Another way to love I

PART I

Copas lagi. Mumpung masih ada,.. Aku males ngedit-edit lagii... hehe. 
Pinjem ya penulis.. ^^ 

*****

Alvin memandang lirih ke arah danau. Dia selalu suka tempat sepi, selalu ada perasaan tenang yang menjalar di dalam hatinya saat dia hanya duduk sendiri disini. Tamparan keras yang ia terima tadi pagi, terasa menambah luka di hatinya.
Ia memungut kerikil-kerikil kecil yang berserakan di sekitarnya, lalu mulai melempar-lemparkannya ke dalam danau. Tidak peduli, meski ia tahu pelajaran di sekolahnya sudah mulai dari satu jam yang lalu. Bbnya sengaja ia matikan, ia tahu rio tahu ia ada dimana sekarang.
Rio sesekali memandang ke arah luar jendela kelasnya, berharap dapat menemukan sosok alvin. Dia tahu ada dimana alvin sekarang, meski ia tidak bisa menghubungi alvin sama sekali. Tapi dia juga bukan alvin, yang bisa seenaknya aja ninggalin sekolahan.
Buat rio, alvin itu lebih dari saudara, meski tidak ada aliran darah di antara mereka berdua. Mamanya rio dan papanya alvin, menikah saat mereka masih berusia satu tahun. Dan semenjak saat itu, rio selalu menganggap alvin itu kakaknya.
Enggak akan ada yang percaya kalo rio bilang, dia dan alvin saudaraan, selain emang fisik mereka berbeda satu sama lain, perangai mereka juga sangat bertolak belakang. Tapi rio enggak peduli, buat dia alvin adalah orang yang akan selalu membantunya.
Sama seperti yang rio lakukan di kelasnya, via juga terus memandangi ke arah luar kelasnya. Apalagi posisi kelasnya hari ini lagi bersebelahan dengan kelas alvin, membuatnya lebih mudah bila ia melihat alvin masuk ke dalam kelasnya atau tidak. Tadi pagi rio udah bilang ke dia, kalo alvin abis berantem lagi sama papanya, dan via tahu, itu artinya, alvin akan sangat-sangat telat datang ke sekolah
Via mengenal alvin dan rio dari kecil. Mereka juga selalu bermain bersama dari kecil. Walaupun lebih sering, riolah yang nemenin dia main, karena alvin selalu keukeuh main bola. Tapi buat via, selama dia bisa sama alvin dan rio, dia bakal oke-oke aja.
***
“Teet..teet..teet..” alvin menekan klakson motornya, di depan gerbang sekolahnya yang tertutup rapat. Dengan berlari-lari kecil, seorang satpam membukakan pintu gerbang itu untuk alvin. Tidak ada yang berani melawan alvin. Kakeknya alvin adalah, pemilik yayasan sekolah ini, Atventhas school. Sekolah dengan standar internasional yang bisa di bilang paling bagus di Indonesia saat ini.
Alvin menggantungkan tas rangselnya di lengan kanannya dan tangan kirinya ia masukan ke dalam saku celananya. Dari kejauhan, rio dan via yang melihat alvin yang baru dateng langsung sama-sama menghampiri alvin.
“Gue baru aja mau ijin, mau nyusulin lo” ujar rio sambil jalan di samping alvin.
“Ngapain nyusulin gue, ketos masa cabut jam pelajaran”
“Kan kita khawatir sama elo vin” timpal via.
“Kaya enggak kenal gue aja deh”
“Justru karena kita kenal sama lo, makanya kita khawatir, kok hari ini, lo lebih lama datengnya dari jam biasanya. Biasanya juga jam sembilanan lo udah nongol di sekolah, lha ini udah jam sebelas, baru keliatan, betah banget sih” cerocos via.
“Iya deh nona via. Lo berdua kenapa bisa keliaran disini ?”
“Gue sih mau ada rapat osis bentar lagi” jawab rio.
“Gue tadi cuma ijin ke kamar mandi doang, eh lihat lo dateng, ya udah gue samperin..hehe..” rio sama alvin sama-sama diem sejenak mengamati tawa via yang terdengar begitu merdu di telinga mereka.
“Idih kenapa lo berdua bengong ngelihatin gue, suka ya ?” ledek via ke dua sahabatnya itu.
“Enggak deh gue suka sama cewek cerewet kaya lo” ucap alvin yang bikin via langsung majuin bibirnya.
“Haha, jelek banget lo vi, kalo ngambek entar cantiknya ilang lho” hibur rio.
“Kalo udah cantik sih cantik aja yo, enggak akan ilang kemana-mana” kata via narsis.
“Iya deh emang via yang paling cantik” rio reflek. Membuat pipi via jadi memerah.
“Gombal terus..” goda alvin.
“Apaan sih lo ? udah ah gue mau ke ruang osis, bisa di amuk shilla gue kalo telat, cabut ya, vin anterin via tuh ke kelasnya” rio langsung ngacir gitu aja.
“Si rio, gue udah segede ini, masa masih dititipin sama lo” ujar via bingung.
“Siapa juga yang mau nganterin lo” alvin juga jalan aja gitu tanpa ngegubris via sama sekali. Tapi via ngekorin alvin di belakangnya.
“Lo ngapain ngikutin gue sih ? takut ke kelas lo ? emang lagi di kelas mana lo sekarang ?”
“Siapa yang ikutin lo, gue lagi di science class tahu, lo hari ini di techno room kan, kelas kita sebelahan tahu enggak..”
“Kok lo apal sih jadwal gue ?” tanya alvin bingung.
“Gue gitu loh..” ujar via bangga, sambil tersenyum ke arah alvin, yang sekali lagi bikin partikel-partikel di hati alvin berloncatan kemana-mana. Alvin hanya tersenyum tipis melihat sahabatnya dari kecil itu. Sepanjang jalan, lebih banyak via yang berceloteh tentang segala hal, mulai dari seragam alvin yang tidak rapih sampe rambut alvin yang mulai kepanjangan. Alvin hanya mendengarkan itu sambil masang tampang coolnya, via sih udah biasa aja di gituin, justru dia suka kalo ngelihat senyum alvin yang selalu tulus buat dia.
Tanpa basa-basi, alvin langsung masuk aja ke dalam kelasnya. Sohibnya cakka, cuma bisa nyengir doang ngelihat alvin. Sementara yang lain, pura-pura enggak peduli akan kedatangan alvin. Toh ada atau enggak ada alvin juga enggak akan banyak pengaruh di kelas. Bukannya, mengikuti instruksi gurunya untuk merangkai sebuah robot, alvin malah mulai gambar-gambar di sketch booknya. Satu hal, yang enggak pernah orang lain tahu, kecuali cakka, alvin pintar menggambar.
_Flashback_
“Vin, di locker lo ada seragam enggak ? seragam gue basah nih, abis lari muterin lapangan, gue lagi enggak bawa baju ganti” kata cakka yang abis nerima hukuman ngos-ngosan di depan muka alvin.
“Ambil aja di locker gue” kata alvin kemudian. Cakka hanya tersenyum, secuek-cueknya alvin, dia itu perhatian. Cakka yang udah apal sama pasword lockernya alvin, langsung aja ngebuka locker tersebut.
“Pluk..” sebuah buku bersampul hitam terjatuh dari dalam sana. Cakka mengenali itu sebagai sketch booknya alvin, dia langsung mengambil itu. Tidak ada yang pernah tahu apa isi buku itu, karena alvin melarang keras orang lain untuk membukanya. Tapi ketika cakka ambil, posisi buku itu emang sudah terbuka, jadi cakka ngambil kesimpulan kalo bukan dia yang sengaja ngebuka buku itu, tapi buku itu yang emang terbuka buat dia.
Cakka enggak bisa nyembunyiin kekagumannya, saat matanya melihat ke arah halaman-halaman yang ia buka selembar demi selembar. Cakka enggak pernah tahu, alvin seberbakat itu menggambar. Alvin enggak pernah nunjukkin minat sama bidang apapun kecuali sepak bola.
Mulai dari objek yang sederhana sampai yang rumit ada di buku itu. Tapi kemudian mata cakka kembali membelalak, tatkala ia merasa kenal akan objek yang alvin gambar, dan entah kenapa cakka merasa, gambar itu alvin goreskan menggunakan hati dan selurh perasaanya.
“Cak, ada enggak bajunya ?” suara alvin mengagetkan cakka, buru-buru ia tutup buku tersebut, dan mengembalikannya ke dalam locker, lalu ia mengambil seragamnya alvin yang ia butuhkan.
_Flashbackend_
Dan sampe sekarang, cakka masih pura-pura enggak pernah lihat isi sketch booknya alvin. Dia tahu pasti alvin punya alasan sendiri kenapa dia menyembunyikan hal ini, dan bukan haknyalah untuk menanyakan ini sampe alvin mau berbagi sendiri dengannya.
Rio masuk ke dalam ruang osis, shilla yang terlihat sedang membereskan beberapa kertas tersenyum ke arahnya. Rio membalas senyum itu, lalu ia mulai sibuk berkutat sama proposal-proposal yang menumpuk di mejanya.
“Anak-anak yang lain masih belum datang yo, kok lo enggak bareng iel ?” tanya shilla.
“Gue tadi emang ijin duluan kesini, di kelas gue ada quiz, dan iel belum selesai ngerjainnya, lagian tadi niat awal gue mau nyari alvin dulu”
“Iya tadi gue lihat, via juga terus-terusan lihatin jendela, kayanya dia juga nyariin alvin” shila dan via emang sekelas.
“Via emang selalu perhatian sama gue ataupun alvin” jawab rio sambil tersenyum. Tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa tidak enak di hatinya shilla.
“Iya, via emang baik banget sama orang” timpal shilla. Rio lagi-lagi hanya tersenyum ke arah shilla. Dia bahkan enggak menyadari perubahan nada suara shilla.
Shilla enggak mau ambil pusing, dia tahu banget, rio itu orang yang enggak peka sama keadaan di sekitarnya. Tapi entah kenapa, sejak ia bertemu rio di sekolah ini, dan sering bareng karena urusan osis, shilla jadi tertarik sama rio yang menurutnya sempurna.
“Shil, menurut lo cewek kaya via sukanya apa ya ?”
“Hah ?” shilla yang lagi ngelamun sama sekali enggak nangkep pertanyaan rio.
“Iya, menurut lo cewek kaya via sukanya sama apaan ya ?” ulang rio lagi.
“Dia kan model cewek yang lembut banget yo, pasti dia suka sama hal-hal yang berbau romantis gitu deh. Lagian lo sama dia kan udah sahabatan dari kecil, masa enggak tahu sih kesukaan dia”
“Tahu sih, cuma gue pengen minta saran aja dari lo, lo kan bijak, terus dewasa gitu” shilla cuma tersenyum di puji rio.
“Kenapa sih ? lo mau nembak via ?” tebak shilla asal. Tapi menyadari perubahan muka rio yang jadi cengengesan sendiri, bikin shilla menyesali pertanyaannya.
“Haha, rahasia kita berdua ya shil, lo emang pinter banget ngebaca pikiran orang” sekali lagi, shilla berusaha untuk ikut tersenyum sama rio. Berusaha enggak peduliin perasaanya. Untunglah, beberapa anak osis lainnya datang, dan obrolan antara mereka berdua pun berhenti.
Rambutnya yang dikucir kuda bergoyang-goyang, via berlari-lari kecil ke arah lapangan futsal. Dia selalu suka ngelihat alvin main bola, pas jam istirahat kaya gini. Padahal dia enggak ngerti apa-apa soal bola.
“Alvin maaf telat..huft..” via menyeka butir keringat di pelipisnya.
“Nih..” alvin menyodorkan handuk kecilnya ke via. Via menolak itu, tapi alvin malah menyekakan keringat via. Via dan alvin hening sesaat, tenggelam di pikiran mereka masing-masing.
“Ngapai pake lari-larian segala sih ?” tanya alvin.
“Kan mau lihat lo main bola, tapi tadi kerjaan gue belum selesai, jadi agak telat kesininya” via sendiri enggak ngerti kenapa dia sampe segininya cuma mau ngelihat alvin, padahal dia udah sering banget lijhat alvin main bola.
“Dasar aneh” ujar alvin, lalu mulai bermain lagi. Via hanya tersenyum lalu mulai mengamati alvin. Dia melambaikan tangannya ke arah rio yang berjalam melewati lapangan, rio yang bau selesai rapat dari ruang osis, langsung menghampiri via dan duduk di sampingnya.
“Kok keringetan sih ? emang ac di kelas lo mati ?” tanya rio heran sambil nunjuk keringat yang masih tersisa.
“Enggak kok..hehe..gimana yo rapatnya ?”
“Biasalah lancar, kan mario ketuanya” rio membusungkan dadanya dan via hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sahabatnya.
“Iya deh tahu, mario emang hebat..” via menepuk-nepukkan tangannya di punggung rio, gantian rio yang ketawa.
“Vi, entar pulang sekolah mau bareng gue enggak ? mau ya” rio menawarkan sekaligus memaksa.
“Boleh sih, tapi gue enggak harus nungguin lo dulu kan ?” via suka kesel sendiri, karena rio suka tiba-tiba ngebatalin janjinya atau bikin dia nunggu lama, gara-gara kesibukannya.
“Enggak kok enggak, janji deh”
“Ya udah, gue tunggu di lobby ya nanti” ucap via.
“Oke, gue duluan ya. Bro, gue cabut, permainan lo keren !” rio sedikit berteriak ke arah alvin yang ada di tengah lapangan, alvin cuma ngacungin jempolnya doang. Kemudian ia mulai berlari lagi, sayup-sayup tadi dia bisa mendengar sedikit percakapan via dan rio, atau lebih tepatnya dia emang sengaja ngedengerin percakapan via dan rio.
Alvin menoleh ke arah via yang masih menemaninya. Cuma via satu-satunya cewek yang berani deket-deket sama dia, walaupun penggemarnya di sekolah ini banyak. Tapi sikap alvin yang cenderung kasar dan enggak bersahabat, bikin orang sedikit jaga jarak sama dia. Alvin sih seneng-seneng aja, daripada dia harus ribet kaya rio, yang sangking ramahnya jadi suka susah sendiri.
“Vin, udah bel, enggak ke kelas ?” tanya via.
“Duluan aja, gue masih pengen main”
“Kalo lo enggak ke kelas, gue juga enggak” alvin menghentikan permainannya. Dia paling enggak mau orang lain terlibat sama kelakuannya. Dengan terpaksa, ia pun kembali ke kelas, via sih seneng-seneng aja, karena caranya selalu bisa bikin alvin nurut sama dia, imbalannya paling cuma didiemin lebih lama dari biasanya sama alvin.
Cakka menggeser kursinya ke samping alvin, mumpung guru belum datang. Alvin yang sadar sama perbuatan cakka, menatap cakka, dengan tatapan bertanya.
“Hari ini pulang sekolah, anak-anak vailant ngajakin tanding” jelas cakka.
“Riko ?”
“Iyalah, siapa lagi, lo bisa kan ? gue udah infoin ke anak-anak lain kok” alvin hanya mengangguk.
Atventhas dan Vailant school, sebenernya sama-sama sekolah yang berkualitas. Hanya saja rivalitas yang terjadi sejak dulu, terus terjaga rapi hingga kini. Alvin dan riko, adalah dua pentolan dari sma-sma tersebut, yang enggak pernah akur. Padahal enggak pernah ada masalah pribadi di antara mereka, mereka hanya menjalankan tradisi turun temurun tersebut.
Rio melemaskan otot-otot lehernya, sudah jam sebelas malam, tapi dia masih sibuk di depan laptopnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, rio menggapai-gapai gelas yang ia letakkan di samping laptopnya. Dan dia baru sadar kalo gelas itu udah kosong, waktu enggak ada setitik airpun yang menetes ke dalam mulutnya. Setelah memastikan tugasnya telah ia save, dia pun memutuskan untuk keluar kamar, ngambil minum.
Lampu ruang tengah masih menyala terang, rio dapat melihat mamanya masih duduk di sofa sambil baca-baca majalah. Dia tahu mamanya lagi ngapain, tapi dia memilih untuk ke dapur dulu ngisi gelasnya, dan baru basa-basi ke mamanya.
“Alvin masih belum pulang ma ?” tanya rio setelah kembali dari dapur.
“Belum yo, kok kamu belum tidur sih ?”
“Masih ada tugas ma..” tapi bukannya kembali ke kamarnya, rio malah duduk di samping mamanya. Emang udah jadi rutinitas mamanya hampir setiap malam, nungguin alvin yang paling cepet sampe rumah jam sembilan malem.
“Alvin enggak bilang mau kemana gitu sama kamu yo ?”
“Enggak ma, tenang ajalah, anak mama yang itu kan jagoan, dia enggak bakal kenapa-napa” ujar rio menenangkan hati mamanya.
“Masalahnya, sekarang kan papa kamu lagi ada disini, kalo papa pulang duluan sebelum alvin, bisa-bisa ada perang besar nanti” rio menghela napasnya, dia juga sadar sama kondisi di rumah ini. Di satu sisi dia tahu papanya kasar sama alvin karena alvinnya kadang keterlaluan, tapi di satu sisi rio juga tahu, kalo alvin cuma enggak suka di atur ini itu.
“Kok belum pada tidur sih ?” acha, adek kandungnya rio sama alvin, keluar dari kamarnya.
“Kamu sendiri ngapain cha ?” tanya mamanya.
“Lagi enggak bisa tidur ma..”
“Enggak bisa tidur, apa lagi twitteran..” goda rio.
“Yee, apaan sih kak rio..”
“Jangan lupa lho cha, kamu sekarang udah kelas tiga smp, bentar lagi ujian, di kurangin dululah main internetnya” nasihat mamanya bijak. Acha cuma bisa senyum-senyum doang, tapi matanya mendelik ke arah rio.
“Iya mamaku sayang. Lagi nungguin kak alvin ya ?”
“Udah sana, kalian pada tidur aja besok kan masih sekolah, biar mama yang nungguin kak alvin” acha dan rio enggak ngebantah kata-kata mamanya. Mereka sama beranjak menuju kamar masing-masing.
“Kak..” acha menarik tangan rio saat radius mereka sudah cukup aman dari tempat mamanya.
“Kenapa cha ?”
“Tadi aku di kasih tahu aren, katanya dia hari ini, kakaknya kak riko, enggak bisa jemput dia gara-gara ada urusan, kakak tahu kan maksud aku ?” rio sangat paham akan maksud adeknya itu.
“Ya udah, kakak coba hubungin alvin. Udah sana kamu tidur” acha nurut dan langsung masuk ke kamarnya. Rio juga langsung masuk ke kamarnya, dan meraih bbnya. Baru ia mau menghubungi alvin, alvin lebih dahulu menelponnya.
“Dimana lo ?” tanya rio langsung.
“Di depan rumah. Mama masih nungguin gue ya ? gue enggak bisa masuk nih. Enggak mau bikin mama khawatir kalo ngelihat gue”
“Ya udah gue alihin dulu perhatian mama, tunggu ya” rio langsung memutuskan telponnya dan pergi ke kamar acha. Acha yang udah siap banget mau tidur, bener-bener kaget sama ulah kakaknya.
“Ya ampun kak, bikin kaget aja”
“Cha, kamu alihin perhatiannya mama dong, alvin udah di depan rumah, tapi kayanya dia bonyok deh, bisa heboh nanti mama lihat dia kaya gitu”
“Terus aku ngapain kak ?” tanya acha bingung.
“Ngapain kek, ayolah..” bujuk rio.
“Kalian berdua entar traktir aku ya..” rio cuma menganggukan kepalanya. Lalu dia ngekorin acha keluar kamar.
“Ma..” acha menyenderkan kepalanya di pundak mamanya.
“Kenapa sih cha ? kok keluar lagi ?”
“Acha enggak bisa tidur ma, mama temenin acha di kamar dong” acha mulai mengeluarkan jurus manjanya.
“Biasanya juga tidur sendiri”
“Tadi acha sama aren abis nonton film horror ma, serem banget, acha takut” acha yang enggak patah semangat terus usaha ngebujuk mamanya.
“Bentar lagi ya, tunggu kak alvin dulu”
“Udah ma biar rio aja yang nungguin alvin” tiba-tiba rio keluar lagi dari kamarnya, dengan cara yang sama, bawa-bawa gelas kosong.
“Ya udah entar kamu yang bukain pintu ya, biar enggak usah rame-rame, enggak enak sama tetangga. Ayo cha, makanya lain kali kalo penakut, enggak usah nonton film hantu segala” acha cuma nyengir doang, dia langsung ngajak mamanya ke kamarnya. Sementara rio, setelah melihat keadaan aman, langsung buka pintu depan. Tanpa dicari, ternyata alvin udah nunggu di depan pintu.
Rio sih enggak kaget-kaget amat, lihat muka alvin yang sedikit lebam. Dia ngikutin alvin ke kamarnya sambil nenteng-nenteng kotak p3k. Alvin pasrah aja di obatin sama rio, kalo udah kaya gini, rio jadi galak sama dia.
“Thanks yo..”
“Sip. Traktir gue sama acha ya, tanpa dia, susah banget deh tadi nagalihin mama”
“Terserah lo deh..auww..pelan-pelan gila !” rio tersenyum nakal, dia sengaja agak neken di bagian pipinya alvin yang jadi biru.
“Sama riko ya ?”
“Siapa lagi sih ?” alvin malah balik nanya.
“Lo enggak capek apa ? ayolah, ini udah 2010, enggak jamannya lagi tawuran. Nama sekolah kita nih yang kebawa-bawa” rio emang enggak pernah bisa ngelarang alvin berantem, karena alvin bakal selalu jadi ngehindarin dia kalo udah ngebahas ini.
“Yo, gue capek, mau tidur” selalu seperti ini ujungnya. Rio mencoba mengerti, dia cuma nepuk-nepuk punggungnya alvin terus dia mau beranjak keluar kamar, tapi tiba-tiba dia jadi teringat sesuatu, dia menghentikan langkah kakinya, dan langsung putar balik terus duduk lagi di tempat tidur alvin.
“Apaan lagi dah lo ?” tanya alvin bingung.
“Gue mau curhat sama lo” ujar rio mantap.
“Via lagi ?” alvin udah apal betul, kalo rio bilang mau curhat ya isinya via semua.
“Hehe, siapa lagi sih bro. Gue mau nembak dia, gimana menurut lo ?” alvin diam, berusaha untuk menguasai emosinya.
“Ya udah sih tembak aja, kenapa nanya gue, kalo mau minta restu sama mama papanya lah” jawab alvin asal.
“Maksud gue gimana cara nembaknya, bantuin gue dong, gue enggak pernah tahu soal ginian nih”
“Lo aja enggak ngerti gimana gue, lo kan lebih pinter dari gue” alvin diam lagi, dia bingung kenapa kata-katanya jadi terkesan sinis gini ke rio. Dia melihat ke arah rio yang kayanya juga agak enggak nyaman sama kaya dia.
“Lo beneran capek ya vin ? ya udahlah curhatnya gue to be continue ajalah”
“Eh enggak kok enggak, yah lo jangan ngambek gitu dong yo. Gue tadi mikir tahu gimana caranya lo bisa nembak via, mau denger enggak ide gue ?” alvin mengedip-ngedipkan sebelah matanya, terkesan lebai emang untuk seorang alvin, tapi alvin rela deh asal suasananya kembali enak.
“Apaan ?” tanya rio semangat. Alvin tersenyum jahil, bikin rio lebih penasaran.
“Besok aja ya, pokoknya besok lo tinggal terima beres deh dari gue”
“Sekarang aja deh vin..” paksa rio.
“Besok ya besok ! udah sana gue mau tidur..hush..hush..” layaknya mengusir seekor anak ayam, rio pasrah aja, dia percaya alvin bakal punya ide yang bagus buat dia besok.
Sepeninggal rio dari kamarnya, alvin melihat ke arah poto yang sengaja di pajang oleh via di kamar ini. Poto mereka bertiga, waktu kelulusan smp. Via berdiri di tengah-tengah, diapit oleh rio dan alvin di kanan kirinya. Via mengalungkan kedua tangannya di pundak masing-masing sahabatnya tersebut. Senyumnya begitu lebar, rona kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya. Rio juga tersenyum sumringah, tangan kanannya memamerkan piala juara umumnya, nilai ujian nasional terbaik. Sementara alvin justru tidak sedang menatap kamera, tapi wajahnya malah sedang melihat ke arah via di sampingnya. Via bilang suka banget sama poto ini, karena dia bilang, alvin pantesnya nyanyiin lagu ‘wajahmu mengalihkan duniaku’ buatnya.
Alvin tersenyum simpul, diam-diam dia juga menyukai poto ini. Tapi kemudian dia kembali sadar akan kata-kata rio barusan. Sejujurnya alvin belum menemukan ide apapun untuk rio, itu tadi hanya alibimya saja untuk membuat rio enggak ngerasa disinisin sama alvin. Alvin melihat poto itu sekali lagi, dan entah kenapa tiba-tiba, sebuah ide langsung tergambar cepat di otaknya.
***
Via udah muterin hampir satu gedung sekolahan, dia udah ngecek ke semua kelas, dan ruangan, tapi hasilnya nihil, dia enggak bisa nemuin alvin dimanapun. Sekarang, dia lagi berdiri di depan ruang osis, berharap rapat osis ini cepet selesai dan dia bisa tanya sama rio dimana alvin. Gara-garanya dia baru aja dapet berita, kalo abis ada tawuran lagi antara anak vendas (sing.atventhas) sama anak vailant.
“Rio..” via langsung ngeloyor masuk setelah pintu ruangan terbuka serta beberapa anak keluar dan langsung menghampiri rio. Shilla yang melihat itu, mencoba tersenyum ke via.
“Kenapa vi ?”
“Alvin kemana ? dia baik-baik aja kan ? gue baru denger kalo kemarin ada tawuran lagi”
“Dia sih baik-baik aja, cuma pipinya agak lebam. Tapi hari ini dia emang udah ngilang daritadi pagi, tenang ajalah, dia pasti bakal baik-baik aja kok” rio yang tahu kalo alvin lagi nyiapin idenya jadi santai-santai aja.
“Tapi dia enggak pernah enggak masuk sampai jam segini yo, ini udah istirahat jam pertama” ada nada kekhawatiran yang jelas yang terpancar di suara via.
“Percaya deh vi sama gue, alvin baik-baik aja, oke” rio memegang pundak via dengan kedua tangannya, sehingga posisi mereka berhadap-hadapan, shilla jadi ngerasa enggak enak sendiri, dia pengen keluar, tapi posisinya udah nanggung banget.
“Iya, dia bakal baik-baik aja. Ya ampun shil, maaf ya, kita berdua jadi ngacangin lo” via yang kayanya baru sadar kalo shilla ada disitu langsung senyum ke arah shilla.
“It’s oke vi, masih mau ngobrol ya ? ya udah deh gue keluar dulu”
“Eh enggak usah shil, hehe, gue udah selesai kok urusanya sama rio, gue aja yang keluar, kalian pasti masih mau ngurusin osis kan ?”
“Via, entar pulang bareng gue lagi ya” kata-kata rio menahan langkah kaki via, dia segera berbalik ke arah rio, tersenyum lalu mengangguk.
“Cie rio, lancar nih pedekatenya” goda shila, rio cuma nyengar-nyengir doang. Entahlah rio sadar atau tidak, tapi shilla merasa aneh saat melihat via yang tatapan matanya begitu khawatir saat menanyakan alvin tadi.
Via tidak bisa menyembunyikan ketakjubannya, saat rio membuka tutup matanya. Tutup mata yang sengaja rio pasang sejak tadi ia mengajak via pulang bareng. Tanpa disadari, via langsung memeluk rio yang berdiri di sampingnya. Rio yang kaget sekaligus seneng, membalas pelukan via.
“Makasih yo, ternyata lo masih inget impian gue” bisik via di telinganya rio. Rio yang sebenernya enggak ngerti apa-apa cuma ngangguk-ngangguk doang. Lalu dia teringat akan intruksi alvin yang dikirimkan panjang lebar lewat sms kepadanya tadi.
Rio melepaskan pelukannya, dia meraih tangan via, menggenggamnya lalu mengajak via berdiri di tengah-tengah lingkaran bunga yang tersusun rapi. Kemudian rio berlutut di hadapan via.
“Gue mario stevano aditya haling sayang banget sama elo sivia azizah, apa lo mau jadi orang yang akan selalu ada di samping gue, melebihi tugas seorang sahabat” tatapan mata rio begitu tulus. Via menatap mata itu dalam-dalam, dia sangat-sangat kaget, dia enggak pernah nyangka kalo rio bakal ngungkapin isi hatinya ke dia.
Via memejamkan matanya sejenak, lalu ia membuka matanya kembali. Tapi entah mengapa, bukan sosok rio yang ia lihat, ia malah melihat sosok alvin yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Vi..” panggil rio pelan.
“Ehm, sejak kapan yo ?”
“Udah lama vi, dari dulu, dari kita masih kecil” ujar rio mantap. Via menghela napasnya, perasaanya enggak menentu saat ini.
“Alvin ?” via tahu mungkin itu pertanyaan bodoh di saat seperti ini, tapi lidahnya bertindak tanpa kuasanya.
“Dia tahu semua perasaan gue, dia ngedukung gue banget” hati via mencelos. Entah mengapa dia sedikit kecewa mendengar kata-kata rio barusan.
“Apa lo masih butuh waktu ?” tanya rio, posisinya masih belum berubah, tetap berlutut di depan via.
“Gue..gue mau jadi cewek lo..” rio langsung berdiri, dia langsung memeluk via, di usapnya lembut rambut kekasihnya tersebut. Via hanya tersenyum, mencoba yakin akan pilihannya.
Alvin menatap adegan itu dari tempat yang cukup tersembunyi. Seharian ini dia udah nyiapin semuanya. Alvin sendiri enggak ngerti kenapa dia harus repot-repot sama semua ini, tapi semua itu bagai terbayar tuntas saat ia melihat senyum via tadi ketika via melihat hasil karyanya ini.
_Flashback_
Via dan rio sedang menggambar sedangkan alvin sibuk dengan bola sepaknya, meski via sudah membujuknya daritadi untuk ikut menggambar, tapi alvin enggak bergeming sedikit pun.
“Alvin duduk dulu dong disini, panas-panasan mulu” dengan malas-malasan alvin ikut duduk di samping via dan rio yang masih sibuk dengan gambarnya masing-masing.
“Gambar apaan tuh, jelek banget” komen alvin saat ia melihat gambar via, yang di dominasi sama warna pink dan bunga.
“Bagus ah vin, lo aja yang enggak ngerti seni” bela rio, via tersenyum ke arah rio, lalu menjulurkan bibirnya ke arah alvin.
“Ini itu cita-cita gue tahu” terang via akan gambarnya.
“Cita-cita apa vi ?” tanya rio penasaran.
“Gue pengen, kalo gue udah gede nanti, ada cowok cakep yang bakal nembak gue di danau ini, terus dia bikinin gue karangan bunga, dari ujung jalan sana sampe ke tepi danau, nah di tepi danaunya itu, ada lingkaran bentuk hati yang juga di bikin dari bunga, terus bunganya warnanya harus pink, nah udah gitu, cowok itu bakal berlutut di depan gue, di dalam lingkaran itu, dan dia bakal minta gue buat jadi ceweknya, romantis banget kan” dengan semangat pol-polan, via menjelaskan itu kepada kedua sahabatnya. Rio mendengarkan itu dengan serius, sementara alvin tetap dengan gaya acuh tak acuhnya.
“Ditembak ya matilah vi” ledek alvin.
“Ah elo mah nyebelin banget sih ! awas aja ya nanti kalo lo udah gede nembak gue, enggak bakal deh gue terima”
“Kalo gue yang nembak di terima enggak vi ?” tanya rio nyamber.
“Enggak tahu deh. Lihat dulu entar rio gedenya ganteng apa enggak”
“Ya gantenglah vi, sekarang aja udah ganteng” ujar rio narsis.
“Entar deh gue pikir-pikir dulu, lagian kata mama, via baru boleh pacaran kalo udah di atas lima belas tahun”
“Masih 8 tahun lagi dong” jawab rio yang nyoba ngitung pake jarinya.
“Tunggu aja ya yo..hehe..alvin enggak mau daftar ?”
“Enggak ah, males..” jawab alvin pendek yang bikin via merengut sebal.
_Flashbackend_
Dan seharian ini, alvin berusaha mengumpulkan bunga warna pink yang berjumlah cukup banyak untuk membuat rangkaiannya dari ujung jalan menuju danau hingga ke tepi danau. Sekali lagi ia melihat ke arah via dan rio yang tampaknya sedang tertawa berdua.
“Yang baru jadian wajib ngasih gue pj” celetuk alvin yang keluar dari tempat persembunyiannya.
“Eh vin, gue cariin dari tadi, thanks ya vin, buat sem...”
“Iya-iya yo, tenang aja, gue siap bantuin lo kapan aja” potong alvin cepat sebelum rio menyelesaikan kata-katanya.
“Buat sem apa ?” tanya via bingung.
“Enggak kok, selamet ya vi, ini bikinan rio semua, bagus kan, sesuai cita-cita lo”
“Vin ini kan ?” tanya rio enggak kalah bingungnya.
“Apaan sih yo ? ya ampun, masa lo sungkan banget sih sama gue, cuma masalah bunga doang sih gampanglah yo”
“Ini semua bikinan lo kan yo ?”
“Iya lah vi, ini bikinan rio, gue cuma bantu cari bunga doang kok” sebelum rio jawab pertanyaan via, lagi-lagi alvin udah jawab duluan. Rio melotot mendengar jawaban alvin, dia enggak ngerti apa maksud alvin bilang gitu.
“Eh gue cabut ya bro, ada urusan” alvin menepuk-nepuk pundak rio sambil tersenyum, dia langsung berbalik gitu aja.
“Vin” langkah alvin berhenti karena suara via menahannya, dari tadi dia emang sengaja enggak mau melihat ke arah via.
“Eh iya vi, lupa, good luck ya” alvin mengahampiri via, tersenyum ke arahnya, lalu kemudian berbalik lagi tanpa memberi via kesempatan untuk ngomong sepatah katapun.
Via memandang punggung alvin yang semakin menjauh, tangan kirinya tergenggam erat oleh tangan rio. Sempat ada beberapa detik, dimana via memaksa matanya bertemu dengan mata alvin, dan yang ia lihat bukanlah mata cuek seperti biasa, mata itu cenderung menatapnya tidak bersahabat dan tersirat sedikit sorot mata nanar sarat kesedihan.
“Udah sore vi, pulang yuk” rio melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke via. Via hanya tersenyum melihat aksi pacarnya tersebut. Tapi jauh di lubuk hatinya, via hanya berharap satu, dia tidak sedang ada di jalan yang salah.
Berita tentang jadiannya rio dengan via langsung tersebar cepat keesokan harinya. Via sampe malu sendiri karena banyaknya orang yang ngasih selamat ke dia, dari pagi dia sampe ke sekolah bareng rio tadi hingga sekarang.
“Gue berasa kaya artis ya dari tadi..hehe..”
“Pd gila lo !” timpal iel. Rio, via dan iel lagi duduk bertiga di kantin.
“Haha, kamu ada-ada aja deh”
“Emang bener vi, daritadi orang pada ngebet salaman sama kita, kan kaya artis”
“Kayanya gue salah tempat nih” celetuk iel.
“Baru nyadar lo ? sana gih, ganggu nih..” rio mendorong-dorong bahu iel pelan.
“Wow, gue di usir, ckckck, mentang-mentang baru”
“Haha, enggaklah bro, gue sama via enggak setega itu, makanya cari cewek gih cepetan”
“Enggak ada yang menarik ah di mata gue yo, gue tuh pengen, love at the first sight” rio menjitak kepala iel pelan. Lalu kedua orang itu mulai ngobrol ngelantur sana-sini, sementara via, cuma masang senyum doang. Pikirannya sedang tidak disini, pikirannya menjelajah jauh, jauh meninggalkan raganya.
Alvin menumpukan kepalanya di atas kedua tangannya yang telah ia silangkan di rumput. Matanya menatap ke arah awan yang bergerak lembut namun mendung pertanda hujan. Dia mencoba tersenyum, berharap gundah di hatinya akan ikut menguap.
“Gue cariin dari tadi, ternyata disini” cakka juga melakukan hal yang sama seperti alvin, tiduran di atas rumput.
“Kenapa ?”
“Enggak apa-apa. Lo enggak jealous vin ?”
“Buat ?”
“Rio sama via” kata cakka kalem. Alvin hening, entah kenapa dua nama yang cakka sebut barusan terasa telak di hatinya.
“Gue enggak tahu maksud kata-kata lo”
“Mata enggak pernah bisa bohong vin” cakka duduk dan tersenyum ke arah alvin, lalu dia berdiri.
“Anak vailant enggak terima kekalahan mereka kemarin, mereka ngajak tanding lagi” lanjut cakka sambil beranjak pergi meninggalkan alvin. Alvin hanya mengangguk, mungkin memang lebih mudah untuknya menonjok seseorang.
Sambil tersenyum seperti biasa, shilla mengelus pundak gita. Shilla yang terkenal bijak dan dewasa emang selalu jadi ‘tong sampah’ untuk teman-temannya. Siapapun yang pernah nyoba curhat sama shilla, pasti langsung ketagihan.
“Jadi menurut lo gue harus ngomong sama dia ?”
“Iya dong git, gue yakin kok, gita pasti bisa”
“Makasih ya shil, emang lo tempat curhat yang enak. Ehm, gue mau ke kantin nih, mau ikut ?” shilla menggeleng, menolak tawaran gita. Gita hanya tersenyum lalu meninggalkannya sendiri di ruang kelas. Bukan tanpa alasan shilla tidak mau ke kantin, dia hanya takut, tidak bisa tersenyum kalo harus bertemu via dan rio nanti. Shilla berjalan ke arah sudut kelas, ia menarik sebuah kursi menghadap ke jendela, diraihnya gitar yang di bawa salah satu teman sekelasnya.
I love you but it's not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you're still in my dream
Shilla berhenti sejenak, lalu ia mulai memetik senar-senar itu kembali.

And I can't stand to wait ‘till nite is coming to my life
But I still have a time to break a silence
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized
I was looking for a time to get closer at least to say... “hello”
And I can't stand to wait your love is coming to my life
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...

And I never thought that I'm so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can't be wrong
Don't ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find the way....
When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don't ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true...
“Prok..prok..prok..” shilla menengadahkan kepalanya, dia baru sadar kalo bel sudah berbunyi, dan ia baru saja memberikan tontonan gratis untuk teman-teman sekelasnya. Sambil tersenyum malu-malu, ia melihat ke arah teman-temannya.
“Makasih, hehe, jadi enggak enah deh gue”
“Enak kok shil, suara lo enak”
“Iya shil, pas nyanyi tadi dapet banget penghayatannya”
“Permainan gitar lo juga keren” shilla cuma bisa tersenyum mendengar pujian-pujian dari teman-temannya.
“Udah ah udah, bentar lagi pelajaran di mulai kan”
“Tapi tadi keren lho shil, gue suka banget”
“Eh iya vi, gue belum kasih selamat ya ke elo, selamet ya udah jadian sama rio” shilla menyodorkan tangannya, via menjabat tangan itu. Tapi hatinya malah enggak ngerasa enak setiap mendengar kata-kata selamat.
“Lo kenapa vi ? kok ngelamun ?” shilla yang selalu cepat tanggap sama keadaan orang disekitarnya, menyadari raut muka via, yang entah kenapa tidak terlihat cerah.
“Enggak kok shil, gue enggak apa-apa”
“Gue tahu kok lo bohong, tapi ya udahlah, gue enggak akan maksa, tapi kalo lo mau cerita, gue selalu siap kok” via memandang ragu-ragu ke arah shilla. Dia tahu shilla penjaga rahasia dan penuntas masalah yang handal.
“Sori ya shil, enggak sekarang”
“Oke vi, tapi jangan kelamaan ya mendem sendirinya” shilla dan via sama-sama tersenyum. Lalu mereka kemabli ke tempat duduk masing-masing, karena pelajaran akan segera dimulai. Via mencuri-curi pandang ke arah shilla yang sibuk menyalin, rasa-rasanya dia emang butuh buat berbagi apa yang dia rasain sekarang. Perhatiannya teralih, saat ia melihat alvin berjalan melewati kelasnya.
Via langsung berdiri dari tempat duduknya, dia menghampiri gurunya dan pura-pura ijin ke toilet. Hari ini, alvin udah ngehindarin via terus, dan via enggak suka itu, dia ngerasa ada yang beda sama sikapnya alvin ke dia dari kemarin.
“Vin, tunggu..” via menarik ujung seragam alvin.
“Kenapa ?” tanya alvin yang entah mengapa bernada jutek.
“Lo marah sama gue ?”
“Buat apa sih vi ? udah ah gue buru-buru...” via baru sadar kalo alvin bawa tasnya, siap-siap mau pulang, padahal masih ada tiga jam pelajaran lagi.
“Ya udah-udah, lo mau kemana ?” tanya via penuh selidik.
“Bukan urusan lo”
“Urusan gue, gue enggak mau kalo lo kenapa-napa !” alvin diam mendengar kata-kata via, via juga diam menyadari kata-kata yang terlontar secara tidak sengaja dari mulutnya barusan.
“Ehm..mm..maksud gue, gue enggak pengen sahabat gue kenapa-napa” via meralat kata-katanya dengan susah payah. Alvin menatapnya lirih, tatapan yang jarang terlihat dari mata sipitnya itu, lalu ia langsung meninggalkan via begitu saja.
“Vin ! jangan bilang lo mau ribut lagi sama riko, alvin !” bagai angin lalu, alvin tidak menghiraukan teriakan via. Dia terus berjalan menjauh, berusaha tidak menoleh sama sekali meskipun ia ingin. Via menatap alvin cemas, tapi dia enggak ngerti juga harus ngelakuin apa, dengan langkah gontai, ia putuskan untuk kembali ke kelasnya.
***
Petir menggelegar dengan riuhnya, angin-angin berhembus dengan kencang, gerimis mulai turun perlahan, butir-butir kecilnya yang siap menderas seketika. Sudah hampir satu jam, kubu vendas dan vailant saling adu jotos satu sama lain. Di sebuah jalan tol gagal yang tidak terpakai, tapi disanalah saksi bisu keributan mereka hampir setiap waktu.
Beberapa anak sudah mulai kepayahan satu sama lain. Hanya saja, ketua mereka secara tidak resmi, alvin dan riko masih saja tetap asik. Saling bergantian menyarangkan tinjuan di tubuh lawan mereka. Tidak peduli meski seragam mereka telah kotor oleh tanah atau malah mungkin darah.
“Sensi banget lo, lagi dapet !!” ejek riko manas-manasin. Alvin melayangkan pukulannya ke arah muka riko, tapi riko berhasil menangkis itu. Entah kenapa, pukulan alvin kali ini sering tidak tepat sasaran, membuat riko terus-menerus mencelanya daritadi.
“Atau lagi patah hati” sambung riko lagi.
“Bug !!” tonjokkan alvin sukses mengenai perut riko hingga riko jatuh ketanah. Tapi kata-kata riko tadi malah membuat alvin terdiam, meski tangan kirinya masih mencekram kerah seragam riko dan tangan kanannya dalam posisi siap untuk meninju riko.
“gue enggak pengen sahabat gue kenapa-napa” kata-kata via tadi bagai kaset yang terputar secara otomatis di otak alvin. Mengapa ia harus merasa tidak senang dengan kata-kata itu ? apa yang salah dengan kata-kata itu ? berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.
“Bug !!” riko enggak menyiakan-nyiakan kesempatan bengongnya alvin. Sekarang posisi terbalik, dan riko dengan tawa penuh kemenangan berhasil membuat alvin jatuh tanpa bisa melakukan perlawanan apapun. Entah mengapa, seluruh kekuatan alvin serasa hilang.
“BRSS..BRSS..BRSS..” hujan benar-benar telah sangat deras sekarang. Cakka yang menyadari itu, berinisiatif untuk menghentikan perkelahian ini, karena tidak ada komando yang keluar dari bibir alvin ataupun riko seperti biasanya.
“Cukup woi ! vin...” kata-kata cakka terhenti, ketika ia melihat alvin telah tersungkur di tanah, dan riko masih terus saja memukulinya.
“Gila lo ! lo mau bikin dia mati !” cakka mendorong riko menjauh, alvin terlihat meringkuk kesakitan.
“Lagi cemen dia !”
“Cemen ?! lo lupa kalo perkelahian ini enggak boleh sampe ngorbanin nyawa ! sarap emang lo !” riko tersenyum sinis ke arah cakka yang mencak-mencak. Lalu ia memberi kode kepada teman-temannya untuk pergi dari tempat itu, sementara cakka dan temen-temen alvin yang lain mengerubuti alvin.
“Bisa bangun enggak lo ?” tanya cakka sambil menyodorkan tangannya. Alvin meraih tangan itu dan mencoba berdiri, seluruh badannya terasa sakit, tapi ia tidak suka terlihat lemah. Dia merogoh kantong celananya mengambil kunci motornya.
“Lo gila juga ya ?! mau beneran mati lo bawa motor keadaan ancur lebur kaya gini ! lagian ini juga lagi ujan deres” cakka merebut kunci motor alvin dan melemparkannya ke arah temannya yang lain.
“Syad, lo bawa ya motornya alvin ke rumahnya, lo kan tadi kesini sama gue, sekarang biar alvin yang sama gue” perintah cakka ke irsyad, adek kelas yang berhasil ia rekrut.
“Udah enggak usah, gue bisa sendiri kok, siniin kunci gue”
“Ah udahlah, capek ngomong sama lo, udah ayo ikut gue ke mobil” dengan langkah terseok-seok dan dipapah oleh cakka, alvin pun nurut masuk ke mobilnya cakka. Sepanjang perjalanan, alvin cuma diam. Cakka yang konsen nyetir di tengah ujan, cuma enggak abis pikir doang, seumur-umur dia jadi partner berantemnya alvin, baru kali ini dia lihat alvin ko, dan langsung separah ini.
“Kak alvin !” acha yang ngebukain pintu, heboh sendiri ngelihat kakaknya yang biasanya jagoan itu, pulang dipapah sama cakka.
“Gue enggak apa-apa cha..” ujar alvin yang sempet-sempetnya nenangin acha.
“Kenapa sih cha ? alvin !” rio yang lagi nonton tv, berniat ngampirin acha, yang terdengar heboh, tapi sekarang dia enggak kalah shocknya sama acha ngelihat kondisi alvin.
“Yo, bantuin dong, berat nih..” kata cakka. Meski sempat menolak, akhirnya alvin cuma bisa pasrah, ketika rio memaksanya untuk mengalungkan tangannya yang satu lagi di pundak rio. Cakka dan rio bersama-sama memapah alvin ke kamarnya, acha langsung lari ke dapur ngambil obat sama es batu buat ngompres.
“Pelan-pelan cha..auww..” alvin meringis ketika acha megoleskan obat di luka yang terdapat di tubuhnya.
“Iya ini juga udah pelan”
“Ini sama riko cak ? kok bisa sampe kaya gini ?” tanya rio yang masih bingung.
“Gue juga enggak tahu pasti yo, gue juga lagi pukul-pukulan sama anak lain, gara-gara hujan, gue mutusin buat berhentiin itu, eh pas gue nengok, keadaan alvin udah kaya gini” jelas cakka sesingkat mungkin.
“Lo lagi ada masalah vin ?” tanya rio perhatian, dia beneran enggak abis pikir, kalo alvin bisa juga sampe kaya gini.
“Enggak, emang lagi apes aja kali gue” jawab alvin enteng.
“Untung, tadi siang mama nemenin papa ke singapur, kalo enggak, bisa serangan jantung kalo mama lihat kak alvin kaya gini” kata acha nyamber. Alvin cuma nyengir doang. Tapi rio ngelihat alvin berbeda, dia enggak pernah lihat alvin kaya gini sebelumnya.
“Cha, bikinin minum sana buat cakka, biar gue aja yang ngelanjutin ngobatin alvin” acha sama cakka tahu, secara halus, rio lagi nyuruh mereka buat ninggalin dia sama alvin berdua.
“Ayo kak cakka, ikut acha..” acha keluar kamar, setelah sebelumnya menyerahkan obat yang ia pegang ke rio, diikuti oleh cakka. Rio menatap pintu yang sengaja ditutup oleh cakka saat ia keluar tadi, kemudian pandangannya beralih ke alvin.
“Kita emang enggak ada hubungan darah apa-apa vin, tapi hubungan gue sama lo, ngalahin hubungan kakak adik dimanapun, lo tahu itu kan ? gue tahu lo lagi ada masalah” alvin menatap rio. Rio benar ia lagi ada masalah batin sekarang, tapi masalah itu akan selesai untuknya dan beralih ke rio jika ia ceritakan.
“Gue beneran enggak apa-apa yo, emang hidup gue bermasalahkan ? hehe..” dengan tawa, alvin berusaha mencairkan suasana. Tapi muka rio yang serius, membuat alvin jadi harus berpikir keras, supaya rio tidak curiga.
“Gue lagi agak suntuk aja sama hidup gue, apalagi mungkin karena kemarin, seminggu bokap ada dirumah kali ya, jadi bawaannya gue enggak enak mulu, ya lo tahulah, gue kenyang di tampar setiap waktu kalo ketemu dia” rio menatap alvin lirih, tersirat di mata itu, sebuah rasa kangen yang mendalam akan hangatnya kasih sayang seorang ayah, yang selama ini tersembunyi di balik gengsi mereka masing-masing.
“Lo enggak pernah ada niat buat baikan sama papa vin ?” tanya rio hati-hati.
“Baikan ? enggak, selama dia belum nerima gue sebagai alvin yang apa adanya kaya gini. Sebelum dia sadar, kalo enggak semua orang bisa dia jadiin robot hidupnya”
“Gue rasa berubah enggak ada salahnya vin”
“Berubah emang enggak salah yo, tapi gimana gue bisa berubah, kalo caranya buat ngomong sama gue aja, masih sama, pake tangan” rio enggak tahu lagi harus bilang apa.
“Seenggaknya, apapun yang terjadi dia tetep bokap lo, bokap kandung lo vin” rio menekankan di kata kandung.
“Tapi dia lebih bangga nganggep lo sebagai anak kandungnya ketimbang gue” ujar alvin pelan.
“Sori vin, maksud gue..”
“Santai yo, gue tahu kok maksud lo. Udahlah obrolan ini enggak asik, mending kita ganti topik kalo mau ngobrol...hatchi !!”
“Kayanya ada yang flu nih abis ujan-ujanan, udahlah mending lo istirahat gih, ganti tuh baju lo, entar masuk angin aja. Nanti biar gue suruh bibi buat nganter makanan kesini”
“Yo, lo mending bantuin gue yang lain deh”
“Apaan ?”
“Kerjain, makalah literary gue dong..”
“Makalah literary ? bukannya itu tugas dua bulan lalu ?”
“Ya elah, lo kaya baru kenal gue aja, masih untung gue ada niat ngerjain. Ada di laptop gue tuh, udah gue ketik sebagian, lo tinggal edit sama nambahin doang kok, ya ?” rio menatap alvin sebentar, kemudian ia mulai menyalakan laptop milik alvin.
Cakka duduk sambil menikmati secangkir coklat hangat dan beberapa cupcake yang acha hidangkan. Tadinya emang cakka mau langsung pulang, tapi entah mengapa senyuman acha, serasa memiliki magnet untuk menahannya.
“Rencananya mau lanjut ke vendas kan cha ?” tanya cakka basa-basi.
“Iyalah kak, masa ke sekolah lain...hehe..sahabat aku aja pengennya ke vendas, padahal kakaknya di vailant”
“Walah, bisa nambah-nambahin masalah itu sih nanti..”
“Emang kenapa sih kak, vendas sama vailant berantem terus ? kaya kurang kerjaan aja. Padahal kan vendas sama vailant sama-sama sekolah unggulan”
“Kenapa ya cha ? gue juga enggak tahu, enggak ada yang tahu malah. Kita cuma jalanin tradisi doang kok”
“Tradisi doang ? enggak penting banget. Kalo sampe ada yang parah gimana ? kaya kak alvin tuh”
“Nah itu dia, walaupun sering ribut, tapi kita sama-sama punya aturan enggak tertulis, kalo jangan sampe kita berantem sampe ada nyawa yang sia-sia”
“Lha kalo kaya gitu sih enggak usah berantem aja sekalian, beres kan ?”
“Berantem pukul-pukulan sama anak vailant, udah kata semacem hobby cha, susah kalo harus di tinggalin gitu aja..hehe..”
“Aneh..” acha mencomot sebuah cupcake dan memakannya, membuat mulutnya jadi penuh sama krim-krim. Cakka yang ngelihat itu, langsung menghapuskannya untuk acha menggunakan tisu, membuat mata mereka berdua saling bertatap-tatapan. Acha tersenyum simpul dan menundukkan wajahnya, dia merasa ada desiran aneh yang merasuki hatinya.
***
Via memandangi hujan yang semakin deras dari jendela kamarnya. Tangannya mengenggam erat sebuah bingkai poto, tapi matanya kosong. Dia alihkan pandangannya dari hujan ke dua objek yang terdapat di poto tersebut, alvin dan rio.
“Apa lo udah pulang vin ? atau sekarang lo masih berantem sama anak vailant” entah sadar atau tidak, via bergumam sendiri. Kenapa alvin yang memenuhi pikirannya sekarang ? mengapa bukan rio saja ? bukankah status rio adalah pacarnya, yang lebih pantas memenuhi isi otaknya.
Dari dulu, via selalu bangga akan kedua sahabatnya itu. Rio yang selalu baik dan perhatian padanya, dan alvin yang meskipun menyebalkan tapi selalu ada untuknya. Tidak pernah terpikir olehnya, kalo akan ada hari dimana dia dan salah satu sahabatnya, mengubah rasa kesetiakawanan itu menjadi cinta.
Dia menumpukan kedua tangannya di dadanya, entah mengapa dadanya sesak, entah mengapa ia merasa ada yang ganjil di hidupnya saat ini, entah mengapa ia merasa pikiran dan hatinya tidak sedang ada di jalur yang sama, perlahan air matanya mengalir sendiri, dia tidak tahu pada siapa ia harus mengadu sekarang, dan alvin ataupun rio, benar-benar bukan orang yang tepat, untuk mendengarkan kegundahannya saat ini.
Shilla menekuni hobinya membaca novel, hal yang paling mujarab yang bisa menghilangkan rasa suntuknya selain menyanyi. Ingin rasanya ia berteriak sekuat mungkin untuk melepaskan segala hal yang ada dalam hatinya. Tapi seperti biasa, perasaan-perasaan itu hanya ia simpan dan endapkan di hatinya sendiri.
“Tok..tok..tok..” shilla meletakkan novelnya, dan meliohat siapa yang datang ke apartemennya malam-malam begini.
“Deva..”
“Hai kak” deva langsung nyelonong masuk, membiarkan shilla masih berdiri di depan pintu apartemennya dengan bingung, tapi kemudian ia mengikuti deva, dan duduk di samping deva.
“Lo kebiasaan deh, kalo pulang enggak bilang-bilang, kan gue bisa jemput lo dev”
“Ya elah kak, lo kaya enggak tahu gue aja sih. Eh laper nih, masak enggak lo ?” shilla tersenyum gemas melihat adek satu-satunya itu, yang hanya berjarak satu tahu dengannya. Dia berjalan ke dapur, lalu mulai menyalakan kompor, bersiap manasin spagheti, menu makan malamnya kali ini.
“Lo pasti belum pulang ke rumah kan ?” deva mendatangi shilla di dapur, sambil nyengir.
“Malah stres gue kak kalo balik ke rumah, mending kesini, lagian gue kangennya cuma sama lo doang” shilla hanya menatap adeknya itu sekilas. Enggak sampai lima menit kemudian, ia menyodorkan sepiring penuh spagheti itu untuk deva. Dalam diam, dia mengamati adeknya yang makan sangat lahap itu.
“Jangan lupa makan dev, lo kaya orang enggak makan setahun tahu enggak ? lihat deh badan lo kurus gitu, muka lo juga enggak cerah, banyak-banyakin sayur sama buah dev, jangan gara-gara sibuk lo jadi cuma ngandelin junk food doang, terus juga....”
“Buset deh kak, ceramah lo masih ini-ini aja deh” sela deva cepat sebelum shilla melanjutkan komentarnya.
“Haha, sori deh sori. Gimana hidup lo disana ? pasti seru ya”
“Biasa aja ah, cuma sekolah, apartemen dan sibuk sama pementasan-pementasan gue, bulan kemarin gue baru selesai pentas, yang videonya gue kirim ke elo, bagus kan ? sayang banget lo enggak datang”
“Hei boy ! lo pikir jakarta-sidney itu deket ? lagian waktu itu gue lagi sibuk. Tapi gue udah lihat kok, dan gue suka banget, akting sama tarian lo keren, keren banget” puji shilla tulus.
Deva adalah seorang pelajar yang mengambil program teater-musik dan tari di australia. Dari kecil dia memang suka dengan hal-hal seprti itu. Buatnya lewat semua media itulah dia bisa mengekspresikan emosi jiwanya. Dirinya sangat berbeda dengan shilla, kalo shilla cenderung lebih mementingkan orang lain dan menutupi perasaannya, deva adalah orang yang sangat ekpresif, selalu bilang apa yang dia rasa apapun itu dengan sejujurnya.
Apalagi keadaan keluarga mereka yang tidak seharmonis keluarga lainnya. Shilla dan deva terlahir di keluarga pebisnis yang sibuk dan penuh dengan keegoisan orang tua mereka masing-masing. Itu sebabnya deva memilih sekolah di luar negeri dan shilla memilih untuk tinggal di apartemen dekat sekolahnya.
“Lo lagi ada masalah ya ?” tanya deva sambil melihat shilla yang melanjutkan membaca novelnya setelah selesai nemenin deva makan.
“Masalah ? enggaklah, gue baik-baik aja kok”
“Gue udah jadi adek lo selama hampir 16 tahun, walaupun kita sering enggak ketemu, tapi gue bisa lihat di mata lo yang sayu itu tahu enggak ? sampe kapan sih shil lo bakal jujur sama perasaan lo sendiri ?” shilla menatap deva sambil tersenyum, memang hanya deva yang tahu apa yang shilla rasa selama ini.
“Ya lo kaya enggak tahu aja sih dev, di umur-umur kita ini kan, masalah lagi gencar-gencarnya dateng ke kita, dan gue masih cukup sanggup buat nahan ini sendiri.
“Lo lagi suka sama seseorang ya shil ? ayolah curhat sama gue..” deva melirik ke arah shilla, dia mengambil paksa novel yang shilla pegang dan meletakkanya begitu saja.
“Kok lo maksa sih ? lagi seru itu gue bacanya”
“Bisa entar lagi kan bacanya ? lo enggak capek aja terus-terusan masang muka sok baik-baik aja gitu, padahal dalem rapuh banget, entar lama-lama lo bisa jadi gila tahu enggak” deva memang selalu berkata apa adanya, enggak peduli sama siapapun.
“Hmm...gue emang enggak pernah menang kalo debat sama lo, gue....”
“Drrrt..drrrt...drrrt...” hp shilla bergetar, menandakan telpon masuk. Shilla melihat siapa yang menelponnya malam-malam begini, ternyata mamanya. Deva membisiki shilla supaya tidak memberi tahu keberadaannya disini.
“Halo ma..” sapa shilla.
“Shil, besok kamu adab acara enggak ?”
“Enggak ada sih ma, besok shilla free, kan libur, kenapa ?”
“Ya udah besok kamu dateng ya ikut mama sama papa ke acara pertemuan bisnis”
“Harus ma ?”
“Iya dong sayang, kamu tahu kan, kalo mengenal relasi dengan baik adalah salah satu kunci kesuksesan dalam berbisnis”
“Iya ma, besok shilla langsung, atau ?”
“Kamu ke rumah dululah, kita berangkat bareng, biar orang tahu kalo keluarga kita harmonis”
“Oh ya udah ma. Mama sama papa sehat kan ?”
“Ya udah sayang, besok jam tujuh malem. Mama lagi buru-buru nih, miss you”
“Miss..”
Klik. Telpon telah ditutup begitu saja, sebelum shilla mengakhiri kata-katanya. Dia hanya dapat menghela napas.
“Kenapa ? suruh dateng lagi lo ke acara bisnis-bisnis enggak penting itu ?” tanya deva.
“Apalagi sih dev ? mama enggak akan nelpon gue, kalo enggak ada hal kaya gini”
“Lo sih enggak pernah nolak, pasrah banget jadi orang. Sekali-kali lo speak up dong, bilang kalo lo enggak suka sama hal-hal kaya gitu, selama lo enggak ngomong, mereka enggak akan tahu perasaan lo” nasihat deva panjang lebar, dia emang udah gedek banget sama kakaknya yang menurutnya terlalu pasrah jadi orang.
“Mana bakal mereka dengerin gue dev. Udahlah, thanks ya buat semua perhatian lo, lo tidur gih sana, pasti lo capek dan agak jet lag. Gue siapin kamar lo dulu ya” shilla beranjak pergi ke arah kamar tamu. Deva cuma bisa pasrah melihat kakak satu-satunya itu, kadang dia kasian ngelihat kakaknya yang menurut dia lama-lama bisa ngalamin tekanan batin kalo kaya gini terus keadaannya.
***
Meski dengan penuh perasaan terpaksa alvin tetap ikut makan di meja makan bareng keluarganya. Papa dan mamanya pulang pagi ini. Alvin tahu papanya udah bakal interogasi dia saat melihat mukanya yang penuh dengan luka lebam, tapi mamanya berhasil meredam itu.
“Yo, nanti malem kamu ikut papa sama mama ke acara pertemuan bisnis ya” kata papanya yang cenderung terdengar seperti perintah ketimbang ajakan.
“Rio ada janji pa”
“Ini lebih penting yo, kamu tahu itu kan, cuma kamu yang bisa papa andalkan” papanya berkata dengan nada tegas. Rio, mamanya dan acha menoleh ke arah alvin yang seolah tidak peduli dengan kata-kata papanya barusan, dia terus saja menekuni makanannya.
“Iya pa, entar malem rio ikut” papanya tersenyum mendengar jawaban rio.
“Alvin enggak ikut pa ?” tanya mamanya.
“Buat apa ? buat ngerusak acara ? atau buat bikin malu ?” acha yang duduk di samping alvin, menggenggam tangan kakaknya itu erat. Alvin sendiri mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia benar-benar tidak ingin ribut hari ini. Semua hening, melanjutkan makanan mereka masing-masing.
“Alvin udah selesai, duluan” ujar alvin ke arah mamanya lalu pergi meninggalkan ruang makan begitu saja. Rio ingin menyusul alvin, tapi papanya masih terus mengajaknya berdiskusi tentang acara bisnis itu.
Alvin menendang-nendang bolanya di halaman belakang rumahnya. Seandainya ia bisa benar-benar merasa tidak peduli akan kata-kata yang terucap dari mulut papanya sendiri. Tapi tetap saja perih itu muncul dengan sendirinya sekuat apapun alvin berusaha cuek mengahadapinya.
“Bro..”
“Kenapa yo ? sabar ye, pasti lo bosen denger dia ngoceh tentang bisnis enggak penting itu..hehe..”
“Haha..eh gue mau minta tolong nih”
“Apaan ?”
“Entar malem sebenernya gue udah janji mau ngajak via jalan, tapi kan enggak mungkin, entar lo gantiin gue ya”
“Lo kan tinggal bilang enggak jadi ke via, susah amat”
“Gue enggak mau ngebatalin itu, enggak enak, lagian lo tahu sendiri kan gue udah sering ngebatalin janji sama dia. Ayolah vin, lo gantiin gue ya” bujuk rio.
“Nanti orang ngira gue apa ? masa gue jalan sama cewek saudara gue sendiri”
“Ya elah, peduli amat apa kata orang sih vin, masa lo tega sih ngebiarin via malem minggu ini sendirian..hehe..”
“Ya enggak masalah lah yo”
“Alvin, gue mohon. Kalo enggak gue tetep jalan sama via lo yang gantiin gue di acara itu deh” kata rio sambil tersenyum nakal, dia tahu alvin bakal milih pilihan pertama.
“Hah, ya udah deh, iya gue temenin via jalan” jawab alvin pasrah sambil berlalu meninggalkan rio.
Setelah memulaskan bedak tipis di wajah putihnya, via memandang sekali lagi wajahnya di cermin. Ini adalah malam minggu pertamanya bersama rio. Via mencoba tersenyum, setelah malam ini dia harus lebih memastikan perasaannya terhadap rio.
“Non, temennya udah dateng..” via mengambil cardigan pink dan tasnya. Dia menatap cermin sekali lagi.
“Kasih senyum termanis lo buat rio vi, lo pasti bisa” ujar via pada dirinya sendiri, kemudian dia keluar dari kamarnya, menuju ruang tamunya.
“Yo..eh alvin ? ya ampun muka lo kenapa ?” via beneran kaget, kenapa alvin yang duduk di ruang tamunya.
“Gue jelasin di mobil aja deh, ayo ah”
“Lo bawa mobil ?”
“Mobilnya rio” jawab alvin pendek sambil keluar dari rumahnya via. Via cuma bisa ngekorin doang, setahu dia alvin paling males naik mobil kalo enggak beneran terpaksa.
“Rio terpaksa harus ikut sama orang tua gue ke acara pertemuan bisnis, dan dia berhasil maksa gue buat nemenin lo jalan malam minggu ini. Kalo masalah muka gue, ya lo tahu sendirilah” jelas alvin.
“Lo terpaksa ya jalan sama gue ?” tanya via yang agak enggak nyaman sama sikapnya alvin yang jauh lebih dingin dari biasanya.
“Lo mau kemana ?” tanya alvin enggak perduliin pertanyaan via.
“Terserah lo aja deh”
“Terserah gue, gue ajak ke kafe nonton bola bareng nih”
“Yaa, alvin mah, jangan gitu dong, udah tahu gue enggak suka bola. Ke mall aja deh, kita jalan, makan, nonton”
“Ya udah” alvin cuma diem memacu mobilnya. Via pun ikutan diem, enggak tahu juga mau ngajak ngomong apa. Mobil mereka pun memasuki parkiran sebuah mall.
“Penuh vin..” ujar via sambil ngelihat-lihat kanan-kiri ikut merhatiin parkiran.
“Gini aja deh vi, lo gue turunin di lobby, biar entar gue parkir di seberang jalan aja, gimana ?”
“Terserah lo aja deh” jawab via. Lalu alvin pun menurunkan via di lobby, sementara alvin memarkirkan mobil di seberang jalan.
“Sekarang mau ngapain vin ?”
“Terserah lo, kan elo yang ngajak gue ke mall”
“Ya udah kita nonton aja yuk” alvin pasrah aja tangannya di tarik via menuju bioskop. Hatinya bergetar, ingin rasanya ia mengembangkan senyum di wajahnya, tapi entah kenapa, setiap niat itu muncul, wajah rio selalu terbayang di pikiran alvin.
“Mau nonton apa vin ? dan please jangan jawab terserah lagi, oke”
“Apa aja boleh deh vi” ujar alvin cuek yang sebenernya bikin via gondok, tapi mau apa lagi. Via pun memilihkan film untuk mereka berdua, sebuah film bergenre romantis. Alvin cuma melengos saat mengetahui apa film yang via pilih, tapi mau gimana lagi dia kan udah pasrahin itu ke via.
Enggak ada yang bener-bener menonton film itu penuh konsentrasi. Alvin sibuk dengan perasaan bersalahnya akan kesenangan liar yang merasuki hatinya dan via entah mengapa meskipun alvin terasa sangat menyebalkan saat ini, tapi dia tetap merasa sangat nyaman dengan alvin.
Kenapa gue seneng banget dengan adanya via di samping gue ? ini pertama kalinya gue pergi malam minggu berdua sama cewek, dan itu via. Tapi ini via, ceweknya rio, saudara gue sendiri, orang yang udah gue anggep lebih dari seorang sahabat dan adek, orang yang udah percayain via ke gue, arggh, gue kenapa sih ?!! alvin benar-benar kacau sama pikirannya yang berkecamuk.
Kenapa sekarang gue malah jalan sama alvin ? dan kenapa rasa nyaman itu lebih besar saat ini. Apa gue salah sekarang ? apa yang harus gue lakuin ? kenapa enggak ada kesempatan buat gue untuk mantepin pilihan gue sama rio, sebenernya apa sih yang gue rasain sekarang ?? enggak ada bedanya sama alvin, via pun terlalu sibuk akan perasaannya yang tidak pasti, dan logikanya yang tidak lagi sejalan dengan hatinya.
“Eh udah selesai ya ?” tanya via, yang baru sadar waktu lampu bioskop udah dinyalakan dan orang-orang udah mulai berduyun-duyun keluar.
“Tumben enggak nangis vi ?”
“Hah ?”
“Iya, kan filmnya tadi sedih kan ? tumben lo enggak nangis ?” alvin yang sebenernya juga enggak nonton sama sekali, cuma nebak-nebak doang.
“Hehe, kurang menjiwai kali ya gue. Sekarang kita mau kemana vin ?”
“Makan aja yuk, gue laper” ajak alvin, via cuma ngangguk terus keluar bioskop bareng alvin. Mereka berdua jalan dalam hening, enggak ada yang mulai membuka obrolan satu sama lain, enggak ada yang tahu juga mau ngobrolin apa.
“Bruukk”
“Auww” via terjatuh setelah badannya tidak sengaja tertabrak seorang laki-laki yang tampaknya sedang terburu-buru.
“Woi ! pake mata dong lo !” teriak alvin sambil nahan orang itu.
“Maaf mas, mbak..saya lagi buru-buru..”
“Lo pikir ini mall punya lo doang apa ? jalan seenak jidat lo ? kalo temen gue kenapa-napa gimana ?!” alvin masih terus menahan orang itu, sementara via yang sebenernya jatuh cuma karena kaget itupun berusaha buat ngeredain emosi alvin.
“Udahlah vin, dia kan udah minta maaf”
“Tuh mas, mbaknya aja udah maafin saya, kok masnya yang sewot” ujar orang tersebut.
“Kok lo nyolot sih ! mau ribut lo sama gue ?!” alvin menarik kerah baju orang tersebut.
“Udah vin udah, maaf ya mas..” via langsung narik tangan alvin menjauh dari orang itu.
“Kok malah lo yang minta maaf sih vi ? jelas-jelas dia yang salah ! lo enggak apa-apa kan ?” via tersenyum melihat alvin.
“Kenapa lo senyum-senyum ?” tanya alvin bingung.
“Lo tuh ya, kebiasaan banget deh. Sukanya marah-marah duluan sama orang, baru deh tanya guenya baik-baik aja atau enggak..hehe..” jelas via. Alvin cuma nyengir, dia garuk-garuk kepalanya yang enggak gatel sama sekali.
“Ya udah kita makan disana aja yuk” via menunjuk ke arah sebuah restauran makanan jepang, alvin mengangguk tanda setuju dan mereka berdua pun segera pergi ke restauran itu, yang bikin via cukup speechless adalah ketika tiba-tiba alvin menggenggam tangannya erat.
Dengan gerakan cepat, rio membuka dasinya, melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai kesiku. Tangannya sama bibirnya udah pegel dari tadi, salaman sama senyum ke semua orang.
“Gue duduk disini ya” ujar rio ke seorang cewek yang sedang duduk di sebuah bangku sendirian.
“Duduk aja, eh rio ?”
“Shilla ?”
“Lo ternyata ikut juga di acara ini ?” tanya shilla sambil mempersilahkan rio duduk di sampingnya.
“Iya..hehe..lo sendiri ? gue enggak nyangka kalo lo tertarik sama bisnis shil”
“Gue cuma pengen nurut sama kata-kata orang tua gue doang kok”
“Anak yang baik banget lo, sama kaya gue..hehe..”
“Tetep aja ya narsis lo..hehe..gue kira lo malem mingguan sama via ? ini malem minggu pertama kalian sebagai pacar kan ?”
“Tadinya sih gitu, tapi bokap gue maksa mau gimana lagi. Jadinya gue suruh alvin aja deh gantiin gue nemenin via jalan” shilla menatap rio heran, kok ada cowok yang nyuruh ceweknya jalan sama cowok lain.
“Gue baru lho yo, nemuin cowok kaya lo gini..hehe...”
“Emang gue cowok kaya apa ?” tanya rio bingung.
“Ya, mana ada sih cowok yang nyuruh ceweknya jalan sama cowok lain, kan aneh aja gitu” jelas shilla.
“Haha, enggak banget deh gue jealous sama alvin, dia itu orang yang paling gue percayalah, gue malah lebih tenang kalo via sama dia..hehe...”
“Iya deh iya..” lalu obrolan mereka pun terus berlanjut satu sama lain, setidaknya, mereka berdua enggak ngerasa bosen sama acara yang sejujurnya enggak pernah pengen mereka datengin ini.
***
Enggak pernah ada yang lebih indah daripada pemandangan langit sore, saat dimana langit berwarna oranye keemasan, dengan lembayungnya yang menggantung, burung-burung yang berarak pulang, dan semilir angin yang berhembus merdu. Saat-saat seperti ini adalah sat yang paling via sukai.
“Maaf ya vi, harusnya kemarin kan jadi malam minggu pertama kita, tapi aku malah harus dateng ke acara lain” ujar rio tulus. Via hanya tersenyum melihatnya. Sore ini, rio sengaja mengajak via ke danau, untuk sekedar bertemu dan meminta maaf.
“Kamu enggak masalah kan semalam malah jalan sama alvin, bukannya aku ?”
“Santai aja kali yo, kita kan udah sahabatan dari dulu, aku udah terbiasa banget sama hal-hal kaya gini”
“Beruntung banget aku punya cewek yang pengertian kaya kamu gini” rio mengacak-acak lembut rambut via sambil tersenyum, sementara via malah merasa tidak nyaman dengan pujian rio barusan.
“Gimana kemarin acaranya yo ?” tanya via sekedar mengalihkan pembicaraan.
“Gitulah vi, ngebosenin banget deh. Kamu sendiri gimana jalannya sama alvin ? pasti seru banget kan”
“Biasa aja kok, cuma nonton sama makan doang”
“Gara-gara enggak ada aku ya ? jadinya biasa aja..hehe..”
“Mungkin”
“Atau emang kamu lebih suka jalan sama alvin ?” via diam mendengar pertanyaan rio, kenapa rio malah nanya kaya gitu, sadarkah rio pertanyaan itu terasa telak di hatinya via.
“Aku suka jalan sama sahabat aku” jawab via diplomatis.
“Haha..enggak usah tegang gitu kali vi, aku percaya kok sama kamu. Eh iya ngomongin alvin, gimana kalo kita cariin dia cewek ?”
“Cewek ?”
“Iya..abis, seumur-umur aku sama dia, enggak pernah sekalipun dia bahas cewek sama aku”
“Mungkin dia emang belum nemu cewek yang tepat kali yo, lagian harus cewek yang siap mental buat ngadepin dia yang susah diatur kaya gitu” entah mengapa via merasa apa yang ia katakan adalah penolakan yang jujur dari dalam hatinya.
“Iya, cewek yang model-model kaya kamu gini, yang siap di bentak-bentak sama dia, yang siap dia jutekkin, disinisin, di diemin, tapi tetep aja enggak mau nyerah”
“Haha..kaya aku ?”
“Cewek mana coba yang berani deket sama dia, kecuali kamu ? tapi kamu kan udah punya aku..hehe..” sekali lagi rio mengacak-acak rambut via, dan diam-diam via berusaha berdamai dengan kenyataan yang telah ia pilih sendiri itu.
Tepat ketika matahari mulai turun perlahan, via menyandarkan kepalanya di pundak rio. Dan tidak ada getaran itu, yang via rasakan, hanyalah sebuah ketenangan, ketenangan karena ia sedang bersandar di pundak sahabatnya, dan bukan pacarnya. Via menghela napasnya perlahan, seiring perasaan bersalah yang mulai menyelimutinya.
Gabriel menyetir mobilnya tanpa tujuan, rencana awalnya adalah main ke rumah rio, tapi gara-gara rio bilang sore ini dia ada janji sama via, iel pun mengurungkan niatnya. Jadilah sekarang dia cuma di dalem mobilnya sambil nyanyi teriak-teriak enggak jelas. Telunjuknya ia ketuk-ketukkan di stir mobil, kepalanya bergoyang-goyang kekanan-kiri, dan jalan yang lenggang membuatnya menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata.
“Ckiitt..” iel ngerem mendadak, waktu di sebuah belokan tiba-tiba ada seseorang yang menyebrang jalan. Dia berusaha mengatur napasnya sendiri, meredakan rasa kekagetannya. Setelah itu, sebagai seorang laki-laki gentleman, dia pun keluar mobil.
Ternyata yang ia tabrak adalah seorang perempuan. Perempuan itu jatuh terduduk tepat di depan mobil iel, ia sedang berusaha meniup-niup lututnya yang mengeluarkan darah. Iel pun berjongkok di depan cewek itu sambil memasang muka penuh rasa bersalah.
“Sori..sori..gue beneran enggak sengaja, lo enggak apa-apa kan ?”
“Enggak kok, guenya yang enggak hati-hati” ujar cewek itu sambil masih sibuk dengan luka dilututnya, tanpa menoleh ke arah iel sedikitpun. Iel berdiri berjalan ke arah mobilnya, dia mengambil kotak p3k yang selalu tersedia di mobilnya dan blazer almamater sekolahnya, yang ia gantungkan di jok belakang kursinya.
“Pake ya, udah malem, sini gue obatin” iel memakaikan blazer itu dan mulai mengobati luka cewek tersebut. Cewek itu melirik ke arah iel dan blazer yang sekarang ia kenakan.
‘vendas ? kenapa dunia sempit banget sih’ gumam cewek itu dalam hati.
“Udah, gue udah enggak apa-apa kok. Makasih ya..” untuk pertama kalinya cewek itu menatap iel, iel yang awalnya hanya ingin membalas tatapan itu, malah terpaku melihat senyuman gadis itu, sorot matanya, serta garis wajah cantiknya.
“Hei..” cewek itu melambai-lambaikan tangannya di depan muka iel.
“Hah ? eh..ehm..mau gue anter ?” tanya iel gelagapan.
“Enggak usah, makasih, gue lagi nunggu di jemput”
“Ya udah gue tunggu sampe jemputan lo dateng” kata iel maksa.
“Jangan dong, mending lo pulang aja, gue..ehm..di jemput..cowok gue” hati iel hancur seketika mendengar pengakuan tersebut, dia cuma tersenyum sambil membereskan kotak p3knya.
“Ya udah gue duluan ya, eh iya nama lo siapa ? gue gabriel” ujar iel sambil menjulurkan tangannya. Cewek itu baru mau membalasnya, ketika
“Teet..teet..teet..”
“Sori, gabriel. Gue udah di jemput, ini blazer lo” setelah menyerahkan blazer itu, cewek tersebut langsung masuk ke dalam mobil itu. Iel hanya menunduk, memandangi tangannya yang bahkan belum sempat berjabat dengan tangan cewek tersebut, dengan langkah gontai, dia kembali ke mobilnya.
***
Sambil bersiul-siul kecil, alvin masuk ke dalam kelasnya yang telah di mulai dari satu jam yang lalu, tapi seperti biasa ia tidak pernah peduli dengan hal seperti ini. Dia langsung melangkah ke arah bangku paling belakang, meletakkan rangselnya, lalu mengeluarkan sketch booknya.
Perlahan namun pasti, alvin mulai menggoreskan pensilnya di atas sketch booknya itu. Imajinasinya melayang jelas di depan matanya. Dia terus tenggelam dalam dunianya sendiri, dunianya yang paling privat dan tertutup. Hingga tiba-tiba selembar kertas di sodorkan ke arahnya. Dengan gerakan singkat, alvin menampik kertas itu.
“Hari ini kita quiz alvin, dan kamu belum ikut satu quiz pun di pelajaran saya semester ini” tanpa melihat lawan bicaranya, alvin menutup sketch booknya dengan keras, dan memukul meja.
“Ganggu tahu enggak lo !!”
“Saya guru kamu alvin !” alvin melirik sekilas ke arah gurunya yang telah menghadap ke arahnya sambil berkacak pinggang. Seisi kelas juga sekarang sedang memperhatikannya, menghentikan aktivitas mereka masing-masing. Alvin mengambil tasnya, kemudian ia beranjak pergi.
“Mau kemana kamu ?!”
“Detention room” jawab alvin singkat sambil terus berjalan ke luar kelasnya. Ternyata hanya ada dirinya di detention room hari ini, ya memang alvin udah kaya siswa tetap sih di detention room. Lagian guru di detention room, juga udah keabisan akal mau ngasih hukuman apa buat alvin. Alvin mungkin salah satu pencetak sejarah di vendas, murid yang telah melanggar lebih dari selusin peraturan-peraturan yang ada.
“Gue harus ngapain ?” tanya alvin cuek.
“Kamu lagi kamu lagi, setiap hari, selalu kamu yang masuk detention room”
“Ada hukuman enggak buat gue ?!”
“Kamu ke world history room dan bersihkan alat peraga disana” perintah gurunya. Tanpa jawaban apapun dari mulut alvin, alvin segera pergi meninggalkan detention room. Bandel-bandel gini, alvin selalu menjalankan hukuman yang ia terima, buat dia itu termasuk resiko perbuatannya.
Dalam diam, alvin mulai merapikan buku-buku yang acak-acakan dan alat peraga lainnya. Sesekali ia membaca tulisan-tulisan yang menarik minatnya.
“Kreek..” alvin menatap ke arah pintu yang terbuka, dia hanya tersenyum tipis melihat siapa yang masuk.
“Kok disini vin ? bukannya lo sekarang harusnya di economy class ?”
“Detention vi. Lo sendiri ngapain kesini ?”
“Gue emang lagi history class sekarang, guru gue nyuruh ngambil film dokumenter yang ada disini”
“Oh...” ujar alvin cuek. Via hanya bisa sabar melihat kelakuan alvin, dia berjalan ke arah rak film dokumenter, ternyata film yang gurunya maksud ada di rak paling atas, dan itu cukup membuat via kesulitan mengambilnya. Dia berusaha melompat-lompat untuk bisa meraih film tersebut, tangannya menggapai-gapai, tapi matanya melihat ke arah alvin, berharap alvin membantunya.
“Gubraakk”
“Lo ngapain vi ?!”
Via meringis menatap alvin, entahlah apa yang telah ia lakukan tapi semua film dokumenter yang telah tersusun secara rapi di rak sekarang berhamburan jatuh di lantai, via sendiri juga ikut terjatuh. Alvin menghampiri via dan berlutut di depannya.
“Ma..maaf vin..gue bantuin ya..” entah mengapa, tapi sebutir air mata meluncur dari matanya.
“Kok lo nangis ? ada yang sakit ? lo luka ?” tanya alvin panik, dia menarik via pelan, dari timbunan film-film itu.
“Gu..gue..takut..elo marah” ujar via pelan.
“Hahaha..aneh dasar” via menatap alvin yang malah tertawa terbahak-bahak.
“Jadi lo enggak marah ?”
“Ngapain gue mesti marah coba ? makanya kalo enggak bisa tuh minta tolong. Lo tuh ya, udah segede ini aja masih tetep cengeng” alvn menghapuskan air mata via dengan telunjuknya.
“Ngapain lo berdua disini ?”
Alvin dan via berdiri mematung di tempatnya, mereka ngerasa kaya maling yang di tangkep hidup-hidup sekarang. Pintu yang tadi via biarkan terbuka, membuat mereka tidak sadar akan kehadiran orang lain di ruangan itu, dan apesnya, orang itu adalah rio.
“Ya ampun itu rak kenapa acak-acakan ?” tanya rio lagi, sambil nunjuk ke arah film yang dijatuhin via.
“Yo..ehm..ini, aku lagi mau ngambil film dokumenter, dan enggak tahu gimana, aku malah jatuhin semua filmnya, dan terus alvin nolongin aku” jelas via sambil ngeremet-remet tangannya sendiri, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
“Lha, lo ngapain disini vin ?”
“Detention yo. Sori, yang lo lihat tadi enggak kaya yang lo pikir, gue cuma nolongin via dan..”
“Iya-iya gue tahu, thanks ya vin, udah nolongin cewek gue..hehe..emang gue lebih tenang kalo via sama lo” rio nepuk-nepuk bahu alvin, alvin berusaha tersenyum ke arah rio.
“Kamu sendiri ngapain yo ?” tanya via.
“Tadi aku abis dari ruang guru, terus denger suara ribut dari sini, ya udah aku masuk aja. Eh vin, gue bantuin ya beresinnya, itung-itung kan lo udah bantuin cewek gue”
“Via juga sahabat gue kali yo, bakal gue tolongin juga kalopun dia bukan cewek lo” alvin mengatakan itu sambil melihat ke arah via.
“Udahlah pokoknya gue mau bantuin lo, udah sana vi kamu balik ke kelas, pasti dari tadi guru kamu nungguin film dokumenternya kok enggak dateng-dateng” via tidak dapat membantah kata-kata rio, dia mengambil film yang ia inginkan dan meninggalkan rio dan alvin di ruangan itu.
“Lo enggak curiga sama gue yo ?”
“Curiga buat apa ?”
“Gue sama via”
“Haha, enggaklah. Gue jelas-jelas tahu kalo lo berdua sahabatan”
“Gimana kalo gue ngerebut via dari lo ?” rio berhenti menata film-film itu, alvin juga berhenti.
“Eh itu cuma misalnya yo, gue cuma iseng nanya doang” jelas alvin kelabakan, dia kebawa suasana nanyain pertanyaan konyol itu.
“Gue rasa lo enggak cukup tega ah vin buat ngerebut via dari gue...hehe..iya enggak ?” tanya rio balik.
“I..iyalah. Enggak akan gue ngerebut via dari lo yo, tenang aja”
“Iya gue tahu kok” ujar rio. Lalu mereka berdua melanjutkan kembali merapikan film-film tersebut.
***
Tangannya memetik senar gitarnya tanpa nada, meski melodi yang mengalun tetap saja indah untuk di dengar. Rio menatap bintang-bintang dari beranda kamarnya. Sesekali ia mengubah posisi duduknya, tapi matanya terus menatap bintang dan tangannya terus memetik senar gitarnya.
Biasanya kalo dia udah kaya gini, dia terbiasa mencurahkan perasaannya sama via ataupun alvin. Hanya saja malam ini, via bilang dia harus belajar karena mau ada tes dan alvin entah telah menghilang kemana sejak pulang sekolah tadi.
Diam-diam, tanpa siapapun pernah mengetahuinya, rio kadang sering iri, akan diri alvin. Yang dia anggap bebas menentukan apapun pilihannya, bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan perasaan orang lain, dan bebas untuk mengatur hidupnya sendiri. Berbeda dengannya, yang selalu terlanjur dituntut untuk selalu jadi nomer satu tanpa cela sedikitpun, yang selalu harus berlaku sempurna, meski kadang hal itu tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Tidak ada yang salah, dengan menjadi anak kebanggaan bagi orang tuanya dan contoh bagi teman-temannya di sekolah. Tapi rio tetaplah seorang manusia, yang memiliki titik jenuh akan hidupnya, yang terlalu monoton.
“Ngelamun melulu”
“Ngapain cha ? ngagetin aja..” rio melirik ke arah acha yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.
“Mama pergi nemenin papa, katanya ada acara pembukaan apa gitu, jadi daripada sepi, mending acha ke kamar kakak” jelas acha sambil duduk di samping rio.
“Oh, untung gue enggak diajak”
“Haha, nasib lo kak” goda acha.
“Cha, lo pernah ngerasa iri sama seseorang enggak ?”
“Iri ? buat apa, acha sih terima-terima aja sama yang acha punya, paling iri sama nilai-nilai kak rio yang selalu sempurna itu”
“Itu sih tetep aja namanya lo pernah ngerasa iri, sama gue lagi irinya”
“Haha, siapa sih yang enggak iri sama kakak. Kakak itu pinter, ketua osis, jago di segala bidang, kapten basket, pinter main musik, suara bagus, tampang oke”
“Gimana kalo gue capek jadi sempurna cha ?”
“Kakak kenapa sih ? acha bingung deh”
“Lo lihat deh alvin, hidupnya dia tuh bebas banget, apa yang dia mau ya itu yang dia lakuin, enggak peduli apa kata orang”
“Dimata acha, kakak sama kak alvin, sama-sama kakak yang hebat. Kalian berdua punya keahlian di bidang masing-masing kan, dan yang perlu kakak tahu, acha bangga punya kakak kaya kak rio dan kak alvin”
“Makasih ya cha, enggak nyangka gue, lo bisa bijak juga”
“Yee..” cibir acha, yang bikin rio tersenyum. Setidaknya kata-kata acha tadi cukup menghiburnya untuk saat ini.
Dalam sekali teguk, alvin langsung menghabiskan sisa minum dari gelasnya. Hanya tinggal dia satu-satunya pengunjung di kafe ini, alvin baru aja nongkrong sama temen-temennya dan sekarang mereka udah pulang duluan.
“Maaf mas, kafenya udah mau tutup” ujar seorang karyawan memberitahu alvin. Alvin melirik jam tangannya, memang sudah pukul sebelas malam.
“Iya, ini juga gue udah mau pergi, mana bill gue” setelah membayar semua pesanannya, alvin bergegas meninggalkan kafe tersebut. Dia memakai helmnya dan bersiap untuk menyalakan motornya. Ketika matanya menangkap seoranng perempuan sedang terduduk di pinggir trotoar dan wajahnya ia sembunyikan di balik kedua tangannya. Didasari rasa ketidaktegaannya, alvin pun menghampiri cewek tersebut.
“Lo kenapa ?” cewek tersebut menengadahkan wajahnya, terlihat jelas bahwa ia abis menangis, karena sisa-sisa air yang melekat di wajahnya.
“Apa peduli lo ? kita bahkan enggak kenal”
“Ya udah. Gue cuma mau bilang, ini udah jam sebelas malem, dan bakal susah kalo lo mau cari transport buat pulang” ujar alvin sambil berlalu meninggalkan cewek tersebut.
“Emang lo mau nganterin gue balik ?” tanya cewek itu sambil berteriak ke arah alvin yang semakin menjauh, alvin tidak menggubrisnya, dia terus berjalan ke arah motornya. Tapi tidak berapa lama kemudian, alvin kemabali lagi kehadapan cewek itu bersama motornya.
“Ayo cepetan naik” perintah alvin.
“Hah ?”
“Penawaran terakhir nih, mau balik enggak lo” cewek itu celingukan ke arah kanan dan kirinya, sepi. Lalu dia berpikir sejenak ‘enggak ada tampang jahat kok nih orang’ batinnya. Dia pun berdiri dan naik ke motor alvin.
“Dimana rumah lo ?” tanya alvin.
“Komplek kencana indah” jawab cewek tersebut, dan motor alvin pun langsung melesat cepat.
“Makasih ya, maaf ngerepotin. Oh ya kenalin gue zevana, tapi lo bisa panggil gue zeva”
“Gue alvin”
“Kenapa lo mau nganterin gue ?” tanya zeva masih bingung.
“Karena nyokap gue cewek, gue punya adek cewek dan gue juga punya sahabat cewek”
“Oh..ya udah, makasih ya, makasih banget, gue enggak kenal sama lo, tapi lo mau bantuin gue”
“Hmm, gue duluan ya” sebelum zeva membalas kata-kata alvin, motor alvin telah melesat kembali di gelapnya malam.
***
Rio menghentikan langkahnya ketika suara alunan melodi dan nada indah itu berpadu merdu di telinganya. Dalam diam dia memejamkan kedua matanya, menikmatinya dengan hati.
indah terasa indah
bila kita terbuai dalam alunan cinta
sedapat mungkin terciptakan rasa
keinginan saling memiliki
dan bila itu semua
dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
tak semudah seperti yang pernah terbayang
menyatukan perasaan kita
tetaplah menjadi bintang di langit
agar cinta kita akan abadi
biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua
sudah, terlambat sudah
ini semua harus berakhir
mungkin inilah jalan yang terbaik
dan kita mesti relakan kenyataan ini
“Prok..prok..prok..” rio memberikan aplause dan keluar dari tempat persembunyiannya. Via menatapnya dengan pandangan kaget, dia tidak menyangka rio mendengarkan permainan piano dan nyanyiannya dari tadi.
“Rio ? sejak kapan kamu ada disini ?”
“Sejak awal kamu nyanyiin lagu itu, bagus banget vi, kamu nyanyinya penuh penghayatan banget deh” puji rio tulus, via hanya tersenyum. Rio benar, via menyanyikan lagu itu dengan menggunakan hatinya yang terdalam, tapi sayangnya lagu itu bukan untuk rio.
“Makasih ya yo, kamu mau ngapain ke rumah aku ?”
“Mau main aja, kangen sama kamu, abis tadi seharian di sekolah sibuk banget sih, sampe enggak sempet ketemu kamu”
“Oh ya udah, kita duduk aja yuk di beranda kamar aku, kaya biasanya ngeliatin langit sore” ajak via.
“Enggak apa-apa nih masuk kamar kamu ?”
“Enggaklah, emang kamu mau ngapain ? hehe..dulu waktu kecil juga kamu sama alvin sering ke kamar aku. Udah sana kamu masuk, aku ambilin minum dulu..” rio cuma tersenyum sambil menuruti perintah via. Ia memasuki kamar yang di dominasi oleh warna putih dan ungu muda tersebut. Rio mengamati koleksi-koleksi novel dan pajangan-pajangan via.
“Kotak apaan nih ?” tanya rio pada dirinya sendiri, saat ia menemukan sebuah kotak kecil dari kayu, yang entah kenapa di sembunyikan via di antara pajangan-pajangannya. Diliputi rasa penasaran, rio pun membuka kotak tersebut, seuntai kalung dengan bandul serpihan kayu yang tidak rata di ujung-ujungnya ia temukan di dalam kotak tersebut.
“Ini kalung apaan ya ? kok gue ngerasa familiar, gue ngerasa pernah ngelihat serpihan kayu kaya gini juga deh” gumam rio sambil mengamati kalung tersebut. Dia berusaha mengorek ingatannya, dia merasa yakin pernah melihat benda yang mirip seperti ini sebelumnya.
“Yo, bukain pintu dong, aku bawa baki nih” panggi via dari balik pintu. Rio langsung meletakkan kalung itu kembali ke dalam kotaknya dan meletakkan kotak tersebut di tempatnya semula, kemudian segera membukakan pintu untuk via.
“Lama banget, abis lihat apa ayo kamu ?” tanya via dengan wajah penasaran.
“Lihat apa aja yang bisa aku lihat..hehe..” kilah rio. Mereka berdua duduk di beranda kamar via, menikmati pemandangan langit sore sekali lagi.
“Yo, kok kamu bisa sayang sama aku ?” tanya via tiba-tiba.
“Ya karena aku nyaman saat aku sama kamu, karena aku ngerasa, kamulah orang yang selalu bisa bikin detak jantung aku enggak normal saat kita lagi sama-sama, senyuman kamu yang selalu bisa bangkitin semangat aku, banyaklah, kalo aku sebutin satu-satu, setahun juga enggak akan kelar vi”
“Gombal...” timpal via.
“Kalo gombalan aku bisa bikin kamu terus ada di samping aku, aku rela ngegombal setiap waktu buat kamu”
“Apaan sih kamu..” lagi-lagi via merasa perasaan bersalah itu datang lagi menghampirinya.
“Kamu sendiri, kenapa nerima aku ?” via terdiam mendengar pertanyaan rio. Mengapa ia harus berpikir dulu, bukankah itu pertanyaan gampang, bukankah via tinggal bilang, karena ia juga menyayangi rio, tapi mengapa lidahnya terlalu sulit mengucapkan kata-kata itu.
“Hmm..karena aku..karena kita cocok” jawab via sambil tersenyum ke arah rio, hanya itu kata yang berhasil via ucapkan dari sekian banyak alasan yang bersarang di kepalanya.
“Aku enggak akan pernah ngecewain dan nyia-nyiain kamu vi” ujar rio sambil merain tangan via dan menggenggamnya erat. Mereka berdua terus ngobrol tentang segala hal, tentang kesibukan rio yang seabrek hingga obrolan ringan yang tidak penting. Setelah gelap menjemput, rio pun pulang ke rumahnya, yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah via.
Via merenung di pinggir tempat tidurnya, ia memikirkan kata-kata rio, pujian-pujian tulus yang terlontar dari bibir rio hanya untuknya seorang, kepercayaan rio yang tiada terbatas, dan tentunya rasa sayang rio yang terlalu besar untuknya. Pandangannya beralih ke arah lain, ia berjalan menghampiri rak pajangan di kamarnya, tangannya meraih kotak, yang tanpa ia ketahui telah di buka oleh rio.
“Perasaan gue doang, atau emang kotaknya agak geser ya” gumam via curiga.
“Semoga tadi rio enggak lihat ini” dengan perlahan via membuka kotak tersebut, memandangi benda di dalamnya, di sentuhnya pelan, bandul serpihan kayu tersebut.
“Maaf yo, hati gue terlanjur terikat sama ini” ucap via pelan, nyaris berbisik. Di genggamnya kalung itu, via terduduk lemas di kasurnya kembali, berharap waktu berhenti sejenak untuk meredakan segala penatnya.
***
Rio tersenyum puas melihat bola basket yang ia shoot masuk ke dalam ring dengan sempurna. Kemudian tanpa lelah ia kembali mendribel bola basketnya tersebut.
“Main sendiri aja lo, oper ke gue dong”
“Emang lo bisa main basket shil ?”
“Lihat aja..” dengan gerakan gesit, shilla merebut bola basket yang sedang rio drible. Shilla mendrible beberapa kali, dan kemudian dia langsung menembaknya dan masuk, cukup membuat rio tercengang.
“Wow, hebat lo ya. Enggak nyangka gue..”
“Haha..kenapa enggak nyangka ?”
“Ternyata lo itu miss.serba bisa ya ? kagum gue sama lo” puji rio, yang bikin shilla sedikit melambung.
“Iya deh mr.serba bisa juga..” mereka asik bermain bersama, oper-operan bola sambil sesekaloi menembakkan bola ke ring. Setelah hampir setengah jam berlalu, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“Minum yo..” shilla menyodorkan sebotol aqua dingin untuk rio. Rio menerimanya dan langsung meneguk minuman itu habis.
“Thanks ya shil”
“Hmm. Via enggak nungguin lo ?”
“Enggak, kasian dia kalo harus nungguin gue. Tadi dia udah pulang sama alvin”
“Percaya banget ya lo sama mereka”
“Iyalah. Eh lo sendiri kok belum pulang ?”
“Lha, kan kita mau ngurusin osis dulu yo”
“Sekarang aja yuk, entar keburu sore lagi” ajak rio, shilla hanya mengangguk terus ngekorin rio. Sepanjang jalan mereka ngobrol, shilla selalu merasa nyaman saat dia sedang bersama rio seperti ini. Meski ia tahu, laki-laki yang sedang berjalan disampingnya dan begitu ia kagumi ini adalah orang yang hatinya telah terikat dengan perempuan lain.
Alvin tidak menghiraukan tatapan ramah penuh senyum dari cewek-cewek yang sedang melihat ke arahnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana jinsnya, dia berjalan cuek dengan musik dari ipod yang mengalun di telinganya.
“Enggak jalan sama kakak enggak jalan sama kak rio, pasti cewek-cewek pada tebar pesona deh” ujar acha yang dari tadi ngerasa aneh sendiri jalan disamping alvin.
“Bangga dong lo cha, punya kakak ganteng kaya gue sama rio”
“Beuh ! kak gue mau ke toko buku nih, lo mau ikut enggak ?”
“Iyalah, entar lo ilang lagi. Eh tumben lo enggak jalan sama aren ?”
“Tadinya sih janjian sama aren, tapi tiba-tiba dia bilang dia harus nemenin kakaknya”
“Riko ?”
“Mungkin” acha masuk ke toko buku, diikuti oleh alvin di belakangnya. Sementara acha sibuk mencari buku pelajaran, alvin memilih melihat-lihat komik. Setelah selesai, acha dan alvin memutuskan untuk makan dulu di sebuah restaurant.
“Kakak, enggak jealous sama kak via ?”
Alvin diam mendengar kata-kata acha ‘kenapa orang pada nanya kaya gini sih ?’ batin alvin dalam diamnya.
“Kok bengong kak ?”
“Hah..enggak apa-apa. Eh si cakka kemarin nanyain lo tuh” ujar alvin mengalihan pembicaraan.
“Kak cakka ?”
“Iya. Emang ada cakka yang lain ?”
“Nanya apa ?” tanya acha berharap.
“Banyak, kayanya dia suka sama lo”
“Uhuk..uhuk..uhuk..” acha keselek minumnya.
“Haha, kenapa lo ? cie..suka juga lo sama cakka ?”
“Ih apaan sih kakak..”
“Hmm..baguslah kalo lo enggak suka. Masih kecil lo, belum pantes pacaran” kata-kata yang terlontar dari mulut alvin secara spontan itu, entah kenapa malah membuat acha merengut sebal.
“Acha ?” acha menoleh melihat siapa yang memanggil namanya. Ternyata itu adalah aren, sahabatnya. Aren menghampirinya dengan seorang perempuan berambut panjang yang tampak tersenyum.
“Alvin ! enggak nyangka kita ketemu lagi” teriak cewek tersebut heboh. Acha sama aren cuma lihat-lihatan doang, sementara alvin tetap memasang muka acuh tak acuhnya.
“Kak zeva kenal sama kak alvin ?” tanya aren.
“Iya..hehe..eh iya, kenalin gue zeva” zeva menyodorkan tangannya ke acha, acha membalas sodoran tangan itu.
“Acha. Gue kira lo jalan sama kak riko ren”
“Kak zeva ini pacarnya kak riko cha..” acha hanya meng-o-kan mulutnya, sementara alvin untuk pertama kalinya memandang zeva.
“Eh bentar deh, ini ya ren, alvin yang sering berantem sama riko ?” tanya zeva setelah melihat tatapan sinis dari alvin.
“Iya kak..ehm cha, temenin gue ke toko buku yuk, gue belum dapet buku yang kita cari itu”
“Yah ren, gue baru aja balik dari toko buku” tolak acha.
“Ayolah cha, tega banget lo sama gue ?” rayu aren.
“Hmm, ya udahlah. Kak alvin sama kak zeva tunggu disini aja ya..” setelah ditinggalkan aren dan acha. Alvin dan zeva hanya diam-diaman aja, alvin masih terus mendengarkan ipodnya, sementara zeva memilih untuk memainkan handphonenya, meskipun beberapa kali ia melirik ke arah alvin.
“Ehm..vin..apa lo nyesel udah nolongin gue ?” tanya zeva pelan-pelan.
“....”
“Apa kalo lo tahu, gue pacarnya riko dan gue anak vailant, lo enggak akan nolongin gue ? lo bakal biarin gue sendirian disana ?” alvin masih terus diam tidak menggubris zeva sama sekali.
“Malam itu gue berantem sama riko, karena gue berusaha untuk ngelarang dia tawuran lagi sama vendas. Yang ada dia malah nurunin gue di tengah jalan kaya gitu, itu bukan untuk pertama kalinya dia ngelakuin hal semacam itu, tapi entah kenapa, gue selalu aja maafin dia...” entah sadar atau tidak, zeva malah curhat sama alvin.
“Apa urusannya sama gue ?” tanya alvin pada akhirnya.
“Hah ? urusan apa ? emang gue ngomong apa barusan ?” tanya zeva bingung. Alvin juga ikutan bingung, dia cuma mandangin zeva.
“Lo enggak sadar kalo lo abis cerita gue, masalah lo sama riko”
“Emang iya ? kok gue bisa enggak sadar ya ? haha..sori vin sori..” alvin tambah aneh aja ngelihat cewek di depannya ini.
“Enggak nyangka gue ceweknya riko aneh kaya lo gini” ucap alvin enggak pake basa-basi.
“Hehe..emang lo pikir ceweknya riko kaya apa ?”
“Enggak kaya lo yang jelas”
“Lama-lama bisa gila gue ngobrol sama orang kaya lo..hehe..eh pinjem hp lo ya” zeva langsung aja ngambil hpnya alvin yang alvin letakkan di atas meja, alvin cuma bisa pasrah natap itu.
“Nih, save no gue ya. Lo kan tadi udah dengerin gue curhat, entar kapan-kapan lo mau curhat sama gue, hubungin gue aja. Gue mau nyusul aren sama acha ke toko buku aja lah..” zeva meninggalkan alvin yang masih terbengong-bengong menatap layar hpnya.
Acha dan alvin pulang tepat jam makan malam. Papa, mama dan rio udah duduk siap menunggu mereka berdua. Saat-saat berkumpul seperti ini, adalah saat yang sebenernya paling alvin ingin hindari, itu sebabnya tidak seperti acha yang langsung ikut bergabung di ruang makan, alvin memilih untuk langsung masuk ke kamarnya.
“Dasar anak enggak sopan ! di tunggu makan malam, malah ngeloyor pergi gitu aja !” kata-kata papanya, menahan langkah alvin. Dia berbalik, kemudian ikut duduk di ruang makan.
“Darimana aja cha ?” tanya mamanya, berusaha menetralisir keadaan.
“Dari toko buku ma, tadi kak alvin nemenin acha”
“Ngapain ngajak dia ke toko buku ? enggak ada gunanya cha” ujar papanya, yang membuat atmosfer ruangan kembali memanas.

“Pa, udahlah, ini waktunya makan malam” ujar mamanya.
“Papa tuh cuma mau bilang ke acha, kalo ada urusan sekolah, jangan sampe dia dapet pengaruh dari orang yang salah” alvin meletakkan sendok dan garpunya, dia memberanikan diri menatap mata papanya.
“Ya udah cha, lain kali kalo kamu mau pergi sama rio aja, jangan sama gue” alvin berbicara ke acha tapi matanya tetap menatap mata papanya.
“Tapi mungkin tuan besar ini lupa, kalo dia udah bikin rio, kehilangan waktu-waktunya untuk sekedar menikmati masa remajanya. Dia lupa, kalo dia adalah seorang ditaktor di keluarga ini” lanjut alvin lagi. Rio yang duduk di samping alvin enggak bisa berbuat banyak.
“Kurang ajar kamu !”
“Apa ?! mungkin anda bisa mengatur kehidupan rio, tapi maaf, anda tidak bisa mengatur kehidupan saya !” alvin berdiri dari tempat duduknya, dia memandang papanya tajam. Acha dan rio menahan alvin, sementara mamanya menahan papanya.
“Saya ini papa kamu !”
“Papa ? saya udah lupa rasanya punya papa ! setahu saya, seorang papa tidak akan meninggalkan anaknya begitu saja”
“Kamu !” papanya bersiap menghampiri alvin, tapi tangan mamanya terus berusaha menahan itu.
“Tamparan anda sudah tidak berfungsi lagi untuk saya !” dengan emosi yang telah memuncak, alvin langsung pergi, mengambil kunci motornya, dan memilih untuk menghilangkan segala kepenatannya dengan ngebut.
Semua kenangan berputar di otaknya, ia berusaha mencari kenangan terbaik yang ia ingat bersama papanya. Tapi yang muncul, hanyalah teriakan-teriakan kasar, tamparan serta kesinisan dari papanya. Alvin menepikan motornya, ke satu-satunya tempat yang ia tahu akan menenangkannya. Tapi langkahnya terhenti, ketika ia sadar bahwa telah ada yang mendahului dirinya di tempat itu.
“Alvin..” sapa orang itu, ketika menyadari kehadiran alvin.
“Kok lo ada disini vi ?” alvin menghampiri via yang sedang duduk di pinggir danau.
“Lagi suntuk aja. Lo abis berantem sama bokap lo ya ?”
“Darimana lo tahu ?”
“Gue udah jadi sahabat lo dari kecil alvin, gue tahu semua tentang lo, gue tahu...” alvin menatap mata bening itu, hanya dengan menatap matanya, alvin bisa merasakan ketenangan yang sangat mendalam. Tersadar, ia mengalihkan pandangannya dari mata itu, dia tahu, dia tidak berhak ada disana.
“Vin, masih inget bintang kita ?” tanya via sambil menatap langit yang dipenuhi oleh taburan bintang.
“Masih..” jawab alvin pendek, dia tidak ingin mengenang bagian ini.
“Kapan-kapan, mau enggak kita balik kesana ?” gantian via menatap mata alvin penuh harap, sorot yang selalu tidak bisa alvin tampik.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya, dan entah kenapa via tiba-tiba menyenderkan kepalanya di dada alvin. Mereka sama-sama menatap bintang, berusaha mencuri waktu, berusaha tidak peduli akan kenyataan. Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat mereka dengan gelisah.
***
Entah sudah untuk keberapa kalinya, yang jelas melirik jam tangannya udah jadi hobi iel selama kurang lebih satu jam ini. Nasib punya temen super sibuk kaya rio adalah siap nungguin lama setiap janjian. Karena udah terlanjur suntuk, iel pun memutuskan untuk keluar dari kamar rio.
“Kak iel ?” iel terdiam, bukan karena acha memanggilnya, tapi karena sesosok mahluk cantik di samping acha.
“Kak ? hoiii..kak iel !” acha melambaikan tangannya di depan iel.
“Eh.. iya ada apa ? oh ya, lo yang waktu itu kan ya ? masih inget kan sama gue ?” tanpa menggubris acha sedikitpun, iel malah melempar senyumnya untuk cewek tersebut.
“Ren, lo kenal sama kak iel ?” tanya acha bingung.
“Kenal cha..maaf ya kak, gue enggak tahu kalo lo kakak kelas” ujar aren sambil tersenyum, yang bikin iel meleleh.
“Enggak apa-apa, gue belom tahu siapa nama lo ? ren siapa ? rena ? reni ? karen ? iren ?”
“Buset dah kak, lo nanya apa ngabsen ?” timpal acha.
“Kenalin kak nama gue aren” aren menyodorkan tangannya, iel membalas itu sambil tersenyum. Tapi senyum itu langsung padam saat iel ingat bahwa aren udah punya pacar.
“Tadi senyum-senyum sendiri, sekarang malah diem, aneh lo kak. Eh ngapain disini ? emang kak rio udah pulang ?”
“Ya ampun cha, udah sejam gue nungguin kakak lo, tadi dia bilang gue duluan aja kesini terus entar dia nyusul, eh sampe sekarang enggak nongol-nongol itu bocah” gerutu iel.
“Kaya enggak tahu kak rio aja lo kak, eh udah ya, gue sama aren mau ke kamar dulu” pamit acha sambil narik aren ke kamarnya, sementara iel masih aja tetep memasang senyumnya untuk aren. Kalo enggak kebawa gengsi, rasanya iel pengen ikutan acha sama aren aja, biar dia enggak bosen dan bisa terus menikmati senyuman aren.
“Kok masih disini kak ?”
“Lo sendiri ngapain balik kesini ?”
“Gue mau ngambil minuman sama cemilan buat aren..” iel ngekorin acha ke dapur, acha sampe bingung sendiri ngelihat ulah temen kakaknya ini.
“Cha, ehm..itu..si aren, udah punya pacar ya ?”
“Pacar ? kenapa ? naksir lo kak sama dia” goda acha.
“Iya cha, seratus buat lo. Gue suka sama dia, tapi sayang ya udah ada yang punya...”
“Hah ? apaan sih kak, setahu gue dia masih jomblo. Lagian enggak mungkin juga aren punya pacar terus enggak cerita ke gue” kata-kata acha serasa angin surga untuk iel.
“Serius ? lha terus yang waktu itu dia bilang pacarnya siapa dong ?”
“Waktu itu kapan ? kakak kenal aren dimana sih ?” iel langsung menceritakan kejadian tempo hari yang membuatnya bertemu dan langsung jatuh cinta ke aren.
“Masa sih aren bilang gitu ?” komen acha setelah ia mendengar cerita iel.
“Iya acha. Gini aja deh, lo tanyain ya sama aren, entar kasih tahu gue, gue tunggu di kamarnya rio deh, entar lo gue kasih coklat dah” bujuk iel.
“Mau lo ! ya udahlah, tunggu gue di kamar kak rio sana..” iel tersenyum lebar. Acha langsung masuk ke kamarnya, duduk menghadap aren yang sedang sibuk melihat-lihat majalah acha.
“Ren, lo udah punya pacar emangnya ?” tanya acha lansung.
“Kak iel ya ?”
“Hehe, iya, dia penasaran tuh sama lo. Tapi lo beneran udah punya pacar ?”
“Belomlah”
“Terus kenapa bilang gitu ke kak iel ?” aren menatap acha yang terlihat begitu antusias bertanyanya, aren pun menutup majalahnya.
“Kak iel anak vendas kan cha ?” acha hanya mengangguk menjawab pertanyaan aren.
“Kak riko aja suka sewot sendiri sama persahabatan kita, cuma gara-gara kakak lo vendas, dan bisa di bilang vendas itu punya keluarga lo”
“Maksud lo, lo enggak mau ka iel jadi ada masalah sama kak riko ?” tanya acha yang baru mengerti pikiran aren.
“Iya cha, waktu gue tahu dia anak vendas dari blazernya, gue udah tahu, kalo gue sama dia, cuma bakal ngeruh-ngeruhin keadaan aja”
“Tapi kalo sekedar temenan enggak apa-apa dong ren, kayanya kak iel suka sama lo”
“Haha, ngaco lo ! gue mau serius un dululah, males ngurusin kaya gitu”
“Hmm, terserah lo deh, asal jangan abis ini, lo minta-minta ke gue buat deketin kak iel ya”
“Oke deh..”
“Ya udahlah, gue mau keluar dulu, tadi cemilannya enggak kebawa” acha beralasan, padahal yang terjadi sebenernya adalah, acha pergi ke kamar rio untuk bertemu iel yang udah nungguin ceritanya dari tadi. Tanpa basa-basi, acha langsung menceritakan semuanya, sementara iel hanya bisa menghela napas, ia tahu, ini tidak mudah.
“Gitu kak katanya aren” ujar acha mengakhiri ceritanya.
“Riko ? hah..susah banget kalo gini caranya gue ngedeketin aren”
“Semangat dong kak, jodoh kan enggak akan kemana”
“Iya tapi kalo aren adeknya riko, gue sama aja kaya mancing perang dunia cha”
“Terserah lo deh kak, gue sih setuju-setuju ajalah. Sekarang gantian bantuin gue dong kak”
“Apaan ?”
“Jangan ketawa ya tapi”
“Iya, apaan ?”
“Kak cakka ngajakin gue ketemuan...”
“Ya udah sih tinggal ketemu aja apa susahnya ?” potong iel yang bikin acha sebal.
“Belum selesai kak, kak alvin enggak ngijinin gue pacaran. Padahal kan kak cakka temennya kak alvin ya”
“Terus gue harus ngapain ?”
“Rencananya sih, gue sama aren mau jalan besok pulang sekolah, terus entar kakak sama kak cakka juga jalan gitu, jadi biar kesannya kita enggak sengaja ketemu”
“Sama aren ?” tanya iel semangat.
“Iya, gimana ?”
“Sip, gampang itu sih, kabarin ajalah”
“Oke. Ya udahlah gue balik ke kamar, entar aren curiga lagi”
“Makasih ya cha”
“Sama-sama kak”
***
Seperti biasa, hanya ada rio dan shilla di ruang osis kali ini. Sebagai ketua dan wakil, mereka memang jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama-sama. Meski sibuk dengan tugas mereka masing-masing, hal ini tetap tidak menghalangi shilla untuk terus memperhatikan raut wajah rio, yang terlihat tegang dan tidak ramah seperti biasanya.
“Lagi ada masalah yo ?” tanya shilla. Rio menatap shilla, lalu ia hanya menggeleng.
“Hmm, lo lupa ya ? gue ini ‘tong sampah’ buat anak-anak di sekolah lho. Gue tahu, mana yang beneran ada masalah dan enggak” shilla menarik kursinya untuk lebih dekat ke arah rio, rio menatapnya sekali lagi. Kata-kata shilla membuatnya tertarik, lagian dia udah enggak tahan juga nahan apa yang dia rasain di hatinya.
“Via sama alvin shil..”
“Kenapa ?”
“Dua malem lalu gue ngelihat via senderan di bahunya alvin, wajar kan kalo gue cemburu ?”
“Inget enggak yo, lo pernah bilang sama gue, kalo via itu orang yang paling ngerti sahabatnya, dan via sama alvin sahabatan kan ? mungkin kemarin, mereka berdua cuma lagi curhat, dan ya via cuma terbawa sama suasana”
“Gue juga udah berusaha positif think shil, tapi hati gue panas banget”
“Kalo gitu kenapa malam itu lo enggak datengin mereka aja, dan langsung tanya sama mereka apa yang lagi mereka lakuin”
“Gue..karena gue tahu, alvin lagi butuh via saat itu, dia abis berantem sama bokap gue”
“Nah itu lo tahu. Cemburu itu wajar yo, itu namanya lo beneran sayang sama via, tapi kaya yang selalu lo bilang kan, alvin sama via sahabatan, dan lo percaya sama mereka” shilla tersenyum ke arah rio. Sesungguhnya ada beribu alasan dan teori di otaknya, tentang hubungan alvin dan via yang menurutnya memang lebih dalam dari seorang sahabat, tapi shilla benar-benar enggak tega kalo harus melihat rio terpuruk saat ini.
“Entah kenapa, mulai ada rasa ragu yang muncul di hati gue shil..”
“Yo lihat gue..” shilla menarik tangan rio, dan memaksa rio menatap matanya “Lo cukup percaya sama hati kecil lo, karena hati kecil lo, adalah hal yang paling jujur, dan kejujuran itu yang akan ngebimbing lo buat terus maju dan nentuin langkah lo” lanjut shilla lagi.
Mata shilla dan mata rio bertatap-tatapan cukup lama, tanpa rio sadari, jantung shilla berdegup kencang dengan hebatnya. Rio menatap mata itu, menyerap kata-kata shilla, dan kesejukan mengalir di otak dan darahnya, perasaan aneh yang tidak pernah rio tahu sebelumnya.
Sesuai seperti apa yang telah iel dan acha rencanakan. Sepulang sekolah hari ini, mereka berempat bertemu di sebuah mall. Aren sebenernya ingin menolak, karena ia betul-betul tidak ingin menambah masalah lagi antara vendas dan vailant, tapi karena bujukan dan paksaan acha, aren pun menyetujui itu. Cakka langsung mengajak acha buat makan di sebuah kafe dan iel tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk jalan berdua sama aren.
“Kenapa ya cha, alvin enggak suka gue deketin lo ?”
“Enggak tahulah kak, emang kakak enggak nanya langsung ke kak alvin ?”
“Dia aja ogah-ogahan gitu kalo gue mau ngobrol tentang lo. Lagian lo kaya enggak tahu alvin kaya apa sih cha..”
“Setahu gue, kak alvin cuma bilang kalo gue masih kecil dan belum saatnya buat pacaran, jadi ya gitu deh”
“Jadi kesempatan buat gue ketutup nih ?” tanya cakka melas.
“Hah ? apaan sih kak”
“Ayolah cha, emang sms-sms gue setiap hari ke elo kurang jelas apa ?”
“Maaf kak, lagian gue masih mau serius belajar buat un dulu”
“Ya udahlah, gue juga enggak pengen hubungan gue sama alvin jadi renggang, kita jalananin aja cha, mau gimananya sih, terserah nanti”
“Iya kak. Lagian bener kata kak alvin, gue masih kecil, gue masih harus lebih serius sama sekolah gue dulu”
“Iya-iya gue ngerti..” ujar cakka sambil mengacak-ngacak rambut acha yang tergerai rapi. Acha enggak bisa ngapa-ngapain kecuali pasrah. Acha enggak mau munafik kalo dia tertarik sama cowok ganteng di depannya ini, tapi acha juga enggak pengen ngecewain alvin, karena acha tahu dengan jelas, kakaknya itu, udah ngalamin banyak kekecewaan di dalam hidupnya dia. Sementara itu, aren dan iel cuma jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.
“Lo adeknya riko ya ?”
“Iya..”
“Tapi bukan berarti kita enggak bisa temenan kan ?”
“Gue cuma enggak pengen nambahin masalah kak”
“Iya ta...lari ren !” aren bingung, kenapa tiba-tiba iel narik tangannya dia dan ngajak aren lari. aren cuma bisa pasrah dan mengikuti iel, iel mengajaknya masuk ke balik pintu tangga darurat.
“Ada apaan kak ?”
“Sstt..” iel meletakkan telunjuknya di bibir aren. Keadaan menjadi hening untuk beberapa waktu.
“Apa lo enggak sadar, kalo tadi ada anak pake blazer vailant yang ngelihat kita dan mereka ngikutin kita” jelas iel, yang membuat aren langsung paham, kemudian matanya tertumbu pada iel.
“Harusnya kakak enggak pake blazer kakak, dengan kaya gitu, mereka enggak akan curiga”
“Maaf ren, gue lupa..” ujar iel yang baru sadar, kalo blazer itu masih melekat di badannya.
“Enggak apa-apa kak, harusnya gue yang minta maaf, makasih, kakak udah ngajak gue lari karena gue enggak sadar sama sekali” iel hanya membalas ucapan tulus aren itu dengan senyumnya. Aren berdiri, mengecek keadaan dari kaca yang ada di pintu, sementara diam-diam, iel terus memperhatikan wajahnya aren.
“Kak, kayanya mereka udah enggak ada deh, kita keluar yuk..” tanpa sadar aren menarik tangan iel, iel yang reflek karena kaget menahan tangannya, membuat aren mengalihkan wajahnya ke arah iel, dan iel menatap wajah aren.
Aren menatap mata itu, melihat senyuman yang menawan yang terlukis di bibir iel. Iel pun melakukan hal yang sama, menikmati wajah cantik dan senyum aren yang indah.
Entah apa yang ada di pikiran alvin saat ini. Dia sendiri tidak ingin mengerti, buatnya hidup adalah hidup yang cukup dijalani, bukan sesuatu yang harus di penuhi oleh sejuta impian dan cita-cita. Bukannya alvin tidak mempunyai cita-cita, dia hanya tidak ingin banyak berharap. Buatnya, hidup telah banyak tidak berpihak padanya.
“Maaf vin, udah lama ya ?” alvin hanya menggeleng, via tidak menggubris itu, dia ikut duduk di samping alvin, ikut diam memandangi air danau yang tenang, yang tampak tanpa gejolak apapun.
“Semalam gue mimpiin nyokap gue vi..” ujar alvin lirh, via mengalihkan wajahnya ke alvin. Hanya saat berbicara tentang mamanyalah, alvin terlihat lebih manusiawi.
“Bagus dong, pasti lo lagi kangen berat ya..”
“Kangen banget vi. Menurut lo, kalo nyokap gue enggak meninggal saat ngelahirin gue, apa bokap gue enggak bakal negbenci gue ?”
“Lo ngomong apa sih vin, nyokap lo udah tenang disana. Dan gue rasa enggak ada orang tua yang bener-bener ngebenci anaknya”
“Bokap gue selalu benci sama gue, selalu. Gue bahkan enggak heran kalo bokap gue enggak pernah ngegendong gue saat gue masih bayi..” via menatap alvin dengan ekspresi bingung, alvin hanya tersenyum sekilas.
“Nyokap gue meninggal, dua jam setelah ngelahirin gue, karena pendarahan hebat. Dan seminggu setelah itu, gue tinggal di rumah oma, sama oma, bukan sama bokap gue. Sampe saat umur setahun tiba-tiba bokap gue mutusin buat nikah lagi, saat itu gue enggak ngerti apa-apa, enggak tahu apa-apa. Sampe saat gue umur empat tahun, oma gue mulai sakit-sakitan, dan akhirnya bokap jemput gue. Gue masih inget, saat itu gue lari ke arah mobil bokap gue, rasanya gue pengen meluk dia, tapi apa yang gue dapet vi ? dia bahkan enggak mau lihat mata gue, dan itu pertama kalinya, gue sadar kalo bokap gue benci sama gue...” alvin menghela napasnya sejenak, via menggenggam tangan alvin. Di mata via saat ini, orang yang sedang duduk disampingnya bukanlah alvin si jagoan melainkan seorang anak yang rindu akan kasih sayang.
“Sampai di rumah, gue ngerasa marah banget sama nyokap gue, mamanya rio. Tapi entah kenapa, gue enggak bisa ngebenci rio sedikitpun, apalagi acha, gue sayang banget sama dia. Seiring waktu, bokap gue udah sering ngehukum gue, dan nyokap gue selalu siap sedia buat ngelindungin gue, saat itulah gue baru sadar kalo rasa marah gue ke nyokap, enggak ada gunanya” lanjut alvin lagi. Via sudah sering sekali mendengarkan curhatan alvin tentang masalahnya dengan papanya, meski alvin bisa dibilang termasuk tertutup untuk masalah seperti ini. Tapi baru kali ini, via melihat gurat kesedihan yang dalam dan tampak jelas serta nyata di wajah alvin.
“Sabar ya vin, gue tahu lo kuat, gue tahu lo bisa buktiin suatu saat nanti, kalo alvin itu hebat” hibur via tulus, hanya sebaris kalimat itu yang mampu diucapkannya, dia sendiri merasa getir mendengar cerita alvin.
“Makasih ya vi, udah mau nemenin gue”
“Kapanpun vin..”
“Lo tadi balik bareng rio ?”
“Iya, enggak tahu kenapa, dia minta gue buat nungguin dia pulang”
“Apa dia cemburu sama gue ?”
“Cemburu buat apa ?”
“Kedekatan kita vi, gue tahu enggak seharusnya gue lebih sering berdua sama lo, ketimbang lo sama rio, apapun yang terjadi, rio lebih berhak atas lo dibanding gue” via merasa hatinya sedikit perih mendengar kata-kata alvin tersebut.
“Gue yang paling berhak atas diri gue vin, dan gue cuma mau nemenin lo doang”
“Kita harusnya mulai ngejaga jarak vi, gue enggak akan masuk di antara lo sama rio, gue enggak akan ngancurin hubungan dua orang yang sangat berarti buat hidup gue. Mulai sekarang, lo harus lebih sering sama rio ketimbang sama gue vi..” ingin rasanya via menolak permintaan alvin, tapi ia tidak mau tampak konyol dan membuat alvin curiga.
“Iya vin gue tahu..” alvin tersenyum mendengar jawaban via.
‘maafin gue vi, gue cuma enggak mau keegoisan gue bikin rio atau siapapun sakit atas ulah gue’ ucap alvin dalam hati di balik senyumnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar