I Love You, I Love You Not III

PART III
 Bagus kahn ceritanyaaa??? Yaa! Ni part 3 nya, part terakhir.
*****
Seandainya dia tiap hari pergi berdua sama Aji kayak gini, Tea yakin, dia pasti mati muda. Karena selama bersisian dengan Aji, Tea merasa sesak nafas, dan tentu saja, dilengkapi dengan dada yang berdebar tidak karuan. Plus, tidak bisa memikirkan apapun untuk dikatakan. Ditambah kedua kakinya terasa lemas. Lengkaplah sudah.

Bahkan seperti saat ini, di dalam mobil Aji yang terasa sejuk pun Tea merasa gugup. Kikuk. Serba salah deh. Dan lagu-lagu “Tak Ada Tempat seperti Surga” yang tengah disetel Aji di mobilnya sama sekali tidak membantu Tea untuk menemukan bahan pembicaraan apapun. Tapi Tea tidak merasa terlalu bersalah saat tidak bisa membuka pembicaraan. Karena toh, Aji menyetir sambil bersenandung perlahan, mengikuti lagu dari stereo setnya.

Tak ada tempat seperti Surga
Untuk kuabadikan hidupku denganmu
Barisan syair yang terindah
Akan kulakukan untuk dirimu cinta
Separuh sukma jiwaku


Tiba-tiba Aji berhenti bersenandung, dan bertanya.

“Yang mana Te?”

“Hah? Apa?” Tea gelagapan.

Aji tersenyum, dan memelankan volume stereo. “Rumah kamu yang mana?”

“Oh. Rumah. Iya. Rumah aku? Yang itu, yang pagarnya coklat…”

Aji memelankan laju mobil, hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan rumah Tea. Setelah mobil benar-benar berhenti, Aji menekan tombol di sisi kanannya hingga kunci pintu di sisi kiri Tea membuka. Aji lalu menoleh ke arah Tea, dan tersenyum lagi. (Aji murah senyum banget sih? Nyadar kali ya dia senyumnya maut!)

Tea menatap Aji sekilas, tapi entah kenapa Tea merasa degupan jantungnya terlalu kacau, sehingga Tea langsung menunduk.

“Makasih ya Te… Udah mau nemenin aku nonton.”

“Eh, justru aku yang makasih. Udah dianterin pulang…” dengan gugup Tea menyahut.

Aji tertawa kecil. “Ya gapapa lagi. Cowok memang harus gitu…”

Sialan. Senyum aja Aji sudah membuat Tea tidak karu-karuan. Apalagi kalau Aji tertawa seperti itu, Tea merasa dia sebentar lagi bakal kejang-kejang. Maka Tea memutuskan, dia harus turun sekarang juga. Daripada dia kena serangan jantung di sebelah Aji? Betapa memalukannya, mati muda di sebelah seorang pangeran.

“Umm.. Aku turun dulu ya…. Sekali lagi, makasih ya Ji…” kata Tea sambil menJiempangkan tasnya. Dengan agak terburu-buru, Tea membuka pintu mobil, turun dan melangkah menuju pintu pagar.

Sialan lagi. Aji ternyata turun mengikutinya. Mengantarkannya sampai pintu gerbang. Kenapa dia harus bersikap begitu gentleman?

Tea membuka pintu pagar, lalu berbalik menghadap Aji. Aji berdiri dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jeans biru gelapnya.

“Sip! Kamu sampai ke rumah dengan selamat… Artinya misiku sukses dong…” kata Aji sambil tertawa kecil. “Aku pulang dulu ya Te. Sorry ga bisa mampir, udah malem…” lanjut Aji lagi.

“Oh, iya. Gapapa. Makasih banyak lho Ji…”

“Kapan-kapan nonton bareng lagi yuk…”

Tiga kali sialan. Tapi ga mungkin kan Tea menjawab ajakan itu dengan kata “sialan”? Apa lebih baik ga usah dijawab aja ya? Yah, tapi masa sih ga dijawab? Ini ajakan dari seorang Aji!

“Euh. Eh… emm… boleh deh, kapan-kapan…”

Aji tersenyum lagi. “Sip. Ya udah deh ya… aku pulang dulu. Malem Te…”

Tea hanya bisa mengangguk. Menatap Aji yang berjalan ke arah mobilnya. Sampai akhirnya Aji masuk, memutar mobilnya dan menghilang. Tea mengembuskan nafas, dan berbalik. Berjalan menuju rumah.

***

Tea melirik ke jam kecil berbentuk kodok hijau di sebelah tempat tidurnya. Ya ampun, sudah lewat lima menit dari jam satu dini hari! Tea menghembuskan nafas dengan kesal. Berarti sudah lebih 2 jam dia bolak-balik dengan gelisah di atas tempat tidur. Padahal Tea tadi mengira dia akan segera tertidur, dan bermimpi indah. Tentang dia dan Aji. Aji yang dari dulu dia kagumi. Apalagi tadi, Tea semakin sadar betapa Aji memang layak dikagumi. Karena waktu dia berjalan bersebelahan dengan Aji, Tea dapat merasakan tatapan kagum tertuju pada Aji.

Berjalan dengan seseorang seperti Aji, seharusnya membuatnya senang kan? Siapapun pasti akan merasa berjalan di awan kalau berjalan bersisian dengan Aji. Tapi bukan Tea. Karena entah kenapa, semua rasa gugup itu terasa… aneh…

Tea berbalik lagi ke arah kanan, meraih ponselnya. Sudah berkali-kali Tea terpikir untuk memencet sejumlah tombol, tapi dia selalu mengurungkan niatnya. Setengah dari hatinya memaksa Tea untuk segera mencari kenyamanan dan kehangatan dari sebuah suara. Tapi setengah lagi dari hatinya merasa, sungguh konyol kalau sampai dia melakukan hal itu. Untuk apa dia menelepon seseorang yang selalu disebut-sebut Nico punya penyakit putus saraf-saraf kewarasan?

Tea menggigit bibir. Lalu memutuskan menekan nomor itu. Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Hingga lima kali. Dengan cepat Tea menekan sebuah tombol untuk memutuskan sambungan, lalu meletakkan ponselnya kembali di sebelah bantal. Merasa sangat bodoh telah melakukan hal yang baru saja dia lakukan. Tea berbalik kembali ke kiri. Berusaha memejamkan mata.

Sampai sebuah bunyi halus terdengar, menandakan SMS yang masuk. Jantung Tea kembali meloncat. Dengan tergesa-gesa Tea meraih ponselnya, dan menatap layar itu.

Sender: SONY Ganteng sang Pujaan Wanita


Baru membaca tulisan itu saja Tea sudah tersenyum kecil. Beberapa minggu yang lalu, Sony yang memaksa untuk menyimpan sendiri nomornya di ponsel Tea dengan nama ajaib itu. Tea berkali-kali mengancam Sony untuk menggantinya, tapi Sony selalu menolak. Yah, Tea sendiri sebenarnya tidak serius dengan ancaman itu, sih…

Tea menekan tombol lain untuk membaca pesan yang dikirim Sony.

Te! Lo nelpon? Lo baik2 aja kan? Gua telpon balik ya?

Belum sempat Tea membalas pesan itu, ponselnya berdering.

“Halo Son..”

“Teaa… lo kenapa? Kok jam jin lagi buang anak gini, lo belum tidur? Malem gini lo ngeronda? Kasian amat sih komplek lo sampai cewek kayak elo diberdayagunakan segala sebagai satpam keliling?”

“Nggak sih… Lagi susah tidur aja…”

“Terus kalo lo susah tidur, ngapain lo nelfon gua?”

Pertanyaan bagus. Karena Tea sendiri tidak tahu jawabannya. Yang dia tahu, dia hanya ingin mendengar suara Sony. Saat ini, Tea tidak sanggup bicara. Entah kenapa perasaannya begitu campur aduk untuk dapaty sekedar disuarakan lewat kata-kata. Maka Tea hanya bisa terdiam.

“Te? Te? Tea kok diam aja? Tea kenapa? Tea sakit? Tea baik-baik aja kan?”

Suara Sony tiba-tiba terdengar begitu khawatir. Mendengar nada suara Sony yang seperti itu, Tea tiba-tiba ingin menangis. Tiba-tiba saja Tea ingin berlari dan menyandarkan kepalanya di pundak Sony. Karena Tea merasa, di sisi Sony, semuanya pasti akan baik-baik saja. Karena Sony akan selalu membuatnya tertawa kembali. Akan selalu membuatnya merasa nyaman.

“Teaa.. Tea kok diam ajaa… Aku kesana sekarang ya?” suara Sony terdengar kembali.

Tea menggigit bibir, memaksakan diri untuk menjawab, “Ga kok. Gapapa. Beneran. Ini aku udah mau tidur kok…”

“Tea beneran ga papa?”

“Beneran Son…” Tea menjawab, sambil berusaha untuk tersenyum. “Sorri udah ganggu kamu malam-malam gini..”.

“Ya udah deh kalo gitu… Tea sekarang tidur yaa.. Kalo ada masalah, dilupain dulu. Besok kalo Tea mau cerita, cerita aja. Yang penting sekarang Tea istirahat ya..” suara Sony terdengar kembali. Tea tersenyum mendengar nada suara itu. Nada suara yang begitu penuh perhatian. Nada suara yang belum pernah Tea dengar sebelumnya. Yang Tea tahu, suara itu betul-betul menenangkannya.

“Iya Son… Makasih ya Son… Sorri udah bangunin kamu”

“Gapapa kok Te… Tidur sekarang ya Te, semoga mimpi indah…”

“Iya…”

“Eh Te?”

“Apa?”

“Tapi kalo mau mimpiin gua, ambil nomer antrian dulu gih. Banyak yang udah booking gua buat didatengin dalam mimpinya. Antrian pertama si Widi Vierra tuh…”, nada suara Sony kembali terdengar seperti biasanya. Membuat Tea tertawa kecil.

“Kamu ini… Ah udah ah… aku mau tidur sekarang…”

“Mau tidur apa mau pingsan dulu saking senengnya ngobrol sama gua?” Sony setengah terkekeh menggoda Tea.

“Sonyyy… udah ah… Dah Sonyy…”.

Dengan setengah terpaksa, Tea memutuskan sambungan. Walaupun sebenernya dia masih ingin terus mengobrol dengan Sony. Terus mendengar suara yang seperti lonceng itu. Yang selalu membuatnya yakin, bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja…
***

Sony melemparkan kembali ponselnya ke sebelah bantal. Kemudian menJiipkan kedua tangannya di bawah kepala. Dalam hati Sony berpikir, kenapa malam ini aneh sekali sih? Pertama tadi Putri yang kelakuannya kayak jaelangkung kesambet nenek sihir. Dan barusan? Sony bangkit sambil menggaruk-garuk belakang telinganya. Dia lalu duduk bersandar di dinding, dengan pandangan menerawang.

Kata Putri tadi, Tea malam ini merasa senang. Tapi dari telepon Tea tadi, sepertinya kata ‘senang’ bukan gambaran yang tepat atas keadaan Tea. Sony menghela nafas, dan merogoh ke balik bantal. Dari bawah bantal, dia menarik selembar foto. Fotonya saat berdua dengan Tea, duduk beradu punggung di pinggir kolam renang. Tea dengan mata bulatnya yang sedang tersenyum manis. Perlahan, Sony mengusap permukaan foto itu.

“Sleep well, my little fairy…” bisik Sony perlahan, sebelum menJiipkan kembali foto itu di bawah bantal. Sony kemudian merebahkan kepalanya kembali.

Dia menghela nafas, sejenak pikirannya melayang pada jadwal wawancaranya besok. Nico sudah menjalani jadwal wawancaranya jam 3 sore tadi. Dan dia langsung menelfon Sony untuk menceritakan pengalamannya. Bahkan Pak Nur pun sempat mengiriminya SMS, memberikan semangat untuknya. Dalam hati, Sony berjanji, akan berusaha sebaik-baiknya. Dia tak akan mengecewakan Pak Nur yang sudah mempercayainya dan menawarkan jalan untuk kesempatan ini.

Besok pagi. Salah satu langkah yang mungkin akan menentukan hidupnya beberapa tahun ke depan. Tapi itu berarti, besok pagi dia tidak bisa langsung menemui peri kecil itu. Peri kecil yang entah kenapa tadi seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Sony menutup matanya. Sambil mengucap doa dalam hati, agar Tuhan mengutus bFifing-bFifing yang tengah bersinar lembut untuk menjaga si peri kecil yang lelap dalam tidurnya.

***

Tea setengah berlari menuju pintu kelas. Begitu sampai di pintu kelas, dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Saat melangkah masuk ke dalam kelas, Putri melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar.

“Cieee… kayaknya ada yang seneng banget nih tadi malem…” kata Putri begitu Tea sampai di sebelahnya, dan meletakkan tasnya di kursi.

“Seneng kenapa?” tanya Nico.

“Ah, urusan cewek…” sahut Putri sambil melempar pandangan ke arah Nico, lalu menoleh kembali ke arah Tea. “Gimana tadi malaam??”

Bukannya menjawab, Tea malah balik bertanya.

“Sony kok belum dateng sih?”

Nico menoleh sekilas ke arah bangku kossong di sebelahnya. Lalu menjawab pertanyaan Tea sambil mengambil buku dari ranselnya, “Sony? Ada urusan. Ntar rada siangan baru dateng…”

“Terus, dia telat?” tanya Putri.

Nico masih tidak mau menatap Tea dan Putri. Dia lebih memilih untuk membuka-buka buku Matematikanya sambil menjawab, “Iya. Tapi udah dapet izin kok.”

Putri masih ingin mengejar dengan pertanyaan, tapi dering bel mengurungkan niatnya. Maka dia hanya mengangkat bahu sambil menoleh ke arah Tea. Dengan senyuman menggoda, Putri sempat berbisik, “Gimana Te? Tadi malem?”

Tea menghela nafas. Dia betul-betul tidak ingin menjawab. Karena dia merasa hari ini ada yang kurang: Sony. Tidak ada Sony. Untunglah Bu Mariatmi yang masuk ke kelas menyelamatkan Tea dari keharusan menjawab pertanyaan Putri.

Bel istirahat pertama berdering. Nico merogoh kamera dari ranselnya, dan berdiri. Putri juga ikut berdiri, lalu bertanya pada Tea, “Te, gua sama Nico mau motret-motret beberapa tempat di sekolah. Lo mau ikutan ga?”

Tea melirik kembali ke bangku Sony yang masih kosong. Menghela nafas, dan tersenyum sambil menjawab pertanyaan Putri. “Ga deh Put… lagi males…”

“Cieee… masih kepikiran yang tadi malem?” Putri menggoda Tea kembali.

“Gaaaa… lagi males aja…”

“Put? Woi! Buruu…” Nico ternyata sudah sampai di pintu kelas.

“Sana gih…” kata Tea pada Putri. Putri mengangguk, dan melangkah cepat menuju Nico. Tea? Dia tidak bersemangat untuk melakukan apapun.

Dengan malas, dia berdiri dan melangkah keluar kelas. Di depan kelas, dia duduk di bangku panjang sambil memain-mainkan ponsel di tangannya. Entah berapa lama dia duduk disitu, Tea tidak terlalu menyadarinya. Siswa-siswa lain yang hilir mudik di depannya pun tak dipedulikannya. Pikirannya terlalu penuh dengan keresahan.

Telfon…enggak… Telfon… enggak… Tea menggigit bibir, lalu menggelengkan kepala. Apa di SMS aja ya, pikir Tea. Dengan ragu-ragu, dia menekan sejumlah tombol, tapi lalu menghela nafas kembali. Ga usah ah. Ngapain juga. Tapi Tea masih ragu. Sony kemana sih?

“Udaaah… SMS ajaaa…”, Putri tiba-tiba sudah duduk di sebelah Tea sambil menepuk bahunya. “Bilang makasih soal tadi maleeem…” lanjut Putri lagi, masih dengan senyum menggodanya.

Tea mengangkat alis dengan heran melihat Putri sudah kembali. “Kok bentar amat Put?”

“Sebentar apaan? Bentar lagi udah mau bel kok…” kata Putri sambil melirik jam tangannya. Benar saja. Baru saja Putri menyelesaikan kalimatnya, bel sudah berdering nyaring. Tapi Sony masih belum nampak. Maka Tea masih terus kehilangan semangat. Untuk alasan yang Tea sendiri tidak bisa mengerti kenapa.

Setengah jam sebelum istirahat kedua, Sony mengetuk pintu dengan ragu. Bu Okky menoleh, mengisyaratkan agar Sony masuk. Dengan bergegas, Sony masuk, menghampiri Bu Okky dan menyerahkan selembar surat kepada Bu Okky. Bu Okky hanya tersenyum, dan menyuruh Sony duduk.
Tea melirik dari bangkunya. Sony sempat melemparkan senyuman kecil ke arah Tea, sebelum duduk di bangkunya.

Nico menjawil lengan Sony dengan pulpennya sambil berbisik pelan, “Gimana tadi? Ditanyain apa aja?”

Sony menggeleng perlahan, “Tauk deh Co… Gua yang penting usaha dulu… Gimana hasilnya entar.. Pertanyaannya ya kurang lebih kayak lo kemaren…”

Nico tersenyum, meninju pelan lengan Sony, “Sukses deh buat elo…”

Sony balas tersenyum, “Elo juga Co…”

Begitu bel istirahat kedua terdengar, Sony segera berdiri dan melangkah ke sebelah Tea. Dia lalu duduk setengah berlutut di sebelah Tea. Kedua tangannya terlipat di atas meja Tea. Dengan wajah serius yang jarang dilihat Tea.

“Te, sorry… gua mesti ketemu Pak Nur dulu bentar… Tea beneran ga papa sekarang?” tanya Sony dengan suara lirih. Tea tertegun. Tidak menyangka akan diperlakukan semacam itu oleh Sony.

“Em… beneran. Udah gapapa kok…”

“Tea nanti aja ceritanya ya…”kata Sony sambil bangkit kembali. Sambil tersenyum, dia menepuk perlahan lengan Tea sebelum setengah berlari keluar kelas.

“Ngapain si Sony?” tanya Putri dengan heran. Dia menatap Tea. “Dia ngomong apaan sama elo?”.

Tea menggeleng pelan, “Ga… Gapapa kok…”. Putri hanya mengangkat alis. Semakin tidak mengerti. Kenapa
wajah Tea seharian ini tidak seceria yang dia bayangkan sebelumnya? Bukankah tadi malam Putri telah berhasil mengatur agar Tea berduaan dengan pujaan hatinya selama ini?

Akhirnya, hari yang bagi Tea terasa sangat panjang itu berakhir juga ketika bel pulang berdering. Dari belakang Nico menjawil pundak Putri sambil bertanya, “Put, yang tadi dilanjutin lagi dikit ya…”. Putri mengangguk, dan berdiri mengikuti Nico. Nico berjalan terlebih dulu keluar.

“Ngelanjutin apaan Put?” tanya Tea.

“Itu… yang motret-motret sekolah tadi masih ada beberapa lagi yang kurang. Nanggung, mending dikelarin sekarang. We just need to take some pictures from 2 or three places more…” kata Putri sambil menJiempangkan tasnya.

“Eh, tapi tadi malem lo dianterin Aji pulang dengan selamat kan?” tanya Putri lagi, sekali ini sambil tersenyum kecil.

Sony yang masih duduk di kursinya tersentak. Lalu berharap setengah mati bahwa untuk kali ini saja telinganya salah mendengar.

“Dianterin pulang? Sama Aji? Apaan sih Put? Kok tau-tau si Aji maen anter aja?”

Putri tertawa, lalu menggerakkan dagunya ke arah Tea, “Tuh. Just ask her. Tanya aja tuh sama yang tadi malem nonton beduaan…” Sambil tertawa kecil Putri lalu keluar kelas, menyusul Nico yang menunggunya di pintu kelas sambil menjinjing kamera.

JEDEEEERRRR….

Ada petir khayalan di langit sana, yang menghantam langsung tepat di dada Sony.
+++

Tea menunduk. Di belakangnya, Sony terduduk dengan lemas. Posisi Tea yang duduk menyamping memungkinkan Sony untuk melihat sebagian wajah Tea yang semakin merona. Sony memejamkan mata sesaat sambil menggigit bibir. Memohon kepada Tuhan untuk diberikan kekuatan.

Sedetik kemudian Sony membuka mata, dan tersenyum.

“CIEEEE!!! Pantesan aja lo kagak bisa tidur tadi malem… Deg-degannya berasa banget yaaa…” seru Sony pada Tea.

Tea merasa wajahnya semakin panas. Tapi dia lalu membalikkan wajahnya menghadap Sony. “Aaahh… Sony aaahh… jangan digodain gitu dooong… Aduuh.. untung udah pada pulang semua nih..”

“Ehm…”

Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka berdua. Di sebelah kursi Putri yang kini kosong, Sonia berdiri tegak, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Di belakangnya, Anin dan Fifin berdiri dengan malas-malasan.

“Lo sebangku sama Putri? Siapa nama lo? OTe?”

“Tea…” jawab Tea pelan..

“Apapun deh. Terserah. Putri mana? Udah pulang?

“Belum sih… Tapi tadi dia bilang mau keliling sekolah gitu sama Nico.Katanya sih mau ngambil foto buat buku sekolah…” jawab Tea.

“Siapa? Putri sama siapa?” Sonia bertanya lebih lanjut

“Sama Nico.” Kali ini Sony yang menjawab pertanyaan Sonia tadi. Sonia menoleh sekilas ke arah Sony, memandang Sony sambil mengangkat sebelah alis, lalu melengos. Sonia kembali mengarahkan pandangannya kepada Tea.

“Punya nomernya?”

“Nomer Nico?” Tea balik bertanya.

“Lo pikir gua masih perlu nanyain nomernya Putri? Basi banget sih lo…” sahut Sonia sambil mengeluarkan Blackberry-nya.

“Oh. Ada kok…” sahut Tea. Tea menekan sejumlah tombol di ponselnya, lalu membacakan sejumlah angka yang langsung dicatat Sonia di Blackberrynya. Begitu selesai, Sonia langsung berbalik.

“Anin, Zev, yuk… cabut…” kata Sonia sambil melangkah pergi. Tanpa diperintah dua kali, kedua sahabatnya itu segera mengikuti Sonia. Fifin sempat melemparkan sebuah lirikan ke arah Tea, tapi tidak mengatakan
apa-apa.

“Eh, makasih lho yaaa…Kita juga seneng kok udah bisa bantuin kalian” seru Sony dengan nada sedikit menyindir pada mereka bertiga.Tentu saja, ketiga selebritis sekolah itu terus berlalu. Seakan-akan tidak ada
apa-apa.

“Beuh. Rombongan sirkus keliling aja lebih banyak ketawa kali ya daripada mereka…” komentar Sony. Dia kembali menjawil lengan Tea dengan pulpen di tangannya.

“Eh..eh… kenapa? Gimana? Jadi tadi malem lo nonton? Berduaan? Sama Aji? PRIKITIIIWW!!”

Tea mengangguk kecil. Walaupun entah kenapa dia merasa berat untuk melakukannya.

“Cerita dong Teaa… ceritaaa..” kata Sony. “Eh, tapi sambil jalan ke depan yuk…” kata Sony sambil berdiri dan menJiempangkan ranselnya. Tea ikut berdiri dan memakai tasnya. Sambil berjalan keluar, Tea mulai
bercerita pada Sony. Mulai dari pergi shopping bersama Putri, sampai dengan Putri yang tiba-tiba saja ditelepon oleh tantenya.

Begitu Tea mulai bercerita tentang Putri yang menerima telepon, Sony mengerutkan kening, lalu meledakkan tawa. Akhirnya keanehan sikap Putri tadi malam terjawab juga.

“Sonyyy… kok kamu malah ketawa gitu siiihhh…” kata Tea kesal.

“Eh, gapapa… Lucu aja, kok bisa pas banget ya si Putri mendadak ditelpon tantenya gitu…” sahut Sony sambil tersenyum.Mereka berdua sudah sampai di pekarangan sekolah, beberapa meter dari pintu gerbang. Sony menghentikan langkahnya, dan bersandar pada sebatang pohon akasia.

“Terus, kamu seneng dooong…” kata Sony sambil menatap Tea. Tea memilih untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon itu. Tea tidak tahu harus menjawab apa. Entah kenapa dia mengangguk. Tapi dia tidak sanggup melakukannya sambil memandang wajah Sony, karena entah kenapa, dia merasa anggukannya tidak sepenuhnya berasal dari hatinya.

Sony tertawa kecil, “Ya iyalah pasti kamu seneng banget. Akhirnya bisa nge-date berdua idola sekolah gitu… Siapa juga yang ga seneng? Kamu aja jadi sampe susah tidur gitu lho…”

Tea memberanikan diri melirik ke arah Sony. Sony yang tengah bersandar di batang pohon dengan sebelah tangan di dalam saku, dan tangan kiri memegangi tali ransel yang melingkari bahunya. Pandangan Sony menerawang jauh ke depan. Sebagian rambutnya yang sedikit ikal itu terlihat agak berantakan di bagian depan. Tapi entah kenapa, rambutnya yang agak berantakan itu terlihat cocok dengan wajah Sony yang biasanya selalu
berhiaskan senyuman. Membuat Sony terlihat manis.

Merasa diperhatikan, Sony menoleh ke arah Tea sambil tersenyum kecil.

“Ya kan? Jadi susah tidur kan? Gua kira lo kenapaaaa tadi malem nelfon gua jam segitu…” kata Sony. “Eh, jadi inget…” Sony meraih tas ranselnya dan merogoh ke dalamnya. Dia lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik
dan menyerahkannya pada Tea.

Tea menerimanya sambil mengerutkan kening, dan memeriksa isinya. Ada 4 kotak susu coklat dalam kemasan di dalamnya. Tea mengangkat wajahnya dan memandang Sony dengan tatapan bertanya.

“Euh. Enggak sih, gua sempet khawatir aja pas lo tadi malam bilang kalo lo susah tidur. Gua pernah baca, kalo minum susu coklat sebelum tidur bisa bikin tidur lebih enak…” kata Sony sambil menggaruk-garuk belakang
telinganya. Entah kenapa, suaranya terdengar sedikit gugup. “Tadinya sih, gua mau ngasih susu rasa gula merah aja. Tapi gua ga yakin apa susu gula merah juga bisa mengatasi insomnia ato enggak… Lagian waktu aku nanya sama orang di minimarket, jual susu rasa gula merah atau enggak, gua malah diketawain…” lanjut Sony lagi.

Tea tersenyum. Tidak menyangka bahwa Sony akan begitu perhatian.

Melihat Tea tersenyum seperti itu, entah kenapa, Sony malah merasasemakin gugup. “Umm… tapi kalo lo ga bisa tidur karena seneng…ya bagus juga sih. Eh, maksud gua, gua ga pengen sih lo susah tidur sampe
begadang nyaingin tokek ngeronda. Tapi ya gitu. Lo ngerti kan maksud gua?”

Tea tertawa kecil.

Sony menghembuskan nafas, lalu berusaha tersenyum. “Maksud gua, kalo lo seneng karena udah bisa mulai deket sama Aji, gua juga ikut seneng dengernya…”

Tea berhenti tertawa. Mendengarkan lanjutan kata-kata Sony.

“Gua tau lo udah lama suka sama Aji. Jadi gua ngerti lah kalo lo merasa bener-bener seneng karena akhirnya bisa deket sama dia Te.”

Sony menarik nafas, berusaha mempertahankan senyum itu. Sony tahu, apa yang akan dia katakan, seberat apapun itu, adalah hal yang sungguh-sungguh dia rasakan.

“Ah, intinya Te… Apapun yang membuat elo seneng, gua juga ikut seneng…” Sony menatap tepat ke mata Tea, berharap agar Tea mengerti bahwa semua yang dia katakan tadi benar-benar datang dari hati. Bahwa apa yang Sony inginkan, hanyalah melihat peri kecil itu bahagia.

Hening sesaat di antara mereka berdua. Hanya bisikan daun yang ditiup angin. Sampai akhirnya Sony memecah keheningan,

“Te, sebagai sahabat elo, gua cuma pengen yang terbaik buat elo…”.

Setelah menarik nafas panjang, Sony melanjutkan kembali kata-katanya.

“Elo Te, adalah sahabat terbaik bagi gua…”

Entah kenapa, melihat Sony yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan mata yang begitu menghanyutkan membuat Tea ingin menghentikan dunia untuk berputar. Agar sepasang bola mata yang teduh itu bisa selalu ada untuk menatapnya. Tapi kata-kata itu tadi…

Tea menggigit bibir, dan memaksakan sebuah senyum. Karena Sony pun tersenyum kan?

“Dan kamu Son, adalah sahabat terbaik aku…” sahut Tea pelan.

Bagi semua orang, dunia terus berjalan, waktu terus berdetik pergi. Tapi bagi Tea dan Sony, setiap detik yang berlalu tak lagi berarti. Dan tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya sama akan satu hal. Bahwa apa
yang sebenarnya ada di hati mereka tidaklah persis sama dengan kata-kata yang mereka ucapkan.

Sahabat… Ah, tak bisakah batasan itu terlewati lebih dari sekedar sahabat?

Tea yang terlebih dahulu membuang pandangan dari wajah Sony. Tea tahu, bila harus terus menatap dalamnya mata itu setelah semua kata yang terlontar tadi, akan ada aliran bening di sudut matanya. Tea berdiri sambil merapikan roknya.

“Pak Ony udah nungguin aku Son…Aku pulang dulu…”

Sony mengangguk. Tak mampu berkata-kata, karena masih berusaha menata hati

“Te…” panggil Sony ketika Tea sudah berjalan beberapa langkah. Membuat Tea menoleh.

“Kalo malam ini susah tidur lagi, susu coklatnya diminum ya…” kata Sony lirih. Tea mengangguk pelan.

“Kalo masih ga bisa tidur, Tea nelfon lagi juga ga papa kok…” lanjut Sony, tak lebih nyaring dari kalimat pertamanya tadi. “Aku akan selalu ada buat Tea kok.. Karena Tea adalah sahabat aku yang terbaik…”.

Tea tersenyum. Walaupun terasa pahit. kata-kata terakhir tadi begitu menusuknya. Untuk alasan yang sampai sekarang belum bisa Tea pahami. Tea berbalik kembali, dan dengan cepat langkah-langkah kecilnya berlari
menjauh. Meninggalkan Sony sendiri.

Sony terus memandangi peri kecil itu setengah berlari, seakan menari di antara serumpunan rumput bertabur embun. Dengan berat dia menghela nafas. Membiarkan kepingan hatinya yang terserak luruh satu persatu. Sony
menghembuskan nafas kembali, dan berbalik.

“You’re such a liar… Dasar pembohong…”

Suara itu menghentikan gerakan Sony yang baru saja akan beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Dengan cepat Sony berbalik ke arah suara tadi. Putri melangkah dari sisi koridor yang terhalangi rimbunnya semak. Dengan
kedua tangan terlipat di depan dada, Putri menatap tajam ke arah Sony.

“Apaan lo bilang tadi? Sahabat?”

Sony gelagapan. Apalagi melihat tatapan Putri yang menJiidik.

“Lho… Iya koookk.. lo juga sahabat gua kok Put, walopun lo lumayan mirip sama jaelangkung, gua tetep rela kok nganggap lo sahabat…”

“Lo tau bahwa yang gua maksud bukan itu…”

Sony menatap Putri dengan gugup.

“Lo yakin kalo lo bener-bener nganggap Tea cuma sekedar sahabat?”

“Put! Ada vokalisnya Sheila On 7 tuh disana!!!” seru Sony sambil menunjuk ke arah kanan Putri.

“Gua ga ngefans… Ayo jawab pertanyaan gua…”

“Put! Vidi Aldiano lewat tuuuh!!” Sony kembali menunjuk ke belakang Putri.

“Tetep ga ngaruh… And I’m still waiting for Your answer. Jawaban yang
jujur dari elo…”

“ADA JASON MRAZ LAGI KAYANG DI BELAKANG ELO!!” seru Sony lagi.

“Sony. Yang elo lakukan tadi, adalah usaha pengalihan perhatian paling buruk yang pernah terjadi galaksi kita ini…”

Sony diam, membuang pandangan dari wajah Putri. Sementara Putri tetap berdiri tegak dengan mata yang tidak bergeming menatap Sony.

“Jawab Son. Sekarang. Dengan jujur.”

Sony tahu, tidak ada gunanya berbohong di hadapan Putri. Maka dia memberanikan diri mengangkat wajah untuk menatap Putri.

“Gua ga bohong kok waktu gua bilang bahwa gua cuma pengen yang terbaik buat dia…”

“Dan walaupun elo ngomong bahwa lo cuma nganggap dia sahabat, kenapa mata lo bilang bahwa lo mengharapkan lebih dari itu?”

Sony menoleh, menghindari tatapan tajam Putri. Dengan pandangan mata yang menerawang, dia menjawab, “Karena gua sadar, gua bukan yang terbaik buat dia…”

“Elo sendiri bilang kalo lo bakal selalu ada untuk dia, kenapa lo masih menganggap itu tidak cukup baik untuk Tea, Son?”

“Tea layak untuk mendapatkan yang lebih baik dari itu Put. Gua ga punya apa-apa untuk ditawarkan pada dia… Sementara Aji…”, Sony memandang Putri kembali dengan sebuah senyuman pahit. “Aji punya segala sesuatu yang diinginkan Tea. Segala sesuatu yang ga bisa gua miliki, apalagi gua tawarkan untuk Tea…”.

Putri tidak berkata apa-apa. Tapi tidak mengalihkan pandangannya dari Sony.

“Put, waktu gua bilang gua seneng kalo liat dia seneng. Gua sama sekali ga bohong. Itulah yang bener-bener gua pengen. Ngeliat Tea bahagia…”

“Walopun untuk itu lo harus ngerasa sakit?”

Sony mendesah, dan menjawab. “Sesakit apapun gua, terbayarkan dengan melihat dia bahagia. Gua rela melepaskan semua harapan gua, asalkan bisa melihat dia tersenyum seneng Put…”

Putri menutup matanya sesaat dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu membuka mata dan menatap Sony.

“Lo masih belum jawab pertanyaan gua. Jadi pertanyaan itu akan gua ulangin lagi. Perasaan lo sendiri ke Tea gimana?”

Sony membalas pandangan Putri, dan entah mendapat kekuatan dari mana, menyuarakan jawabannya. Jawaban yang di hadapan Tea tadi diingkari sendiri oleh Sony.

“Gua sayang sama Tea. Lebih daripada seorang sahabat.”

Sony menarik nafas, lalu menyambung kembali kata-katanya, “Dan karena gua sayang banget sama dia, gua pengen dia mendapatkan yang terbaik. Meskipun bukan bersama gua…”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir tadi, Sony berbalik, dan mulai melangkah pergi. Tapi panggilan Putri menghentikan langkahnya kembali.

“Son!”

Sony menoleh ke arah Putri.

“Kenapa lo ga berjuang untuk mendapatkan dia?”

Sony tersenyum kembali, “Gua udah bilang, karena saat ini gua belum punya apa-apa untuk ditawarkan kepada dia. Untuk bisa membuat dia bahagia dan bangga karena telah memilih gua sebagai cowoknya. Gua laki-laki Put. Gua pengen, orang yang gua sayang merasa bangga karena telah memilih gua…”

Putri terdiam mendengar kata-kata Sony.

“Gua masih harus berjuang Put. Untuk bisa membuktikan bahwa gua bisa membuat dia bangga. Bisa membuat dia bahagia. Masih banyak yang harus gua lakukan, yang masih harus gua raih, untuk bisa membahagiakan dia. Dan untuk saat ini, gua belum bisa ngasih apa-apa ke Tea yang bisa membuat dia bahagia… Maka kalau untuk saat ini yang bisa memberikan kebahagiaan buat Tea adalah Aji, gua rela Put. Selama Tea seneng. Selama Tea bahagia. Itu saja.”

Selesai mengucapkan kata-katanya tadi. Sony berbalik. Dan melangkah pergi.

Di belakangnya, Putri menatap punggung Sony yang semakin menjauh. Putri baru menyadari, banyak hal yang tidak pernah dia tahu sebelumnya dari Sony.

Dengan kesal Putri berbalik dan berjalan menuju Honda Jazz kuningnya. Kenapa tidak dari dulu Putri menyadari semua ini? Kenapa Sony terlalu pintar menyimpan perasaan di balik semua kelakuan gilanya? Seandainya
Putri sedari dulu sudah mengetahui semua ini, dia tidak akan repot-repot mengatur kencan Tea dan Aji. Apalagi melibatkan Sony dalam rencananya itu. Sambil membanting pintu mobil, Putri tahu, dia berhutang sebuah permintaan maaf kepada Sony.
+++

Senin pagi, Nico melangkah masuk kelas dengan mata menatap ke layar ponselnya. Keningnya sedikit berkerut melihat pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.

Sender : 0813-xxx-xxxxx

Message: Nico, pulang sekolah nanti gua tunggu di halaman belakang perpus. Penting. Ada yang mesti gua omongin.

Sambil duduk, Nico mengangsurkan ponselnya ke arah Sony yang masih mengunyah onde-onde sambil membaca buku paket Biologi.

“Son, kenal nomer ini ga?”

Sony melirik untuk membaca tulisan di layar ponsel, lalu menggeleng. “Ga. Fans gua ga ada yang nomernya kayak gitu…” sahutnya setelah menelan onde-onde yang malang itu.

Nico mengangkat bahu, lalu menaruh kembali ponsel itu di sakunya. Tangan kanannya meraih onde-onde dari kotak bekal Sony. Siapapun pengirim pesan itu, toh Nico akan tahu sepulang sekolah nanti.
***

Nico melangkah ke tempat yang ditentukan, dan terkejut melihat Sonia menunggunya disitu.

“Sonia? Elo yang SMS gua tadi pagi?”

“Iya.”

“Kenapa? Lo mau ngomong apa sama gua?”

Sonia menatap Nico. Dengan dingin dia memandang Nico dari atas ke bawah. Dengan tangan terlipat di dada, dia bertanya langsung pada inti masalah.

“Elo ada hubungan apa sama Putri?”

Nico mengerutkan kening. “Gua sekelas sama Putri. Terus kami setim buat ngerjain proyek buku sekolah. Ada masalah?”

“Ada. Ada banget. Semenjak Putri bergaul sama kalian, dia jadi jarang bareng kami lagi…”

“Terus kenapa? Bukannya bagus kalo dia malah punya lebih banyak temen daripada sekedar elo dan temen-temen segeng elo itu?”

“Denger ya. Ini bukan sekedar masalah siapa temen Putri. Melainkan siapa yang layak dan pantas untuk berteman dengan Putri…”

Nico diam. Berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas berkali-kali. Sementara Sonia melanjutkan cecaran kalimatnya.

“Dan lebih jauh lagi, bukan hanya siapa yang pantas untuk berteman dengan Putri. Tapi juga untuk mendampingi Putri…” Sonia menyodorkan sebuah majalah pada Nico. Majalah itu terbuka pada suatu halaman yang menampilkan liputan pesta ulang tahun salah seorang selebritis remaja terkemuka.

“Lihat foto disitu” kata Sonia dengan nada dingin. Nico tidak perlu petunjuk tentang foto mana yang dimaksud Sonia. Karena dia langsung bisa melihat wajah cantik Putri di salah satu foto yang ada disitu.

Putri yang tengah duduk di salah satu meja sambil tersenyum tipis. Wajah cantiknya terlihat begitu klasik disitu. Di sebelah Putri, Aji tengah tersenyum. Dengan wajah tampannya, dan setelan jas semi formal yang begitu serasi dengan gaun putih gading Putri. Serasi. Putri dan Aji, seperti pasangan dalam dongeng. Bahkan meskipun di meja yang ada dalam foto itu masih ada beberapa orang lagi, Putri dan Aji terlihat begitu menonjol disitu.

Nico menatap foto itu tanpa berkata apa-apa. Sementara Sonia menyambung kalimatnya. Yang semakin lama semakin menohok bagi Nico.

“Lo liat sendiri disana. Betapa cocoknya mereka berdua. Sekarang coba lo bayangkan bahwa lo yang ada di situ. Di sebelah Putri. Apa lo merasa pantes?”

Nico diam. Karena jawabannya terlalu menyakitkan. Untuk dipikirkan, apalagi untuk diucapkan.

“Selama ini mereka berdua sudah begitu pantas untuk selalu berdua. Dan semua orang juga sudah mengakui kalo Putri memang cocoknya sama Aji, dan Aji pantesnya sama Putri. Lalu tiba-tiba aja lo dateng. Begitu saja. Lo pikir, lo itu siapa?”

Nico menggigit bibir. Jari-jarinya terus mencengkeram majalah itu. Matanya tetap terpaku menatap foto itu. Dengan batin yang terus berkecamuk, betapa kata-kata Sonia adalah suatu fakta yang mestinya dia sadari dari dulu. Sementara itu, Sonia berjalan mendekati Nico hinga posisinya tepat di sebelah Nico.

“Elo dan Putri berasal dari dua dunia yang berbeda Co. Lo mestinya sadar soal itu.”

Nico menutup matanya. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Co, gua bukannya jahat sama elo. Gua ngerti kalo misalnya lo perhatian banget sama Putri. Tapi justru karena gua yakin bahwa lo perhatian sama Putri, lo pasti pengen supaya Putri berbahagia dengan orang yang sepadan sama dia…”

Nico membuka matanya kembali, menatap foto itu. Putri dan Aji. Duduk berdua. Berdampingan. Sebagai pasangan yang sepadan.

Sonia menepuk pundak Nico perlahan.

“Kalo lo emang bener-bener care sama Putri, lo tau apa yang terbaik buat dia…”

Sonia kemudian pergi. Sementara Nico masih berdiri di tempatnya tadi. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Sementara tangan kanannya tergantung lemas di sisinya, dengan jari-jari yang mengenggam kuat majalah tadi.

Setelah beberapa lama, Nico menegakkan kembali kepalanya yang tadi sempat tertunduk. Sambil menghela nafas, Nico berbalik, dan melangkah pergi. Ada hal yang harus dia selesaikan.
***

Putri setengah berlari kecil menuruni tangga, tangannya masih memasangkan sebuah anting berbentuk tetesan air di telinga kirinya. Pasangan anting tersebut masih dijepitnya di antara jari-jarinya. Begitu melihat siapa yang menunggunya di sofa ruang tamu, Putri tersenyum senang.

“Nico? Kok tumben lo dateng? Ada apa?”

Nico tersenyum kecil ke arah Putri. Putri yang melihat senyuman itu justru mengerenyitkan kening. Ada yang salah dengan senyum itu. Benar-benar salah. Putri bergerak mendekati Nico dan duduk di sofa di hadapan Nico. Anting yang tadinya akan dipakaikannya di telinga kanannya diletakkannya di atas meja tamu.

“Mau pergi Put?”

“Iya, nemenin Mama. Ada lelang amal gitu. Tapi ga papa kok.. Beneran… Perginya masih nanti kok, jam tujuh gitu. Sekarang aja baru jam setengah tujuh kan?” kata Putri. Tiba-tiba saja dia merasa takut bahwa Nico akan segera pergi dari hadapannya.

“Enggak kok. Gua juga ga bakalan lama.” Nico meraih tasnya dan merogoh ke dalamnya. Lalu dia mengeluarkan tas kamera milik Putri, dan meletakkannya di atas meja, di hadapan Putri.

“Gua cuma pengen balikin ini. Semua file di memory card-nya udah gua simpan kok…”

“Eh, gapapa… Lo bawa aja dulu Co. Di rumah juga ga ada yang make kok…”

Nico menggeleng pelan. Dia mengangkat wajah, dan menatap Putri.

“Put. Gua mau minta maaf…”

Putri mengerutkan keningnya lagi.

“Bukannya kemaren lo udah minta maaf sama gua? Apa lagi sih? Lo jangan mulai aneh-aneh deh ah… Lo kebanyakan begaul sama Sony ya?”

“Put, gua serius Put…”

Putri terdiam. Membalas tatapan Nico, dan tiba-tiba saja merasakan sesak di dadanya. Kenapa sepasang mata kelam itu kini menyimpan duka?

“Put…gua… mau minta maaf… “, Nico berharap suaranya tidak terdengar gemetar, dan berusaha melanjutkan kalimatnya, “karena udah nyampurin hidup elo…”

Nico terdiam sesaat, meneguk ludah, dan menyambung dengan lirih, “…hidup elo yang sempurna..”

Putri ternganga. Berusaha meyakini bahwa ini semua adalah mimpi. Mimpi kan? Dan apa tadi maksud Nico?

“Maksud kamu apa Co?”

Nico berusaha tersenyum. Walaupun senyum itu terasa pahit di bibir Nico. Lihatlah, dengan eskpresi semacam itu Putri masih terlihat cantik. Betapa sempurnanya gadis di hadapannya ini. Menegaskan betapa Nico, bukanlah orang yang layak mendampinginya…

“Kau begitu sempurna.. di mataku kau begitu indah… Kau membuat diriku akan slalu memujamu…” perlahan Nico bersenandung, menatap Putri, mungkin untuk terakhir kali.

“Nico…” ucap Putri pelan. Tidak sanggup mencari kata lain…

“Dan Put, karena kau begitu sempurna, aku hanya bisa memujamu, menatapmu dari jauh… Kamu layak mendapatkan laki-laki yang juga sempurna untuk mendampingimu…” sambung Nico lagi.

Putri tidak peduli dengan kedua bulir bening yang kini mengalir dari sudut matanya. Yang sungguh dia inginkan saat ini adalah menahan lengan Nico, yang kini tengah berdiri dengan senyuman pahit itu. Tapi kenapa Putri merasa tak sanggup untuk melakukannya?

Nico menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Hidup kamu selama ini sudah begitu sempurna Put… Dan adalah salah jika aku memaksakan diri untuk ada disana…”

Tidak. Tidak. Tidak mungkin. Putri terpaku. Ini tidak mungkin perpisahan kan?

Nico membungkuk ke depan, menatap wajah Putri lebih dekat. Sambil tersenyum tipis, Nico menJiipkan sejumput rambut Putri yang jatuh ke depan ke belakang telinga Putri.

“Ga usah menyesali semua ini Put… sesuatu yang terlalu indah tentang kenangan sepertimu, bukanlah untuk disesali…”

Setelah kata-kata terakhirnya itu, Nico menegakkan tubuhnya, menatap Putri sekali lagi. Lalu berbalik, menuju pintu dan melangkah keluar.

Putri kini sendiri. Dengan nanar menatap pintu itu. Berharap bayangan yang baru saja menghilang itu muncul kembali. Tapi tidak. Tidak ada suara langkah yang kembali menuju pintu. Yang terdengar hanyalah suara rinai gerimis yang mulai jatuh satu persatu, semakin deras, menyanyikan lagu bagi Nico yang kini pergi.
+++

Putri tidak sanggup bergerak. Tidak sanggup melangkah pergi. Tidak sanggup menahan aliran hangat di kedua pipinya. Bening yang mengalir tanpa isakan. Putri tidak sanggup menghentikan pikirannya yang terus menerus memutar kembali kata-kata Nico barusan.

“Kejar dia Put…” sebuah suara halus menyadarkan Putri. Putri menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Ada Mama disana.

Mama berjalan mendekati Putri, dan duduk di sebelahnya. Merangkul pundak Putri dengan salah satu tangannya.

“Mama belum pernah melihat kamu memandang siapapun dengan tatapan seperti itu Put…”

Putri menatap Mama, mencari pembenaran. Mama tersenyum lembut, dan membelai pipi Putri perlahan.

“Mama udah kenal kamu semenjak lahir. Kamu selalu percaya diri untuk meraih apapun yang kamu inginkan, apapun yang kamu pikir terbaik untukmu… So if You don’t go Tesing him rite now and tell him about the way You really feel, it would be like, the biggest mistake You’ve ever done in Your life…”

Putri memeluk Mama, erat-erat. Tapi ga lama-lama sih. Dua detik doang. Nanti Nico keburu jauh.
(oke, bagian ini bikin ilfil ya? maap, penulis bukan orang yang romantis soalnya. Yak, mari kita lanjutkan…)
Setelah melepaskan pelukannya dari Mama, Putri berlari keluar dari pintu dan disambut hujan yang tak lagi sekedar gerimis.

Putri terus berlari. Dia tak peduli dengan deras hujan yang seakan juga tidak peduli bahwa untuk kali ini Putri hanya ingin mengikuti kata hati. Dan deras hujan mengantar Putri sampai di sebuah halte yang sepi. Hanya ada sesosok bertubuh tinggi disana yang dengan nada khawatir memanggil Putri.

“PUTRI! Lo NGAPAIN hujan-hujanan gini??”

Putri berhenti, menoleh ke arah suara tadi, dan kembali meneteskan air mata. Lega karena berhasil menyusul Nico. Sekali ini Putri berterima kasih kepada hujan, yang telah mencegah Nico pergi terlalu jauh darinya.

Dengan cepat Nico menarik tangan Putri untuk segera berteduh di bawah halte tersebut.

“Gua ga ngerti, apa lo waktu kecil dulu ga pernah hujan-hujanan atau gimana, tapi Put, lari-lari di tengah hujan kayak gini bener-bener tindakan BODOH!” kata Nico dengan kesal sambil mengguncang-guncang pundak Putri. “Lo mau ngapain???”

Putri terdiam, dan menatap Nico. Lalu menjawab pertanyaan Nico, “Gua ngejar elo…”
“Put, udah deh…”

“NICO! I swear by all the things in the world, I AM drop Anind seNiyous!”

“Lo jangan ngomong pake bahasanya Obama kayak gitu! Gua lama mikirnya, tau ga! Masa gua mesti buka kamus dulu??”

“Gua serius Cooo… Gua ngejar elo…”

Nico terdiam, kedua tangannya masih memegangi pundak Putri, meskipun sudah tak lagi mengguncangnya.

“Oke… sekarang lo udah berhasil ngejar gua. Gara-gara hujan sialan ini. Terus sekarang lo mau apa??”

Putri diam, memandangi Nico. Dan dengan lirih mengucapkan kata hatinya.

“Jangan pergi Co… jangan pergi dari hidup aku…”

Nico tidak ingin mempercayai pendengarannya. Karena kata-kata Putri tadi terlalu indah untuk menjadi nyata.

“Gua bakalan cuma jadi pengganggu di hidup elo Put…”

“Nico, justru dengan kamu hidup aku bisa terasa nyata… Aku ga perlu seseorang yang sempurna Co, aku perlu seseorang seperti kamu. Yang bisa membuat aku merasa jadi diri aku sendiri tanpa harus berpura-pura jadi orang yang sempurna. Yang bisa membuat aku bebas mengatakan apa saja, melakukan apa saja sebagai aku. Yang membuat aku menyadari bahwa semua yang aku rasakan ini nyata, bukan cuma sekedar dongeng fairy tales…”

Nico terdiam. Menatap kedua mata bening itu. Mata yang saat pertama kali menatapnya dulu seakan diselimuti lapisan es. Dan Nico menemukan yang dia cari disana: ketulusan dan kejujuran. Nico tersenyum lembut. Perlahan kedua tangannya turun dari pundak Putri, beralih mengenggam jemari Putri.

“Kamu salah Put…”

Putri memandang Nico dengan tatapan bertanya-tanya.

“Kalau kamu bilang di depan aku kamu ga perlu menjadi seseorang yang sempurna, itu ga sepenuhnya bener… Karena di mata aku, kamu justru adalah sempurna…”

Putri merasakan setiap tetes hujan membawa pergi setiap aliran detik waktu. Semua terasa berkabut, yang terasa nyata hanya sosok Nico dan genggaman kedua tangan Nico di jemarinya.

“Kamu begitu sempurna di mata aku Put… “ Nico mengulangi kata-katanya, dan masih tersenyum saat menyambung kalimatnya, “bahkan hanya dengan memakai anting sebelah seperti inipun, kamu tetap terlihat begitu cantik…”

Putri terkesiap, dan refleks meraba telinga kanannya yang kosong, lalu meraba telinga kirinya dan merasakan sebuah anting panjang disitu. Baguuusss… rutuk Putri dalam hati, merasakan semburat hangat di wajahnya. Membayangkan betapa konyol dirinya terlihat, dengan gaun malam yang kini basah dan anting yang hanya terpasang sebelah di telinga kiri.

Nico tertawa kecil melihat perubahan ekspresi Putri, dan menggapai jari-jari Putri yang masih memegangi telinga kirinya. Perlahan Nico menurunkan jari-jari Putri ke sisi tubuh Putri. Nico dengan berhati-hati melepaskan anting tadi dari telinga Putri, menJiipkan anting itu di jemari Putri, dan kembali menggenggam kedua tangan Putri, lebih erat.

“Kamu mau pake anting cuma sebelah, ataupun enggak sama sekali, kamu tetap terlihat cantik di mata aku Put. Kamu habis dandan ataupun basah kuyup kayak gini, kamu tetap yang paling cantik di mata aku Put…” kata Nico. Nico lalu menarik nafas, dan tersenyum menatap Putri.

“Karena aku sayang kamu Put…”

Putri balik menggenggam jari-jari Nico. Tapi tidak sanggup memikirkan jawaban apapun.

“Aku ga bisa memberikan janji bahwa aku akan memberikan hidup yang sempurna buat kamu Put. Tapi aku janji, aku akan menyayangi kamu sebagai mana adanya. Kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri di depan aku… Itu saja…”

Putri berusaha memikirkan jawaban yang cocok. Yang bisa mengungkapkan apa yang diteriakkan oleh hatinya saat ini. Tapi tidak ada satu kata pun yang bisa menyamai perasaan Putri saat ini. Maka Putri hanya balas menatap Nico sambil berusaha tersenyum. Berharap bahwa semua rasa itu dapat terlukis oleh tatapan matanya untuk dimengerti oleh Nico. Dan saat Nico tidak mengalihkan pandangannya dari Putri, dengan sebuah senyuman yang tidak akan pernah dilupakan Putri, Putri mendapatkan kepastian itu. Bahwa Nico mengerti jawaban Putri, meskipun tanpa kata.

“Umm… so, are we now officially a youple or what?” tanya Putri perlahan.

Nico tertawa, dan mengacak-acak rambut Putri. “Terserah deh lo mau bilang apa…”. Nico lalu duduk di bangku halte itu.

“Duduk yuk… pegel tau ga sih berdiri mulu dari tadi…”

Putri mengikuti ajakan Nico, dan duduk di sebelahnya. Berdua mereka diam, memandangi hujan yang kini mulai mengucapkan perpisahan. Hingga akhirnya rinai itu berganti menjadi titik-titik yang tersisa, jatuh dari ranting-ranting pepohonan.

Putri melirik ke arah Nico, dan bertanya, “Kamu ga bawa jaket ya?”

Nico menggeleng. “Enggak. Mana aku tau kalo bakalan hujan. Pas berangkat dari rumah tadi juga kayaknya langitnya cerah-cerah aja tuh…”. Nico lalu menoleh ke arah Putri dan balik bertanya, “Emangnya kenapa?”

Putri sempat diam, ragu untuk menjawab. Tapi toh akhirnya menjawab pertanyaan Nico tadi, “Kan biasanya, kalo di sinetron-sinetron gitu, pas adegan hujan kayak gini dan ceweknya merasa kedinginan, yang cowok bakal ngasih jaketnya buat si cewek itu…”

Nico langsung tertawa panjang mendengar jawaban Putri tadi. “Ya ampun Put… namanya juga sinetron… Kalo mau yang model kayak sinetron gitu, sekalian aja tadi aku ngomong sayang ke ke kamu bener-bener sambil hujan-hujanan. Bukannya sambil berteduh di bawah halte butut kayak giniii…” kata Nico, sambil mengacak-acak rambut Putri kembali.

“Kamu tu ga ada romantis-romantisnya ah…” Putri sedikit merengut.

“Dibilangin. Kalo mau nyari yang romantis, sono… jadian sama artis Korea aja…”

“Emang sekarang aku jadian sama siapa?”

“Sama aku kan?”

Mereka berdua bertatapan, lalu serentak tertawa.

“Ah, udah ah… balik yuk. Aku anter pulang…” kata Nico sambil berdiri. Putri mengikuti Nico berdiri. Saat Nico menoleh dan memandang Putri, keningnya langsung berkerut.

“Kamu duduk lagi gih, bentar…” kata Nico.

Putri menurut, walaupun dengan perasaan heran.

Nico lalu berlutut di depan Putri, dan melepaskan sepatu hak tinggi yang dipakai Putri. Sambil mengomel, “Lain kali, kalo mau lari-lari, apalagi lengkap dengan acara hujan-hujanan segala, ga usah pake sepatu model kayak gini…”

Putri memandangi sepatunya, sepasang stilletto warna hitam dengan hak setinggi 7 cm. Pantas saja kaki Putri terasa seperti habis digilas truk semen.

“Yah Co… masa aku telanjang kaki pulangnya? Rugi amat kemaren aku sesi meni-pedi di salon”

Nico tidak menjawab, tapi duduk di sebelah Putri dan melepaskan sepatu kets yang tengah dia pakai dari kakinya. Dengan ujung-ujung jari kakinya dia mendorong sepatu itu ke arah kaki Putri. Sepatu Putri sendiri tergantung pasrah di antara jari-jari Nico.

“Pakai sono…” kata Nico.

“KegeAninn.”

“Biarin. Kalo mau yang kecilan pake sepatunya Sony aja…”, Nico mengajukan alternatif yang sebenarnya lebih tidak mengenakkan

“Ga mau.”

“Ya udah, pake…cepetaaan…”

“Tapi kan ga matching sama baju aku sekarang Cooo…”

“Biarin. Tetep cantik kok…”

“Gombal.”

“Tapi kamu suka kan?” sahut Nico, sambil tersenyum kecil.

“Iyee..iyeee… Ni aku pake nihh…” kata Putri sambil memasang sepatu itu di kakinya.

“Udah?” tanya Nico yang kini berdiri di depan Putri.

Putri mengangguk, dan berdiri mengikuti Nico. Nico tersenyum memandangi Putri. Putri yang memakai gaun selutut berwarna hitam berhiaskan payet-payet di bagian lengan, tapi dalam keadaan basah kuyup. Rambut Putri yang juga basah tergantung lemas di sisi-sisi wajahnya. Sepasang sepatu kets berwarna merah yang terlalu besar di kakinya. Dan Putri masih terlihat begitu cantik di mata Nico.

“Kamu cantik Put….” Kata Nico perlahan. Kali ini tanpa melepaskan pandangan dari Putri. Justru Putri yang tertunduk malu, dengan wajah merona.

“Yuk, pulang…” kata Nico. Mengulurkan tangannya, yang disambut Putri dengan pasti. Bergandengan, mereka menelusuri jalanan yang masih basah. Berdua. Bersama. Dengan perasaan bahwa indahnya hidup kini adalah cerita mereka, dan mereka bersisian untuk menikmatinya bersama. Cerita mereka mungkin tidak sempurna, tapi yang penting, perasaan yang membangun cerita itu adalah nyata.
+++
+++

Citra Nusa gempar. Putri si selebritis sekolah yang ratu es itu tiba-tiba melewati koridor sekolah sambil menggandeng seseorang. Seandainya yang digandeng Putri adalah Aji, mungkin tidak akan ada yang gempar. Hanya sekedar permakluman. Tapi ini, yang digandeng Putri adalah seseorang yang begitu jauh dari image Putri sebagai selebritis sekolah. Tapi toh Putri tetap berjalan dengan kepala tegak, tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Nico.

So be it. Sudah resmi. Nico dan Putri.

Kegemparan itu tentu saja diikuti dengan gosip yang beredar di kalangan siswa putri: kalau Putri sama si Nico, artinya Aji? Aji sama siapa dong? Selama ini Aji selalu bersama Putri. Kalau sekarang Putri mengesahkan hubungannya dengan Nico, artinya Aji single and available dong?

Dan tiba-tiba saja jumlah penonton Aji di lapangan basket meningkat secara signifikan. Jumlah orang yang secara “kebetulan” lewat di depan kelas Aji mendadak melonjak naik. Tea berusaha untuk tidak ikut-ikutan peduli dengan berita itu. Tapi adalah sangat sulit untuk tidak peduli jika ada Sony yang selalu menggodanya dengan mengatakan bahwa Aji itu sudah “publicly available”. Sony yang terus-terusan menjawilnya kalau Aji lewat di depan kelas mereka, sambil berbisik, “samber aja Te…”. Meskipun selalu merasakan wajahnya merona tiap kali Sony bertingkah seperti itu, Tea sebetulnya merasa berterima kasih kepada Putri. Entah kenapa, Putri akan selalu menatap Sony dengan galak setiap kali Sony selalu memanas-manasi Tea tentang status ketersediaan Aji sebagai seorang “most-wanted-jomblo” di Citra Nusa. Dan Tea lebih bersyukur lagi, karena semenjak hari setelah dia menonton berdua dengan Aji, Putri tidak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal Aji di depan Tea. Entah kenapa. Tea pun tidak ingin mengungkit-ungkitnya.

Yang Tea tahu sekarang, dia tidak suka kalau Sony menggodanya soal Aji. Karena Tea semakin menyadari, bahwa dia sebetulnya tidak peduli. Dia sudah tidak peduli lagi Aji sedang apa, berada dimana, atau bersama siapa.

Tea tidak lagi memedulikan Aji. Terutama hari Sabtu ini, ketika bangku Sony kosong sepanjang hari. Nico pagi itu datang dengan membawa surat keterangan bahwa Sony sedang sakit. Hanya satu kata yang menggambarkan hati Tea: sepi.

Tea sebenarnya tidak ingin pergi, tapi dia tidak bisa menolak saat Putri dan Nico mengajaknya ke kafetaria. Nico dan Putri setengah memaksa Tea, mengingatkan dia bahwa penyuplai makanan mereka sedang tidak ada. Di kafetaria, dengan malas-malasan dan tidak bersemangat, Tea mengaduk kembali es tehnya. Memperhatikan butiran-butiran gula yang belum larut, menyebar di antara es batu dalam gelas itu. Gula. Manis. Seperti senyum Sony, pikir Tea. Yang membuatnya malu sendiri. Untuk apa dia memikirkan Sony seperti itu?

“Hei…”

Sebuah sapaan, yang tidak jelas ditujukan pada siapa membuat Tea menghentikan lamunannya dan mengangkat wajah. Di kursi di depan Tea, Putri dan Nico yang tadi sedang sibuk membahas apakah cabe rawit berwarna hijau lebih pedas daripada cabe merah keriting, ikut menghentikan perdebatan tidak penting mereka.

Ada Aji tersenyum ke arah mereka. Sambil menenteng teh botolan di tangannya.

“Boleh ikutan duduk ga?” tanya Aji.

Nico merapatkan posisi duduknya di sebelah Putri. Entah sadar atau tidak, sebelah tangannya meraih jari-jari Putri di atas meja dan menggenggamnya. Seakan-akan menegaskan bahwa Putri adalah miliknya. Tapi toh, Nico tersenyum tipis sambil menunjuk bangku di sebelah Tea dengan dagunya.

“Duduk aja Ji…”

Putri juga mengangguk. Sementara Tea hanya menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada es tehnya.

“Tumben ga sama-sama Marco, Ji?” tanya Putri.

“Marco lagi promo album band-nya gitu. Jadi izin seminggu gitu deh…” sahut Aji, lalu menyeruput minumannya.

“Eh Ji, masih inget Sivia ga? Yang sepupu gua ituuu… Anaknya Tante Maria…” tiba-tiba Putri bertanya pada Aji.

Aji mengangguk. Yang disambut Putri dengan rentetan kalimat lagi.

“Minggu malem besok nonton bareng sama gua sama Nico yuk, sama si Sivia juga! Lagian kan Senin besoknya libur, tanggal merah gitu” ajak Putri pada Aji. Aji tersenyum kecil.

“Boleh deh… aku juga ga ada rencana kok…” sahut Aji sambil mengangguk. Aji lalu menoleh ke arah Tea, “Kamu mau ikut juga ga Te?”

Tea masih terpaku pada gelasnya sampai Putri menendang kakinya di bawah meja.

“Woi, Te! Mau ikutan ga lo?”

Kaget dengan tendangan tadi, Tea mengangkat wajah sambil berseru kecil, “Hah? Apa Son?”.

Begitu kalimat tadi terlontar, Tea langsung merasa wajahnya panas. Dia cepat-cepat meralat kalimatnya, “Eh, apa Put?”

Putri memutar-mutar bola matanya, lalu melirik ke arah Nico. Nico hanya mengangkat bahunya sedikit. Merasa tidak perlu berkomentar. Hanya Aji yang mengulangi pertanyaannya.

“Kamu mau ikut juga? Nonton bareng kami?”

Tea menggeleng pelan. “Sorry deh. Tapi kayaknya enggak deh. Lagi males…”.

“Oh, ya udah…” sahut Aji sambil tersenyum kecil. Tapi senyuman itu luput dari perhatian Tea. Karena Tea kembali memandangi gelasnya, berharap menemukan bayangan senyum Sony di pantulan gelas itu. Sementara Nico, Putri dan Aji mengobrol kembali, Tea tidak ikut ambil bagian. Karena saat ini, yang dia rindukan hanya derai tawa Sony.

***

“Pak Ony tunggu sini aja dulu ya Pak…” kata Tea saat turun dari mobil sambil menenteng seplastik apel. Gang dimana rumah Sony berada tidak terlalu nyaman untuk dilewati mobil. Maka Tea masih harus berjalan beberapa ratus meter, sebelum akhirnya membuka pintu pagar rumah Sony. Dengan ragu, Tea mengetuk pintu itu sambil mengucapkan salam. Setelah beberapa lama, Tea mengetuk kembali. Kali ini tidak perlu waktu lama, pintu itu berderit membuka. Senyuman ramah dari nenek Sony menyambutnya.

“Eh, Tea kan ya?”

Tea tersenyum. “Iya Nek… Sony katanya sakit ya Nek?”

Neneknya Sony membukakan pintu lebih lebar, “Iya… dari kemaren sore demam. Tadi pagi juga masih panas. Masuk aja Te… Sony lagi tiduran di kamarnya…”

Tea mengikuti sang nenek ke kamar Sony. Nenek Sony kemudian membukakan pintu kamar Sony, membiarkan Tea melangkah masuk.

“Tea, ga papa sendirian ya… Nenek mau ke dapur dulu, masih ada pesenan kue…”

Tea mengangguk, dan wanita tua itu pun meninggalkan Tea sendiri. Tea melangkah mendekati tempat tidur Sony, dimana Sony tengah berbaring sambil menutup mata. Nafas Sony yang teratur menunjukkan bahwa dia masih terlelap. Perlahan Tea mendekati tempat tidur, dan berlutut di sebelah tempat tidur itu Kedua belah tangannya terlipat di sisi tempat tidur. Dengan perasaan campur aduk, Tea memandangi wajah Sony yang begitu pucat.

Tea menempelkan telapak tangannya di kening Sony, merasakan panas yang ada disana. Tea berharap dapat memindahkan sebagian dari panas itu ke dirinya, sehingga Sony tidak harus menderita seperti ini. Dengan lembut, Tea menggerakkan jemarinya untuk membelai rambut Sony yang sedikit ikal. Kepala Sony sedikit bergerak saat jari-jari Tea menelusuri jejak-jejak rambut di batas kening Sony. Sekilas Sony seperti membuka kedua matanya, yang segera tertutup kembali.

Tea menghela nafas dan membiarkan jari-jarinya tangan kanannya terus membelai rambut Sony. Kepala Tea bersandar pada tangan kirinya yang terlipat di sisi tempat tidur, terus memandangi Sony yang masih bernafas teratur dengan tenang. Tea membiarkan beberapa menit berlalu dalam keheningan. Seandainya saja rasa damai di sisi Sony seperti ini tidak terjadi saat Sony terbaring pucat seperti itu, Tea pasti merasa lebih bahagia.

Tea melirik ke arah meja belajar Sony, dan melihat sebuah mangkok dengan selembar handuk kecil di dalamnya. Tea bangkit, mengambil mangkok itu dan melangkah keluar. Perlahan, Tea menutup pintu kamar, dan melangkah menuju dapur.
***

Sony membuka mata, dan memandang ke sekeliling. Sepi. Hanya dirinya sendiri. Sony jadi menyesal, kenapa mesti terbangun. Karena sepertinya tadi dia bermimpi, ada Tea di sisinya, tengah membelai rambutnya.

Tapi pasti mimpi. Karena sekarang dia masih sendirian di kamar. Sony meraba keningnya sendiri, masih terasa panas. Kepalanya masih terasa berat. Sony menghela nafas. Benar juga, demam semacam ini bisa membuat orang berhalusinasi. Sony menutup matanya kembali, mencoba untuk tidur lagi. Tapi sebuah pikiran aneh terlintas di benak Sony: sepertinya tadi ada plastik di atas meja belajarnya. Punya siapa ya?
***

Tea membuka pintu kamar, dan melongok ke dalam. Sony masih tidur sepertinya, walaupun posisi berbaringnya sedikit bergeser. Tea melangkah masuk sambil membawa sebuah piring, sebilah pisau dan mangkok berisi air dingin. Setelah meletakkan semua bawaaannya di atas meja, Tea perlahan menggeser kursi dari depan meja belajar ke sisi tempat tidur Sony. Tea duduk di kursi itu, mencelupkan handuk kecil ke dalam mangkok berisi air itu.

Perlahan Tea memeras handuk itu, dan dengan lembut meletakkannya di kening Sony, sambil mengucap doa sepenuh hati. Perlahan, telunjuk Tea menelusuri batas rambut di kening Sony. Menikmati tiap lekuk wajah Sony dari dekat.

Tiba-tiba, Sony membuka mata, melihat wajah Tea yang begitu dekat di hadapannya. Sony membuka mulut, setengah ternganga tanpa suara melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Tea tertegun, begitu mendapati Sony membuka kedua matanya yang kini menatap langsung ke arah Tea.

Selama dua detik, mereka bertatapan dengan rasa terkejut, sampai akhirnya…

“HUAAAA!!!” Sony setengah berteriak dan langsung bangkit untuk duduk di tempat tidurnya. Handuk kecil yang tadi diletakkan Tea di kening Sony terjatuh ke pangkuannya. Sony menatap Tea dengan wajah tidak percaya. Tea sendiri menutup mulutnya dengan tangan. Rasa terkejutnya karena Sony yang bangun tiba-tiba semakin ditambah dengan reaksi Sony tadi.

Sony perlahan menyentuhkan telunjuknya ke lengan Tea, dan begitu merasakan bahwa yang duduk di kursi itu benar-benar Tea, Sony dengan nada tidak percaya berkata dengan nada suara lebih lirih dari teriakannya tadi.

“Tea? Ni beneran? Lo bukan dakocan yang menyamar jadi Tea kan?”

Tea tertawa kecil dan sedikit mendorong pundak Sony.

“Kamu tu lhooo… udah ditengokin bukannya seneng…”

Sony terkekeh, melipat kedua tangannya di dada sambil memandang Tea. “Ga sih, ga nyangka aja. Kirain gua mimpi doang ada elo…”. Sony lalu menoleh ke arah pintu. “Lo sama siapa Te? Sama Nico sama Putri juga?”

Tea menggeleng, “Sendirian, tadi dianterin Pak Ony…”

Sony mengangkat alis, berusaha menekan perasaan senang yang mulai muncul di dadanya. “Beuh, Nico sama Putri… mentang-mentang baru jadian, lupa dah sama gua…”

Tea tersenyum kecil, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Udah makan Son? Mau apel ga?” tanya Tea sambil beranjak ke meja belajar dan mengambil sebutir apel dari kantong plastik yang dibawanya tadi.

“Oh, plastik itu tadi lo yang bawa Te? Pantesaaan… Kok tadi berasa ada yang lain di atas meja itu…”

Tea mengangguk, “Iya, tadi sempet singgah bentar di supermarket gitu sebelum kesini…” kata Tea sambil mulai membelah apel tadi menjadi 4 bagian dengan pisau yang dipinjamnya dari neneknya Sony tadi. Tea mengambil salah satu potongan apel, membelahnya lagi menjadi dua dan mulai mengupasnya. Sony mengamati setiap gerakan Tea. Menikmati setiap saat dimana dia bisa melihat peri kecil itu berada di dekatnya seperti ini.

Tea mengacungkan potongan apel yang sudah selesai dikupasnya, “Jadi dimakan ga?”

Sony terkekeh. “Eh, beneran dikupasin sama dia… Sekalian disuapin dong…”

Tea menggigit bibir. Lalu menyorongkan apel itu ke bibir Sony. Sambil berusaha tersenyum.

“Nih… Ayo dimakan…”

Sony ternganga. Tapi tidak menolak. Perlahan, Sony menggigit potongan apel di tangan Tea itu. Lalu mengunyahnya pelan-pelan sambil tersenyum menatap Tea. Tea merasakan wajahnya merona. Tapi dia tidak sanggup mengalihkan pandangannya dari senyuman Sony, karena tak hanya bibirnya, sepasang mata Sony yang tengah menatapnya itu juga tersenyum. Dan Tea tidak ingin kehilangan sedetik pun saat dimana dia bisa menatap senyum itu.

Sony menelan apel di mulutnya, dan berkata lembut, “Makasih ya Te…”

Tea tersenyum, dan kembali mendekatkan sisa apel yang masih ada di tangannya ke bibir Sony. Sony kembali menggigit apel itu, dan menikmatinya tanpa melepaskan pandangan dari Tea.

Selama beberapa lama mereka diam, merasa tak perlu mengatakan apa-apa, karena hanya dengan berdua seperti inipun sudah terasa nyaman. Tanpa perlu kata-kata apapun.

“Mau lagi?”, tanya Tea setelah sepotong apel yang dikupasnya tadi telah dihabiskan oleh Sony. Sony menggeleng, meskipun masih tersenyum.

“Nggak usah Te, makasih…”

Dalam hatinya, Tea menelan sedikit rasa kecewa. Tapi Tea tetap membalas senyum Sony. Tea beranjak kembali ke meja belajar Sony dan meraih gelas minuman yang ada disana, lalu menyerahkannya pada Sony.

“Minum dulu gih Son…”

Sony mengangguk saat meraih gelas itu. Sony meneguk isinya perlahan-lahan, kali ini pandangannya menerawang. Tea duduk kembali di kursi sebelah tempat tidur Sony. Pandangan Tea lalu jatuh ke sebuah buku yang ada di sebelah bantal Sony.

“Kamu lagi sakit gitu masih aja baca Son?” kata Tea sambil meraih buku itu dan menelitinya. Sebuah buku tebal berbahasa Inggris, isinya penuh dengan gambar-gambar berbagai bangunan.

“Lah, daripada gua jadi reog? Mending gua ganttin si Dude Herlino kali….” jawab Sony, membuat Tea tertawa kecil.

“Tapi emang kamar kamu isinya buku semua gini sih Son…” kata Tea sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Lalu menoleh ke arah Sony dengan pandangan menggoda.

“Kurang satu lagi nih di kamar kamu…”

“Hah? Kurang apaan? Gua udah ganteng kayak gini udah cukup bersinar dah kamar gua, ga usah diapa-apain lagi…”

“Kok ga ada foto ceweknya sih? Digantung dimanaaa…gitu… Biar dindingnya rada segeran dikit..”

Bukannya menjawab, Sony malah tertawa. Walaupun akhirnya sambil meletakkan gelasnya di atas meja belajar, Sony menyahut, “Yah, lagian foto siapa coba yang mau gua gantung?”

“Ya mana aku tauuu… Hmm… Widy Vierra, mungkin?”

“Yaelah… si Widy lagi dia bawa-bawa…”

“Lah, habis kayaknya kamu kalo ngomongin Widy kayak yang naksir abis gitu…”

“Beuh, jeles ya lo Te? Sama Widy gua ngepens kali..ngepeeeensss…”

“Ga naksir?”

Sony tertawa lagi. “Ya beda lah, antara naksir, sayang sama cuma ngefans doang….”

Tea mengangkat alis. “Bedanya gimana?”

Sony menegakkan punggungnya lagi dan menatap Tea sebelum menjawab. “Ya beda lah Teaa.. Kalo cuma sekedar naksir sih, gugupnya beda kali ya sama kalo sekedar ngefans ajah… Apalagi kalo udah sayang…”
Tea tidak mengatakan apa-apa. Menunggu Sony menyambung kalimatnya.

“Kalo sayang, jauh lebih dalem kali ya Tea…” tiba-tiba nada suara Sony terdengar berbeda. Nada suaranya menjadi lebih rendah, memberi kesan bahwa Sony sedang membicarakan hal yang serius.

“Aku sih mikirnya, kalo aku sudah sayang sama seseorang, itu karena aku merasa nyaman di sisi orang itu… Dan aku juga pengen dia merasa nyaman di sisi aku. Aku ngebayanginnya, kalo aku sedang bersama orang yang aku memang bener-bener sayang, kami bakal merasa nyaman, meskipun ga ngapa-ngapain. Meskipun cuma duduk sebelahan, ga sambil ngomong apa-apa. Karena aku yakin, kalo memang udah sama-sama sayang… yang namanya kata-kata itu udah ga perlu lagi. Yang penting adalah dia ada untuk aku, aku ada untuk dia…”

Sony menggaruk-garuk belakang telinganya, “Eh, sorry Te… aku jadi melantur kemana-mana gini ya ngomongnya?”

Tea tersenyum, “Gapapa kok Son… Lanjutin aja…”

Sony menghela nafas, mengalihkan pandangan dari Tea ke rak buku di hadapannya. Tatapannya menerawang.
“Kalo misalnya aku memutuskan menjalin hubungan yang serius, yah, katakanlah pacaran… aku pengen orang yang aku sayang bener-bener merasa nyaman di sisi aku, merasa bangga bahwa dia sudah memilih aku.”

Hening sesaat. Sony dengan pikirannya sendiri, dan Tea dengan kesadaran yang perlahan meWilliamap di hatinya. Bahwa selama ini, cahaya yang menghangatkan hatinya berasal dari sepasang mata yang kini tengah menerawang itu.

Sony tiba-tiba menoleh kembali ke arah Tea, dengan ekspresi lembut yang jarang sekali dilihat Tea sebelumnya.

“Yang pasti Te, kalau aku sudah sayang banget sama seseorang, aku cuma pengen satu hal. Melihat orang yang aku sayang itu bahagia. Itu saja. Itu sudah sangat cukup buat aku. Meskipun itu bukan bersama aku.”

Tea ingin menyerah. Untuk menitikkan air mata. Entah kenapa kata-kata Sony tadi terasa menohok. Seandainya saja Sony mengerti. Tapi Sony tidak akan mengerti. Karena Tea sendiri pun masih belum benar-benar mengerti kenapa semua perasaan di hatinya ini seperti begitu menyesakkan.
Sony tersenyum. Tea hanya mampu menunduk sambil menggigit bibir.

Setelah menarik nafas beberapa kali, Tea mengangkat wajah. Yang dilihatnya adalah Sony yang tengah memijat kedua pelipisnya dengan jari-jarinya.

Dengan khawatir Tea pindah dari kursi yang semula didudukinya, berlutut di sebelah Sony.

“Sony? Kamu ga papa? Kenapa? Pusing ya?”

Sony menoleh, dan berusaha tersenyum. Meskipun wajahnya terlihat pucat.

“Ga kok… gapapa… cuma rada kecapean ajah…”

“Tidur lagi gih…” Tea meraih gelas yang tadi diletakkan Sony di meja belajar dan menyorongkannya ke arah Sony. “Minum dulu Son, kamu mesti banyak minum, biar panasnya cepet turun.”

Sony tidak menjawab, hanya mengangguk sambil mengambil gelas itu dari tangan Tea, dan menghabiskan setengah isinya dalam beberapa kali tegukan. Tea meraih gelas yang kini kosong itu dari tangan Sony dan meletakkannya kembali di meja.

Sony yang tadinya duduk bersandar, kini berbaring kembali. Tea kembali duduk setengah berlutut di sisi tempat tidur Sony. Kedua tangan Tea terlipat di sisi tempat tidur.

“Te…” suara Sony terdengar lemah saat dia menggerakkan kepala untuk menoleh ke arah Tea dari atas bantal.

“Ya Son? Kenapa? Pusing banget ya?” tanpa sadar tangan Tea bergerak kembali ke arah kening Sony, menyentuh perlahan rambut ikal Sony

“Te, temenin aku bentar ya…” kata Sony dengan suara sedikit bergetar.

Tea mengangguk perlahan, sambil terus membelai rambut Sony. Sony tersenyum.

“Makasih Te…” kata Sony, sebelum menutup matanya. Tea balas tersenyum, melihat wajah itu. Yang nampak begitu damai, meskipun terlihat pucat.

Tea tidak melepaskan pandangannya dari Sony. Sepertinya Sony memang benar-benar lelah. Dadanya naik turun dengan teratur, menunjukkan bahwa dia sudah jatuh terlelap. Dengan lembut Tea membetulkan letak selimut Sony, lalu berdiri perlahan-lahan.
Sambil menghela nafas, Tea meraih tasnya, lalu melangkah menuju pintu dan membukanya. Sebelum keluar, Tea menoleh sekali lagi. Memuaskan diri memandangi Sony yang masih terbaring dengan tenang. Dengan wajah yang menyiratkan kedamaian. Meskipun kedua matanya tertutup, Tea tahu, ada sepasang bola mata yang selalu menyiratkan kehangatan.

Tiba-tiba saja Tea sadar. Bahwa perasaan yang sederhana ini telah tumbuh begitu saja, entah sejak kapan. Mungkin sejak pancaran mata itu menjadi matahari bagi hati Tea. Tea tersenyum pahit, menyesali betapa dia begitu terlambat menggenapkan hati untuk menyadari arti rasa ini. Di saat kata-kata Sony tadi menjadi pertanda, bahwa dia sudah menarik diri.

Sony… Akankah kelak dia mengerti?

Tea berbalik, melangkah keluar, dan menutup pintu. Perlahan.
+++

Mata Sony masih terpejam, tapi dalam keadaan setengah sadar, dia bisa merasakan sesuatu menjawil pundak kanannya. Diiringi sebuah suara yang memaksanya untuk benar-benar sadar dari tidurnya.

“Heh… Lo beneran sakit ya?”

Dengan malas Sony membuka matanya, dan menoleh ke arah kanan dari bantalnya. Begitu melihat Nico yang tengah duduk di sampingnya, dengan cepat Sony mengambil guling di sebelahnya dan menutupkan ke wajahnya.

“Aaaahhh…kalo lo yang dateng mah, gua bener-bener tambah pendarahan otak tauuuu…!” seru Sony dari balik guling.

Suara tawa Putri membuat Sony menjauhkan guling itu dari wajahnya.

“Eh, ada si Eneng… Habis disembur apa sama si mbah dukun sampe lo mau ikut dia kesini Put?” tanya Sony pada Putri yang duduk di pinggir tempat tidur Sony.

“Lo untung banget dah lagi sakit gini… Kalo ga, lo udah gua jadiin umpan ikan paus!” kata Nico sambil menonjok perlahan pundak Sony.

“Sakit apa Son?” tanya Putri.

“Akhirnyaaa.. lo inget juga untuk menanyakannya…” jawab Sony sambil bangkit dari posisinya yang semula masih berbaring menjadi duduk bersandar.

“Basa-basi doang kok…” tukas Nico.

“Ah, kalo Putri yang nanya mah, gua yakin dia beneran nanya…”

“Yaelah Son… gua nanya apa, lo jawabnya pake keliling Pulau Jawa dulu. Lo sakit apa sih?” tanya Putri lagi sambil tertawa geli.

“Kata dokter sih gejala tipes gitu… Jadi ya udah. Disuruh istirahat dulu. Sebenernya ga enak juga sih. Kasian fans-fans gua di luar sana. Pasti mereka bosen menghadapi dunia ini yang terasa sepi tanpa kehadiran wajah ganteng gua…”

“Lo lagi sakit gini insap dikit kek…” kata Nico, sekali lagi mendorong pundak Sony perlahan.

“Tumben kalian berdua inget buat nengokin gua? Kirain semenjak jadian, istilah garing bahwa dunia hanya milik berdua itu bener-bener kalian terapkan..”

“Siapa bilang kita mau nengokin elo? Kita cuma mau nagih jatah kue hari ini kok…” sahut Putri dari ujung tempat tidur. Tapi tiba-tiba wajah Putri berubah serius.

“Tea udah kesini Son?”

Senyum Sony menghilang. Perlahan dia mengangguk. Nico yang duduk di sebelahnya terbatuk pelan, lalu tersenyum kecil. Dia sudah mengenal Sony begitu lama. Semenjak SMP dulu. Maka kali ini dia memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.

Paling tidak selama 3 detik.

Karena setelah tiga detik, Nico tidak bisa menahan diri untuk langsung berkata dengan wajah jahil, ”CIE! CIE! CIE! Trus, lo langsung sembuh dong!!!”

Sony menoleh dengan kesal ke arah Nico, lalu memukulkan guling yang masih dipeluknya ke arah Nico.

“Ah, elo Son… pake sok ga naksir segalaaa… Udah lah… akuin aja! Ga rugi kok! Liat aja gua, akhirnya bisa dapet Putri kan?”

“Woi! Itu juga lo pake sombong segala, minta dikejar-kejar di tengah hujan gitu…” seru Putri.

“Emm.. halo? Gua lagi sakit lho… Kalian lagi pada nengokin gua lho… Ga bisa apa adegan pertengkaran pasangan yang dimabuk cinta ini jangan dilakukan di depan gua?” kata Sony sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Halah, bilang aja lo ngiri…” sahut Nico, lalu merogoh ke dalam ranselnya. Nico kemudian menarik keluar sebuah amplop putih panjang, dan menyerahkannya pada Sony.

“Dari Pak Nur…” katanya. Kali ini dengan nada serius, tapi dengan sebuah senyuman.

Sony menatap Nico dengan tatapan bertanya saat mengambil amplop itu dari tangan Nico, lalu memandangi amplop itu. Sebuah amplop berlogo perguruan tinggi bergengsi di Jakarta. Tulisan “Yth. Sdr. Ahmad FauSon Adriansyah” tercetak dengan jelas di amplop itu.

Dengan sedikit tergesa, Sony merobek amplop itu, mengeluarkan kertas tebal berwarna putih gading yang ada di dalamnya dan membacanya dengan cepat. Semakin lama, sebuah senyum terkembang semakin lebar di bibirnya. Sampai akhirnya dia menengadahkan kepalanya ke atas sambil berseru kecil,

“Alhamdulillah…!!!”

Nico tertawa sambil menonjok pundak Sony. Putri pun ikut tersenyum lebar dari tempatnya duduk sekarang.

“Lo gimana Co? Keterima juga?” Sony menoleh ke arah Nico.

Nico mengangguk, “Teknik Informatika, Afiliasinya sama NTU di Singapur… Lo jadinya Arsitektur ya? Afiliasinya kemana?”

Sekarang balik Sony yang mengangguk. “Iya, arsitektur… Terus jatah semester akhirnya di Melbourne University…” sahut Sony dengan wajah cerah. Beasiswa inilah yang selama ini dia tunggu-tunggu.

“Selamat Son, You deserve it…” kata Putri dengan senyuman tulus. Nico sudah menceritakan semuanya pada Putri, tentang betapa Nico dan Sony sudah begitu berjuang untuk memperoleh beasiswa ini.

“Thanks Put.” Sahut Sony. Senyum lebar tak bisa pupus dari wajahnya.

Putri menatap Sony dengan serius, sebelum berkata lebih lanjut. “Son, it’s now or never. Now You have it…”

Sony mengerutkan kening, “Maksud lo Put? Soal apaan?”

Putri menghela nafas, “Soal Tea… Lo pernah bilang kalo lo ngerasa ga bisa bikin Tea bangga. Sekarang lo sudah punya sesuatu yang bisa bikin dia bangga Son…”

Sony tercenung. Kembali menekuri surat yang baru saja diterimanya. Yang menyatakan bahwa Sony diterima di sebuah Universitas ternama dalam program Dual Degree melalui jalur beasiswa.

“Gua cuma punya ini Put…”

“Son, itu bukan sekedar ‘cuma’. Apa yang sudah elo capai sekarang, itu adalah hasil dari elo sendiri. Hasil perjuangan ELO. Bukan perjuangan orang lain. Apa lagi sih yang bisa lebih membanggakan selain sesuatu yang kita peroleh sebagai hasil perjuangan kita sendiri?” nada suara Putri terdengar tegas. Membuat Sony merasa ingin mempercayainya.

“Dan Son… Selama elo selalu siap untuk ada buat Tea, gua yakin, itu jauh lebih berharga daripada apapun. Gua heran deh kenapa cowok selalu segitu gengsinya mikir bahwa cewek itu cuma nyari yang namanya ganteng lah, yang ngetop lah, yang tajir… Enggak. Yang kami pengen, adalah orang yang selalu siap menyediakan bahunya untuk kami sandari di waktu kami sedang ngerasa capek. Orang yang selalu siap menggenggam tangan kami untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja…”

Sony menggigit bibir.

Putri menyambung kembali kalimatnya. Kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Son, Tea memerlukan elo Son. Entah dia sadar atau enggak. Tapi elo harus sadar. Elo yang dia perlukan Son… Untuk menemani dia. Sekarang. Nanti. Selamanya.”

Selama beberapa detik, kamar Sony hening. Seakan-akan semua memberikan kesempatan bagi Sony untuk memahami semua yang dikatakan Putri tadi. Untuk meneguhkan hati Sony.

Sampai suara Nico terdengar, “Seperti elo memerlukan gua ya Put?”

“Nico, lo bener-bener merusak momen romantis deh…” tukas Putri dengan kesal sambil menoleh ke arah Nico. Nico sendiri tengah menyeringai sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di dada.

“Yaaa… momen romantis apaan coba? Lo ngapain romantis-romantisan gitu sama Sony? Mestinya sama gua Put…” sahut Nico.

“Gua heran deh, kalian ini sebenernya kesini niatnya benerin nengokin gua, atau cuma mindahin lokasi pacaran doang sih?” tanya Sony sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya makanya… Lo nyatain gih ke Tea. Jadi lo bawaannya ga sirik mulu sama kita…” sahut Nico, masih menyeringai. Nico kemudian berdiri. “Udah malem Son, gua balik dulu. Sekali lagi, selamet ya…” kata Nico sambil menepuk pundak Sony.

“Makasih Co…”

“Cepet sembuh Son… Biar lo bisa nJiesain urusan lo sama Tea”, kata Nico lagi, sekali ini dengan nada serius.

“Yah, gua ga ngerti dah soal itu. Gua pengen semuanya ngalir aja… Just go with the flow…” sahut Sony pelan.

“Son, bahkan air sungai yang ngalir pun tau dia bakal ngalir kemana. Ngalir ya ngalir, tapi lo mesti punya tujuan ke arah mana perasaan itu mengalir, untuk sampai dimana…”, Putri yang juga sudah berdiri tiba-tiba menanggapi kata-kata Sony tadi.

“Son, kadang-kadang, sering malah… Yang diinginkan seorang cewek, bukanlah seorang pangeran berkuda putih yang menjemputnya sambil membawa peti harta karun. Kadang-kadang, yang diinginkan seorang cewek, hanyalah seorang cowok sederhana yang menyodorkan segelas air putih ketika cewek itu merasa begitu lelah…”

Sony mengangkat wajah, menatap Putri yang tengah memandangnya dengan ekspresi sungguh-sungguh. Sony lalu tersenyum. Mulai menabur harapan di hatinya. Mungkin Putri benar. Mudah-mudahan Putri benar.

“Thanks Put…” kata Sony dengan tulus.

Putri balas tersenyum dan mengangguk.

“Put, lo lagi capek? Nih, gua sebagai seorang cowok sederhana punya segelas air putih buat elo…” tiba-tiba Nico menyodorkan gelas yang tadinya ada di meja belajar Sony ke arah Putri, sambil tersenyum lebar.

Putri memandang ke arah Nico, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi putus asa. “I’ve said it, but I’m gonna say it again. Elo Co, betul-betul tukang rusak suasana romantis.”

“Lagian, mana ikhlas gua ngeliat elo romantis-romantisan sama Sony. Udah ah, balik yuk! Katanya mau nonton…” sahut Nico sambil meraih pundak Putri dengan salah satu tangannya untuk membimbing Putri berjalan keluar.

“Beuh. Udah maen rangkul-rangkulan aja ya sekarang…” seru Sony pada Nico dan Putri yang berjalan menuju pintu kamarnya.

“Ga usah ngiri…” sahut Nico diiringi derai tawanya.

Putri masih sempat menoleh ke arah Sony dan tersenyum kecil sambil melambaikan sebelah tangannya. Dengan tangan kanannya yang masih bebas, Nico menutup pintu kamar Sony. Meninggalkan Sony sendiri. Beberapa saat kemudian, Sony dapat mendengar lamat-lamat suara Nico dan Putri yang berpamitan pada Nenek dan Ibunya Sony. Diiringi suara motor yang distarter, dan beranjak pergi.

Sony menghela nafas, dan berbaring kembali. Memikirkan banyak hal. Tea. Kata-kata Putri. Beasiswa tadi. Tea. Perasaan yang menyesakkan Sony.

Sony menutup matanya. Tapi bayang-bayang wajah Tea tidak akan tertutup hanya oleh sepasang kelopak mata. Karena wajah Tea ada di hati Sony. Dan kini hati Sony terbuka lebar. Untuk menerima dan mengakui perasaan yang sedari dulu menari dalam sepi. Saat ini, hanya satu keinginan Sony, tak lagi membiarkan dirinya hanya sekedar menatap dinding kamar saat perasaan itu memohon untuk diungkapkan.
+++

Tea membolak-balik majalah di pangkuannya tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Untunglah hari ini libur nasional. Jadi dia tidak perlu memikirkan harus bersikap bagaimana di hadapan Sony di sekolah nanti.

“Tea…” tiba-tiba kepala Mama tersembul dari balik pintu Tea yang setengah terbuka. “Ada temenmu tuh di bawah…”

Tea menaikkan alis, lalu bangkit dan melangkah keluar kamar, turun ke lantai dasar rumahnya. Ruang tamu kosong, tapi dari jendela Tea bisa melihat sosok seseorang yang tengah duduk berdiri sambil bersandar pada tiang. Meskipun posisi sosok tersebut membelakangi jendela, Tea bisa mengenali sosok itu. Dan Tea merasakan jantungnya yang berdebar-debar tak menentu. Perlahan Tea melangkah keluar melalui pintu depan yang terbuka.

“Hei…”

Mendengar suara Tea, Sony berbalik, dan tersenyum lebar.

“Teaaa…! Ga kemana-mana Te?”

Tea tersenyum, dan memandangi Sony. Hmmm. Ada yang berbeda dengan Sony kali ini. Kemeja merah cerah dengan lengan yang digulung sampai batas siku, dilapisi vest rajutan warna hitam bercorak motif geometris putih-biru di bagian dada. Bahkan ada selembar syal warna putih yang diselempangkan Sony di lehernya. Jeans hitamnya terlihat pas dengan kemeja dan vest itu, Bahkan sepatu kets hitam Sony terlihat lebih bersih daripada biasanya.

Tea belum pernah melihat Sony yang seperti ini. Sony yang…keren. Beuh. Bisa juga si juragan kue itu tampil kayak artis Korea gitu.

“Kamu udah sembuh beneran Son? “ tanya Tea, melihat wajah Sony yang terlihat sedikit pucat. Meskipun agak pucat, sebuah senyuman lebar khas Sony masih ada di wajah manis itu.

“Ya..gitu deh. Tapi udah lumayan banget kok.” jawab Sony. “Buktinya gua udah nyampe sini kan?” katanya lagi sambil tersenyum lucu.

“Kamu…mau kemana, atau habis dari mana sih? Tumben banget rapi gitu?” tanya Tea sedikit penasaran.

Ditanya seperti itu, sontak wajah Sony memerah. “Emang kenapa? Ga pantes ya? Kata Putri udah bagus kok…”

Tea mengangkat alis, semakin heran. “Putri? Kamu tadi ke rumah Putri dulu atau gimana sih?”

“Enggak sih, Putri yang singgah doang bentar ke rumah gua. Ya gitu… Tapi dia sama Nico kok ke rumah gua. Ga sendirian.” Sony terlihat semakin gugup. Pikirannya melayang kembali pada keributan tadi pagi di kamar Sony.

Tadi pagi Putri lah yang membongkar lemari pakaian Sony dan memilihkan ‘kostum’ yang menurut Putri paling layak. Nico yang saat itu juga (tentu saja) ada di tempat kejadian, terus menerus tertawa puas melihat Sony yang gelabakan saat Putri berusaha mendandaninya. Tapi paling tidak Sony berhasil mencegah Putri berbuat lebih banyak dari sekedar memilihkan pakaian. Walaupun Putri berusaha mati-matian meyakinkan Sony bahwa dengan bantuan sedikit gel dia bisa membuat rambut Sony jadi ‘oh-jauh-lebih-keren-daripada-gaya-ala-kadarnya-yang-sekarang-ini’, dengan tegas Sony menolak Putri menyentuh rambutnya.

Oh, oke. Bukan hanya Sony.

Nico pun langsung protes dan mengamankan Putri dari menyentuh rambut Sony, dengan alasan, hanya rambut Nico lah yang berhak dibelai oleh Putri. Sony sebetulnya juga ingin menolak untuk memakai syal putih yang ditemukan Putri terselip di bagian bawah lemari Sony. Tapi apa daya, dengan wajah dingin Putri berkata dengan mantap, “Gua serius waktu gua bilang lo cocok pake syal ini Son. Dan sumpah, I swear by my newest shirt from Mango Son, kalo lo ga mau pake syal ini, gua bakalan makein sendiri ke leher elo dengan sedikit terlalu ketat, sampe lo ga bisa nafas… And You know me so well, that You know I will definitely do it…”.

Bisa ditebak, daripada mati mendadak karena dicekik Putri dengan selembar syal, Sony pun mengalah dan menJiempangkan syal itu.

Ingatan Sony akan kerusuhan tadi pagi di kamarnya dipupuskan oleh pertanyaan lanjutan dari Tea.

“Emang Putri sama Nico ngapain ke rumah kamu pagi-pagi?”

“Hah? Oh, mereka berdua..um… mau ngajakin gua maen ular tangga…”

“Apa? Ular tangga Son?”

“Eh, salah. Ngajakin maen monopoli…”

“Sonyyy…”

“Lo mau maen monopoli juga ga Te?”

“Sony aaahh…”

“Ga mau ya? Ya udah. Bagus deh kalo gitu, soalnya gua kesini bukan mau ngajakin elo maen monopoli Te.”

Tea terdiam. Merasakan hatinya berdebar. Senang.

“Terus kamu kesini mau ngapain?”

“Mau ngajakin elo piknik…”

Tea terpana memandang Sony. Apa kata Sony tadi? Piknik? Sedetik kemudian, Tea tertawa geli. Membuat Sony semakin merasa kikuk.

“Yah, Tea ga mau ya?”

Tea masih tertawa sebelum menjawab, “Kamu itu lho Son, kayak tahun 70an gitu… Piknik…”

“Mau ga nih Te?”

Tea tersenyum, kenapa tidak? Toh hari ini cerah. Dan siapa yang bisa menolak jika diajak pergi oleh Sony? Kalau ada yang menolak, yang pasti bukan Tea. Karena Tea mengangguk kecil sambil menjawab pertanyaan Sony. “Boleh deh Son… Mau kemana?”

“Gimana entar deh… Yuk… berangkat!”

“Eh, aku ganti baju dulu kali Sonyy…”

“Kenapa emangnya? Lo berasa ga pede ya berdampingan sama gua yang lagi keren-kerennya gini Te?” kata Sony sambil bergaya membetulkan rambutnya.

“Aku ga jadi ikut nihhh…!”

“Eh.. eh… Jangan pake ngambek gitu ah! Ya udah sana, ganti baju… Jangan lama tapi ya Te, nanti keburu gua jadi arca!”

Tea hanya tertawa, sebelum berlari kecil memasuki rumah dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di kamar, Tea dengan tergesa-gesa membuka lemari pakaiannya. Menggeser-geser pakaiannya yang tergantung disana, dengan setengah panik berpikir, apa yang mesti dia pakai sekarang ya? Apa gaun yang dipakai waktu nonton sama Aji kapan dulu itu aja ya? Ah, ga cocok ah. Itu kan gaun malam gitu… Sedangkan ini masih jam 10 pagi, dan kayaknya ga nyaman banget pake gaun itu kalau naik motor sambil boncengan sama Sony.

Euh, Boncengan sama Sony.

Tiba-tiba Tea merasakan debaran jantungya kencang kembali. Sambil menggelengkan kepalanya untuk membuang rasa gugup, Tea kembali memilih-milih pakaiannya. Sampai akhirnya Tea menarik sebuah gaun selutut lengan pendek berwarna hitam dengan corak kembang-kembang mungil berwarna merah. Hmm.. masa sih pagi-pagi gini pake warna hitam, pikir Tea. Tapi, kayaknya gaun ini serasi dengan baju yang dikenakan Sony tadi.

Tea merasakan kembali wajahnya tiba-tiba panas. Untuk apa coba dia mencocok-cocokkan bajunya dengan baju Sony? Tapi.. tapi… Ah, sudahlah… Dengan cepat Tea mengganti bajunya dengan gaun itu. Kemudian memandangi wajahnya dicermin. Tea melepaskan karet yang mengikat rambutnya, dan dengan terburu-buru menyisir rambutnya, sambil berpikir akan diapakan rambutnya nanti. Tea mengikat kembali rambutnya menjadi sebuah buntut kuda, dan tengah membuka laci meja riasnya untuk mengambil salah satu pita yang ada di dalamnya.

Tiba-tiba saja, ponsel Tea berdering nyaring, membuat Tea terloncat kaget. Dengan kesal, Tea mengambil secara acak tiga buah pita yang ada di laci tadi sekaligus dan beranjak ke tempat tidur untuk meraih ponselnya yang tergeletak di sebelah bantal. Tanpa melihat nama si penelepon, Tea langsung memencet tombol untuk menerima telfon yang masuk tersebut.

“Halo?”, Tea tidak bisa menahan sedikit nada ketus dalam suaranya. Lha orang lagi buru-buru gini kok…

“Teaaa!!! Kok lama bangeeettt… Lo ganti baju atau sekalian gali sumur sih? Gua udah mulai berubah jadi ijo roCo-roCo nih gara-gara belumut nungguin elo!”, Sony menyahut, dengan gayanya yang biasa. Mau tidak mau Tea tersenyum kecil mendengar suara Sony.

“Sony ih… sabaran dikit kenapaaaa...”

“Laper Te, kalo bekelnya gua makan sekarang, nanti pas pikniknya kita makan apa dong?”

“Kamu bawa bekel Son?”

“Kan mau piknik Te. Kalo bawa cangkul sih namanya mau bertanam jagung.”

“Bawa apaan?”

“Ya makanya Tea cepetan turun dong, biar tau gua bawa apa.”

“Iya..iyaa… ini lagi turun…” kata Tea lagi sambil menyambar tas kecilnya dari gantungan di pintu dan melangkah keluar. SeWilliama berlari kecil menuruni tangga, Tea mematikan sambungan dan melangkah ke teras, dimana Sony tengah duduk di bangku teras menunggunya. Begitu melihat Tea muncul, Sony langsung tersenyum lebar.

“Akhirnyaaa… gua tadi udah mau nawarin sekop lho Te, gua kirain lo lagi gali sumur pake sendok nasi, makanya lama…”

“Kamu ni lho, ga sabaran banget” sahut Tea, setengah kesal setengah geli.

“Itu bawa-bawa pita mau diapain? Mau dipake apa mau dilelang?” Sony menunjuk pada 3 lembar pita yang masih digenggam Tea.

“Kamu sih Son pake acara nelfon segala, jadi aja aku ga sempet makenya…” jawab Tea.

Sony menarik salah satu pita yang berwarna putih dari genggaman Tea, dan mengacungkannya. “Pake yang ini aja ya?”

Tanpa menunggu jawaban Tea, Sony memegangi kedua pundak Tea dan memutar badan Tea, sehingga Tea sekarang berdiri membelakangi Sony. Sebelum Tea sempat protes, Sony sudah mengikatkan pita yang diambilnya tadi ke rambut Tea. Merasakan gerakan tangan Sony di kepalanya, Tea bisa merasakan panas menjalari seluruh wajahnya. Selesai memasangkan pita di rambut Tea, Sony kembali memutar pundak Tea agar mereka kembali berhadap-hadapan. Sambil tersenyum lebar Sony memasukkan kedua tangan ke dalam saku jeans hitamnya.

“Ciee… Manisnyaaa…” kata Sony memandangi Tea.

Tea mencoba tersenyum kecil, “Ya udah, mau berangkat sekarang?”

“Ga pamit dulu Te?”

Tepat pada saat Sony menyelesaikan kalimatnya, Mama keluar sambil menenteng sebuah baki berisikan dua buah gelas tinggi berisikan sirup merah dingin.

“Pamit kemana? Baru juga dateng… Diminum dulu dong…” kata Mama sambil meletakkan kedua gelas itu di atas meja teras.

“Eh, Mama.. Ini temen Tea Ma…” kata Tea, yang tiba-tiba merasa gugup. Dalam hati Tea berdoa supaya Sony tidak melakukan hal-hal yang memalukan. Mengajak Mama ke Monas, misalnya. Atau tiba-tiba menunjukkan bahwa ada Spiderman yang nemplok di jendela.

“Eh, Tante… Kenalkan Tante… saya Sony, temen sekelasnya Tea.” Sony menyalami Mama Tea sambil tersenyum lebar.

Mama Tea balas tersenyum saat menyambut uluran tangan Sony. Entah kenapa, senyuman teman anak gadisnya ini terlihat begitu ramah, membuat orang yang melihatnya jadi ingin ikut tersenyum juga.

“Oh iya Tante, saya mau minta izin ngajakin Tea jalan-jalan. Boleh ga Tan? Nanti Tea dibalikinnya ga kemaleman, ga kurang suatu apa, dan ga berubah wujud kok. Janji!”

Sementara Tea membelalakkan mata ke arah Sony, Mama Tea justru tertawa mendengar rentetan kalimat Sony.

“Boleh… Lagian hari libur gini kok… Tea juga kayaknya udah siap tuh?” kata Mama, sambil melirik ke arah anak gadis satu-satunya yang berdiri di sebelahnya.

“Makasih Tante…” sahut Sony dengan nada riang, “Tapi, boleh nanya dulu ga Tan?” lanjut Sony tiba-tiba.

“Kenapa?” Mama Tea balik bertanya.

“Itu, sirupnya boleh saya minum dulu ga ya?”

Mama Tea tertawa kembali mendengar pertanyaan Sony tadi. “Ya boleh dong… Minum dulu gih sebelum berangkat…”

“Makasih Tantee…” dengan wajah berseri-seri Sony duduk kembali dan meraih gelas yang ada di atas meja.
Mama Tea tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Ya udah deh, Mama masuk dulu ya Te…”, kata Mama Tea sebelum melangkah masuk kembali ke dalam rumah.

Tea duduk di kursi teras yang dipisahkan meja dari kursi yang ditempati Sony, dan memandangi Sony yang tengah menghabiskan isi gelasnya dalam beberapa kali tegukan. Setelah menutaskan isi gelasnya, Sony meletakkan gelas itu kembali di atas meja, dan menoleh menatap Tea.

“Udah?” tanya Tea. Sony terkekeh, dan mengangguk. Tea tersenyum, dan mengangkat kedua gelas itu untuk mengembalikannya ke dalam rumah. Beberapa saaat kemudian, Tea kembali keluar, dan menutup pintu.

“Yuk!” kata Sony sambil melangkah menuju sepeda motor. Tea mengikutinya dari belakang. Entah kenapa, merasa bahwa hari ini akan menyenangkan.
+++

Tea memandangi sekelilingnya dari bangku tua yang dia duduki. Sementara di sebelah kanannya, Sony merogoh tas ranselnya untuk mengeluarkan kotak bekal andalannya, dan dua kotak minuman teh dalam kemasan yang masih nampak berembun. Semuanya dideretkan Sony di sisi kanannya.

Tea memandang ke arah danau yang airnya berwarna hijau kebiruan di depannya. Bangku kayu yang dia duduki ini sepertinya sudah tua, buktinya catnya sudah terkelupas disana-sini. Tapi toh bangku itu tetap terasa
nyaman diduduki. Sisi taman tempat bangku yang mereka duduki berada memang agak tersembunyi di sisi belakang taman, sekitar 300 meter dari gerbang taman tempat Sony memarkir sepeda motornya tadi. Meskipun
demikian, rumput-rumput yang hijau di sekitar tempat itu terlihat tidak terlalu berantakan. Mungkin petugas kebersihan yang mereka papasi di depan taman tadi masih sempat membenahi taman itu sampai di sebelah
sini. Yang pasti, tempat ini terasa nyaman. Hijau. Teduh oleh segerombolan pohon yang daun-daunnya memayungi bangku yang tengah mereka duduki.

“Nih, buat Tea… Gua bikin sendiri tadi pagi.” Sony menyodorkan setangkup roti berisikan selai stroberi ke arah Tea.

Tea menoleh dan mengambil roti itu dari tangan Sony. Perlahan, dia menggigit dan mengunyahnya.

“Enak ga Te? Gua jago ya bikinnya?”

“Yaelah Son… cuma roti isi selai gini sih semua orang juga bisa bikin kaliii…” sahut Tea sambil tertawa geli.

“Yah, habis tadinya gua mau bikin klepon isi selai stroberi, malah didorong keluar dapur sama Nenek… Ya udah.. yang ada aja…”

“Lagian kamu itu lho Son, sukanya aneh-aneh aja.” Komentar Tea sambil tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Walaupun Tea tidak mau mengakuinya di depan Sony, roti selai stroberi itu terasa jauh lebih
manis dibandingkan roti isi manapun yang pernah dimakan Tea.

Selama beberapa menit selanjutnya, mereka hanya diam, menikmati bekal seadanya yang dibawa Sony. Sambil menikmati air danau yang tenang tanpa riak di hadapan mereka.

“Nih…” kata Sony sambil menyodorkan teh kotakan ke arah Tea. Tea menoleh untuk meraihnya, dan melihat ekspresi wajah Sony yang tengah menerawang.

“Sony? Mikirin apa?” tanya Tea sambil mengambil kotak minuman itu dari tangan Sony. Sony menoleh ke arah Tea, kemudian menaikkan kedua lututnya ke atas bangku dan meraih tas ransel yang ada di sebelahnya. Sony merogoh ke dalam tas itu, mengeluarkan kertas tebal putih gading dan menyerahkannya kepada Tea. Sambil mengangkat alis, Tea menerima kertas itu dan mulai membaca isinya. Beberapa saat kemudian, Tea tertawa, dan menepuk pundak Sony.

“OzzSonyyyy… Ya ampuuunnn! Selamat yaaa… seneng banget! Jadi kamu tinggal mikirin UN aja dong, ga usah mikirin mau ke universitas mana lagi yaa.. Kan udah diterima disini…”

Sony hanya tersenyum tipis. Memeluk kedua lututnya. “Kamu baca soal afiliasinya dual degreenya? Aku dapet jatah 2 semester terakhir di Melbourne, Te…”

Tea membelalakkan mata, kemudian membaca ulang surat itu. Oh iya. Beberapa baris terakhir menyebutkan bahwa gelar kedua yang diterima Sony dalam program dual degree ini akan diperoleh Sony melalui kuliah selama 2 semester di Melbourne University. Tea menoleh kembali ke arah Sony, yang masih memandang ke depan dengan tatapan menerawang.

“Wah, keren dong… ke luar negeri…”, dan di ujung kalimatnya, Tea merasa berat.

“Iya.” Sahut Sony. Diam sesaat. Lalu menoleh ke arah Tea, “Yang artinya aku mesti ninggalin kamu…”

Tea termangu, menatap mata Sony yang saat ini memandangnya. Sambil menggigit bibir, Tea menyerahkan kertas tadi kepada Sony. Sony memasukkan kertas itu kembali ke dalam ranselnya, lalu mengubah posisi duduknya hingga menghadap Tea, masih dengan kedua lutut yang dinaikkan ke atas bangku itu.

“Te.. Aku mau minta maaf…”
Tea memandang Sony, tidak memahami tujuan Sony mengucapkan permintaan maaf itu.

“Minta maaf kenapa? Kamu dapet beasiswa gini kok malah minta maaf sih?”

“Te, selama ini aku sudah bohongin kamu, aku sudah bohongin aku sendiri…”

Tea semakin tidak mengerti. Maka dia hanya berdiam diri, dan menunggu Sony melanjutkan kalimatnya.

Sony menumpukan dagunya di kedua lutut yang dipeluknya, tanpa mengalihkan pandangan dari Tea.

“Tau ga Te, selama ini aku menganggap kamu seperti apa?”

Tea menggeleng. Tapi setengah mati ingin tahu.

Sony menatap Tea dalam-dalam, dan tersenyum tipis, dengan ekspresi lembut. Perlahan, Sony menyentuh poni Tea dan membelainya lembut.

“Kamu itu...kayak peri. Peri kecil yang bermain di taman bunga bersama kupu-kupu…” kata Sony sambil membelai rambut di pelipis Tea. Begitu menyelesaikan kalimatnya, Sony menarik tangannya kembali, dan
menJiipkannya di bawah dagunya yang bertumpu pada kedua lututnya.

“Selama ini Te, aku merasa bahwa aku cukup puas hanya menjadi satu diantara sekian banyak rumput di taman bunga itu, yang bebas mengamati kamu menari dan bermain disitu.”

Sony tak sedetik pun melepaskan tatapannya dari bening kedua mata Tea. Sesaat dia menarik nafas, dan menyambung kalimatnya.

“Tapi lalu aku sadar. Kalau aku hanya sekedar menjadi rumput yang memandangi peri itu dari kejauhan, aku tidak bisa menjaga peri itu seutuhnya. Tidak bisa berlari untuk menangkap peri itu saat sayapnya mulai lelah dan terjatuh…”

“Tea.. “ kata Sony perlahan lagi, dan memiringkan kepalanya sedikit ke sebelah kiri. “Aku boleh jujur ga?”

Tea perlahan mengangguk. Berusaha setengah mati menahan harapan yang kini mulai membuat dadanya serasa ingin meledak.

“Kalau dulu aku sudah puas sekedar jadi rumput biasa… aku…”, Sony menghentikan kalimatnya sesaat. Sony menarik nafas panjang, lalu meneruskan kalimatnya.

“Aku pengen jadi rumah yang dituju oleh peri itu.. Yang bisa menjaga si peri kecil dari apapun, melindunginya untuk melawan panas dan dingin dunia bersama-sama…”.

Sony mengulurkan tangan kirinya ke wajah Tea, dan dengan lembut membelai pipi Tea dengan sisi dalam jari telunjuknya.

“Aku pengen menjadi rumah bagi peri kecil itu, menjadi tempat bagi dia untuk bersandar di saat lelah, menjadi tempat dimana dia bisa bercerita, menangis, bernyanyi, ataupun hanya sekedar duduk, diam, mendengarkan
bisikan angin…”

Bahkan untuk bernafas pun Tea merasa tak sanggup. Karena dia merasa takut kehilangan saat-saat ini. Saat-saat dimana setiap aliran darahnya terasa beriak begitu kencang.

“Tea…”, Sony meraih kedua tangan Tea, dan menggenggam jemari Tea.

“Aku tidak tahu apakah aku minta terlalu banyak. Aku tidak peduli Te. Yang aku tahu, aku akan terus menerus mengulangi kesalahan bodoh kalau aku tidak pernah berani untuk menyatakan ini semua kepadamu. Semua perasaan yang selama ini aku biarkan untuk melangkah sendirian tanpa arah, padahal seharusnya perasaan itu berlari untuk menggapaimu Te…”

Sony menggigit bibir. Menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Sony mempererat genggamannya di jemari Tea.

“Tea… Aku… sayang sama kamu. Sayang banget. Melebihi dari sekedar sahabat…”

Bahkan bahagia pun tidak bisa benar-benar yang bisa menggambarkan perasaan Tea saat ini. Saat mengetahui bahwa perasaan sederhana yang sempat disembunyikan di sudut hatinya ternyata tak sendiri.

“Te… Aku bener-bener sayang sama kamu. Boleh kan aku menemani kamu, menjaga kamu, menyayangi kamu lebih dari sekedar sahabat?”

Kalimat Sony tadi, adalah pertanyaan terindah yang pernah didengar Tea. Maka tak ada yang lebih mudah untuk Tea lakukan, selain menganggukan kepalanya. Meskipun perlahan, Tea berharap, bahwa tatapan matanya dapat berbicara lebih dari sekedar gerakan kepalanya tadi.

Sebuah senyum terlukis di bibir Sony. Dia melepaskan genggamannya dari jemari Tea, dan menempelkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Tea.

“Terima kasih Te…” ucap Sony perlahan, lalu menyambungnya lagi “Peri kecilku….”.

Tea merasakan semburat panas menyebar mulai dari telinga hingga pipinya. Tapi toh, Tea tidak peduli. Karena panas di wajahnya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang hangat di hatinya.

Dan tiba-tiba saja Sony tersenyum lucu, sambil mencubit kedua pipi Tea.

“Pipi Tea jadi meraaahh… Manisnyaaa…!!!”

“Aaahhh… Sony gitu ah…” seru Tea kesal sambil memukuli pundak Sony. Meskipun dalam hati dia merasa melayang. Senang.

Sony tertawa sambil merubah posisi duduknya kembali menjadi bersandar kembali di bangku itu. Sony meluruskan kedua kakinya ke depan sambil merogoh saku celananya.

“Untung aku tadi ga salah ngomong. Udah takut aja kalo tiba-tiba aku lupa yang mau aku omongin ke kamu Te. Padahal tadi malam udah setengah pingsan sepertiga kejang gua ngafalin kata-katanya” kata Sony sambil
menarik keluar selembar kertas yang terlihat sudah kusut dari saku jeans hitamnya. Sony lalu membuka lipatan-lipatan kertas itu dan menekuni isinya.

Dengan penasaran, Tea mendekatkan dirinya ke arah Sony, ingin ikut melihat isi kertas tadi. Tulisan Sony yang terlihat memenuhi kertas itu, lengkap dengan berbagai coretan disana-sini. Tea mengerutkan kening, meneliti beberapa kata yang sepertinya familiar, dan dua detik kemudian langsung tertawa.

“Ya ampun Sonyyy… jadi semua yang barusan kamu omongin ke aku tadi udah kamu siapin toh?” kata Tea sambil mendorong pundak Sony.

“Eh, jangan salah. Udah dibilangin aku bingung banget nyari kata-kata yang pas. Ini perjuangan banget tau, nyari kalimat-kalimat romantis kayak gini! Gua aja sempet kepikir, kayaknya ngerjain 20 halaman soal trigonometri berasa lebih gampang daripada jadi mendadak romantis gini!” kata Sony dengan badan sedikit condong ke samping akibat dorongan Tea tadi. Sony masih mencermati kertas tadi dengan kening berkerut, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Tea.

“Eh, Te! Kayaknya akhirnya tadi malah banyak yang spontan deh. Soalnya banyak banget kata-kata yang ternyata ga sama kayak rencana aku semula. Terus yang bagian ‘menemanimu meskipun hanya dengan sebatang lilin’ juga ketinggalan… Aku ulangin ngomongnya ya… Biar lebih romantis gimanaaa… gitu!”

“Kalo kamu ulangin, jawabannya aku ganti lho…” Tea setengah mengancam, meskipun sambil tertawa geli.

“Yah, pake ngambek dia… Ayolah Te, kapan lagi coba aku jadi romantis gini??”

Tea semakin tertawa. Hingga akhirnya Sony ikut tertawa. Setelah tawanya reda, Sony menoleh kembali ke arah Tea, masih dengan sebuah senyuman.

“Tapi kayaknya, aku bikin contekan atau enggak, aku ngafalin mau ngomong apa, tetep ga ngaruh. Soalnya begitu aku ngeliat wajah kamu tadi, semua hafalanku hilang begitu aja… Yang ada di pikiranku cuma satu, aku harus mengatakan semua yang selama ini aku rasakan ke kamu Te, meskipun itu mungkin sama sekali ga kedengeran romantis bagi kamu. Yang ada di pikiran aku, aku bener-bener ga pengen kehilangan kesempatan untuk menjadi seseorang yang tidak hanya sekedar mengagumi dan menyayangi kamu dari jauh, tapi juga untuk menjadi sesorang yang bisa selalu menemani dan menjaga kamu…”

Tea tidak menjawab, hanya membalas senyuman Sony. Tea tahu, Sony tidak perlu kata-kata untuk mengerti, bahwa senyuman Tea berarti satu hal: Tea sama sekali tidak keberatan atas pilihan kata Sony, karena toh semua kata itu bermuara pada suatu makna yang sama. Bahwa perasaan mereka tak perlu lagi menari sendiri di jalan masing-masing.

“Te, pulang yuk. Ntar keburu panas di jalan…” kata Sony sambil berdiri. Dia berbalik menghadap Tea, dan mengulurkan tangannya ke arah Tea.

Tea tersenyum, dan meraih tangan Sony saat dia bangkit untuk berdiri.

“Eh, ntar Te...” kata Sony sambil melepaskan tangannya dari jemari Tea. Sony merogoh ke saku kanan jeansnya, mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kertas kado berwarna ungu bergaris-garis pink dan menyerahkannya kepada Tea. “Buka deh… buat Tea…” kata Sony saat Tea meraih bungkusan itu.

Tea merobek kertas kado itu, dan menemukan sebuah bros mungil berbentuk bunga berkelopak lima, dengan sebuah lingkaran mengelilingi bunga itu. Di bawah cahaya matahari, kristal-kristal warna-warni yang menghiasi
bros itu nampak berkilau. Tea memandangi bros itu, lalu mengangkat wajahnya menatap Sony sambil tersenyum.

“Makasih ya Son…”

Sony mengangguk kecil, kemudian melepaskan syal yang melilit di lehernya, dan mengalungkannya melingkari pundak Tea. Dia lalu mengambil bros yang ada di tangan Tea tadi, dan menyematkannya di syal yang melingkari pundak Tea. Setelah itu, Sony mundur sedikit ke belakang, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memandangi Tea sambil tersenyum.

“Peri kecilku…” kata Sony sekali lagi. Lalu mengulurkan tangannya lagi. “Pulang yuk…”

Tea mengangguk, dan meraih tangan Sony. Untuk melangkah bergandengan.

Sambil berjalan bergandengan, Sony bersiul-siul dengan riang. Tapi tiba-tiba, tanpa menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Tea.

“Eh Te, kayaknya ada satu hal lagi deh yang aku mesti jujur ke kamu…”

“Apaan?”

“Tapi kamu jangan marah yaa…”

Tea menoleh, sambil mengangkat alis. Sementara Sony malah membuang pandangan, menatap lurus ke depan.

“Apaan Son?”

“Syal yang sekarang kamu pake itu lho, itu kan yang nemuin di lemariku si Putri. Aku aja udah lupa beli syal itu pas kapan dan dalam rangka apa. Kayaknya udah lama banget gitu…”

“Trus?”

“Nah, jadi aku juga lupa, kapan terakhir kali syal itu dicuci…”

“OzzSonyyyyy…” Tea mulai memukuli pundak Sony lagi dengan tangan kirinya yang masih bebas.

“Eh, tapi begitu Putri tau, dia langsung nyemprot syal itu pake parfumnya dia kok..! Kan kamu tau sendiri kalo parfum Putri mahal-mahal gitu, pasti wangi kok!!”

“Ah, Sony gitu deh… Nyebelin aaahhh…” dengan gemas Tea mendorong pundak Sony, meskipun Sony tetap menahan jemari tangan kanan Tea dalam genggamannya sambil terus berjalan.

“Tea… kan tadi udah dibilangin jangan marah.. Jangan marah dong Sayaaaang…”

“Hah? Apa kamu bilang tadi??”

“Saaayaaaaang…. Jangan marah doooongg…” kata Sony menggoda Tea.

“Aaaah… Geli tau, dengernya!!!”

“Saaaayaaaangg…” kata Sony lagi sambil mencondongkan kepalanya sedikit ke samping hingga menjadi lebih dekat ke telinga Tea dengan senyuman jahil.

“SONY! GELI, TAUK!!!”

“Hahahaha… tapi kamu mesti belajar membiasakan diri mendengarnya lho Teaa…” sahut Sony sambil tertawa.

Tea tidak bisa menahan senyumnya. Dia terus melangkah, sambil balas menggenggam jemari Sony yang ada di sisinya. Dia tahu, tidak akan sulit baginya untuk terbiasa merasakan kehadiran Sony di sisinya. Untuk terus
menjaga perasaan sederhana mereka terus tumbuh mengelilingi hati mereka berdua.

Berdua.

Karena sang peri kecil kini sudah punya rumah untuk dituju, rumah yang akan menyambutnya dengan kehangatan pancaran cahaya matahari yang mengisi setiap sudut di hati peri itu.


Layaknya gelap malam, yang indah
karena bFifing
Layaknya sang penyair, yang elok karna puisi
Bagiku kau bFifing, selayak puisi…
Tetaplah disini peri kecilku
Bagiku kau bFifing, selayak puisi
Temani aku selamanya…
Selamanya…
(Temani aku, by Sheila On 7)
=== TAMAT ===

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar