanya tersenyum.
“Tapi di balik semua itu, dialah yang selalu berusaha keras memikirkan segala yang terbaik untuk anaknya untuk keluarganya. Seperti halnya turnamen ini, kita semua saling berteman bersahabat satu sama lain, layaknya seorang ayah dan anak, tapi ada kalanya, kita harus saling memeras otak memikirkan bagaimana caranya untuk menang tanpa harus merubah pertemanan kita menjadi permusuhan, seperti seorang ayah, yang selalu keras pada anak-anaknya tanpa harus merubah posisinya dari seorang ayah menjadi seorang musuh untuk anak-anaknya..”
“Lukisan ini saya persembahkan untuk...pa..pa..” papanya alvin yang dari tadi diam menyimak, tidak mampu menyembunyikan raut wajah sedihnya lagi. Kata-kata alvin, seorang anak yang selama belasan tahun selalu ia cela, yang selama belasan tahun selalu ia hadiahi pukulan dan tamparan, yang selama belasan tahun selalu tidak pernah ia anggap, kini berdiri di atas panggung, berbicara seolah hubungan mereka begitu akrab.
Rio dan via yang menyaksikan dari sisi panggung, juga ikut terbawa suasana. Butiran hangat malah telah membasahi pipi via.
“Rio, bisa bawa gitar lo ?” permintaan alvin tentu saja membuat rio bingung, tapi iel yang entah datang dari mana, menyodorkan sebuah gitar ke arahnya, tanpa pikir panjang rio langsung naik ke atas panggung.
“Mau ngapain vin ?” alvin membisiki rencanya, rio tampak mengernyit, tapi ia mengerti. Alvin menganggukan kepalanya, dan rio mulai memetik senar gitarnya.
Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
Do you think I'm wasting my time doing things I wanna do?
but it hurts when you disapprove all along

Rio menoleh ke arah alvin, dia baru tahu saudaranya itu ternyata memiliki suara yang enak di dengar. Apalagi isi lagu yang ia bawakan memang curahan hatinya.

And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't pretend that I'm alright
And you can't change me

Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect
Alvin diam sebentar, hal itu tentu saja membuat rio bingung, dia menoleh lagi ke alvin dan sadar bahwa muka alvin begitu pucat.
“Lo baik-baik aja kan ?”
“Lanjut yo..” ujar alvin lirih sambil tersenyum dan melanjutkan nyanyiannya.

I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spend with me
Now seem so far away
And it feels like you don't care anymore

And now I try hard to make it
I just want to make you, proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't stand another fight
And nothing's alright

Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect

Nothing's gonna change the things that you said
Nothing's gonna make this right again
Please don't turn your back
I can't believe it's hard
Just to talk to you
But you don't understand
Papa mereka terus melihat ke arah mereka berdua. Suara alvin terasa seperti mengiris batinnya perlahan-lahan.

Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry
I can't be perfect
Now it's just too late and
We can't go back
I'm sorry
I can't be perfect
“Bruukk”
“Alvin !” teriak rio dan via bersamaan. Via dan iel langsung naik ke atas panggung, mendekati rio yang sedang bersimpuh di sisi alvin.
“Bawa alvin ke rumah sakit !” via, rio dan iel kompak menoleh.
“Papa..”
“Ayo rio kita bawa alvin ke rumah sakit !” perintah papanya sekali lagi. Di bantu oleh rio, iel dan beberapa anak lain, alvin pun langsung di bawa ke rumah sakit.
Sementara itu cakka yang saat itu masih ada di dalam kelas, merasa risih dengan hpnya yang terus-terusan bergetar di saku celananya. Akhirnya cakka pun memutuskan untuk ijin kepada gurunya.
“Halo cha..”
“Kak cakka lama amat sih baru diangkat ? udah aku telponin dari tadi juga, kakak tahu enggak keadaan kak alvin sekarang gimana ?” acha langsung memberondong pertanyaan.
“Cha, satu-satu ngomongnya. Aku kan lagi ada kelas. Emang alvin kenapa ?”
“Emang kak cakka enggak tahu ?”
“Enggak..”
“Kak alvin tuh tadi ke sekolah, tapi terus dia pingsan, sekarang di bawa lagi ke rumah sakit, aku pikir kakak ikut..”
“Kamu serius cha ?”
“Iya kak kan ak..”
“Ya udah cha aku mau cek dulu ya, entar kalo aku udah tahu, aku telpon kamu” potong cakka cepat sambil langsung mematikan teleponnya. Cakka langsung berlari ke arah ruang osis, dia pengen tahu apa yang terjadi.
“Tadi emang alvin kesini ? dia ngapain ?” tanya cakka ke siapapun yang mau jawab.
“Iya tadi dia kesini terus...” seorang anak perempuan mulai menjelaskan semua yang terjadi ke cakka. Cakka cuma ngangguk-ngangguk serius mendengarkan. Setelah mendengar penjelasan tersebut, cakka langsung berniat untuk nyusulin alvin ke rumah sakit, tapi dia penasaran sama lukisan alvin yang di ceritain anak tadi.
“Wow..” gumam cakka saat melihat lukisan di depan matanya itu, gumam kekaguman yang nyata. Tiba-tiba otaknya berkerja, sebuah rencana langsung tergambar jelas di pikirannya. Tanpa basa-basi lagi, cakka langsung berlari.
“Harus hari ini vin, orang bakal tahu hari ini” ujar cakka sambil terus berlari.
Seperti sebuah setrika, papanya alvin terus mondar-mandir di depan pintu kamar alvin. Dokter sedang memeriksa alvin di dalam. Raut panik juga tampak di wajah via, untuk itu rio terus menggenggam tangan via yang terasa dingin dan gemetar.
“Ini salah gue yo, harusnya gue enggak bantuin dia buat pergi ke sekolah” sesal via.
“Enggak vi, enggak ada yang salah..” sangkal rio. Hatinya sendiri terasa tidak karuan, selain masih ada rasa bersalah yang begitu besar bersarang disana, rasa kekhawatiran yang teramat sangat juga menguasai rio.
“Gimana dok keadaan alvin ?” tanya papanya cepat begitu dokter keluar dari kamar alvin. Rio dan via yang ada di situ juga langsung mendekat ke arah dokter.
“Kondisinya belum stabil, dia terlalu memaksakan, padahal fisiknya masih sangat lemah, biarkan dia beristirahat dulu..” papanya langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, mengucap syukur dalam hati.
“Vi kamu balik ya, aku anterin..” via menggeleng menolak tawaran rio.
“Ayolah vi, lihat deh kamu belum ganti baju dari semalem. Lagian alvin belum bisa di jenguk” bujuk rio lagi.
“Udah nak via, bener kata rio, mending kamu pulang dulu” papanya alvin-rio ikut membujuk via. Sesungguhnya via masih ingin tetap disini meski ia tahu belum bisa melihat alvin, tapi rio mungkin benar, ada baiknya ia beristirahat dulu di rumah sebentar.
“Aku naik taksi aja yo..”
“Kamu mau aku di gorok alvin kalo dia udah sadar dan tahu aku ngebiarin kamu naik taksi, udah ayo..” rio langsung menarik tangan via. Via hanya pasrah di tarik. Sepanjang perjalanan di mobil, mereka berdua hanya saling berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Memantapkan langkahnya, cakka langsung menghampiri papanya alvin yang nampak sedang duduk seorang diri di depan kamar alvin.
“Kok di luar om ?” tanya cakka basa-basi sambil duduk di samping papanya alvin.
“Alvin masih istirahat di dalam, belum boleh di ganggu”
“Om masih inget saya kan ? saya yang semalem..”
“Pacarnya acha kan ?” cakka cuma nyengir mendengar tebakan papanya alvin yang tepat.
“Ternyata om perhatian juga”
“Kecuali sama alvin” cakka menoleh, dia hanya bisa tersenyum. Kemudian ia teringat benda yang ia bawa dan memang ingin ia tunjukkan ke papanya alvin.
“Ini om..” meski bingung, papanya alvin tetap menerima sketch book yang cakka sodorkan. Perlahan ia membuka sketch book itu, halaman demi halaman, kadang ia meraba gambar yang alvin bikin, ada bermacam-macam objek disana, mulai dari hanya sebuah kotak, bola, hingga gambar pemandangan yang indah.
Tangannya berhenti di sebuah halaman. Batinnya terenyuh melihat gambar itu. Nalurinya terasa tercabik. Gambar itu menunjukkan, alvin kecil yang sedang duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Sesuatu yang tidak pernah sekalipun terjadi di kehidupan nyata. Lalu halaman berikutnya, lagi-lagi mengoyak batinnya, sebuah sketsa yang sedang menggambarkan mereka berdua, alvin dan papanya nampak sedang bermain bola bersama. Dan di halaman terakhir, sebuah gambar yang sangat sederhana cenderung aneh malah, hanya gambar sebuah telapak tangan yang terbuka lebar, tapi di bawah gambar itu ada tulisan tangan alvin.
Satu-satunya fakta yang gue tahu tentang papa...
Sebutir air mata menetes menjatuhi gambar tersebut. Ya, memang hanya tangannyalah yang selalu ia berikan untuk alvin, atau lebih tepatnya, hanya tamparannyalah yang selalu menyentuh alvin.
“Maaf om..” ujar cakka kikuk, dia merasa tidak enak melihat papanya alvin menangis.
“Dia pintar menggambar seperti mamanya”
“Ada banyak sketch book yang dia punya, dimana ada dia, pasti ada sketch booknya, di loker sekolah, di tas ranselnya, dan pasti di kamarnya. Ini cuma salah satu yang tertinggal di loker sekolah om..”
“Kenapa dia enggak pernah bilang tentang ini”
“Saya juga tahunya enggak sengaja, dia selalu ngerahasiain ini, entah untuk apa. Saya nunjukkin ini ke om, bukan untuk apa-apa saya cuma mau nunjukkin kalo om enggak cuma punya satu anak laki-laki berbakat, tapi om punya dua anak laki-laki berbakat..” jelas cakka.
“Om tahu, semoga alvin masih mau ngasih kesempatan kedua buat om..”
“Pasti mau, saya rasa dia juga udah mulai kangen sama sosok om, dia udah lama kehilangan figur papa di hidupnya dia..”
“Semoga..” kata papanya alvin sambil tersenyum. Kemudian ia melihat sketch book yang ada di tangannya, semua yang ada disitu, serasa benar-benar menusuk perasaannya. Impian-impian alvin yang sederhana, hanya tentang kebersamaan di antara mereka berdua yang terbuang begitu saja, bahkan tidak dapat ia wujudkan.
***
Hanya tinggal rio dan papanya saja yang menunggui alvin. Kondisi alvin sudah mulai stabil, tapi ia belum juga sadar dari komanya. Rio sudah berhasil untuk membujuk via agar istirahat dulu seharian ini, biarkan ia dan papanya yang menunggui alvin. Mereka berdua sama-sama duduk di samping tempat tidur alvin.
“Pa..pa..” panggil alvin lirih.
“Iya vin, ini papa, rio kamu panggil dokter sana..” rio langsung bergegas keluar kamar.
“Papa..” panggil alvin lagi kali ini sambil berusaha tersenyum, alvin tampak senang, melihat papanya ada di sampingnya sekarang.
Sorot kebahagiaan bercampur rasa lega juga tergambar jelas di mata papanya alvin. Tapi nuraninya bertanya-tanya, masih pantaskah ia di panggil seorang papa ?
“Jangan banyak ngomong dulu vin, kondisi kamu masih lemah” ujar papanya, meski ia ingin sekali ngobrol oanjang lebar dengan alvin, melakukan hal simpel yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
“Biar saya periksa dulu pak..”
Papanya mempersilahkan dokter yang rio panggil untuk memeriksa alvin. Setelah di pastikan kondisi alvin telah lebih baik, dokter pun langsung keluar dari kamar alvin. Meninggalkan alvin, rio dan papanya lagi.
“Papa mau minta maaf vin..” alvin dan rio kompak menatap papanya.
“Alvin yang selama ini bandel pa, alvin yang harusnya minta maaf” jawab alvin. Rio jadi merasa ia bagai orang asing di situasi ini.
“Kamu enggak akan kaya gini kalo papa sedikit aja perhatiin kamu..”
“Pa, boleh alvin nanya ?” papanya hanya mengangguk.
“Apa alasan papa benci sama alvin ? alasan papa enggak pernah mau nerima alvin dari alvin kecil ?” alvin merasa miris sendiri menanyakan hal seperti itu, tapi dia merasa ini momen yang pas untuknya.
“Bukan benci tapi papa cuma terlalu egois. Apa kamu pernah merasa, setiap inci wajah kamu, mata kamu, hidung kamu, semuanya, mirip banget sama mama kamu. Saat papa melihat kamu, saat itu papa seperti melihat mamamu, itu alasan awal kenapa papa enggak pernah bisa melihat kamu, karena saat itu terjadi, yang papa lihat adalah mama kamu..” papanya tersenyum lirih. Tapi alvin seolah ingin terus mendengar semua apa yang ingin ia dengar sejak lama.
“Konyol kan alasan papa ? tapi tanpa papa sadar, sikap papa itu bikin ada jarak diantara kita. Dan lama-kelamaan jarak itu timbul jadi jurang yang semakin membesar. Papa minta maaf, minta maaf untuk semuanya..”
Alvin memandang papanya letih. Sekian lama ia dan papanya berseberangan, hanya untuk sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal untuknya, hanya karena ia menuruni wajah yang sama dengan mamanya sendiri.
“Papa juga minta maaf. Enggak seharusnya papa banding-bandingin kamu sama rio, kalian jelas-jelas berbeda, kadang papa ngelakuin itu biar kamu termotivasi untuk maju juga, tapi papa tahu, cara papa salah, enggak seharusnya papa kasar dan keras sama kamu..” sambung papanya lagi.
“Enggak sepenuhnya salah papa. Alvin juga enggak pernah nurut sama semua yang papa perintahin, awalnya alvin lakuin itu biar papa lebih perhatian ke alvin, tapi lama-lama semua itu malah tambah bikin alvin jauh sama papa, alvin juga minta maaf ya pa..” papanya tersenyum ke arah alvin. Dia berdiri dan mencoba memeluk alvin. Hati alvin berdesir tatkala tangan papanya, memeluknya erat, untuk pertama kalinya, alvin merasakan hal ini, hangat dan nyaman.
“Papa janji enggak akan pernah kasar lagi sama kamu”
“Alvin pegang janji papa..”
“Soal kecelakaan kamu ini, papa udah minta tolong sama polisi untuk nyelidikin siapa yang nabrak kamu, kalau perlu entar kita sewa tim independen buat cari tahu..” kata-kata papanya itu, cukup menyambar bagi rio, keringat dingin langsung membasahi tubuhnya.
“Udahlah pa, mungkin waktu itu memang alvin aja kali yang salah. Yo, kok lo diem aja sih dari tadi ?”
Rio diam terpaku. Haruskah ia mengakuinya sekarang, di tengah suasana yang sedang hangat dan tentram ini. Bisakah ia mengakuinya sekarang. Sanggupkah ia menerima segala resikonya.
“Rio..” panggil alvin lagi membuat rio tersentak. Rio menatap papanya dan alvin bergantian.
“Gue mau ngaku vin, gue..ehm..gue yang udah bayar orang buat nabrak elo” alvin dan papanya sama-sama terlonjak kaget mendengar penuturan rio. Kata-kata itu terdengar seperti lelucon di telinga mereka.
“Kamu ..”
“Iya pa, aku yang udah ngelakuin itu”
“Rio !”
“Papa !” tepat saat papanya mau menampar rio, tangan alvin menahan tangan papanya.
“Papa udah janji enggak bakal kasar lagi, dan janji itu juga berlaku buat rio” ujar alvin sambil menatap papanya tajam, papanya akhirnya menurunkan tangannya meski memandang rio geram.
Rio hanya menunduk, memandangi lantai yang memantulkan bayangan wajahnya. Dia tahu dia bahkan pantas menerima lebih dari sebuah tamparan. Tapi mengapa alvin masih memebelanya. Karena hal itu malah membuat dirinya tambah merasa bersalah dan menyesal.
“Segitu bencinya elo ke gue yo ? sampai elo ngelakuin cara kaya gitu ?” tanya alvin yang masih sangat shock dengan pengakuan rio.
“Saat itu gue panas banget vin, gue enggak terima ngelihat elo bisa lebih daripada gue, gue enggak pernah ada di posisi itu dan sekalinya gue ngerasain posisi itu, gue enggak siap mental buat ngadepinnya. Gue sadar, gue salah, gue siap nanggung semuanya. Kalo papa mau, pulang dari sini papa bisa bawa rio ke kantor polisi..” rio memberanikan diri menatap papanya.
Lagi-lagi papanya merasa ialah yang patut di persalahkan dalam hal ini. Seandainya dia tidak selalu mengunggulkan rio, rio pastilah tidak terbentuk sebagai orang yang selalu ingin menjadi yang pertama di segala hal hingga menggunakan cara yang tak lazim seperti ini.
“Enggak yo, buat gue elo mau ngaku kaya gini aja udah cukup kok. Elo udah nunjukin sikap ksatria lo, toh gue enggak peduli-peduli amat, lagian gue juga sehat-sehat aja kan sekarang, gue maafin elo..”
“Vin elo ?”
“Iya gue maafin asal lo ikhlasin via buat gue..hehe..” rio langsung nyengir selebar mungkin. Dia enggak nyangka alvin sangat berjiwa besar seperti ini.
“Makasih banyak ya vin..haha..dia emang lebih pantes sama lo kok..”
“Papa seneng lihat kalian kaya gini. Oh ya rio, papa juga mau minta maaf sama kamu, mulai hari ini terserah kamu mau ngelakuin apa, papa enggak akan banyak ikut campur lagi, asal, itu sesuatu yang positif”
“Siap bos !” seru rio sambil hormat ke arah papanya. Mereka bertiga terus larut dalam obrolan-obrolan seru yang selama ini mereka lewatkan. Tertawa dan bahagia bersama, layaknya seorang keluarga sejati.
***
Suasananya gelap, bahkan lampu taman yang biasanya menyala pun malam ini padam. Sedikit terasa horor dan membuat bulu kuduk aren berdiri. Aren meraih hpnya, dan melihat sms terakhir dari iel, memastikan bahwa ia tidak salah mengartikannya.
From : ka’gabriel
Gue tunggu di taman, cepet ya cantik J
“Kak iel !” panggil aren sambil celingak-celinguk.
“Kak..kak iel..” tidak ada satupun sahutan untuknya. Sebenernya bisa saja aren menunggu disini, tapi gelapnya taman malam ini cukup mengadu nyalinya. Setelah mencoba beberapa kali memanggil iel kembali dan tetap tidak balasan, aren pun memutuskan untuk kembali.
“Belum ketemu kok udah mau pulang sih cantik” aren berbalik ketika suara yang familiar itu muncul di belakangnya. Dan betul saja, tampak iel sedang memegang sebatang lilin di tangannya.
“Kak iel kok bawa lilin ?” tanya aren bingung.
“Lampu tamannya gelap ren, jadi tadi gue cari warung dulu buat beli lilin, biar elo enggak kegelapan”
“Makasih..” iel hanya tersenyum sambil mengajak aren duduk di bangku taman yang biasa mereka duduki. Aren dan iel memang diam-diam suka ketemu di taman ini, sekedar untuk saling bercerita dan menghibur satu sama lain.
“Ada apa kak ?”
“Apa harus ada alasan buat ketemu elo ren ? hehe..”
“Enggak sih, tapi mungkin emang ada sesuatu gitu”
“Enggak ada apa-apa sih, gue cuma kangen sama lo” bahkan hanya dengan bermodalkan cahaya lilin, iel bisa melihat rona merah di pipi aren.
“Gombal deh”
“Haha, ren gue boleh nanya ?” aren hanya mengangguk, selalu ada rasa nyaman saat dia mengahbiskan waktu berdua bersama iel.
“Apa gue boleh berharap untuk jadi cowok lo ?”
“Maksud kakak ?”
“Gue sayang sama lo, dari awal gue ngelihat elo. Gue enggak gampang jatuh cinta, dan elo cinta pandangan pertama gue” aren melihat senyum iel, mengingat segala hal yang telah iel lakukan, rasa aman dan nyaman yang ia rasakan.
“Gue juga sayang sama elo kak” ujar aren sambil tersenyum.
“Jadi ?”
“Enggak usah berharap lagi, gue mau jadi cewek lo” di bawah temaram sebatang lilin iel dan aren sama-sama mengakui tentang isi hati mereka, meski mereka sama-sama tahu, rintangan apa yang harus mereka lalui bersama.
“Makasih, aku sayang sama kamu cantik” ucap iel sambil mengusap pipi aren, yang cukup membuat aren tersipu. Tanpa mereka sadari, bukan hanya mereka yang ada diantara dingin dan gelapnya malam itu.
***
Sambil memijat-mijat tengkuknya, rio masih setia menunggu shilla. Sudah beberapa hari ini, setiap pulang sekolah, rio akan selalu setia menemani shilla. Rasanya dia tidak ingin melewatkan satupun perkembangan kecil dari shilla.
“Kok lo enggak bangun-bangun sih ? betah banget tidurnya..” semakin lama rio memandangi shilla, semakin dalam juga kekaguman rio pada gadis itu. Setelah mengorek keterangan sana-sini, akhirnya rio bisa mengetahui pribadi shilla yang sepenuhnya.
“Semalem akhirnya gue udah selesai baca sedikit tulisan lo shil, dan menurut gue tulisan lo itu bagus banget. Bukan kepedean ya shil, tapi gue minta maaf kalo selama ini gue udah enggak peka sama perasaan lo ke gue, maaf banget..” rio tersenyum tipis.
“Dan elo harus bangun, karena gue mau tahu ending cerita yang lo bikin itu kaya apa ? abisan si deva copasnya enggak semua sih..hehe..”
Sesungguhnya rio sendiri tidak begitu paham apa yang ia rasakan terhadap shilla. Yang ia tahu, ia hanya tidak ingin kehilangan shilla saat ini. Dia belum bisa memastikan hatinya, bahwa ia mencintai shilla, tapi rio jelas-jelas tahu, ia orang yang paling mengharapkan kesadaran shilla, untuk menemaninya lagi.
Mata rio membelalak ketika ia merasa jari jemari shilla yang ada di genggaman tangannya bergerak-gerak.
“Shil..shilla..” panggil rio sambil berusaha memanggil suster lewat bel di atas tempat tidur shilla.
Perlahan namun pasti, mata shilla mulai terbuka, menatapnya dengan matanya yang bening. Seulas senyum langsung tergambar di bibir rio.
“Akhirnya lo sadar juga shil...” ujar rio. Shilla nampak berusaha tersenyum, tampaknya jiwanya belum kembali utuh ke dalam raganya.
“Ada apa mas ?” tanya seorang suster.
“Temen saya sadar sus..” ucap rio sumringah.
“Bisa mas keluar dulu, biar pasien di periksa sama dokter”
“Bentar ya shil..” bisik rio sambil melepaskan genggamannya, shilla seperti ingin mengangguk. Rio hanya tersenyum, kemudian ia keluar, dalam hati ia tidak berhenti mengucap sukur kepada Tuhan. Sesampainya di luar, jarinya langsung lincah mengetik sms untuk deva, mengabarkan keadaan shilla yang membaik.
Mungkin orang yang melihatnya sepintas, akan mengira dirinya gila, karena sejak tadi senyum dan cengiran lebar terus merekah di bibirnya, tapi rio tidak peduli, ia terus-terusan menatap shilla yang juga sedang menatapnya.
“Kok senyum-senyum terus sih ?” tanya shilla masih terdengar lemah. Dalam hati ia merasa senang sekali, menemukan rio sebagai orang pertama yang ia lihat saat ia membuka kedua matanya.
“Seneng aja ngelihat elo udah sadar” jawab rio jujur.
“Gimana kabar lo ?” rio terdiam. Ternyata shilla masih tetap sama, ia masih tetap shilla yang perhatian.
“Kok malah tanya kabar dari gue sih ? gue baik-baik aja kok, sebenernya banyak sih yang udah gue ceritain ke elo pas elo koma, walaupun gue tahu, lo pasti enggak bisa denger kata-kata gue”
“Gue denger kok, dan gue bangga karena elo berani ngaku ke alvin” rio menatap shilla tak percaya, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Kok lo bisa ? ehm..”
“Aneh sih emang, tapi percaya atau enggak, gue ngerasa gue kaya lagi duduk sendirian di tengan padang rumput yang indah banget, dan disaat gue duduk itu, suara-suara itu terdengar jelas di telinga gue” shilla mencoba menjelaskan sesuatu yang memang tidak dapat di terima dengan akal sehat tersebut.
“Gue percaya kok, lagian itu enggak penting, gue udah cukup seneng bisa lihat senyuman elo lagi” ujar rio tulus, sambil mengusap pipi shilla dan tersenyum, yang cukup membuat pipi shilla merona merah.
***
Untuk alvin yang enggak bisa diem dan suka semaunya sendiri, hanya diam di tempat tidurnya tanpa bisa melakukan aktifitas apapun dikarenakan kondisi kakinya, tentu saja membuat dia bosan setengah mati. Berkali-kali sudah, alvin mengganti chanel tv, tapi tetap saja tidak ada yang menarik hatinya.
“Tok..tok..tok..”
“Masuk aja” sahut alvin. Zevana langsung muncul dari balik pintu, membawa sekeranjang buah-buahan.
“Gue taro sini ya vin..” ujar zeva sambil meletakkan buah-buahannya itu di meja kecil samping tempat tidur alvin. Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, ia sendiri tadi yang sengaja menghubungi zeva untuk menemaninya.
“Gimana keadaan lo ? kok baru bilang sih sama gue. Kapan sih kejadiannya ?”
“Satu-satu ze” zeva hanya nyengir mendengar kata-kata alvin.
“Sekarang sih gue baik-baik aja, udah stabil, cuma ini nih, kaki gue harus di gips sebulan”
“Sabar ya. Oh ya gimana urusan lo sama rio ?” alvin tersenyum lagi, kemudian ia menceritakan semuanya kepada zeva.
“Wow, gue enggak nyangka dia sampai segitunya sama elo, tapi gue seneng denger lo berdua baik-baik aja sekarang” komen zeva setelah mendnegar cerita dari alvin.
“Lo sendiri sama riko gimana ?” zeva tampak menghela napasnya sebentar, dia memandang lirih ke arah alvin.
“Sejujurnya gue mulai enggak tahu lagi vin, apa yang harus gue lakuin biar dia bisa jadi riko yang dulu lagi”
“Apa akhirnya elo milih buat nyerah dan ngelepasin dia ?”
“Bukannya nyerah, gue masih tetep sayang sama dia dan akan selalu sayang sama dia mungkin, tapi gue mulai kepikiran buat ngejauh dari hidupnya dia” alvin memandang zeva heran, baru beberapa hari mereka tidak bertemu, kenapa zeva jadi seperti ini.
“Lo kenapa ze ? biasanya lo optimis banget kalo lagi ngomongin riko. Lo mau ngejauh dai hidupnya dia ?”
“Gue cuma mikir mungkin ada baiknya sekarang gue ngejauh sama dia, toh gue masih bisa tetep ngelihat dia dari jauh, gue enggak mau dia ngerasa enggak nyaman dengan adanya gue disamping dia”
Zeva mencoba tersenyum, tapi alvin jelas-jelas tahu kepedihan seperti apa yang terasa di hati zeva saat dia mengucapkan seperti itu. Alvin hanya bisa menatap zeva iba, waktu-waktu yang sering mereka habiskan berdua, membuat alvin lebih peduli kepada zeva, dimatanya seorang gadis seceria dan sesemangat zeva, berhak untuk mendapatkan lebih dari seorang riko.
“Cukup sudah kau sakiti aku lagi, serpihan perih ini akan kubawa mati..” zeva langsung merogoh hpnya dari dalam tasnya, dia nyengir ke arah alvin dan langsung menjauh ke sudut ruangan untuk mengangkat telpon.
“Kenapa ze ?” alvin bingung melihat raut cemas yang begitu kentara di wajah zeva.
“Sori vin gue harus buru-buru..” zeva langsung mengambil tasnya.
“Tunggu ! lo tahu kan elo enggak pinter bohong ?!” alvin berhasil menarik tangan zeva dan menatap zeva tajam.
“Bilang ke gue ada apa ?” paksa alvin, zeva menunduk sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
“Ze..” panggil alvin lagi.
“Temen gue bilang, riko sama temen-temennya lagi mau ke vendas vin” ucap zeva pelan tapi cukup membuat alvin terlonjak kaget di tempat tidurnya.
“Kita harus kesana sekarang” zeva melotot menatap alvin.
“Kita ? elo kan lagi....”
“Udah ayo ze bantuin gue” alvin melepas selang infus di tangannya, ingin rasanya zeva menolak tapi ia tahu akan sia-sia saja. Dibantu oleh zeva, mereka berdua berhasil kabur dari rumah sakit dengan menggunakan taksi.
Rio dan iel sedang berkumpul dengan beberapa anak-anak yang lain sekedar melepaskan penat mereka, membagi sedikit cerita dan canda tawa.
“Akhirnya tinggal besok doang turnamen ini, setelah itu kita bisa santai” ucap iel semangat yang langsung di setujui oleh yang lainnya.
“Enak aja santai, masih banyak program kerja osis tahun ini, kita juga masih harus fokus buat ujian semesteran lagi” koreksi rio.
“Huu, kayanya elo beneran udah balik jadi rio si mr. serba bisa ya ? haha..” goda iel yang hanya membuat rio nyengir.
“Eh..eh..tolongin woi di bawah ada anak vailant !” tiba-tiba seorang anak masuk dengan muka panik. Tanpa pikir panjang, rio, iel dan anak laki-laki lainnya langsung turun ke bawah. Iel sudah bisa merasa, ini semua pasti ada hubungan dengan dirinya. Dia melirik ke arah rio. Rio yang sudah tahu semua cerita iel, hanya menepuk-nepuk pundak iel saja.
“Elo kan cowoknya adek gue !” riko turun dari motornya dan menghampiri iel.
“Kalo iya kenapa ? enggak suka lo !” tantang iel. Meski ia tahu ia tidak begitu jago berkelahi, tapi tekadnya untuk mempertahankan hubungannya dengan aren sudah bulat.
“Elo tahu kan dia siapa ?!”
“Dia adek lo kan, tenang aja gue tahu kok” sahut iel mencoba sesantai mungkin. Sementara di sampingnya rio sedang berusaha berpikir keras, memikirkan kira-kira hal apa yang bisa ia lakukan untuk mengatasi hal ini.
“Banyak bacot lo ! Bug !” sebuah serangan cepat langsung riko lancarkan yang telat di antisipasi oleh iel. Perkelahian langsung terjadi diantara kedua kubu itu. Masing-masing saling berpasangan berhadapan satu sama lain. Rio sendiri menghadapi seorang yang menurutnya masih bisa ia handle.
Pertarungan paling sengit terntu saja terjadi antara riko dan iel. Mereka berusaha saling memukul dan menghindar satu sama lain. Kadang-kadang di selingi oleh umpatan-umpatan dari riko ataupun iel. Kekuatan mereka sesungguhnya tidak begitu berimbang karena riko jelas-jelas lebih berpengalaman dalam hal pukul-memukul orang, hanya saja perhitungan iel yang tepat, mampu membuatnya beberapa kali terhindar dari pukulan atau tendangan riko.
“STOP WOI !!”
Semuanya berhenti. Bingung melihat siapa yang mereka lihat, bahkan banyak dari mereka yang mengucek mata untuk memastikan penglihatan mereka.
“ALVIN NGAPAIN LO KESINI ?!” tanya rio toa, karena posisinya yang cukup jauh dari tempat alvin berdiri. Dia benar-benar tidak abis pikir, sekuat itukan radar berantem alvin hingga ia yang sedang ada di rumah sakit pun bisa datang kesini saat ini.
“ZEVA ?!” lain halnya dengan rio. Riko justru bingung melihat zeva yang berdiri di samping alvin. Dia melupakan duelnya denga iel dan langsung menghampiri alvin dan zeva.
“Lo ngapain sama dia ?!!” tanya riko sambil mengguncang-guncang tubuh zeva, yang ditanya hanya diam dan menunduk.
“Bisa sopan sedikit enggak sih jadi cowok !” tegur alvin. Riko langsung mengalihkan perhatiaannya ke alvin.
“Pertarungan emang enggak pernah seru tanpa lo !!” tantang riko sambil menunjuk alvin dan mencibir kaki alvin yang di gips.
“Apa lo udah siap kalah juga kali ini ?” tanya alvin kalem tidak mempedulikan kondisinya.
“Gue rasa elo yang bakal kalah hari ini !”
“Kita lihat aja !” riko tersenyum sinis ke arah alvin, dia merasa yakin menang kali ini, mengingat kondisi alvin yang sedang tidak sefit biasanya.
“Riko udah ! tolong lo jangan dengerin dia ! udah ko..” tiba-tiba zeva menarik tangan riko dan memohon-mohon.
“Arghh, lepasin !!” tampik riko kasar yang membuat zeva terhuyung jatuh.
“Bug !” alvin yang memang tidak suka terhadap kelakuan riko pada zeva langsung memberikan riko pukulan telak di wajahnya. Ternyata seorang jagoan tetaplah jagoan dalam keadaan seperti apapun, itu terlihat dari riko yang langsung terdorong oleh pukulan kuat alvin.
“Sialan lo !!” riko langsung mengambil ancang-ancang untuk membalas pukulan alvin.
“Riko !!” teriak zeva sambil berdiri di depan alvin, bertindak sebagai tameng untuk alvin, untung riko masih sempat menahannya pukulannya. Riko menatap takam ke arah zeva, dan untuk pertama kalinya, alvin melihat zeva juga menatap tajam ke arah riko.
“Minggir lo ze !” riko berusaha mendorong zeva, tapi zeva tetap bertahan di tempatnya.
“Plakk !!” lagi-lagi alvin di buat terkejut, ketika tangan zeva melayang menampar riko. Riko yang tidak terima berniat membalas tamparan zeva.
“APA ?! MAU TAMPAR GUE ? AYO CEPETAN !!” belum pernah zeva terlihat semarah ini. Tangan riko tertahan di udara melihat kelakuan zeva.
“Riko ! tolong sekali ini aja dengerin aku ! aku kangen kamu yang dulu ko ! kamu yang selalu bisa bikin aku ketawa, kamu yang selalu punya cara buat bikin aku bahagia, bukan kamu yang kaya gini, aku kangen ko, aku kangen..” zeva masih menatap riko tajam, tapi air mata telah menggenang di pelupuk matanya.
“Lo apa...”
“Sekali ini aja ko, demi aku, tolong jangan berantem lagi, tolong..” bahkan alvin yang posisinya saja dibelakangi oleh zeva merasakan lirih dan pedihnya suara zeva yang telah bercampur dengan linangan air mata.
“Aku bakal ngejauh dari kehidupan kamu mulai sekarang, tapi tolong sekali ini aja, biarin aku ngeliat kamu enggak berantem, sekali ini aja ko, setelah ini semuanya terserah kamu, aku janji enggak akan ganggu kamu lagi, apapun yang buat kamu bahagia” tanpa memberikan satu kesempatan untuk riko, zeva terus mengungkapkan isi hatinya. Riko seperti terhipnotis sesaat oleh kata-kata zeva, ia diam memandangi zeva, tapi bukan dengan mata tajamnya yang biasa.
“Aku sayang kamu” kata-kata yang mungkin telah zeva ucapkan berkali-kali itu, meluncur lagi, pelang tapi begitu terasa maknanya. Zeva berbalik menghadap alvin yang semenjak tadi seperti disuguhi pertunjukan sinetron.
“Lo mau kemana ?” tanya alvin tapi zeva hanya tersenyum. Keletihan yang begitu mendalam begitu kentara di wajahnya. Alvin tidak bisa berbuat banyak, bisa saja ia menyusul atau malah mengikuti zeva, tapi itu tentu saja akan menyulut emosi riko lagi. Lagipula menurut alvin, zeva sedang butuh waktu sendiri.
Kini pandangan alvin beralih ke riko yang entah kenapa tetap berdiri diam di tempatnya. Belum pernah sekalipun alvin melihat ekspresi riko yang seperti ini.
“Kalo lo sayang sama dia, susul dia ko..” alvin sendiri bingung dengan apa yang dia lakukan, tapi diam-diam dia merasa prihatin juga dengan masalah ini. Alvin menepuk-nepuk pundak riko.
“ARGH ! BUBAR SEMUA !!” riko menarik tangan alvin kasar dari pundaknya, dan mendorong alvin hingga jatuh. Kemudian ia langsung pergi bersama motornya. Rio yang melihat alvin berusaha berdiri dengan tongkatnya langsung berlari menghampiri alvin.
“Lo gila ya ! lo itu belum sehat bener !” oceh rio sambil membantu alvin berdiri, alvin hanya tersenyum tipis saja.
“Alvin...” dari dalam sekolah, via langsung berlari ke arah alvin. Menubruk badannya dan memeluk alvin.
“Udah gue bilang berkali-kali, jangan berantem lagi, seneng banget sih bikin gue khawatir !” ujar via.
“Maaf, janji enggak lagi deh”
“Janji terus enggak ada satupun yang elo tepatin !”
“Ya udah kalo gitu jangan paksa gue buat bikin janji” jawab alvin enteng. Via melepaskan pelukannya, menatap alvin.
“Gue serius alvin !”
“Siapa yang lagi bercanda sih vi”
“Ih alvin !!”
“Haha..gue kan emang kaya gini via” alvin mengacak-acak rambut via.
“Ehem..ehem..”
“Eh iya yo, haha, gue lupa ada elo disini” sahut alvin. Rio hanya terkekeh. Tidak ada satupun perasaan cemburu yang menguasai hatinya sekarang, dia malah merasa senang melihat dua sahabatnya ini bisa tertawa seperti ini.
***
Sambil tertatih-tatih, alvin berusaha terus berjalan sambil menikmati semilir angin malam yang berhembus di sekitarnya. Entah untuk apa, tapi malam ini, ingin ia habiskan sendiri. Meski rio telah memaksa untuk mengantarnya, tapi alvin berhasil untuk membujuk rio cukup meminjamkan mobilnya saja.
Di taman kota yang ketenangannya semakin terasa di kala malam seperti ini. Alvin ingin merenung sesaat. Tentang hidupnya beberapa minggu terakhir ini yang begitu sulit di gambarkan. Tentang hubungannya dengan rio yang pasang surut, tentang dirinya yang hampir saja meregang nyawa, tentang papanya yang akhirnya mengakui keberadaanya, dan tentang via yang akhirnya akan bisa utuh untuk menjadi miliknya.
Alvin terus berjalan, ia ingin menikmati setiap keelokan yang tertangkap oleh matanya, ia ingin lebih menghargai hidupnya mulai saat ini. Alvin telah mengerti tentang satu hal, sempurna atau tidak sempurnanya hidup seseorang, bukan diukur oleh cara orang lain memandangnya, tapi dari dalam diri orang itu sendiri untuk menjalaninya.
Matanya menangkap sosok yang sangat familiar sedang duduk bersender di bangku taman. Ragu-ragu alvin menhampiri orang tersebut, mengingat hubungannya yang tidak pernah baik dengan orang ini.
“Boleh gue duduk disini ?” orang itu hanya menatap alvin acuh tak acuh, tapi lagi-lagi alvin tidak melihat tatapan tajam dari matanya.
“Apa lo udah berhasil ketemu sama zeva ?” alvin tidak begitu mengharapkan respon dari orang disampingnya ini. tapi dugaannya ternyata salah, orang itu menggeleng.
“Lo enggak mau usaha buat dia ?” orang yang tak lain adalah riko itu menatap alvin sesaat, alvin berusaha memberikan pandangan bersahabat meski susah.
“Gue enggak pantes buat orang kaya dia” desah riko pelan.
“Emang ! dia terlalu..ehm..baik buat lo” timpal alvin jujur, riko hanya terkekeh pelan. Alvin ikut tersenyum, entahlah apa besok dunia kiamat, tapi malam ini aura permusuhan itu mencair diantara keduanya.
“Ini tempat gue nembak dia” alvin terbelalak mendengar ucapan riko, bukan karena ia baru tahu, tapijustru karena ia sudah tahu sebelumnya.
“Lo bukannya amnesia ?” sekarang gantian riko yang membelalak. Tapi ia tahu, sudah kepalang basah buatnya untuk menghindar lagi. Mungkin orang yang selama ini ia anggap musuh, bisa juga mendengarkan sedikit ceritanya.
“Itu bohong” alvin memberi riko pandangan tidak mengerti, tapi riko hanya tersenyum.
“Gue emang kecelakaan, dan setelah itu gue pura-pura amnesia di depan semua orang termasuk zeva, gue juga merubah semua perilaku gue”
“Buat apa ?” tanya alvin yang melihat ini semua layaknya sebuah puzzle yang belum utuh.
“Buat ngebuang semua masa lalu gue vin. Sebelum kecelakaan itu terjadi, gue baru tahu kalo ternyata nyokap gue itu cuma istri simpanan bokap gue, gue baru tahu, kalo ternyata bokap gue punya kehidupan lain yang jauh lebih sempurna, dan yang bikin gue kecewa, cara nyokap gue buat nutupin semua itu. Gue kecewa banget, gue ngerasa hidup keluarga gue yang tadinya sangat gue banggakan, ancur seketika, gue benci masa lalu gue, gue pengen ngebuang semua kepahitan itu..” alvin mencelos, hidup ternyata memang terlalu absurd dan susah untuk ditebak.
“Apa elo berhasil buat ngebuang semua itu ? gue rasa sih enggak..” tebak alvin. lagi-lagi riko tersenyum di buatnya.
“ Gue emang berhasil berubah, berhasil nemuin identitas baru dalam diri gue, tapi gue enggak berhasil buat ngebuang semua, nyokap gue, aren, dan terutama zeva” riko tertawa pedih, sekali ini saja, alvin benar-benar merasa iba akan riko.
“ Zeva terlalu sayang sama elo, meski kadang gue beranggapan dia gila, tapi dia tetep aja enggak pernah mau nyerah buat ada di deket lo. Kalo gue enggak punya bidadari sendiri, mungkin akan sangat mudah buat gue jatuh cinta sama zeva, dia terlalu tegar, atau mungkin dia terlalu bodoh..”
“Dia emang enggak pernah mau menyerah, padahal geu udah ngelakuin segala cara, gue udah nyakitin dia, tapi enggak selangkahpun dia mundur dari hidup gue”
“Apa lo masih sayang sama dia ?” riko menghela napas sebentar mendengar pertanyaan alvin.
“Selalu sama enggak pernah berubah” jawab riko yakin.
“Kejar dia, sebelum semua terlambat..” ujar alvin meyakinkan.
“Drrt..drrt..drrt..” alvin merogoh hp di saku celananya, sekilas ia membaca sms yang masuk untuknya. Raut wajahnya langung berubah, dia bahkan berulang kali mengulang membaca smsnya. Kemudian ia mengalihakan pandangannya ke riko yang nampak sedang tersenyum ke arahnya.
“Kenapa vin ?” tanya riko yang menangkap gelagat aneh alvin.
“Lo harus ikut gue sekarang ko..”
“Kemana ?”
“Gue enggak ada waktu buat jelasin. Ini tentang zeva” mendengar nama zeva di sebut-sebut, tanpa banyak bertanya lagi, riko langsung menyetujui untuk mengikuti alvin, segala macam pertanyaan memenuhi pikirannya, dan berharap ini bukanlah suatu yang buruk untuk zeva ataupun untuknya.
***
Dentingan nada-nada pilu mengiringi setiap tetes air mata yang jatuh. Hembusan angin bagaikan pengantar kesedihan untuk sebuah kehilangan. Awan bahkan memilih gelap ketimbang terang untuk menyatakan rasa dukacitanya.
Tidak ada suasana yang lebih memilukan dari sebuah jerit tangis kehilangan. Ketika kamu sadar, dia yang paling kamu sayang, pergi lebih dahulu untuk menjemput bahagianya yang abadi. Ketika kamu tahu, dia yang selalu ada untukmu, telah meninggalkanmu ke tempat yang paling sejati.
Waktu selalu berjalan maju, kadang memberi kebahagiaan atau malah memberi kesedihan, seperti saat ini. Pemakaman zeva baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Tapi hampir semua yang datang masih bertahan di tempatnya. Ingin sedikit saja, bersama-sama sejenak, mengenang gadis itu. Keceriaanya, semangatnya, ketegarannya serta tawanya yang selalu ada.
Riko berlutut tepat di samping nisan zeva. Di balik kaca mata hitamnya, segala macam rasa penyesalan dan bersalah serta air mata bercampur aduk. Tangannya terus mengelus-elus nisan zeva, bahkan sepertinya ia tidak ingin beranjak dari tempatnya, meski hujan mungkin akan segera turun, ingin ikut menangis bersama.
“Kak udah, ayo kita pulang..” bujuk aren yang juga terus-terusan menangis. Riko tidak bersuara, ia hanya menggeleng pelan.
“Dia enggak akan suka lihat elo kaya gini ko, harapannya dia cuma satu, dia cuma pengen, elo selalu bahagia” sahut alvin yang juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Meski masih dalam hitungan bulan usia pertemanan mereka, tapi bagi alvin, zeva telah memberikannya banyak pelajaran tentang ketegaran dan cinta.
“Bahkan terakhir gue ketemu dia, gue masih bikin dia nangis, masih bikin dia sakit” ujar riko pelan dan lirih. Alvin menghampiri riko tertatih-tatih, ia menepuk-nepuk pundak riko. Riko menoleh ke arah alvin yang sedang mencoba menguatkannya.
“Gue belom sempet bilang sama dia, kalo gue sayang sama dia” aren yang merasa tidak kuasa melihat kakaknya menjadi lemah seperti itu, memeluk kakaknya.
“Semalem sebelum pergi, kak zeva bilang, dia sayang sama kakak dan pengen lihat kakak bahagia” bisik aren lembut. Air mata meleleh di pipi riko.
_Flashback_
Panik. Mungkin adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan aren saat ini. Baru saja ia mendapat telpon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa zeva sedang di rawat disana karena kecelakaan. Tanpa pikir panjang, aren langsung meminta iel untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
“Kak zeva udah kaya kakak aku sendiri kak..” ratap aren sambil menangis. Iel yang sedang menyetir di sampingnya, menggenggam tangan aren dengan sebelah tangannya, mencoba mentrasfer sedikit energi positif untuknya.
“Tenang ren, kita kan belum tahu kondisi zeva kaya apa” hibur iel. Di handphone zeva, terlihat nomer arenlah yang terakhir zeva hubungi.
“Padahal setengah jam yang lalu kak zeva baru nelpon aren dan bilang dia mau ke rumah”
“Udah ren mending sekarang kita berdoa aja yuk..” bujuk iel. Aren mengangguk, dalam hati memang ia telah berkali-kali memanjatkan doa, berharap keadaan zeva tidak parah. Perjalanan ini terasa terlalu lama untuk aren, padahal iel telah memacu mobilnya secepat mungkin.
Derap langkah kaki mereka bergema sepanjang lorong rumah sakit. Mereka berdua terutama aren hanya ingin cepat-cepat melihat kondisi zeva.
“Sus, pasien atas nama zevana ?” tanya aren panik.
“Keluarganya ?”
“Iya sus..” jawab iel segera malas memperpanjang urusan.
“Dia ada di dalam kondisinya kritis, tangan dan kakinya patah, dan benturan keras telah mengakibatkan pendarahan yang cukup hebat di otaknya..” hati aren mencelos mendengar perkataan suster tersebut, untung disampingnya ada iel yang menemaninya.
“Apa yang terjadi sebenernya sus ?” tanya iel karena tangis aren sudah lebih kencang sekarang.
“Menurut saksi dan polisi yang membawanya ke rumah sakit, ia di tabrak sebuah mobil saat mau menyebrang jalan membuatnya terlempar hingga ke tepi jalan” kali ini tubuh aren serasa melemah, dia tidak membayangkan rasa sakitnya dan kondisi zeva saat itu.
“Makasih sus, boleh kita masuk ?” suster itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ren, dengerin aku..” iel memegang kedua pundak aren dan menatap aren “kalo kamu mau masuk sekarang, kamu harus kuat ya apapun kondisi dia saat ini, kamu harus tetep kuat, hapus air mata kamu ya” dengan tangannya, iel menghapus air mata aren. Aren mencoba tersenyum.
“Sekarang ?” aren mengangguk, kemudian iel menggandengnya masuk ke dalam ruangan zeva.
Perban terbalut di hampir seluruh badan zeva. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa terenyuh. Menguatkan hatinya, aren memberanikan diri mendekati zeva.
“Kak zeva, ini aren” bisik aren. Kelopak mata zeva tampak bergerak-gerak, kemudian terbuka. Aren mencoba tersenyum, dan zeva membalas senyum itu meski lemah. Sementara itu, iel langsung sms alvin, karena dari yang dia dengar lewat aren, alvin dekat dengan zeva.
“Kak zeva harus kuat, aren mau kak zeva sembuh..” lagi-lagi zeva hanya tersenyum. Aren mengusap pipi zeva penuh sayang, layaknya seorang adek ke kakak.
“Ri..ko..” desah zeva pelan. Aren langsung memalingkan wajahnya ke iel.
“Kak iel tolong hubungin kak riko nih pake hp aren aja” aren menyodorkan hpnya, iel baru menerima itu tepat ketika hpnya sendiri berdering.
“Enggak usah ren, riko lagi mau kesini sama alvin, tadi aku sms alvin soalnya” meski tidak begitu paham kejadian apa yang sedang terjadi hingga riko dan alvin sedang bersama saat ini, aren dan iel tidak mau memusingkan hal itu.
“Bentar lagi kak, kak riko lagi di jalan”
“Bilangin..hah...gue..” zeva tampak ingin mengucapkan sesuatu meski terbata-bata dan napasnya tersengal-sengal.
“Jangan banyak ngomong dulu kak” larang aren yang tidak tega dengan kondisi zeva, di belakangnya iel tampak berdiri menatap lirih juga ke zeva.
“Gue..sayang..riko..” zeva masih keukeuh untuk terus berbicara.
“Iya aren tahu, kakak sayang sama kak riko, bentar lagi kak riko dateng kak..”
“Gue..hh..mau..lihat..hh...dia..ba..hagia..” lagi-lagi zeva tersenyum. Aren menggenggam erat tangan zeva, susah payah ia menahan butir air matanya agar tidak jatuh.
Zeva menatap aren penuh sayang, tatapan yang bersemangat seperti biasanya, ia tampak seperti tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya. Lama-lama tatapan itu semakin meredup, tangan zeva yang aren genggam juga semakin mengendur, dan perlahan kedua mata itu benar-benar terpejam.
“Kak ! kak zeva !” panggil aren sambil menggoyang-goyangkan tubuh zeva.
“Aren, ren udah !” iel langsung memeluk tubuh aren, menjauhkannya dari zeva.
“Aku enggak mau kehilangan dia kak ! dia udah kaya kakak buat aku, dia kakak aku...” ujar aren sambil menangis di pelukan iel. Tidak ada lagi yang bisa iel lakukan kecuali memeluk erat aren dan membiarkan air matanya membasahi bajunya.
“Zeva” aren dan iel menoleh, terlihat riko sedang berdiri terpaku di ambang pintu, matanya lurus menatap ke arah zeva yang jiwanya baru saja berpisah dengan raganya untuk selamanya.
_Flashbackend_
Aren masih terus memeluk riko sambil menceritakan itu semua dengan air mata yang tiada henti. Riko sendiri sudah tidak dapat membendung segala kesedihannya. Meski ia yang selama ini mati-matian menolak kehadiran zeva, nyatanya ia jugalah sekarang yang paling kehilangan dan rapuh tanpa sosok zeva.
“Aku juga sayang kamu ze..” ujar riko lirih. Dia tersenyum ke arah aren, menghapus air mata yang membasahi pipi putih aren. Ia menggenggam tangan aren dan mengajaknya berdiri.
“Jagain dia ya, gue percaya sama lo” riko menyatukan tangan aren dan iel, dan mencoba tersenyum ke arah keduanya.
“Kakak mau kemana ?”
“Gue cuma butuh nenangin diri, setelah ini gue janji gue bakal berubah, gue enggak akan pernah kecewain zeva lagi” riko tersenyum kepada siapapun yang ada disitu, kemudian ia menengok ke arah makam zeva sekilas, dan berjalan menuju parkiran.
“Apa bagus biarin kak riko sendirian ?” tanya aren ke iel.
“Biarin dia sendiri ren, dia bakal aman kok, di suatu tempat diamana dia bisa ngenang zeva sepuas hatinya” alvinlah yang menjawab pertanyaan aren. Aren hanya tersenyum, dari senyum riko tadi, ia merasa kakaknya yang lama hilang perlahan mulai kembali.
***
Semua boleh datang dan pergi, tapi pesta selalu akan tetap diwarnai oleh canda tawa sukacita. Suasana di aula vendas saat ini memang berbanding terbalik dengan suasana di pemakaman zeva pagi tadi. Karena memang hanya segelintir orang yang mengenal zeva di sekolah ini. Lagipula malam ini, vendas sedang mengadakan acara untuk penutupan turnamen yang telah berlansung selama kurang lebih seminggu. Semua orang datang untuk berbagi kebahagiaan, entah yang kemarin menang ataupun kalah.
Meski sudah dicari di seluruh penjuru sekolah, via tetap saja belum menemukan alvin. Tentu saja hal ini membuat via panik mengingat kondisi alvin yang masih ahrus di bantu kruk untuk berjalan. Semua orang yang via tanya, tidak juga ada yang tahu tentang keberadaan alvin, bahkan rio juga ikut-ikutan menghilang.
“Masuk vi, bentar lagi acara mulai” sapa seorang anak sambil tersenyum ke arah via. Mau tidak mau via pun ikut masuk ke dalam aula, karena memang acara akan segera di mulai.
“KLAAP” tiba-tiba lampu aula seluruhnya padam, menimbulkan bisik-bisik di seluruh ruangan. Via sendiri bingung, posisinya masih berdiri tepat di depan pintu aula, dan sekarang ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Kebingungannya bertambah ketika sebuah lampu sorot diarahkan kepadanya.
Hanya ada dua lampu yang menyala. Lampu sorot yang mengarah pada via dan lampu yang terpancar dari layar putih di atas panggung. Pertama-tama semua mata melihat ke arah via yang cukup membuatnya merasa tidak nyaman, lantas kemudian mata-mata itu beraliha ke arah layar putih yang mulai memantulkan gambar.
Via menutup mulutnya dengan tangannya saat sadar gambar apa yang ada di layar itu. Gambar yang terus bergerak di layar semuanya adalah sketsa dirinya. Ada dirinya yang sedang duduk, berdiri, tertawa, tersenyum, di bawah hujan, di pinggir danau, dirinya yang sudah dewasa bahkan gambarannya ketika masih kecil.
“Treek” semua lampu dinyalakan kembali. Via masih terpaku di tempatnya, tapi di atas panggung sudah berdiri alvin, yang malam ini terlihat sangat rapi dan tampan.
“Gambar-gambar tadi udah gue gambar dari kita kecil, dan elo tahu, gue selalu suka saat menggambar elo karena senyuman lo selalu mudah untuk digambar..sivia aziah..gue harap senyuman dan seluruh jiwa raga lo bisa gue milikin bukan lagi cuma sekedar gambar di atas kertas” alvin turun dari atas panggung dengan perlahan dan menghampiri via yang masih saja terdiam di tempatnya.
“Jadi ?” tanya alvin sesampainya dia di depan via.
“Iya gue mau” jawab via yakin. Tanpa perlu ragu, tanpa perlu bertanya lagi, via yakin kali ini, inilah jalan yang tepat untuknya. Alvin tersenyum dan langsung memeluk via.
“Cieeeeeeeeeeeeeee...” koor sorak-sorai langsung membahana di aula tersebut. Membuat pipi via merona merah, senang sekaligus malu.
Dari kejauhan, rio yang ditugasin sama alvin buat jadi operator lampu, ikut tersenyum melihat via dan alvin. Bahkan kalo boleh jujur, dia lebih bahagia sekarang daripada dulu saat dirinya dan via jadian. Meski tidak ada kata putus diantara keduanya, rio dan via sama-sama tahu, bahwa mereka memang tidak bisa untuk bersama lagi.
“Gue seneng lihat elo bisa ketawa ngelihat kebahagiaan mereka” rio langsung menoleh ia sangat familiar dengan suara ini.
“Shilla ?” rio takjub melihat shilla sedang berdiri cantik di depannya.
“Iya ini gue, ngelihatnya gitu banget. Gue jelek ya, tambah kurus..”
“Enggak elo cantik banget” ujar rio jujur yang membuat shilla tersenyum.
“Lo juga ganteng” puji shilla balik. Rio cuma bisa menggaruk belakang kepalanya. Jantungnya berdetak kencang kali ini.
“Ngapain kesini shil, emang udah sehat betul ?” tanya rio berusaha mengalihkan suasana.
“Udah kok. Gue mau nyanyi, emang elo enggak tahu ?” rio hanya menggeleng.
“Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, kini dia datang dengan semangatnya yang baru, ayo kita sambut ashilla” suara pembawa acara terdengar hingga ke tempat mereka berdua. Shilla tersenyum ke arah rio sambil berjalan ke arah panggung.
“Shil !” panggil rio yang membuat shilla berbalik lagi kearahnya.
“Apa ?”
“Good luck ya..” lagi-lagi shilla hanya tersenyum. Dia menerima mike yang di sodorkan oleh si pembawa acara. Shilla tersenyum ke arah para penonton. Intro musik mulai mengalun perlahan.
Look at me,
You may think you see who I really am
but you'll never know me
everday, its as if i play a part
Rio tersenyum, selain karena ia menikmati suara shilla, ia juga bisa merasakan seluruh penghayatan shilla menyanyikan lagu ini.
Now i see, if I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heart
Who is that girl I see,
Staring straight back at me.
When will my reflection show
Who I am inside.
I am now,
in a world where I have to hide my heart,
and what I believe in.
But somehow I will show the world,
whats inside my heart,
and be loved for who I am.
“Senyum-senyum sendiri, kalo suka bilanglah yo” entah kapan datangnya, alvin dan via tiba-tiba sudah berdiri di samping rio. Rio hanya tersenyum menanggapi celotehan alvin.
Who is that girl I see,
staring straight back at me.
Why is my reflection someone I dont know,
must I pretend that i'm,
someone else for all time,
when will my reflection show who I am inside.
There's a heart that must be free to fly,
That burns with the need to know the reason why.
Why must we all conceal,
what we think,
how we feel.
Must there be A secret me i'm forced to hide.
I won't pretend that i'm,
someone else for all time.
When will my reflection show,
Who I am inside.
When will my reflection show,
Who I am inside.
Shilla membungkukan badanya berterimakasih terhadap aplause meriah yang diberikan penonton untuknya. Kemudian ia menghampiri rio lagi yang kini tidak sendiri tapi bersama alvin dan via.
“Keren shil, keren banget..” puji via tulus.
“Makasih vi, oh ya congrats ya lo berdua”
“Sip. Lo kapan mau nyusul sama rio ?”
“Plakk !” tangan rio langsung mendarat di kepala alvin mendengar pertanyaan alvin yang spntan. Via dan shilla hanya bisa terkekeh.
“Ye, elo nih gue bantuin enggak mau, udah cepetan keburu di ambil orang lagi entar si shilla” timpal alvin lagi yang membuat muka rio merah padam.
“Udahlah vin, seneng banget sih gangguin orang” ujar via.
“Abis kalo enggak diginiin nih anak satu enggak bakal gerak vi, dulu aja waktu dia nembak lo, gue yang sibuk natain bunganya..oppss..” alvin langsung menutup mulutnya sendiri, menyadari hal yang selama ini sengaja ia rahasiakan telah mengalir dengan lancar dari mulutnya.
“Apa ? jadi bunga yang waktu itu elo yang bikin ?” tanya via tak percaya tapi senang. Alvin yang udah ke gap, cuma bisa senyum sambil ngangguk-ngangguk.
“Kok enggak bilang ?”
“Abis gue kan pengennya elo ngelihat itu sebagai usahanya rio vi” jawab alvin jujur. Via tersenyum melihat ke arah alvin. Seandainya saat itu ia tahu, itu hasil kerjaan alvin bukan rio, ia pasti tidak akan menerima rio. Tidak perlu ada semua masalah ini. Ia tidak perlu salah mengambil jalan, ia bisa saja langsung melewati jalan utama, menuju cintanya, alvin.
“Ah..elo tuh yaa..” via memukul-mukul tubuh alvin dengan tangannya.
“Eh..eh ampun-ampun..”
“Shil, kita kesana aja yuk” tawar rio sambil menunjuk ke arah taman sekolah mereka. Shilla hanya tersenyum mengikuti rio.
“Makasih ya shil”
“Buat ?”
“Semua hal yang pernah elo kasih ke gue, semuanya” shilla lagi-lagi hanya tersenyum, membuat rio semakin meleleh dibuatnya.
“Oh ya shil, gue mau nanya”
“Apa ?”
“Gue udah baca cerita lo, tapi baru sampai pas si tokoh utama putus sama ceweknya terus kan dia nyariin si sahabatnya yang diem-diem suka sama dia itu, nah terus endingnya apa ?” shilla diam di tempatnya, rio ikutan diam.
“Akhirnya..” shilla menggantung kata-katanya.
“Akhirnya ?” tanya rio penasaran.
“Cowok itu berhasil nemuin sahabatnya, dan di bawah bulan purnama, si cowok itu sadar sama perasaaannya dan ngungkapin isi hatinya ke sahabatnya, terus mereka jadian deh” rio langsung menatap ke arah langit.
“Shil..” panggil rio sambil terus menatap langit.
“Apa ?”
“Lagi bulan purnama lho sekarang” shilla langsung ikut-ikutan menatap langit.
“Maukah kamu menjadi kekasihku shilla ?” tiba-tiba saat shilla sedang menikmati bulan purnama, rio berlutut di depannya dan menggenggam tangannya.
“Rio ini serius ?” tanya shilla yang masih takjub.
“Dengan seluruh hati aku shil” jawab rio mantap.
“Iya aku mau” ujar shilla sambil tersipu.
“Ciee yang baru jadian juga” alvin dan via yang ternyata dari tadi ngintip langsung nyorakin mereka berdua.
“Dasar ya lo berdua” timpal rio. Alvin dan via hanya tertawa. Rio menggenggam erat tangan shilla, dan alvin melingkarkan tangannya di pundak via.
Di bawah bulan purnama, mereka berempat berdiri, menjemput kebahagiaan mereka masing-masing. Kebahagiaan yang tidak pernah bisa mereka tebak ataupun duga sebelumnya.
Cinta tidak memerlukan kesempurnaan, yang cinta perlukan hanya sebuah kejujuran, ketika kita jujur mencintai seseorang siapapun itu, maka akan selalu ada jalan lain untuk menuju cinta. Meski kadang untuk kesana kita harus menemui banyak ganjalan dan rintangan. Kadang kita tidak bisa langsung melalui jalan utama. Kadang malah kita harus berhenti dulu atau malah memutar arah. Tapi akan selalu ada jalan lain untuk cinta terutama kepada mereka yang percaya tentang cinta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar