Another way to love II

PART II
Langsung aja ni part 2nya

*****

Karena siang ini begitu terik, via memutuskan untuk menunggu rio di perpustakaan. Via sendiri bingung, kenapa akhir-akhir ini, rio begitu perhatian padanya. Bukannya via enggak seneng, tapi hal itu malah membuatnya merasa sedikit aneh.
“Vi..host..host..sori..” rio yang tampak sekali habis berlari berusaha mengatur napasnya.
“Kenapa yo ? duduk dulu gih..”
“Sori, masih ada beberapa urusan yang belum selesai, aku juga lupa kalo hari ini, aku ada janji sama guru buat ngebahas peraturan baru, enggak apa-apa kan nunggu aku sebentar lagi ?” via menatap ke arah rio, laki-laki itu telah berlari, dari lantai 1 gedung A ke lantai 3 gedung B, hanya sekedar untuk mengucapkan sesuatu yang bahkan bisa di sampaikan lewat sms.
“Ya ampun yo, aku kirain ada apaan gitu. Kan kalo cuma kaya gini doang, kamu bisa telpon aku atau smslah. Atau aku ganggu kamu ya ? kamu enggak konsen lagi entar rapatnya, ya udah aku telpon alvin aja ya, aku min...”
“Jangan vi ! kamu tunggu aja disini, aku janji, aku enggak bakal lama, pokoknya kamu pulang sama aku, oke..” via sedikit kaget dengan reaksi rio, yang langsung mencegah tangannya saat ia meraih hpnya untuk menghubungi alvin.
“Ehm..i..iya yo, aku tunggu kamu disini”
“Ya udah, aku balik kesana dulu ya, take care..” rio mengusap lembut pipi via.
“Good luck yo..” ujar via samil tersenyum, yang juga di balas senyum oleh rio.
Via memandangi punggung rio yang semakin menjauh, lalu menghilang. Dia teringat, akan tatapan tajam rio tadi saat dia ingin menghubungi alvin. Apa benar kata alvin tempo hari, bahwa rio mulai cemburu, apakah via memang harus sedikit menjauh dari alvin sekarang, tapi pertanyaan paling besar di otaknya adalah, apakah via benar-benar bisa menjauh dari alvin ?
Dengan sedikit terburu-buru, rio menyusuri koridor sekolahnya. Di tangannya ada setumpuk laporan yang telah ia susun. Shilla dan beberapa anggota osis lainnya telah menunggu di ruang guru.
“Maaf saya telat..” ujar rio.
“Ya sudah, ayo kita segera mulai rapatnya” kata seorang guru. Rio langsung membagikan laporan dan slide yang telah ia buat. Dengan lancar dia mulai menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, di bantu oleh shilla, dan anggota lainnya.
“Drap..drap..drap..” terdengar suara langkah yang terkesan tergesa-gesa ke arah ruangan mereka. Rio berinisiatif untuk keluar ruangan dan mencari tahu.
“Pak dito ? ada apa ?” rio kebingungan melihat satpam sekolah mereka, berjalan cepat ke arahnya dengan wajah panik.
“Itu mas rio, ada anak dari sekolah lain, yang bersiap masuk dan nyerbu sekolah ini !”
“Vailant ?”
“Mungkin, saya kurang tahu, yang jelas, mereka sangat susah untuk di bendung”
“Ya udah ayo pak..” tanpa menjelaskan apapun, rio langsung ikut berlari bersama satpam sekolahnya ke arah gerbang depan. Dan benar saja, di depan gerbang sekolah mereka telah berkumpul, anak-anak vailant yang siap tempur. Padahal ini sudah jauh dari jam pulang sekolah, sudah tidak lagi anak vendas yang bisa di harapkan.
Rio tahu, dia tidak akan menang melakukan ini. Dia bukanlah alvin yang menguasai ilmu bela diri dan suka berantem. Rio adalah orang yang lebih suka menyelesaikan segala sesuatunya dengan otak bukan dengan fisik.
“Lo semua pada mau ngapain kesini ?!” tanya rio lantang.
“Siapa lo ?! gue enggak pernah ngelihat lo ribut sama kita ?!” rio membaca nama yang tertera di seragam anak tersebut sekilas, ‘riko ? oh jadi ini yang sering berantem sama alvin ?’ kata rio dalam hati.
“Gue ketua osis disini !”
“Ketua osis ?! eh lo bilang ya sama temen lo, jangan ada yang berani deketin adek gue !”
“Adek lo ? ah gue enggak ngerti sama apa yang lo omongin !”
“Enggak usah neglindungin gitu deh ! temen gue jelas-jelas ngelihat kemarin, adek gue jalan sama anak vendas !”
“Tanyalah ke adek lo kenapa dia mau jalan sama anak sini !”
“Ah bacot lo !”
“Bug !” tanpa basa-basi, riko langsung melayangkan tinjunya ke rio, rio yang enggak siap apa-apa, langsung tersungkur jatuh ke tanah.
“Serang woi !!” perintah riko ke temen-temennya. Anak-anak vailant itu langsung menyerbu masuk ke halaman vendas. Satpam-satpam yang berjaga, enggak ada tandingannya dengan mereka yang main keroyokan. Rio sendiri berusaha bangkit dan melawan riko, meski ia tahu, riko sama sekali bukan lawannya.
Sementara itu, shilla dan iel, teman-temannya dan juga para guru bingung, kenapa rio tidak kembali-kembali. Iel yang suntuk, memutuskan untuk melihat-lihat kondisi dari jendela, dia sedikit bingung, melihat mengapa ada banyak motor yang bersliweran di halaman sekolah mereka.
“Pak ..ada tawuran di bawah !” lapor seorang anak. Semua yang ada disitu langsung menoleh ke arah anak tersebut.
“Tawuran ? tawuran apa ?” tanya guru mereka.
“Anak vailant nyerbu kesini !” tanpa pikir panjang, iel dan anak cowok lainnya, serta beberapa orang guru, langsung bergegas turun ke bawah. Diam-diam, shilla mengkhawatirkan rio, tapi dia teringat, sebelum kesini, rio bilang padanya, bahwa ia ingin menemui via di perpustakaan. Shilla pun ijin ke perpustakaan, feelingnya mengatakan, via pasti belum tahu soal ini.
“Vi..”
“Shilla ? kenapa ?” tanya via sambil menutup buku yang sedang ia baca.
“Bisa ikut gue keluar sebentar, kalo disini enggak enak ngobrolnya” meski bingung, via tetap mengikuti ajakan shilla. Shilla menutup pintu perpustakaan, entah mengapa perasaan via sedikit tidak enak, di tambah dengan suasana lorong tempat mereka berdiri yang cukup sepi.
“Di bawah ada tawuran vi, anak vailant nyerbu kesini, dan rio kayanya lagi usaha beresin itu, tapi dia belum balik dari setengah jam yang lalu”
“Alvin” via reflek mengeluarkan handphonenya. Sementara shilla menatap via heran, bagaimana mungkin via malah menyebut nama cowok lain disaat pacarnya sedang berantem.
“Vin..angkat dong..alvin..” via berjalam mondar-mandiri di depan shilla, tersirat kecemasan di wajah putihnya.
“Alvin ! vin, lo dimana sekarang ? vin, anak vailant ke sekolah, mereka nyerbu kesini, rio lagi usaha nanganin mereka, tapi gue ju...” via menatap handphonenya, yang sambungannya baru saja di putuskan oleh alvin secara sepihak, padahal ia belum menuntaskan bicaranya.
“Shil, ayo kita ke bawah..” ajak via smabil menarik shilla, tapi shilla menahannya.
“Enggak aman vi, lebih bagus kalo kita tetep bertahan di dalam gedung”
“Rio enggak bisa berantem shil, dia enggak jago soal ginian. Cuma alvin yang bisa ngatasin hal kaya gini..”
“Lo tenang dulu vi, sekarang lo ikut gue ke ruang guru aja ya, anak-anak yang masih ada di sekolah juga di evakuasi kesana kok. Kalo lo turun, lo malah bisa jadi sasaran amukan mereka juga” via tahu apa yang shilla bilang benar, dia pun setuju untuk ikut shilla ke ruang guru.
Keadaan benar-benar tidak imbang, antara kubu vailant dan vendas. Meski perkelahian ini terjadi di vendas, tapi kubu vendas jelas-jelas kalah jumlah. Selain sudah banyak anak vendas yang pulang, para jagoan yang bisa berantem juga udah enggak ada di vendas.
Keadaan rio sudah sangat parah, dia berhasil memukul riko satu kali, tapi entah sudah berapa puluh kali pukulan riko untuknya. Darah segar mengalir dari sudut bibir rio, tapi dia sendiri juga tidak ada ide lain selain terus menahan riko.
“Gila cemen banget lo !”
“Diem lo..” balas rio lirih.
“Hah ! apaan ? bangun dong lo, bangun...” riko menarik kerah rio, agar rio berdiri tegak di hadapannya. Dia tersenyum sinis, menyaksikan lawannya dapat ia kalahkan dengan mudah. Dalam satu gerakan singkat, riko mengangkat tangannya, siap memberi rio sebuah tonjokkan lagi.
“Bug ! lepasin tangan lo dari dia !” riko menoleh, melihat siapa yang menonjoknya, ternyata musuh abadinya, alvin.
“Akhirnya lo datang juga, pertarungan ini jadi enggak seru tanpa hadirnya lo !”
“Lo lawan gue ! dan lepasin dia !” perintah alvin.
“Segitu pentingnya dia buat lo ?!” riko menunjuk rio yang masih ia cengkram kerahnya.
“Ini ketiga kalinya gue ngomong ! lepasin saudara gue !” alvin gantian menarik kerah riko. Dengan sekali pukul, ia dapat membuat riko jatuh. Tapi riko bukanlah lawan yang kacangan.
Dan seperti sudah kebiasaan, pertarungan sengit antara mereka berdua pun dimulai, alvin dan riko mulai saling serang, saling memukul, menendang, dan mencari celah untuk menjatuhkan lawan mereka. Berkali-kali sama-sama terjatuh, berkali-kali juga mereka bangun dan melanjutkan perkelahian itu. Tidak peduli akan darah yang menetes, tidak peduli akan nyeri di tubuh mereka, yang mereka pedulikan cuma satu, sebuah kemenangan atas gengsi diri masing-masing.
“Jangan sekali lagi, gue denger lo sama temen-temen lo, masuk ke sekolah gue !” alvin menahan riko dengan tangannya, posisi riko sudah tersudut, susah untuknya melawan alvin.
“Pergi lo ! bawa semua antek lo ! dan inget kata-kata gue !” lanjut alvin lagi. Riko hanya menatapnya sinis, tapi tidak ada alasan lagi untuknya melanjutkan perkelahian ini, ia melihat, meski ia kalah dari alvin, tapi secara keseluruhan, vailant memenangkan pertarungan ini, karena lebih banyak anak vendas yang tumbang.
Alvin langsung menghampiri rio, dia menyodorkan tangannya, rio meraih itu, dan alvin langsung memapah rio masuk ke dalam sekolah. \
“Makasih vin”
“Jangan sok jagoan makanya”
“Terus gue harus diem aja gitu ?”
“Seenggaknya lo tadi harusnya nelpon gue”
“Lo tahu darimana ada tawuran disini ?”
“Via nelpon gue” hati rio mencelos mendengar jawaban alvin. Dia memandangi alvin yang sedang memapahnya, seseorang yang dari dulu memang selalu berdiri di garis depan untuk melindunginya, seseorang yang selalu siap memberinya apapun untuk membantunya.
“Maaf vin..”
“Buat apa ?”
“Akhir-akhir ini gue cemburu lo sama via” ujar rio jujur.
“Wajar kok yo, udah lo jangan banyak ngomong, darah lo keluar terus tuh” rio diam menuruti alvin. Alvin juga diam, logikanya membenarkan perasaan rio, tapi hatinya, berusaha mengingkari itu.
“Alvin..rio..” rio tersenyum ke arah via yang berlari ke arahnya, dia langsung mengalungkan tangan rio yang satu lagi ke pundaknya, dan bersama alvin memapah rio ke ruang kesehatan. Dengan telaten, via mengobati luka rio, membersihkan darahnya, mengompres lebamnya. Alvin memandangi itu dari ruangan yang berbeda, apakah ia berhak di perlakukan seperti itu oleh via ? apakah ia boleh menuntut perlakuan yang sama dari via ?
“Makasih ya vi..”
“Iya yo, udah kamu istirahat aja dulu, aku mau cuci tangan” via keluar dari tempat rio, dia menuju tempat alvin. Meski tidak separah rio, tetap saja alvin habis berantem juga.
“Sini vin..”
“Enggak usah vi, gue bisa sendiri” tolak alvin sambil mengambil obat yang via pegag dengan sedikit kasar, via hanya memandang itu.
“Sini, gue bantuin” paksa via.
“Gue bilang enggak, ya enggak. Udah sana, lo temenin aja rio” alvin sadar, nadanya ke via tadi sangat jutek, tapi hanya ini cara yang ia temukan, untuk mengusir berbagai pikiran yang ada di otaknya.
“Ya udah kalo itu mau lo, gue ke tempat rio” alvin hanya mengangguk, tapi matanya tidak menatap via, dia terus sok sibuk dengan lukanya. Berbeda dengannya, via malah terus-terusan memandangnya, entah kenapa, meski ia tahu, alvin benar, tapi hatinya mengatakan bahwa ia ingin tetap disini.
Via kembali ke tempat rio, ia melihat rio yang sedang tersenyum ke arahnya. Hati via benar-benar kalut, bagaimana bisa, ia memilih untuk bersama alvin yang hanya sahabatnya, melainkan bersama rio yang jelas-jelas pacarnya, butir demi butir, air mata via mulai menetes perlahan.
“Lho, kok kamu nangis ?” tanya rio bingung.
“Ja..jangan..ber..antem..lagi..” ucap via tersendat-sendat, walau bukan itu alasannya menangis, tapu setidaknya, itu alasan paling masuk akal yang bisa ia katakan. Rio membelai lembut rambut via.
“Enggak akan, janji” bisik rio pelan, tapi tangis via malah terus mengalir. Perasaan bersalah itu kembali datang dan membayangi langkahnya.
***
Dengan sedikit keragu-raguan di hatinya, cakka tetap menghampiri alvin yang sedang senderan di atas motornya. Penampilannya sedikit berantakan, cakka bisa menebak bahwa alvin habis ribut, tapi entahlah dengan siapa.
“Kenapa vin ?” tanya cakka basa-basi.
“Kok hp lo enggak aktif ? anak vailant baru aja nyerbu vendas” cakka membelalakan matanya. Dia memang sengaja tidak mengaktifkan hpnya, tapi ia tidak menyangka, bahwa ia baru saja melewatkan sebuah pertarungan seru.
“Sori vin. Terus gimana ? lo ada rencana buat nyerbu balik ke vailant ?”
“Enggak” jawaban singkat alvin itu malah membuat cakka bingung.
“Bukan itu yang mau gue bahas. Gue udah nyari tahu, ternyata anak vailant nyerbu ke sekolah, karena aren adeknya riko jalan sama iel, dan saat itu, lo juga lagi jalan sama acha kan ?” satu pertanyaan yang membuat cakka terdiam, pertanyaan yang telah di takutkan cakka dari tadi.
“Dan hari ini, lo juga jemput acha di sekolahnya kan ?” lanjut alvin lagi. Cakka menatap mata itu, mata yang sedang menatapnya tajam, dia tahu, bukan saatnya ia untuk mengelak sekarang ini.
“Iya, semua yang lo tanyain itu bener vin”
“Gue enggak suka lo deket-deket acha, dia masih kecil cak, belum saatnya di ngenal cowok”
“Tapi gue sayang sama dia vin, gue tahu lo kakaknya tapi lo enggak berhak ngatur kehidupan dia kaya gini. Gue sama dia udah sama-sama setuju buat temenan aja, enggak lebih”
“Lo temen gue cak, sahabat gue. Tolong jauhin acha, itu aja, makasih” tanpa sempat membiarkan cakka membalas kata-kata alvin, alvin langsung meninggalkan perkarangan rumah cakka dengan motornya. Cakka hanya bisa menatap kepergian alvin, dia sendiri tidak tahu dimana kesalahannya, menurutnya ia tidak pernah berbuat salah selama ini.
***
Shilla menyodorkan kotak bekalnya ke arah rio. Rio menengadahkan kepalanya menatap shilla, dengan tatapan bingung, ia menerima kotak bekal tersebut, lalu membukanya. Tercium aroma wangi yang menggoda selera dari nasi goreng yang ada di dalam kotak tersebut.
“Buat gue shil ?”
“Iyalah. Sori ya cuma nasi goreng, gue enggak jago masak yang aneh-aneh, cuma bisa yang standart kaya gitu”
“Gue coba ya..” rio mulai menyendokkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Gimana yo ?”
“Enak kok, serius deh..” rio mengacungkan jempolnya, shilla hanya tersenyum.
“Bagus deh kalo lo suka”
“Dalam rangka apa tiba-tiba masakin gue ?”
“Ini hadiah dari gue, buat ketua osis atventhas mario stevano aditya haling yang berani”
“Haha..orang gue kalah, kok di bilang berani”
“Justru karena itu, lo udah tahu lo enggak bisa berantem, tapi lo tetep aja masang badan dan berantem sama mereka”
“Haha..itu namanya gue enggak tahu kemampuan gue sendiri ya shil..”
“Untung kemarin ada alvin”
“Ya, dia emang selalu jadi pahlawan buat gue. Gue nyesel kemarin udah sempet curiga sama dia shil, gue tahu gue goblok banget punya prasangka kaya gitu sama dia, sama orang yang jelas-jelas bakal selalu ada buat nolongin gue”
“Menurut gue curiga lo wajar kok yo, tapi yang penting sekarang kan lo udah enggak curiga lagi sama dia”
“Thanks ya shil, lo udah mau dengerin curhatan gue kemarin. Lo emang baik banget sama orang, kapan-kapan lo curhat juga dong ke gue” shilla hanya tersenyum menanggapi itu, rio bukan orang pertama yang membujuknya untuk curhat, tapi shilla memang tidak bisa untuk mengungkapkan apa yang dia rasa dengan mudah.
“Ngapain lo senyum-senyum, nih mau enggak ?” rio tiba-tiba menyorongkan sesuap nasi goreng ke arah shilla, meski kaget, shilla memakan nasi goreng suapan rio itu, pipinya sedikit bersemu.
“Thanks..” ujar shilla pelan.
“Sip. Eh gue suka nih sama nasi goreng lo, kapan-kapan gue minta via belajar sama lo ya, biar dia bisa masakin ini juga buat gue..”
“Iya, entar gue ajarin via” kata shilla masih tetap sambil tersenyum, meski hatinya perih, perih karena ia sadar, apapun yang ia lakukan, rio hanya akan menempatkannya sebagai seorang teman atau mungkin tong sampah, seperti orang kebanyakan. Tapi shilla terus berusaha tersenyum, senyum untuk rio yang terus lahap memakan nasi goreng buatannya.
Malam terus berlanjut dengan larutnya, tidak ada bintang malam ini, bulan pun tak nampak tertutupi pekatnya awan. Via masih duduk di beranda kamarnya, wajahnya tidak secerah biasanya. Dia mencoba mengingat waktu-waktunya bersama rio, waktu-waktu dimana mereka hanya berdua sebagai sepasang kekasih.
Harusnya via merasa senang karena bisa di bilang ia adalah gadis yang beruntung. Selain karena dirinya sendiri, yang memang cantik dan menarik, tapi karena ia juga adalah seorang perempuan yang dipilih Tuhan untuk menemani laki-laki yang di gemari banyak kaum hawa di sekitarnya.
Susah mencari kekurangan rio. Seorang siswa yang selalu mendapat nilai tertinggi di semua mata pelajaran, selalu meraih rangking pertama dan selalu mempersembahkan kemenangan dalam bidang basket. Seorang idola, yang mempunyai wajah ganteng dan tubuh yang proposional. Seorang ketua osis, yang sangat di hormati dan di hargai, karena ide-idenya yang cemerlang dan selalu menimbulkan decak kagum dari orang sekitarnya. Seorang anak, yang sangat membanggakan bagi kedua orang tuanya, dan mengharumkan nama keluarganya. Seorang teman, yang dapat diterima dimana saja, karena keramahannya. Seorang sahabat, yang selalu memberi senyuman manis dan perhatian ekstra untuk sahabatnya. Dan seorang pacar, yang selalu siap memberi apapun untuk kebahagiaan kekasihnya.
Lantas apa, yang membuat via menjadi semakin ragu saat ia ada di dekat rio. Memang waktu rio terbatas untuknya karena tugasnya yang seabrek, tapi via rasa, itu bukan alasan yang tepat untuk segala kegundahannya. Via memejamkan matanya, berusaha mencari jawaban itu di dalam hati kecilnya, perlahan namun pasti, nama itu terngiang telinganya, wajah itu tergambar jelas di pikirannya, alvin.
Via masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di depan cermin, menatap wajahnya sendiri. Apa ini salahnya ? apa ia yang telah salah memilih ? apa ini jalan yang benar untuknya ? via bahkan tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya. Dia lelah bila harus menangis lagi, tidak ada yang ia dapatkan selain rasa pusing setelah ia menangis. Tidak akan ada jalan keluar yang pasti hanya dengan bermodalkan air mata.
“Gue enggak boleh nyakitin siapa-siapa ! ini pilihan lo vi, lo udah pilih rio, lo harus mencintai dia apa adanya ! harus ! alvin cuma sahabat lo ! enggak boleh lebih dari itu ! lo bisa, lo pasti bisa vi, lo bisa !” via berkata pada bayangannya di cermin, berusaha meyakinkan dirinya, membuat hatinya percaya akan langkahnya.
Rintik demi rintik, hujan mulai turun dan membasahi setiap sudut bumi. Begitupun dengan air mata shilla, yang terus mengalir perlahan. Ia terduduk di pojok kamarnya, tangannya mendekap kedua lututnya erat, badannya bergetar. Tatapan matanya kosong, tidak ada shilla yang penuh semangat seperti biasanya.
Pemandangan di hadapannya, tidak jauh berbeda dengan kondisinya. Kamar yang biasanya rapi itu, malam ini begitu acak-acakan. Ada bekas pecahan botol-botol parfum di lantai, serpihan-serpihan yang berserakan, baju-baju yang berhamburan.
“Kak ! kak, lo di dalam kan ?!” terdengar teriakan deva dari luar kamarnya, deva berusaha membuka pintu kamar shilla yang telah ia kunci rapat.
“Kak, buka pintunya !”
“BRAAK !” dengan kasar, deva berhasil mendobrak pintu kamar shilla. Dia langsung berlari ke arah kakaknya, deva bersimpuh di depan shilla. Dia usap air mata yang menggenang di wajah kakaknya itu, dia gendong shilla menuju kamarnya dengan hati-hati. Dengan hati-hati pula, ia letakkan shilla di atas kasurnya, lalu menyelimutinya. Sementara shilla masih tetap diam tanpa ekspresi, tidak ada respon sedikitpun darinya.
“Gimana dok, keadaan kakak saya ?” tanya deva, ke dokter yang sengaja ia hubungi untuk memeriksa keadaan shilla.
“Kakak anda sepertinya sedang tertekan dan banyak pikiran, saya khawatir, bila hal ini terjadi terus menerus, kakak anda akan mengalami depresi fatal” hati deva mencelos mendengar penjelasan dokter tersebut.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan ?”
“Temani ia, jangan buat dia menanggung sendiri terlalu banyak masalah. Karena kondis psikisnya yang cukup labil dan cenderung lemah. Saya memberi dia obat penenang, tolong awasi kakak anda..”
“Iya dok, makasih atas bantuannya”
“Sama-sama” setelah mengantarkan dokter itu ke pintu depan, deva tidak segera kembali ke kamarnya, tapi ia ke kamar shilla yang masih berantakkan. Ia menuju ke tempat dimana shilla ia temukan tadi. Deva melihat beberapa kertas yang telah tersobek menjadi beberapa bagian, ia mencoba membaca kertas itu dengan susah payah. Sedikit-sedikit, deva dapat menebak apa yang baru terjadi pada shilla.
Setelah merapikan kamar shilla, ia kembali ke kamarnya. Memandangi shilla yang tampak tertidur pulas. Deva tidak pernah benar-benar mengerti tentang jalan pikiran kakaknya, yang selalu berlaku baik-baik saja di hadapan semua orang, bahkan di hadapan dirinya.
“Lo terlalu tegar shil, sangking tegarnya, sampe lo lupa, kalo dalem lo itu lemah banget” ujar deva di hadapan kakaknya.
Deva mengerjap-ngerjapkan matanya, sambil masih menguap ia mendudukan dirinya di sofa tempat ia tidur semalam. Tapi kantuknya langsung hilang, ketika ia mendengar suara dari arah dapur.
“Kok lo udah bangun sih ? udah siap pake seragam lagi, mending lo istirahat dulu deh kak”
“Aduh dev, lo bangun-bangun kok langsung nyeramahin gue sih ? udah sekarang lo gosok gigi, gue tunggu di meja makan” perintah shilla sambil mendorong-dorong adeknya itu keluar dari dapur. Deva menatap shilla sekilas, senyum itu telah kembali, tatapan matanya tidak lagi kosong, tapi deva juga tahu, berarti shilla mulai memakai topengnya lagi.
“Semalam gue nemuin ini kak..” deva menunjukkan kertas-kertas yang ia temukan semalam, membuat shilla menghentikan sarapannya.
“Ini bukan apa-apa kok dev, mau gue buang” shilla mencoba merebut itu dari deva, tapi dengan gesit, deva menjauhkan kertas itu dari shilla.
“Tolong ceritain ke gue, baru kertas ini gue kasih ke elo kak”
“Itu...”
_Flashback_
Shilla memacu mobilnya setelah mendapatkan sms dari mamanya untuk segera menemui mama dan papanya di rumah. Agak sedikit kesal karena ia harus meninggalkan rio yang sedang menikmati nasi goreng buatannya.
“Hai ma, pa...” sapa shilla ramah, mamanya hanya tersneyum tipis.
“Duduk shil” perintah papanya.
“Ada apa ?”
“Ini apa ?!” papanya melemparkan sebuah amplop coklat ke arahnya. Shilla memungut amplop yang jatuh di kakinya itu, dia langsung membuka dan membacanya. Mata shilla berbinar-binar mendapati isi amplop tersebut.
“Jadi benar itu punya kamu ?” tanya mamanya.
“Iya ma, shilla kirim ini, hampir setengah tahun lalu yang lalu, shilla enggak nyangka, sekarang dapat balasan kaya gini” ujar shilla penuh semangat. Tapi sedetik kemudian, semangat shilla langsung padam, saat ia melihat ekspresi kedua orang tuanya yang begitu dingin.
“Buat apa kamu bercita-cita jadi penulis shilla ?! tidak ada penulis yang kaya ! kamu harusnya mengerti itu ! apa yang kolega papa akan bilang kalo mereka tahu, anak seorang pengusaha sebesar papa, hanyalah seorang penulis kacangan !” shilla hanya menunduk mendengar kata-kata papanya.
“Lalu kamu pikir untuk apa selama ini, kami membuat kamu mengerti bisnis ! kamu itu penerus kami ! jadi jangan sekali-kali kamu bercita-cita untuk menjadi apapun selain pebisnis !” tambah mamanya, membuat shilla semakin tidak berkutik.
“Sini !” dengan kasar, papanya menarik kertas yang shilla pegang “Sret..sret..” tanpa ampun, papanya mulai menyobek-nyobek kertas yang berisi tentang kontrak dari sebuah penerbit yang ingin menerbitkan hasil tulisan shilla.
“Mama udah telpon penerbitnya, dan mama sudah menyuruh mereka untuk membatalkan penawaran tersebut !” shilla hanya diam, dia memunguti kertas-kertas itu, tanpa permisi, ia meninggalkan rumah orang tuanya, dan menyetir dengan keadaan kacau ke apartemennya. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya, melampiaskan segala kekesalannya dengan menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya.
_Flashbackend_
“Gitu dev, gue tahu itu salah gue, harusnya gue enggak nulis alamat rumah, jadi surat itu enggak bakal nyampe ke mama atau papa” deva menatap kakaknya dengan pandangan prihatin.
“Tapi lo bakal tetep nerbitin karya lo kan ?”
“Enggaklah, kan udah gue bilang kertas itu udah mau gue buang”
“Tapi..”
“Udah lah dev, makan sarapan lo, gue mau ke sekolah dulu” potong shilla.
“Iya-iya. Kak, gue harap lo bisa terus cerita dan terbuka sama gue, jujur gue takut banget semalam, saat gue pulang, ngedapetin apartemen ini masih dalam keadaan gelap, dan enggak ada suara apapun dari kamar lo”
“Iya bawel, udah ya gue ke sekolah, sms gue kalo lo mau pergi” pamit shilla ke deva, deva hanya tersenyum. Dia kagum kepada shilla, tapi di hatinya kecilnya yang terdalam, dia lebih merasa kasihan ke kakaknya itu.
Alvin duduk menyenderkan badannya ke sebuah pohon. Tangannya terus menari-narikan pensil diatas sketch booknya, wajahnya dingin tanpa senyum. Terik matahari tidak menghalanginya. Dia mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya. Dia mengamati gelang tersebut, semenit...dua menit...lima menit...sepuluh menit...lima belas menit...setengah jam. Selama setengah jam, alvin terus mengamati gelang ditangannya tersebut. Ia mengacuhkan gambarnya, yang baru setengah jadi. Lalu ia berdiri menatap danau.
“Blup..” alvin melempar gelang tadi ke dalam danau.
“ini punya kita, punya lo sama gue, enggak boleh hilang”
Sebuah kenangan suara terngiang jelas di telinganya, membuatnya tersadar akan perbuatan konyolnya barusan. Tanpa melepas sepatunya, alvin langsung masuk ke dalam danau yang untungnya tidak begitu dalam, mencari benda kecil yang telah ia lempar barusan. Alvin telah menyelam selama hampir satu jam, tapi gelang itu belum juga ia temukan. Ia sudah hampir menyerah, mungkin ini memang takdir untuknya, ketika ujung jarinya merasa menyentuh sesuatu yang familiar, alvin menghirup napas dalam-dalam untuk melihat benda itu, dia tersenyum lalu mengambil gelang tersebut.
Alvin tidak mempedulikan seragamnya yang basah kuyup dan penampilannya yang acak-acakan. Yang jelas gelang itu sudah ada di genggaman tangannya lagi sekarang, pelan-pelan, ia simpan gelang itu di dalam saku bajunya, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi hal itu lagi.
***
Acha tidak mengerti apa yang terjadi dengan aren sahabatnya ini. Kemarin hampir sepanjang hari aren terus-terusan menangis dan merasa bersalah, atas peristiwa penyerangan vailant ke vendas. Tapi sekarang, wajah sendu itu sudah berganti dengan wajah penuh senyum.
“Lo kenapa sih ren ?” tanya acha heran.
“Gitu deh cha..”
“Iya gitu kenapa ? cerita dong sama gue..” pinta acha.
“Gimana ya ? entar lo ketawain gue lagi, kalo gue cerita” ujar aren.
“Ah lo mah, masa main rahasia-rahasian gitu sih sama gue, enggak seru”
“Haha, iya-iya, jangan ngambek dulu dong, gue cerita nih..”
_Flashback_
Sambil bermain ayunan sendirian, aren masih saja terus memikirkan tentang penyerangan kakaknya dan teman-temannya ke vendas. Entah kenapa perasaan bersalah itu, begitu terasa di hati aren. Sudah seharian ini dia masang aksi ngambeknya ke kak riko. Dia enggak abis pikir kenapa kakaknya bisa punya pikiran sependek itu.
“Cantik..kok sendirian aja..” aren celingukan nyari siapa yang ngajakkin dia ngobrol.
“Kak iel ?”
“Enggak usah kaget gitu juga kali ren. Nih buat lo..” iel menyodorkan sebatang coklat untuk aren, yang diterima aren dengan sumringah.
“Siapa juga yang enggak kaget. Tahu darimana gue disini ? eh iya, makasih coklatnya..”
“Tahu dari acha, tadi gue kerumahnya, terus dia bilang lo kalo lagi pengen sendiri suka kesini, ya udah gue cari aja lo disini” jelas iel.
“Kenapa kak ? ehm, gue mau minta maaf, buat ulah kakak gue ke sekolah kakak” ujar aren sambil menundukkan kepalanya. Iel menyentuh dagu aren, mengangkatnya agar mata aren bisa menatap matanya.
“Gue yang harusnya minta maaf, lo enggak salah apa-apa, dari awal kan elo udah ingetin gue siapa lo dan kakak lo. Gue kesini karena gue khawatir sama elo, kata acha, di sekolah lo nangis terus ya” aren menatap mata itu, tersirat kedewasaan yang dalam yang terpancar dari sinar mata iel, yang masuk menembus hatinya.
“Pasti satu sekolahan vendas benci banget deh sama gue” kata aren lirih.
“Haha, enggaklah, kan ada gue, biar gue yang nanggung, oke..” iel mengacak-acak rambut aren sambil tertawa. Aren ikut tertawa karena itu. Ini untuk pertama kalinya aren merasa nyaman berbicara berdua dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya.
“Makasih ya kak..”
“Ada syaratnya tapi”
“Apaan ?”
“Jangan jera gue ajakin jalan”
“Kakak enggak jera jalan sama gue ?”
“Enggaklah. Cuma mungkin setelah ini kalo kita mau jalan, kita harus lebih profesional lagi kali ya..hehe..”
“Iya, dan kakak juga enggak boleh lupa buat ngelepas, blazer vendas kakak”
“Sip..”
_Flashbackend_
“Cie...ada yang jatuh cinta nih..” goda acha setelah mendengar cerita aren.
“Apaan sih lo cha..” balas aren yang tidak bisa menyembunyikan semburat merah jambu di wajahnya.
“Haha..pipi lo merah tuh” tunjuk acha ke pipi aren.
“Eh lo sendiri gimana nasibnya sama kak cakka ?” tanya aren mengubah topik.
“Gitu deh, sama kaya lo. Gue sama kak cakka masih smsan, tapi udah enggak ketemu dari kemarin dia jemput gue itu. Kata dia, kak alvin nemuin dia, dan ngelarang dia deketin gue..” curhat acha lirih.
“Sabar ya cha, nasib kita sama nih, enggak dapet restu dari kakak..hehe..”
“Tapi kalo lo kan jelas di larangnya karena apa, lha gue ? kak alvin sama kak cakka kan jelas-jelas temenan, masa gue di larang deket sama temennya sendiri”
“Gue yakin kok cha, kak alvin pasti punya alasan yang tepat untuk itu. Kalo kak rio gimana ?”
“Gue belum sempet cerita sama kak rio, tahu sendiri kan lo, kakak gue itu kan sibuknya ngalah-ngalahin presiden kali”
“Lebai deh lo..”
“Hehe, emang bener, gue aja heran kok kak via mau ya di tinggal-tinggal gitu sama kak rio, gue sih enggak betah”
“Hmm..ya mungkin kak via udah biasa aja kali..” acha cuma ngangguk-ngangguk aja denger pendapat aren. Lalu kemudian, ia mulai sibuk smsan sama cakka, dan aren kembali sibuk mengenang saat berduanya dengan iel kemarin.
Hari ini alvin benar-benar malas sekolah, dia malah milih buat pergi dengan motornya. Mengikuti kata hatinya kemanapun dia mau. Toh enggak akan ada yang repot-repot khawatirin dia. Alvin menghentikan motornya di sebuah taman kota. Dulu omanya sering mengajak ia kesini, sekedar untuk membacakan dongeng yang harusnya ia dapatkan dari orang tuanya.
Alvin memilih duduk di sebuah kursi sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Sudah lama sekali alvin tidak kesini, dan taman ini tetap tidak berubah dimatanya. Tetap sebuah taman yang teduh dengan pohon-pohon besar yang berdiri dengan gagahnya. Sebuah taman yang memberikan ketenangan luar biasa bagi siapapun yang memerlukannya, karena letaknya yang bukan di jalan utama, membuat taman ini terhindar dari kebisingan lalu lintas.
Dan untuk itulah alvin memutuskan ke taman ini, untuk sekedar mencari ketenangan. Dia bukan orang yang suka berlari dari sebuah masalah, dia bukanlah seorang lelaki yang pengecut. Kehidupan mengajarkannya untuk selalu tegar apapun yang terjadi. Waktu yang telah membuatnya menjadi pribadi yang cenderung kasar. Dan kenangan pahit, yang membuatnya terus berjalan dalam langkahnya, berusaha tidak mempedulikan orang lain.
“Pa, aku mau balon, mau balon..” rengek seorang anak yang berdiri bersama papanya di tempat yang tidak jauh dari tempat alvin duduk.
“Iya tapi tukang balonnya belum datang sayang”
“Tapi aku mau balon..hiks..”
“Jangan nangis dong, adek mau terbang juga kaya balon ya ? ayo sini papa terbangin..” anak itu di gendong papanya, kemudian papanya mengayun-ayunkan dia di udara, membuat anak itu tertawa bahagia. Alvin menatap itu dengan lirih. Reflek ia meraba pipinya. Tamparan, hal yang sering papanya berikan untuk dia. Alvin tidak mengharapkan sebuah balon, apalagi sebuah gendongan, alvin hanya ingin papanya menghargai apa yang ia pilih, hanya sesimpel itu.
“Alvin ?” alvin menoleh ke belakang, melihat siapa yang menyapanya. Tapi seolah tidak peduli, alvin memalingkan mukanya dari orang itu.
“Gue minta maaf ya vin, atas kelakuan riko kemarin di sekolah lo. Seandainya gue tahu dia punya rencana kaya gitu, gue pasti akan ngelarang dia abis-abisan” ujar zeva sambil duduk di samping alvin. Tidak jauh berbeda dengan alvin, zeva juga masih memakai seragam sekolahnya, bedanya, zeva rapi sementara alvin berantakan.
“Dia cuma terlalu sayang sama aren, gue tahu dia berlebihan, tapi gue harap lo bisa ngertiin itu” lanjut zeva lagi. Alvin menoleh kearah zeva, ia melihat ada lebam keunguan di ujur bibir zeva.
“Bibir lo kenapa ?” zeva terlihat kaget dengan pertanyaan alvin, dia membuang mukanya, berusaha menutupi lukanya yang ditunjuk alvin.
“Riko yang bikin lo kaya gitu ?” entah kenapa, ada sedikit kepedulian yang terlintas di pikiran alvin.
“Enggak kok, ini..gue..gue jatoh” jawab zeva kelabakan.
“Enggak pinter bohong tahu enggak lo ! sini gue lihat” alvin memaksa zeva melihat ke arahnya, dia mengamati luka tersebut.
“Lo di pukul sama dia ? dan lo masih berusaha belain dia di depan gue ? kenapa sih jadi cewek bego banget !” zeva tidak melawan kata-kata alvin, dia malah menunduk. Alvin merasa sedikit bersalah, sepertinya ia terlalu kasar tadi.
“Gue..sayang banget sama dia..” ucap zeva pelan.
“Sayang sampe lo mau di pukul kaya gini ?”
“Dia cuma marah sama gue, karena gue bilang, kalo apa yang dia lakuin ke vendas itu salah. Gue tahu, dia cuma reflek doang, entar juga kita balikan lagi” alvin cuma bisa geleng-geleng kepala, dia tidak mengerti sama jalan pikiran cewek di sampingnya ini.
“Apa sih yang riko kasih ke elo, sampe elo bisa takluk kaya gini ?”
“Cinta vin, cinta..”
“Cinta lo buta kalo gitu !”
“Mungkin lo bener, tapi ketika gue jatuh cinta dan percaya sama cinta itu, gue akan selalu nganggep cinta itu indah meski kata orang ini pahit”
“Sarap !”
“Apa lo enggak pernah jatuh cinta ? apa lo enggak pernah ngerasa, kalo lo bersedia ngelakuin apa aja asal dia tetep tersenyum, apa lo enggak pernah ada di posisi, dimana lo siap terluka, asal lo tahu dia baik-baik aja” alvin terdiam, kata-kata zeva telah mengenai saraf perasaannya.
“Seenggaknya, gue tahu dia ada di orang yang tepat, itu udah cukup buat gue” zeva menatap alvin bingung, dia enggak nangkep sama sekali apa maksud kata-kata alvin.
“Maksudnya ?”
“Lupain aja. Lo cabut juga dari sekolah ?” zeva tersenyum dan mengangguk ke arah alvin.
“Kenapa lo bisa ada disini ?” tanya alvin lagi.
“Ini tempat riko nembak gue. Gue selalu kesini saat gue butuh buat sendiri, tapi mungkin riko udah lupa kali sama tempat ini, dia bahkan mungkin udah lupa, sama kenangan antara gue sama dia yang indah-indah..”
“Hah ? lo udah lama jadian sama riko ?”
“Gue sendiri enggak ngerti apa gue masih jadian sama riko atau enggak, gue enggak tahu”
“Lo ngomong apa sih ?”
“Gue sama riko temenan dari sd. Dia nembak gue pas kelas 3 smp, disini. Enam bulan setelah itu, dia kecelakaan, dia amnesia, dan entah kenapa, perilakunya juga berubah, tapi gue enggak pernah bisa ninggalin dia, di mata gue, dia tetep riko, riko yang lembut dan penuh perhatian”
“Amnesia ?”
“Iya. Awalnya dia enggak inget siapa gue, tapi gue enggak pernah pergi sedikitpun dari dia, gue selalu berusaha ada buat dia. Enggak ada yang tahu pasti, kenapa amnesia itu bisa sampe merubah perilakunya, tapi itu enggak akan ngalangin gue vin, gue sayang sama dia, apa adanya” alvin yang dari tadi hanya diem menyimak, memberi aplause dalam hati untuk gadis tegar di sampingnya ini.
“Bentar deh, riko seorang penderita amnesia semenjak dua tahun yang lalu, tapi maksud gue dia kan sering berantem, apa itu enggak berbahaya buat kesehatannya ?” alvin sendiri bingung, kenapa ada rasa kasihan liar yang tumbuh di hatinya untuk musuhnya itu.
“Enggak ada, dia normal, normal banget. Cuma perilakunya aja yang enggak bisa balik lagi kaya dulu”
“Gimana kalo riko enggak akan balik lagi kaya dulu ?”
“Gue udah berjalan sampe sejauh ini vin, enggak mungkin buat gue untuk mundur atau malah berhenti, gue akan selalu ada disini buat dia. Terserah dia mau nganggep gue apa, yang jelas saat dia ingin kembali, dia bakal tetep nemuin gue disini”
“Kenapa lo cerita ini semua sama gue ? gue bisa aja pake itu buat nyerang riko, dia musuh gue”
“Sederhana alvin, karena gue percaya, kalo lo itu orang baik, dunia ini panggung sandiwara kan ?” zeva tersenyum sendiri, tapi alvin kembali terdiam mendengar kata-kata zeva. Ya zeva benar, dunia ini memang penuh orang yang bermain sandiwara untuk menutupi jati dirinya, bahkan mungkin alvin adalah salah satu pemain sandiwara itu.
“Gue mau cabut dari sini, lo balik naik apa ?”
“Gampang, gue bisa nyari taksi”
“Udahlah lo ikut gue aja, daripada supir taksinya stres ngadepin lo” meski diucapkan dengan nada sinis, zeva malah cengengesan mendengar kata-kata alvin. Teman barunya ini memang tampilannya sekeras batu, tapi hatinya bahkan mungkin lebuh rapuh dari kapas.
Sepanjang jalan, mereka berdua hanya terdiam. Tidak ada yang ingin berbicara, semua sibuk dengan isi otak mereka masing-masing, meski di tanggapi dengan dingin oleh alvin, zeva sudah merasa sedikit lega, setidaknya ia sudah membagi sedikit kisahnya dengan orang yang menurutnya tepat. Dan alvin, di kepalanya, ia sibuk memikirkan via. Sahabatnya dari kecil yang selalu bersamanya, yang sekarang telah dimiliki oleh rio, sahabat serta saudaranya sendiri.
“Vin ini rumah siapa ?”
“Ini rum...” alvin bengong sendiri, menyadari kebodohannya. Karena terus memikirkan via, entah bagaimana caranya, alvin sekarang memberhentikan motornya di depan rumah via. Bukan rumah zeva.
“Hei..helooo ! lo udah lupa sama rumah gue ?” tanya zeva yang asli bingung banget.
“Eh sori-sori zev, ayo gue anterin lo ke rumah lo”
“Lo enggak apa-apa kan vin ? emang ini rumah siapa ?”
“Gue tadi cuma ngelamunin pemilik rumah ini, dan entah kenapa, tanpa sadar gue bawa motor gue kesini” jelas alvin. Zeva yang tadinya bingung bercampur kesal, malah jadi tertawa terpingkal-pingkal.
“Haha..cewek ya vin ? haha..next time lo wajib cerita ini ke gue, udah ayo sekarang anterin gue pulang” perintah zeva sambil menahan tawanya, alvin cuma bisa nyengir-nyengir doang, kemudian ia dan zeva langsung bergegas meninggalkan rumah via.
Hati via mencelos melihat pemandangan di depannya. Tubuhnya berdiri di kaku di atas beranda kamarnya, dan hatinya entah kenapa terasa sakit. Gara-gara mendengar suara motor alvin yang begitu akrab di telinganya, via segera berlari melihat keluar rumah dari beranda kamarnya. Tapi yang ia dapati malah alvin bersama cewek lain, lalu cewek tersebut tertawa ke alvin, dan alvin juga terlihat memberikan senyumnya untuk cewek tersebut.
“Gue kenapa ? kenapa gue enggak enak gini ?” tanya via pada dirinya sendiri.
“Alvin enggak pernah ketawa sama cewek lain selain gue selama ini, dan tadi alvin keliatan ketawa. Terus apa maksud alvin berhenti di depan rumah gue ? apa ?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di otaknya, menyiksanya sepanjang sisa hari itu. Membuatnya terus memikirkan alvin, membuatnya melupakan misinya untuk berusaha sepenuh hati mencintai rio.
***
Dua laki-laki itu sama-sama tidur terlentang di atas rumput. Meski yang mereka lihat hanya gelapnya malam, tapi tidak menghalangi mereka untuk melakukan itu dari hampir satu jam yang lalu.
“Kemana lo tadi seharian ?” rio membuka percakapan diantara mereka.
“Malas sekolah gue”
“Gue tanya kemana bukan kenapa”
“Tempat yang enggak pentinglah buat lo”
“Pentinglah vin, gue harus tahu lo kemana, gimana kalo sampe ada apa-apa sama lo, dan enggak ada satu orangpun yang tahu”
“Yo, semua orang juga tahu, kalo gue enggak perlu di khawatirin, gue bisa jaga diri gue sendiri” rio pasrah. Dia menghormati alvin lebih dari apapun. Buatnya alvin adalah saudara, sahabat, teman, kakak bahkan pahlawannya.
“Gue mau lo jujur sama gue vin”
“Apa ?”
“Apa lo pernah mencintai via ? apa lo pernah mengharapkan dia jadi pacar lo ?” alvin menegakkan badannya, kemudian dia duduk di samping rio.
“Gue sayang sama dia sebagai sahabat, dan enggak akan lebih” ujar alvin. Rio ikut-ikutan duduk.
“Kalo gue ngelepasin via, apa yang bakal lo lakuin ?” alvin menatap rio sekilas.
“Lo enggak bakal ngelepasin via, gue tahu itu. Lo enggak akan bisa tanpa dia..”
“Kenapa lo bisa seyakin itu ?”
“Ya karena gue tahu kalo perasaan lo buat via itu besar banget”
“Lo bakal selalu dukung gue kan vin, lo bakal selalu ada buat gue kan vin ?”
“Iyalah” rio tersenyum mendengar jawaban alvin. Ia merangkul pundak alvin, lalu menepuk-nepuknya, alvin hanya menoleh lalu tersenyum ke arah rio. Di saat yang bersamaan, tanpa siapapun bisa melihatnya, hati alvin bergejolak sedemikin hebat, rasanya hati itu, ingin berkhianat dengan kata-kata yang alvin ucapkan tadi.
***
Tidak ada yang istimewa di hari ini untuk via. Tugas seabrek telah menunggunya, dia menutup lokernya dengan malas-malasan. Dia mengedarkan matanya, bingung ingin menghabiskan waktu istirahatnya dimana. Rio jelas-jelas tidak bisa diharapkan saat ini, dia sedang ijin tiga hari, untuk mengikuti rapat papanya di luar negri. Dari kejauhan, via melihat alvin sedang menggiring bola di koridor, masa bodo dengan orang lain yang terganggu dengan aktivitasnya. Via menghampiri alvin, sudah beberapa hari ini alvin terus menerus menghindari via.
“Vin, mau ke lapangan ya ? gue ikut ya..” alvin tidak menggubris via sama sekali, ia tetap berusaha asik dengan bolanya itu.
“Gue salah apa sih sama lo ? kok lo diem terus sama gue ?”
“....”
“Alvin...” tanpa kenal lelah, via terus mengikuti alvin.
“Vin, lo lagi ada masalah ?” alvin masih terus saja hening. Via yang lama-lama merasa kesal juga, menarik tangan alvin, membuat langkah alvin terhenti dan terpaksa menengok ke arahnya.
“Hargain gue dong vin ! kalo gue punya salah, lo bilang dong ! biar gue bisa minta maaf dan perbaikin kesalahan gue !”
“Kesalahan lo adalah, lo terus-terusan ngikutin gue dari tadi. Gue mau sendiri..oke” alvin melepaskan tangannya dari tangan via. Dia berlalu meninggalkan via yang mematung di tempatnya. Berusaha tidak menoleh ataupun peduli ‘maafin gue vi, maaf..’ hanya dalam hatinyalah, kata maaf itu terlontarkan.
***
Mata mereka saling beradu pandang satu sama lain. Yang satu menatap penuh harap, dan yang satu membalasnya dengan pandangan tajam. Alvin berdiri ia berjalan ke arah acha, ia rengkuh badan adiknya itu ke dalam pelukannya.
“Tolong cha, gue punya alasan ngelarang lo deket sama cakka, tolong ngertiin gue” bisik alvin lembut.
“Alasan apa kak ? kak alvin aja enggak bisa jelasin itu ke gue kan ?!” acha mendorong alvin menjauhinya.
“Cha..” panggil alvin sambil berusaha deketin acha lagi.
“Stop ! stop kak. Sebelum kakak bisa kasih gue alasan, gue minta maaf, gue sayang sama kak cakka, gue enggak bisa nurutin permintaan kakak” acha langsung berlalu meninggalkan alvin.
“Brukk !” alvin menendang kursi yang ada di teras belakang rumahnya tersebut. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Ah lo egois banget sih vin ! alasan lo konyol vin, konyol !” alvin malah mengumpat dirinya sendiri. Lalu dia menghempaskan tubuhnya di kursi, memandangi sekawanan burung yang berarak pulang.
***
Suasananya begitu ramai, penuh dengan anak-anak yang berceloteh disana-sini. Ada yang meributkan tenda, barang bawaan mereka, bahkan menebak-nebak siapa teman sekelompok mereka di acara menjelajah hutan nanti. Tapi itu semua tidak berlaku untuk alvin, ia malah sibuk mendengarkan ipodnya. Matanya memandang ke arah hutan yang terbentang di hadapannya, lalu dia tersenyum sekilas.
“Lo enggak diriin tenda ?” rio menepuk pundak alvin, alvin pun melepas ipodnya.
“Udah” jawab alvin singkat.
“Yah vin, semangat dong”
“Kalo enggak karena lo paksa gue juga enggak akan ikut acara kemping ini kali yo”
“Ya elah vin, ini tuh wajib tahu. Udah tradisi setiap angkatan juga, tahun kedua mereka di vendas bakal kesini dan jelajah hutan”
“Peduli amat gue sama giniian”
“Ya udahlah gue mau ngurusin yang lain dulu, anggep aja lo disini jagain gue, iya enggak bro ?” rio mengedipkan matanya sebelah, alvin hanya tersenyum kecil melihat itu. Dia suka petualangan, tapi bila itu masih ada sangkut pautnya dengan urusan sekolah, maka perasaan malas alvin akan lebih dominan menguasainya.
Semua anak berkumpul dan berbaris rapi. Seperti yang telah rio bilang, ini memang tradisi di vendas. Setiap tahun kedua suatu angkatan, mereka akan mengadakan kemping untuk menjelajah hutan. Hutan ini sebenarnya masih merupakan kepunyaan yayasan vendas, yang sengaja di buat untuk konservasi alam dan penelitian.
“Baiklah anak-anak semua, sesuai tradisi yang telah dijalankan oleh para senior kalian, hari ini kalian akan mulai melaksanakan jelajah hutan. Jelajah hutan ini bukan di maksudkan untuk membuat kalian takut, tapi untuk membuat kalian lebih memahami dan menghargai tentang alam juga percaya kepada teman sekelompok kalian. Baiklah, tanpa banyak kata, saya nyatakan acara ini resmi di buka”
“Prok..prok..prok..” tepuk tangan mengakhiri pidato singkat dari Kepala sekolah mereka. Kemudian gantian rio yang naik ke atas panggung.
“Teman-teman semua, sedikit penjelasan dari saya sebagai perwakilan panitia dan osis, setiap kelompok akan berisi masing-masing dua orang peserta, laki-laki dan perempuan, dan setiap kelompok, akan di bekali dengan sebotol air mineral dan sebuah gps. Gps itu yang akan menuntun kalian sampe kembali kemari. Dan gps itu harap terus di aktifkan, karena bila sampe terjadi apa-apa, tim sar dapat segera menemukan kalian. Sekian penjelasan dari saya, sekarang harap diam karena akan di bacakan kelompoknya” semua diam menuruti perintah rio.
“Kelompok 39 alvin jonathan dan sivia azizah”
Alvin dan via sama-sama melirik ke arah rio yang sedang tersenyum ke arah mereka berdua. Mau tidak mau, alvin dan via maju ke depan. Alvin mendekat ke arah rio.
“Lo yang bikin gue sekelompok sama via ya ?” tanya alvin curiga.
“Iya, gue mana tenang kalo dia sekelompok sama orang lain. Pengennya sih juga gue sama dia vin, tapi gue kan panitia, enggak bisa. Jagain via ya..” alvin enggak bisa ngelakuin apa-apa lagi. Dia meraih jatah air mineralnya dari tangan rio, dan berjalan mendahului via yang memegang gps mereka berdua.
“Vin, lo masih marah sama gue ?” tanya via sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah alvin.
“Hmm”
“Ngomong dong vin..”
“Males” via pasrah, dia enggak mau buang-buang energinya buat memaksa alvin bicara.
“Vin, kan gue yang megang gps, kok malah elo yang jalan di depan gue sih ?”
“Ya udah jalan gih cepetan” meski alvin menyuruhnya duluan, via tetap saja jalan di belakang alvin. Dia mengamati sekitarnya, tempat ini diam-diam menyimpan kenangan indah untuk via. Kenangan yang entahlah, hanya ia kenang sendiri, atau juga di kenang oleh orang yang bersamanya saat itu.
Mereka terus berjalan, via memberi intruksi dari belakang, entah harus belok kanan, kiri ataupun lurus. Hanya suara via saja yang bergaung di antara mereka berdua, alvin tetap diam seribu bahasa. Via menyeka bulir-bulir keringat yang menetes di pelipisnya. Rasanya ia ingin berhenti sejenak dulu untuk sekedar meneguk air.
“Gubrakk !”
“Auww !” via meringis menahan sakit. Karena kurang berhati-hati, kaki via tersangkut di akar pohon dan membuatnya jatuh tersungkur.
“Lo enggak apa-apa kan vi ?” alvin langsung berbalik ke arah via.
“Ma..maaf vin...gpsnya kayanya..rusak..” via menunjuk benda kecil berbentuk persegi panjang yang saat via terjatuh lepas dari genggaman tangannya sehingga melayang bebas terantuk batu, membuatnya hancur dan tak berfungsi. Alvin tidak menghiraukan itu, ia memeriksa kaki via, mengamatinya, sementara via menggigit bibir bawahnya, menahan sakit dan rasa bersalahnya.
“Lo mau ngapain vin ?” tanya via bingung saat alvin berjongkok memunggunginya.
“Cepetan naik, kaki lo keseleo, enggak akan bisa kalo harus di paksa jalan, lagian ini udah keburu sore, kayanya juga mau ujan deh” via merasa dejavu dengan kejadian ini. Via mengalungkan tangannya di sekitar pundak alvin, membiarkan alvin menggendongnya.
“Gimana cara kita bisa tahu jalan ?” tanya via berbisik di telinga alvin.
“Berdoa aja” jawab alvin singkat. Via hanya terdiam, ia begitu menikmati detik-detik ini, meski ia tahu nasibnya dan alvin sedang tidak jelas sekarang. Jantungnya berdegup kencang, dan via hanya dapat berharap alvin tidak merasakan gerak jantungnya itu. Dengan tangannya dia menghapus keringat-keringat alvin, alvin berhenti sejenak, menoleh ke arahnya, lalu tersenyum manis.
‘Akhirnya lo senyum juga sama gue vin’ batin via.
“Ternyata lo lebih berat ya vi” celetuk alvin.
“Emang lo pernah gendong gue apa sebelum ini ?” tanya via bingung.
“Oh gitu ya, jadi lo udah lupa nih..” via berusaha mengingat saat-saat itu. Dia mencari di kotak kenangannya, berpikir keras.
“10 tahun lalu vi..” alvin mengatakan itu seolah ia bisa membaca pikiran via yang sedang kesusahan mengingat itu. Kata-kata 10 tahun itu, bagai kunci untuk via, karena entah bagaimana caranya, kenangan itu langsung tergambar jelas di pikirannya.
_Flashback_
Gadis kecil itu, hanya diam menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, sibuk memindahkan barang dari truk ke dalam rumah barunya. Dia mengamati lingkungan barunya, yang nampak asri. Tiba-tiba matanya menangkap dua sosok anak laki-laki yang terlihat sebaya dengannya, salah seorang anak yang nampak manis menghampirinya.
“Hai, kamu orang baru ya ? kenalin aku mario, tapi panggil aja rio” anak tersebut menyodorkan tangannya.
“Iya, namaku sivia, tapi kamu bisa panggil aku via” via membalas tangan anak itu. Tapi matanya langsung tertarik ke anak yang satunya, kulit putihnya terlihat kemerahan, karena terkena panas matahari, anak tersebut tidak menghampiri via, dia sibuk dengan bola sepaknya.
“Dia itu alvin, kakak aku” jelas rio yang ikut melihat ke mana arah pandangan mata via.
“Oh, boleh aku ikut main sama kalian ?”
“Boleh dong. Alvin, kenalin ini sivia, tapi panggil aja via..” alvin menghentikan permainannya sebentar, dia tersenyum sekilas kearah via, lalu kembali sibuk dengan bolanya.
“Maaf ya, dia emang gila bola. Tapi kamu beruntung, dia jarang senyum sama orang baru” jelas rio lagi, via hanya menganggukan kepalanya, dia terus menatap alvin, mengamati setiap gaya yang alvin lakukan.
“Yo, aku mau ke lapangan !” teriak alvin sambil mengiring bolanya.
“Kamu mau ikut enggak ? deket kok lapangannya” tawar rio ke via. Via tersenyum, ia ikut rio berlari mengejar alvin yang telah jauh di depan.
“Gubrakk !”
“Auww..hiks..hiks..” via memegangi lututnya yang berdarah mencium aspal. Rio yang ada di dekatnya langsung menghampiri via.
“Cup..cup..cup..jangan nangis dong vi, aku tiupin ya” rio mulai meniup-niup luka via, membuat via sedikit tersenyum.
“Kenapa dia yo ?” tanya alvin.
“Jatoh terus berdarah deh”
“Perih yo..” ujar via lirih
“Minggir yo” meski bingung tapi rio tetap menuruti permintaan alvin. Alvin segera berjongkok memunggungi via.
“Kamu mau ngapain ?” tanya via heran.
“Kamu harus di obatin, ayo aku gendong sampe rumah kamu” jelas alvin. Via paham dan langsung melingkarkan dua tangannya di pundak alvin.
“Aku berat ya ?”
“Enggak kok, aku kan kuat” dan alvin terus menggendong via hingga rumah via, rio mengiringi mereka berdua, membawakan bolanya alvin.
_Flashbackend_
Via tersenyum sendiri mengingat saat itu, pantas tadi ia merasa de javu, ternyata memang kejadian ini pernah terjadi sebelumnya, entahlah mengapa via bisa sampai melupakan kenangan ini. Ya, semenjak awal pertemuan mereka, via sudah lebih dulu mengagumi alvin.
“Udah inget ?” tanya alvin.
“Hehe, udah kok..”
“Ternyata dari dulu lo enggak berubah ya, tetep ceroboh dan cengeng..” timpal alvin.
“Lo juga enggak berubah, selalu punya cara sendiri buat perhatiin gue” ujar via pelan-pelan, ia tidak ingin suasana yang telah mencair ini menjadi beku kembali. Alvin hanya tersenyum, meski pelan, tapi kata-kata itu terdengar jelas di telinganya, dan langsung merasuk membaur dengan kebahagiaan di hatinya.
“Tik..tik...tik...”
“Gerimis ya ?” via menengadahkan tangannya, untuk merasakan tetes-tetes air hujan.
“Gimana dong vi, gue mulai ragu kalo kita ada di jalan yang bener”
“Hah ? lo serius vin ?”
“Enggak tepat juga kali vi kalo gue harus bercanda sekarang” via diam, dia kembali merasa bersalah. Andai saja ia sedikit lebih berhati-hati dan memperhatikan langkahnya, atau kalaupun ia memang harus terjatuh, ia berharap gps itu tetap utuh dalam genggamannya.
“Maaf vin..”
“Jangan minta maaf lagi, oke ? gue capek dengernya..”
“Maaf..” alvin menoleh sebentar ke via, kemudian ia menghentikan langkahnya, membuat via bingung. Apalagi waktu alvin menurunkannya, apakah ia baru saja melakukan kesalahan lagi ke alvin ?
“Nih pake jaket gue, tambah deres ujannya” ternyata alvin berhenti untuk melepas jaketnya, dan mengulurkannya ke via.
“Eh jangan, gue kan udah pake ini” via menunjuk cardigan yang dipakainya.
“Itu tipis vi, entar lo masuk angin lagi, udah cepetan pake, lo enggak mau pake, gue tinggal nih disini” ancem alvin, yang bikin via enggak bisa ngebantah apa-apa lagi, dia menerima jaket itu dan memakainya, aroma tubuh alvin membuatnya merasa hangat.
“Terus lo enggak apa-apa cuma pakai itu ?” via memperhatikan alvin yang hanya memakai kaos.
“Gue kan kuat, udah ayo kita jalan lagi” alvin menggendong via kembali. Semakin lama, hujan turun semakin deras dan cuaca semakin gelap, tanpa gps, mereka jelas-jelas tahu bahwa mereka berdua ini sedang tersesat sekarang.
“Vin itu ada gubuk disana !” alvin mengalihkan pandangannya ke arah pandangan yang sama dengan via. Alvin tahu sia-sia saja bila ia terus berjalan tanpa arah yang pasti, maka ia pun memutuskan untuk berteduh dulu di gubuk tersebut, apalagi ia juga merasa badan via yang mulai menggigil karena dingin.
“Masih sakit enggak vi ?”
“Enggak kok, udah enggak sesakit tadi”
“Bagus deh. Kok hujannya deres banget ya vi ? pasti rio sama anak-anak yang lain khawatir sama lo deh”
“Mereka juga khawatir sama lo kali vin” koreksi via.
“Haha, kalo rio sih gue masih percaya, kalo yang lain, enggak bakalan lah” via memandang alvin lirih. Laki-laki dengan tampang kusut dan baju basah kuyup itu, tertawa di atas kata-kata yang harusnya ia ucapkan dengan mimik sedih. Ketegaran alvin, adalah hal yang via kagumi sekaligus ia benci dari alvin.
“Vin ini jaket lo, lo pake ya, baju lo basah banget gitu, entar lo demam lagi” bujuk via yang merasa iba.
“Enggak vi, gue lebih tenang kalo lo yang pake itu. Lo capek ya ? mending lo tiduran deh, kayanya ujan kaya gini berhentinya bakal lama, entar kalo udah reda gue pasti bangunin lo”
“Yang ada juga lo kali vin yang capek udah gendong gue, udah jalan sejauh ini, ujan-ujanan lagi. Lo enggak mau tidur ?”
“Kalo gue tidur, siapa yang jagain lo ? udah, gue tahu kok lo ngantuk kan ? cepet tidur..”
“Boleh senderan di bahu lo ?” alvin sedikit terkejut dengan pertanyaan via, tapi ia hanya tersenyum, dan via mengartikan itu sebagai tanda persetujuan. Dia menyenderkan kepalanya di bahu alvin, memejamkan matanya, berharap, ini bukan hanya akan terjadi dalam hitungan jam saja.
“Ma..alvin kangen..”
Via tersentak kaget, ketika ia merasa badan alvin yang menjadi penyangga kepalanya oleng ke kanan.
“Alv...” via yang tadinya berniat pura-pura marah ke alvin karena merasa tidur nyenyaknya terganggu, malah diam menatap alvin. Wajah alvin tanpak pucat, bahkan bibir merahnya tampak putih, kedua tangannya ia dekapkan di atas dadanya dan seperti menggigil. Via meletakkan telapak tangannya di atas dahi alvin.
“Panas banget..” gumam via pelan.
“Ma..alvin kangen...” lagi-lagi alvin mengigau. Via meletakkan kepala alvin di pangkuannya, dia lepaskan jaket alvin dan menjadikannya selimut. Hujan masih tetap saja turun dengan derasnya, seolah tidak peduli akan kesusahan dua anak manusia ini. Via merasa takut, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
“Sakit..sakit pa..ampun..sakit pa..” via tambah merasa miris saja mendengar kata-kata alvin.
“Vin, gue harus apa ?”
“Pa...alvin sayang papa..” setetes air terjatuh dari mata alvin yang sedang terpejam. Via mengusap itu dengan telunjuknya, air matanya ikut mengalir. Kalimat itu terdengar begitu lemah dan menyayat hati, nada yang berbeda dari yang selama ini alvin ucapkan. Anehnya, kata-kata itu terdengar nyata, terdengar tulus dari hati yang paling dalam.
Panas tubuh alvin belum turun juga, dia masih tetap mengigau, memanggil mamanya atau papanya. Via hanya bisa mengusap-usap rambut alvin, jagoan itu benar-benar tampak tak berkutik saat ini. Tertiup angin, via berniat untuk membetulkan letak jaketnya, agar terus menutupi tubuh alvin, tapi entah bagaimana caranya, tangan alvin malah menggenggam tangannya.
“Tolong..jangan pergi..” via tersenyum tipis. Dia membiarkan tangannya tetap dalam genggaman tangan alvin.
Alvin mengucek matanya dengan tangan kirinya, kepalanya terasa sedikit pusing. Dia terhenyak saat mendapati dirinya ada di bawah selimut jaketnya sendiri, kemudian ia mendongak ke atas, dan nampak via yang sedang tidur. Alvin melirik tangan kanannya yang tergenggam erat dengan tangan via, dan sebuah senyum manis merekah di bibirnya. Dengan hati-hati, tanpa melepaskan tangan via, alvin berusaha untuk duduk, tapi ternyata gerakannya tetap saja membangunkan via.
“Alvin, lo udah baikan ?” tanya via langsung saat melihat alvin yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Gue udah enggak apa-apa, makasih ya” ujar alvin tulus.
“Beneran ?” nampak tidak percaya, via memeriksa kening alvin lagi.
“Suer via ! enggak percaya amat..”
“Abis lo kan enggak pernah mau bilang kalo kenapa-napa. Beberapa jam yang lalu, lo baru aja bikin gue takut karena kondisi lo yang tiba-tiba ngedrop gitu”
“Thanks ya udah perhatian sama gue” alvin mengacak-acak rambut via.
“Aduh vin, gue udah enggak sisiran dari tadi, rambut gue udah basah dan lepek, eh sekarang lo malah tambah ngeberantakin rambut gue” komen via sambil berusaha merapikan rambutnya kembali. Alvin cuma nyengir doang denger gerutuan via.
“Karena gue suka elo apa adanya, sivia azizah” via terdiam dengan tangan yang masih berusaha merapikan rambutnya, dia spechless dengan kata-kata alvin barusan. Begitupun dengan alvin, wajah rio langsung terbayang di matanya sesaat setelah kata-kata itu terlontar olehnya, meski hatinya menjadi lega bukan main.
“Vin..”
“Ya ?”
“Masih inget ini ?” via memperlihatkan sesuatu yang tidak disadari oleh alvin dari tadi, sesuatu yang melekat di leher via. Alvin tercekat menatap apa yang via tunjukkan itu, tangannya mencoba merogoh sesuatu di dalam kantong celana jinsnya. Dia mengangkat benda itu di depan mata via, via melepas kalungnya, dan merekatkannya ke gelang alvin.
“Ini punya kita, punya lo sama gue, enggak boleh hilang” ucap mereka berdua bersamaan.
_Flashback_
Anak laki-laki itu terus berlari, dia tidak suka menangis, atau lebih tepatnya dia tidak ingin menangis. Dia berlutut menatap hutan belantara di depannya. Nafasnya tersengal-sengal, dan hatinya begitu perih.
“Alvin..” seorang anak perempuan berdiri di belakangnya.
“Mau ngapain kesini ?” tanya alvin ketus.
“Mau nemenin lo”
“Gue mau sendiri”
“Gue enggak mau tahu, gue cuma mau nemenin lo” via memberanikan diri untuk berdiri di samping alvin. Harusnya hari ini jadi hari yang spesial untuk alvin, karena di umurnya yang baru 11 tahun, ia telah berhasil menjuarai sebuah lomba sepak bola tingkat nasional. Alvin mengira, dengan ini papanya akan berlaku sama ke alvin seperti yang papanya lakukan ke rio. Tapi ternyata perkiraan alvin salah, tanpa alasan yang pasti, papanya malah membentak-bentak ia dengan kasar, dan sama sekali tidak peduli akan kemenangannya.
Dulu saat kakeknya masih hidup, alvin pernah di ajak ke hutan ini. Hutan yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahannya dan Atventhas school. Kata-kata kakeknya yang masih ia ingatlah yang menuntunnya untuk kesini ‘kamu tahu alvin, kenapa kakek bikin hutan ini ? kakek bikin hutan ini, selain karena kakek suka sama alam, alam yang indah dan terjaga juga akan selalu ngasih kita ketenangan yang luar biasa’.
“Tahu darimana gue disini ?”
“Tadi gue lihat elo lari-lari ke arah sini dari dalem mobil, ya udah gue ijin sama mama, gue bilang mau nemenin lo” jelas via, yang tidak mendapat respon dari alvin.
“Kok lo terus-terusan lihatin hutan sih ? ada apa di dalam sana ?” tanya via yang enggak menemukan sesuatu yang istimewa selain daun-daunan rimbun dalam hutan tersebut.
“Gue pengen masuk kesana, kata kakek dulu, alam selalu ngasih kita ketenangan”
“Ya udah ayo masuk, gue temenin”
“Beneran ?”
“Iya, ayo..” via menarik tangan alvin. Mereka berdua melangkahkan kaki mereka ke dalam hutan tersebut, belum terlalu lama berjalan, alvin menghentikan langkahnya.
“Kenapa ?” tanya via heran.
“Jangan ah, gue enggak tahu jalannya, entar kalo kita nyasar gimana ?”
“Ya, enggak seru nih”
“Udah ah, ayo balik..”
“Vin kita tulis nama kita di kulit pohon yuk, biar ada kenang-kenangan” via memungut sebuah batu, untuk memahat namanya dan nama alvin.
“Jangan..” cegah alvin sambil membuang batu yang via pegang.
“Kenapa ?”
“Kalo di coret-coret, jadi enggak indah lagi, kalo udah enggak indah, enggak bakal kasih kita ketenangan” jelas alvin yang bikin via ngangguk-ngangguk.
“Tapi gue mau punya kenangan” rengek via, alvin tampak berpikir, lalu matanya menangkap sebuah potongan kayu, dia segera memungut itu.
“Trek..” alvin mematahkan itu menjadi dua bagian, lalu ia meraih tangan via dan meletakkan sebuah bagian ke dalam tangan via.
“Yang itu buat lo, yang ini buat gue, lihat deh, kalo pas bagian yang gue patahin itu kita satuin, jadi utuh kan” via tersenyum senang, meski benda itu jauh dari kata bagus.
“Kalo gue anggep ini hati lo, dan yang lo pegang hati gue gimana vin ?”
“Apaan sih lo vi ? kebanyakan nonton sinetron deh” cibir alvin.
“Gue serius, gue pengen selamanya sama lo terus, lo enggak boleh pergi kemana-mana, karena kalo lo pergi, nanti ini enggak bisa utuh lagi”
“Iya gue janji enggak akan kemana-mana”
“Bener ya ?” via menyodorkan jari kelingkingnya, dan alvin mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking via.
“Ini punya kita, punya lo sama gue, enggak boleh hilang” ujar mereka berdua bersamaan tanpa di rencanakan, mereka berdua lalu tertawa bersama.
_Flashbackend_
“Gue kira lo udah lupa sama ini vin”
“Gue langsung jadiin ini gelang setelah kita pulang dari hutan”
“Gue juga langsung jadiin ini kalung setelah itu vin” mereka berdua bertatap-tatapan, lalu sama-sama mengalihkan pandangan mereka.
“Apa janji itu masih berlaku vin ?”
“Gue masih disini vi ? enggak kemana-mana” ujar alvin sambil tersenyum
“Gue ngerahasiain ini dari rio, dia enggak tahu apa-apa tentang ini”
“Dia enggak perlu tahu tentang ini vi, jangan..”ada nada memohon di kalimat alvin, via hanya tersenyum getir, dia sendiri enggak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya ke rio. Alvin memandangi via, mengapa semua ini baru terbuka sekarang ? mengapa semua baru di perjelas sekarang ? di saat alvin sedang berusaha tersenyum untuk via, untuk kebahagiaan rio dan via.
“Vi..gue....”
“Ya ampun kalian disini ! kamu enggak apa-apa kan vi ?” kata-kata alvin terpotong, oleh rio yang masuk tiba-tiba bersama beberapa orang guru dan tim sar. Rio langsung memeluk via, mau tidak mau via membalas pelukan itu, tapi matanya menoleh ke alvin.
“Dia baik-baik aja yo, tenang aja..” ucap alvin sambil berusaha tersenyum.
“Makasih ya vin, satu-satunya yang bikin gue sedikit tenang, adalah, karena gue tahu, via hilangnya sama lo, dan gue percaya banget, lo bisa gue andelin buat ngejagain via” rio menepuk-nepuk pundak alvin. Tanpa rio sadari, ada dua orang yang sedang berusaha tersenyum disitu. Berusaha menutupi perasaan bersalah mereka masing-masing, berusaha menyembunyikan sebuah fakta akan isi hati yang baru saja terkuak perlahan dengan caranya yang tidak dapat di tebak.
***
Sambil menengguk air dalam botol minumannya, rio memandang sekelilingnya. Sebuah lapangan basket indoor, tempat dimana rio suka menghabiskan waktunya. Dia menatap ke arah ring basket, saksi bisu dari setiap tembakan spektakulernya. Lalu dia melangkahkan kakinya ke ruang ganti pemain, dia menatap loker teman-teman setimnya satu persatu, menatap foto-foto kemenangan mereka, menatap foto-foto teman-temannya yang sedang merayakan kemenangan mereka, sesuatu hal yang sering rio lewatkan.
Dia duduk di bangku pemain, masih terngiang jelas di telinganya, apa yang tadi dia dengar. Pembicaraan yang tidak sengaja mampir ke telinganya, dan terasa pedih di hatinya.
_Flashaback_
Rio berniat mengambil beberapa buku catatannya dari dalam lokernya. Ketika terdengar kasak-kusuk dari ujung lorong. Rio yang penasaran berniat menghampiri sekelompok murid yang ada di ujung lorong tersebut. Tapi langkahnya terhenti, ketika ia mendengar namanya di sebut-sebut.
“Gue heran deh, kok si rio itu bisa tetep jadi kapten basket ya ?”
“Iya, padahalkan dia latihan aja jarang banget, main juga kalo ada pertandingan doang !”
“Betul ! oke, gue akuin permainannya dia emang hebat, tapi kapten apaan kaya gitu !”
“Ya, maklumlah, gitu-gitu sekolah ini punya kakeknya, jadi suka-suka dialah mau kaya apa”
“Tapi harusnya pelatih juga objektif dong ! masih ada yang lain, yang kalopun mainnya kalah sama dia, tapi seenggaknya punya waktu buat tim, dia sih apaan !”
“Setuju tuh gue !”
_Flashbackend_
Dan sekarang suara-suara itu terus saja mendominasi pikiran rio. Tanpa sempat melihat siapa yang sedang membicarakannya, rio langsung pergi begitu saja. Seandainya dia bisa bersikap tidak peduli akan hal seperti itu, tapi sayangnya, semua yang ia dengar itu memang benar apa adanya, sehingga membuat ia terus saja memikirkan hal-hal itu.
Basket adalah hidupnya buat rio. Meski ia bahkan harus mencuri waktu, hanya untuk mendribel bolanya. Ini semua bukan keinginannya, tapi kewajiban-kewajiban yang telah di bebankan padanyalah yang membuat ia harus melepaskan sedikit kesukaannya. Mulai dari rapat osis, rapat dengan guru, hingga mengikuti rapat papanya, membuat rio harus mengalihkan waktunya dari basket.
Setelah merasa cukup puas bermain sendiri, rio memutuskan untuk keluar dari lapangan basket itu. Dia berjalan gontai ke arah parkiran, menjalankan mobilnya, menuju suatu tempat yang akhir-akhir ini juga sering terabaikan olehnya.
“Pa..” rio mengusap nisan berbahan dasar marmer putih di hadapannya tersebut.
“Maaf rio udah jarang kesini, papa pasti bisa ngertiin rio kan ? pa, rio kangen..” dia area pemakaman yang luas itu, hanya ada rio dan beberapa orang di kejauhan, membuat suasana sepi sangat terasa.
“Kalo papa masih hidup, apa papa bakal ngelakuin hal yang sama ke rio sekarang ? apa papa bakal bikin rio jadi sempurna, walaupun rio enggak nyaman sama hal ini. Bener kata temen-temen rio, rio enggak pantes jadi kapten, rio enggak pernah dateng latihan, enggak pernah ada di tengah-tengah tim, rio terlalu sibuk sama dunia rio....”
Rio berhenti sejenak, ia menatap makam itu sebentar. Rio tidak tahu menahu tentang papanya, menurut cerita mamanya, papanya meninggal hanya beberapa bulan sebelum rio di lahirkan. Hal itu membuat rio, hanya mengenal sosok papanya dari foto dan cerita mamanya saja. Hal itu juga yang membuat rio, sangat menghormati papanya yang sekarang, orang yang telah merawatnya sejak ia kecil dan membimbingnya menjadi laki-laki dewasa.
“Rio cuma enggak mau di cap jadi anak durhaka, gimanapun, walaupun dia bukan papa kandung rio, tapi papalah yang udah ngajarin rio banyak hal, rio enggak mau sampe nyusahin papa dan ngecewain mama”
“Pa, rio pamit, udah sore, rio janji bakal lebih sering kesini ketemu papa”
Akhir-akhir ini, suasana hati alvin, secerah matahari yang bersinar terang sore ini. Sejak kejadian tempo hari, tersesatnya ia di hutan berdua bersama via, alvin memang jadi lebih banyak tersenyum. Membuat beberapa orang sekelilingnya bingung, dengan perubahan energi positifnya itu. Seperti sore ini, entah kesambet angin apa, alvin dengan sukarela, menyirami tanaman mamanya di depan rumah. Membuat pembantu dan satpam di rumahnya sampe geleng-geleng kepala sendiri.
“Woi bro, dari mana aja lo ?” sapa alvin saat melihat rio baru kelur dari mobilnya. Satu lagi perubahan alvin, dia sudah ada di rumah, padahal ini baru jam 4 sore.
Rio melirik ke arah alvin, sedikit kaget melihat alvin sedang menyirami tanaman, tapi ia hanya tersenyum tipis “ gue masuk ya vin” ujar rio pelan. Alvin meletakkan selang air yang ia pegang, dia ngekorin rio ke dalam kamarnya, dia bisa menebak bahwa rio sedang ada masalah.
“Sejak kapan lo disini ?!”
“Sejak tadi, sejak lo masuk ke kamar ini, sampe pas lo masuk kamar mandi juga gue udah duduk disini” jelas alvin santai.
“Perasaan tadi gue ngelihat lo lagi nyirem tanaman di depan ?”
“Buset deh ! lo kenapa yo ? lo beneran enggak sadar gue ikutin dari tadi ?” rio menggeleng lemah, menjawab pertanyaan alvin. Dia duduk di samping alvin.
“Ada masalah ya ? cerita dong ke gue, enggak asik banget di simpen sendiri” bujuk alvin.
“Enggak apa-apa kok, gue cuma cape aja”
“Cape ngapain ? nguli dimana emangnya lo ?” alvin mencoba bercanda untuk sedikit memberi senyum di wajah muram rio.
“Di pasar” jawab rio sekenanya. Alvin menatap rio, tampaknya saudaranya itu benar-benar ada masalah saat ini.
“Perlu gue omongin ke bokap, biar dia enggak usah nyuruh-nyuruh lo lagu buat nurutin semua permintaannya dia” gantian rio yang menatap alvin.
“Jangan, entar yang ada ujung-ujungnya lo berdua berantem lagi. Lagian bukan gara-gara itu kok..”
“Terus ?”
“Basket”
“Kenapa ?”
“Gue mau mundur jadi kapten basket” alvin membelalakan matanya, dia tahu banget kalo cintanya rio ke basket enggak ada bedanya sama cintanya alvin ke bola.
“Lo kepentok apaan ? ada apaan sih ? gue enggak ngerti deh”
“Gue udah mutusin buat mundur jadi kapten, besok gue mau bilang ke pelatih, gue mau ngun...”
“Stop ! gue mau denger alasan lo mau berhenti karena apa”
“Gue enggak pantes jadi kapten basket”
“Sadar dong rio, siapa lagi yang pantes jadi kapten kalo bukan elo ?! semua juga pasti setuju sama gue, kalo enggak akan ada yang ngalahin permainan lo main basket, jangan gila dong lo !”
“Mana ada sih vin kapten basket kaya gue ?! jarang latihan, enggak pernah ikut kumpul, suka ilang sendiri, susah bagi waktu ! mana ada ?!”
“Tapi semua orang kan juga tahu, kalo jabatan lo itu dobel-dobel di sekolah, mereka pasti ngertilah apa alasan lo ! lo itu pinter rio, jadi please jangan sedangkal ini !”
“Kalo mereka tahu, mereka enggak bakal ngomongin gue di belakang gue !!” rio menutup mulutnya sendiri. Dia kelepasan ngomong, padahal dia udah mewanti-wanti dirinya sendiri, supaya alvin tidak mengetahui ini. Semenjak mereka kecil, alvin tidak pernah tinggal diam bila melihat rio kesusahan sedikitpun.
“Siapa yang ngomongin elo enggak pantes jadi kapten ?! siapa ?!”
“Enggak penting vin, toh apa yang mereka omongin bener kan”
“Penting ! gue harus tahu siapa yang udah jadi pengecut ngomongin lo kaya gitu ! apa hak mereka bisa ngejudge lo kaya gitu !”
“Gue enggak mikirin itu kok vin, santai aja”
“Enggak mikirin ? eh, kalo lo enggak mikirin, kenapa lo pengen berhenti jadi kapten basket, kalo lo enggak mikirin, lo harusnya enggak perlu jadi down kaya gini !” rio diam tidak berkutik, dia enggak bisa ngebantah kata-kata alvin lagi.
“Vin, gue tahu maksud lo baik, gue tahu banget, tapi gue mohon banget, biarin gue selesein ini pake cara gue sendiri, biarin gue selesein ini sendiri, gue enggak mau ngelibatin lo atau siapapun, gue udah gede vin, lo harus percaya sama gue” tanpa memandang alvin, rio berkata demikian.
Alvin memandang rio, dia emang enggak suka kalo orang-orang terdekatnya terusik hidupnya. “Ya elo bener yo, udah saatnya gue enggak nyampurin urusan lo, gue percaya sama lo. Pesen gue cuma, daripada lo kemakan omongan mereka, mending lo buktiin ke mereka kehebatan lo” sambil menepuk-nepuk pundak rio, alvin lantas berlalu meninggalkan rio, yang sedang meresapi kata-katanya.
***
Via menatap dua orang laki-laki yang duduk di hadapannya, alvin dan rio. Sudah lama mereka tidak pergi bertiga seperti ini, dan entah mengapa, tiba-tiba saja alvin mengajak mereka untuk pergi bertiga. Rio menggenggam lembut jari jemari via, dan itu membuat via risih karena ada alvin disitu, meski alvin berlaku seolah ia tidak peduli.
“Eh, toilet bentar ya..” ujar rio tiba-tiba, meninggalkan via dan alvin berdua.
“Vin, lo kenapa ngadain acara kaya gini ?” tanya via langsung.
“Kenapa ? ya enggak apa-apalah, gue cuma mau lo hibur rio, dia lagi tertekan sekarang” jelas alvin tanpa menatap via.
“Tapi..”
“Tapi apa vi ? lo enggak nyaman sama gue disini, emang kita ada hubungan apa ? emang gue selingkuhan lo ?” pertanyaaan bertubi-tubi dari alvin terasa telak untuk via. Alvin mengutuk kata-katanya barusan, dia bingung, kenapa dia jadi jutek lagi ke via. Dia mencoba menatap via, yang masih tampak shock dengan kata-katanya.
“Maaf vi, maksud gue, apapun yang kita rasain, sedalam apapun kenangan yang ngikat hati kita, lo punya rio sekarang, dan rio jauh lebih butuh lo saat ini, dia lagi butuh support dari orang yang dia sayang, dan orang itu elo” jelas alvin, via tahu alvin benar, tapi semakin hari, apalagi semenjak ia tahu, bahwa alvin juga masih menyimpan semua kenangan mereka, via semakin ragu akan hatinya untuk rio.
“Iya vin, gue tahu..” jawab via lirih, bisakah ia memutar waktu. Tidak mungkin baginya untuk memberhentikan ini semua sekarang, terlalu banyak yang akan sakit, meski ia tahu, kebohongan yang menumpuk tidak akan menuai hasil yang baik.
Alvin hanya tersenyum, bohong bila hatinya tidak merasa panas melihat rio dan via. Tapi alvin tahu diri, ia yang telah memberi jalan untuk rio bersama via, ia yang telah melepaskan via begitu saja, tak pantas untuknya sekarang, bila harus merebut via begitu saja dari rio.
***
Tidak ada suara yang tercipta di antara mereka, hanya terdengar goresan pensil yang beradu dengan kertas. Laki-laki itu menatap sendu ke arah perempuan yang sedang menulis tersebut.
“Gue tahu gue salah, gue tahu. Lo boleh pacaran sama cakka”
Acha yang dari tadi sengaja menyibukkan dirinya dengan menulis saat melihat alvin memasuki kamarnya, mulai menoleh ke arah alvin.
“Kenapa ?”
“Karena gue enggak mau kehilangan lo” acha menatap kakaknya heran. Di banding dengan rio yang sibuk, acha memang lebih sering menghabiskan waktunya bersama alvin.
“Maksud kakak apa ?”
Alvin memegang pundak acha, memaksa acha menatap matanya “Lo tahu kan cha, posisi gue di rumah ini. Seorang anak yang enggak di harepin...”
Acha melihat mata alvin lirih, ia tidak mengerti maksud pembicaraan alvin, dia hanya diam berusaha mendengarkan.
“Enggak selamanya mama bisa belain gue, gue juga enggak mau mama terus-terusan dimarahin papa cuma karena belain gue, rio, lo tahu sendirilah betapa sibuknya dia, cuma elo cha, gue bisa dapet perhatian utuh. Elo yang selalu obatin gue kalo gue pulang dalam keadaan babak belur, lo yang selalu berusaha ngeredam amarah saat gue, kalo gue lagi berantem sama papa...” alvin diam sesaat, acha sengaja tidak mau memberikan tanggapan, ia ingin alvin menyelesaikan semuanya dulu.
“Gue tahu, sekarang gue egois banget, childish banget, tapi kalo lo mau tahu, gue takut cha, gue takut kehilangan satu-satunya perhatian yang utuh buat gue, gue enggak siap kalo elo juga harus ngebagi perhatian elo ke gue sama cakka, gue jealous sama cakka, gue takut kehilangan perhatian, enggak banyak yang perhatian sama gue, dan sekarang, satu persatu semua mulai punya kepentingan masing-masing buat lebih di perhatiin..”
“Kak alvin, jangan bilang kaya gitu, gue enggak akan pernah berhenti merhatiin lo, gue sayang sama elo kak” acha memeluk alvin, ia tidak menyangka kakaknya yang tampak tidak pernah peduli pada orang lain itu, sebegitu takutnya kehilangan perhatian dari orang-orang sekitarnya, air mata acha turun perlahan, ia jadi merasa bersalah telah mendiamkan kakaknya.
“Ya cha, jangan nangis dong..” alvin menghapuskan air mata acha dengan ujung jarinya, acha berusaha tersenyum.
“Gue janji kak, gue enggak akan bikin kakak ngerasa tersisish, gue janji, jadi sekarang kakak ijinin gue sama kak cakka kan ?”
“Iya cha, entar biar gue yang bilang ke cakka, gue suruh dia cepet-cepet nembak lo ya..hehehe...” goda alvin.
“Boleh tuh kak, ide bagus banget dah !” ujar acha semangat.
“Yee, elo ginian aja semangat banget ! awas aja sampe entar nilai ujian lo jelek, gue cabut ijinnya” kata alvin sambil mengacak-acak rambut acha.
“Oke kak, gue jamin gue bakal jadi juara di sekolah !” acha hormat ke arah alvin.
“Iya dong, jangan jadi kaya gue, jadi kaya rio aja”
“Sip-sip, kakak sendiri ya yang minta. Kak, hubungan lo sama kak via gimana ?”
“Enggak gimana-gimana, emang kenapa ?”
“Gue tahu kok, cara kakak mandang kak via itu beda, kakak sayang kan sama kak via ?”
“Apa sih anak kecil, mau tahu aja..”
“Gue emang tahu kak, kakak itu kalo udah perhatian sama orang beda tahu enggak. Gue salut sama lo kak, lo berjiwa besar banget ngelihat kak rio sama kak via, gue bangga” alvin hanya tersenyum. Dia jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, apa benar dia berjiwa besar melihat via dan rio bersama.
“Ya udah, kalo lo emang tahu, enggak usah ember ya, apalagi ke rio, dia udah bahagia sama via, udah cukup buat gue”
“RIO !!” tiba-tiba terdengar suara teriakan papanya dari ruang tengah rumah mereka, acha dan alvin tentu saja langsung keluar ke arah sumber suara, mereka bingung melihat papanya dan rio sedang berdiri di tengahi oleh mama mereka.
“Ada apa ma ?” tanya acha pelan.
“Ah, pasti kamu ! pasti kamu yang udah pengaruhin rio buat lebih milih basket kan !” tiba-tiba papanya mengalihkan perhatiannya ke alvin.
“Bukan alvin pa ! ini semua mau rio, rio kan cuma mau papa ngasih rio sedikit kelonggaran buat main basket ! rio cuma butuh lebih banyak waktu buat ngumpul sama temen-temen rio !” alvin kaget, tidak pernah selama ini rio berbicara dengan nada kerasa seperti ini ke papa mereka.
“Buat apa ?! kamu itu udah jago basket, tanpa latihan juga kamu bakal menang !”
“Bisa enggak sih anda menghargai sedikit pendapat anak anda !”
“Diam kamu, papa sedang bicara dengan rio, bukan kamu alvin !”
“Apa ? anda heran kenapa rio yang biasanya nurut jadi seperti ini ?! dia lagi nuntut sedikit haknya, setelah selama ini dia ngelakuin semua yang anda perintahkan, semua !”
“Diam kamu alvin !!”
“Kenapa gue harus diam ?! gue punya mulut dan suka-suka gue mau ngomong apa ?!”
“PLAKK !” sebuah tamparan keras sukses mendarat di pipi alvin. Mamanya langsung menenangkan papanya, sementara rio dan acha menghampiri alvin.
“Papa harap kamu enggak terpengaruh sama dia rio, kita bicarakan ini lagi nanti !” ujar papanya tegas sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga.
“Vin, harusnya lo enggak belain gue, harusnya gue aja yang tadi di tampar” ucap rio penuh sesal.
“Kalo gue sih mau di tampar kaya apa juga udah enggak kebal yo, santai aja..”
“Kak alvin enggak apa-apa ?”
“Ya elah cha, ini sih emang hobi papa ke gue..hahaha..enggak usah pada lebai gitu deh” alvin malah nyengir-nyengir, padahal rio sama acha ngenes lihat pipi putih alvin ada cap lima jarinya.
“Gue mau cari angin di luar dulu ya, bilangin ke mama atau bibi jangan kunci pintu depan, mungkin gue pulang malem” lanjut alvin lagi.
“Mau kemana ? perlu gue temenin ?” tawar rio.
“Ampun deh yo, gue bukan anak lima tahun kali, lo kenapa dah jadi gini amat, kaya gue pertama kalinya pulang malem aja” ujar alvin sambil menepuk-nepuk pundak rio dan tersenyum ke acha.
Angin berhembus di sekelilingnya, sekencang alvin memacu motornya. Sesungguhnya ia lelah, lelah dengan hubungannya yang tidak kunjung membaik dengan papanya. Lelah berharap papanya akan berubah suatu saat nanti. Alvin sudah lupa caranya menjadi anak baik, lupa caranya menjadi anak baik untuk papanya.
Dia memberhentikan motornya, ketika ia merasa melihat seseorang yang di kenalnya sedang berjalan sendirian di gelapnya malam, alvin memelankan laju motornya, membuka kaca helmnya.
“Ngapain lo disini ?”
“Alvin ?”
“Diturunin riko lagi di pinggir jalan ?” orang yang tak lain adalah zeva itu, hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.
“Naik gih..” perintah alvin. Tanpa banyak bertanya, zeva langsung naik ke atas motor alvin. Dari kaca spion, alvin bisa melihat kemuraman wajah zeva, entah mengapa, alvin menemukan sebuah kenyamanan sebagai sahabat saat ia bersama zeva.
“Ini dimana vin ?”
“Yee, elo sih ngelamun mulu, sampe enggak nyadar kan gue enggak nganterin lo pulang”
“Dimana sih ini ? lo jangan macem-macem deh vin !”
“Udah sini lo ikut gue dulu, baru komentar !” alvin menarik tangan zeva, zeva hanya bisa pasrah. Tapi kemudian ia menatap takjub pemandangan di depannya. Sebuah danau penuh ketenangan dengan pohon-pohon di sekitarnya, tempat yang sepi tapi tidak terasa menyeramkan, tempat yang cocok untuk menyendiri.
“Bagus banget vin”
“Iya dong ! disini tempat gue suka sendirian...”
“Kenapa lo ajak gue kesini ?” tanya zeva bingung.
“Ya mungkin lo lagi butuh ketenangan” jawab alvin cuek, zeva hanya tersenyum.
“Gue enggak akan nyerah vin, enggak akan, gue bakal selalu sayang sama riko, gue enggak akan peduli sama apa yang dia lakuin ke gue, gue bakal selalu nemenin dia kemanapun, gue bakal selalu ada buat dia, gue enggak akan berhenti, gue enggak mau berhenti...” ujar zeva lirih, untuk pertama kalinya, alvin melihat zeva menjadi rapuh, air matanya mengalir deras.
“Lo diapain lagi sama dia ?”
“Gue juga enggak tahu, gue cuma bilang ke dia jangan berantem lagi, tapi dia langsung marah-marah, dia nampar gue, dia maksa gue turun dari mobilnya..”
“Kok lo bego banget sih jadi cewek ?!”
“Iya, lo bener, gue emang bego banget, gue udah mati rasa...gue enggak tahu lagi harus gimana..”
“Udah-udah, jangan nangis lagi ! entar dikira gue lagi yang nangisin lo, udah apus air mata lo !”
Zeva tersenyum ke alvin, dia menghapus butir-butir air matanya. Lalu mereka berdua duduk di pinggir danau. Hanya duduk, tanpa melakukan apapun, hanya berdiam diri, tanpa ada kata yang terucap.
“A..alvin..”
Alvin dan zeva kompak menoleh ke arah belakang ketika ada suara yang memanggil nama alvin. Alangkah terkejutnya alvin melihat siapa yang sedang berdiri diam di tempatnya, menatapnya lirih, penuh tanya, sementara zeva yang tidak mengerti apa-apa hanya berusaha tersenyum ramah.
“Maaf ganggu !!”
“Vi..via tunggu !!” alvin ingin menyusul via, tapi melihat via yang berlari semakin menjauh, malah membuat alvin mengurungkan niatnya, dia hanya menatap punggung via ‘harusnya lo enggak perlu kaya gini vi, gue bukan siapa-siapa lo’ batin alvin lirih, ia kembali ke tempat zeva menantinya.
“Maaf vin, itu cewek lo ya ?”
“Bukan dia ceweknya saudara gue” jawab alvin pelan. Zeva diam, meski alvin terlihat jujur, tapi zeva jelas merasa ada ikatan kuat antara alvin dan via.
***
Hanya ada dia disini seorang diri, karena mungkin memang cuma alvin yang berani cabut dari jam pelajaran, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di taman sekolah, berdua dengan sketch booknya.
Dengan gambarnya, alvin selalu bisa menuangkan apa yang ia rasakan. Tidak ada yang pernah tahu ia suka menggambar, tidak pernah ia memberi tahu siapapun tentang kemampuannya menggambar. Ia menyimpan kemampuaannya sendiri, menikmatinya sendiri, entah untuk alasan apa, yang jelas alvin hanya ingin ia dan sektch booknya saja yang tahu tentang ini.
Menurut omanya, dulu mamanya juga suka menggambar. Ada beberapa hasil dari gambar mamanya yang alvin miliki dan ia pajang di kamarnya. Setidaknya ia tahu, ada satu benang merah yang menghubungkan ia dengan mamanya, ketrampilan mereka menggores pensil membentuk sebuah keindahan.
“Bro..” alvin langsung menutup sketch booknya ketika ada tangan yang menepuk pundaknya.
“Hmm”
“Sori ganggu, gue mau nanya, itu..ehm..bener elo...”
“Iya cak, gue udah restuin lo sama acha” potong alvin karena gemes sendiri melihat cakka bertele-tele.
“Makasih ya, gue janji, gue bakal ngejagain dia”
“Iya gue tahu”
“Dan elo mesti tahu vin, gue ini sahabat lo, gue sama acha enggak akan pernah lupain elo, kita bakal selalu ada buat lo” cakka tidak berani menatap alvin, ia takut alvin sedikit tersinggung dengan ucapannya.
“Thanks cak..” di luar dugaannya, alvin malah memeluk dan menepuk-nepuk pundak cakka.
“Sori kalo akhir-akhir ini gue jaga jarak sama lo, gue cuma bingung aja, gue harus gimana sama lo”
“Gue yang harusnya minta maaf, gue udah egois, gue udah mau menang sendiri” ujar alvin tulus.
“Rasa egois itu wajar kok, lagipula lo udah terlalu sering ngalah” alvin menatap cakka penuh tanya.
“Iya elo itu terlalu sering ngalah, mungkin semua orang bisa bilang kalo seorang alvin jonathan, orang yang selalu pake kekerasan, orang yang selalu ngelanggar aturan, orang yang selalu enggak peduli sama orang lain. Tapi itu semua karena mereka enggak kenal sama lo, mereka enggak tahu kan apa yang lo rasain, apa yang lo alamin setiap hari, gimana lo harus selalu ngalah sama keadaan, gimana keadaan enggak pernah berpihak sama lo..” cakka sendiri tidak mengerti mengapa ia sampai berani berkata demikian ke alvin, Sementara alvin tetap diam dalam kebisuannya, dia hanya mendengarkan kata-kata cakka.
“Kita satu sekolah dari smp, gue orang yang lo ajarin berantem, gue orang yang selalu ada saat lo berantem dan gue juga orang yang selalu lo belain saat gue kalah. Lo enggak pernah egois, lo jelas-jelas sadar kalo lo pantes dapet lebih dari apa yang harusnya lo dapet, lo enggak pernah maksain hati lo, lo enggak pernah mau orang lain sakit karena perbuatan lo, lo enggak pernah egois alvin..” cakka terus melanjutkan kata-katanya, ia harus mengungkapkan semuanya, ia tidak suka alvin terus bersembunyi di balik kekokohan hatinya.
“Enggak ada yang pantes di banggain dari gue cak, apa sih gue ? bokap gue aja enggak pernah mau sedikit peduli sama gue, guru-guru udah bosen kali ngasih gue detensi, paling cuma dari futsal nama gue sedikit harum, tapi selebihnya gue selalu ngecewain semua orang”
“Gue ! gue bangga sama lo ! lo tahu, kalo gue ada di posisi lo, mungkin gue enggak akan pernah terima sama posisi gue, selalu di nomor duain, selalu di banding-bandingin sama rio, lo hebat vin, tapi lebih hebat lagi kalo lo jujur sama perasaan lo !”
“Gue kadang malah kasian sama rio, dia enggak bisa sebebas gue. Oke, gue bohong banget kalo gue bilang, gue enggak pernah iri sama dia, tapi bukan berarti gue bakal sanggup jalanin hidup gue kaya dia. Rio itu rio dan gue itu gue”
“Gue suka sama hubungan lo berdua, akrab, akur, saling support, tapi gue cuma pengen lo lebih jujur sama perasaan lo, biar enggak cuma gue atau orang di sekitar lo doang yang tahu elo yang sebenernya, biar orang tahu aslinya lo kaya apa”
“Makasih cak buat perhatian lo, tapi gue masih nyaman sama apa yang lagi gue jalanin sekarang” ujar alvin sambil tersenyum, cakka sudah tahu itu artinya ia sudah tidak bisa lagi memberikan argumennya ke alvin.
“Ya gue cuma mau yang terbaik buat elo doang kok” balas cakka sambil tersenyum juga.
“Eh lo cabut juga ?”
“Iyalah, lagian emang gue enggak pernah akur sama math..hehe...” kata cakka sambil cengengesan.
“Mantep bro !” ucap alvin sambil memberikan tosnya ke cakka. Lantas mereka berdua mulai membicarakan hal-hal yang tidak penting, tentang musuh-musuh mereka, tentang jadwal-jadwal berantem mereka.
Via tidak benar-benar memperhatikan penjelasan gurunya, ia sibuk dengan buku catatannya yang ia coret-coret dari tadi. Tentang kegundahannya, tentang perasaannya yang tidak menentu.
Gue kenapa sih ? masa iya gue jealous sama dia ! emang gue siapanya dia coba ?! cewek itu siapa sih ? kenapa gue udah dua kali ngelihat dia sama cewek itu ! aduh sivia ! jangan gila dong ! lo enggak boleh jealous sama dia ! lo itu udah punya cowok ! kalo lo mau jealous ya jealous sama cowok lo lah ! arghh !!
“Sivia !” via tersentak kaget, ia langsung menutup buku catatannya, dan memberanikan diri menatap gurunya.
“A..apa bu ?”
“Silahkan kamu bacakan puisi bikinan kamu di depan kelas” via tersenyum tipis. Daritadi ia jelas-jelas tidak melaksanakan perintah gurunya untuk membuat puisi. Percuma untuknya melawan, via pun memutuskan untuk maju ke depan kelas.
“Lho, mana teks kamu ?” tanya gurunya lagi.
“Ehm,,enggak pake bu, saya enggak pake teks..”
“Oh ya udah, silahkan..”
Via menelan ludahnya sendiri, dia memejamkan matanya sebentar mencoba mencari inspirasi dadakan.
Harusnya aku menyadari ini sejak awal
Tentang aku, tentang kamu, tentang kita
Perasaan yang telah mengikat kita
Hati yang telah disatukan dalam kenangan
Bukan aku melupakannya
Bukan aku mengingkarinya
Hanya kamu yang tiba-tiba menjauh
Seolah meninggalkan aku
Kini kamu kembali
Dan waktu tak dapat ku putar
Aku telah salah menyusuri jalan
Langkahku telah tertuju bukan padamu
Egokah aku
Bila aku ingin kamu tetap disini
Aku tak bisa melihatmu
Tersenyum bersamanya
Maafkan aku
Tolong jangan pergi
Temani aku disini
Aku hanya ingin kamu
“Prokk...prokk..prokk..” tepuk tangan bergemuruh untuk via, via hanya tersenyum. Kata-kata tadi terlontar begitu saja, tanpa rencana. Via kembali ke tempat duduknya, tapi sepasang mata menatapnya penuh tanya. Entahlah hanya ia yang sadar atau ia yang terlalu peka, yang jelas orang itu merasa ada yang aneh dengan puisi yang di bawakan via, puisi itu terasa jujur dari dalam hati, bukan hanya sekedar sebuah spontanitas.
***
Tangannya lincah menari di atas keypad laptopnya, tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya yang telah sepi. Shilla terus menulis, menumpahkan segala yang ia rasa ke dalam tulisannya.
“Kok belum pulang shil ?”
“Rio ? iya nih, lagi pengen aja disini, di apartement juga sepi”
“Nulis apa shil ?” rio duduk di samping shilla membuat degup jantung shilla bergerak lebih cepat.
“Iseng aja kok...” ujar shilla sambil tersenyum tipis, rio yang penasaran menarik laptop shilla, ia membaca apa yang ada disitu
“Ini cerita ya shil ? lo suka nulis ? kirim aja shil jadiin novel, kayanya bagus deh” lagi-lagi shilla hanya tersenyum tipis.
“Enggaklah yo, gue cuma suka nulis, enggak suka di publikasi. Eh iya kok lo masih disini, enggak balik sama via ?” tanya shilla mengalihkan pembicaraan.
“Via tadi di jemput mamanya, mau langsung pergi gitu. Shil, kok gue enggak tahu apa-apa tentang lo ya, baru sadar kalo selama ini gue sering cerita ke elo tapi elo enggak pernah cerita apa-apa ke gue, tadi lo bilang lo tinggal di apartemen ?”
“Iya gue tinggal di apartement yo biar lebih cepet ke sekolah. Lo tahu sendirilah jakarta macet banget, bisa telat setiap hari gue...hehe..”
“Terus lo tinggal sendiri ?”
“Iyalah, paling gue pulang pas weekend ke rumah, tapi sekarang lagi ada adek gue, dia sekolah di aussie, dan lagi libur panjang” jelas shilla lagi.
“Hmm, enak ya kayanya...” desah rio pelan
“Hah ? apa yo ?”
“Ah enggak kok enggak”
“Apa ? udah tahu gue peka, lo mau bisik-bisik juga gue denger tahu enggak, cerita dong sama gue” bujuk shilla ke rio. Rio menatap shilla, gadis cantik di depannya itu terlihat begitu tulus ingin mendengar ceritanya.
“Semalem gue berantem sama bokap gue” ujar rio lirih, shilla terlihat serius menatap rio.
“Kenapa ?”
“Gue minta ke bokap gue buat ngasih gue kelonggaran, gue pengen bokap gue juga tahu kalo misalnya gue butuh juga waktu untuk kesenangan gue. Enggak selamanya dia bisa ngatur hidup gue shil, gue punya hidup sendiri, gue punya hobby, bokap gue enggak berhak ngelarang gue main basket, enggak berhak..” shilla mendengarkan cerita rio dengan cermat, ia mencelos bagaimana bisa nasibnya dan rio hampir sama.
“Lo enggak boleh gitu juga yo, bokap lo juga pasti pengen yang terbaik buat lo, bokap lo milih elo karena bokap lo percaya kalo lo enggak bakal ngecewain dia. Oke, mungkin caranya salah, mungkin harusnya dia enggak perlu maksain kehendaknya, tapi selalu ada alasan kan di balik semuanya” shilla tersenyum penuh pengertian ke rio, meski diam-diam hatinya teriris pedih mengatakan hal seperti itu.
“Kalo kaya gini terus-terusan, gue mungkin harus ninggalin basket kali shil..”
“Lo mau mundur jadi kapten basket ?”
“Iya, alvin sih enggak setuju, dia ngeyakinin gue kalo gue bisa jalanin semua tanggung jawab gue, tapi gue sendiri enggak yakin, gue enggak tahu apa yang gue jalanin ini emang bener-bener buat kebaikan gue atau buat kebaikan bokap gue”
“Yo, lo itu hebat, enggak ada yang bisa ngalahin lo. Coba deh lo inget, udah bukan sehari dua hari kan lo jalanin ini semua, lo udah jalanin ini semua hampir seluruh kehidupan lo, dan elo berhasil kan, lo enggak pernah kecewain siapapun, jadi buat apa sekarang lo berhenti, lo harus tetep maju, buktiin kalo lo bisa !” dengan menggebu-gebu shilla menyemangati rio, dia tidak ingin melihat orang yang selalu memberinya tambahan semangat ini, kehilangan rasa percaya dirinya.
“Iya shil gue tahu, gue bakal berusaha untuk enggak ngecewain siapapun, makasih ya, lo emang selalu bisa di andelin untuk hal kaya gini, beruntung gue banget bisa kenal dan punya temen kaya lo” entah bagaimana, rio reflek mengacak-acak rambut shilla, yang membuat pipi shilla merah padam.
“Ih rio apa-apaan sih, acak-acakan ini..” shilla manyunin bibirnya meski ia senang.
“Haha, maaf-maaf, lucu deh lo kaya gitu, kaya anak kecil..” goda rio sambil cengengesan, dengan gerakan kilat, rio menarik dasi shilla, membuatnya menjadi tidak berbentuk.
“Rio !”
“Haha...ampun-ampun...sini-sini gue betulin” rio seolah-olah ingin membetulkan dasi shilla, membuat wajahnya dan shilla menjadi hanya berjarak beberapa cm saja.
“Sret..” ternyata bukannya membetulkan dasi shilla, rio malah menarik dasi shilla tersebut, ia memutar-mutarkan dasi shilla dengan tangannya.
“Rio, balikin dasi gue..”
“Tangkep dong kalo bisa..” rio malah berlari, shilla pun mengejarnya, lorong sekolah yang sepi mereka jadikan tempat untuk saling berlarian, tertawa lepas bersama, melupakan masalah mereka masing-masing.
***
Ada begitu banyak bintang malam ini, berkelip-kelip penuh cahaya, menerangi siapa saja yang butuh kilaunya. Rio dan via duduk senderan di kap mobil rio, menatap bintang berdua.
“Ada apa yo ? kok kesini malam-malam ?”
“Kangen aja sama kamu tadi kan enggak pulang bareng, emang kamu enggak kangen sama aku ?”
“Ehm..kangen enggak ya, maunya ?” tanya via jahil.
“Kangen dong harus, aku kangen banget sama kamu soalnya”
“Haha, iya-iya..” rio langsung mengusap lembut rambut via yang malam itu ia gerai.
“Bintangnya bagus ya yo” ujar via.
“Iya dong, kamu tahu enggak vi, bintang itu lambang kesetiaan lho”
“Lambang kesetiaan ?”
“Iya. Bintang itu selalu nemenin bulan, walau bulan sering meninggalkannya, tapi bintang selalu ada, hadir menunggu bulan, padahal bulan itu cuma satu, dan ia harus membagi perhatiaannya ke ribuan bintang, tapi bintang tidak pernah mengeluh, ia tetep aja setia pada satu bulan”
“Masa sih ? sering ah ada malam dimana enggak ada bintang, lagian emang bulan cuma satu kan, mau diapain lagi”
“Bintang selalu ada tahu vi, meski kecil dan kadang enggak terlihat sama mata manusia. Dan masalah bulan yang cuma satu, bintang bisa aja milih untuk enggak nemenin bulan kan, membiarkan bulan sendiri menjaga malam, padahal tanpa bintang bulan enggak mungkin bersinar”
“Hmm, kamu kenapa jadi tiba-tiba puitis gini yo ?”
“Haha, kenapa ya, mungkin karena aku mau jadi bintang buat kamu, aku enggak akan ninggalin kamu, mau kamu terus ada disini sama aku, kamu mau kan jadi bulan buat aku ?” via tersenyum tipis mendengar pertanyaan rio, laki-laki di depannya itu tampak tulus penuh cinta.
“Kalo aku bulan, berarti kamu harus siap dong enggak dapet perhatian penuh dari aku, aku kan harus ngebagi perhatian aku ke bintang lain”
“Khusus kamu, kamu cuma boleh jadi bulannya aku, jadi bulannya mario” bisik rio manis di telinga via. Via tersenyum meski hatinya miris, diam-diam, ia merasa bersalah, begitu bersalah.
“Rio..”
“Ya ?”
“Kamu percaya banget kan sama aku ?”
“Iya dong, aku percaya banget sama kamu, emang kenapa ?”
“Seandainya suatu hari nanti aku ngecewain kamu, apa kamu bakal masih tetep percaya sama aku ?”
“Kamu ngomong apa sih ? kamu enggak akan ngecewain aku kali, aku tahu itu..”
“Kalo kita sampe pisah, kita tetap sahabatan kan ?” rio menatap via, mengapa gadis itu melontarkan pertanyaan yang membuat hatinya bertanya-tanya.
“Hah, apa sih vi, kamu kenapa ? aku enggak peduli entar kaya gimana, aku mau nikmatin waktu kita yang sekarang aja”
“Janji yo ke aku, kita bakal tetap sahabatan..” paksa via lirih.
“Iya-iya aku janji..”
“Makasih..” ujar via sambil tersenyum, entahlah kenapa ia menanyakan hal-hal seperti ini.
“Vi, aku mau nanya sesuatu ke kamu”
“Apa ?”
“Ini tentang kalung kamu” jawab rio mantap. Via menatap rio, hatinya bergetar hebat, apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghadapi pertanyaan rio.
***
Rio menatap via, memandangi wajah cantik gadisnya tersebut, wajah yang selalu membuatnya merasa tenang dan bahagia. Lain halnya dengan rio, via malah menunduk, menggigit bagian bawah bibirnya, tanpa rio tahu, hati via sedang bergejolak hebat sekarang, gundah serta bimbang.
“Ka..kalung apa yo ?” tanya via pelan-pelan masih tetap tidak menatap rio.
“Maaf ya vi, mungkin aku lancang, tapi waktu itu aku lihat ada kalung, bandulnya kaya dari serpihan kayu gitu, dan entah kenapa aku ngerasa familiar banget sama kalung itu” jelas rio yang tambah bikin via ketar-ketir.
“Oh..ehm..itu kalung aku, kalung biasa doang kok...” ujar via beralasan.
“Tapi kenapa kotaknya kaya kamu sembunyiin gitu ?” tanya rio lagi yang bikin via merasa terpojok.
“Masa sih ? emang kamu nemuin dimana ? aku udah lama nyari, soalnya waktu aku beresin tempat kalung aku, kalung itu belum sempet aku masukin dan aku kira ilang” tanpa rio tahu, via menyilangkan jari tengah dan telunjuknya ‘maaf yo, maaf aku bohongin kamu’ ratap via dalam hati.
“Aku temuin di rak pajangan-pajangan kamu”
“Makasih ya, entar aku cari deh disitu, yo udah malem, pasti kamu banyak tugas kan ? aku enggak mau kamu sampai lupain kerjaan kamu gara-gara aku lho”
“Kamu ngusir nih ?”
“Kan besok kita masih bisa ketemu, night..” via mengecup pipi rio kilat, lalu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Sementara rio yang kaget dengan gerakan spontan dari via, cuma senyum-senyum sendiri sambil meraba-raba pipinya yang tadi di kecup via.
Dari jendela kamarnya, via memperhatikan rio yang masih senyum-senyum sendiri dan belum juga beranjak pergi dari depan rumahnya. Via mengusap dadanya, perasaan bersalah itu kini benar-benar telah menguasainya, ia tidak tahu lagi sampai kapan ia akan sanggup bertahan, membohongi hatinya, membohongi rio.
“Gue harap tadi bohong terakhir gue ke rio, semoga..” ujar via sambil menutup tirai jendelanya.
Aren melihat riko dari pintu kamarnya, kakaknya itu tampak sedang asik bermain psnya. Kadang dia suka iri melihat acha, karena meski kak alvin sama-sama suka berantem kaya kak riko, tapi kak alvin masih mau meluangkan waktunya untuk acha.
Dalam hatinya yang paling dalam, aren sangat menyayangi riko. Tapi semenjak kecelakaan itu, riko memang berubah drastis, enggak ada lagi riko yang selalu baik dan perhatian padanya, entahlah apa yang terjadi, yang jelas aren kehilangan sosok riko yang dulu.
“Kak..” panggil aren sambil mendekat ke riko.
“Hmm” riko masih saja fokus kepada psnya.
“Gue mau nanya sesuatu sama kakak”
“Apa ?”
“Kenapa kakak harus marah kalo gue deket sama anak vendas ?”
“Karena gue musuhan sama mereka”
“Untuk alasan apa ? kasih gue alasan yang pasti kak..”
“Udahlah lo masih kecil, kalo lo mau pacaran sama temen-temen gue aja tuh”
“Temen kakak yang mana ? temen yang udah jerumusin kakak buat jadi kaya gini ?!” aren sedikit menaikkan intonasi suaranya, dan itu cukup untuk membuat riko menatap matanya mengacuhkan psnya.
“Lo kenapa sih ganggu aja ?!”
“Gue kangen elo yang dulu kak ! elo yang mau dengerin cerita gue, elo yang mau share ke gue ! gue enggak suka sama elo yang sekarang !”
“Berapa kali sih gue bilang ?! jangan bahas yang dulu lagi ! gue ya yang sekarang ini, riko yang dulu udah mati ren !!”
“Kenapa kak ?! apa yang bikin lo kaya gini ?! elo enggak kasian kak sama kak zeva, elo keterlaluan sama kak zeva sama gue !” sekuat tenaga aren menahan butir-butir air matanya, jujur ia takut menghadapi kakaknya yang telah terlanjur emosi.
“Mau lo apa sih ren ?!”
“Kalo kakak udah enggak peduli sama gue, tolong jangan campurin urusan gue lagi ! hak gue mau temenan sama siapa aja ! mau pacaran sama siapa aja, anak vendas sekalipun !!”
“Jangan sekali-kalinya lo berani berhubungan sama anak vendas !!” riko mengangkat tangannya siap menampar aren.
“Apa ? mau tampar gue ?! cepet tampar ! ayo !!”
“Riko kamu mau apain adek kamu !” teriak mamanya histeris. Riko menatap mamanya sekilas, lalu ia menurunkan mamanya. Air mata aren mulai mengalir perlahan.
“Kakak yang gue tahu, kakak yang selalu ada buat belain gue, dan elo bukan kakak gue” ujar aren lirih sambil berlari ke luar rumah. Mamanya memandang riko penuh tanya, riko hanya menghela napasnya, mencoba meredam emosinya.
“Riko mau keluar ma..” pamit riko sambil membiarkan mamanya kebingungan sendirian ‘maafin gue ren, gue emang bukan kakak yang baik buat lo’ batin riko pedih sambil memacu motornya.
Suasana taman begitu sepi, karena emang enggak ada orang yang mau bermain di taman di malam hari. Tapi keadaan ini malah di syukuri oleh aren karena ia bisa melepaskan air matanya tanpa seorangpun perlu mengetahuinya. Belum pernah kakaknya semarah itu hingga ingin menamparnya, paling-paling hanya kata kasarlah yang terlontar dari mulut kakaknya.
“Jangan nangis dong cantik...” aren tersenyum melihat laki-laki yang berjongkok di depannya dan menghapuskan air matanya
“Kenapa kak iel ada disini ?”
“Kebetulan lewat sini, atau mungkin emang gue udah jodoh kali sama lo” jawab iel enteng. Aren tersenyum lagi, iel duduk di sampingnya aren, ia meletakkan kepala aren di pundaknya.
“Nangis aja sepuas lo, bahu gue siap buat nopang semua beban lo” bisik iel yang terasa sangat menyentuh bagi aren.
“Kak..”
“Enggak apa-apa, buang aja semuanya, baju gue basah enggak masalah yang penting lo lega” lanjut iel lagi. Aren benar-benar merasa menemukan kenyamanan saat ia bersender di bahu iel, kenyamanan seorang kakak yang selama ini terhapus paksa dari hidupnya, kenyamanan seorang laki-laki yang untuk pertama kalinya hadir dalam dirinya.
Dengan matanya yang sipit, alvin menatap langit-lagit kamarnya. Baru saja terdengar suara mobil rio memasuki halaman rumah mereka, alvin tahu rio baru saja ke rumah via. Alvin tersenyum lirih mengingat pembicaraannya dengan cakka. Dia mengakui seribu persen apa yang cakka katakan sangat masuk akal, tapi dia belum bisa bila harus jujur tentang perasaannya. Via masih mendiamkannya, dan alvin tidak mengerti apakah ia harus berbuat sesuatu untuk membuat via kembali mau bicara dengannya.
Sesungguhnya alvin kangen akan perhatian via yang spontan untuknya, perhatian yang selalu ia nantikan. Tapi alvin juga tahu diri, posisinya telah salah sekarang, apapun perasaannya ke via, dia hanyalah orang ketiga di dalam hubungan rio dan via.
Alvin duduk di pinggir tempat tidurnya, dia menarik laci meja samping tempat tidurnya, mengambil gelangnya yang ia letakkan di bawah koleksi sketch booknya. Dia menatap gelang tersebut, dia tidak pernah menyangka, via juga masih menyimpan potongan miliknya. Harapan itu tumbuh di hatinya dengan liar, menyelinap membangkitkan asa masa lalunya, tentang dia, tentang via tentang mereka berdua.
Apa yang harus ia lakukan sekarang ? apa yang harus ia perbuat sekarang ? ia tetap tidak ingin menyakiti siapapun, tapi sampai kapan ia sendiri sanggup untuk menahan semuanya. Bisakah ia terus ikut bahagia, bisakah ia terus meyakinkan dirinya untuk baik-baik saja. Ia jadi teringat pembicaraannya dengan zeva tempo hari di danau.
_Flashback_
Keheningan tetap menyelimuti mereka, hanya suara kecipak-kecipuk air saja yang terdengar karena alvin yang melempar-lempar kerikil ke dalam danau. Sementara zeva masih terus bertanya-tanya sendiri, ada hubungan apa alvin dengan perempuan tadi.
“Vin..” panggi zeva pelan.
“Namanya sivia, tapi biasa di panggil via..” jawab alvin tanpa di duga-duga.
“Dan lo suka sama dia ?” tanya zeva to the point.
“Ya..seandainya gue berhak untuk suka sama dia..” ujar alvin lirih.
“Maksudnya ?”
“Kaya yang udah gue bilang, dia ceweknya saudara gue, sahabat gue..”
“Lo juga udah kenal lama sama dia ?”
“Kita bertiga sahabatan dari kecil”
“Gue enggak tahu gimana ceritanya, tapi gue rasa dia suka sama lo, tebakan gue tadi dia cemburu lihat elo lagi sama gue disini” alvin hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan zeva. Mungkin zeva benar, hatinya pun merasakan itu, tapi bayangan rio selalu nampak jelas di depan matanya saat perasaan senang itu menguasai hatinya.
“Gue enggak mau nyakitin saudara gue zev, gue enggak bisa...”
“Kadang cinta emang enggak adil. Tuhan membiarkan kita mencintai seseorang, tapi tidak memberikan kita jalan untuk meraih orang tersebut, dan menurut gue disitulah letak perjuangannya, gimana cara kita bertahan, terus mencintai dia tanpa menyerah sedikitpun, sampai Tuhan melihat usaha kita, dan akhirnya memberi kita jalan untuk bahagia bersama orang yang kita sayang..”
“Gue enggak ngerasa cukup pantes untuk memperjuangkan dia..”
“Posisi lo emang salah, apapun nanti yang terjadi, kalo sampe kalian berdua akhirnya jadian, orang lain mau enggak mau bakal ngecap elo sebagai orang yang udah ngerebut pacar saudara lo sendiri. Tapi kadang cinta itu unik, dan enggak ada satupun orang yang bisa ngehalangin perasaan itu, perjuangin dia vin, walaupun gue sama dia enggak kenal, tapi dari sorot matanya, gue bisa ngerasain, rasa cinta itu ada buat elo..”
“Lo ngedukung gue buat jadi selingkuhannya ? atau ngedukung gue buat ngerebut dia ?”
“Haha..bukanlah, gue cuma mau ngasih tahu ke elo. Jangan pernah lo bilang, elo bahagia saat dia bahagia, enggak akan ada pernah yang bisa bahagia kalo kita ngelihat orang yang kita sayang bahagia sama orang lain, jangan jadi munafik, jangan berusaha nyembunyiin perasaan lo, berani mencintai, berani terluka kan ?”
“Curhat apa nasihatin gue lo” timpal alvin.
“Haha..ya, gue milikin raganya riko tapi hatinya jauh dari gue, elo memiliki hatinya via tapi enggak jiwanya, kita menyedihkan ya..”
“Gimana lo bisa nyimpulin gue milikin hatinya via ?”
“Entahlah, tapi tanpa perlu mengenal dia, gue bisa ngerasain ikatan kuat yang ada di antara kalian. Jelasin ke dia ya, jangan sampai dia marah ke gue..hehe...” alvin ikut tersenyum, gadis tegar di sampingnya ini telah memberinya sedikit pencerahan, sedikit arti lebih tentang cinta.
_Flashbackend_
Alvin melirik jam dindingnya, jarum pendek dan jarum panjangnya sudah saling bertemu di angka sebelas. Alvin mencoba memejamkan matanya, berharap dapat melupakan segalanya sejenak dalam kelelapan malam ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar