I Love You, I Love You Not

PART 1
Ini copas-an juga,... ffnya ICIL (lagi). Karna panjaaaang banget, aku bikin 3 part. Keren banget lho, kocak juga. Eh..eh... temen-temen maap yaaa di sini aku pasang-pasangin lagi. N aku bilang sekali lagi (harap diingat seterusnya) di sini aku cuma ngedit nama doang, yang laen-laen udah dari sononya. Baca aja deh!
Pinjem ya penulis...^^

******

Telunjuk Tea menelusuri deretan nama itu perlahan-lahan, sambil mengucapkan doa di dalam hati. Sampai akhirnya…

“Yaaaahhh….” Tea menghela nafas kecewa.

“Waduuuuhhh… Runtuh dunia ini, runtuhhhhh!!!” Milka dengan volume suara normal ala Milka, yang adalah 3 kali volume normal orang biasa, ikut mengeluh di sebelahnya.

Mereka berdua berpandangan, lalu saling berpelukan dengan ekspresi sedih.

“HUAAAA… Kita ga sekelas Mil!!!” dengan kesal Tea memandangi kembali daftar nama itu.

“Kenapa ini mesti terjadiiii???” Milka menggeleng-gelengkan kepala, tak kalah kesal. Rambut panjangnya yang dihiasi sebuah bando merah bergoyang-goyang seiring gerakan kepalanya. “Pembagian kelas yang sungguh tidak adil!!! Kalau Tuhan itu adil, lalu ini kerjaan siapa??? Kerjaan setan???” seru Milka lagi, masih tidak terima.

“Ehm. Kerjaan saya. Ada masalah?” sebuah suara berdehem di belakang Milka.

Refleks Milka menoleh ke belakang. Dan langsung berharap tanah di bawahnya terbuka dua meter, menelan dirinya, lalu menutup kembali. Ada Pak Nur, guru Kimia yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah. Pak Nur menatap Milka dengan tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Eh, Pak Nur. Enggak Pak. Semua baik-baik saja.” Milka berusaha tersenyum.

“Oh ya? Walaupun dunia ini mau runtuh karena ada pembagian kelas yang tidak adil?”

“Ummmm. Pak, Pak! Liat ke atas deh Pak. Ada Superman lewat…” Milka berusaha mengalihkan pembicaraan, sambil menunjuk-nunjuk ke suatu titik khayalan di atas kepala Pak Nur.

“Milka, kamu pikir kamu bisa me…”, Pak Nur sudah mengambil nafas panjang untuk mulai menceramahi Milka, tapi kalimatnya terhenti oleh sapaan seorang siswa.

“Pak Nur? Maaf Pak, saya disuruh Bu Ira memanggil Bapak ke ruangan beliau…”, dengan sopan Aji menyampaikan pesan yang dibawanya.

Pak Nur menoleh. Menghela nafas, kemudian melangkah menuju ruang kepala sekolah. Aji menoleh sekilas ke arah Milka, yang baru saja menghembuskan nafas lega, dan Tea, kemudian mengangguk ramah.

“Duluan ya…” kata Aji sambil tersenyum, dan melangkah pergi menuju deretan kelas. Tas ranselnya bergerak-gerak di bahu kanannya, sementara lengan kirinya mengepit bola basket.
Milka dan Tea menunggu sampai Aji pergi cukup jauh, kemudian saling berpandangan, dan memekik kecil bersama-sama.

“PERIKSA! PERIKSA!!! Dia kelas berapa!!!” kata Milka dengan penuh semangat. Tea tidak perlu disuruh dua kali, jemarinya kembali menelusuri deretan nama itu sambil berkomat-kamit.

“Aji…Aji…Aji… mana siiihhh….AAAHHH!!” dengan kecewa Tea menemukan nama Aji tertulis sebagai siswa kelas 12-IPA3. Dengan kesal dia menoleh pada Milka. “Lo yang dapet Mil.” kata Tea, mencemburui keberuntungan sahabatnya.

“OH YAAA???!!!”, Milka dengan wajah berseri-seri menerimakabar itu. Dia lalu mendongakkan kepalanya, dan berujar, “Terima kasih Tuhan. Aku tahu, Kau memang adil.”.

Dengan senyum lebar Milka memandang Tea kembali dan mengedipkan mata. “Ya udah deh kalo gitu Te, gua ke kelas gua dulu yaaa… Siapa tau bisa duduk sebelahan samaaa….” Milka tidak menyelesaikan kalimatnya. Tea sudah keburu memukulinya dengan kesal. Milka tertawa-tawa melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Eh Te... lo sendiri kan yang bilang dulu, kalo posisi menentukan prestasi? Lha, kalo posisi duduk gua semakin deket sama si super keren plus ganteng itu, prestasi gua semakin menanjak…” Milka tertawa sambil melarikan diri dari amukan sahabatnya.

“Dah Teaaaaa….” seru Milka sambil berlari menuju arah yang sama dengan arah yang dituju Aji tadi.
Tea mengentakkan kaki. Dengan kesal dia memutar badan, dan mengayunkan langkah ke arah 12-IPA1. Dia sudah tidak berselera lagi melihat siapa saja yang menjadi teman sekelasnya yang baru. Cukup sudah. Sahabatnya tidak lagi sekelas dengannya, dan cowok yang diam-diam dia kagumi semenjak kelas 10 dulu juga berada di kelas yang berbeda. Apa lagi yang bakal menimpanya setelah ini? Dijatuhi pohon durian yang lagi panen? Duh.

Oh-oh. Tuh kan, pikir Tea dengan sebal. Sekali sial, sampe seharian sial. Gerombolan celebrity wanna-be nya SMA Citra Nusa tengah berjalan ke arah yang berlawanan dengan dirinya. Daripada mesti berpapasan langsung dengan mereka, Tea memilih untuk merapat ke sisi kiri koridor, memberi jalan untuk keempat gadis yang tengah berjalan dengan gaya seakan-akan semua mata di seluruh dunia tertuju pada mereka.

Pernah nonton film model-model The Clique? Atau Mean Girls? Atau apapun lah. Film dimana ada serombongan cewek-cewek modis yang jadi trend-setternya suatu sekolah tertentu? Percaya deh, geng semacam itu benar-benar ada di dunia nyata. Lihat saja aura yang muncul pada saat Putri, Sonia, Fifin dan Anin berjalan dengan kepala tegak dan dagu sedikit terangkat. Semua mata memandang ke arah mereka. Para cewek tiba-tiba saling berbisik-bisik, sementara para cowok tiba-tiba dengan tidak sadar mengusap kepala mereka, memastikan rambut mereka lagi dalam kondisi sekeren mungkin. Tea menunduk saat keempat gadis itu melewati dirinya. Tea tidak merasa perlu repot  sekedar sepasang alis yang terangkat. Itu saja. Apa sih artinya Tea dibanding keempat cewek itu?

Sambil melangkah, Tea mengeluh di dalam hati. Seandainya saja sepuluh gram dari kepopuleran salah satu dari mereka bisa dia miliki, mungkin Aji bisa lebih memperhatikan dirinya. Sambil menggelengkan kepala, Tea memasuki ruang kelasnya yang baru. Setelah dua langkah memasuki kelas, dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Sebuah wajah yang cukup familiar melambaikan tangannya.

“Tea? Kamu disini juga? Duduk di depanku aja, sini. Kursi itu masih kosong kok!”

Dengan lega Tea menghampiri wajah yang dikenalnya itu, dan menghempaskan diri duduk di bangku yang ditunjuk temannya itu.

“Lo disini juga Son?” tanya Tea pada Sony, yang duduk sebangku dengan William.

“Enggak. Gua sebenernya kelasnya di lapangan bola. Gua cuma iseng aja duduk disini, panas kalo di lapangan mulu. Kalo gua tambah item, apa kata fans-fans-nya guaaa…” kata Sony sambil berlagak merapikan rambut ikalnya.

Tea terbahak mendengar jawaban Sony, “Deuuhhh… Berasa ngetop gitu dirimu Son?”

Dengan bangga Sony menepuk dada, “Ya dong. Bang Sony!!! Ya ga Will?” dan dengan wajah cerah ceria ber high-five dengan William.

Tea tertawa lagi, dan kembali duduk menghadap ke depan. Dalam hati dia bersyukur sekelas lagi dengan Sony. Di kelas 11 dulu dia selalu terhibur dengan komentar-komentar ga penting dari Sony. Komentar ga penting, tapi dengan sukses membuat yang mendengar ngakak jaya. Bahkan Bu Mariatmi yang biasanya berbibir segaris tipis itu kadang-kadang tidak bisa menahan senyum mendengar celotehan Sony. Dari tempat duduknya, Tea mengedarkan pandangan ke seluruh kelas yang mulai penuh. Semua bangku sudah terisi, kecuali satu bangku. Bangku di sebelahnya sendiri. Tea mengedikkan bahu, dan memutuskan pasrah untuk menerima saja siapapun yang akhirnya sebangku dengannya.
+++

“Ga jelas banget nih pembagian kelasnya…” Sonia dengan nada kesal mengipas-ngipaskan majalah remaja yang dibawanya sambil memandangi kembali daftar yang ditempel di dinding. PUTI, sampul majalah remaja itu berhiaskan wajah Sonia. Bukan berita baru. Semenjak memenangkan kompetisi model di salah satu majalah remaja paling bergengsi, wajah Sonia wara-wiri dimana-mana. Bukan cuma di SMA Citra Nusa saja, tapi juga di berbagai iklan dan halaman mode majalah remaja.

Putri masih memandangi daftar itu. Berusaha memusatkan pikiran, agar namanya berpindah dari kolom 12-IPA1 ke kolom 12-IPA3. God, please, please, pleaaaseee….. bisik Putri sekencang mungkin dalam hati. Sekali ini Putri berharap bahwa yang namanya kekuatan metafisika itu benar-benar ada. Tapi ternyata kekuatan metafisika memang hanya sekedar muncul di cerita-cerita science fiction saja. Buktinya, tulisan Veronika Putri tidak bergeming. Masih dituliskan sebagai siswi baru di kelas 12-IPA1.

Fifin mengerutkan kening tanpa mengalihkan pandangan dari Blackberry di genggamannya. Nestapa semacam ini layak jadi status di acyount Facebook dan Twitter-nya. Gimana ga jadi nestapa? Tiga dari anggota DIvA’s, Anin, Fifin dan Sonia masih bersama-sama di kelas 12-IPA3, dan untuk alasan yang sungguh tidak bisa dimengerti, Putri tersangkut di kelas lain. Jadi bagi Fifin, dunia harus tahu bahwa di SMA Citra Nusa ini sudah terjadi ketidakadilan yang tingkat urgensinya sama penting dengan global warming.

Di sebelah mereka bertiga, Anin tak kalah sebal. “Kita mesti menuntut penjelasan sama para guru. Apa coba maksud mereka misahin kamu dari kita Put?”

Putri menoleh ke arah Anin tanpa ekspresi. “Emang kamu mau ngapain? Nelfon lawyer-nya Papa kamu buat ngajuin tuntutan? It wouldn’t Tenge anything, Aninr. Sad, but true. Gua denger yang ngatur pembagian kelas kali ini Pak Nur. And You know him. Dia bukan tipe guru kayak Pak Wid yang gampang luluh hanya dengan tampang memelas yang dramatis.” ujar Putri.

Dia masih ingat persis, bagaimana Pak Nur menghukumnya karena terlambat sampai di sekolah. Waktu itu, Putri terlambat bangun karena pada malam sebelumnya dia menjadi salah satu undangan di acara premiere pemutaran film perdana salah satu artis remaja terkenal. Pak Nur tidak mau menerima penjelasan Putri, yang berusaha sekuat jiwa raganya meyakinkan tentang pentingnya acara itu tetap ga sukses membuat Pak Nur mengubah keputusan beliau untuk menghukum Putri. Semenjak saat itu, Putri memutuskan, bahwa Pak Nur layak dijadikan public enemy number one.

Anin mengibaskan rambut panjangnya ke belakang dan menghela nafas. “Ya udah kalo elo bilang gitu. Tapi tetep aja bakal berasa beda kalo ga ada elo.”

Sonia menepuk pundak Anin, “Beda kelas, tapi hang out bareng tetep jalan terus dooong… Ya ga Put?” kata Sonia sambil menatap Putri.

Putri mengangguk, “Gua kan ga bareng sama kalian cuma pas jam pelajaran doang. Masih ada jam istirahat kan?”, pandangannya sudah jatuh ke tas yang tersampir di pundak Anin. “Oh, by the way, De, love Your new bag. Yang beli waktu kita ke Grand Indonesia kemaren?”

Anin mengangguk senang, “Yup. Limited edition. Keren kan?”. Putri tersenyum melihat Anin yang berputar menunjukkan tas itu. Dengan posisi Papanya sebagai pemilik jaringan hotel terkemuka di Indonesia, bukan hl yang sulit bagi Anin untuk memiliki barang-barang berkelas semacam yang dia pakai sekarang.

“Woi. Kayaknya mending ke kelas sekarang deh…” Fifin menyadarkan teman-temannya sambil memasukkan Blackberry yang sudah seperti pasangan hidupnya ke dalam tas.

Sonia mengangguk, “Eh, kita anterin Putri dulu ke kelasnya yuk, kan cuma dia sendiri doang yang beda kelas.”
Putri menggeleng cepat. “Guys, udah lah. Ga usah, kaliiiii... I’ll catch You guys later on. Ntar aja pas istirahat kita ngumpul bareng deh. Okay?”

Anin mengangkat bahu. “Ya udah kalo lo maunya gitu. Good luck sama kelas baru deh…”.
Putri melambaikan tangan, dan melangkah menuju kelasnya. Begitu sampai di depan pintu kelas 12-IPA1, Putri berhenti sejenak. Dengungan suara siswa yang tengah mengobrol dan tertawa-tawa terdengar. Putri menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Kemudian melangkah masuk.
***

Kedatangan Putri membuat seisi kelas terdiam. Putri di kelas ini? No way. Putri yang anggota geng DIvA’s itu? Di SMA Citra Nusa ini saja Putri sudah bisa dikategorikan sebagai selebnya sekolah, bersama-sama dengan anggota DIvA’s lainnya. Tapi selain itu, dengan seorang Papa yang memiliki Production House ternama, dan sang Mama yang di usia paruh bayanya masih sering meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik di berbagai ajang bergengsi, siapa yang bisa menyalahkan Putri kalau dia juga sering kali jadi sorotan media di Jakarta?
Seakan tidak peduli dengan tatapan dan bisik-bisik dari seluruh penjuru kelas, Putri berjalan dengan kepala tegak menuju satu-satunya bangku yang tersisa. Bangku di sebelah Tea.

Tea menahan nafas. Tidak mungkin. Dia pasti mimpi. Satu-satunya bangku yang tersisa cuma bangku disebelahnya. Yang berarti mau tidak mau Putri harus duduk di bangku itu. Wah, artinya Tea bakal sebangku sama Putri? Tea berusaha mencerna kembali fakta ini: dia akan sebangku dengan Putri!

Keren. Eh, bukan, salah. KEREN BANGET! Wooohooooo!!! Tea sudah membayangkan, betapa status sosialnya di sekolah ini bakal terdongkrak drastis dengan menjadi teman sebangkunya Putri. Tea mulai berkhayal, bagaimana akhirnya nanti dia akan bersahabat dengan Putri, jalan-jalan bareng, ngegosip bareng, atau bahkan, ikut nongkrong sama anak-anak DIvA’s lainnya!

Putri sampai di bangku di sebelah Tea, memandangi Tea dari atas ke bawah. Hmm… Dia belum pernah memperhatikan anak ini sebelumnya, yang sekarang tersenyum ramah padanya. Manis sih. Dengan rambut ikal yang dihiasi jepit mungil berwarna kuning itu, anak ini cukup imut. Tapi itu saja. An ordinary girl, with no fashion style at all. Putri tahu sih, sekolahnya ini punya seragam sendiri yang ga bisa diganggu gugat, Tapi kan paling tidak bisa diakalin dengan pake aksesoris yang modis dikit. Bagi Putri, jepit kuning itu pantesnya cuma untuk anak SMP. But, oh well, ini satu-satunya bangku yang kosong kan?

“Kosong? Gua bisa duduk disini kan?” kata Putri lagi.

“Enggak. Di bangku itu sebenernya ada gajah bengkak lagi duduk, tapi gajahnya transparan, makanya ga keliatan… Hehehehe…” tanpa diminta, seorang cowok berambut ikal yang duduk di belakang kursi kosong itu menyahut. Teman sebangku cowok itu terkekeh mendengar kata-kata si cowok tadi.

Putri melemparkan pandangan ke arah cowok yang (mencoba) bercanda tadi. Postur tubuhnya kecil, dengan rambut agak ikal yang lebat. Putri tidak tahu nama cowok itu, tapi seingat Putri, dia pernah beberapa kali melihat cowok itu sedang main futsal di ruang olahraga sekolah. Cowok itu masih tersenyum lebar. Kalau mau jujur, bahkan bagi Putri pun senyum itu sebetulnya manis banget. Bukan tipe senyum yang Terming dan bikin orang histeris. Tapi tipe senyum yang membuat orang lain jadi ingin ikut tersenyum.

Putri menatap cowok itu tanpa ekspresi, dan berkata dengan dingin, “Haha. Very funny.”

Cowok itu sempat nampak tersentak, tapi kemudian tersenyum kembali saat menjawab, “Of yourse it’s funny. It was meant to be a joke.”

Putri mengangkat alis. Hmm… Mungkin anggapan pertama Putri yang sempat under estimate terhadap cowok ini salah. Sepertinya cowok ini tidak seperti kebanyakan cowok lainnya di SMA ini. Tapi Putri tidak berkomentar lebih lanjut, dia membanting tas di kursi yang harus dia tempati, dan duduk dengan tatapan lurus ke depan.
Tea menoleh kaget ke arah Sony mendengar kata-kata Sony barusan. Dia tahu sih, nilai-nilai Sony relatif bagus-bagus, termasuk untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Semenjak dulu Sony kabarnya tidak pernah terlempar dari posisi 3 besar di kelasnya. Tapi Tea tidak tahu bahwa Sony bisa ngomong pake Bahasa Inggris sebagus itu di luar jam pelajaran.
William pun sepertinya tidak kalah terkejut. Dia menyikut Sony dan berbisik, “Hah? Elo barusan ngomong apa Son? Ga ngarti gua…”

Sony hanya tersenyum sambil menjawab, “Enggaaaak… Ga penting koookk…” dan langsung mengajak William mengobrolkan hal lain.

Tea berbalik kembali ke posisinya semula. Tapi kemudian, dia menatap teman sebangkunya yang baru. Diam-diam, dia mengagumi jam tangan Putri yang nampak cantik melingkar di pergelangan tangan kirinya. Modelnya sederhana, tapi Tea bisa membaca merk jam tangan itu. Tea tahu, harga jam tangan itu tentu berpuluh kali lipat dibanding jam tangan yang dia pakai sekarang. Merasa diperhatikan, Putri menoleh ke arah Tea.

“Eh. Oh iya. Gua lupa. Gua Putri. Kemaren gua di kelas 11-IPA3.”

Tea tersenyum, “Aku Tea. Kelas 11 nya dulu di 11-IPA1”

Putri mengangguk kecil, kemudian mengeluarkan I-Phone dari dalam tasnya, dan mulai sibuk sendiri. Tea melongo melihatnya. “I-Phone, sodara-sodara.” pikir Tea dengan penuh perasaan iri. I-Phone seri terbaru!

“Itu yang 3Gs?” kata Tea tidak bisa menahan diri.

Putri melirik sekilas dari sudut matanya, dan mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari layar I-Phone-nya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Mau tidak mau, Tea merasa patah arang. Angan-angannya semula untuk bisa ikut-ikutan populer seperti Putri dengan menjadi teman sebangkunya sepertinya pupus sebelum berkembang. Eh, atau layu sebelum berkembang ya? Apapun deh. Ya itu lah pokoknya, kayaknya bisa sobatan dengan teman sebangku yang baru bakal cuma jadi angan-angan saja. Boro-boro bertukar gosip soal gebetan, bertukar kata aja kayaknya kok berat bener sih…

Tea mengeluh dalam hati. Dia merasa, sepertinya status teman sebangku Putri hanya akan sekedar menjadi formalitas belaka. Sungguh, walaupun kecerewetan Milka seringkali saingan dengan 2 kilogram mercon yang meledak secara beruntun, saat ini Tea benar-benar merindukan sahabatnya itu. Tea menggelengkan kepala, dan mengubah kembali posisinya menghadap ke arah pasangan Sony dan William. Kedua badut itu entah sedang membicarakan apa, yang pasti saat ini mereka tengah tertawa-tawa. William menusuk-nusuk pinggang Sony dengan penggaris segitiga, sementara Sony balas mencoba menggelitiki William dengan bambu runcing (lho?). Enggak ding. Pake pensil 2B.

“Eh, jadwal pelajaran belum diumumkan kan ya?” tanya Tea pada mereka berdua. Sony menggeleng.

“Belum lah… Wali kelas aja belum diumumkan” kata Deva lagi. Dia kemudian melemparkan pandangan ke jam dinding di atas papan tulis di depan kelas sambil menambahkan, “Kayaknya bentar lagi nih ketahuan siapa wali kelas kita. Biasanya yang pertama kali masuk ke tiap-tiap kelas itu kan yang jadi wali kelas?” tanyanya sambil melemparkan pandangan ke arah teman sebangkunya.

“Biasanya sih gitu…” kata Sony lagi.

Baru saja Sony menyelesaikan kalimatnya, seorang guru memasuki ruangan kelas mereka. Tea kembali duduk menghadap ke depan kelas, dan dalam hati bersorak kegirangan melihat siapa guru yang masuk itu.

Putri mengangkat wajah, dan tersenyum tipis melihat siapa yang masuk ke ruangan kelasnya. Pak Wid. “Bagus,” pikir Putri dalam hati, selama ini Pak Wid relatif cukup pengertian dengan Putri. Tidak hanya dengan Putri sih, tapi juga dengan siswa-siswa yang lain. Dibandingkan dengan Pak Nur yang tegas, Pak Wid masih jauh lebih gampang untuk diajak kompromi. Sambil memandangi Pak Wid yang kini duduk di kursi guru sambil Putri menggelengkan kepala, membayangkan seandainya Pak Nur yang menjadi wali kelasnya. Euh, now that would be a disaster. Untung saja wali kelasnya Pak Wid. Suara tawa William dari arah belakangnya membuyarkan pikiran Putri. Dengan sedikit merengut, Putri menoleh ke arah meja di belakangnya. Sony dan William masih berbisik-bisik, entah membicarakan apa.

“Heran deh, dua anak itu dikasih makan apa ya?” pikir Putri. Sepertinya dari tadi mereka berdua ga kehabisan bahan candaan. Oh, okay, walaupun kedua anak itu sebenarnya cukup cute. Yang ikal itu senyumnya manis, sementara teman sebangkunya juga terlihat imut dengan poni yang kadang-kadang dia tepis dari menghalangi matanya. But still, their laughter is annoying…
+++

Putri mendesah kesal mendengar suara tawa tertahan Sony dan William di belakangnya, dan menatap kembali ke depan. Pak Wid sudah berdiri di depan kelas sambil tersenyum lebar.

“Ehm… Anak-anak…” Pak Wid berdehem, mencoba menarik perhatian seisi kelas. Sontak kelas langsung hening. Semua mata tertuju ke arah Pak Wid.

“Bapak hanya ingin mengumumkan sesuatu.”, Pak Wid mengawali kalimatnya. “Wali kelas kalian minta kalian bersabar sebentar, karena beliau masih harus menyelesaikan suatu urusan.”

Kedua mata Putri melebar. WHAT?? Jadi maksudnya Pak Wid bukan wali kelasnya? Oh-oh. This is not a good sign. Not good at all.

“Wali kelas kalian adalah…”, suara Pak Wid dihentikan oleh suara ketukan di pintu. Tapi tanpa menunggu dipersilahkan, sosok yang mengetuk pintu kelas tadi langsung melangkah masuk, dan berdiri di sebelah mereka.

“Anak-anak… Untuk tahun ajaran ini, saya yang akan menjadi wali kelas kalian.” Suara Pak Nur terdengar tegas saat berdiri tegak di depan kelas sambil melipat tangan di dadanya.

Putri menghela nafas yang tanpa sadar dia tahan semenjak tadi. Kenapa sih firasat jelek itu sering kali jadi kenyataan?

Seruan-seruan tertahan terdengar dari keempat penjuru mata angin (euh, kayak Milel persilatan aja). Tea ternganga? Lho? Bukan Pak Wid toh? Jadinya Pak Nur? Yaaahhhh…

Pak Wid mengangguk kecil kepada Pak Nur, kemudian melenggang pergi meninggalkan kelas itu. Setelah Pak Wid meninggalkan ruangan, Pak Nur berdehem kembali.

“Oke, anak-anak. Seperti biasa, untuk dua jam pelajaran pertama di hari pertama ini, masih belum ada pelajaran. Akan tetapi Bapak akan mendiskusikan beberapa hal dengan kalian terkait dengan posisi Bapak sebagai wali kelas kalian. Daftar pelajaran nanti akan Bapak tuliskan. Sebelum itu, Bapak ingin kita melakukan...”

“Pak!” Putri memotong perkataan Pak Nur dengan mengangkat tangannya untuk menarik perhatian beliau.

“Ya Putri?”

“Saya minta ada perubahan tempat duduk.” Kata Putri dengan tegas dari bangkunya. Tea menoleh dengan tatapan tidak percaya. Sama dengan seisi kelas yang kini menatap ke arah Putri dengan heran. Putri sepertinya tidak peduli. Dia melanjutkan tuntutannya.

“Kedua anak yang duduk di belakang saya ini, tolong dipisahkan saja Pak. Mereka ribut melulu. Annoying.” Kata Putri dengan wajah dingin.

Tidak hanya Tea di sebelahnya, seisi kelas sekarang menatap Putri tak percaya. Bisik-bisik langsung mendengung. Pak Nur menatap Putri tajam. Putri tidak gentar. Dia balas menatap Pak Nur.

“Pak, tapi Pak…” William dengan nada tidak terima berusaha membela diri. Tapi Pak Nur sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan protes William tersebut.

“Kamu yakin dengan ucapanmu itu Put?” kata Pak Nur, tidak melepaskan tatapan tajamnya pada Putri.

Putri mengangguk pasti.

Pak Nur menghela nafas. “Baiklah kalau begitu. Kamu, yang di pojok sana” kata Pak Nur sambil menunjuk salah seorang siswa bertubuh tinggi yang duduk di sudut kiri belakang kelas, “Kamu tuker tempat sama William. William kan namamu?” kata Pak Nur, sambil mengalihkan pandangan ke arah William.

“Hah? Kok saya sih Pak?” cowok tadi terlihat tidak rela. Tapi begitu melihat ekspresi wajah Pak Nur, cowok tadi dengan segan membereskan barang-barangnya, mengangkat tasnya dan melangkah menuju bangku William yang sekarang harus dia tempati.

William pun tak kalah terlihat sebal. Dengan wajah ditekuk tanpa disetrika, dia mengangkat ranselnya dan bergeser pergi dari bangkunya. Whups, mantan bangkunya ding! Saat William berdiri, Sony tersenyum kecil sambil menepuk pundak William, berusaha membesarkan hatinya. Sebelum melangkah ke bangkunya yang baru, William melemparkan pandangan kesal ke arah Putri, yang bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi. Seandainya pandangan mata betul-betul bisa membunuh, Putri mungkin udah tiga kali keluar masuk kubur karena ditatap dengan penuh kebencian semacam itu oleh William.

Saat teman sebangkunya yang baru membanting dirinya di bangku di sebelahnya, Sony tersenyum kecil sambil perlahan meninju lengan temannya itu.

“Ga papa kan Co? Lo ga marah kan mesti dipindah dan jadinya sebangku sama gua?”

Nico menoleh sekilas ke arah Sony, kemudian mengalihkan pandangan, lurus ke depan.

“Marah sama elo? Ya ga lah, Son. Bukan salah elo. Si seleb sekolah tuh yang jadi biang rese…” desis Nico kesal.

Sony menepuk pundak temannya sambil berbisik, “Yah, namanya juga cewek Co. Kelakuannya lebih banyak pake emosi…”

Nico hanya mengedikkan bahu. Masih dengan ekspresi kesal.

Tea dengan tercengang memperhatikan drama pergantian posisi duduk itu. Dia betul-betul tidak mengerti kenapa Putri bisa sampai mempermasalahkan hal yang sepele, bahkan melaporkannya kepada Pak Nur! Tea semakin tidak mengerti saat melihat wajah Putri yang masih tanpa ekspresi. Wajah cantiknya yang tirus dengan dagu lancip sama sekali tidak menunjukkan perasaan apapun, tak ada sedikitpun rasa bersalah di wajah yang kini tengah menatap lurus ke depan.

Putri menoleh ke arah Tea, dan bertanya dengan nada dingin, “Kenapa? Ada masalah?”

Tea ternganga sesaat, lalu menggeleng. Putri kembali menatap lurus ke depan. Tea menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk tasnya untuk mengeluarkan kotak pensilnya. Dalam hati dia mengomel sendiri, “Ada masalah? Ada banget! Kelakuan elo yang sengak itu yang jadi masalah…”

Pak Nur juga nampak tidak terlalu peduli lagi dengan kejadian barusan. Beliau sudah mulai merumuskan tata tertib di kelas, dan mengatur pemilihan pengurus sekolah. Hal-hal biasa di hari pertama sekolah. Tapi sekali ini, Tea merasa hari pertama kembali ke sekolah ini juga adalah hari dimana untuk pertama kalinya dia merasa begitu merana sepanjang sejarah.
+++

“Apa Te? Jadi elo sebangku sama Put…HFPFHFHHTFTFT…” Milka terpaksa menghentikan kalimatnya karena tersedak oleh tahu isi yang disumpalkan Tea ke mulutnya.

Tea mengangguk. Dalam hati dia menyesal mengorbankan sepotong tahu isi andalan kafetaria sekolah ini. Tapi ada saat-saat dimana celotehan Milka mesti direm. Dan kali ini remnya adalah tahu isi yang malang itu.
Milka menyambar gelasnya dan meneguk isinya, melancarkan perjalanan si tahu isi ke tempat yang lebih layak. Setelah meletakkan gelasnya, Milka menatap Tea kembali dengan mata berbinar-binar penuh semangat.

“Lalu? Terus kok elo kesini sendirian aja? Kok ga bareng dia aja sekalian?” tanya Milka.

Tea mencibir. “Deuh. Kagak deh. Bisa menderita jiwa raga lahir batin…” Tea lalu menceritakan secara detail permintaan semena-mena Putri kepada Pak Nur tadi. Termasuk tentang bagaimana Putri terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. Milka mendengarkan dengan mata yang makin lama makin membesar.

“Jadi gitu Mil. Sengak abis dah judulnya anak itu. Terus, apa kata lo tadi? Kenapa gua ga bareng dia aja ke kafetaria? Beuh… Boro-boro. Bunyi bel istirahat belum habis aja, dia udah keburu ngeloCor gitu aja. GAAAA ngomong apa-apa sedikitpun ke gua.” kata Tea lagi. Masih dengan nada penuh emosi.

“Kayaknya dia ngeloCor ke kelas temen-temennya deh buat ke kafetaria bareng… Tuh, liat aja…” kata Milka sambil menunjuk ke arah pintu masuk kafetaria dengan jari-jemarinya yang memegangi sendok kecil.

Anin, Putri, Fifin dan Sonia memasuki kantin. Tetap dengan gaya mereka yang bagaikan sedang melangkah di red carpetnya Academy Award. Entah kenapa, aura mereka memang terasa begitu kuat. Lihat saja, saat mereka berempat melangkah memasuki kafetaria, semua yang terjadi seakan berlangsung dalam slow motion. Semua kepala menoleh, diiringi dengan suara bisik-bisik mengomentari kehadiran mereka. Tapi toh mereka berempat seakan tidak peduli dengan suara-suara itu. Mereka berempat menempati salah satu meja yang masih kosong, dan langsung asyik mengobrol.

Tea melengos. Dulu dia menganggap gerombolan DIvA’s itu keren dan populer. Tapi sekarang Tea menyadari satu predikat baru dari geng itu: SENGAK JAYA! SONGONG ABIS! Eh, itu mah jadinya dua predikat ya? Ya gitu deh pokoknya.
“Ah, udah ah Mil… Bete gua. Ngomong-ngomong, gimana rasanya sekelas sama si versi Indonesianya Robert Pattinson?”

Mata Milka langsung berbinar-binar, “Ya ampun Te, kebayang ga sih, si Aji itu sendiri aja udah keren sangat tuh. Dan lo tau ga, dia sebangku sama siapa? Sama Marco, Te! Marco!!! Wih, jadi ya mohon maap deh kepada para guru kalo sepanjang pelajaran mata yang cewek-ceweknya pada ngeliatin ke bangku mereka berdua.Ya wajar laaahhh… Dibandingkan memelototi nama-nama Latin, kan mending ngeliatin dua mahluk yang wajahnya seperti pahatan seniman ituuuu…!!!”

Tea tertawa lagi mendengar penjelasan Milka yang menggebu-gebu.

Tiba-tiba mata Milka membelalak, “Te! Mereka datang Te!” serunya tertahan dengan penuh semangat. Tea menoleh kembali ke arah pintu kantin. Disana, Aji dan Marco sedang berjalan masuk. Aji dengan senyum tipisnya yang ramah, dan Marco dengan gaya cueknya. Beberapa kali Marco menggerakkan kepalanya untuk menepiskan beberapa helai rambut dari rambutnya yang ditata ala penyanyi rock Jepang.

Dengan suara tercekat, Milka berbisik pada Tea, “Te, ya ampun Te. Gua bisa kena serangan jantung Te ngeliat mereka! Aduh, gila, itu si Marco cuma jalan doang udah serasa bikin pingsan, apalagi kalo dia senyum, bisa serangan jantung tiga kali berturut-tutur gua…”

Tea tertawa geli.

“Aji! Marco! Duduk sini aja bareng kita!” suara Fifin terdengar lantang mengalahkan suara-suara lain di kafetaria. Kepala Marco menoleh ke arah meja yang ditempati Fifin. Dia kemudian menggamit pundak Aji, dan menunjuk ke arah meja anak-anak DIvA’s dengan dagunya. Aji tersenyum, dan mengiringi langkah Marco menuju meja itu.

“Beuh… Berat ya kalo mesti saingan sama anak-anak DIvA’s itu…” kata Milka dengan nada putus asa, sambil mengaduk-aduk kembali es jeruk di hadapannya. Tea tidak menjawab. Dia lebih memilih untuk terus menatap Aji dari kejauhan. Dia sudah hafal setiap lekukan wajah itu. Tapi tetap saja, memandangi setiap garis yang membentuk wajah tampan itu tidak pernah membuatnya bosan.

Aji tampak tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan oleh Putri. Tea langsung menundukkan wajah, merasakan iri yang menJiinap di dalam hatinya. Seandainya… Seandainya saja…

“Heh! Bengong ajah… Terus gimana tuh? Akhirnya William duduknya dituker sama siapa?” tanya Milka sambil menendang kaki Tea dari bawah meja.

“Hah? Oh, kejadian yang tadi? Ya gitu, akhirnya sama Pak Nur si William disuruh pindah ke pojok, jadi sebangku sama Georgi. Terus Nico yang disuruh pindah jadi sebangku sama Sony.” Jelas Tea sambil memandangi bakwan yang ada di tangannya.

“Nico? Wah, lumayan tuh…” tukas Milka sambil menambahkan lagi sambal ke mangkuk mie ayamnya.

“Apanya yang lumayan? Sepanjang jam pelajaran dia anteng aja. Kayaknya mendingan yang di belakangku itu si William sama Sony deh. Paling ga, gua bisa ketawa denger becandaannya mereka…” sahut Tea sambil berpikir, lebih baik makan bakwannya duluan, atau cabenya duluan ya?

“Wamayandukdyadin..” kata Milka lagi dengan mulut yang masih penuh dengan sesendok mie ayam yang sudah berwarna merah tua.

“Ga jelas Mil. Yang di dalam mulut lo ditelen dulu, kenape?” Tea berkomentar, lalu menggigit bakwannya. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkan si cabe rawit yang malang itu.

Milka menelan isi mulutnya, ber hah-huh sambil mengipasi mulutnya selama beberapa saat, meneguk es jeruknya, baru kemudian mengulangi kata-katanya.

“Lumayan buat diliatin…” kata Milka lagi.

“Oh ya?” Tea menoleh. Menatap Milka sambil mengangkat sebelah alis. “Masa sih? Gua ga pernah kenal sama dia sebelumnya sih. Dulu dia kelas 11 berapa sih?”

Milka mengangkat sebelah tangannya ke arah Tea, lalu menunjuk ke arah mulutnya, memberi isyarat pada Tea untuk menunggunya menyelesaikan kunyahan terakhirnya. Setelah menamatkan satu episode bersama semangkuk mie ayam, Milka menepikan mangkoknya yang kosong. Lalu memandangi Tea dengan wajah serius.

“Nico? Dulu dia di 11-IPA4. Dan Nico itu Te, sudah memberikan makna baru bagi frase ‘cowok pintar’”.

Tea tertawa mendengar kata-kata Milka. “Gilee… Apa tadi? Makna baru? Frase? Keren amat istilah elo Mil?”

“Eh, dengerin gua dulu dong. Jadi gini, selama ini kan tipikal cowok pintar itu yang model-model nerd gitu. Yang pake kacamata, terus gayanya kayak yang dari jaman kuda gepang gitu. Nah, si Nico ini, walopun nih ya dia peringkatnya ga pernah bergeser dari 3 besar, gaaaa ada mirip-miripnya sama tipikal cowok pinter tapi nerd gitu. Kalopun ada persamaan antara Ro dengan cowok nerd, paling-paling sikapnya dia yang ga banyak ngomong. Atau dalam bahasa yang lebih gaul dan lebih keren, dia itu cool.” Milka berhenti sebentar, menuntaskan isi es jeruk di dalam gelasnya. Dia kemudian menarik nafas sebelum memulai kembali.

“Intinya adalah, kalo biasanya cowok yang pinter itu biasanya tampangnya cupu kerapu, si Nico memberi contoh teraktual bahwa cowok pinter juga bisa cakep.” Milka menuntaskan penjelasannya dengan penuh kesungguhan.

“Emang Nico itu cakep gitu?” kata Tea sambil berusaha mengingat-ingat kembali wajah teman sebangku Sony itu. “Perasaan di SMA ini yang paling cakep itu Aji doang deh Mil…”

“Yaelah Teaaaaa… Kamu itu tau ga masalah kamu itu apa? Masalahmu adalah, kamu itu terlalu terOBSESI dengan yang namanya…” Milka menghentikan kalimatnya sebentar, menengok ke kiri dan ke kanan, lalu merendahkan nada suaranya, “Cahya Perbawa Aji…. Makanya, boro-boro nyadar soal cakep enggaknya seorang cowok, lo suka ga sadar bahwa di dunia ini ada cowok lain selain Aji!!!”

Duh, baru mendengar nama lengkapnya saja sudah membuat jantung Tea berdebar tanpa tempo yang jelas. Sambil menunduk seakan-akan menghabiskan teh botolan di depannya, Tea mencuri pandang ke arah meja yang ditempati Aji. Bahkan dari jauh pun senyum Aji terlihat begitu bersinar. Tapi toh, selain melihat senyuman Aji yang bisa bikin hujan turun selama tujuh kali 24 jam di Gurun Sahara, mau tidak mau, Tea juga harus melihat anak-anak DIvA’s yang terlihat masih asyik mengobrol dengan Aji dan Marco. Sebersit rasa iri muncul kembali di dada Tea. Membayangkan, seandainya saja dia seperti Putri. Ah, bahkan tak perlu seperti Putri, bisa sepertiganya aja dari Putri, mungkin Tea bisa lebih percaya diri untuk menyapa Aji.
Tea menuntaskan minumannya, lalu berdiri. “Mil, gua duluan ya!”. Milka buru-buru berdiri.

“Eh, enak aja, tadi kesini bareng, masa keluarnya ga bareng? Cok, gua juga udah selesai kok…”.

Sambil berjalan beriringan menuju pintu kafetaria, Tea mencuri pandang ke arah Aji. Aji yang begitu tampan. Yang saat ini tengah memandangi wajah Putri, teman sebangkunya sendiri. Tea mengeluh dalam hati. Rasa iri itu kembali muncul.

***

Sonia meneguk kembali jus alpukatnya, lalu mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya. “Guys, jadi positif ya? Malam ini kita nonton Marco manggung bareng bandnya di acara opening cafĂ© yang baru itu?”

“Ya ampun Sonia… Itu daftar acara wajib dataaaaangg… MTV aja bakal ngeliput kan??” seru Fifin, “Penting banget tuh acaraaaa!!!”

Anin mengangguk, menunjukkan persetujuannya. “Gua udah pesen sama Ka Gelbert buat jemput gua jam setengah tujuh nanti. Lagian dia ga ada kuliah pagi kok besoknya. Awas aja kalo sampe dia telat jemput gua, bakal gua beri dia status pensiun dini sebagai cowok gua…” kata Anin.

Sonia menoleh ke arah Putri yang masih diam, mengerutkan kening, dan bertanya, “Lo juga dateng kan Put??”
Putri tidak mengalihkan pandangan dari gelas minumannya. Sambil menyodok-nCodok es batu yang tersisa di dasar gelas, dia menghela nafas, kemudian mengangkat bahu sambil menjawab, “Ga tau ya… Gua ga berani janji. Gua males bawa mobil sendirian malem-malem…”

Fifin menoleh dengan cepat ke arah Putri, dan menukas “Yaelah Put, kayak gitu doang dipikirin. Lo bareng sama Aji aja.” Sonia menoleh ke arah Aji dan bertanya, “Ya kan Ji? Lo bisa kan antar jemput Putri?”

Aji tersenyum, dengan senyuman yang bisa bikin Kutub Utara banjir karena es disana habis meleleh.

“Boleh deh. Bisa aja kok. Jam berapa? Setengah tujuh aja gimana?” tanya Aji sambil memandang Putri.
Putri mengangkat kedua alisnya tanpa mengalihkan pandangan dari gelas di hadapannya. Anin dan Fifin sudah saling menyodok sambil terbatuk-batuk kecil, menyembunyikan senyum penuh arti di bibir mereka.

“Ya udah lah. Six thirty would be fine with me. Boleh deh.” sahut Putri akhirnya, masih sambil menyodok-nCodok sisa es batu yang sudah mulai mencair.

“Sip! Tiketnya udah di kamu kan Cak?” kata Sonia lagi, kali ini sambil memandang Marco. Marco menyeringai, dan mengeluarkan sejumlah kertas mengkilat warna-warni berukuran kecil dari kantongnya.

“Ya iya lah… Sebagai pengisi acara, masing-masing anggota band gua dapet jatah tiket gratis. Nih…” kata Marco, menyerahkan tiket-tiket itu pada Sonia. Sonia langsung membagi-bagikan tiket itu sambil menghitung jumlahnya.

“Buat gua ama Patton, dua. Fifin sama Irsyad, lo yang bawa ya Zev. Trus, Anin, yang punya lo sama Ka Gelbert, lo aja yang bawa ya De. Nah, sekarang yang buat Putri sama Aji, mau dibawa masing-masing atau salah satu aja yang pegang nih?” tanya Sonia, sambil mengacungkan dua tiket terakhir, jatah Putri dan Aji.
Aji menoleh ke arah Putri, meminta pendapat. Putri hanya mengangkat bahu, sambil berucap sambil lalu, “You can take it with You…”

Aji mengangguk, dan mengambil tiket yang disodorkan Sonia padanya. Sambil mengantongi kedua tiket itu, dia berdiri sambil menepuk pundak Marco.

“Balik yuk Cak!” katanya. Marco mengikuti Aji berdiri. Aji tersenyum, ke arah keempat cewek di meja,

“Duluan ya… Put, ntar malem ya…”

Putri kembali hanya mengangkat alis, dan mengangguk kecil.

Saat Aji dan Marco tak terlihat lagi, Sonia langsung menyikut Putri sambil tertawa kecil.

“Cieeee… Kayaknya bakalan ada yang dandan habis-habisan deh malam iniiii…”, komentar Sonia tadilangsung diambut derai tawa Anin dan Fifin. Putri melengos.

“Kalian ini apaan sih?” kata Putri sambil menoleh ke arah Sonia.

“Ya ampun Putriii… udahlahhh… Lo slow motion banget sih? Si Aji itu kurang apa coba?” tanya Fifin dengan gemas.

“Kenapa emangnya?” sahut Putri lagi dengan ketus.

“Kenapa gimana maksud lo? Put, dia itu ganteng. Tajir. Jago basket. Dan yang paling penting Put, ngetop abis. Anak kayak dia tuh tipe yang paling cocok buat ngedampingin elo.” sahut Anin dengan berapi-api. Fifin mengangguk dengan penuh semangat.

Putri menarik bibirnya hingga membentuk sebuah garis tipis. Dia menepikan gelasnya ke pinggir sambil berdiri.

“Enough. Ga usah diomongin lagi. Yang penting, gua malam ini dateng sesuai dengan kepengennya elo semua. Puas?”

“Yaelah Put. Galak amaaaatt… Eh, tapi ntar beneran dateng lho ya? Kasian Aji tuh, udah semangat banget buat jemput kamu!” kata Sonia sambil memegangi tangan Putri, berusaha mencegah kepergiannya.

Putri berusaha tersenyum, “Okay, I’ll be there. Eh, gua balik ke kelas dulu ya…” kata Putri, lalu melangkah pergi. Sementara teman-temannya hanya bisa menatap punggungnya, Putri berjalan tegak. Dengan tatapan mata lurus ke depan. Meskipun pikiran dia sedang bercabang. Tapi toh, tak ada yang perlu tahu kan?
+++


“Nih… Cobain deh. Kalo suka, ambil aja lagi…” Sony menyodorkan sebuah kotak plastik berisikan pisang goreng ke arah Nico.

Nico menoleh ke arah Sony, tersenyum, “Bikinan nenek lo ya?” tanya Nico sambil mengambil sebuah.

“Bukan, bikinan Widi Vierra, bini gua tuh…” sahut Sony, lalu menjejalkan segigit penuh pisang goreng ke mulutnya.

Nico tertawa kecil, “Itu maksudnya lo becanda kan Son?” tanya Nico lagi sebelum menggigit pisang gorengnya. Hmm… Enak.

Sony menelan pisangnya sebelum menjawab “Yah, pengennya sih bukan becandaan Co. Tapi apa daya sampai saat ini Widi belum membalas SMS gua yang ngajak dia kawin. Jadilah cuma becandaan doang…” kata Sony sambil menyeringai.

“Eh Co, ga nyangka akhirnya gua bakal sekelas sama elo. Beuh, berat nih saingan gua…” lanjut Sony lagi, kemudian menggigit kembali pisangnya.

Nico mengangkat alis sambil mengambil pisang goreng kedua. “Saingan apaan?”

Sony tertawa, “Lo pikir gampang dapet rangking kalo saingannya elo?”

Nico tersenyum, “Ah, ga juga kali Son. Perasaan lo juga nilainya ga pernah jelek kok… Saingan sih saingan, tapi tetep fair kan?” sahutnya, sambil menggigit pisang goreng keduanya.

Sony mengangguk kecil. Dia mengerti, peringkat kelas penting bagi Nico. Sama seperti dirinya.

“Co, jangan salah paham lho ya. Gua seneng sebangku sama elo, tapi gua juga ga enak kalo caranya mesti kayak gitu tadi…”

Nico tidak menjawab, lebih memilih untuk menghabiskan pisang gorengnya. Setelah pisang goreng itu tuntas, baru dia menjawab, “Udah gua bilang. Bukan salah elo. Salah si baginda ratu itu tuh…” kata Nico sambil menunjuk ke bangku di depannya yang masih kosong, ditinggal pemiliknya yang tengah ke kafetaria. Nico menghela nafas, dan tidak bisa menahan diri untuk menyuarakan kekesalannya.

“Gua ga ngerti deh Son, sama orang-orang kayak gitu. Orang-orang yang ngerasa berkuasa cuma karena banyak duit, cuma karena ngetop doang…”

Sony tersenyum, lebih memilih untuk tidak berkomentar. Tadinya dia berniat mengambil sepotong lagi pisang goreng, tapi begitu melihat seorang gadis memasuki kelas, Sony menghentikan niatnya. Sony lalu melambai menyapa gadis itu.

“Te! Habis dari kafetaria?”

Tea berjalan menuju kursinya dan duduk. Dia memutar tubuhnya agar menghadap Sony dan Nico, lalu mengangguk, menanggapi pertanyaan Sony tadi.

“Iya. Tadi ke sana, bareng sama Milka. Kamu ga ke kafetaria Son?” Tea balik bertanya.

Sony menggeleng, “Beuh. Kafetaria disini mah bukannya ngajak kenyang, yang ada ngajak bangkrut! Mentang-mentang sekolah favorit, jadi aja kafetarianya disalahgunakan sebagai fasilitas penyedot uang saku siswa. Gua dari dulu mending bawa bekal sendiri. Eh, mau nCobain ga nih? Bikinan nenek gua!” kata Sony sambil menyorongkan kotak bekalnya ke arah Tea.

“Katanya tadi bikinan Widi Vierra…” Nico menyindir sambil mengambil lagi sepotong pisang goreng. Lagi. Kalo diitung-itung sih, udah tiga biji nih Nico ngambilnya…

“Salah ngomong. Lagian Widi ga pernah bikinin gua pisang goreng. Biasanya dia bikinin gua klepon sama onde-onde…” sahut Sony.

Tea tergelak mendengar kata-kata Sony. “Ya ampun Son, kamu sok imut banget sih bawa bekel dari rumah? Jadi inget anak-anak Play Group, tau ga…” kata Tea.

“Eh, gua mah imut beneraaaann… Lagian kalo anak play group kan kotak bekelnya gambar Dora, kalo gua kan gambar Naruto” dengan mimik bangga Sony memperlihatkan tutup kotak bekalnya pada Tea.

Tea tertawa makin nyaring, “Sama aja kali Sonyyy…” kata Tea.

Sony tidak menyahut, dia justru mengalihkan pandangan ke arah Nico sambil bertanya, “Co, ntar pulang bareng aja yuk?”

Nico menggeleng, “Sorry Son, gua ada jadwal…”

Sony memiringkan kepalanya ke salah satu sisi sambil menatap Nico, “Oh gitu. Lo masih toh Co?”

Nico mengangguk. Tea heran, merasa tidak bisa mengikuti pembicaraan kedua teman sekelasnya itu.

“Jadwal apaan Co? Ekskul? Emang udah ada ekskul yang mulai aktif semenjak hari pertama sekolah?” tanya Tea penasaran.

Nico menggeleng sambil tersenyum tipis. “Bukan ekskul. Gua ada jadwal lain”

Semula Tea ingin bertanya lebih lanjut, tapi tiba-tiba kata-kata Milka tadi terngiang kembali di pikirannya. Apa tadi kata Milka? Oh iya, Nico itu lumayan buat diliatin. Maka Tea menggunakan kesempatan yang ada untuk memperhatikan Nico lebih seksama.

Hmm… Sekali ini, Milka MUNGKIN sedikit benar. Dengan sepasang lesung pipi itu, yah.. sepertinya Nico cukup lumayan deh untuk diliatin, bukan untuk digebukin. Rambutnya sedikit berantakan di bagian depan, bukan berantakan sih, agak-agak berdiri gimanaaa gitu lho, tapi malah keliatan bagus. Apalagi postur tubuhnya sepertinya cukup tinggi. Kalau tidak salah, tadi waktu bertukar tempat duduk dengan William, kepala William hanya mencapai pundak Nico. Tapi tetap saja, senyum tipis Nico tidak bisa menyaingi senyuman Aji. Ah… Aji… Pipi Tea terasa panas saat mengingat senyuman Aji…

“Te? TE! Kok muka lo merah gitu sih ngeliatin Nico? Lo naksir ya? Terus Bang Sony-mu ini mau diapain?” seru Sony tiba-tiba sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah Tea.

Tea tersedak sendiri. Nico? Ya ampuuunnn… Kok Nico sih???

Nico sendiri bereaksi dengan cepat atas kata-kata Sony barusan, tanpa rasa kasihan dia langsung menusukkan pulpennya ke lubang hidung Sony.

Sony megap-megap saat mencabut pulpen Nico dari lubang hidungnya, tapi lalu menyeringai.

“Makasih pulpennya Co. Gua yakin, lo udah ga minat lagi buat make pulpen ini, yang udah pernah jadi penghuni sementara idung gua…” katanya sambil menggoyang-goyangkan pulpen itu di depan wajah Nico. Tea sebenarnya ingin ikut berpartisipasi dalam membuat Sony menderita akibat kata-katanya barusan. Tapi begitu melihat ekspresi wajah Sony yang lucu, Tea tidak bisa menahan diri untuk tertawa.

Bunyi dering bel yang menandakan akhir waktu istirahat menghentikan tawa Tea. Bersamaan saat itu, Putri melangkah masuk, mengibaskan rambut panjangnya, dan langsung duduk di sebelah Tea.

“Dari kafetaria Put?” tanya Tea.

Putri menoleh, memandang Tea “Lo bukannya tadi juga disana?”

“Iya. Tadi aku kesana sama Milka”

“Disana tadi lo liat gua kan? Trus ngapain lo nanya segala gua habis darimana? Stop asking unnecessary question…” kata Putri, sambil memasukkan dompetnya ke dalam tas.

Wow. Tea tidak mampu menemukan reaksi yang tepat. Dia cuma ternganga. Yang bereaksi justru Nico.

“Dasar jelangkung nyasar lo ya…” kata Nico. Pelan, tapi tetap jelas terdengar.

Putri menegakkan punggung, lalu menoleh ke arah Nico, “Apa kata lo tadi?”

“Lo kayak jelangkung. Kurus. Rese. Nyebelin. Udah puas dengernya? Atau perlu gua tambahin?” kata Nico tak kalah tajam.

Putri menyipitkan matanya, lalu berkata “Ga usah nyari masalah sama gua…”

Hening selama dua detik. Dari tempat duduk mereka berdua, Nico dan Putri saling bertatapan, tidak ada yang mau mengalah, sampai akhirnya sebuah suara memecahkan ketegangan tersebut.

“Put, mau pisang goreng nggak? Enak lhooo… Widi Vierra aja suka kok!” kata Sony sambil menyodorkan kotak bekalnya ke arah Putri. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.

Putri mengalihkan pandangan dari Nico, menatap Sony. Lalu memandang ke arah kotak yang disodorkan Sony ke arahnya. Ada empat potong pisang goreng tergeletak dengan pasrah di dalam kotak berwarna biru tua itu. Putri menatap Sony lagi. Sony yang masih tersenyum lucu sambil menyodorkan kotak itu ke arah Putri. Sungguh, Putri sebenarnya setengah mati ingin meledakkan tawanya. Entah kenapa, senyum yang ada di wajah Sony betul-betul menggoda seseorang untuk balas tersenyum. Tapi tidak. Seorang Putri tidak semudah itu mengumbar tawa. Maka Putri hanya melengos, dan kembali menghadap ke arah depan.

Sony mengangkat bahu, “Ya udah, sisanya buat Widi aja deh…”.

Nico dengan kesal mengambil salah satu potongan pisang goreng yang ada, “Lo aneh deh. Jelangkung ditawarin pisang goreng. Orang kayak dia mah makannya paku sama beling…” ujar Nico lagi. Kemudian melampiaskan kekesalannya dengan menggigit pisang goreng KEEMPAT nya itu.

Tea tidak berani berkomentar. Dari tempat duduknya, dia hanya melirik ke arah Putri yang duduk di sebelahnya. Sementara itu, suara kasak-kusuk kelas terhenti dengan masuknya Bu Mariatmi ke kelas itu. Beuh. Daripada nyari masalah sama Bu Mariatmi, jauh lebih aman ngegelitikin buaya yang lagi bad mood pake obor.
Tiba-tiba Putri menoleh ke arah Tea, yang langsung gelagapan. Heran deh, Putri ini pake susuk apa ya? Aura berkuasanya kerasa banget, pikir Tea.

“Um.. Te? Any spare pen? Pulpen gua macet.” tanya Putri.

Tea mengangguk kecil, mengeluarkan sebuah pulpen lagi dari kotak pensilnya, dan menyerahkannya pada Putri.

“Thanks.” Kata Putri, lalu kembali tekun dengan buku catatannya.

Sambil memandangi papan tulis kembali, Tea menghela nafas. Tea masih tidak mengerti, harus bagaimana dia bersikap dengan “teman” sebangkunya ini.
+++

Putri memelankan suara stereo setnya lewat remote, dan menajamkan telinganya. Benar juga, ada yang mengetuk pintu.

“Masuk!!” seru Putri dari atas tempat tidurnya.

“Putri… Kamu belum siap-siap?” Mama muncul dari balik pintu, sambil mengenakan giwang di telinga kirinya. Pasangan giwang itu sudah nampak berkilau di telinga kanannya.

Putri melanjutkan membolak balik majalah Teen Vogue di pangkuannya, “Putri beneran mesti ikut ya Ma? I’m so not in the mood tonight…” kata Putri tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya.

Mama duduk di sebelah Putri dan membelai rambutnya.
“Putri… Acara ini penting. Yang ulang tahun ini kan artis terbaru di production house nya Papa…” kata Mama dengan sabar, “What’s Your problem? Kamu ga punya baju yang cocok? Yang kemaren dibawain Tante Romy dari butiknya aja… Itu pas banget sama high-heels baru kamu yang Nine West itu. You will look gorgeous in that outfit, honey…”.

Putri mengeluh, “Ma, Putri tahun ini Ujian Nasional. Guru-guru lagi pada over sensitive sama pelajaran kita. Putri capek Maaaa… “ Putri tidak bohong, Baru dua minggu sekolah mulai, tumpukan PR yang diberikan oleh para guru bisa menyaingi tingginya Gunung Bromo.

Mama menghela nafas. “Put, Mama tahu. Tapi kamu juga mesti ngerti, ini sudah menyangkut reputasi sosial kamu.”

Putri menggigit bibir. Berusaha setengah mati untuk tidak menyahut, bahwa dia betul-betul ingin tidak peduli. Tapi toh, dia harus peduli.

“Kamu ga bakal kesepian kok… Sonia juga diundang kan? Dan Marco juga pasti ada disana. Dan oh, Mama lupa, Aji juga akan pergi bareng kita. Paling-paling setengah jam lagi dia bakal datang…”

Putri menoleh dengan cepat ke arah Mama, “Aji, Ma? Ngapain Aji ikutan kita segala?”

“Lho, apa salahnya?” sahut Mamanya sambil bangkit, dan melangkah menuju lemari pakaian Putri. “Aji itu anaknya baik. Ganteng. Ga malu-maluin lah pokoknya buat mendampingi kamu…”

“Mendampingi? Now what's that supposed to mean? Mendampingi gimana maksud Mama?” tanya Putri, tidak bisa menahan diri untuk mengucapkannya dengan nada tajam.

“Ya mendampingi kamu dalam acara-acara semacam ini…” sahut Mama, sambil memilih-milih baju yang ada dalam lemari pakaian Putri. Mama menarik keluar sebuah gaun, menyodorkannya pada Putri. Sehelai gaun berwarna putih gading, panjangnya selutut, dengan bagian bawah yang berpotongan asimetris. Dari jauh, gaun itu nampak sederhana, namun elegan. Jika diperhatikan lebih seksama, bagian dada gaun itu nampak cantik dengan detail payet yang rumit.

Dengan malas Putri melangkah mendekati Mama dan mengambil gaun itu. Putri mematut-matut dirinya di depan kaca, sementara Mama tersenyum di sebelahnya.

“Cepetan lho Put ganti bajunya, nanti keburu Aji nunggu lama, ga enak kan sama dia…”, kata Mama sambil menepuk pundak Putri.

“Ya udah, kalo ga enak dimuntahin ajah…”

“Putriyyyy……”

“Mamaaaaaa….”

Mama berusaha tersenyum kembali, dan mencium pipi kiri Putri, “Mama tunggu di bawah…”

Putri mengangguk, walaupun bibirnya tidak melengkung membentuk senyuman. Saat Mama menghilang di balik pintu, Putri mendesah. Mengenakan gaun pilihan Mamanya, dan menengok kembali bayangannya di cermin. Bahan chiffon gaun itu jatuh dengan manis di tubuh Putri yang langsing. Putri menyanggul rambutnya menjadi sebuah konde kecil di sisi sebelah kiri kepalanya, dan menyematkan sebuah korsase berwarna keemasan sebagai pemanis. Putri membuka lemari lain di kamarnya yang berisikan koleksi sepatunya, dan mengeluarkan sepasang sepatu hak tinggi berwarna jingga. Dikenakannya sepatu itu, kemudian dia berputar sekali lagi di depan cermin. Memastikan bahwa dirinya terlihat sempurna. Putri mematung di depan cermin, selintas pikiran mengganggu benaknya. Tapi ketukan halus di pintu kamarnya menepis ingatan yang tiba-tiba muncul tadi.

“Non Putri, kata NConya, Mas Aji sudah datang…” terdengar suara Mbok Rahmi dari balik pintu itu.

Putri mendesah, dan melangkah menuju pintu. “Iya Mbok.” Katanya sambil membuka pintu, dan keluar dari kamar. Dia menuruni tangga, dan melemparkan pandangan ke kursi tamu. Aji yang semula sedang mengobrol dengan Mama berdiri mendengar suara langkah kaki Putri.

Diam-diam Putri memandangi Aji, yang kini tengah tersenyum menatap Putri. Sebenarnya, dalam seragam sekolah saja Aji sudah terlihat menonjol dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Lekuk-lekuk wajahnya pun sudah cukup pantas untuk membuat dirinya menjadi salah satu siswa yang paling dikagumi para siswa perempuan. Tapi malam ini, Aji terlihat lebih dari sekedar seorang siswa SMA. Dengan kemeja warna biru cerah yang terlihat menyembul di balik jas hitamnya, Aji lebih terlihat seperti seseorang yang baru saja melangkah keluar dari halaman mode majalah. Lengan jasnya sedikit digulung, memperlihat sekitar sepertiga bagian dari lengannya. Sebuah dasi putih melengkapi penampilannya.

Hmm… Putri tidak pernah royal pada pujian. Tapi sekali ini, dia mengerti kenapa kalau Aji lewat di depan para juniornya di sekolah, sepertinya tidak ada pemandangan lain bagi para junior itu selain Aji.
Putri melangkah mendekati Aji. Aji memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, seakan-akan menilai penampilan Putri.

“Kamu cantik malam ini” kata Aji sambil tersenyum.

“Thanks, I know that… Banyak yang bilang gitu kok” sahut Putri. Aji sepertinya tidak tersinggung, dia malah tertawa mendengar jawaban Putri.

“Eh, tapi…” tanya Putri, ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa?” Aji masih tidak melepaskan pandangannya dari Putri.

“Aku ga keliatan kayak jailangkung kan?” lanjut Putri.

Aji mengerutkan kening sesaat, lalu tertawa sambil menggeleng. “Ya nggak lah… cuma cowok bodoh yang bilang kamu kayak jaelangkung…”

Putri mengangkat bahu. “Exactly… cuma cowok bodoh yang bakalan bilang gitu” katanya. Selintas, seraut wajah muncul di benaknya. Putri menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus bayangan wajah itu dari pikirannya.

“Jadi, kita berangkat sekarang?” kata Mama dari kursi yang didudukinya.

“Boleh deh Tante, daripada telat…” kata Aji sambil memutar tubuhnya ke arah Mama. “Biar pakai mobil saya aja…” kata Aji lagi sambil melangkah keluar.

Dari belakang Putri terus mengamati gerak-gerik Aji yang luwes. Apa tadi kata Mama? Oh iya, Aji itu pantas untuk mendampinginya.

Aji yang sudah sampai di pintu depan menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Putri.

“Putri, jadi pergi kan? Kok malah diam aja?”

Putri tersenyum memandangi wajah tampan Aji. Aji yang malam itu tampil sempurna. Putri mengangguk dan melangkah mengikuti Aji sambil menjawab, “Iya, jadi kok.”. Mama mengiringi mereka dari belakang, sambil menJiendangkan pashminanya.

Dalam hati Putri berpikir, mungkin Mama benar. Siapa lagi yang lebih tepat mendampinginya selain Aji?
+++

Nico memutar-mutar pulpen di tangannya sambil mengerutkan kening.
“Ya ga lah Son… Liat aja hasilnya…” kata Nico sambil mendorong bukunya ke hadapan Sony.

“Nico, lo boleh deh ga ngaku lo kalo lo tuh kalah ganteng dari gua. Tapi untuk yang satu ini, lo mesti ngaku kalo lo yang salah…”

“Eh, coba deh ya… Kan diketahuinya yang ini kan?” kata Nico sambil menunjuk sebaris kalimat pada soal di buku paket, lalu menunjuk kembali ke bukunya “Tuh, artinya kan angkanya ya bener kan? Jadi pH-nya kan segitu Son…”

“Nico, cinta, dengerin Bang Sony ya…”

Nico menoyor kepala Sony dengan pulpennya “Son, bisa ga sih sekali-sekali lo bersikap NORMAL dan wajar-wajar saja?”

Sony tidak menghiraukan komentar Nico, tapi menunjuk ke baris lain di soal itu. “Masalahnya Co, angkanya emang bener, tapi biarpun angkanya bener, kalo lo salah make rumus, ya tetep aja hasilnya salah. Ini kan bukan pake rumus yang elo pake, tapi pake rumus yang ini nih….”

Nico mengerutkan kening lagi sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke keningnya, lalu sebuah senyum muncul di wajahnya, “Eh, bisa pinter juga lo Son. Iya ya… Kalimatnya gua salah ngerti. Bener Son, mestinya pake rumus yang lo tunjukin…”

Sony tertawa gembira, “Tuh kan apa juga gua bilang? Gua memang lebih ganteng kan daripada elo? Makanya gua yang bener…”

“Halah. Satu nomer doang. Tadi juga yang nomer tiga kan elo yang salah masukin angka…”

Sony tertawa lagi sambil membereskan alat-alat tulisnya yang berserakan di atas meja. Bunyi langkah kaki yang mendekat membuat Sony dan Nico mengangkat wajah. Aji berhenti di meja di depan mereka.

“Eh, sorry. Mejanya Putri yang ini ya?” tanya Aji sambil tersenyum, menunjuk ke arah meja Putri.

Nico mengangkat alis, lalu menjawab, “Si jaelangkung? Iya, yang di depan meja gua. Tapi anaknya belum dateng tuh” sahutnya sambil menunjuk meja Putri dengan dagunya.

Aji mengerutkan kening, “Jaelangkung?”

Sony segera menukas sambil menginjak kaki Nico, “Si jangkung Ji! Mana ada jaelangkung di kelas ini, udah keburu dijadiin pentungan sama Nico. Ya kan Co? Lagian Putri kan emang jangkung…”

Aji kini tersenyum, “Oh, gitu… “ Aji menunduk untuk mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas ranselnya.

“Ya udah, gua cuma mau balikin kamus dia aja kok” kata Aji sambil mengacungkan buku tebal di tangan kanannya. Tapi begitu melihat pemandangan di depannya, Aji mengerutkan kening kembali.

“Umm… Kalian berdua emang akrab banget ya?” kata Aji sambil tersenyum geli melihat Sony dan Nico.

Sony menyeringai, tangan kanannya masih merangkul pundak Nico erat-erat, sementara tangan kirinya menyumpal mulut Nico dengan sebuah bakpau dari kotak bekal Sony. Nico nampak meronta-ronta. Di bawah meja, kaki kanan Nico bergerak-gerak liar, berusaha menendang kaki kanan Sony yang tengah menginjak kuat-kuat kaki kiri Nico.

“Akrab? Kita berdua? Oh, ya doooong… Kita biasa kok ngerjain PR sambil suap-suapan gini…Biar mesra.” kata Sony, masih sambil menyeringai.

“Oh. Okeee….Ya udah deh, bukunya gua taruh sini ya” Aji meletakkan buku itu di meja Putri, masih tersenyum geli melihat Sony.

“Iya, nanti gua bilangin kalo Putri udah dat…WADDOOOWWW… Lo nendang kok ga kira-kira sih?” Sony meringis merasakan tulang keringnya yang baru saja menikmati tendangan telak dari Nico.

Nico terbatuk-batuk sesaat sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Bakpau yang kadang-kadang dibawa Sony memang enak, tapi kalau satu buah bakpau sekaligus langsung dimasukkan secara paksa dan semena-mena ke dalam mulut, yang ada malah berasa kayak keselek bola basket.

“Ehm. Katanya mesra, kok tendang-tendangan sih?” tanya Aji sambil menJiempangkan kembali tasnya di bahu.

“Eh, tendangan Nico tadi mesra kok, ya kan Co…” kata Sony menoleh ke arah Nico sambil mengelus-elus tulang keringnya. Nico yang dipandangi malah melotot, masih terbatuk-batuk.

“Nico mau bakpaunya lagi? Nih, masih banyak kok…” kata Sony sambil mencomot satu bakpau lagi dari kotak bekalnya. Nico makin melotot sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya masih menutupi mulutnya yang masih terbatuk-batuk akibat bakpau pembawa bencana itu.

“Nggak? Yakin? Ya udah deh, lo mau bakpau ga Ji?” kata Sony lagi, beralih menyodorkan bakpau tadi ke arah Aji.

Aji tersenyum sambil menggeleng. “Makasih. Gua udah sarapan kok. Ya udah, gua balik ke kelas dulu ya, nitip buku tadi buat Putri.”

Sony mengangguk. Aji berbalik dan melangkah keluar. Nico yang sudah berhasil meredakan batuknya langsung menyambar tas Sony, dan mengobrak-abrik isinya sampai menemukan sebuah botol minuman. Nico langsung membuka botol itu dan menghabiskan isinya dalam beberapa teguk.

“Co! Yah… elo… Punya gua Co!!”

Nico menyelesaikan tegukannya, lalu berbalik menghadap Sony.

“Maksud elo apa-apan sih?”
“Lha, daripada elo berantem sama Aji di kelas ini?”
“Eh, siapa juga yang ngajakin Aji berantem. Biar dia tau aja kalo si jaelangkung itu emang rese!” Nico masih terdengar kesal.

Sony tertawa, dan menepuk pundak temannya. “Ya ampun Nico… Lo masih dendam aja sama si Putri.. Udahlah Co…”

Nico mengernyitkan keningnya, dan menatap Sony.

“Gua ga nyangka lo sabar banget ngadepin si sengak itu.”

Sony tersenyum, walaupun tidak lagi menatap Nico. Dia lebih memilih membuka-buka buku paket Kimia yang ada dihadapannya, sambil menyahut pelan, “Yah, gua sendiri juga sebenernya ga ngerti Co…”

“Ga ngerti gimana?”

Sony menghentikan gerakannya, menoleh menghadap Nico. Lalu menjawab dengan ekspresi wajah serius. “Gua ga ngerti, kok bisa ya ada orang kayak gua, yang ga cuma ganteng, tapi juga baik hati?” Sony mengakhiri kalimatnya dengan sebuah cengiran lebar.

“WOOOIII!! Ngawur banget sih…” kata Nico sambil mendorong pundak Sony.

“Ah, elo mah sirik aja. Padahal kan gua ganteng beneran…” sahut Sony. Sambil tertawa, dia melihat Tea yang baru datang dan sedang meletakkan tasnya di kursi di depan Sony.

“Ya kan Te? Gua ganteng kan Te?” tanya Sony pada Tea, mencari dukungan.

Tea mengangkat kedua alisnya, “Apaan sih?”

Sony mengulangi lagi pertanyaannya, “Gua ganteng kan Te?” sambil bergaya menarik leher bajunya dengan kedua tangannya.

Tea tertawa, dan menjulurkan lidah sebelum menyahut. “Dih, kamu? Ganteng? Gantengan juga Aajj…”
Kalimat Tea terhenti. Tea langsung menutup mulut dan menggigit lidahnya sendiri. Nico menatap Tea dengan aneh. Wajah Sony terlihat penasaran.

“Gantengan siapa? Ga siapa yang lebih ganteng daripada gua?” tanya Sony, penasaran dengan kelanjutan kalimat Tea.

“Ajj… eh.. Arj..Arjuna!” kata Tea, setelah sempat gelagapan. Dia lalu duduk, menghadap ke depan. Dan merasakan pipinya memanas.

“Teaaaaa….” Panggil Sony dari belakang kursinya.

“Apaan?” tanya Tea, masih tidak mau menengok.

“Teaaaaa…” Sony masih keukeuh memanggilnya.

“Apaan sih???” sahut Tea agak kesal, berbalik menghadap Sony.

Sony menopangkan dagunya pada kedua tangannya, tersenyum lebar melihat wajah Tea yang merona.

“Tea mukanya jadi meraaaahhh… Cantik deh!” kata Sony lagi. Tea gelagapan. Apalagi melihat senyuman Sony.

“Apaan siiihhh???” Tea merasakan mukanya semakin membara.

“Ih, malah jadi tambah merah… Lucuuu….” Kata Sony tertawa menggoda Tea. Di sebelah Sony, Nico berlagak membuka-buka buku paket milik Sony, sambil terbatuk-batuk tidak jelas.

“Don’t You think it’s a little bit too early to flirt? Pagi-pagi gini lo udah pake acara ngerayu cewek…” suara tajam Putri yang baru datang.

“Eh, Putri udah dateng… Putri ga usah ngiriii… Putri juga cantik koookk… Apalagi kalo senyum, ya kan Co?” Sony menoleh ke arah Nico. Nico yang tadinya tersenyum kecil melihat kelakuan Sony terhadap Tea langsung merengut.

Putri hanya mengangkat sebelah alisnya, melengos dan meletakkan tas di kursinya.

“Put, tadi si Aji balikin buku tuh… Yang tebel di atas meja kamu…” kata Sony pada Putri.

Putri menoleh ke meja Sony sambil mengacungkan buku yang dia temukan di atas mejanya.

“Buku yang ini? Aji tadi yang balikin? Perasaan yang pinjem kan si Sonia deh…”

Sony mengangkat bahu. Yang menjawab justru Nico, walaupun tanpa memandang Putri.

“Iya, tadi cowok lo tuh yang balikin…” ujar Nico dingin.

“Aji? Dia bukan cowok gua…” kata Putri dingin, sambil berbalik kembali menghadap papan tulis.
Tea yang duduk di sebelahnya tercekat. Refleks, dia langsung menoleh ke arah Putri dan bertanya, “Aji bukan cowok kamu?”

“Bukan atau beluuummm…” tanya Sony dari belakang dengan jahil.

“Beuh. Mana ada cowok yang mau pacaran sama jaelangkung?” tukas Nico.

Kalimat terakhir Nico membuat Putri berbalik kembali menghadap Nico. Dengan nada tajam dia berkata, “Mind Your own bussiness, will You?”

Nico meletakkan buku yang tadi dia pegang, lalu menatap tepat ke mata Putri. “Siapa juga yang mau ngurusin elo. Ga penting banget.”

Putri tidak menyahut. Tapi tidak melepaskan pandangannya dari mata Nico. Tidak, pikir Putri. Dia tidak akan kalah mental di hadapan cowok sialan ini. Walaupun dalam hati Putri merasa ada perasaan lain yang menggelitik. Mata itu. Mata yang begitu hitam, dalam. Mata yang kini tengah menatapnya tajam. Perlahan, Putri merasa tenggelam. Dalam lautan yang ditawarkan oleh kelamnya mata itu.

Nico terus memandangi Putri. Tidak mengucapkan apa-apa. Putri pun demikian. Keheningan di antara mereka terasa seperti lapisan es yang menyelimuti danau yang tengah beku. Tapi Nico merasa, di balik pancaran mata Putri yang dingin, ada sinar lain yang juga tersembunyi, sinar yang menghanyutkan...
Hening selama beberapa saat di antara mereka. Tidak lama, hanya dua detik. Karena tiba-tiba ada sebuah kotak bekal berwarna biru yang muncul di antara mereka. Diiringi suara khas Sony.

“Putri… Nico… Kita sarapan bakpau sama-sama dulu yuuuk!!” ujar Sony sambil mengacungkan kotak makanannya tepat di antara Nico dan Putri.

Putri dan Nico langsung mengalihkan pandangan ke arah Sony, yang masih tersenyum tanpa dosa dengan kotak makanan kebanggaannya. Putri lalu melengos, dan kembali duduk menghadap ke papan tulis. Nico dengan kesal menoyor kepala Sony dengan pulpennya.

“Yah… kok pada ga mau sih?” kata Sony. Dia mengangkat bahu. Sony kemudian menjawil punggung Tea dari belakang, hingga Tea menoleh.

“Te, buat Tea aja deh bakpaunya. Mau ga? Masih anget nih…” kata Sony lagi sambil tersenyum.

Tea mengangguk kecil, dan mengambil salah satu bakpau dari kotak itu. Sebagian karena merasa tidak tega pada Sony, sebagian lagi karena aroma bakpau itu memang begitu menggoda. Sony tersenyum senang.
“Makasih ya Son” kata Tea, lalu menggigit bakpau itu. Hmm… ternyata rasanya sungguh tidak mengecewakan.

Tea membetulkan posisi duduknya dari menghadap ke belakang menjadi ke arah papan tulis. Diam-diam, dia melirik ke arah Putri, yang nampak asyik sendiri dengan I-Phonenya. Apa tadi kata Putri? Aji bukan cowoknya?
Hmmm… Padahal berita yang terdengar adalah dalam sebagian besar kesempatan, Putri sering kali ditemani oleh Aji. Seisi sekolah sudah menerima fakta itu. Dan toh, mereka memang terlihat serasi. Putri yang cantik, Aji yang menawan. Apa kata “sudah jadian” masih perlu untuk diumumkan, kalau mereka toh selalu terlihat bersama-sama? Tapi, kenapa tadi kata Putri, Aji itu bukan cowoknya? Artinya, Aji belum punya pacar? Artinya… Tea merasakan kembali pipinya merona saat membayangkan khayalannya sendiri. Dia menggelengkan kepala perlahan. Berusaha membuang bayangan Aji dan senyumannya dari pikirannya.
Tapi toh, tetap saja Tea merasa ada getaran di dadanya saat membayangkan wajah Aji. Getaran yang membuat pipinya terasa berseri.
***

Sony mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Pemandangan tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Dengan resah, dia menghembuskan nafasnya. Nico yang merasakan perubahan sikap temannya menyodok kaki Sony di bawah meja.

“Lo kenapa sih Son?” bisik Nico perlahan. Berusaha supaya Bu Mariatmi yang tengah menjelaskan konsep integral di depan kelas tidak mendengar.

“Hah? Emang gua kenapa?” Sony balik bertanya.

Nico mengerutkan kening. “Enggak. Lo kayak ga biasanya deh… Kayak ada yang dipikirin gitu…”.

Sony berusaha menyeringai, dan berbisik pada Nico “Mikirin Widi Vierra…”

“Beuh. Widi mulu. Kreatif dikit dong…” sahut Nico kesal. Meskipun demikian, dia tahu, ada yang disembunyikan Sony. Tapi Nico tidak ingin memaksa. Dia tahu, kalau Sony ingin bercerita, dia akan bercerita sendiri. Maka Nico kembali memusatkan perhatiannya pada Bu Mariatmi.

Sony menarik nafas kembali. Berpikir, mungkin dia harus bertanya. Daripada perasaan resah ini semakin mengganggunya? Dengan terburu-buru, Sony merobek secarik kertas dari halaman paling belakang buku tulisnya. Menulis secarik kalimat, lalu melipat kertas itu 4 kali.

“Te…” Sony menjawil punggung Tea sambil berbisik pelan, menyodorkan surat dadakan itu.

Tea menoleh sedikit, mengerutkan kening, tapi tetap mengambil kertas itu tanpa membalikkan badannya. Perlahan, sambil sesekali melirik ke arah Bu Mariatmi, Tea membuka kertas itu. Membaca tulisan tangan Sony yang kecil-kecil dan melingkar.

Tea, kamu naksirnya sama Aji ya?


Tea tercekat. Dibacanya sekali lagi kalimat itu. Duh Gusti…Apakah sekentara itu? Tea menggigit bibir. Jawab… Enggak.. Jawab… Enggak… Tea melirik ke arah belakang. Sony nampak sibuk menyalin sesuatu di buku tulisnya. Seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi. Tea kembali memandangi kertas itu. Sampai akhirnya, tepukan Bu Mariatmi di pundaknya mengagetkan Tea.

“Tea, kamu nomer tiga ya…” kata Bu Mariatmi sambil terus berjalan ke arah William. Menyuruh William untuk mengerjakan soal nomer 4. Tea gelagapan. Bu Mariatmi terus berkeliling kelas untuk menunjuk siswa mana saja yang beruntung berkesempatan untuk menunjukkan harkat dan martabatnya di bidang Matematika dengan mengerjakan soal di papan tulis. Dengan putus asa Tea memandangi rentetan angka di papan tulis. Nomer berapa jatahnya tadi? Oh iya. Nomer tiga. Tea mencermati kembali soal itu, dan langsung menyimpulkan, bahwa menyeberangi Selat Sunda dengan menggunakan rakit bambu terasa jauh lebih gampang dibandingkan menyelesaikan soal itu. Dengan panik Tea melirik ke arah Putri. Menatap Putri dengan wajah memelas. Putri hanya melirik sekilas, kemudian mengangkat bahu. Tea merutuk dalam hati. Di tengah kepanikannya, bisikan Sony terdengar kembali.

“Te…”

Dengan kesal Tea menoleh ke arah Sony. Sony perlahan mendorong sebuah kertas lagi yang terlipat rapi ke sudut depan mejanya, kemudian berlagak sibuk dengan soal-soal. Tea semakin kesal. Tidak bisakah mahluk rese itu menunggu untuk memperoleh jawaban dari pertanyaannya tadi? Dengan sedikit kasar, Tea menarik kertas itu dari meja Sony, dan membukanya.

Tea membaca isi kertas itu, dan mengerutkan kening. Hei, bukankah ini jawaban soal nomer tiga? Tea meneliti kembali. Iya, di baris paling atas Sony menuliskan kembali soal yang ditanyakan. Kemudian dengan tulisan yang kentara sekali dibuat secara terburu-buru, Sony menjabarkan baris demi baris penJiesaian dari soal tersebut. Tea menoleh kembali ke arah Sony. Sony malah nampak sibuk membahas soal yang ada di depan bersama Nico.

“Te? Udah? Maju sekarang…” kata Bu Mariatmi. Tea mengangguk. Dengan kertas dari Sony tadi di dalam buku catatannya, Tea maju ke depan. Menyalin baris demi baris tulisan Sony. Hingga sampai hasil akhir, yang digarisbawahi Tea dua kali. Bu Mariatmi tersenyum puas, dan mengangguk. Mengisyaratkan Tea untuk kembali ke tempat duduknya.

Tea berjalan kembali ke kursinya. Sambil duduk, dia menengok ke arah Sony, tersenyum sambil berbisik perlahan, “Makasih ya Son…”. Sony hanya mengangkat alis, dan tersenyum tipis.
+++

Sony menggigit-gigit ujung pulpennya. Kayaknya jam dinding di kelas ini batrenya udah mati. Buktinya, dari tadi jarum jam itu seakan tidak bergerak. Sony menatap lurus ke arah papan tulis, tapi yang ada di benaknya bukan rumus-rumus itu. Melainkan wajah Tea tadi. Wajah Tea yang merona begitu mendengar nama Aji disebut-sebut. Dan perkataan Tea sebelumnya, yang menggantung tanpa diselesaikan? Perlahan, Sony menarik nafas panjang, dan menghembuskannya pelan-pelan. Aji. Kenapa hanya nama itu yang membuat wajah Tea menjadi tersipu-sipu? Sony mengeluh di dalam hati.

Akhirnya, setelah 2 jam pelajaran berlalu, bel itupun berdering. Tea merogoh ke dalam laci mejanya, dan menarik keluar surat pertama Sony. Dengan cepat Tea menuliskan dua baris jawaban, dan melipat kertas itu kembali. Sambil berdiri, Tea meletakkan kertas tadi di sudut meja Sony. Lalu berjalan keluar kelas.

“Apaan tuh?” kata Nico sambil berdiri.
Dengan cepat Sony meraih kertas itu. Sambil memasukkan kertas tadi ke dalam sakunya, Sony menjawab

“Orderan bakpau pasti. Elo sih tadi ga mau pas ditawarin. Udah dibilangin enak, malah nolak…”

“Yeeee… Asal lo. Ya udah, gua ke perpus dulu bentar yak! Mau balikin buku…” Nico melangkah keluar sambil menjinjing 2 buah buku.

Sony tidak menjawab. Dia menunggu Nico keluar kelas sebelum akhirnya mengeluarkan kertas tadi dari sakunya, dan membukanya. Dua baris tulisan Tea terbaca di bawah pertanyaan Sony
Iya. Tapi ga usah bilang siapa-siapa ya.
Ngomong-ngomong, makasih jawaban nomer 3 tadi…

Sony membaca kalimat itu sekali lagi. Kemudian meremas kertas itu kuat-kuat. Tangan Sony yang mengepal masih mengenggam kertas yang sudah tergumpal itu saat dia melangkah keluar kelas dengan gundah.

Di depan kelas, Sony mengeluarkan kertas tadi. Dirobeknya perlahan kertas itu kecil-kecil. Di depan tempat sampah, Sony bimbang sejenak. Suara bola basket yang didribel menarik perhatian Sony. Dia melemparkan pandangan ke arah lapangan basket. Di tengah lapangan Aji sedang berhadap-hadapan dengan Marco. Dengan luwes, Aji melepaskan diri dari hadangan Marco. Aji mengambil ancang-ancang, dan sebuah three-point shoot pun dilakukannya dengan cemerlang. Sorak sorai dan tepuk tangan dari penonton mengiringi tembakan Aji tadi. Aji nampak tertawa saat Marco menepuk pundaknya.

Sony menghembuskan nafas keras-keras, berbalik, dan melemparkan potongan-potongan kertas tadi ke dalam bak sampah. Dengan Aji sebagai saingan, mungkin harapan Sony pun lebih layak dilemparkan ke bak sampah.

Sony melangkah ke perpustakaan, berusaha melupakan kecewa yang terasa meWilliamap di dada. Tapi tetap saja, senyuman gadis bermata bening itu membayanginya.
***

“Berasa kayak sebangku sama Cinta Laura karbitan, tau ga sih…” Tea mengakhiri ceritanya pada Milka sambil merengut dan memeluk guling di atas tempat tidurnya.

Milka menyandarkan kepalanya di sisi tempat tidur Milka, masih dalam posisi duduk di lantai. Sebuah majalah remaja terpentang lebar di pangkuannya. “Beuh. Selama ini gua pikir Putri anaknya cool aja. Kayaknya kan diantara gengnya mereka itu, dia yang paling keliatan ga banyak ngomong, Tapi ternyata sekali ngomong, nyebelin gitu ya…” Milka mengomentari cerita Tea tadi.

Tea turun dari tempat tidurnya, dan duduk bersila di sebelah Milka.

“Bukan cuma nyebelin, bener-bener sengak abis tu anak. Dikit-dikit ngomongnya pake diselipin Bahasa Inggris gitu…”

“Sisa-sisa waktu dia sekolah di Australi dulu kali Te. Katanya kan dia sejak SD sampe SMP ikut tantenya di Australi. Kalo ga di Sydney, di Melbourne gitu…” Milka menyahut sambil membuka majalah yang ada di pangkuannya.

“Iya, tapi kan dia sekarang sekolahnya di Indonesia. Malah bergaya sok englis englis begitu. Cuma Sony doang yang biasanya nanggepin. Jadi kalo Putri udah mulai belagu pake bahasa Inggris gitu ngomongnya, Sony biasanya jawabnya ikut pake Bahasa Inggris juga…”

“Oh ya? Wah, artinya Sony pinter juga ya bahasa Inggrisnya? Ga nyangka gua…”

“Eh, aku juga kaget tauk waktu pertama kali denger. Fasih lah, kalau dia mah. Tapi ga pake acara sombong segala kayak si Putri. Sony mah tetep keliatan kayak biasa aja…”

“O ya?”

“Iya… Padahal lho, dia jagonya bukan cuma bahasa Inggris doang. Mata pelajaran lainnya juga kayaknya dia bagus semua tuh…”

“O ya?

“Iya banget… Lo kayak ga tau aja. Dulu waktu di kelas 11 juga kan dia yang rangking I Mil? Bukannya waktu itu kita sekelas sama dia? Tapi aku baru aja merhatiin sekarang kalo dia anaknya emang beneran cerdas. Tau kan kebiasaan Pak Nur yang suka iseng ngasih kuis dadakan? Kemaren dong, kuis dadakan lagi. Yang dapet 100 cuma dia. Sisanya di bawah 60 semua, kecuali Nico ding, itu pun cuma dapet 75 apa 80 gitu…” Tea berhenti untuk mengambil nafas sejenak, kemudian menyambung lagi, “Padahal lho, kalo cuma liat kelakuannya di kelas, ga nyangka banget deh kalo dia anaknya pinter. Anaknya kocak abis… Gua ketawa melulu ngeliat dia yang suka sok narsis gitu…”.

Milka tidak menyahut. Tea mengambil kaleng minuman di depannya, meminumnya seteguk, lalu meneruskan ceritanya.

“Kontras banget deh dia sama si Nico. Nico kan anaknya cool gitu, sementara temen sebangkunya gila abis. Tapi aku suka deh kalo ngeliat mereka berantem. Lucu banget. Apalagi kalo Sony udah cengar-cengir pas berhasil ngerjain si Nico. Senyumnya lucu banget. Aku jadi pengen ikutan ketawa juga kalo denger dia ketawa, jadi pengen ikutan senyum juga kalo liat dia senyum. Macem-macem deh kelakuan dia. Tapi biarpun jail abis, dia anaknya baek bangeeet. Kan dia suka bawa bekal tuh dari rumah. Macem-macem lah, hari ini bolu kukus, besoknya gorengan, besoknya lagi kue lapis. Ah, macem-macem lah yang suka dia bawa. Dan dia pasti suka bagi-bagi gitu ke kita…”

Tea berhenti, baru sadar kalau dari tadi Milka tidak menanggapi ceritanya, tapi malah menatap Tea dengan aneh. Milka yang irit komentar macam ini beda banget dengan Milka yang biasanya.

“Mil? Apaan sih? Kamu kok malah ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Tea heran, melihat Milka yang memandanginya sambil tersenyum simpul.

“Te… Lo sadar ga sih? Baru sekali ini gua denger elo muji-muji cowok selain Aji..” kata Milka sambil terus tersenyum jahil.

Tea merasakan wajahnya memanas. Dia mendorong pundak Milka, “Apaan sih lo? Ya wajar lah aku banyak cerita soal Sony. Kan dia duduk di belakang akuuu… Sementara kamu sendiri tau gimana membetekannya temen sebangku aku. Ya wajar dong kalo akhirnya aku jadi lebih deket sama Sony?”

“Yah Te, jadi lebih deket lagi dari sekarang juga ga papa kooookkk…” Milka menggoda Tea.

“Aaaahhh… Elo maaah. Gua masih tetep cinta mati sama Aji. Senyumnya itu lho, ga nahan banget.”

“Emang Sony kalo senyum ga cakep, gitu???” tanya Milka lagi, masih dengan nada menggoda.

“Ah, Milka ah… Jangan macem-macem ah!” Tea mulai agak kesal. Walaupun dalam hati diam-diam dia mulai memikirkan kata-kata Milka barusan. Iya juga sih, entah kenapa, kalo Sony tersenyum, Tea merasakan dorongan untuk ikut tersenyum juga. Ah, tapi mana mungkin tiba-tiba saja Sony menggantikan posisi Aji di hatinya?

“Hayooo… Tuh kan, jadi kepikiran kaaannn…” Milka masih belum menyerah.

“Ya enggak lah. Kamu sih ga ngerasain sendiri duduk deketan sama dia. Lagian dia tahu kok kalo aku naksirnya sama Aji…”

“Hah? Dia tau Te? Kok bisa?”

Tea mengangguk. Lalu menceritakan kejadian dua hari yang lalu pada Milka, tentang pertanyaan yang dituliskan Sony di secarik kertas.

“Oh gituuu… Tapi kok bisa ya dia tau? Sensitip juga artinya tu anak. Tapi yang lebih tumben lagi Te, kok tumben lo mau ngakuin hal kayak gitu ke orang lain? Ke cowok pula!”

Tea mengangkat bahu. “Ga tau Mil. Ga ngerti kenapa, walopun anaknya jail kayak gitu, aku kok ya merasa nyaman untuk cerita-cerita sama dia…”

“Terus, tanggepan dia gimana? Dia ada nanya-nanya lebih jauh lagi soal gimana elo ke Aji nggak?”
Tea menggeleng. “Nggak tuh. Sesudah hari itu dia ga pernah lagi nanya apa-apa. Ya kayak dia yang biasanya aja…”

“Dia ga kayak yang cemburu ato gimanaaa… gitu?”

“Ngawur lo Mil. Ya enggak lah. Ngapain juga dia cemburu?” sahut Tea cepat. Walaupun pertanyaan Milka tadi juga sempat melintas di benaknya beberapa kali semenjak kejadian itu.

Diam-diam, Tea agak…kecewa.

Karena Sony sepertinya tidak peduli akan pengakuan Tea, dan tetap bersikap seperti biasa. Padahal Tea agak berharap agar Sony menunjukkan sedikit saja rasa cemburu. Atau setidaknya rasa tidak suka. Lho? Tea tercenung sesaat. Kenapa tiba-tiba dia punya harapan aneh seperti itu? Memangnya apa yang dipikirkan Sony terhadap dirinya penting? Enggak kan? Kan Tea sukanya sama Aji. Dari dulu banget. Apa hubungannya dengan Sony? Ngapain juga dia berharap Sony cemburu? Ah, aneh ah… Tea tidak sadar menggelengkan kepalanya sendiri kuat-kuat.

“Te? Ngapain lo kayak kerasukan pemain debus gitu?” tanya Milka yang heran melihat kelakuan temannya.

“Ga kok… Ga papa…” sahut Tea, lalu merebut majalah di pangkuan Milka. Berusaha mencari bahan obrolan lain. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa memang tidak ada perasaan apa-apa yang dia miliki terhadap Sony.
+++

Putri mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia baru sadar, sekolah bisa sesunyi ini. Padahal baru setengah jam berlalu semenjak bel pulang sekolah berdering. Putri merengut. Semua gara-gara Pak Nur. Pada jam pelajaran terakhir tadi, Pak Nur menyuruh Putri menemui beliau di ruangannya sepulang sekolah. Dan akhirnya, selama setengah jam Putri harusbertahan mendengarkan Pak Nur mengocehkan sesuatu tentang… tentang apa
ya tadi? Putri berusaha mengingat-ingat. Tadi, selama Pak Nur berbicara, pikiran Putri melayang kemana-mana. Oh iya, Putri baru ingat. Sesuatu tentang pemilihan jurusan waktu kuliah. Beuh, Pak Nur memang begitu,
suka berlebihan. Semester ini baru hampir dua bulan berjalan, kenapa Pak Nur sudah ribut menyuruhnya memikirkkan hal itu?

Sambil mengangkat bahu, Putri menstarter mobilnya. Klik. Putri mengerutkan kening, Kenapa mesin mobilnya mendadak menolak bersahabat? Putri mencoba lagi, sekali, dua kali, hingga sebelas kali. Sampai akhirnya Putri memukul setir mobilnya dengan kesal. Dia lalu menyambar tasnya, dan melangkah keluar dari mobil. Sambil bersandar di mobil, dia merogoh tasnya dan mengeluarkan I-Phone kesayangannya. Tapi begitu memandang layarnya, Putri merasa dia kehilangan rasa sayang terhadap smart phone miliknya itu. Sial. Kenapa mesti habis batre di saat-saat seperti ini sih???

Putri mengedarkan pandangan ke lapangan parkir, tapi gagal menemukan mobil lain selain Honda Jazz kuning miliknya. Duh, Putri tiba-tiba menyesal. Kenapa dulu dia menolak tawaran Aji untuk mengantar jemputnya?
Dengan kesal, Putri menendang ban mobilnya sekuat mungkin.

“Lo kalo udah bosen sama mobil lo, ga usah kayak gitu caranya. Dijual aja kek…” sebuah suara mengagetkan Putri. Putri menoleh ke arah suara itu.

Sialan sialan sialan. Kenapa mesti cowok itu sih??

“Mogok ya?” Nico berjalan mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.

“Enggak, gua lagi syuting iklan mobil ini disini” sahut Putri dengan ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.

Nico mengangkat alis. Tapi tidak beranjak dari tempatnya berdiri, tak sampai 2 meter dari Putri.

“Terus lo pulangnya gimana?” tanya Nico lagi, seakan tidak peduli dengan jawaban ketus Putri barusan.

Putri mengangkat bahu, kemudian membuang pandangan dari Nico. Aneh. Kenapa dia jadi gugup ya? Sebentar. Tidak mungkin. Seorang Veronika Putri tidak mungkin jadi gugup dan speechless di depan seorang cowok. Apalagi model-model cowok rese semacam ini. Maka Putri menguatkan hati untuk memandang ke arah Nico kembali.

“Emang kenapa? Tumben lo ngurusin gua?”

“Eh, enak aja. Gua cuma ga tega aja ngeliat cewek sendirian di tempat sepi kayak gini. Dan walopun lo adalah cewek paling rese segalaksi Bima Sakti, tetep aja lo cewek. Ga pantes sendirian di tempat sepi kayak
gini.”

Putri membuka mulut, tapi tak bisa berkata apa-apa. Dengan kesal Putri menutup kembali mulutnya. Hening sesaat. Putri menjatuhkan pandangan kesepatunya.

“Lo tinggal dimana?” tanya Nico tiba-tiba. Putri mengangkat wajah, melirik ke arah Nico, dan menyebutkan nama kompleks perumahan elit tempat tinggalnya.

Nico mengacak-acak rambutnya sendiri sambil mengerutkan kening. “Lo tunggu sini bentar ya…” dan tiba-tiba memutar badannya, lalu berlari kecil meninggalkan Putri.

Putri ternganga, lalu mendengus kesal. Apa coba maksudnya? Tadi sok perhatian, tapi tiba-tiba cowok menyebalkan tadi pergi begitu saja. Putri mengentakkan kaki dengan kesal. Dia lalu berbalik, dan menendang kembali ban mobilnya.

“Udah dibilangin kalo bosen sama mobil sendiri jangan kayak gitu caranyaaa…” suara Nico mengagetkan Putri kembali. Nico nampak sedikit terengah-engah.

“Yuk, pulang. Gua anterin. Gua tadi udah ngomong ke Mang Dudung kalo mobil lo bakal nginep di parkiran sekolah, jadi minta tolong jagain sama dia.” lanjut Nico lagi sambil membenahi letak ransel di pundaknya.

Putri masih ternganga. Tapi akhirnya berhasil menemukan kata-kata untuk diucapkan, “Mobil lo emang diparkir dimana?”

Nico mengerutkan kening. “Mobil? Siapa yang bawa mobil? Kita naek bus!” sahut Nico, yang sekarang mulai melangkah menuju gerbang sekolah.

Di belakangnya, Putri ternganga. Apa kata Nico tadi? Naek bus. BUS? My GOD! Bus yang mesti jejel-jejelan kayak sarden gitu? Nico pasti bercanda. Ga mungkin Putri naek bus. Mau ditaruh dimana reputasi sosial Putri kalau
sampai ada yang memergoki dia naik BUS?

Nico menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Putri. “Heh! Cepetan! Mau pulang sekarang ga lo? Gua tinggal nih…” ancam Nico.

Setengah bermimpi, Putri mengayunkan langkahnya mengikuti Nico. Sambil berusaha menjejeri Nico, Putri berucap, “Eh, gua naik taksi aja deh…”

Tanpa menoleh ke arah Putri, Nico menukas, “Mahal. Ongkos naik taksi bisa sampe 10 kali lipatnya kalo dibandingkan naik bus. Udah lah… Sekali ini percaya deh ama gua. Lo ngikut aja…”

“Percaya ama lo? You must be kidding…”

“Eh, tenang aja. Lo beneran gua anterin pulang. Ga mungkin lah lo gua bawa buat dijual di pasar daging…” sahut Nico, yang berada beberapa langkah di depan Putri.

“Tumben… ” kata Putri, masih berusaha mengiringi langkah Nico yang panjang-panjang. Dari belakang, Putri baru sadar, Nico ternyata tinggi juga. Mungkin sama tinggi dengan Aji.

Nico menyambung kalimatnya lagi, “Lagian lo dibawa ke pasar daging juga ga bakal bawa untung, rugi malahan. Badan lo tulang semua gitu, mana laku… Mending Sony yang gua bawa ke pasar daging, paling ga dia masih
bisa ditawarin buat jadi atraksi topeng monyet.”

“Lo bisa ga sih sekali-sekali ga nyela gua?”

“Lo bisa ga sih jadi cewek ga rese? Cerewet!!”

Di dalam hati, Putri bertanya-tanya, apakah keputusan mendadaknya untuk mengikuti Nico begitu saja akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya…
***

Keluar dari gerbang, Putri masih harus mengikuti langkah-langkah Nico hingga menuju tepian jalan Williama. Sebagaimana biasa, jalanan besar di Jakarta seakan tak punya jarak yang cukup renggang di antara pengguna
jalan Williama. Putri mengaduk-aduk tasnya, dan mengeluarkan selembar tisu. Sambil menghapus keringat di keningnya, dia menoleh ke arah Nico.

“Emang kita naik bus yang mana?” tanyanya. Dan terkesiap begitu melihat pemandangan di sebelah kirinya saat ini. Dia belum pernah memperhatikan profil wajah Nico dari samping. Apalagi sedekat ini.
Di dalam hati, Putri dengan berat hati mengakui, Nico itu ternyata…em…tampan…. Putri mengeluh. Biasanya dia tidak pernah royal dengan pujian. Putri punya standar sendiri tentang kriteria cowok yang bisa dikategorikan
good looking di mata Putri. Dan selama ini, baru Aji yang bisa mendekati kriteria tersebut. Tapi sekarang?

Nico tidak menjawab pertanyaan Putri barusan. Dia mengamati jejeran kendaraan umum yang muncul dari arah kanannya sambil sedikit memicingkan mata, mencermati nomor rute yang tertempel di kaca bus dan metromini
yang lewat. Tiba-tiba dia berseru, “Yang itu aja bisa tuh!” dan setengah berlari mengejar metromini yang dia maksud.

Putri ternganga. Matanya tak berkedip memandang metro mini yang penuh sesak dan nampak reot itu. Putri tidak bisa membayangkan harus berjejalan di antara orang-orang itu. Ya Tuhan… Rugi banget tadi dia menyemprotkan Anna Sui terbarunya kalau dia harus berdesakan di antara keringat orang.
Euh. Putri terus memandangi metro mini itu melintas di depannya. Kakinya tetap tak bergerak.

“YAAELAAAAHHHH!!!” Nico menghentikan langkahnya, sementara metro mini tadi melaju kembali meninggalkan mereka berdua. “HEH! Jaelangkung! Ngapain lo? Nunggu dilemparin sajen dulu? Kelewat deh jadinya…” kata Nico dengan kesal sambil melangkah kembali mendekati Putri yang masih tidak
beranjak dari tempatnya semula.

Putri menoleh ke arah Nico, dan dengan wajah polos berkata, “Yang tadi? Emang masih bisa dimasuki?”

“Ya bisa lah! Lagian elo badannya kayak kucing kucrut gitu, masih bisa kok nJiip-nJiip di tengah.”

“Tapi kayaknya tadi ga ada kursi kosong deh…”

“Emang ga ada. Tapi kan masih bisa berdiri!”

“Apa gunanya naik kendaraan beroda empat kalo kita ga bisa duduk? Kan sama aja kayak kita jalan kaki?”

Nico menghentakkan kaki dengan kesal. “Pilih-pilih banget sih?! Gua tinggalin lho!” katanya setengah mengancam, lalu berbalik dan mulai melangkah.

Putri panik, dan langsung meraih lengan Nico. Mengenggam lengan itu erat-erat. Nico menghentikan langkahnya, dan menoleh memandang Putri. Dengan ekspresi yang tak terbaca.

“Jangan. Jangan tinggalin gua…”

Putri nyaris tidak mempercayai kalimat yang tercetus dari bibirnya begitu saja. Dan dia lebih tidak mempercayai lagi kenyataan bahwa saat ini dia tengah mengenggam lengan Nico. Erat-erat. Putri ingin melepaskan
genggamannya, tapi entah mengapa, dia merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Karena tiba-tiba saja dia merasa takut kehilangan. Takut kehilangan getar-getar menyenangkan yang muncul saat dia menggenggam
lengan yang terasa kokoh itu.

Nico merasakan dadanya tiba-tiba berdebar hebat. Saat merasakan genggaman tangan Putri di lengannya. Saat mendengar kata-kata Putri tadi. Nico memandangi Putri, menatap mata Putri yang sebening samudra di pagi hari.
Merasa jengah, Putri pun menunduk. Tapi masih tidak melepaskan genggamannya dari lengan Nico.

Suara panjang klakson sebuah metro mini yang lewat membuat Nico mengalihkan pandangan kembali ke jalan Williama. Teriakan si kernet yang menyerukan jurusan metro mini itu sontak menyadarkan Nico.

“Yang itu aja!” seru Nico. Sambil balik menggenggam pergelangan tangan kiri Putri yang masih memegangi lengan kanannya, Nico berlari sambil menarik Putri, mengejar metromini yang kini memperlambat lajunya untuk
memberikan kesempatan bagi penumpang baru menaiki metromini itu.

Di belakang Nico, Putri ikut berlari. Sambil menikmati setiap aliran darah yang terasa semakin kencang, saat merasakan genggaman jemari Nico di pergelangan tangannya. Putri berusaha meyakinkan dirinya sendiri, detak
jantungnya kali ini terasa begitu berpacu pastilah karena dia harus berlari di luar jam olahraganya Pak Joe. Pasti. Tapi Putri tidak bisa mengingkari, detak jantungnya semakin tak menentu saat melihat sosok di depannya, yang tengah menggenggam tangannya.

Nico menaiki metromini, tangan kirinya meraih pintu metromini, sementara jemari tangan kanannya masih melingkar di pergelangan tangan Putri. Mereka kali ini beruntung. Metromini yang mereka naiki ternyata tidak
terlalu penuh. Nico menunjuk sebuah bangku yang masih kosong di bagian belakang.

“Tuh, disana aja.” Kata Nico pendek. Putri menurut, melepaskan pegangannya pada lengan Nico *dengan berat hati*. Dia melangkah menuju bangku yang ditunjuk Nico, dan duduk di sisi dekat jendela. Nico menghempaskan diri di
sebelahnya. Tanpa sadar, Putri menghela nafas panjang.

“Lo sebelumnya ga pernah naek bus ya?” tanya Nico.

Putri menoleh ke arah Nico untuk menjawab, dan terkesiap. Nico tengah menatapnya sambil tersenyum tipis. Selama ini, Putri belum pernah sekalipun melihat Nico tersenyum padanya. Semenjak insiden di hari
pertama sekolah itu, ekspresi wajah Nico tidak pernah berubah. Tiap kali melihat Putri, Nico bersikap seakan-akan melihat ikan paus yang sedang menari balet. Atau kodok yang pakai tuksedo. Atau bebek yang sedang
menyanyi seriosa. Apapun lah. Pokoknya, Nico selalu menatap Putri dengan pandangan tidak suka. Tapi sekali ini, Nico tersenyum. Hanya sebuah senyuman tipis, memang. Tapi sudah cukup untuk membuat Putri amnesia
sesaat. Berusaha menenangkan diri, Putri membuang muka. Dia memandangi pemandangan di luar jendela sambil menjawab.

“Ga. Baru sekali ini.”

“Kasian banget sih lo?”

Putri menoleh kembali ke arah Nico, tidak menyangka mendengar komentar seperti itu. “Kasian gimana maksud elo? Selama ini gua ga perlu ngerasain lari-lari ga jelas cuma buat ikut jadi bagian dari gumpalan
manusia dalam kaleng gini. Gua aman. Apanya yang kasian?”

“Gua kasian aja ama elo. Elo yang ga pernah ngerasain hidup yang sebenernya” sahut Nico dingin, tatapan matanya lurus ke depan.

“Hey, I have my own life! Gua juga punya hidup, tau!”

“Iya, hidup ala sinetron. Hidup yang ga nyata.”

Putri terdiam mendengar kalimat Nico barusan. Tersadar, bahwa apa yang dikatakan Nico tadi benar. Putri memandangi wajah Nico dari samping.

Nico mengangkat alis, lalu menoleh ke arah Putri. Nico terlihat ragu, tapi lalu mengucapkan sesuatu yang di luar dugaan Putri.

“Sori kalo gua nyinggung elo…”

Putri berusaha tersenyum, “It’s okay…”

Nico tersenyum lagi, membuat Putri sesak nafas. Putri kembali berlagak memandangi pemandangan di luar jendela. Metromini itu terus melaju, seakan-akan tidak peduli bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya,
seorang Veronika Putri tidak tahu harus berkata apa untuk memulai percakapan.

Nico melirik ke arah kanannya. Diam-diam menikmati pemandangan indah di depannya. Hmm.. Kalau dilihat-lihat lagi, sebenarnya si jutek ini manis juga. Terutama kalau ekspresi wajahnya tidak sedingin biasanya. Biasanya
cewek langsing ini suka sok jaim. Belagak ga pernah ketawa. Padahal, seandainya dia tersenyum sedikit saja, seperti yang barusan dilakukannya tadi, dia kelihatan jauh lebih cantik.

“Emangnya lo tinggal dimana?” tanya Putri, berusaha memecah keheningan di antara mereka.

Nico menyebutkan nama sebuah daerah, yang Putri tahu agak jauh dari komplek perumahannya. Ya, searah sih, cuma ga sejauh Putri. Putri berpaling dengan heran sambil mengerutkan kening.

“O ya? Trus kok lo bela-belain nganterin gua gini? Ga papa gitu?” sedikit rasa tersanjung menJiinap di hati Putri.

Nico tertawa kecil, “Lo ga usah GR duluan deh… Kebetulan aja gua memang ada urusan di komplek deket perumahannya elo gitu…” kata Nico sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari sakunya dan menyerahkannya pada kenek metromini yang menagih ongkos.

“Oh.”, Putri tidak bisa mencegah rasa kecewa yang menJiinap di hatinya. “Emang ada urusan apa?” Putri menyambung pertanyaannya.

“Ya ada lah pokoknya… Ga penting buat lo…” sahut Nico. Putri menggigit bibir, lalu menoleh kembali ke arah jendela.

Nico tiba-tiba berdiri. Merasa gerakan Nico yang tiba-tiba, Putri menoleh dengan kaget ke arah Nico. Apalagi setahu Putri, lokasi komplek perumahannya masih cukup jauh dari jalan yang sedang mereka lalui sekarang. Putri membuka mulut untuk bertanya, tapi pemandangan yang dilihatnya membuatnya menghentikan niatnya.

“Ibu duduk disini aja Bu, biar saya aja yang berdiri” Nico mempersilakan seorang ibu muda yang nampak kerepotan menggendong seorang balita sambil menenteng tas belanjaan. Dengan wajah yang nampak lega, Ibu itu mengambil alih bangku Nico.

“Makasih ya Dik…” kata Ibu itu. Nico tersenyum. Senyumnya semakin lebar begitu mendengar balita di gendongan ibu itu terkikik geli, dan melambaikan tangannya yang gemuk ke arah Nico. Ibu itu kemudian menoleh
ke arah Putri. Tersenyum, lalu bertanya.

“Mas nya itu temennya Mbak ya?”

Putri diam sesaat, memandangi Nico yang sekarang tanpa canggung mengajak balita tadi bercanda. Putri lalu tersenyum, mengangguk. Dan menjawab. “Iya Bu. Dia teman saya.” Ada nada bangga terselip di kata-katanya.
+++

Setelah sekitar 20 menit, Nico menjawil pundak Putri, memberi isyarat pada Putri untuk turun. Nico memberi tahu kernet metromini untuk berhenti.Mereka berdua turun dari metromini. Putri mengenali daerah tempat mereka turun, rumahnya sudah tidak jauh lagi.

“Yuk, jalan dikit. Kalo ga salah, deket sana ada pangkalan ojek deh. Bisa kan dari sana naik ojek sendiri?” kata Nico.

Putri mengangguk. Lalu mengikuti Nico berjalan ke arah yang ditunjukkannya tadi. Benar saja, selang beberapa puluh meter, sekumpulan tukang ojek sudah menanti penumpang. Mereka berdua berjalan mendekat

“Eh, alamat lengkap elo dimana?” tanya Nico. Putri menyebutkannya. Nico mengangguk kecil. “Ga jauh lagi kok ya. Lo tunggu sini bentar ya…” kata Nico yang lalu mendekati salah seorang tukang ojek. Nico berbicara sebentar dengan tukang ojek itu, lalu mendekati Putri kembali.

“Ya udah, kamu naik yang itu aja ya…”

Putri mengangguk.

“Gua jalan dulu. Gua ada urusan di sana” Nico menunjuk ke arah komplek sebelah. “Ati-ati ya…” kata Nico lagi sebelum mulai melangkah meninggalkan Putri.

“Nico!” seru Putri. Nico berbalik.

Putri tersenyum. Manis. “Terima kasih ya…” kata Putri.

Nico hanya mengangkat sebelah tangannya, sambil tersenyum. Putri merasakan wajahnya memanas begitu melihat senyum itu. Putri lalu berbalik, menaiki motor tukang ojek yang ditunjukkan Nico tadi.

Hanya perlu waktu 5 menit perjalanan, Putri sudah sampai di depan rumahnya. Begitu turun dari motor, Putri merogoh tasnya, dan mengeluarkan dompet.

“Eh, tadi udah dibayarin sama Mas nya yang tadi Neng…” kata si tukang ojek.

Putri mengangkat wajah dengan heran. “O ya?” Si tukang ojek hanya mengangguk, dan langsung berlalu. Putri membiarkan Pak Toto, satpam yang menjaga rumahnya membuka gerbang. Putriu melangkah memasuki halaman rumahny,masih sambil memikirkan kejadian barusan.

“Oh iya ya, mana pas di metromini tadi juga perasaaan gua ga ada ngeluarin dompet juga. Artinya dia yang bayarin gua juga?” batin Putri saat memencet bel. Begitu Mbok Ndari membuka pintu, Putri melangkah masuk. Baru beberapa langkah, terdengar seruan khawatir Mama yang menyongsong Putri.

“Putri, honey, where have You been??? Kamu kemana aja sih? Tadi Aji nelfon ke rumah, nanyain, kok katanya kamu ga bisa dihubungi? We were so worried about You..” Mama langsung menghujani Putri dengan pertanyaan.

Putri terus melangkah menuju dapur, sementara Mama mengiringi dari belakang. Putri membuka pintu kulkas dan meraih sekaleng minuman dingin.

“Henfon Putri mati. Mobil Putri mogok.” Kata Putri sambil menarik klep penutup kaleng minuman, lalu meneguknya. Ahhh… Akhirnya…

“Lho? Terus tadi kamu pulang naik apa? Kenapa ga nelfon Aji aja minta dijemput?”

Putri kembali minum beberapa teguk sebelum menjawab pertanyaan Mama, “Ma, come on. I’ve told You, my cellphone is running out of battery. Gimana caranya Putri nelfon Aji? Terus tadi Putri naik bus sampe depan, lalu naik ojek”

Mama terbelalak mendengar kata-kata Putri, “Kamu naik apa? Naik bus? Oh my God Putri… Emangnya kamu bisa?”

“Mom, I’m not a little girl anymore… Ya bisa lah. Buktinya Putri nyampe dalam keadaan utuh. Liat deh, kepala Putri masih di leher kan? Belum pindah ke lutut Putri kan?”

Mama menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tidak percaya bahwa gadis bungsunya naik angkutan umum selain taksi. Mama lalu menghela nafas.

“Ya udah kalo gitu. Kamu istirahat aja deh dulu. Don’t forget that we’re going to the party at Pradokso’s house tonight.”

Putri nyaris tersedak, “What? Another party?”

“Putri, not just another party. It’s another IMPORTANT party… Aji bilang dia bakal nyampe sini sekitar jam 7. So make sure that You'll be ready before that.”

“Aji? LAGI? Mom… I’ve been going out with him for two times this week. Ini artinya kali ketiga dalam minggu ini Putri pergi sama dia…”

“Lho, apa salahnya? Aji itu anak baik Put. Tampan pula, wajahnya seperti pangeran dalam dongeng-dongeng fairy tale. Dia memang cocok kan mendampingi kamu dalam acara-acara macam ini. Atau kamu punya opsi lain yang lebih cocok mendampingi kamu selain Aji?”

Putri diam, tidak menyahut. Walaupun sambil meneguk minumannya kembali, seraut wajah terbayang di benaknya.

Mama tersenyum, lalu menepuk pipi Putri perlahan, “Sana, go to Your room and have a rest.”. Mama lalu berbalik meninggalkan Putri sendirian di dapur.

Putri melemparkan pandangan ke jendela dapur, dimana kolam renang di taman samping terlihat jelas. Kata-kata Mama terngiang kembali, bercampur dengan kata-kata Nico di bus tadi. Putri menghela nafas. Mungkin Mama benar, Aji pantas mendampinginya dalam hidupnya yang bagaikan dongeng, hidup bergaya sinetron. Tapi dalam kehidupan nyata, apakah Aji juga pantas mendampinginya? Putri menggelengkan kepala, berusaha membuang bayangan wajah Nico dari pikirannya. Tapi tanpa sadar, dia mengelus kembali pergelangan tangan kirinya, yang beberapa saat yang lalu sempat digenggam Nico erat-erat.

***

Tea menyandarkan kedua lengannya pada pagar yang membatasi koridor sekolah dengan halaman. Masih ada waktu cukup lama sebelum sekolah dimulai, dan beberapa anak menggunakan waktu tersebut untuk bermain basket di lapangan sekolah. Dari tempatnya berdiri sekarang Tea bisa melihat permainan tersebut dengan jelas. Ada Aji, Marco, Gelbert, Patton, Obiet dan Georgi disana. Tapi yang menarik perhatian Tea hanya satu: Aji. Aji yang terlihat tampan dalam kondisi apapun. Lihat saja, dalam keadaan lari-lari sambil mendribel bola begini aja dia sudah terlihat seperti arus sungai Amazon. Menghanyutkan, maksudnya. Bikin lupa segala.

“Cieee… Pagi-pagi udah nyari pemandangan seger nih…” tiba-tiba Sony menepuk pundaknya dengan LKS Biologi.

Tea tersentak, dan menoleh ke arah Sony. “Apaan sih…”

Sony tersenyum lucu, lalu menoleh ke arah lapangan basket. “Siapa tuh Te yang lagi maen basket?” katanya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Wajah Tea menjadi bersemu merah.

“Beuh, baru ditanyain aja muka lo udah kayak gula merah gitu…” Sony tertawa kecil, lalu berjalan meninggalkan Tea. Sekilas dia menoleh ke arah lapangan basket, melihat Aji yang sedang berusaha merebut bola dari Marco. Hanya sekilas. Sony menghela nafas. Jauh. Jauh sekali dia dibandingkan Aji. Di balik saku celananya, Sony mengepalkan genggaman tangannya semakin kuat. Berusaha mengurangi perasaan gundahnya sambil menggigit bibir.

Tea memandangi punggung Sony dari belakang. Sebersit rasa kecewa muncul. Kok Sony cuek gitu aja sih? Tapi Tea lalu mengerutkan keningnya. Kenapa perasaan aneh itu muncul lagi? Kenapa dia berharap Sony cemburu? Tea menghela nafas. Dia melemparkan pandangan ke arah Aji di lapangan basket sesaat, kemudian berlari kecil menyusul Sony.

“Son! Tungguin aku!”

Sony menghentikan langkahnya, lalu menoleh memandang Tea yang tengah berlari kecil ke arahnya. Sony tersenyum kecil melihat poni Tea yang bergerak-gerak di dahinya.

“Neng Tea mau bareng Bang Sony?” kata Sony menggoda Tea begitu Tea sampai di sisinya. “Terus yang di lapangan basket mau diapakan?”.

Tea memukul punggung Sony dengan kesal, “NORAK AH!”

Sony hanya tertawa, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tea berjalan mengiringi di sampingnya. Di dalam hati, Sony berharap, bahwa jarak yang harus dia tempuh bukanlah 10 meter, melainkan 10 km. supaya dia bisa lebih lama lagi bersama peri kecil di sampingnya ini.

Beberapa menit sebelum bel terdengar, Putri berjalan memasuki kelas. Dia melangkah menuju bangkunya, saat Tea mengangkat wajah. Putri tersenyum kecil.

“Pagi Te…”

Tea tersentak kaget. Sebelumnya Putri tidak pernah menegurnya seperti itu. Kemajuan banget nih, pikir Tea. Tea membalas senyum Putri, “Pagi Put…”

Putri meletakkan tasnya, masih sambil berdiri. Keraguan nampak sekilas di wajahnya, tapi akhirnya suara Putri terdengar, walaupun lirih.

“Pagi Co…”

Nico mengangkat wajah dari buku yang tengah ditekuninya. Seulas senyum tipis muncul di wajahnya saat dia menyahut, “Pagi Put…”

Tea membelalak. Berusaha menterjemahkan kembali adegan di depannya. Putri. Menyapa. Nico. Putri dan Nico. PUTRI DAN NICO! Mereka yang biasanya seperti kucing garong berantem dengan anjing herder, tiba-tiba saling bertegur sapa? No way. Ga mungkin.

“AAAAHHHH….!!! Aku bahagiaaaa…!!!” tiba-tiba Sony memeluk Nico. “Gitu dooongg… Kalian berdua sekali-sekali akur kayak gini… Kan seneng liat jaelangkung berdamai sama mbah dukuuuun. Gimana kalo kita meWilliamakan ini dengan…” Sony melepaskan rangkulannya dari Nico dan merogoh ke dalam tasnya, lalu mengeluarkan kotak bekal kebanggaannya

“Makan bolu kukus bareng-bareng!” lanjut Sony dengan wajah cerah ceria.

Nico menatap Sony. Tea menatap Sony. Putri juga menatap Sony. Semua diam. Hanya Sony yang menatap mereka berganti-ganti, sambil tetap memegangi kotak bekalnya, lengkap dengan senyum lucu di wajahnya.

Nico yang pertama kali bereaksi. Tanpa rasa kasihan dia menoyor kepala Sony, “SARAP lo emang ya!”. Putri melengos dan duduk menghadap ke arah papan tulis. Tapi Tea masih sempat melihat bibir Putri yang tidak dapat menyembunyikan sebuah senyum kecil. Tea sendiri tidak dapat menahan tawanya. Lagipula, siapa sih yang tidak tahan untuk ikut tersenyum kalau melihat ada senyum lucu seperti yang ada di wajah Sony sekarang?
***

“Ehm…” Pak Nur berusaha menarik perhatian para siswa. Kepala para siswa terangkat dari buku catatan masing-masing, dari sejumlah soal Kimia yang bisa dinobatkan sebagai soal paling mengerikan dalam dekade ini.

“Ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan…” kata Pak Nur. Tea melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Duh, tinggal 15 menit lagi udah bel pulang nih. Semoga aja Pak Nur ga menyampaikan naskah pidato sepanjang 37 halaman spasi tunggal dengan font ukuran 9, pikir Tea dalam hati.

“Karena tahun ini kalian akan meninggalkan sekolah ini, Bapak ingin mengingatkan kembali bahwa tiap tahun, sekolah kita punya tradisi untuk membuat buku tahunan sekolah. Setiap kelas 12 bertanggung jawab untuk menyerahkan naskah berisikan apa saja yang ingin ditampilkan mengenai kelas mereka di dalam buku itu ke pihak sekolah untuk digandakan. Nanti tim dari OSIS yang akan mengkompilasikan naskah dari semua kelas 12 dan menggandakan buku itu untuk dibagikan kepada semua siswa yang lulus nanti.”

Oh iya. Tea baru sadar. Sekolah mereka memang punya kebiasaan seperti itu. Tradisi itu sendiri merupakan salah satu kebanggaan sekolah, karena buku tahunan yang dimaksud biasanya muncul dengan tampilan yang oh-sungguh-keren-sekali. Tahun lalu, Tea juga ikut terlibat dalam penyusunan buku sekolah ini, terutama karena dia juga aktif mengurus majalah sekolah.

“Untuk kelas kita, Bapak ingin membentuk suatu tim khusus yang bertanggung jawab terhadap pembuatan naskah dari kelas kita. Ga usah banyak-banyak lah… Empat sampai lima orang Bapak pikir sudah cukup” kata Pak Nur sambil melayangkan pandangan ke siswa-siswa yang mulai berbisik-bisik sambil saling tunjuk.

“Menurut Bapak, Tea adalah yang paling pantas untuk menjadi penanggung jawab dari tim ini. Tea, kamu tahun lalu ikut terlibat juga kan dalam tim OSIS yang mengurus pembuatan buku ini?”

Tea mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, Tea bersedia kan jadi penanggung jawab untuk tim kelas kita ini?”.

Tea diam sesaat. Dia sempat ragu. Tea memang suka menulis, tapi apakah dia sanggup? Sony mendorong punggung Tea dari belakang dengan penggaris.

“Udah Te… Iyain aja… Nanti gua bantuin deh…” bisik Sony pelan.

Tea menoleh sekilas ke arah Sony. Lalu kembali menatap ke arah Pak Nur.
“Boleh deh Pak… Tapi Sony juga dimasukin tim ya Pak…” Tea menjawab pertanyaan Pak Nur sambil menunjuk ke arah Sony.

Pak Nur mengangguk. Sementara Sony malah gelagapan.
“Yah Te… Kok gua jadi diseret-seret juga siiiihhh….”

Tea menoleh dengan wajah galak. “LHO? Bukannya tadi kamu bilang kamu bakal mau aja bantuin aku?”

“Iya sih Te… Tapi kan maksud gua bantuin elo secara informal gitu…” sahut Sony sambil menggaruk-garuk belakang telinganya.

“Jadi, Tea dibantuin sama Sony ya… Terus sama siapa lagi nih? Masak cuma mereka berdua?” lanjut Pak Nur lagi.

Tiba-tiba Sony merangkul pundak Nico sambil mengangkat tangan, “Pak! Kami sama Nico aja Pak! Nico anaknya mah baik dan tidak sombong Pak! Udah gitu, dia juga rajin nimba air Pak, jadi dia pasti cocok buat bantuin kita-kita…” kata Sony dengan wajah penuh keyakinan.

Nico menatap Sony dengan ekspresi setengah bingung, setengah kesal. Sementara Pak Nur mengerutkan kening. Tapi akhirnya menghela nafas dan mengangguk. “Baiklah, kalau begitu, Tea, Sony dan Nico. Kita perlu satu orang lagi. Kira-kira siapa? Ada yang punya usul? Atau syukur-syukur mau menawarkan dirinya sendiri.”

Seisi kelas hening. Seakan-akan semuanya berdoa bersama supaya tidak ditunjuk Pak Nur. Sampai tiba-tiba sebuah tangan teracung diiiringi suara yang memecah keheningan tersebut.

“I think I’ll take the Tence. Saya bersedia deh Pak…”

Tea ternganga melihat teman sebangkunya menawarkan diri. Pak Nur mengangguk senang, sementara Putri menurunkan tangannya. Putri menoleh ke arah Tea sambil tersenyum tipis.

“Lo ga keberatan kan kalo gua ikutan gabung?”

Tea menggeleng cepat. “Ga lah… Malah gua seneng banget lo mau bantuin kita.”

“Baguslah… Lagian gua ga tega ngeliat elo mesti menghadapi anak gila dan pak dukun itu sendirian aja” lanjut Putri.

Putri dan Tea kemudian menoleh secara bersamaan ke bangku di belakang mereka. Sebelah tangan Nico sedang mengacak-acak rambut Sony dengan kesal, sementara sebelah tangannya lagi berusaha memiting leher Sony. Melihat pemandangan itu, Tea dan Putri saling berpandangan, lalu tertawa bersamaan. Tea merasa senaaaang sekali. Ini pertama kalinya dia tertawa bersama Putri.

“Oke. Kalau begitu, Bapak pikir sudah cukup ya, 4 orang. Tea sebagai penanggung jawab, dibantu Sony, Nico dan Putri.” Tepat pada saat Pak Nur menyelesaikan kalimatnya, bel pulang berdering panjang. Suaranya yang sudah cukup membahana terasa semakin nyaring karena diiringi dengan sorak sorai penghuni kelas yang dari tadi sudah menunggu-nunggu bel keramat itu. Pak Nur menghela nafas, tapi tersenyum melihat kelakukan siswanya. Beliau kemudian membereskan buku-bukunya, lalu melangkah keluar kelas.

Sementara teman-teman sekelas mereka berebutan keluar, Tea, Putri, Sony dan Nico tetap duduk di bangku mereka, saling berpandangan dengan agak kikuk.
+++

“Euh… temen-temen… Jadi gimana nih? Yang soal proyek buku sekolah nanti?” tanya Tea, berusaha memulai.

“Kita bagi tugas aja dulu!” kata Sony. “Tea kan suka nulis ya Te? Perasaan yang suka bikin artikel-artikel di mading waktu kelas 11 elo kan Te? Nah… Jadi untuk nulis artikelnya Tea ajaaa…”

Tea mengangguk, “Trus, elo sama yang lain ngapain Son?”

“Gua sebenernya suka ngegambar-gambar gitu. Yah… Bagus banget juga enggak sih, tapi lumayan lah. Jadi mungkin gua bagian ilustrasinya aja kali ya…” kata Sony

“Son, perasaan yang disuruh Pak Nur jadi koordinator kan Tea Son, kok malah elo yang bagi-bagi tugas sih?” tukas Nico.

“Eh, gapapa kok… Beneran…” sahut Tea, “Gua malah seneng kok dibantuin gini. Terus yang lainnya ngapain nih Son?”

“Ya udah, gua bagian nimba air aja deh… kan tadi yang disebut-sebut Sony sama Pak Nur kalo gua tu tukang timba air…” Nico nampaknya masih agak kesal dengan Sony.

“Yaelah Nicooo… Gitu aja ngambek. Ah, ga seru ah Nico…” kata Sony, “Co, bukannya lo pernah bantu-bantu Oom lo yang jadi fotografer gitu? Ya udah, lo ngerjain bagian yang berhubungan dengan dokumentasinya aja…” lanjut Sony.

“Ye.. itu kan dulu Son. Om Chiko kan studio fotonya kecil-kecilan aja, bukan fotografer profesional macam Darwis Triadi gitu. Lagian juga gua ga punya kamera…” kata Nico.

“Pinjem punya gua aja…” Putri yang dari tadi diam tiba-tiba menyuarakan sarannya. Semua mata sekarang memandang ke arah Putri. Putri mengangkat bahu, “Gua punya kok di rumah. Yah, bukan punya gua sih, punya kakak gua. Tapi waktu dia berangkat kuliah ke Singapur, dia tinggal tuh. Ya udah, pake aja…”

“SIP!!” seru Sony. “Terus, lo mau ngapain Put?” tanyanya lagi.

“I’ll do the lay-out things…” sahut Putri dengan santai, “Gua suka ngerjain yang kayak gitu pake komputer.”

“Ya udah deh kalo gitu… Terus gimana nih kelanjutannya? Kayaknya mesti ngumpul bareng dulu kali ya buat merumuskan konsepnya mau gimana…” kata Tea.

Putri melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah langit-langit, dengan pandangan menerawang. Dia tiba-tiba lalu menatap ketiga temannya.

“Besok, hari Minggu kan ya? Besok pagi kalian pada ngumpul di rumah gua aja bisa? Sekalian biar Nico ngambil kamera. I guess 10 o’clock would be just the right time, not too early, tapi juga ga siang banget. Gimana?”

Wow. Ini entah untuk keberapa kalinya Putri memberikan kejutan bagi mereka semua di hari ini.

“Okeeee…” sahut Sony dengan ceria, lalu merangkul Nico di sebelahnya, “Ntar gua ke sana bareng sama Nico deh ya? Ya kan Co?” katanya sambil memandang Nico. Nico tersenyum kecil, lalu mengangguk.

Putri menoleh ke arah Tea. “Lo gimana Te? Bisa?”

Tea menatap Putri. Maen ke rumah selebritisnya sekolah? Wow. Memangnya kesempatan sekeren ini bisa ditolak? Tea mengangguk cepat. “Sip. Besok jam 10 ya…”

“Putri! Lo belum pulang aja? Bareng yuk?” suara Sonia terdengar dari pintu. Aji dan Marco berdiri di belakang Sonia. Putri menoleh ke arah Sonia.

“Okay, I’ll join You in a second…” Putri lalu menoleh kembali ke arah teman-temannya. Sambil berdiri dan menJiempangkan tasnya, dia tersenyum.

“Okay, jadi ketemu besok di rumah gua ya?”

“Put! Alamatnya?” tanya Sony.

Putri belum sempat menjawab, Nico sudah mendahuluinya. “Gua tahu kok. Ntar gua catetin buat elo deh Te. Son, lo besok bareng gua kan?”

Putri merasa wajahnya panas. Sambil menunduk, Putri mengambil buku tulis Sony yang masih ada di atas meja, dan menuliskan sejumlah angka di halaman paling belakang buku itu.

“Nih, gua kasih nomer henfon sama nomer telfon rumah gua aja deh jadinya ya?” katanya lagi sambil menyodorkan buku itu kepada Sony.

Setelah melempar senyum sekali lagi ke arah teman-teman sekelasnya, dia lalu melangkah keluar menghampiri Sonia yang mulai nampak tidak sabar menunggunya.

Sambil berjalan di koridor, Sonia berbisik pelan pada Putri, “Ngapain lo sama mereka tadi?”

Putri mengangkat bahu, “Oh, mereka temen-temen gua buat ngerjain proyek sekolah…”

Sonia menatap Putri lagi, “Sejak kapan lo punya temen selain kita?”

Putri balas menatap Sonia, “Sejak kapan lo punya hak buat ngatur gua bolehnya temenan sama siapa aja?”

Sonia mengalihkan pandangan lurus ke depan, “Put, inget. Lo punya reputasi sosial di sekolah ini. Lo mesti jaga itu. Dan anak-anak tadi, mereka jelas bukan di level yang sama dengan kita…”

Putri menghela nafas dengan kesal. “Whatever… It’s just a school project, okay? Happy now? Puas lo?”

Sonia memandang Putri, lalu tersenyum seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi, “Eh, makan siang di Sushi Groove yuk!”, Sonia tidak menunggu jawaban Putri, melainkan langsung menoleh ke arah Aji dan Marco yang berjalan santai di belakang mereka, “Ji, Marco, kalian ikut kami kan?”

Marco mengangguk dengan wajah tidak peduli, tangannya menyibakkan sebagian rambutnya yang ditata gaya Harajuku. Aji mengangguk sambil tersenyum, “Boleh deh… Lagian aku juga udah laper. Kamu juga udah laper ya Put?”

“Lumayan” sahut Putri, tanpa menoleh ke arah Aji.

“Oh iya Put, Mamamu tadi nelfon aku, katanya mobil kamu masih di bengkel. Jadi kata Mamamu, daripada nunggu dijemput sopir kamu, kamu pulangnya biar dianterin aja sama aku” kata Aji, sambil memanjangkan langkahnya, berusaha mengiringi Putri.

Putri menoleh ke arah Aji, menarik nafas, lalu tersenyum kecil. “Thanks, that’s so Sone of You..”. Aji membalas senyum Putri. Putri menarik nafas lalu menatap ke depan kembali. Entah kenapa, saat ini dia merasa lebih suka pulang naik bus. Berdua. Bersama Nico.
***

Sementara itu, Sony dan Tea di kelas menatap Nico, mencari penjelasan.

“Kok kamu bisa tahu alamat rumahnya Putri sih?” tanya Tea penasaran, sambil menunggu Nico menuliskan alamat rumah Putri di secarik kertas.

“Iya Co, emang lo pernah ke rumah dia?” lanjut Sony.

Nico mengangkat bahu, menyerahkan alamat rumah Putri pada Tea, “Ga juga, gua kebetulan kemaren ada jadwal di komplek deket-deket rumah Putri, terus gua liat dia lewat di daerah situ…” sahut Nico sambil memakai ranselnya.

“Ah, ngarang banget sih lo? Kalo cuma ngeliat Putri lewat, kok lo bisa tahu detil alamat rumahnya gitu?” Sony mengerutkan kening sambil membaca tulisan Nico di kertas yang baru saja diserahkannya pada Tea.

“Ada jadwal? Jadwal apaan Co? Aku ga ngerti deh…” tanya Tea penasaran dengan kalimat Nico.

“Ya adalah pokoknya. Ah, udah ah, kalian malah pada cerewet gitu. Gua duluan ya…” Nico berdiri dari kursinya, lalu melangkah keluar kelas.

Tea dan Sony berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu. Sambil menJiempangkan tasnya di bahu, Tea mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.

“Son, tinggal kita berdua lho ternyata…” kata Tea begitu menyadari bahwa semua teman sekelasnya sudah pulang.

Sony berdiri sambil mengenakan ranselnya. “Bentar lagi malah tinggal elo sendiri Te. Gua mau pulang. Lo mau ngeronda disini? Gua mah ogah…” kata Sony sambil melangkah keluar dari bangkunya.

“Sony! Aku jangan ditinggalin dong…” Tea refleks menahan lengan Sony. Dia lalu terkesiap, apalagi ketika Sony berbalik arah, memandang wajah Tea, sambil tetap membiarkan Tea menggenggam lengannya.

Tea menggigit bibir, lalu memberanikan diri mengangkat wajah, memandang Sony. Sony tengah tersenyum, dengan sorot mata yang begitu teduh. Dan entah kenapa, keteduhan mata Sony itu membuat Tea merasakan kehangatan yang nyaman. Yang membuatnya merasa enggan melepaskan genggaman jemarinya yang tengah melingkar di lengan Sony.

“Umm… Maksud aku, keluarnya bareng aja…” kata Tea pelan. Lalu dengan enggan melepaskan genggamannya.

Sony merasakan degup jantungnya yang tak beraturan. Saat jemari itu melingkari lengannya, Sony merasa seperti berjalan di awan. Sony memutar badannya, menghadap Tea. Sambil berdoa, semoga peri kecil itu jangan sampai melepaskan jemarinya. Jangan dulu. Sony berusaha tersenyum saat memandang wajah Tea. Tapi, bukankah siapapun pasti akan tersenyum begitu melihat mata bulat yang bening itu? Yang kini tengah menatapnya dengan penuh harap. Jika ini memang mimpi, maka Sony belum ingin bangun. Walaupun ada 251 jam weker berbunyi sekaligus, sungguh, Sony tidak ingin terbangun dari mimpinya.

Kalimat terakhir Tea menyadarkan diri Sony. Apalagi ketika Tea dengan canggung perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Sony. Sony menarik nafas perlahan,lalu menghembuskannya kembali. Berusaha tetap tersenyum.

“Ya udah. Yuk, mau pulang sekarang?” tanya Sony pada Tea, sambil sedikit memiringkan kepala ke kanan.
Tea mengangguk perlahan. Sony berbalik, mulai melangkah, sementara di sebelahnya Tea menjejeri langkahnya. Di dalam hati, Tea ingin menggandeng lengan itu. Karena Tea menyukai perasaan hangat yang menyelimuti hatinya saat dia menggenggam lengan Sony tadi. Tapi, kan seharusnya dia tidak merasa seperti itu pada Sony...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar