Another way to love III

PART III
Part 3...

****

Entahlah apa yang menggiringnya untuk kesini dan bukannya ke sekolah. Alvin memarkirkan motornya di taman kota. Setelah hampir berjam-jam memacu motornya, berputar-putar di jalan, tanpa tujuan. Seperti biasa, taman ini nampak sepi, bahkan jauh lebih sepi dari terakhir kalinya alvin kesini. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari objek menarik. Alvin mengeluarkan sketch booknya, siap menggoreskan pensilnya.
“Plakk !!” alvin celingukan mencari asal suara yang terdengar seperti tamparan. Tidak sampai beberapa langkah, alvin telah menemukan sumber suara tersebut. Dia tertegun sesaat menyaksikan pemandangan di depannya. Alvin tahu tidak semestinya ia ikut campur dengan masalah orang lain, tapi alvin juga tidak dapat membiarkan perbuatan yang menurutnya telah melampaui batas tersebut, apalagi itu terjadi di depan matanya.
“Laki-laki sejati tidak menggunakan tangannya untuk menyakiti seorang perempuan, terlebih perempuan itu adalah pacarnya” laki-laki dan perempuan itu menoleh ke arah alvin, alvin tersenyum sinis ke arah laki-laki tersebut.
“Ngapain lo ?! ini bukan urusan lo !!”
“Gue tahu riko anggara, tapi gue enggak suka lihat elo nampar cewek lo di tempat umum kaya gini !”
“Itu hak gue ! lo enggak berhak ikut campur !”
“Gue punya hak, karena kelakuan lo udah ngerusak kenyamanan di taman ini !”
“Pergi lo !! Bug !” riko langsung menyarangkan pukulannnya ke wajah alvin.
“Riko !!” jerit zeva yang dari tadi hanya terdiam. Ia menarik riko, berdiri di antara alvin dan riko.
“Minggir lo !” dengan kasar riko mendorong zeva hingga terjatuh.
“Sialan lo ! Bug !” alvin membalas pukulan riko. Dan balas-membalas pukulan tersebut terus terjadi, zeva berusaha untuk meredam riko, tapi selalu berakhir sia-sia.
“STOP !! TOLONG BERHENTI !!” teriak zeva yang tidak kuasa menahan linangan air matanya, ia menatap penuh harap ke alvin, berharap alvin mengerti sedikit saja, karena tatapan itu tidak akan berarti apa-apa untuk riko.
“Udah ko udah..” ujar zeva pelan.
“Gue masih mau bikin perhitungan sama lo !!” ancam riko sambil meninggalkan alvin dan zeva, alvin tersenyum sinis terhadap riko. Tapi hatinya terenyuh melihat zeva, gadis itu tampak letih dan lemah, di pipinya masih terlihat bekas tamparan riko tadi. Selama ini alvin hanya mendengar ceritanya, dan tidak menyangka akan menyaksikannya sendiri hari ini.
“Maaf vin, makasih, gue duluan..” zeva tetap mencoba tersenyum ke alvin, setelah itu ia berusaha menyusul riko yang jauh meninggalkannya. Alvin masih tidak mengerti, bagaimana cinta bisa membuat seseorang kehilangan akal sehat dan logikanya. Alvin melihat jam tangannya, masih ada sedikit waktu sebelum pelajaran terakhir usai, kalaupun ia tidak sempat mengikuti satupun pelajaran hari ini, setidaknya ia telah mempunyai niat untuk pergi sekolah sekarang, meski ia sudah sangat jauh terlambat.
Dengan malas-malasan, via berjalan ke luar sekolah, hari ini lagi dan lagi rio ada ada rapat, membuat via harus pulang sendiri. Langkahnya terhenti, ketika ia melihat sosok di hadapannya. Begitu acak-acakan, tidak ada satupun kancing seragamnya yang terpasang, memperlihatkan kaos oblong putihnya, wajahnya lebam, sebelah tangannya menenteng blazernya, dan tangannya yang lain menyandang tas rangselnya. Tanpa aba-aba, via menarik tangan laki-laki tersebut.
“Gue mau di bawa kemana ?”
“....” pasrah. Hanya itu yang dapat alvin lakukan, membiarkan via menarik tangannya. Kemudian mereka berbelok masuk ke dalam ruang kesehatan. Alvin hanya memandangi via yang tidak mau memandang ke arahnya, alvin dapat melihat dengan jelas, wajah putih via, bibirnya yang merah, pipinya yang chubi, hanya satu yang kurang, senyum via yang beberapa hari ini hilang untuknya.
Dengan telaten via mengobati luka-luka alvin, tanpa suara via terus berkerja, Bahkan tanpa alvin duga, via mengancingkan seragam alvin, lalu merapikannya.
“Bisa enggak sih sekali aja, elo puasa berantem. Seneng banget sih ngelukain badan sendiri ?! ngerasa jago kalo bisa bikin lawan lo kalah ?! ngerasa hebat ! apa sih yang lo dapetin dari berantem ?! Cuma luka-luka di sekujur tubuh lo tahu enggak !! bisa enggak sih sekali aja lo enggak bikin gue khawatir, sekali aja enggak nyelesein sesuatu pake tangan, pake kekerasan, pake pukul-pukulan !! gue enggak mau elo kenapa-napa !!”
Entah dapat dorongan dari mana, alvin memeluk via. Mendekapkan kepala via di dadanya, membiarkan via mendengar detak jantungnya. Membuat via terdiam akan kekagetannya tapi juga merasa nyaman.
“Makasih buat semua perhatian lo, gue akan berusaha untuk enggak bikin lo kecewa” bisik alvin di telinga via. Ia tahu, tindakannya ini bodoh, ia sadar dengan apa yang sedang lakukan, tapi semakin otaknya memerintahkan ia melepaskan via, semakin kuat juga tangannya memeluk erat via.
“Alvin, cewek kemarin itu siapa ?”
Alvin melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya tetap menggenggam kedua tangan via.
“Namanya zeva, dia pacarnya riko”
“Riko vailant musuh lo ?”
“Iya...” alvin pun mulai menceritakn awal pertemuannya dengan zeva, semua kisah zeva, hingga kejadian hari ini.
“Kasian zeva, tapi dari cerita lo dia keliatan tegar banget..” komen via setelah mendengar cerita alvin. Diam-diam hatinya lega, lega karena ia telah mengetahui hubungan alvin dengan zeva.
“Kenapa senyum-senyum sendiri ?”
“Enggak apa-apa, udah ayo pulang” ajak via. Alvin hanya mengangguk, ia mengikuti via yang berjalan di depannya.
“Ya ujan vin..” ujar via saat melihat ke arah halaman sekolah mereka yang mulai basah oleh hujan.
“Ya udah pulangnya entar aja, neduh dulu” usul alvin sambil menyenderkan badannya di tembok.
“Inget enggak dulu waktu kecil kita suka main ujan-ujanan” celetuk via.
“Inget..”
“Ujan-ujanan lagi yuk..”
“Jangan entar lo...” via tidak membiarkan alvin menyelesaikan kata-katanya, dia membuka blazernya, dan segera berlari ke arah tengah taman, membiarkan hujan membasahi tubuhnya, tangannya melambai-lambai mengajak alvin ikut serta.
“Entar lo sakit vi !”
“Udah ayoo..” via menarik tangan alvin, alvin hanya tersenyum melihat via tertawa bahagia.
“Digerai lebih bagus vi..” alvin menarik ikat rambut via.
“Alvin balikin..” rengek via.
“Ambil dong..” alvin memegang ikat rambut via lalu mengacungkan tangannya ke atas, via mencoba berjinjit untuk mengambil ikat rambutnya, tapi alvin yang lebih tinggi darinya membuat via kesulitan, dan kondisi rumput yang basah membuat via kehilangan keseimbangannya.
“Brukk..” via jatuh sambil mendorong alvin, membuat posisi badannya menimpa badan alvin. Jarak mereka begitu dekat, kedua mata mereka bertatap-tatapan, dan suasana hening berlangsung cukup lama diantara mereka berdua.
“Vi, berat..”
“Eh iya maaf..” via mencoba berdiri. Dia tersenyum malu-malu ke arah alvin, alvin pun salting, dan menggaruk bagian belakang kepalanya.
“Nih..” alvin menyodorkan ikat rambut via, via baru mau mengambil itu ketika..
“Kejar gue dulu !” alvin berlari sambil tertawa, via sedikit terkesima melihat tawa itu, sudah lama ia tidak melihat alvin tertawa selepas itu. Sadar dari lamunannya, via mulai mengejar alvin, dan mereka berdua pun mulai kejar-kejaran, seolah tidak peduli terhadap hujan yang semakin deras, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Shilla memicingkan matanya, melihat dua anak manusia yang sedang tertawa gembira di bawah hujan tanpa beban. Tidak di ragukan lagi, itu via dan alvin.
“Shil, ada apa sih di bawah, kok daritadi ngelihat ke jendela mulu” tegur rio sambil berjalan ke arah tempatnya.
“Eh..eh, bukan apa-apa kok yo, sori-sori, gue cuma lagi lihat ujan doang, udah ayo lanjutin rapatnya..” cegah shilla, membuat rio menghentikan langkahnya, shilla mencoba tersenyum meyakinkan rio. Rio mengangkat bahunya, dan kembali ke tempatnya.
“Ya udah sampai mana tadi kita ?” tanya rio kembali fokus ke slidenya. Shilla menghela napas lega, ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, yang ia tahu, ia hanya tidak ingin membuat rio terluka.
***
Kamar itu hening, tanpa suara bahkan tanpa cahaya. Shilla duduk bersender di tempat tidurnya, memeluk kedua lututnya, tatapan matanya tidak berbicara banyak, karena hanya tangis pilu yang tergambar disitu.
Shilla berusaha tidak mempedulikan segalanya, berusaha untuk melupakan segala hal yang merasuki pikirannya, berusaha untuk pura-pura tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Shilla meraih laptop yang terletak di sampingnya, dan jari jemarinya mulai lincah mencurahkan segala hal dan perasaan yang menguasai hatinya.
Tuhan, maafkan aku, aku tahu membohonginya adalah sebuah kesalahan besar, tapi aku sungguh tidak sanggup bila harus melihatnya sakit, aku tidak mau melihat ia sakit.
Dia mencintai gadis itu, mungkin melebihi seluruh cintanya pada dirinya sendiri. Sementara perasaannya untukku, hanya sebuah rasa biasa atas nama persahabatan. Aku mengerti itu, aku terima itu, ada di sampingnya adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Aku tidak pernah menolak, sekalipun ia mencariku hanya untuk mendengarkan ceritanya tentang gadis itu. Aku selalu ikut tersenyum bahkan tertawa, karena bahagianya adalah bahagiaku.
Aku tidak ingin kehilangan senyumnya, aku tidak ingin kehilangan semangatnya, aku ingin ia tetap seperti ini. Untuk itu, aku akan melindunginya, aku akan menjaganya, aku tidak ingin hatinya terluka, sedikitpun. Meskipun untuk itu aku harus melukai hatiku sendiri, aku rela, aku ikhlas, asal dia terus menjadi seperti ia yang sekarang.
Bila ada yang bertanya, apakah aku ingin memilikinya, aku akan dengan senang hati menjawab iya, aku akan memberikan semuanya untuk dia, cintaku yang paling tulus. Tapi bila tawanya bukan saat dia ada disampingku, melainkan saat dia ada disampingnya, aku tetap akan tersenyum untuknya.
Sesungguhnya aku tidak mengerti, mengapa Engkau membuat aku mencintainya, tapi melarangku untuk memilikinya. Mengapa begitu sulit, jalan takdir yang harus aku tempuh Tuhan ? aku tahu, tidak berhak untukku menuntut apapun dari kisah ini, tapi aku berjanji, aku akan menjadi orang yang akan selalu berjalan disampingnya, ikut merayakan kebahagiaannya, ikut tertawa bersamanya, meski di balik itu semua aku harus menangis sendiri, seperti malam ini.
Senyum kesedihan terpeta dibibirnya, shilla sendiri tidak mengerti, mengapa akhir-akhir ini perasaanya sukanya terhadap rio terus berkembang memenuhi hatinya.
Sambil sesekali menguap menahan ngantuknya, acha terus saja melakukan hobinya, membaca novel sambil tidur-tiduran di atas kasur empuknya.
“KLAAP” tiba-tiba lampu kamarnya padam.
“MAMA !! KAK ALVIN ! KAK RIO !” teriak acha panik. Dia memang sedikit phobia sama yang namanya kegelapan. Acha tetap bertahan di atas kasurnya, berharap seseorang datang ke kamarnya, matanya telah berkaca-kaca, tangannya memeluk erat gulingnya.
“Krekk”
“Mama ? kak alvin ? kak rio ?” acha semakin merasa takut karena tidak ada respon untuknya, padahal ia merasa yakin ada yang membuka pintu kamarnya barusan. Acha yang ngerasa semakin parno kalo terus-terusan ada di kamar, akhirnya mutusin turun dari kasurnya, sambil meraba-raba, ia mencari senter yang terletak di atas meja belajarnya.
“Treek..” cahaya senter lumayan membuat rasa takutnya akan kegelapan berkurang sedikit. Tapi matanya tertumbu pada secarik kertasa berwarna pink, yang entah terletak di samping senter tersebut.
Turun ke bawah dong, terus ke halaman belakang ya, gue tunggu ♥
Acha mengernyit heran, dia tidak merasa kenal dengan tulisan ini. Ini jelas-jelas bukan tulisan milik kedua kakaknya. Diliputi rasa penasaran, acha pun memberanikan diri untuk mengikuti perintah tulisan tersebut.
Sambil memegang senter di tangannya erat-erat, acha perlahan demi perlahan turun ke lantai satu rumahnya. Entah perasaannya saja atau bukan, yang jelas acha merasa suasana rumahnya sangat sepi. Acha langsung nyenter kemana-mana, sesampainya dia di halaman belakang.
“Ditutup dulu ya” seseorang yang ada di belakangnya, menutup matanya dengan sebuah kain.
“Kak via ?” tebak acha. Tapi lagi-lagi tidak ada respon untuknya, yang ada orang tersebut malah menggandeng tangannya, membimbing dirinya untuk berjalan entah kemana.
“Kak cakka..”
Acha speechless melihat cakka yang malam itu terlihat lebih tampan daripada biasanya, berdiri dengan senyum penuh pesona di depannya, sementara acha sendiri hanya menggunakan baju tidur bermotif hello kitty dan rambut yang acak-acakan. Dan yang membuatnya semakin tidak berkutik adalah, pemandangan yang ia lihat di kolam renang rumahnya, berpuluh-puluh lilin dengan hiasan mawar putih bunga kesukaan acha, mengapung membentuk namanya dan tanda love.
“Malem ini di antara ribuan bintang di langit dan cahaya bulan, gue pengen bilang ke elo, kalo gue sayang banget sama elo, dan berharap elo mau untuk jadi cewek gue, malem ini, besok dan seterusnya..” cakka berlutut di depan acha sambil menyodorkan sebuket mawar putih untuk acha.
“Kalo lo terima gue, lempar buket ini ke arah tanda love itu, tapi kalo lo nolak gue, lempar buket bunga ini kemana aja..” acha menerima buket bunga itu dari tangan cakka, dia berdiri di samping kolam renang, bersiap melempar buket bunga tersebut. Cakka yang menanti dengan cemas di sampingnya, berusaha terus tersenyum.
“BLUPP” dengan penuh keyakinan acha melempar buket bunga itu, tepat ke dalam tanda love tersebut. Cakka langung tersenyum sumringah dan memeluk acha.
“Ehem..ehem..”
“Ciee acha..”
“Eh, udahan woi pelukannya” rio, via sama alvin langsung muncul dari dalam rumah. Alvin langsung berjalan ke arah acha dan cakka, lalu memisahkan mereka berdua.
“Ya elah vin, baru bentar gue pelukannya..” ratap cakka.
“Kapan-kapan lagi aja cak, udah cukup itu sih..” timpal alvin. Cakka manyunin bibirnya, yang membuat alvin, acha, via dan rio ketawa.
“Jelek amat muka lo cak, jaga image dikit kenapa di depan adek gue” celetuk rio.
“Udah-udah, ayo makan dulu..” ujar via.
“Makan ?” tanya acha yang masih merasa ini semua mimpi.
“Iya acha, udah ayo..” mereka berlima makan dengan makanan yang udah di delivery khusus sama cakka ke rumah alvin.
“Jadi mati lampu tadi juga bagian dari rencana ?” tanya acha di sela-sela acara makan mereka.
“Iya dong cha..” jawab cakka.
“Tapi aku enggak banget deh, masa kak cakka rapi gitu, akunya pake baju tidur gini, berantakan lagi..”
“Buat aku kamu mau kaya apa juga tetep cantik kok” ucap cakka sambil mengacak-acak rambut acha.
“Gombal terus” celetuk alvin.
“Dari tadi ganggu mulu lo vin” rungut cakka.
“Suka-suka gue, masih mending gue restuin..”
“Iya-iya. Cha, tadinya aku tuh mau ngajak kamu dinner, tapi enggak dapet ijin dari alvin, dia juga yang malah nyuruh aku buat nembak kamu di rumah aja..”
“Terima nasiblah cak, udah bagus gue sama alvin ngasih lo ijin” timpal rio.
“Udah-udah, kapan mau makannya ini, kalo dari tadi ngobrol terus ?” sela via. Posisi duduk mereka bersebelah-sebelahan, cakka di sebelah acha, dan di depan mereka, via duduk diantara rio dan alvin.
Sejujurnya via sedikit risih dengan posisinya ini, apalagi kebiasaan rio yang suka menggenggam erat tangannya saat mereka berdua. Matanya mencuri pandang ke alvin, yang seperti biasa selalu terlihat sibuk dengan makanannya.
“Tinggal elo nih vin yang jomblo..” celetuk rio tiba-tiba.
“So ?”
“Cari ceweklah, enggak pengen apa ?”
“Haha, cewek mana yang tahan sama gue..”
“Adalah, masa enggak ada..”
“Kalopun ada, mungkin gue enggak tercipta buat dia, gue enggak cukup pantes buat cewek baik-baik..” via menelan makananya dengan susah payah, ia berusaha terlihat biasa saja. Acha dan cakka juga melakukan hal yang sama, meski mata mereka bergantian, melihat ke arah alvin dan via.
“Eh, kak cakka itu tadi yang di kolam renang bagus banget deh, mana ada hiasan mawar putihnya gitu lagi” ujar acha mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ehem..” alvin berdeham.
“Hehe, itu bukan ide aku cha, itu idenya alvin, aku aja heran kok bisa ya dia punya ide sejenius itu”
“Najis lo cak, udah gue bantu juga..”
“Haha, sori sob. Yang lebih hebat lagi ya cha, alvin tuh tahu tempat mesen bunga kaya gitu”
“Hah ?” acha menatap alvin bingung, bagaimana mungkin seorang alvin tahu tempat seperti itu, tidak hanya acha, via pun melakukan hal yang sama ke alvin.
“Alvin nganterin aku pesen bunga, eh mbak-mbaknya ngomong gini ‘eh, mas ganteng pesen bunga lagi, waktu itu berhasil kan acaranya ?’ kira-kira gitulah” terang cakka mengutip perkataan tukang bunganya.
“Kak alvin pesen bunga buat apa ?” tanya acha langsung. Via yang daritadi ikut mendengarkan, entah mengapa merasa ada yang aneh di hatinya. ‘alvin mesen bunga buat apa ? buat siapa ?’ batin via.
“Itu sih mbak-mbaknya aja yang asal ngomong, gue rasa dia salah orang kali, gue mau mesen bunga buat apa coba. Eh, gue duluan ke atas ya, mau nonton bola sob...” alvin langsung ngacir ke atas meski makanan di piringnya belum bener-bener abis.
“Tumben kak alvin makannya enggak abis”
“Biarin cha, dia sih enggak makan juga betah kalo udah nonton bola” timpal rio.
Mereka berempat pun melanjutkan acara makan malam itu tanpa alvin. Walau merasa lega dengan jawaban alvin, tapi via tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
***
Rio dan iel berjalan berdua di lorong sekolah mereka, terlibat obrolan seru, iel dengan penuh semangat menceritakan tentang aren, dan rio tentang via tentunya. Di pertemuan antar lorong, mereka bertemu shilla yang sedang membawa setumpuk buku di tangannya.
“Buset dah shil, repot banget kayanya, sini gue bantu” rio langsung mengambil setengah dari buku yang shilla pegang.
“Eh, makasih yo, maaf ngerepotin”
“Santai kali, mau dibawa kemana nih ?”
“Ini buku-buku yang tadi di pake kelas, gue disuruh balikin ke perpus” jawab shilla sambil tersenyum.
“Sendiri doang ? emang enggak ada orang lain apa di kelas lo ?” timpal iel.
“Hehe, enggak apa-apa kali yel. Lo berdua mau kemana ?”
“Tadinya sih mau ke lapangan basket tapi sekarang kayanya rio mau nganterin lo dulu nih ke perpus” goda iel sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ngapain mata lo kedip-kedip ?’ tanya rio bingung.
“Hahaha, kok gue ngerasa, lo lebih cocok sama shilla ya yo ?”
“Ngaco lo !” semprot rio. Shilla hanya terkekeh, meski setengah hatinya senang dan sisanya sedih. Senang karena kata-kata iel sekaligus sedih karena kenyataan yang ada.
“Eits, santai bro. Lo sama via cocok, tapi lihat deh, elo berdua itu tipenya sama, lagian akhir-akhir ini gue suka lihat elo berdua bareng-bareng terus deh”
“Iel apaan sih ? gue sama rio kan deket karena tugas kita di osis, lagian enggak enak sama via kalo lo bilang kaya gini” komen shilla sewajar mungkin.
“Setuju gue shil, udahlah, diemin aja dia, enggak usah di dengerin” ujar rio sambil tersenyum ke arah shilla. Shilla membalas senyum itu, menatap mata teduh itu sekilas.
“Udah yo, sampai sini aja, kan lo mau main basket sama iel” tawar shilla saat mereka melintasi lapangan basket.
“Nanggung ah shil, masa gue bantuin lo setengah-setengah sih, enggak banget. Yel, lo tunggu aja disini, entar gue langsung balik deh kesini” terang rio ke iel.
“Hmm, iya deh, tahu gue yang mau berduaan sama shilla...haha..” goda iel sambil lari ke arah lapangan. Rio sama shilla cuma bisa kompak geleng-geleng kepala ngelihat kelakuan iel.
“Ada-ada aja deh si iel”
“Tapi emang gue cocok ko shil sama lo....” shilla menghentikan langkahnya, menatap rio dengan pandangan penuh tanya.
“Cocok kerja bareng sama lo, diskusi sama lo, ngobrol sama lo, curhat sama lo” lanjut rio sambil tersenyum ke shilla.
“Iya” ujar shilla sambil melanjutkan lagi langkahnya. Tanpa rio ketahui, shilla diam-diam terus memandangi rio, memperhatikan setiap lekuk di wajah rio, setiap senyum yang terpulas di bibirnya, mendengarkan dengar cermat tentang celotehan rio, semuanya, semuanya yang bisa membuat shilla tambah mengagumi sekaligus jatuh hati terhadap rio.
Sesampainya mereka di perpustakaan, shilla dan rio sama-sama mengatur buku, di tempat yang semestinya, dan shilla sangat menikmati saat-saat seperti ini, saat dimana ia dan rio saling berdekatan dan tertawa berdua.
“Bruk” shilla tersungkur jatuh, setelah kakinya tidak sengaja menabrak kaki meja. Rio langsung meletakkan buku yang ada di tangannya, dan berlutut di depan shilla.
“Shil, mana yang sakit ?”
“Enggak kok, enggak apa-apa..” lirih shilla.
“Beneran ? sini duduk dulu” rio mengulurkan tangannya, dan kemudian melingkarkan tangan shilla ke pudaknya, memapahnya duduk di kursi, lalu mengambilkan shilla segelas air.
“Makasih yo, maaf ngerepotin..”
“Enggak apa-apa kali shil, di minum dulu gih” tangan rio dan tangan shilla sama-sama memegang gelas di waktu yang sama. Membuat mereka terdiam sejenak, saling menatap satu sama lain. Shilla masih menemukan keteduhan di mata rio, dan entah mengapa rio merasa menemukan ada kenyamanan di mata shilla.
“Yo..” shilla yang pertama bisa menguasai dirinya.
“Eh..maaf-maaf..” ujar rio sambil menarik tangannya, shilla hanya tersenyum kecil.
“Shil, gue..ehm..ke lapangan basket ya..bye..” rio langsung pergi gitu aja. Shilla merasa aneh dengan tingkah rio, sebuah dugaan langsung terbersit di otaknya, tapi buru-buru ia tepis dugaan tersebut, dugaan bahwa rio terlihat salting dengan kejadian barusan.
Shilla mengambil laptop di lokernya, tujuan awalnya adalaah ia ingin pergi ke halaman sekolah yang sepi dan penuh inspirasi. Tapi kakinya berhenti di depan lapangan basket, ketika ia melihat rio masih saja tetap bermain basket. Shilla memutuskan untuk duduk di bangku penonton, ia merasa inspirasi itu akan mengalir lebih kencang disini.
Ketika ia berlari, ketika peluh membanjiri pelipisnya, ketika semangat gigih tergambar jelas di matanya, maka saat itu, percaya atau tidak, tapi auranya akan keluar semakin jelas.
Tidak ada pemandangan yang lebih indah daripada wajahnya. Mungkin aku terlalu melebihkan ini, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Lihatlah, ia sedang berlari sekarang, tangannya lincah mengolah bola, langkah kaikinya terdengar mantap tanpa keragu-raguan.
Dan lihatlah, akulah yang ada disini, sendiri menemaninya, hanya aku yang memberi senyum penyemangat untuknya. Ah, bukan ! bukan aku ingin membanggakan diriku, dan menjatuhkan kekasihnya, aku hanya ingin sekedar menghibur perasaanku sendiri. Aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri, bahwa aku bisa, aku bisa ikut tertawa dan bahagia bersamanya, meski hatinya telah termiliki dan bukan olehku.
“Sejak kapan lo disini shil ?”
“Sejak setengah jam yang lalu” shilla tersenyum sekilas, kemudian ia mematikan laptopnya, setelah terlebih dulu menyimpan filenya.
“Haha, kok gue bisa enggak nyadar ya ? nulis lagi shil ?” rio duduk di samping shilla sambil mengipas-ngipaskan badannya.
“Keasikan sih lo mainnya, yang lain pada kemana ? kok jadi tinggal sendiri ? iya nih, iseng..hehe”
“Tadi anak-anak udah pada selesai mainnya, tapi gue masih pengen main aja, jarang-jarang kan gue bisa main”
“Udah enggak kepikiran buat berhenti jadi kapten kan ?”
“Haha, enggak sih, bentar lagi kaa ada turnamen, gue pengen ikut turnamen itu dulu, setelah itu, baru gue pikir-pikir lagi”
“Semoga pikiran lo enggak berubah ya..”
“Hahaha..eh, gue mau baca dong tulisan lo ?” rio mencoba meraih laptop shilla, tapi tangannya di halangi oleh shilla.
“Jangan ah..”
“Kenapa ?”
“Jelek ceritanya”
“Emang tentang apa ?” tanya rio masih maksa. Shilla menatap rio sekilas.
“Ceritanya tentang, seorang cewek yang sangat menggumi temannya, padahal temannya itu udah punya pacar, tapi cewek ini tetep enggak mau nyerah, dia bahkan udah janji sama dirinya, untuk siap terluka untuk cowok tersebut, untuk ikut tersenyum saat cowok itu bahagia..” jelas shilla tanpa memandang rio.
“Tragis banget tuh cewek..hehe..emang ada orang yang benar-benar kaya gitu di dunia ini ?”
“Banyak kali yo”
“Oh ya ? kalo gitu gue salut sama orang yang bisa kaya gitu, karena kalo gue ada posisi, dimana gue harus pura-pura bahagia karena ngelihat cewek yang gue sayang bahagia sama cowok lain, gue enggak akan sanggup deh”
“Jadi lo akan terus mempertahankan seseorang di samping lo meski dia enggak bahagia sama lo ?”
“Iyalah, karena kalo gue udah sayang sama orang, gue enggak akan bisa hidup tanpa dia di samping gue” shilla hanya tersenyum mendengar jawaban rio.
Dengan ipod terpasang di telinganya, alvin berjalan cuek keluar dari kelasnya, padahal jam pelajaran terakhir baru akan berbunyi lima menit lagi, tapi dia tidak peduli akan gurunya dan gurunya pun berusaha tidak menghiraukan alvin. Sambil mengunyah permen karet dan membuat balon, alvin senderan di tembok di depan kelas via.
“Alvin ?” via langsung menghampiri alvin, alvin hanya tersenyum, lalu langsung berjalan meninggalkan via. Via yang mengerti maksud alvin pun mengikuti alvin.
“Makasih udah di tungguin” ujar via.
“Hmm..”
“Via !” langkah alvin dan via sama-sama terhenti, mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.
“Pulang bareng aku kan vi ?” tanya rio sambil meraih tangan via. Alvin melihat itu dengan pandangan yang susah di artikan.
“Eh yo..aku..ehm..”
“Vi, yo gue balik duluan ya, bye” alvin langsung berbalik dan berjalan menjauh. Via menatap punggung alvin, lalu pandangannya ia alihkan ke arah rio yang sedang menatapnya penuh harap dengan senyum manis tentunya.
Tanpa mau menoleh, alvin terus berjalan ke arah parkiran. Ia sendiri, tahu pasti, tidak berhak dirinya untuk merasa marah dengan keadaan, karena memang posisinya yang tidak tepat. Tapi tetap saja, api cemburu itu, berkorbar hebat di hatinya.
“Kok jalannya cepet banget sih, ninggalin gue, niat enggak sih mau pulang bareng gue ?” alvin membuka kaca helmnya.
“Lo ngapain disini ?”
“Ya mau balik bareng lo lah, gimana sih” via langsung aja naik di boncengan motor alvin.
“Rio ?”
“Gue bilang ke dia mau nemenin temen gue pergi”
“Kok bohong sih ?”
“Abis gue pengennya pulang sama lo, udah ayo jalan, entar keliatan rio lagi” via mengeratkan pegangannya ke perut alvin. Dan alvin mulai menjalankan motornya, dia tersenyum sekilas. Sisi egonya sedang muncul dan menguasai dirinya sekarang. Untuk pertama kalinya, ia merasa, ia menang atas diri rio.
***
Demi apapun via tidak suka dengan suasana yang sedang mengepungnya kali ini, ia berusaha menyibukkan dirinya dengan mengedarkan matanya, mencari sesuatu yang menarik untuk ia amati mungkin.
Sementara itu, shilla yang sedang duduk di samping via, sedang berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk membuka percakapan ini. Dia sendiri tidak mengerti, mengapa tiba-tiba dia mengajak via untuk berbicara berdua dengannya.
“Ehm..vi..” via menoleh ke arah shilla, dan tersenyum tipis.
“Kenapa shil ? tadi katanya ada yang mau di omongin sama gue ?” tanya via sesantai mungkin, ia sendiri tidak mengerti kenapa hatinya merasa tidak nyaman seperti ini.
“Sori banget vi kalo misalnya gue lancang, tapi apa lo bener-bener sayang sama rio ?”
Via menatap shilla, mungkin harusnya ia marah dengan pertanyaan ini, tapi entah mengapa via merasa, shilla mungkin adalah orang yang pas untuk ia bagi sedikit ceritanya.
“Gue sayang shil sama dia, dari dulu, sampai sekarang perasaan itu enggak pernah berubah, gue sayang sama dia sebagai seorang...”
“Sahabat” tebak shilla. Via tersenyum lirih, ia tahu shilla yang peka perihal perasaan akan dengan mudah menebak hatinya.
“Dan lo sayangnya sama alvin kan ?” tebak shilla lagi, via hanya dapat mengangguk.
“Kenapa lo bisa tahu ?” tanya via penasaran.
“Cara lo perhatian sama alvin, cara lo mandang matanya alvin, puisi lo waktu itu di kelas, saat lo berdua kejar-kejaran di bawah hujan, elo yang lebih milih pulang sama alvin ketimbang rio, banyak vi..” terang shilla sambil tersenyum menatap via.
“Buat apa lo senyum sama gue ? elo jelas-jelas udah mergokin gue sama alvin”
“Karena elo udah berani jujur sama apa yang lo rasain via, gue enggak bilang apa yang lagi lo lakuin ini bener, tapi gue salut sama keberanian lo...” bukannya senang, via malah merasa semakin bersalah. Entah untuk apa, tapi air matanya mulai berproduksi.
“Gue..hiks..gue enggak mau ngecewain rio..hiks..dia terlalu baik, tapi alvin, gue..hiks..sayang sama dia” shilla memeluk via, membiarkan via menangis di pelukannya.
“Sampai kapan lo mau bohongin rio vi ?” via hanya menggeleng di pelukan shilla.
“Tolong jangan sakitin rio lagi vi, tolong...”
Via melepaskan pelukannya ke shilla, dia menatap gadis itu, di matanya jelas-jelas terpancar pengharapan yang begitu besar.
“Lo suka sama rio shil ?” shilla hanya tersenyum, tapi bukan seperti senyumnya yang biasa, senyum itu tampak rapuh. Via menatap shilla sekali lagi, tapi shilla malah mengalihkan pandangan matanya.
“Maaf vi, gue duluan...” tiba-tiba shilla berlari meninggalkan via sendiri. Via hanya dapat melihat, rambut shilla yang bergoyang kesana kemari, mengikuti irama tubuhnya.
“Harusnya gue yang minta maaf shil..” gumam via lirih.
Tanpa menghiraukan tatapan bingung semua orang, shilla terus berlari, menyusuri koridor sekolahnya, yang memang selalu penuh saat jam istirahat seperti ini. Shilla masuk ke dalam kamar mandi, dan segera mengunci kamar mandi itu dari dalam. Ia menuju wastafel, dan langsung membasuh mukanya dengan air.
“Kenapa lo bilang kaya gitu shil ? kenapa lo enggak bisa ngontrol emosi lo ?”
Shilla menatap bayangan wajahnya di cermin, matanya merah, dan air matanya mengalir deras, bercampur dengan air yang membasahi mukanya tadi. Dia berusaha tersenyum, tapi kali ini topeng senyumnya itu entah bersembunyi dimana.
“Enggak seharusnya lo bilang shilla, harusnya lo simpen aja semuanya sendiri..” sekali lagi, shilla membasuh mukanya. Menarik napas dalam-dalam, mencoba merelaksasi tubuhnya. Sambil mengelap wajahnya dengan tisu, shilla kembali berusaha tersenyum.
“Senyum shil, everything gonna be okay if you keep smile..” hibur shilla pada dirinya sendiri. Kemudian, setelah merasa dirinya baik-baik saja, shilla pun segera keluar dari dalam kamar mandi.
“Shilla tadi kenapa ?” tanya seorang anak perempuan yang menghampiri dirinya.
“Enggak kok enggak apa-apa, tadi cuma dari taman terus kelilipan jadi lari-lari deh ke kamar mandi” ujar shilla beralasan, sambil tetap memamerkan senyumnya yang tanpa beban tersebut.
“Yakin ?”
“Iya..hehe, gue duluan ya..” shilla langsung buru-buru pergi, dia tidak ingin orang khawatir dengan keadaannya, meski kadang ia rindu rasanya di perhatikan.
Setelah memakirkan motornya, alvin segera memasuki kafe tersebut. Tidak begitu banyak pengunjung, karena masih pukul 10 pagi, terlalu siang untuk sarapan dan masih kepagian untuk makan siang. Tapi hal itu malah membuatnya gampang menemukan sosok orang yang mengajaknya bertemu di kafe ini.
“Udah lama ?” tanya alvin sambil duduk.
“Belom. Sori bikin lo harus cabut dari sekolah..”
“Santai, gue seneng kok cabut..” alvin menjentikkan jarinya memanggil pelayan dan segera menyebutkan pesanannya.
“Maaf ya vin, soal yang waktu itu, harusnya elo enggak usah ikut campur”
“Gue juga bukan model orang yang suka ikut campur, tapi gue enggak bisa kalo harus diem aja saat gue ngelihat seorang laki-laki main tangan sama perempuan, apalagi perempuan itu ceweknya sendiri”
“Riko masih marah sama gue, dan akhir-akhir ini dia sering banget ngehindarin gue..”
“Dan lo masih berusaha tetep ada buat dia ? dunia enggak sekecil telapak tangan lo dan cowok bukan cuma riko ze”
“Apa yang bikin lo bertahan terus sayang sama via padahal lo jelas-jelas tahu, dia enggak bisa lo milikin ?” tanya zeva membalikkan keadaan. Alvin hanya diam, dia enggak tahu mau jawab apa.
“Karena cinta kan vin ? karena cinta kita yang terlalu tulus kan buat mereka” zeva menjawab pertanyaannya sendiri.
“Seenggaknya, kans gue untuk dicintai balik sama via lebih gede ketimbang elo” alvin meringis, ketika ia sadar kata-katanya terlalu sinis dan bisa menjatuhkan mental zeva. Tapi zeva malah tersenyum.
“Maaf ze..” ujar alvin sambil menggaruk belakang tengkuknya.
“Lo tahu vin, kenapa gue hubungin lo ? karena kata-kata sinis lo kaya tadi itu, yang dalem, yang bikin hati gue perih, yang dengan seenak udel lo omongin, rasanya jujur banget buat gue, karena kata-kata lo itu, yang bikin gue bisa sadar sejenak masih ada dunia nyata yang sedang gue jalanin” jelas zeva sambil tersenyum tipis.
“Emang orang tua lo enggak pernah curiga kalo lo pulang babak belur ?”
“Gue tinggal sama eyang gue disini, orang tua gue tinggalnya di singapur, sebulan bisa sampai dua kali sih mereka nengokin gue disini, dan kalo mereka mau pulang, gue selalu berusaha untuk hati-hati sama riko, jadi mereka enggak gitu ngeh sama keadaan gue, sementara eyang gue, dia udah terlalu tua buat merhatiin cucunya yang bandel ini...hehehe..” alvin menatap zeva yang masih bisa tertawa, rasanya alvin mengenal tawa itu, tawa itu sama seperti tawa palsu miliknya.
“Kenapa enggak ikut bonyok lo aja kesana ?”
“Mereka udah bujuk gue sih, tapi...” sorot mata zeva meredup perlahan, dan alvin seolah bisa menebak lanjutan kata-kata zeva yang belum tersampaikan.
“Lo masih pengen tetep nemenin riko disini” zeva hanya mengangguk.
“Gila” celetuk alvin, tapi malah membuat zeva terkekeh.
“Ya, dan lo juga satu species gilanya sama gue” balas zeva.
“Whatever, kenapa lo bolos hari ini ?”
“Penat. Riko lagi deket sama cewek lain di sekolah, dan ya, gue enggak pernah mau terlihat kalah dan lemah di depan riko..”
“Cewek lain ? jadi lo nelpon gue cuma buat nemenin lo yang lagi lari dari masalah kaya gini”
“Udah tipikal riko kalo lagi marah sukanya manas-manasin gue. Lo enggak keberatan kan vin, lo sendiri yang bilang tadi, lo suka cabut..”
“Udah terlanjur kesini, ya udahlah, gue cuma enggak suka aja sama orang yang suka ngehindarin masalah”
“Sori deh, buat kali ini aja kok. Eh iya, gimana lo sama via ? terus lo sama rio ?”
“Gue bingung ze, akhir-akhir ini gue ngerasa, ada kaya suara-suara yang maksa gue buat ngambil via, dan jalan untuk gue ngelakuin itu tuh kaya kebuka lebar, kayanya selalu aja ada momen dimana gue bisa terus berduaan sama via, dan seolah-olah rio itu enggak ada”
“Kenapa sih elo enggak jujur aja sama rio ? kalo lo emang deket sama dia, pasti semua bisa kan di omongin baik-baik, kalian kan sahabatan, saudaraan juga lagi”
“Justru karena gue sahabat dan saudaranya dia, gue jadi tahu tipenya dia, enggak akan semudah itu buat dia ngelepasin sesuatu yang dia mau, apalagi rio selalu bisa dapetin semuanya dengan mudah, kalo gue sampai ngerebut via, ini kemenangan gue yang pertama atas dia, dan mungkin akan jadi kekalahannya yang paling telak ze..” alvin tersenyum tipis, zeva menatap alvin lirih.
“Gue enggak pernah suka sama yang namanya perselingkuhan, tapi denger cerita lo, dan mengenal elo, bikin gue sadar satu hal. Pihak ketiga enggak selamanya salah dalam suatu hubungan, karena dalam cinta bukan cuma tentang siapa yang pertama bilang suka, tapi tentang sedalam apa perasaan itu dan sejauh apa perasaan itu terbalas, mungkin gue plin-plan sekarang, tapi gue dukung lo, dukung elo buat bahagia sama via..”
“Dukungan dari elo doang enggak bakal bikin via jadi milik gue juga sih ze”
“Karena elo enggak pernah bener-bener usaha kan selama ini, selama ini lo masih aja ragu, lo harus ambil sikap vin, inget, jangan pernah jadi munafik”
“Gue berusaha untuk enggak munafik” ujar alvin pelan. Zeva hanya tersenyum. Pertemanan mereka yang aneh, pertemuan mereka yang diawali ketidaksengajaan, persamaan nasib diantara mereka, diam-diam telah mengikat mereka dalam bingkai persahabatan.
***
Sambil mendekap bantalnya, via terus-terusan memikirkan kata-kata shilla. Kalimat-kalimat shilla yang sama sekali tidak menjatuhkan dirinya tapi malah membuatnya merasa bersalah. Bayangan rio berkelebat di depan matanya, apa yang harus ia lakukan sekarang ?
Matanya melihat ke arah jendela kamarnya, malam ini gelap tapi bintang begitu banyak. Ia jadi teringat saat rio memberitahunya teori tentang bintang dan bulan. Rio, orang yang telah mencintanya dengan sepenuh hati, dan sekarang secara perlahan ia kecewakan. Mengapa dunia tidak berjalan sesuai kemauannya saja ?
Haruskah ia memilih sekarang, haruskah ia memutuskan kemana ia akan bersandar. Alvin atau rio. Dua pilihan yang sulit. Via membenamkan wajahnya ke bantalnya. Berharap dengan begini, bayangan rio tidak lagi serasa menghantuinya.
“Tuk !” via celingukan mencari sumber suara yang terdengar dari beranda kamarnya tadi. Tapi tidak ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan.
“Tuk..Tuk..” lagi-lagi ada suara yang sama. Via pun bangkit dari kasurnya berjalan ke arah beranda kamarnya. Dia menemukan kerikil-kerikil kecil yang berserakan di beranda kamarnya, dia pun melongok ke arah bawah dan terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di bawah beranda kamarnya.
“Akhirnya keluar juga” alvin tersenyum ke arah via, alvin tetap terlihat menawan meski hanya memakai kaos, celana jins dan jaket serta hanya disinari oleh cahaya bulan. Tangannya menenteng-nenteng gitar,
“Mau ngapain ?” tanya via yang masih dalam euforia kekagetannya.
Alvin hanya tersenyum menatap via. Gadis itu tetap nampak cantik meski dalam pakaian tidurnya, atau ya memang via selalu nampak cantik di mata alvin. Dengan jemarinya, alvin mulai menggenjreng gitarnya.
If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at all
I’ll never know whatthe future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
Via terkesima melihat penampilan alvin, mendengar suara alvin, percaya atau tidak, selama belasan tahun mereka bersahabat, baru kali inilah alvin bernyanyi di depannya, dan itu juga yang membuat via baru tahu suara lembut alvin.
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?
I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life
“HEI !!” permainan gitar alvin terhenti, begitupun lagunya. Via juga langsung melongok ke bawah panik.
“Malem om..” ujar alvin sambil tersenyum lalu menghampiri papanya via dan mencium tangannya .
“Alvin ? ya ampun om kira siapa, malem-malem gini kok ada ribut-ribut di depan rumah” ujar papanya via melunak saat mengetahui kalo orang itu alvin.
“Iya om, maaf ganggu..”
“Papa..” via muncul dari dalam rumahnya.
“Ya udahlah, urusan anak muda, om enggak mau ganggu, om masuk dulu ya, jangan malem-malem” ujar papanya via sambil masuk ke dalam rumah. Via langsung mendatangi alvin yang lagi cengar-cengir.
“Di ayunan aja yuk..” ajak via, dan alvin pun mengikutinya.
“Tadi lagunya belom selesai kan ?” tanya via sambil duduk di ayunan, alvin hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu ia mulai menggenjreng gitarnya kembali.
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?
‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I could stay in your arms
Entah untuk apa, alvin berlutut di hadapan via setelah bait terakhir lagu, kedua matanya menatap mata via tajam.
“Suka kan ?”
“Banget !” jawab via semangat. Alvin tersenyum, lalu ikut duduk di samping via.
“Gue enggak tahu suara lo sebagus itu, dan permainan gitar lo keren banget” puji via tulus.
“Ya, bukan cuma rio vi yang bisa main gitar dan nyanyi, gue juga bisa”
“Kenapa enggak pernah nunjukin ini ke gue sebelumnya ?”
“Karena semua orang selalu ngelihat rio bukan gue” via diam, dia merasa ada yang aneh sama alvin.
“Lo kenapa vin ? kenapa elo jadi terkesan marah sama rio ?”
“Marah ? buat apa. Mau gue marah kaya orang gila, tetap aja orang bakal liat dia, bukan gue, iyakan ? mungkin termasuk elo” nada alvin meninggi.
“Gue ngeliat elo, sebagai alvin jonathan, bukan mario. Percaya sama gue kan ?” via menyenderkan kepalannya di bahu alvin.
“Maaf. Akhir-akhir ini entah kenapa, gue ngerasa hidup ini jauh lebih enggak adil dari keliatannya”
“Oh ya ? apa contohnya ?”
“Gue yang sayang sama lo sejak awal, lo yang juga sayang sama gue, tapi Tuhan lebih milih rio buat dapetin lo” ujar alvin datar tanpa ekspresi terkesan dingin malah. Via mengangkat kepalanya, kemudian ia menarik tangan alvin, memaksa alvin menatap wajahnya.
“Maafin gue vin, harusnya gue enggak..”
“Ssstt, sori gue egois” alvin meletakkan telunjuknya di bibir via.
“Gue janji mulai sekarang, gue akan selalu ada buat lo, gue enggak akan kemana-mana”
“Rio ? kita enggak bisa selamanya kaya gini, lo miliknya rio vi, satu fakta yang enggak bisa kita hindarin”
“Gue yakin akan ada jalan untuk rio, gue yakin vin...” mata via mulai basah. Alvin mendekapkan via ke pelukannya.
“Jangan nangis, gue mohon, jangan nangis”
“Iya..”
“Ya udah, masuk sana udah malem, entar bokap lo ngira gue macem-macem lagi. Gue balik ya..” alvin berdiri dan berjalan ke arah motornya.
“Makasih buat lagunya ya, gue suka banget..” alvin tersenyum dan melambaikan tangannya. Kemudian langsung melesat bersama motornya. Via sendiri langsung ke dalam rumah, dan langsung ke kamarnya.
“Tok..tok..”
“Masuk, eh mama ? kenapa ma ?” tanya via saat melihat mamanyalah yang datang ke kamarnya.
“Mama mau tanya, sebenernya kamu itu pacarannya sama rio atau alvin ?” via hanya tersenyum merespon pertanyaan mamanya, dia sendiri bingung.
“Kok malah senyum. Mama bukannya mau ikut campur, mama yakin kamu udah gede, tahu mana yang baik dan enggak. Tapi kamu tahu kan, mereka itu saudaraan, kalian bertiga juga sahabatan dari dulu, jangan sia-siain itu, ambil jalan yang terbaik buat kalian..”
“Iya ma, via tahu..”
“Ya udah, tidur sana, pasti nyenyak deh tidurnya yang abis di nyanyiin sama alvin” goda mamanya yang langsung membuat pipi via merona merah.
Layaknya orang senam skj, rio meregangkan otot-otot di tubuhnya, setelah hampir dua jam ia duduk di depan laptopnya mengerjakan slide-slide presentasinya. Tangannya membuka laci meja belajarnya, mencari-cari ipodnya.
“Kok ipod gue enggak ada ya ? apa ketinggalan di loker sekolah ?” tanya rio setelah tidak menemukan ipodnya.
“Gue lagi butek nih mau dengerin lagu, ehm, gue pinjem ipod alvin aja deh” rio pun bergegas menuju kamar alvin.
“Klik” rio menyalakan saklar lampu kamar alvin yang masih gelap gulita di tinggal penghuninya. Rio mulai mencari-cari di meja belajar alvin, di lemari bajunya, di rak tv, di atas tempat tidur.
“Dimana sih tuh ipod ? apa di bawa ya ?”
“Didalem situ kali ya” rio membuka laci meja samping tempat tidur alvin, matanya membelalak saat melihat ada setumpuk sketch book di dalam situ.
“Sketch book ?” karena penasaran, rio pun mengambil satu sketch book itu, dan tepat saat ia mengangkatnya, sebuah benda kecil meluncur mulus terjun ke bawah.
Mata rio sama sekali tidak berkedip menatap benda kecil di lantai itu, di pungutnya benda itu, diamatinya pelan-pelan, berusaha menyingkronkan otaknya. Rio meletakkan kembali sketch book itu tanpa membukannya, dan menggenggam erat gelang milik alvin tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
“BRAAK !!” rio membanting pintu kamar alvin dengan energi negatif yang sedang merajai hatinya saat ini.
***
Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya, tapi alvin merasa suasana hati rio saat ini sedang tidak dalam performa terbaiknya. Alvin merasa rio terus-terusan memandanginya dengan sinis sejak alvin duduk di meja makan untuk sarapan pagi ini.
“Yo, ada yang salah sama gue ?” tanya alvin yang mulai risih. Rio hanya menggeleng.
“Kak rio sakit ?” ternyata acha juga merasakan hal yang alvin rasakan dengan kelakuan rio.
“Enggak” jawab rio singkat. Acha mengalihkan matanya ke alvin, dan alvin hanya mengangkat bahunya.
“Gue duluan” ujar rio sambil beranjak dari kursinya tanpa menoleh ke arah acha atau alvin sedikitpun.
“Kak rio kenapa sih, aneh banget ?”
“Kangen kali sama mama..”
“Yee serius kak”
“Haha, enggak tahu, udah ya gue berangkat, lo di jemput cakka kan ?” acha hanya menganggukkan kepalanya, alvin mengacak-acak rambut acha, yang membuat acha merengut sebal. Alvin hanya cengengesan aja, kemudian langsung ngacir keluar rumah.
Via tersenyum ke arah rio, saat mereka berpisah di ujung koridor sekolah. Tapi entahlah, bukannya membalas senyumnya, rio malah langsung meninggalkannya begitu saja. Bahkan via merasa, rio sangat dingin pagi ini, tidak seperti rio yang ia kenal.
“Via..” via menoleh dan sedikit terkejut ketika sebatang coklat di angsurkan di depan matanya.
“Waa, coklat ! makasi alvin..” via langsung merebut coklat tersebut dari tangan alvin.
“Enggak gratis tuh”
“Ya kok gitu ? emang gue harus bayar pakai apa ?”
“Entar jam sebelas nonton gue ya, gue mau ada pertandingan kecil gitu, persiapan buat turnamen” via hanya tersenyum mendengar kata-kata alvin.
“Ya udah gue tunggu lho, gue duluan ya” alvin terus tersenyum sambil berjalan mundur meninggalkan via yang terdiam di tempatnya.
Tanpa ada seorangpun tahu, sesungguhnya, sedang ada pergolakan batin di hati via saat ini. Masih teringat jelas pembicaraannya di mobil tadi dengan rio.
_Flashback_
Via berkali-kali melihat ke arah rio, karena pagi ini rio sungguh terlihat berbeda, tidak ada senyuman manisnya yang biasa untuk via. Tidak mendapatkan respon apapun dari rio, akhirnya membuat via menyerah dan hanya bisa memandangi jalan dari jendela.
“Vi, entar jam setengah sebelas nonton aku ya, aku ada tanding basket, pra turnamen” ujar rio padat dan tetap fokus dengan stirnya.
“Oke, aku pasti nonton kamu kok..” kata via sambil tersenyum ke arah rio, tapi sekali lagi rio tetap tidak bergeming dan mengacuhkan via.
_Flashbackend_
Dan saat ini, kebimbangan itu benar-benar memberatkan langkah via. Meski ada jeda setengah jam antara keduanya, tetap saja via tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dia memandangi coklat yang tadi alvin berikan padanya.
“Semoga rasanya manis dan bukan pahit” gumam via sambil melangkah gontai ke arah kelasnya.
Tempat duduk sudah hampir penuh saat via memasuki lapangan basket. Dia melihat rio sedang melakukan pemanasan dengan memasukan bola ke dalam ring. Setelah mengedarkan pandangannya mencari tempat yang masih kosong, via pun langsung duduk.
Rio memperhatikan via, semenjak via datang, duduk dan sekarang dengan gelisah selalu menengok ke arah jam tangannya. Gadis itu tetap tampak cantik di matanya, tetap tampak menawan dan tetap membuatnya merasa spesial. Rio tidak mungkin memungkiri itu.
Peluit tanda di mulainya pertandingan baru saja di tiupkan oleh wasit. Rio mulai berlari, meski ia terus memperhatikan via. Hal itu membuatnya tidak begitu konsentrasi akan pertandingannya. Berkali-kali rio salah memberikan operan, dan sering melepaskan bolanya. Bahkan tembakannya ke ring, belum ada satupun yang masuk.
Entah telah untuk keberapa kalinya, via terus melihat jam tangannya dan kemudian melihat permainan rio, yang harus diakuinya tidak seperti permainan rio yang biasa. Saat ini, rio terkesan seperti layaknya orang yang belum pernah bermain basket sebelumnya. Detik terus bergulir dan terasa begitu cepat. Via memperhatikan rio yang terlihat begitu payah di lapangan, tapi ia juga tahu sebentar lagi pertandingan alvin akan segera di mulai.
Via memandangi pintu keluar yang tidak begitu jauh dari tempat duduknya, kemudian ia memandang rio sekali lagi. Ia tahu, apa yang ia lakukan ini sangat tidak adil untuk rio, tapi ia juga tahu, ada seseorang yang menunggu kehadirannya di lapangan bola.
‘maafin aku yo, maaf....’ batin via sambil bergegas keluar dari lapangan dan langsung berlari ke arah lapangan bola. Tanpa via ketahui, rio yang memang sejak tadi masih terus memperhatikan via ketimbang bolanya, hanya dapat tersenyum lirih penuh kepedihan.
“Host..host..host..”
“Gue kira elo enggak bakal dateng, gue baru tahu kalo anak basket ada tanding juga” via hanya tersenyum sambil menyeka butir keringat di pelipisnya.
“Ya udah gue main dulu ya, makasih udah mau dateng” lanjut alvin lagi sambil berjalan menuju lapangan.
“Cetak gol buat gue vin” ucap via yang membuat alvin berhenti dan berbalik ke arahnya.
“Pasti” jawab alvin mantap sambil mengacungkan jempolnya. Via langsung duduk setelah menemukan tempat yang cukup strategis. Jauh di dasar hatinya, ia begitu merasa bersalah terhadap rio, ia tahu ia tidak sepantasnya berlaku seperti ini. Tapi melihat alvin yang masih sempat melempar senyum untuknya sebelum dimulainya pertandingan, membuat via mau tidak mau, begitu menikmati pertandingan ini.
Berbeda jauh dari penampilan rio yang sangat terpuruk, alvin justru sedang dalam kondisi permainan terbaiknya. Dengan gerakannya yang lincah serta gocekan bolanya yang sebelas dua belas sama pemain idolanya cristiano ronaldo, cukup membuat pemain lawan harus ekstra ketat menjaganya.
“Gooool” teriak suporter di bangku penonton saat alvin dengan permainannya yang memukau, berhasil mengecoh kiper tim lawan dan meluncurkan bola tepat ke sudut gawang lawannya. Via ikut melonjak senang dan tertawa bahagia bersama yang lain, apalagi ketika alvin menoleh ke arahnya sambil tersenyum
Permainan terus berlangsung, dan karena hanya sekedar pertandingan pemanasan sebelum turnamen, waktunya pun hanya 45 menit. Tapi hal itu tidak menghalangi kemenangan tim yang alvin pimpin, setelah mencetak gol, alvin juga memberikan assistnya untuk terjadinya gol kedua. Setelah berjabat tangan tanda sportivitas di lapangan, alvin langsung berlari menghampiri via yang menunggunya di pinggir lapangan.
“Lunas ya utang gue, itu tadi gol khusus buat elo”
“Makasih ya, menang traktir gue dong, laper nih, kantin aja...”
“Oke, ya udah duluan aja, gue mau ganti baju dulu, lengket banget” ujar alvin. Via hanya mengangguk lalu menuruti petunjuk alvin untuk ke kantin duluan. Sementara alvin langsung masuk ke ruang ganti pemain untuk membersihkan badannya yang penuh keringat.
Via memainkan sedotan yang ada di hadapannya, sudah lebih dari dua puluh menit ia menunggu, dan alvin belum juga datang.
Sedikit terburu-buru, alvin mempercepat langkahnya menuju kantin, gara-gara ada sedikit pengarahan dari pelatihnya. Hampir saja alvin menabrak orang yang tiba-tiba muncul menghadangnya dari dalam world history room.
“Rio ! lo bikin kaget gue aja sih”
“Ada yang mau gue omongin sama lo” ujar rio sinis sambil memberi kode supaya alvin masuk ke dalam world history room. Alvin yang tidak mengerti apa-apa, cuma nurut aja, meski dia sudah bisa membayangkan via yang sedang menunggunya.
“Kenapa yo ?” tanya alvin. Rio tidak bergeming, ia berdiri di samping jendela sambil menatap ke luar.
“Masih inget pembicaraan kita disini vin ? atau perlu gue ingetin. Saat itu kalo gue enggak salah denger, lo bilang elo enggak akan ngerebut via dari gue”
Alvin berjalan menghampiri rio, di kepalanya mulai tersusun berbagai dugaan ke arah mana rio akan membawa pembicaraan ini.
“ Lo kenapa yo ?” tanya alvin sambil menepuk pundak rio. Rio berbalik menatap alvin tajam, belum pernah rio menatap alvin seperti ini sebelumnya.
“BUG !” sebuah serangan kilat super cepat dari rio tepat ke muka alvin.
“Rio..”
“APA ?! GUE ENGGAK NYANGKA ELO KHIANATIN GUE VIN !” rio mendorong alvin hingga terjatuh.
“AYO LAWAN GUE ! LAWAN GUE !” bukannya melawan, alvin malah hanya diam memandangi rio. Sebenernya hanya dengan sekali pukulan, alvin bisa saja membuat rio langsung terjatuh, tapi alvin tahu, melawan rio sama saja dengan menjadi seorang pengecut, karena keadaan telah membuatnya menjadi pihak yang salah.
“BUG !” sekali lagi rio meninju muka alvin, darah segar langsung mengalir dari ujung bibir alvin.
“Gue emang sayang sama via, gue sayang banget sama via, sejak dulu, sejak kita masih kecil. Gue udah sayang sama via, mungkin jauh sebelum lo sayang sama dia”
“BUG !” alvin hanya tersenyum mendapati dirinya di tonjok lagi sama rio, dia sama sekali enggak ada keinginan untuk membalas hal itu.
“Pukul gue terus kalo emang itu bisa bikin lo lega” rio menatap alvin dengan pandangan siap membunuh. Dia menarik kerah baju alvin, memaksanya berdiri.
“KENAPA HARUS ELO ! ORANG YANG PALING GUE PERCAYA !!”
Teriakan-teriakan rio, membuat orang-orang pada berkumpul di depan world history room, menerka-nerka apa yang terjadi. Bagaimana bisa mario, ketos mereka yang begitu bersahaja, meledak sedemikian rupa, terhadap saudaranya sendiri.
“Via, ayo ikut gue !”
“Mau kemana yel ?”
“Udah ayo ikut” via hanya pasrah tangannya di tarik oleh iel. Dia bingung ketika melihat banyak orang yang bergerombol di depan ruang sejarah dunia.
“Ada apaan ?” tanya via yang masih belum mengerti apa-apa.
“Rio sama alvin berantem di dalem vi, kit...” tanpa menginjinkan iel menyelesaikan penjelasannya, via langsung menyeruak menerobos kerumunan orang dan masuk ke dalam ruangan yang tidak terkunci sama sekali.
“STOP !!” teriak via lantang. Rio yang dalam posisi siap memberi alvin sebuah pukulan lagi, langsung melepaskan cengkramannya begitu saja.
“JADI SEKARANG LO JUGA BELAIN DIA ?!” dengan takut-takut via berjalan ke arah rio dan alvin, air mata telah menggenangi pelupuknya, via mencoba tersenyum ke arah rio, tapi rio langsung membuang mukanya. Lalu via berjalan ke arah alvin, dan bersimpuh di hadapannya. Dia menarik tangan alvin, dan mengalungkan tangan itu di pundaknya, kemudian membantu alvin berdiri dan memapahnya.
“Gu..gue..punya..penjelasan yo..” ucap via terbata-bata. Rio tetap tidak mau memandang via, apalagi alvin, kebencian jelas telah terbentuk nyata di matanya.
Dengan posisi memunggungi alvin dan via, rio merogoh saku celananya, dan mengeluarkan gelang milik alvin. Kemudian ia melemparkannya begitu saja, dan gelang tersebut tepat jatuh di kaki alvin.
“BUBAR SEMUA !!” teriak rio kepada semua orang yang ramai-ramai ada di depan pintu. Semua memberi jalan untuk rio dan memandang via serta alvin dengan sinis.
“Ma..maaf..” via mengelap darah yang mengalir dari bibir dan hidung alvin dengan ujung blazernya.
“Udah jangan nangis, gue enggak apa-apa kok”
“Ma..maaf..” ulang via lagi sambil terus membersihkan darah alvin. Alvin menahan tangan via dengan tangannya, dia memandangi ujung blazer via, yang sekarang ada noda darahnya, kemudian ia memandangi via yang air matanya terus turun perlahan.
“Jangan, nanti blazer lo kotor” via hanya menggeleng, lalu mulai membersihkan darah alvin lagi, dengan tangannya yang satunya.
“Vi udah..” alvin menggenggam kedua tangan via “Harusnya gue yang minta maaf, karena setelah ini, mungkin akan banyak orang yang musuhin lo, gue sih udah biasa, tapi elo ? maafin gue ya” sambung alvin lagi.
“Gu..gue..enggak peduli..”
“Tapi gue peduli, udah sekarang lo apus air mata lo, kita hadepin bareng-bareng ya” alvin meraih tangan via dan mengajaknya keluar setelah sebelumnya ia memungut gelangnya terlebih dahulu. Via sempat merasa risih dengan pandangan menusuk dari para cewek-cewek di koridor sekolahnya, tapi genggaman tangan alvin yang terasa begitu hangat dan menenangkan, mampu membuat via untuk sejenak sedikit merasa aman.
***
Awan nampak mendung pagi ini, entahlah ia memilih duka yang mana. Dukanya rio karena terkhianati, dukanya alvin karena ia kehilangan kepercayaan sahabat, atau dukanya via karena kini ia di cap sebagai perusak hubungan rio dan alvin.
Via terus tersenyum, meski semua orang memandangnya sinis. Dia mencoba tidak peduli meski itu menyakitkan, ia tahu, ia pantas di hukum untuk perbuatannya. Dia sendiri pasti akan sangat marah bila menjadi rio, yang sudah sepenuh hati mencintainya, tapi ia kecewakan begitu saja.
“Hai vi..”
“Pagi shil..” hanya shilla sekarang, satu-satunya anak perempuan yang mau menyapanya.
“Heran deh gue, kenapa hari ini mendung ya ? hehe..” shilla menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah via.
“Kenapa lo enggak ikutan jauhin gue shil ? elo berhak marah sama gue, gue udah nyakitin rio” ujar via sambil menunduk. Shilla hanya tersenyum, dia meraih tangan via.
“Buat apa gue jauhin lo ? lagian kalo sekarang rio akhirnya tahu, jauh lebih bagus kan, daripada semakin lama, semakin banyak juga elo nyakitin dia” via memberanikan diri menatap shilla, tidak ada kebencian di mata shilla, mata shilla tetap terlihat bijak dan penuh kenyamanan.
“Maaf..”
“Gue bukan siapa-siapanya rio vi”
“Tapi elo pantes jadi lebih dari sekedar temen buat dia, elo pantes shil, harusnya rio sama lo, bukan sama gue..”
“Jangan pernah menyesali apapun via..” hibur shilla sambil tersenyum yang membuat via mau tidak mau juga ikutan tersenyum.
Hari ini serasa berjalan begitu lambat untuk via, padahal ini baru hari pertamanya, masih ada banyak hari lagi dimana via harus terus tahan akan cibiran orang terhadapnya. Rio selalu menghindarinya saat mereka hampir bertemu di jalan, atau malah kadang menganggapnya seolah-olah tidak ada. Dan hanya satu yang bisa via lakukan, berusaha setegar mungkin dan tidak menangis.
“Ayo vi..” tanpa mempedulikan pandangan mencela dari orang-orang yang ada disekitar mereka, alvin menggandeng tangan via, dan memang hanya alvin lah, yang bisa memberi via sedikit kekuatan.
“Cie..ehem..” goda cakka yang tiba-tiba muncul di samping alvin.
“Kenapa lagi nih bocah” timpal alvin.
“Haha, enggak apa-apa, cuma iri aja lihat mesranya elo berdua..”
“Ya elah, adek gue acha mau lo kemanain, awas aja lo mesra-mesraan sama cewek lain !” gertak alvin sambil bercanda.
“Duh vi, cowok lo galak amat..” celetuk cakka, yang entah sadar atau tidak membuat pipi alvin dan via bersemu merah. Keduanya diam di tempat, saat melihat rio berjalan ke arah mereka sambil membawa gitarnya. Via memilih menundukkan kepalanya, dan alvin sebagai laki-laki sejati, membalas tatapan mata rio.
Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernah ku sesali itu
Seluruh jiwa telah ku serahkan
Menggenggam janji setiaku
Rio terus melihat ke arah via sambil memainkan gitarnya, anak-anak sudah mulai mengerumuni mereka bertiga.
Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti

Bila rasaku ini rasamu
Sanggupkah engkau menahan sakitnya
Terkhianati cinta yang kau jaga

Alvin terus menggenggam tangan via dengan erat, ia bisa merasa tangan via menjadi dingin dan gemetar. Ia sendiri, sesungguhnya tidak tega melihat rio, yang terlihat begitu menyedihkan.

Coba bayangkan kembali
Betapa hancurnya hati ini kasih
Semua telah terjadi

Aku memang terlanjur mencintaimu

“Wooo..”
“Udah rio, sama gue aja !”
“Iya ngapain ngarepin cewek kaya dia !” rio masih terus menatap via meski lagunya telah selesai, dan via masih terus saja menatap lantai dan ujung-ujung sepatunya. Sementara kata-kata yang memojokkan untuknya terus saja berkumandang di sekitarnya.
“DIEM WOI !” teriak alvin lantang, ia tidak terima orang-orang terus menjelek-jelekkan via. Semua langsung diam, tidak ada yang ingin membuat alvin marah dan ngamuk.
Rio mengalihkan pandangannya ke alvin, tatapannya masih tetap tajam dan sinis, alvin membalas tatapan itu, ia tahu ia pantas mendapat tatapan itu.
“Via masih cewek gue, dan enggak akan pernah gue lepasin gitu aja, apalagi buat lo ! kecuali elo mau terima tawaran dari gue !”
“Apa ?”
“Turnamen vendas kali ini gue serahin ke elo sebagai ketua panitianya, kalo turnamen ini berhasil, gue enggak akan ngehalangin hubungan elo berdua !” alvin berpikir sejenak, ini jelas bukan tugas yang mudah untuknya.
“Itu aja ?”
“Enggak segampang itu ! kita tuker peran, elo jadi anak-anak baik dan gue bakal jadi biang onar, gue mau lihat sejauh apa elo bisa tahan emosi lo buat ngadepin gue dan ngejalanin turnamen itu dengan lancar !” alvin mengalihkan pandangannya ke arah via yang berdiri di sampingnya. Gadis itu tetap menunduk, alvin tahu, via merasa tertekan dengan keadaan ini.
“Oke, gue terima tawaran lo !” alvin menyodorkan tangannya ke arah rio.
“Gue mau lihat sejauh apa lo bisa jadi gue yang sempurna !” tanpa membalas uluran tangan alvin, rio langsung pergi begitu saja sambil menarik tangan via dengan kasar.
Alvin hanya memandangi rio dan via yang mulai menjauh, via terus-terusan menoleh ke arahnya, alvin hanya bisa tersenyum kecil. Semua yang tadi mengerumuni mereka, satu persatu mulai pergi, meninggalkan alvin hanya berdua dengan cakka.
“Sob” panggil cakka sambil menepuk pundak alvin.
“Ya gue cuti sebentar berantem sama vailant cak, cuma sampai selesai turnamen doang kok” ujar alvin pelan.
“Gue dukung elo kok” alvin menengok ke arah cakka dan tersenyum. Ia sendiri belum tahu, apa yang akan ia lakukan untuk turnamen ini, ini sama sekali bukan bidangnya, dan menjadi anak baik-baik jelas bukan sesuatu yang mudah untuknya.
***
Rio mencoba memejamkan matanya, meski rasa pedih itu terasa begitu telak menyerang hatinya. Dia masih berharap ini semua hanya mimpi buruk dan saat ia terbangun besok, semua akan kembali berjalan sesuai keinginannya.
Kekecewaan itu merasuki dirinya begitu dalam. Mengoyak kepercayaannya terhadap alvin. Orang yang selama ini ia kagumi dan diam-diam ia idolakan. Baru kali ini ia merasa seperti ini, di tinggalkan seorang diri, dalam lembah ketidakadilan yang begitu menyayat hatinya.
Semakin ia mencoba memaksa jiwanya untuk terlelap sejenak, semakin banyak rasa kantuknya yang menguap. Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Dimana letak kesalahannya ? Dimana letak kekurangannya ? ia jadi teringat akan via, orang yang baru beberapa jam yang lalu di temuinya.
_Flashback_
Mereka berdua hanya saling berdiam diri, atau lebih tepatnya sama-sama tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk memulai pembicaraan ini. Via memilih memilin-milin ujung rok seragamnya, dan rio hanya menatap danau.
“Maaf..” ujar via pelan nyaris tidak terdengar. Rio tidak mengalihkan pandangannya ke via, ia terus menatap danau.
“Maaf yo, kamu boleh benci sama aku segede apapun, tapi tolong jangan marah sama alvin”
“Kamu bahkan masih membela dia vi” balas rio sinis, terkesan dalam.
“Bandul kalung dan gelang itu, alvin temuin waktu kita berdua ke hutan, kalo enggak salah pas umur kita sebelas tahun. Dan hari itu kita janji, kalo kita berdua enggak pernah pergi kemana-mana, supaya bandul itu tetep bisa bersatu...”
“Aku enggak butuh cerita itu”
“Tapi semenjak itu, sikap alvin yang cuek dan dingin terus menjadi-jadi, dan aku beranggapan kalo dia udah lupa sama semua itu. Aku sendiri enggak tahu kenapa, aku bisa bilang iya saat kamu nembak aku, mungkin karena saat itu aku lihat cinta di mata kamu, dan aku mau ngeyakinin hati aku kalo aku pasti bisa mencintai kamu balik..” seolah tanpa ada intrupsi dari rio, via terus melanjutkan kata-katanya.
“Cukup vi”
“Maafin aku, aku yang salah, aku yang salah dari awal. Saat aku sama alvin tersesat berdua di hutan, saat itu aku tahu, dia juga masih inget tentang kalung dan gelang itu, masih menyimpan kenangan aku sama dia. Dan kamu tahu, saat itu aku tahu, aku udah menyakiti kamu, maafin aku..”
“Aku bilang cukup vi !”
“Enggak yo, kamu harus tahu semuanya..”
“Buat apa vi ?! dimana letak kesalahan aku ? dimana kekurangan aku ? bilang vi ! bilang !!” rio mengguncang-guncang tubuh via dengan kedua tangannya, meski takut, via mencoba menguatkan hatinya, ia telah berjanji pada dirinya sendiri, untuk memberi tahu rio, sepedih apapun itu.
“Kamu sempurna rio ! terlalu sempurna, terlalu baik malah buat aku..”
“Terus kenapa harus alvin ! apa yang dia kasih dan enggak aku kasih ke kamu !” rio masih terus memegang erat kedua pundak via, matanya menatap via tajam.
“Karena aku sayang sama dia..” pegangan rio mengendur, meski di ucapkan sepelan mungkin oleh via, tapi kata-kata itu tetap saja menambah lukanya, menghempaskan dirinya ke jurang kesakitan yang dalam.
“Aku enggak peduli ! kamu tetap cewek aku !! aku bakal lakuin segala cara untuk pertahanin kamu !” ujar rio setegas mungkin. Ia berdiri, menatap via sekilas, kemudian meninggalkan via. Via hanya bisa meratapi punggung rio yang semakin menjauh, penyesalan memenuhi kerongkongannya, menyelinap di setiap sudut tubuhnya.
_Flashbackend_
Dengan kasar dan brutal, rio mengobrak-abrik rak bukunya, lalu ia langsung mengambil sebuah album bercover coklat tua yang sedikit berdebu. Di bawah sinar lampu meja belajarnya, rio mulai membuka album poto tersebut.
Pada lembar pertama, ada potonya sedang memegang sebuah robot mainan jenis terbaru, yang seingat rio di oleh-olehkan oleh papanya dari luar negeri, sementara di sampingnya berdiri alvin, yang tangannya melingkar di pundaknya, tetap tersenyum meski sorot matanya mengarah tajam ke arah robot yang rio pegang.
Ya memang hanya rio dan acha saja yang selalu mendapat oleh-oleh dari papanya, ketika papanya pulang dari dinas ke luar negeri atau luar kota. Tapi alvin tidak pernah iri, jika rio menawarkan mainannya, alvin selalu bilang ‘enggak ah, enakan main sama bola aja’
Lalu pada lembar berikutnya, ada potonya sedang memamerkan sebuah piala dan piagam penghargaan karena saat itu rio berhasil menjuarai olimpiade matematika tingkat nasional. Dia berdiri di apit oleh mama dan papanya serta acha.
Saat itu, alvin ada disitu menyemangatinya, bahkan alvin yang menemani rio malam sebelumnya, karena rio terlalu gelisah memikirkan hasil perlombaannya. Alvin yang menghibur dan meyakinkannya. Tapi saat diajak ikut berpoto oleh mamanya, alvin hanya tersenyum dan menggeleng tapi memandang papanya sinis yang sejak tadi sibuk membanggakan rio di depan semua orang, sambil berkata ‘iya itu rio anak saya, memang mirip saya, dulu saya juga juara olimpiade seperti ini’
Dan pada lembar berikutnya, lagi-lagi potonya, sedang memakai jas sehingga membuatnya tampak begitu tampan dan berkharisma. Itu adalah pertama kalinya rio ikut di acara papanya, dia masih ingat saat itu, papanya begitu membanggakan dirinya, mengenalkannya hampir ke seluruh kolega bisnisnya, membuat rio merasa istimewa.
Sementara alvin menunggu rio di rumah, meski ia tertawa terbahak-bahak saat melihat rio memakai jasnya, tapi rio masih ingat saat alvin memegang jasnya dengan pandangan nanar yang susah di artikan, tapi saat tempo hari mamanya mau menjahitkan jas juga untuk alvin, dia hanya bilang ‘enggak usah, alvin lebih seneng pake kaos’
Berlembar-lembar halaman yang rio buka setelahnya tetap sama, tetap gambar dirinya, yang sedang menjuarai lomba, yang sedang bersama dengan kedua orang tuanya, yang sedang dalam hari-hari spesialnya. Lalu tangannya berhenti di lembar terakhir, ia tersenyum pedih melihat foto yang terpasang di akhir halaman album tersebut.
Di foto itu, ada dirinya, via dan tentu saja alvin. Rio sendiri tidak begitu ingat kapan dan dimana foto ini di ambil, yang jelas saat itu, sepertinya mereka baru saja duduk di bangku smp. Ujung terlunjuk rio, menyentuh gambar via yang seperti biasa berdiri di tengah, yang sedang tersenyum manis ke arah kamera, senyumnya masih sama, dan wajahnya pun tidak banyak berubah, mungkin via yang sekarang hanya lebih cantik dan terlihat lebih dewasa ketimbang dulu.
Rio mengamati dalam-dalam foto tersebut, tangannya yang merangkul pundak via, dan tangan via yang bergandengan erat dengan tangan alvin. Rio terhenyak, tangan via bergandengan dengan tangan alvin, entah kenapa rio tidak pernah menyadari hal itu dari dulu. Rio langsung menutup album foto tersebut, kemudian ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“ARGGHH !!” teriak rio sekedar untuk meluapkan rasa emosinya.
“Kak rio...” rio menoleh, melihat kepala acha yang mengintip dari balik pintu dengan takut-takut.
“Hmm”
“Gue masuk ya kak ?” rio hanya menganggukkan kepalanya. Acha pun mendekati rio, dan duduk di pinggir tempat duduk rio.
“Kenapa ?” tanya rio sambil berbalik menghadap acha.
“Kak alvin udah cerita, tadi dia juga yang nyuruh gue buat masuk kesini pas kakak teriak..” rio hanya tersenyum tipis.
“Gue tahu, kakak berhak marah sama kak alvin, gue tahu, enggak mudah buat kakak nerima ini semua, tapi...”
“Apa ? lo mau belain dia juga ! semua aja belain dia !” potong rio yang bikin acha menunduk takut.
“Sayang gue ke elo berdua sama kak, gue enggak akan mihak salah satu dari kalian, gue tahu, gue enggak cukup pantes untuk ikut campur. Tapi gue siap dengerin semua unek-unek lo kak” rio memandang acha, kemudian ia menyodorkan album yang tadi ia lihat ke arah acha, acha menerima itu dan langsung membukanya.
“Kalo gue boleh minta, gue enggak perlu selalu dapet oleh-oleh dari papa, gue enggak perlu menangin segala macam perlombaan, gue juga enggak perlu jadi anak kebanggaannya papa, gue cuma mau menangin hatinya via, cuma itu” acha mengalihkan matanya dari album foto ke arah rio, kakaknya itu terlihat begitu rapuh sekarang. Ia mencoba mendekati kakaknya, menepuk pundak kakaknya sambil tersenyum.
“Ini namanya hidup kak, enggak selamanya sang juara selalu bisa dapetin semua yang dia mau, kak alvin salah, kak via juga, tapi semakin kakak enggak bisa nerima ini dengan lapang dada, kakak cuma bakal semakin terpuruk aja”
“Gue enggak peduli cha, gue enggak terima kekalahan ini, gue akan menangin via, gue enggak akan relain dia buat alvin, enggak akan !” acha memandang kakaknya nanar, itu jelas bukan kakaknya, bukan kakaknya yang selalu bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
“Gue rasa kakak lagi butuh waktu buat istirahat, gue keluar ya kak..”
Acha langsung keluar dari kamar rio, dan ia menemukan alvin sedang berdiri mematung di depan pintu, alvin menatapnya penuh harap, tapi acha hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Gue emang brengsek banget ya cha” desah alvin pelan. Acha enggak bisa berbuat banyak kecuali hanya memberikan senyumnya ke alvin sekali lagi.
“Mungkin baiknya gue mundur, enggak seharusnya gue ngerusak kebahagiaan rio sama via” ujar alvin sambil ingin meraih pegangan pintu kamar rio.
“Jangan..” cegah acha cepat. Alvin menatap acha bingung.
“Gue emang enggak ngedukung siapa-siapa kak, tapi gue enggak suka kalo lihat kakak gue yang jagoan mundur sebelum nyoba, gue enggak suka kalo kakak gue nyerah gini aja, buktiin kalo kakak bisa jadi anak baik-baik..” alvin hanya tersenyum. Diam-diam alvin membenarkan kata-kata acha, mungkin ini memang momentum yang tepat untuknya, untuk berubah, untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia tidak hanya sekedar alvin yang orang lain kenal selama ini.
Tanpa harus melihat jam tangannya pun, via tahu malam telah larut. Tapi hati serta raganya masih ingin ada disini, menikmati kesendiriannya, menyesali semua yang telah terjadi. Sejak pulang sekolah tadi via masih saja bertahan disini, di sisi danau, meski rio telah meninggalkannya sejak berjam-jam yang lalu.
Danau ini menyimpan banyak kenangan mereka bertiga, dan sekarang mungkin persahabatan itupun sungguh-sungguh tinggal kenangan. Tatapan matanya kosong, dia sudah letih menangis, lagipula air mata itu tidak serta merta membawa kegundahannya juga, semua terasa sia-sia dan hampa bagi via.
“Maaf ganggu, gue boleh nemenin lo kan disini ?” via menoleh, ia melihat seorang gadis yang wajahnya nampak familiar berdiri di belakangnya dan kemudian duduk di sampingnya.
“Oke, mungkin secara enggak langsung kita udah kenal, tapi gimana kalo sekarang kita kenalan aja. Gue zevana, tapi lo bisa panggil gue zeva” gadis itu mengulurkan tangannya ke arah via.
“Sivia, dan lo bisa manggil gue via. Kenapa lo bisa ada disini ?” tanya via sambil menjabat tangan zeva.
“Alvin nelpon gue, dia minta gue buat nemenin lo disini”
“Kenapa bukan alvin aja yang nemenin gue disini ?”
“Menurut dia, kalian berdua mungkin ada baiknya buat enggak ketemu dulu, untuk ngejaga perasaannya rio” via menghela napasnya, zeva hanya tersenyum melihatnya.
“Menurut lo apa yang gue lakuin sekarang itu salah ?”
“Banget ! lo jelas-jelas salah sama ini semua, tapi kesalahan itu, di situlah kesempatan elo buat nunjukkin semuanya, buat nebus semuanya”
“Maksudnya ?”
“Ya kalo rio enggak pernah tahu dengan sendirinya kaya sekarang, apa lo yakin lo bakal bilang ke rio, atau lo sama alvin terus-terusan nyembunyiin ini semua ? ini emang salah dan menyakitkan, tapi ini juga kesempatan buat lo untuk nunjukkin kalo kesalahan yang elo perbuat ini ada alasannya, dan alasan itu cukup kuat buat di mengerti sama orang lain” penjelasan zeva cukup membuat via merenung.
“Apa alvin udah cerita tentang penawarannya rio ke dia ?”
“Penawaran apa ? tadi alvin cuma nyuruh gue buat kesini dan nemenin lo”
“Rio ngajakin tukeran peran, alvin jadi anak baik dan rio jadi kaya alvin sekarang, terus alvin juga di suruh jadi ketua panitia turnamen kali ini dan rio akan ngelakuin apa aja untuk ngetes kesabaran alvin”
“Dan alvin nerima itu ?” via hanya mengangguk menjawab pertanyaan zeva.
“Gue yakin alvin pasti bisa” ujar zeva memberi semangat.
“Ze, elo ceweknya riko kan ?” gantian zeva yang mengangguk.
“Tolong jangan sampai riko tahu ya kalo alvin ketua panitia turnamen ini, gue takut, bukan rio yang bisa mancing emosi alvin, tapi riko, lo bisa kan jagain riko bentar aja buat enggak gangguin alvin ?” hati zeva mencelos, seandainya ia memang punya kendali sebesar itu atas riko, ia pasti akan dengan senang hati menjawab ‘iya’.
“Gimana ze, lo mau kan ?” tanya via lagi, tatapan matanya yang bening dan penuh harap itu jelas terpancar.
“Gue usahain vi...” jawab zeva sambil tersenyum, meski hatinya tidak seratus persen yakin. Via tersenyum ke arah zeva, walau belum hampir satu jam mereka kenal, tapi via sudah bisa menemukan kenyamanan yang nyata di dirinya zeva.
***
Sambil berusaha tersenyum, alvin mencoba sesantai mungkin menghadapi pandangan mata teman-teman satu sekolahnya. Dia sendiri merasa risih dengan penampilannya saat ini, tapi mau bagaimana lagi, dia udah memantapkan hatinya untuk sepenuh hati menjalani tantangan rio.
Tidak ada alvin yang datang siang, yang bajunya keluar, yang seragamnya enggak di kancing, yang sepatunya dekil banget. Yang ada hanyalah alvin yang memakai seragamnya serapi mungkin dengan sepatu yang bersih, rambut yang ditata rapi, dan senyumnya yang ramah serta bersahabat.
“Lo serius ya mau ngejalanin ini ?” tanya cakka yang enggak kalah takjubnya sama yang lain melihat penampilan alvin.
“Hehe, doain ajalah..” jawab alvin sambil cengengesan. Cakka cuma bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tidak hanya teman-temannya saja yang di buat bingung oleh kelakuan alvin, tapi juga gurunya. Bagaimana tidak, seorang alvin yang biasanya seenak jidatnya keluar masuk kelas tanpa izin dan terkesan acuh tak acuh, kini sudah duduk manis di bangku paling depan.
Lain halnya dengan alvin, rio sekarang malah sedang tidur-tiduran di taman sekolahnya, bukannya mendengarkan penjelasan gurunya di dalam kelas. Dia masih belum memikirkan cara yang tepat untuk alvin.
“Kok enggak ke kelas ?” rio mengangkat kepalanya dan mendudukan dirinya.
“Lo sendiri ngapain kesini shil ?”
“Iseng, lihat lo disini, jadi pengen aja kesini”
“Menurut lo gue harus ngelakuin apa buat berantakin rencananya alvin ?” shilla menatap rio lirih. Ini jelas bukan sosok rio yang ia kagumi.
“Rio, lo enggak serius pengen jadi biang onar kan ? toh selama ini, alvin juga enggak pernah ngancurin event di vendas”
“Tapi dia udah ngancurin hidup gue shil” ujar rio dingin.
“Yo, lo enggak bisa jadi sedangkal ini”
“Kenapa sih semua orang belain dia ?! gue korbannya shil !”
“Gue bukan belain dia, gue cuma mau ingetin lo, enggak ada manfaatnya lo kaya gini”
“Ah ! ya udah tanpa bantuan siapapun gue bisa kok sendiri !!” shilla meraih tangan rio, dia memaksa rio untuk menatap matanya.
“Di mata gue, mario itu tetap aja orang yang akan selalu gue kagumin, gue akan selalu jadi orang yang berdiri di deketnya dia apapun yang dia lakuin, dan gue enggak mau, seorang mario yang gue kenal berubah kaya gini, gue enggak mau..” rio menatap shilla yang penuh ketulusan, tapi rasa sakit itu telah telanjur menguasai hatinya. Rio menampik tangan shilla dan meninggalkannya begitu saja. Shilla hanya bisa memandangi punggung rio yang menjauh, dia tahu, jiwa itu hanya sedang dalam posisi labil.
“Gue masih akan selalu ada disini yo..” gumam shilla pelan, berbisik pada angin, membiarkan angin membawanya dan berharap dapat membisikkannya kembali pada rio.
***
Dengan kedua tangannya, via mengusap-usap tubuhnya, sedikit mengahangatkan dirinya yang di terpa dinginnya angin malam. Tiba-tiba sebuah jaket, di pakaikan ke badannya, via hanya bisa tersenyum.
“Maaf ya malem-malem gue ajak lo keluar kaya gini”
“Enggak apa-apa kok vin, gue malah seneng lo masih inget tempat ini” alvin hanya tersenyum. Dia memandang lurus ke atas, menatap bintang yang bertaburan dengan eloknya.
Di sebuah bukit kecil. Disanalah mereka berdua ada sekarang. Melihat bintang, dan sekali lagi menikmati kenangan mereka. Kenangan yang selalu saja mengikat mereka.
“Kira-kira bintang kita yang mana vin ?”
“Gue minta maaf udah ngancurin hubungan lo sama rio” via mengalihkan pandangannya dari bintang ke alvin.
“Harusnya saat gue tahu rio sayang sama lo, saat itu juga gue harusnya ngelarang hati gue buat terus sayang sama lo” lanjut alvin lagi sambil terus menatap bintang.
“Vin elo enggak...”
“Gue enggak bisa lihat rio kaya gitu, pulang malem, enggak jelas pergi kemana, enggak peduli sama dirinya dia sendiri, gue enggak suka lihat dia kaya gitu, itu bukan rio” alvin terus berbicara memotong kata-kata via.
“Tapi gue juga enggak mau lagi pura-pura bahagia saat ngelihat lo sama rio” dengan matanya yang sayu, alvin memandang via, menyentuh pipi putih via, menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajah via.
“Tolong jawab pertanyaan gue” via yang dari tadi seolah tidak di berikan kesempatan untuk berbicara, hanya bisa mengangguk.
“Siapa yang bisa bikin lo lebih bahagia ? gue atau rio..” via meraba tangan alvin yang masih menyentuh pipinya, ia genggam tangan itu perlahan.
“Apa ini penting buat lo ?”
“Sebelum semuanya terlalu jauh, kalo lo masih mau kembali sama rio, gue akan jadi orang yang nganterin elo ke tempat rio..”
“Sstt..” via meletakkan telunjuknya di atas bibir alvin.
“Jangan nyerah vin, tunjukkin ke gue, usaha lo, sekali ini aja..” alvin hanya tersenyum. Hatinya lega, tapi batinnya miris.
“Kenapa akhir-akhir ini, lo ngejauhin gue vin ?”
“Bukan ngejauhin via, gue cuma pengen kita sedikit jaga jarak, sampai semua masalah ini selesai, gue enggak mau nyakitin rio lebih jauh, walaupun kenyataannya gue udah ngelakuin itu. Lagian rapat-rapat itu beneran bikin energi gue terkuras abis deh..”
“Tapi gue yakin kok, elo pasti bisa nunjukkin ke semua orang kalo elo enggak ada bedanya sama rio” ujar via memberi semangat.
“Ya seandainya semua panitia yang ada mau sedikit aja dengerin kata-kata gue. Lo tahu vi, dari sekian banyak panitia, cuma iel sama shilla yang bener-bener niat kerja..”
“Jangan emosi..”
“Itu juga yang lagi gue lakuin vi. Pokoknya gue janji, setelah turnamen ini selesai, setelah kita nyelesein masalah kita bertiga sama rio, gue enggak bakal nyia-nyiain lo lagi, gue bakal selalu ada buat elo, gue janji” alvin menyodorkan jari kelingkingnya.
“Gue pegang janji lo” via pun mengaitkan kelingkingnya.
Setelah itu, mereka berdua hanya sibuk menatap bintang, sibuk meresapi malam, sibuk memikirkan apa yang ada di otak mereka.
Alvin memarkirkan motornya di garasi rumah, dan di sebelahnya, mobil rio jelas belum terlihat, alvin hanya dapat mendesah, sejujurnya ia takut terjadi apa-apa pada rio. Alvin masuk lewat pintu dapur, dan melihat papanya masih duduk di ruang tv. Dari tempatnya berdiri, alvin dapat melihat jelas, rambut papanya yang mulai memutih, kerut-kerutan yang mulai nampak di wajahnya, keletihan yang begitu tersirat jelas.
“Malem pa..” sapa alvin pelan, untuk pertama kalinya. Papanya menoleh, dan alvin tahu pasti, papanya takjub melihat perbuatannya. Alvin hanya tersenyum lalu berniat naik ke atas menuju kamarnya.
“Papa denger dari dewan guru, kamu jadi panitia untuk turnamen vendas kali ini” alvin tidak melanjutkan langkahnya, dia berbalik, dan mendekati papanya.
“Iya”
“Kamu yakin kamu bisa ? jangan-jangan nanti turnamen vendas yang selalu berjalan tertib jadi kacau lagi gara-gara kamu” papanya memandang alvin sinis. Alvin hanya dapat mengepalkan tangannya, mengumpulkan semua emosinya di situ.
“Mau ke kamar” ujar alvin singkat sambil berbalik memunggungi papanya lagi.
“Enggak sopan !” berlagak seolah tidak mendengar kata-kata papanya, alvin langsung ngacir menuju kamarnya. Entahlah, tapi kali ini, rasa sakit itu begitu merasuk di hatinya. Ketika semua orang terdekatnya memberinya support meyakinkannya untuk ini, papanya sendiri malah menjatuhkan mentalnya.
“Alvin enggak akan ngecewain papa !” teriak alvin dari lantai atas. Papanya yang mendengar itu di lantai bawah, hanya terdiam sebentar, lalu melanjutkan membaca korannya kembali.
Sementara rio yang baru juga pulang, dan melihat itu dari jauh. Hanya dapat tersenyum sinis penuh kemenangan.
***
Dengan emosi yang memuncak, alvin berjalan keluar ruangan rapat. Percuma saja bila ia terus duduk disana, dan kehadirannya tidak di harapkan. Dia tahu, separuh lebih, panitia turnamen ini adalah teman-temannya rio, yang tentu saja berdiri di pihaknya rio, tapi yang membuat alvin tidak abis pikir adalah, mengapa mereka semua tidak bisa menyingkirkan sedikit saja, rasa ego mereka untuk sekolah yang mereka banggakan.
Mempercepat langkahnya setengah berlari, alvin menuju lapangan futsal sekolahnya. Dia langsung mengambil bola dan mulai menendang-nendang bola tersebut, kemana saja yang ia mau. Alvin hanya tidak ingin kemakan emosinya, dan mengacaukan beberapa hari tenangnya ini.
“Vin..” alvin menahan bolanya, mencari siapa yang memanggilnya.
“Elo yel ? kenapa ?”
“Mau nemenin lo main bola” alvin memandang iel heran, iel hanya tersenyum.
“Kenapa ? lo pikir gue cuma bisa main basket doang, gue juga bisa kali main bola” iel mengambil bola yang ada di kakinya alvin, dan mulai memainkannya.
“Oke, ayo !” alvin tambah semangat aja karena ada partnernya. Mereka mulai saling berebut bola, one on one. Saling menembak ke gawang yang kosong tanpa kiper.
“Lo enggak ikut gosipin gue disana ? lo kan lebih deket ke rio timbang gue ?” tanya alvin di sela-sela bermain.
“Haha, gue emang temenan sama rio, tapi enggak sechildish itu buat ikut larut sama masalah ini. Oh ya, lo tahu kemana akhir-akhir ini rio suka pergi ?”
“Gue udah nugasin beberapa temen gue buat ikutin dia enggak setiap hari tapi, dan sejauh ini sih, dia masih sesuai jalur aja kok, belum seliar yang orang kira”
“Hmm, bener ya ternyata kata rio dulu, lo itu cuek tapi perhatian” alvin sempat berhenti sejenak, entah mengapa, ia jadi tambah merasa bersalah, mendengar kata-kata iel, yang mengutip dari kata-kata rio tersebut.
“Haha, gimanapun dia tetep saudara gue. Dan gue tahu kok, di masalah ini gue yang bajingan”
“Tapi gue enggak nyangka aja rio jadi kaya gini. Gue kehilangan dia yang penuh logika dan rasional, ternyata jadi seorang juara, buat dia enggak punya mental kalah”
“Gue yakin kok, setelah ini semua dia bakal balik lagi. Gue juga udah enggak betah lama-lama jadi anak baik kaya gini, enggak menantang” ujar alvin sambil menembakkan bola dengan kencang, dan langsung melesat ke gawang.
“Duduk dulu yu vin, ternyata emang lo jago banget dah kalo futsal, gue nyerah” kata iel sambil berjalan ke arah tempat duduk. Alvin cuma nyengir sambil ikutan duduk.
“Tadi elo yang ngajakin, payah lo” alvin meninju pundak iel pelan.
“Haha, gue heran deh, main bola itu, udah pemain banyak, bola satu, gawang segede itu, lapangan seluas ini, susah banget masukinnya. Beda sama basket, yang selalu bisa dapet banyak angka di setiap pertandingan” komen iel sambil mengelap keringatnya.
“Ya itu kan pendapat elo, kalo menurut gue main basket itu malah enggak seru, abis udah pasti dalam lima menit bola bisa masuk berkali-kali ke ring” balas alvin.
“Yeah, namanya juga elo pemain bola dan gue pemain basket. Oh iya, gue suka deh sama konsep lo yang kemarin lo tunjukkin, itu cukup brilian kok menurut gue”
“Tapi kalo yang setuju sama konsep itu cuma lo sama shilla juga sama aja”
“Tenang aja vin, entar gue deh yang jelasin ke anak-anak, lagian harusnya mereka juga sadarlah, kalo ini tuh buat vendas, bukan cuma buat kepentingan diri mereka sendiri”
“Thanks yel..” iel hanya tersenyum. Jauh sebelum ini, meski telah lama kenal, bisa di bilang alvin dan iel tidak begitu dekat. Selain hobi mereka yang memang berbeda, iel memang lebih merasa sejalan dengan rio ketimbang alvin yang slengekan.
‘lo bisa rebut semuanya dari gue vin, ambil semua yang lo mau, nikmatin itu, sebelum gue ancurin lo balik’ batin seseorang yang mengintip iel dan alvin sambil meremas kaleng minuman di tangannya.
Sambil menatap kotak bekal yang ada di tangannya, zeva memberanikan diri menghampiri riko yang sedang asik ngobrol sama temen-temennya.
“Ko..” panggil zeva pelan. Riko hanya menoleh sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke temen-temennya.
“Aku mau ngomong sebentar aja” ujar zeva lagi. Riko hanya melengos, sambil menghampiri zeva.
“Gue enggak punya banyak waktu”
“Iya, bentar doang kok, disana ya..” zeva menunjuk bangku yang lebih sepi ketimbang di tempat mereka sekarang. Acuh tak acuh, riko langsung berjalan ke arah bangku yang zeva tunjuk tanpa mempedulikan zeva di belakangnya.
“Mau ngapain ?” tanya riko ketus.
“Ini, pasti kamu belum makan kan..” zeva menyodorkan kotak bekal yang dari tadi ia pegang. Tanpa harus menoleh, riko bisa mencium aroma enak beef teriyaki buatan zeva.
“Enggak butuh” tampik riko.
“Aku tahu kok, kamu belum makan dari tadi. Ya udah, aku taro sini ya, terserah mau kamu makan apa enggak, aku bikin sendiri lho, kaya dulu” dengan hati-hati, zeva meletakkan kotak bekelnya di samping riko, sambil tersenyum ia meninggalkan riko yang dari tadi sengaja tidak mau memandangnya.
Sepeninggal zeva, riko mulai melirik kotak bekel di sampingnya, aroma beef teriyaki yang begitu menggoda saraf laparnya itu begitu susah di tolak. Riko mengambil kotak itu, dan mulai memakannya. Riko melihat ke kertas yang sepertinya sengaja zeva tinggalkan tepat di bawah kotak tersebut.
Selamat makan !! kamu tahu, dulu kamu suka banget lho sama beef teriyaki bikinan aku ini..
jangan berantem lagi ya ganteng..hehe..
Riko hanya bisa tersenyum tipis melihat tulisan itu. Dia menikmati setiap beef teriyaki yang masuk ke mulutnya dan terasa enak di lidahnya, rasanya tetap sama, tetap membuatnya ketagihan, seperti dulu.
Sambil terus memperhatikan mobil di depannya, shilla memacu mobilnya. Ia memang sengaja mengikuti mobil rio. Dia enggak mau ngebiarin rio sendiri, dia enggak bisa ngebiarin rio sendiri.
Shilla memarkirkan mobilnya, tidak begitu jauh dari mobil rio. Ia mengamati rio yang nampak sedang menunggu, ini bisa di lihat shilla dari ekspresi muka rio yang tengok kanan tengok kiri. Enggak sampai sepuluh menit kemudian, sebuah motor berisi dua orang dengan tubuh besar dan garang berhenti di depan rio.
Seandainya shilla lupa bahwa ia sedang mengintip, ia pasti sudah mendekat ke arah rio dan dua orang itu, untuk mencuri dengar. Shilla benar-benar penasaran dengan sikap rio yang seperti sedang menunjukkan sesuatu.
Rio mencoba menghilangkan perasaan bersalahnya, otaknya benar-benar sedang dikuasai oleh partikel-partikel negatif saat ini. Dia tidak peduli, atau mungkin lebih tepatnya ia mencoba untuk tidak peduli. Dia menatap tajam ke arah dua orang yang sudah di tunggunya dari tadi.
“Lihat ini..” rio menunjukkan sesuatu dan salah satu dari dua orang itu langsung mengambil dan mengamatinya.
“Terus ?”
“Gue udah tahu cara kerja kalian, slow but sure, oke ? jangan terlalu frontal, yang penting dapet maknanya”
“Sip, itu kerjaan mudah buat kita”
“Oke, gue tunggu kabar bagus !” rio menyodorkan tangannya yang di jabat bergantian oleh dua orang itu. Kemudian mereka naik ke atas motor dan langsung melesat pergi.
Jengah hanya melihat tanpa melakukan apapun, shilla pun memutuskan untuk menemui rio yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya. Memberanikan diri, shilla menarik tangan rio.
“Shilla ?! lo ngapain disini ?” shilla dapat membaca dengan jelas gurat kekagetan di wajah rio.
“Tadi itu siapa ? lo ngapain ?”
“Apaan sih ? bukan urusan lo !”
“Urusan gue ! jangan bilang ini bagian dari rencana lo buat alvin ?” tanya shilla was-was, otak pintarnya mulai bekerja.
“Apa sih peduli lo ?!” nada rio mulai meninggi.
“Gue peduli! Gue enggak mau rio yang gue kenal jadi kaya gini !”
“Apaan sih shil ! lepasin gue mau pulang !” rio menampik tangan shilla yang mencengkram pergelangan tangannya erat.
“Enggak ! sebelum lo jelasin ke gue !” shilla mencoba mengimbangi kerasnya rio.
“Jelasin apa sih ?! emang lo siapa gue mau ikut campur aja !” kata-kata itu terasa menusuk langsung di hati shilla. Shilla sedikit mengendurkan pegangannya, tapi hal itu malah membuat rio terdiam.
“Maaf yo, gue tahu gue terlalu ikut campur, gue cuma...cuma enggak bisa lihat lo kaya gini, gue siap gantiin posisi lo yo, gue enggak mau lo sakit, gue enggak bisa lihat lo terpuruk gini. Gue sayang sama lo, dari dulu, enggak pernah berubah, bukan sebagai sahabat tapi sebagai cewek ke cowok yo..” shilla menunduk, dia tidak berani menatap rio. Hatinya ketar-ketir, ia merasa matanya mulai panas, dan cairan kesedihan itu akan turun perlahan.
“Ini emang hidup lo, gue enggak akan ganggu lagi, maaf. Gue cuma mau bilang, alvin itu saudara lo, dan seharusnya lo bisa bahagia kalo dia bahagia” shilla berlari menuju mobilnya, meninggalkan rio yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Rio hanya bisa memadangi mobil shilla yang mulai bergerak menjauh, darahnya berdesir kencang. Entahlah, tapi perasaan bersalah langsung merasuki rio saat melihat butir air mata shilla.
“SIAL !” rutuk rio sambil menendang ban mobilnya sendiri. Kemudian ia langsung memacu mobilnya, mencoba melupakan kejadian barusan.
Dengan air mata berderai, shilla terus mengendarai mobilnya, ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa dengan bodohnya ia terbawa suasana dan mengakuinya di depan rio. Apa yang harus ia lakukan sekarang ?
Tanpa menghiraukan sapaan mamanya, rio langsung masuk ke dalam kamarnya, duduk di depan meja belajarnya. Ia merenung, memandangi fotonya dengan alvin. Bagai rekaman film, rio bisa melihat dengan jelas, semua yang alvin pernah lakukan untuknya, pengorbanan alvin, kerelaan alvin, kekalahan alvin, semua.
“AH GUE BEGO BANGET SIH !!” rio langsung merogoh hpnya, dan mencoba menghubungi sebuah nomer, bayangan buruk langsung berkelebat hebat di otaknya, dan rio benar-benar tidak ingin itu semua terjadi, tidak boleh terjadi.
Frustasi tidak bisa menghubungi nomer yang ia tuju, rio pun mulai mengetik nomer lain yang ia apal di luar kepala. Tapi nihil, hasilnya tetap sama. Rio mengalihkan pandangannya kembali ke fotonya dan alvin, dan senyum alvin disitu, serasa begitu menohok dirinya.
***
Tekadnya sudah bulat, dia harus bisa melewati ini, anggaplah ini memang ganjalan untuknya, dan seorang alvin tentu saja akan mampu melewati tantangan ini. Alvin memandang temannya satu persatu, di sampingnya iel, melirik ke arahnya dan mencoba memberi senyum penyemangat.
“Ehem..” alvin berdeham, tapi teman-temannya yang lain terus saja asik mengobrol sendiri.
“Ehem..ehem..” reaksi yang alvin dapat tetap sama, tidak ada yang meresponnya. Alvin menengok ke arah iel, dan mata iel menatapnya tajam, seolah mengatakan elo pasti bisa.
“Mohon semuanya tenang dulu !” beberapa menoleh, tapi yang lain masih asik mengobrol. Alvin benar-benar merasa putus asa, tangannya sudah terkepal, ingin rasanya ia menggebrak meja di hadapannya.
“Yel, shilla kemana sih ?” tanya alvin, iel hanya mengangkat pundaknya sambil menggeleng. Biasanya shilla lah yang bisa mengendalikan keadaan.
“Oke ! sekarang semuanya terserah sama elo-elo pada. Tapi tugas gue di sini sebagai ketua panitia, dan gue harap kalian sedikit aja respect sama posisi gue !”
“Konsep yang kemarin udah gue tunjukkin, udah di setujui sama dewan guru, dan karena waktu yang semakin mepet, gue rasa kita semua harus mempersiapkan itu dari sekarang. Keputusan ada di tangan lo semua, yang enggak setuju sama konsep gue dan enggak mau bantuin gue, silahkan tinggalin ruangan ini” alvin menatap tajam temannya satu persatu. Semua yang ada disitu mulai diam, mencoba memahami kata-kata alvin. Kasak-kusuk mulai terdengar, bisik-bisik satu sama lain, mengenai keputusan apa yang akan mereka ambil.
“Gue maklum kalo kalian butuh waktu, tapi tolong sekali ini aja, ini buat vendas, bukan buat gue, bukan buat rio, juga bukan kalian, tapi ini buat kita ! gue mau dekor art room buat acara pembukaan, kalo ada yang berminat bantuin gue, gue akan sangat-sangat berterimakasih” tanpa basa-basi lagi, alvin langsung meninggalkan ruang rapat. Sejujurnya ia sudah muak disana, berlaku alim, dan berusaha menekan rasa emosinya, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu-satunya jalan untuk memperjuangkan via.
Yang tertinggal di ruang rapat, saling bertatap-tatapan, mereka sendiri hanyalah orang-orang yang pada dasarnya tidak punya pendirian, dan hanya terbawa arus.
“Gue kecewa sama lo semua !” ujar iel lantang.
“Gue pikir, yang namanya anak vendas itu punya otak, apalagi kalian, semua yang jadi panitia, adalah siswa-siswi terbaik di vendas, selalu seperti itu kan ?! tapi apa sekarang, kalian bahkan enggak bisa bedain mana yang prioritas dan mana yang enggak ?!”
Semua diam melihat iel yang terlihat begitu emosi.
“Bukannya elo deket sama rio, masa sih elo mau kerjasama sama alvin ? lagian siapa sih dia, cuma biang onar sekolah kan ?” seorang anak laki-laki, memberanikan diri menatap iel tajam.
“Gue emang sahabatan sama rio, tapi bukan berarti, gue jadi dangkal kaya kalian semua ! gue sedih bukan rio yang jadi panitia acara ini, apalagi ini harusnya jadi kerjaan buat kita, osis angkatan kita ! tapi bukan berarti karena rio enggak jadi ketua panitia untuk acara ini, kita juga jadi enggak bersemangat untuk ngadain acara ini ! gue enggak tahu alvin salah apa sama kalian, tapi bisa enggak sih kalian kasih dia satu aja kesempatan, dia udah mau berubah, tapi kitanya malah kaya gini..”
“Tapi dia kan mau jadi ketua panitia karena rebutan cewek sama rio !” teriak anak lain masih berusaha mematahkan argumen iel.
“Tolong lupain bagian itu, itu masalah pribadi di antara mereka berdua. Kalo dari gue, alvin enggak pernah salah sama gue, dia enggak pernah ngerugiin gue, dia cukup baik untuk jadi seorang temen, jadi gue bakal bantu dia. Sekarang tinggal lo semua deh, tanya ke diri lo masing-masing, enggak perlu minta pendapat orang, kita semua yang ada di ruangan ini udah cukup dewasa untuk nentuin mana yang harus kita pilih”
Iel mencoba tersenyum di akhir kalimatnya, setelah itu, ia pun ikut meninggalkan ruangan, menyusul alvin. Sementara yang masih ada di ruang rapat, mulai bertanya pada hati nurani mereka masing-masing, mulai mencari jawaban yang tepat, mulai berpikir terbuka dan logika. Tidak banyak di ruangan ini yang mengenal alvin secara jelas, lebih banyak yang hanya mengetahui alvin dari kabar yang beredar selama ini.
Kabar-kabar yang menyatakan, alvin yang tukang berantem, yang suka bikin onar, yang sering melanggar aturan. Tapi setidaknya beberapa hari ini mereka bersama di ruang rapat, meski mereka semua mengacuhkan alvin, toh alvin tetap menghadapi mereka sesabar mungkin, meski bisa saja ia menghabisi mereka semua satu persatu.
Jadi dimana letak kesalahan alvin yang membuat mereka harus menolak untuk berkerjasama dengannya ?
Dari balik pintu ruang seni, iel melihat dengan jelas, bagaimana alvin sibuk menata ruangan, sibuk mengatur setiap letak dan posisi sesuai keinginannya, dan untuk ini, iel harus mengakui, bahwa alvin memiliki sense of art yang tinggi terhadap keindahan.
“Gue harus ngapain nih vin ?” alvin menatap iel kaget, iel hanya tersenyum melihatnya.
“Ehm...coba deh lo kursinya sesuai daftar undangan yang ada disitu, nah letaknya lo sesuain aja sama denah yang udah gue gambar” intruksi alvin sambil menunjuk ke kertas-kertas yang berserakan di lantai. Iel hanya mengangguk sambil mulai melihat rancangan denah alvin.
“Ini lo sendiri yang bikin denahnya vin ?”
“Iyalah, ada yang lain apa di ruangan ini ?”
“Wow, ini keren banget bro !” ujar iel tulus apa adanya. Alvin cuma nyengir doang.
“Itu sederhana kali yel, anak sd bisa gambar jauh lebih bagus daripada gue” alvin berusah ngeles meski diam-diam dia senang, ada seseorang yang memuji hasil jerih payahnya.
“Sederhana gigi lo peyang ! ini itu keren banget alvin ! kok lo enggak pernah bilang lo bisa gambar sih ! ini aja baru sekedar sketsanya doang, cenderung acak-acakan karena asal, tapi enggak ngurangin nilai keindahannya” jelas iel panjang.
“Udah lah, ayo kerja lagi, masih banyak nih”
“Haha, kayanya lembur nih kita malem ini”
“Bukan lembur lagi yel, kalo cuma berdua gini sih berhari-hari kali kita harus nginep di sekolah” kelakar alvin yang membuat iel tertawa.
“Kalian enggak cuma berdua kok, ada kita disini” alvin dan iel kompak menoleh ke arah pintu. Iel hanya tersenyum melihat rombongan teman-teman panitianya.
“Jadi kita harus ngapain nih vin ?”
Dengan sabar, alvin mulai menjelaskan konsepnya, dan apa saja yang harus di kerjakan oleh teman-temannya. Tidak peduli oleh waktu yang terus berjalan, mereka semua terus bekerja.
“Enggak terasa nih uda jam enam, istirahat dulu deh, gue pesenin makanan”
“Ditraktir nih vin ?” tanya iel to the point.
“Iya..” jawaban alvin tentu saja langsung membuat wajah letih teman-temannya jadi semangat kembali.
“Pinjem hp lo dong yel” pinta alvin.
“Buat apa ? emang hp lo kenapa ?”
“Buat delivery lah, hp gue mati, lowbatt” iel menyodorkan hpnya, yang langsung di terima alvin sambil tersenyum.
Dari pantulan kaca lift, shilla bisa melihat kondisinya yang berantakan, tapi dia tidak peduli, dia hanya ingin segera masuk ke kamarnya, dan menangis sepuasnya sendiri. Kata-kata rio beberapa jam yang lalu masih terngiang jelas di telinganya, menambah setiap inci lukanya.
Shilla berdiri membatu, ketika melihat pintu apartemennya terbuka lebar, dan terlihat jelas kedua orang tuanya sedang menantinya dengan tatapan tajam, entahlah apa lagi kesalahan yang telah shilla lakukan kali ini.
“Sore ma, pa..” sapa shilla berusaha tersenyum. Mama dan papanya, memang punya kunci cadangan untuk bisa masuk ke dalam apartemen shilla sesuka hati mereka.
“Duduk kamu !” perintah papanya dingin. Shilla hanya bisa mengikuti itu, sambil mencoba berpikir, hal konyol apa yang telah ia lakukan akhir-akhir ini.
“Mama sama papa sengaja dateng kesini, tadinya kita mau ngajak kamu untuk menemani kita berdua ke acara jamuan makan malam, tapi kamu tahu, apa yang kita temukan ?” shilla hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan mamanya, yang lebih nampak seperti bos ketimbang ibunya.
“Mama kecewa sama kamu shilla !!” mamanya mengeluarkan laptop milik shilla.
Hati shilla mencelos hingga ke dasar paling dalam. Hari ini dia memang tidak membawa laptopnya, karena selain berangkat terburu-buru, laptopnya juga masih ia charge tadi pagi.
“Shi..shilla enggak tahu maksud mama” ucap shilla terbata-bata.
“Jangan pura-pura bodoh shilla ! atau memang kamu benar-benar bodoh ! berapa kali mama bilang, jangan pernah bercita-cita selain menjadi seorang pebisnis !!”
“Tapi shilla memang suka nulis ma” ratap shilla sambil menunduk.
“Nulis ?! laptop kamu penuh dengan tulis-tulisan konyol bukan tentang artikel dan ulasan mengenai bisnis !!” teriak papanya lebih keras.
“Ma..maaf pa..”
“BRAKK !!” di depan matanya, dengan kejam tanpa belas ampun, papanya mebanting laptop shilla ke lantai, menimbulkan bunyi dentuman yang cukup mengguncang jantung, menimbulkan pedih yang amat terasa di batin shilla. Dengan matanya yang bening dan mulai berair, shilla meratapi laptopnya, yang begitu menyedihkan, tergolek tanpa daya.
“PAPA JAHAT !” raung shilla kencang. Raungan shilla itu cukup membuat kedua orang tuanya terlonjak kaget, belum pernah reaksi shilla seperti ini.
“Berani kamu sama papa !”
“Papa sama mama jahat ! kapan sih kalian mau coba ngertiin shilla sedikit aja !”
“Plak !” tamparan papanya langsung melayang ke pipi shilla.
Dengan tangannya shilla meraba pipinya yang terasa berdenyut, tapi sakit itu lebih terasa di dalam hatinya, merasuk di setiap aliran darahnya, air matanya telah mengalir deras sekarang.
“Apa sih yang kurang dari shilla ? shilla selalu ngelakuin semua yang papa sama mama mau, tapi pernah enggak papa sama mama mau sedikit aja ngertiin kemauan shilla ? apa yang shilla suka ?” shilla menatap kedua orang tuanya.
“Kalo shilla boleh minta, shilla enggak pernah mau terlahir di keluarga ini !” shilla berjongkok mengambil laptopnya, lalu ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya dari dalam, dan menangis sepuas yang ia mau.
Dengan pandangan nanar, shilla meratapi laptopnya, yang berapa kalipun ia coba, tetap tidak bisa menyala. Shilla melihat ke arah meja belajarnya, kemudian ia meraih foto keluarganya, entahlah kapan foto itu di ambil, yang jelas pasti sudah lama sekali.
Di foto itu, mereka saling berangkulan, tersenyum bahagia ke arah kamera, ada mamanya, deva, shilla dan tentu papanya. Sudah lama sekali momen bahagia itu berlangsung, dan perlahan lenyap di serap olah pusaran waktu.
Jiwanya benar-benar rapuh saat ini, batinnya terkoyak, oleh orang-orang yang ia sayangi, oleh orang-orang yang selalu membuatnya berusaha untuk menjadi yang terbaik. Kilatan-kilatan kenangan bersama orang tuanya berpusar cepat di otaknya, waktu-waktu yang penuh kepura-puraan, saat-saat ia selalu berusaha menjadi sosok yang paling tegar. Kenangan itu berganti dengan senyuman milik rio, senyuman yang selalu bisa menentramkan jiwanya, senyuman yang selalu menjadi alasannya untuk terus bertahan.
Air mata terus membanjiri pipinya, mengalir sebanyak yang ia mau, kumpulan dari air mata-air mata yang selama ini ia tahan sendiri. Dengan langkah gontai, sambil terus memegang erat figura foto tersebut, shilla berjalan menuju kamar mandi. Menyalakan shower, membiarkan air membasahi sekujur tubuhnya, membiarkan air matanya berpadu dengan air shower, melupakan sejenak beban hidupnya, dan berharap untuk selamanya.
“PRANG !!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar