I Love You, I Love You Not II

PART II
Ni part 2 nya...
******

Saat melangkah keluar kelas, Sony memecah diam diantara mereka, “Ga nyangka banget ya, si Nico akhirnya bisa damai juga sama Putri? Gua sempet curiga, jangan-jangan Nico tadi pagi sarapan pake pecahan genteng dulu kali ya sampai bisa berubah sikap gitu ke Putri…”

Tea tertawa. Belum sempat Tea menanggapi kalimat tadi, Sony sudah menyambung dengan kalimat lain. Yang dibalas Tea. Lalu disambung dengan komentar lucu dari Sony, yang membuat Tea tertawa lagi. Terus begitu. Tea sendiri tidak begitu ingat, apa saja yang diobrolkannya dengan Sony sepanjang koridor. Yang dia ingat, dia merasa begitu nyaman. Dia merasa begitu nyaman hanya dengan mendengar suara Sony yang renyah, mendengar irama tawa Sony yang seperti bernyanyi, melihat mata Sony yang berseri-seri. Dan setiap derai tawa Sony selalu menggiringnya untuk ikut tertawa pula.

Sampai di lapangan parkir, Sony menghentikan langkahnya, hingga Tea juga ikut berhenti. Sony menoleh ke arah Tea.

“Pulang naik apa Te? Bawa mobil sendiri?”

Tea menggeleng, menunjuk ke arah mobil yang menunggu di luar pintu gerbang. “Dijemput Pak Wawan, sopirnya aku” kata Tea.

“Oh.” Sahut Sony sambil membetulkan letak ranselnya. “Ya udah, sana gih, kasian kalo sopirmu nungguin kelamaan. Udah ditemenin sampe sini kan? Gua baik hati kan???”

Tea tertawa sambil mendorong pundak Sony, “Yaelah, kamu bawaannya narsis mulu ih Son… Ga capek gitu narsis melulu gitu?”

Sony hanya tertawa kecil. Tea lalu membenahi letak tasnya, melemparkan seulas senyum pada Sony, “Ya udah, aku pulang duluan ya Son!”, lalu mulai melangkah menuju Kijang InMilka silver, dimana Pak Ony sudah menunggunya. Tea baru berjalan beberapa meter ketika suara Sony memanggilnya lagi.

“Tea!”

Tea terdiam. Menunduk. Merasakan semburat hangat yang mulai menjalar di pipinya. Dia lalu berbalik, tepat ketika Sony tengah berjalan mendekatinya. Dan Tea tidak mampu bergerak, ketika Sony semakin mendekat, hingga akhirnya hanya berada sejangkauan tangan di hadapannya. Tea mengerahkan segenap kekuatannya yang tersisa untuk mengangkat wajah, hingga pandangan matanya beradu dengan tatapan teduh mata Sony.

Sony tersenyum, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah rambut Tea. Sambil sedikit mengerutkan kening, Sony melepaskan jepit rambut mungil berbentuk bFifing yang diselipkan Tea untuk menahan rambutnya agar tak jatuh menutupi mata kiri.

Tea nyaris tak berani bernafas, meskipun dia menikmati setiap sentuhan Sony di rambut dan pelipisnya. Sony kemudian menJiipkan kembali jepit itu di rambut Tea, agak ke atas dari posisinya semula. Sony lalu menegakkan tubuh kembali, memandangi hasil kerjanya dan tersenyum.

“Sori, tadi jepitmu kayaknya rada longgar dan miring dikit. Kasian matamu kena ujung rambut gitu…” Sony memberi alasan atas sikapnya tadi. Walaupun Tea sesungguhnya tak memerlukan alasan itu.
Tea menyentuh kembali jepit rambutnya, lalu tersenyum memandang Sony. “Makasih Son…” katanya pelan, yang dibalas Sony dengan anggukan kecil. Tea berbalik kembali dan melangkah ke arah pintu gerbang. Di pintu gerbang, dia berbalik sebentar, dan melambai kecil ke arah Sony. Sony yang masih tegak disana balas melambai.

Tea berlari kecil menaiki mobilnya. Pak Ony tersenyum melihat Tea. Saat Tea memasang sabuk pengaman, Pak Ony menyalakan mesin mobil sambil bertanya.

“Mas nya yang tadi pacarnya Mbak Tea ya?”

Tea menoleh cepat, merasakan wajahnya memanas kembali.

“Pak Ony apaan iiihh… Kok nanya yang aneh-aneh gitu?”

“Habis, kayaknya tadi Mbak Tea seneng banget habis bareng sama Mas yang tadi…” sahut Pak Ony sambil memundurkan mobil.

“Ah, ga juga ah Pak…”

“Trus, yang tadi siapanya Mbak Tea dong?” Pak Ony masih terus bertanya sambil memutar arah mobil.

“Enggak kok Pak, teman biasa aja…” kata Tea sambil memalingkan wajah ke arah jendela di sampingnya. Tapi sambil melirik, Pak Ony bisa melihat betapa warna merah meronai pipi Tea, membuat Pak Ony tersenyum geli.


Sony memandangi Kijang InMilka tadi bergerak menjauhi gerbang sekolah. Tangannya tersimpan di balik saku celananya. Dia masih bisa merasakan kelembutan rambut ikal Tea di antara jemarinya tadi. Keharuman samar aroma apel yang menguar dari rambut Tea tadi masih terasa. Bola mata Tea yang bening, ekspresi wajah Tea yang manis seperti seorang peri kecil masih lekat di benaknya.

Sony menghela nafas. Berat.

Pikirannya memutar kembali adegan dimana wajah manis itu memerah saat nama Aji disebut. Maka Sony pun berbalik arah, dan melangkah menuju sepeda motornya yang menunggunya disana. Iya. Sepeda motor biasa. Bukan ToCota Yaris warna merah menyala yang dikemudikan Aji setiap hari ke sekolah.
Sony sudah menaiki motor dan baru akan menstarternya ketika sebuah suara memanggil Sony.

“Son!”

Sony menghentikan gerakannya, dan mengerutkan kening. Tapi ketika melihat si pemanggil yang tengah berjalan mendekatinya, Sony langsung tersenyum.

“Eh. Pak Nur. Belum pulang Pak?”

Pak Nur menggeleng sambil tersenyum. “Belum, tadi habis ngoreksi PR anak kelas 11 dulu, tanggung kalo mau ditinggal”. Pak Nur lalu merogoh tas yang dibawanya.

“Eh Son, tadi Bapak sebenarnya mau ngomong ke kamu tentang sesuatu hal…”

“Soal proyek buku sekolah itu Pak? Tenang aja Pak… Besok saya dan yang lain udah mau mulai kerja kok…” tukas Sony.

Pak Nur menggeleng sambil menarik sebuah amplop coklat berukuran A4 dari tasnya. “Bapak mau ngasih tau kamu soal ini.” Kata Pak Nur sambil menyerahkan amplop itu pada Sony. Sony menerima amplop itu dengan pandangan bertanya.

“Liat aja isinya dulu…” kata Pak Nur. Sony merogoh amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar brosur yang dicetak apik di atas kertas mengkilap. Jemari Sony merasakan licinnya kertas tersebut saat dia membolak-baliknya. Sony mulai mencermati isi brosur tersebut.

“Bapak pikir, kamu mungkin tertarik. Lebih dari itu, Bapak yakin, kalau kamu bisa Son…” kata Pak Nur, sementara Sony terus membaca isi brosur itu. Sony lalu mengangkat wajah, dan tersenyum menatap Pak Nur.

“Oh iya, tolong kasih tau Nico juga ya, tadi Bapak tidak sempat ketemu dia lagi.” Pak Nur menambahkan.

“Makasih Pak!” kata Sony sambil memasukkan kembali brosur-brosur itu ke dalam amplop.

“Bapak percaya sama kamu Son.” kata Pak Nur. Beliau lalu menepuk pundak Sony, “Bapak sudah percaya sama kamu semenjak dulu…”

Sony mengangguk. Dan bertekad, akan berusaha sekuat tenaga. Suatu harapan mulai muncul di hatinya.

“Bapak duluan Son!” kata Pak Nur lagi.

“Silakan Pak, saya juga sudah mau pulang kok…” sahut Sony. Pak Nur tersenyum kembali dan berjalan meninggalkan Sony.

Sony menstarter motornya kembali. Kali ini, dengan secercah harapan baru yang muncul di dalam hatinya.
+++

“Euh… temen-temen… Jadi gimana nih? Yang soal proyek buku sekolah nanti?” tanya Tea, berusaha memulai.

“Kita bagi tugas aja dulu!” kata Sony. “Tea kan suka nulis ya Te? Perasaan yang suka bikin artikel-artikel di mading waktu kelas 11 elo kan Te? Nah… Jadi untuk nulis artikelnya Tea ajaaa…”

Tea mengangguk, “Trus, elo sama yang lain ngapain Son?”

“Gua sebenernya suka ngegambar-gambar gitu. Yah… Bagus banget juga enggak sih, tapi lumayan lah. Jadi mungkin gua bagian ilustrasinya aja kali ya…” kata Sony

“Son, perasaan yang disuruh Pak Nur jadi koordinator kan Tea Son, kok malah elo yang bagi-bagi tugas sih?” tukas Nico.

“Eh, gapapa kok… Beneran…” sahut Tea, “Gua malah seneng kok dibantuin gini. Terus yang lainnya ngapain nih Son?”

“Ya udah, gua bagian nimba air aja deh… kan tadi yang disebut-sebut Sony sama Pak Nur kalo gua tu tukang timba air…” Nico nampaknya masih agak kesal dengan Sony.

“Yaelah Nicooo… Gitu aja ngambek. Ah, ga seru ah Nico…” kata Sony, “Co, bukannya lo pernah bantu-bantu Oom lo yang jadi fotografer gitu? Ya udah, lo ngerjain bagian yang berhubungan dengan dokumentasinya aja…” lanjut Sony.

“Ye.. itu kan dulu Son. Om Chiko kan studio fotonya kecil-kecilan aja, bukan fotografer profesional macam Darwis Triadi gitu. Lagian juga gua ga punya kamera…” kata Nico.

“Pinjem punya gua aja…” Putri yang dari tadi diam tiba-tiba menyuarakan sarannya. Semua mata sekarang memandang ke arah Putri. Putri mengangkat bahu, “Gua punya kok di rumah. Yah, bukan punya gua sih, punya kakak gua. Tapi waktu dia berangkat kuliah ke Singapur, dia tinggal tuh. Ya udah, pake aja…”

“SIP!!” seru Sony. “Terus, lo mau ngapain Put?” tanyanya lagi.

“I’ll do the lay-out things…” sahut Putri dengan santai, “Gua suka ngerjain yang kayak gitu pake komputer.”

“Ya udah deh kalo gitu… Terus gimana nih kelanjutannya? Kayaknya mesti ngumpul bareng dulu kali ya buat merumuskan konsepnya mau gimana…” kata Tea.

Putri melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap ke arah langit-langit, dengan pandangan menerawang. Dia tiba-tiba lalu menatap ketiga temannya.

“Besok, hari Minggu kan ya? Besok pagi kalian pada ngumpul di rumah gua aja bisa? Sekalian biar Nico ngambil kamera. I guess 10 o’clock would be just the right time, not too early, tapi juga ga siang banget. Gimana?”

Wow. Ini entah untuk keberapa kalinya Putri memberikan kejutan bagi mereka semua di hari ini.

“Okeeee…” sahut Sony dengan ceria, lalu merangkul Nico di sebelahnya, “Ntar gua ke sana bareng sama Nico deh ya? Ya kan Co?” katanya sambil memandang Nico. Nico tersenyum kecil, lalu mengangguk.

Putri menoleh ke arah Tea. “Lo gimana Te? Bisa?”

Tea menatap Putri. Maen ke rumah selebritisnya sekolah? Wow. Memangnya kesempatan sekeren ini bisa ditolak? Tea mengangguk cepat. “Sip. Besok jam 10 ya…”

“Putri! Lo belum pulang aja? Bareng yuk?” suara Sonia terdengar dari pintu. Aji dan Marco berdiri di belakang Sonia. Putri menoleh ke arah Sonia.

“Okay, I’ll join You in a second…” Putri lalu menoleh kembali ke arah teman-temannya. Sambil berdiri dan menJiempangkan tasnya, dia tersenyum.

“Okay, jadi ketemu besok di rumah gua ya?”

“Put! Alamatnya?” tanya Sony.

Putri belum sempat menjawab, Nico sudah mendahuluinya. “Gua tahu kok. Ntar gua catetin buat elo deh Te. Son, lo besok bareng gua kan?”

Putri merasa wajahnya panas. Sambil menunduk, Putri mengambil buku tulis Sony yang masih ada di atas meja, dan menuliskan sejumlah angka di halaman paling belakang buku itu.

“Nih, gua kasih nomer henfon sama nomer telfon rumah gua aja deh jadinya ya?” katanya lagi sambil menyodorkan buku itu kepada Sony.

Setelah melempar senyum sekali lagi ke arah teman-teman sekelasnya, dia lalu melangkah keluar menghampiri Sonia yang mulai nampak tidak sabar menunggunya.

Sambil berjalan di koridor, Sonia berbisik pelan pada Putri, “Ngapain lo sama mereka tadi?”

Putri mengangkat bahu, “Oh, mereka temen-temen gua buat ngerjain proyek sekolah…”

Sonia menatap Putri lagi, “Sejak kapan lo punya temen selain kita?”

Putri balas menatap Sonia, “Sejak kapan lo punya hak buat ngatur gua bolehnya temenan sama siapa aja?”

Sonia mengalihkan pandangan lurus ke depan, “Put, inget. Lo punya reputasi sosial di sekolah ini. Lo mesti jaga itu. Dan anak-anak tadi, mereka jelas bukan di level yang sama dengan kita…”

Putri menghela nafas dengan kesal. “Whatever… It’s just a school project, okay? Happy now? Puas lo?”

Sonia memandang Putri, lalu tersenyum seakan-akan tidak ada apa-apa yang terjadi, “Eh, makan siang di Sushi Groove yuk!”, Sonia tidak menunggu jawaban Putri, melainkan langsung menoleh ke arah Aji dan Marco yang berjalan santai di belakang mereka, “Ji, Marco, kalian ikut kami kan?”

Marco mengangguk dengan wajah tidak peduli, tangannya menyibakkan sebagian rambutnya yang ditata gaya Harajuku. Aji mengangguk sambil tersenyum, “Boleh deh… Lagian aku juga udah laper. Kamu juga udah laper ya Put?”

“Lumayan” sahut Putri, tanpa menoleh ke arah Aji.

“Oh iya Put, Mamamu tadi nelfon aku, katanya mobil kamu masih di bengkel. Jadi kata Mamamu, daripada nunggu dijemput sopir kamu, kamu pulangnya biar dianterin aja sama aku” kata Aji, sambil memanjangkan langkahnya, berusaha mengiringi Putri.

Putri menoleh ke arah Aji, menarik nafas, lalu tersenyum kecil. “Thanks, that’s so Sone of You..”. Aji membalas senyum Putri. Putri menarik nafas lalu menatap ke depan kembali. Entah kenapa, saat ini dia merasa lebih suka pulang naik bus. Berdua. Bersama Nico.
***

Sementara itu, Sony dan Tea di kelas menatap Nico, mencari penjelasan.

“Kok kamu bisa tahu alamat rumahnya Putri sih?” tanya Tea penasaran, sambil menunggu Nico menuliskan alamat rumah Putri di secarik kertas.

“Iya Co, emang lo pernah ke rumah dia?” lanjut Sony.

Nico mengangkat bahu, menyerahkan alamat rumah Putri pada Tea, “Ga juga, gua kebetulan kemaren ada jadwal di komplek deket-deket rumah Putri, terus gua liat dia lewat di daerah situ…” sahut Nico sambil memakai ranselnya.

“Ah, ngarang banget sih lo? Kalo cuma ngeliat Putri lewat, kok lo bisa tahu detil alamat rumahnya gitu?” Sony mengerutkan kening sambil membaca tulisan Nico di kertas yang baru saja diserahkannya pada Tea.

“Ada jadwal? Jadwal apaan Co? Aku ga ngerti deh…” tanya Tea penasaran dengan kalimat Nico.

“Ya adalah pokoknya. Ah, udah ah, kalian malah pada cerewet gitu. Gua duluan ya…” Nico berdiri dari kursinya, lalu melangkah keluar kelas.

Tea dan Sony berpandangan, lalu sama-sama mengangkat bahu. Sambil menJiempangkan tasnya di bahu, Tea mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.

“Son, tinggal kita berdua lho ternyata…” kata Tea begitu menyadari bahwa semua teman sekelasnya sudah pulang.

Sony berdiri sambil mengenakan ranselnya. “Bentar lagi malah tinggal elo sendiri Te. Gua mau pulang. Lo mau ngeronda disini? Gua mah ogah…” kata Sony sambil melangkah keluar dari bangkunya.

“Sony! Aku jangan ditinggalin dong…” Tea refleks menahan lengan Sony. Dia lalu terkesiap, apalagi ketika Sony berbalik arah, memandang wajah Tea, sambil tetap membiarkan Tea menggenggam lengannya.

Tea menggigit bibir, lalu memberanikan diri mengangkat wajah, memandang Sony. Sony tengah tersenyum, dengan sorot mata yang begitu teduh. Dan entah kenapa, keteduhan mata Sony itu membuat Tea merasakan kehangatan yang nyaman. Yang membuatnya merasa enggan melepaskan genggaman jemarinya yang tengah melingkar di lengan Sony.

“Umm… Maksud aku, keluarnya bareng aja…” kata Tea pelan. Lalu dengan enggan melepaskan genggamannya.

Sony merasakan degup jantungnya yang tak beraturan. Saat jemari itu melingkari lengannya, Sony merasa seperti berjalan di awan. Sony memutar badannya, menghadap Tea. Sambil berdoa, semoga peri kecil itu jangan sampai melepaskan jemarinya. Jangan dulu. Sony berusaha tersenyum saat memandang wajah Tea. Tapi, bukankah siapapun pasti akan tersenyum begitu melihat mata bulat yang bening itu? Yang kini tengah menatapnya dengan penuh harap. Jika ini memang mimpi, maka Sony belum ingin bangun. Walaupun ada 251 jam weker berbunyi sekaligus, sungguh, Sony tidak ingin terbangun dari mimpinya.

Kalimat terakhir Tea menyadarkan diri Sony. Apalagi ketika Tea dengan canggung perlahan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Sony. Sony menarik nafas perlahan,lalu menghembuskannya kembali. Berusaha tetap tersenyum.

“Ya udah. Yuk, mau pulang sekarang?” tanya Sony pada Tea, sambil sedikit memiringkan kepala ke kanan.
Tea mengangguk perlahan. Sony berbalik, mulai melangkah, sementara di sebelahnya Tea menjejeri langkahnya. Di dalam hati, Tea ingin menggandeng lengan itu. Karena Tea menyukai perasaan hangat yang menyelimuti hatinya saat dia menggenggam lengan Sony tadi. Tapi, kan seharusnya dia tidak merasa seperti ini dengan Sony?

Saat melangkah keluar kelas, Sony memecah diam diantara mereka, “Ga nyangka banget ya, si Nico akhirnya bisa damai juga sama Putri? Gua sempet curiga, jangan-jangan Nico tadi pagi sarapan pake pecahan genteng dulu kali ya sampai bisa berubah sikap gitu ke Putri…”

Tea tertawa. Belum sempat Tea menanggapi kalimat tadi, Sony sudah menyambung dengan kalimat lain. Yang dibalas Tea. Lalu disambung dengan komentar lucu dari Sony, yang membuat Tea tertawa lagi. Terus begitu. Tea sendiri tidak begitu ingat, apa saja yang diobrolkannya dengan Sony sepanjang koridor. Yang dia ingat, dia merasa begitu nyaman. Dia merasa begitu nyaman hanya dengan mendengar suara Sony yang renyah, mendengar irama tawa Sony yang seperti bernyanyi, melihat mata Sony yang berseri-seri. Dan setiap derai tawa Sony selalu menggiringnya untuk ikut tertawa pula.

Sampai di lapangan parkir, Sony menghentikan langkahnya, hingga Tea juga ikut berhenti. Sony menoleh ke arah Tea.

“Pulang naik apa Te? Bawa mobil sendiri?”

Tea menggeleng, menunjuk ke arah mobil yang menunggu di luar pintu gerbang. “Dijemput Pak Wawan, sopirnya aku” kata Tea.

“Oh.” Sahut Sony sambil membetulkan letak ranselnya. “Ya udah, sana gih, kasian kalo sopirmu nungguin kelamaan. Udah ditemenin sampe sini kan? Gua baik hati kan???”

Tea tertawa sambil mendorong pundak Sony, “Yaelah, kamu bawaannya narsis mulu ih Son… Ga capek gitu narsis melulu gitu?”

Sony hanya tertawa kecil. Tea lalu membenahi letak tasnya, melemparkan seulas senyum pada Sony, “Ya udah, aku pulang duluan ya Son!”, lalu mulai melangkah menuju Kijang InMilka silver, dimana Pak Ony sudah menunggunya. Tea baru berjalan beberapa meter ketika suara Sony memanggilnya lagi.

“Tea!”

Tea terdiam. Menunduk. Merasakan semburat hangat yang mulai menjalar di pipinya. Dia lalu berbalik, tepat ketika Sony tengah berjalan mendekatinya. Dan Tea tidak mampu bergerak, ketika Sony semakin mendekat, hingga akhirnya hanya berada sejangkauan tangan di hadapannya. Tea mengerahkan segenap kekuatannya yang tersisa untuk mengangkat wajah, hingga pandangan matanya beradu dengan tatapan teduh mata Sony.

Sony tersenyum, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah rambut Tea. Sambil sedikit mengerutkan kening, Sony melepaskan jepit rambut mungil berbentuk bFifing yang diselipkan Tea untuk menahan rambutnya agar tak jatuh menutupi mata kiri.

Tea nyaris tak berani bernafas, meskipun dia menikmati setiap sentuhan Sony di rambut dan pelipisnya. Sony kemudian menJiipkan kembali jepit itu di rambut Tea, agak ke atas dari posisinya semula. Sony lalu menegakkan tubuh kembali, memandangi hasil kerjanya dan tersenyum.

“Sori, tadi jepitmu kayaknya rada longgar dan miring dikit. Kasian matamu kena ujung rambut gitu…” Sony memberi alasan atas sikapnya tadi. Walaupun Tea sesungguhnya tak memerlukan alasan itu.
Tea menyentuh kembali jepit rambutnya, lalu tersenyum memandang Sony. “Makasih Son…” katanya pelan, yang dibalas Sony dengan anggukan kecil. Tea berbalik kembali dan melangkah ke arah pintu gerbang. Di pintu gerbang, dia berbalik sebentar, dan melambai kecil ke arah Sony. Sony yang masih tegak disana balas melambai.

Tea berlari kecil menaiki mobilnya. Pak Ony tersenyum melihat Tea. Saat Tea memasang sabuk pengaman, Pak Ony menyalakan mesin mobil sambil bertanya.

“Mas nya yang tadi pacarnya Mbak Tea ya?”

Tea menoleh cepat, merasakan wajahnya memanas kembali.

“Pak Ony apaan iiihh… Kok nanya yang aneh-aneh gitu?”

“Habis, kayaknya tadi Mbak Tea seneng banget habis bareng sama Mas yang tadi…” sahut Pak Ony sambil memundurkan mobil.

“Ah, ga juga ah Pak…”

“Trus, yang tadi siapanya Mbak Tea dong?” Pak Ony masih terus bertanya sambil memutar arah mobil.

“Enggak kok Pak, teman biasa aja…” kata Tea sambil memalingkan wajah ke arah jendela di sampingnya. Tapi sambil melirik, Pak Ony bisa melihat betapa warna merah meronai pipi Tea, membuat Pak Ony tersenyum geli.


Sony memandangi Kijang InMilka tadi bergerak menjauhi gerbang sekolah. Tangannya tersimpan di balik saku celananya. Dia masih bisa merasakan kelembutan rambut ikal Tea di antara jemarinya tadi. Keharuman samar aroma apel yang menguar dari rambut Tea tadi masih terasa. Bola mata Tea yang bening, ekspresi wajah Tea yang manis seperti seorang peri kecil masih lekat di benaknya.

Sony menghela nafas. Berat.

Pikirannya memutar kembali adegan dimana wajah manis itu memerah saat nama Aji disebut. Maka Sony pun berbalik arah, dan melangkah menuju sepeda motornya yang menunggunya disana. Iya. Sepeda motor biasa. Bukan ToCota Yaris warna merah menyala yang dikemudikan Aji setiap hari ke sekolah.
Sony sudah menaiki motor dan baru akan menstarternya ketika sebuah suara memanggil Sony.

“Son!”

Sony menghentikan gerakannya, dan mengerutkan kening. Tapi ketika melihat si pemanggil yang tengah berjalan mendekatinya, Sony langsung tersenyum.

“Eh. Pak Nur. Belum pulang Pak?”

Pak Nur menggeleng sambil tersenyum. “Belum, tadi habis ngoreksi PR anak kelas 11 dulu, tanggung kalo mau ditinggal”. Pak Nur lalu merogoh tas yang dibawanya.

“Eh Son, tadi Bapak sebenarnya mau ngomong ke kamu tentang sesuatu hal…”

“Soal proyek buku sekolah itu Pak? Tenang aja Pak… Besok saya dan yang lain udah mau mulai kerja kok…” tukas Sony.

Pak Nur menggeleng sambil menarik sebuah amplop coklat berukuran A4 dari tasnya. “Bapak mau ngasih tau kamu soal ini.” Kata Pak Nur sambil menyerahkan amplop itu pada Sony. Sony menerima amplop itu dengan pandangan bertanya.

“Liat aja isinya dulu…” kata Pak Nur. Sony merogoh amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar brosur yang dicetak apik di atas kertas mengkilap. Jemari Sony merasakan licinnya kertas tersebut saat dia membolak-baliknya. Sony mulai mencermati isi brosur tersebut.

“Bapak pikir, kamu mungkin tertarik. Lebih dari itu, Bapak yakin, kalau kamu bisa Son…” kata Pak Nur, sementara Sony terus membaca isi brosur itu. Sony lalu mengangkat wajah, dan tersenyum menatap Pak Nur.

“Oh iya, tolong kasih tau Nico juga ya, tadi Bapak tidak sempat ketemu dia lagi.” Pak Nur menambahkan.

“Makasih Pak!” kata Sony sambil memasukkan kembali brosur-brosur itu ke dalam amplop.

“Bapak percaya sama kamu Son.” kata Pak Nur. Beliau lalu menepuk pundak Sony, “Bapak sudah percaya sama kamu semenjak dulu…”

Sony mengangguk. Dan bertekad, akan berusaha sekuat tenaga. Suatu harapan mulai muncul di hatinya.

“Bapak duluan Son!” kata Pak Nur lagi.

“Silakan Pak, saya juga sudah mau pulang kok…” sahut Sony. Pak Nur tersenyum kembali dan berjalan meninggalkan Sony.

Sony menstarter motornya kembali. Kali ini, dengan secercah harapan baru yang muncul di dalam hatinya.
+++

Sambil melangkah memasuki ruang tamu, Tea mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

“Sebentar ya Non, saya panggilkan Non Putri nya dulu…” kata seorang wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu untuk Tea.

Tea mengangguk, “Makasih Bu…”. Sementara pembantu Putri tadi melangkah menaiki tangga yang melingkar di depannya, Tea kembali melemparkan pandangan ke ruangan yang luas itu. Lampu kristal yang tergantung di langit-langit terlihat begitu mewah, serasi dengan perabotan yang bermodel klasik. Cahaya matahari masuk ke ruangan itu melalui jendela-jendela setinggi badan. Beberapa jendela terbuka sebagian, sehingga tirai putih yang diikat di sisi jendela berayun pelan oleh tiupan angin yang masuk. Di sudut kiri depan, Tea melihat sebuah pintu kaca yang membuka ke arah taman samping.

“Tea! Pagi amat? Baru juga jam setengah 10 kan?” suara Putri menarik Tea untuk melihat ke tangga, dimana Putri tengah berjalan turun. Tea tersenyum.

“Eh, iya. Sori. Tadi soalnya sopirku sekalian nganterin Mama ke rumah Tanteku. Di deket-deket sini juga sih. Cuma daripada bolak-balik, ya udah, sekalian sambil nganterin aku.”

“Oh gitu… Okay, naik ke atas dulu yuk. Kita nunggu yang dua lagi di kamarku aja…” kata Putri sambil berbalik dan melangkah menaiki tangga kembali. Tea mengikuti Putri sampai ke kamar. Begitu masuk ke kamar Putri, Tea tidak bisa menahan kekagumannya.

“Kamar elo keren Put…”

“Thanks… Ya udah, gih, duduk aja dimana lo suka” kata Putri sambil beranjak mendekati meja belajarnya, dan mulai mengutak-atik kembali MacBook Air putih miliknya.

Tea berjalan berkeliling melihat-lihat kamar Putri yang sejuk dan menguarkan wangi lemon dari pengharum ruangan yang digantung di AC. Sambil melihat-lihat sejumlah foto dan hiasan dinding lain yang dipajang di kamar itu, Tea menapaki karpet biru muda Putri yang empuk. Tea lalu memilih untuk duduk bersila di lantai, sambil bersandar pada tempat tidur Putri yang dilapisi bed cover berwarna biru tua bergaris-garis putih. Sebuah album foto di atas tempat tidur itu menarik perhatian Tea.

“Put, aku boleh liat ini ga?” tanya Tea sambil mengacungkan album itu.

Putri mengalihkan pandangan dari layar monitor, lalu mengangguk. “Ya udah, liat aja…” sahut Putri sambil berdiri dan melangkah mendekati Tea. Putri lalu duduk berselonjor di sebelah Tea yang mulai membuka-buka album tersebut. Isi album itu adalah foto-foto Putri dengan teman-temannya di DIvA’s dalam berbagai acara. Kadang-kadang Putri menceritakan tentang cerita di balik salah satu foto, dimana foto itu diambil, dalam acara apa, siapa saja yang datang. Tidak hanya Putri dan anak-anak DIvA’s lainnya, seringkali beberapa wajah yang familiar bagi Tea karena sering muncul di TV ikut berfoto bersama mereka. Wajah Aji dan Marco juga seringkali ikut muncul dalam kumpulan foto-foto itu.

“Kalian cantik-cantik semua ya Put…” kata Tea sambil terus mengagumi foto-foto itu.

“Thanks. I’ll take that as a compliment…” sahut Putri, walaupun dengan nada tidak peduli.

“Kalian ga pernah keliatan jelek deh pokoknya...”

Putri tersenyum. “Tuntutan reputasi Te…”

Tea menoleh ke arah Putri, sambil mengerutkan kening. “Maksud kamu Put?”

“Ya gitu. I have a social reputation, dan dengan reputasi sosial yang kayak gua punya sekarang, orang-orang menuntut gua untuk selalu tampil sempurna…” sahut Putri dengan wajah tanpa ekspresi. Nada suaranya pun biasa saja, tanpa kesombongan sedikit pun. Seakan-akan dia cuma ngomong bahwa harga semangkuk bakso itu lima ribu perak.

Tea mengangkat alis, “Lo ga capek hidup kayak gitu Put? Selalu ngikutin tuntutan reputasi gitu?”

Putri mengerutkan kening, “Mau gimana lagi? Orang-orang maunya gitu kan?”

“Terus, kalo elo ngerasa capek dengan semua tuntutan mereka, apa mereka mau ngertiin kamu?”
Putri diam. Menatap Tea. Berusaha memahami arti kata-kata Tea tadi. Sementara Tea tiba-tiba saja merasa kikuk. Dalam hati Tea menyesali kata-katanya barusan.

“Eh, sorry lho Put… Gua ga maksud. Eh, maksud gua, gua ga pengen nyinggung elo. Lagian sahabat-sahabat elo kayak Anin, Fifin sama Sonia pasti ngertiin lo banget kan?” Tea berusaha mencairkan suasana.

Putri tersenyum. Pahit. Lalu mengalihkan pandangan dari Tea dan memilih untuk menelusuri kembali foto-foto di dalam album yang ada di pangkuan Tea tersebut.

“Udahlah, ga usah dibahas lagi. By the way, lo tau anak ini ga? Pacarnya Marco tuh, namanya Ella” kata Putri sambil menunjuk salah satu foto di album itu. Tea memperhatikan foto itu, tapi pandangannya lebih tertumbuk pada sosok lain yang ada di foto itu.

“Aji cakep banget sih disini…” tanpa sadar Tea mengomentari Aji yang tengah tersenyum, dengan kemeja putih yang digulung sebatas lengan dan dasi yang ditalikan agak longgar, Aji memang terlihat begitu mempesona.

Putri tertawa, “Elo tuh orang ke 132.519 yang ngomong kalo Aji itu cakep. Jangan-jangan elo naksir dia ya Te?” kata Putri sambil menoleh kembali ke arah Tea. Begitu melihat pipi Tea yang merona, Putri tertawa semakin nyaring.

“Tuh kaaannn… ketahuan deeehhh… Hayooo… mau gua comblangin Te? Daripada nanti kalo gua akhirnya memutuskan kalo gua officially jadian ama Aji, lo malah nyesel lho…” goda Putri.
Tea mengangkat album itu untuk menutupi wajahnya. Duh! Skak Mat! Untunglah I-Phone Putri yang berdering mengalihkan perhatian Putri. Putri mengangkat I-Phone nya, walaupun masih tersenyum geli melihat Tea.

“Putri’s speaking. Siapa nih?”

“Putri ya? Put, Sony nih! Kami udah di depan gerbang. Tapi satpam elo ga mau bukain pagar Put!! Kita malah disuruh ke Ketua RT dulu kalo mau minta sumbangan. Si Nico aja udah bete nih…”
Putri tertawa geli, “Ntar, gua turun deh…” jawabnya, lalu segera memutuskan sambungan.

“Turun yuk! Tu anak tengil udah nyampe sama Nico”

Tea berdiri sambil membenahi pakaiannya. Sony sudah dateng? Sip! Asyik asyik asyikkk… Tea langsung merasa senang memikirkan akan segera bertemu Sony. Sony yang lucu, yang selalu membuatnya tertawa, yang kemarin membetulkan jepit rambutnya… Tiba-tiba denyut jantung Tea menjadi tidak beraturan kembali saat benaknya mengingat kembali kejadian kemarin.

Sebentar, sebentar… kenapa dia jadi merasa seperti ini ya? Ah, ini pasti gara-gara melihat foto Aji tadi, pikir Tea. Pasti. Masa sih dia merasa seperti ini hanya karena memikirkan Sony? Nggak mungkin kan? Kan selama ini Aji lah yang dia sukai…. Ga mungkin kan dia jadi berdebar-debar begini hanya karena akan bertemu dengan Sony? Ga mungkin kan? Lagian, bukankah setiap hari dia ketemu Sony di sekolah?
Putri yang sudah sampai di pintu kamar menoleh heran ke arah Tea yang masih berdiri di tempatnya semula.

“Te? Mau ikut turun ga?”

“Eh, iya Put…” sahut Tea sambil buru-buru melangkah, menyusul Putri yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamarnya.
***

“Pak Eca, bukain aja Pak! Mereka beneran temen sekelas saya kok…” seru Putri dari pintu sambil melangkah.
Satpam yang berjaga di depan rumah Putri buru-buru membukakan pintu pagar begitu melihat anak majikannya keluar dari rumah. Nico mendorong masuk motor milik Sony sambil bersungut-sungut, sementara di sebelahnya Sony mengikuti sambil tersenyum lebar. Tangan kirinya menjinjing sebuah plastik hitam, sementara tangan kanannya menenteng sebuah map plastik.

“Pantesan aja lo dikirain minta sumbangan, ngapain juga lo bawa-bawa map kayak gitu?” Putri tertawa sambil menunjuk map ditangan kanan Sony.

“Tauk tuh anak. SARAP emang dia. Udah gua bilangin dimasukin dalam ransel aja dia ga mau.” Kata Nico sambil duduk di teras dan melepaskan sepatu ketsnya.

“Eh, ini isinya contoh-contoh desain buku tahunan gituuu… Ntar kalo dimasukin ransel lecek kayak muka elo Co…” sahut Sony kalem.

“Trus, itu apaan tuh?” kata Tea sambil menunjuk tas plastik hitam yang sekarang diletakkan Sony di atas meja teras sementara dia melepaskan sepatu ketsnya.

Sony melirik ke arah tas plastik tadi, lalu menatap Tea dan Putri yang berdiri bersisian. “Oh, itu? Waktu gua bilang ke nenek gua kalo pagi ini mau kerja kelompok, nenek gua langsung bikinin bubur ayam buat dimakan bareng-bareng…” kata Sony dengan wajah berseri-seri.

“Really? That’s so Sone…” kata Putri sambil mengangkat plastik itu, “Bilang ke nenek lo, makasih yaa…” tambah Putri lagi.

“Masuk yuk!” kata Putri lagi sambil melangkah ke dalam rumah.

“Lo buka katering atau apa sih Son? Kayaknya adaaaa aja yang elo bawa dari rumah..” tanya Tea sambil mengiringi Putri masuk.

Sony hanya menyeringai, “Ya gitu deh…”

“Mau duduk dimana? Di teras taman samping aja ya?” tanya Putri.

“Terserah deh… yang penting tu bubur cepetan dibuka. Capek gua boncengin orang sarap kayak dia, mana pake minta singgah di mini market segala lagi…” kata Nico sambil menoyor kepala Sony. “Emang tadi lo beli apaan sih Son? Pake rahasia-rahasiaan gitu, gua malah disuruh nunggu di motor aja, ga boleh ikut masuk …” lanjut Nico lagi.

“Ya iya lah, lo jagain motor gua dong. Motor satu-satunya tuh. Lagian kalo ada buto ijo kayak elo yang nungguin motor gua, jamin deh, preman level Mafia Hongkong pun bakal males deket-deket motor gua…” sahut Sony tidak peduli, mengikuti langkah Putri ke teras samping. Begitu sampai, Sony langsung memilih untuk duduk di lantai teras.

“Put, lesehan aja ya Put…” kata Sony lagi, sementara Nico mengikuti Sony duduk berselonjor di lantai teras.
Putri tersenyum sambil mengangguk. “Ntar ya, gua ke atas dulu, ngambil laptop. Eh, apa pada mau makan buburnya Sony dulu nih?”

“BUBUR!” seru Sony bersamaan dengan Nico. Putri tertawa, lalu melangkah ke dapur. Beberapa menit kemudian, Putri keluar sambil menjinjing MacBook miliknya. Di belakangnya, Mbok Rahmi mengikuti sambil membawa baki berisi sejumlah mangkok dan rantang berisi bubur yang dibawa Sony. Setelah meletakkan baki tersebut, Mbok Rahmi bergegas masuk ke dapur kembali untuk mengambilkan beberapa kaleng minuman dingin untuk mereka.
Setelah menghabiskan waktu tidak sampai 20 menit untuk menandaskan isi rantang yang dibawa Sony, mereka langsung sibuk berdiskusi tentang konsep naskah buku tahunan yang akan mereka kerjakan. Dan walaupun Nico berat untuk mengakuinya, contoh-contoh halaman buku tahunan yang dibawa Sony ternyata banyak membantu mereka.

***

“Whuaaaa…. Ah, udahan dulu yuk ah… Pegel niiihhh…” kata Sony sambil meregangkan punggungnya. Dia lalu menoleh ke arah Putri, “Put, gua kesana boleh ga?” katanya sambil menunjuk ke arah kolam renang. Permukaan kolam renang itu nampak berkilau ditimpa cahaya matahari. Bening airnya begitu menggoda di tengah hari seperti ini.

Putri mengangguk, “Mau berenang juga silakan…”

“Ah, gua mana tau lo pake acara punya kolam renang segala di rumah. Ga lah… Pengen maen aer aja…” kata Sony sambil bangkit, dan melangkah menuju kolam renang. Sony lalu menggulung celana jeansnya, dan duduk di salah satu tepi kolam renang yang diteduhi oleh payung berukuran besar.

“Eh, ntar gua lupa lagi Co. Jadi ngambil kameranya nggak? Yuk ah, ada di dalem tuh, tadi malem udah gua siapin kok…” kata Putri sambil bangkit dan melangkah ke dalam rumah. Nico mengangguk, dan mengikuti Putri.

Tea bengong. Ditinggalkan begitu saja oleh teman-temannya.

“Sialan. Pada lupa semua ama aku…” pikir Tea setengah kesal. Dia lalu melemparkan pandangan ke arah Sony yang tengah duduk sambil memain-mainkan kakinya di dalam air. Merasa diperhatikan, Sony mengangkat wajah, lalu tersenyum sambil melambai ke arah Tea.

“Te! Ngapain bengong disana sendirian? Sini aja yuk, maen air!” seru Sony.

Tea tersenyum, lalu beranjak. Dengan langkah-langkah kecil Tea berjalan menghampiri Sony, lalu duduk di sebelahnya. Mengikuti Sony, Tea memasukkan kedua kakinya ke dalam air. Kesejukan air dikakinya terasa begitu menyegarkan Tea. Diam-diam, Tea melirik ke sisi kanannya, dimana Sony tengah menatap lurus ke depan dengan pandangan setengah menerawang. Kakinya memainkan air kolam renang membentuk cipratan-cipratan kecil. Tiba-tiba, Sony menoleh ke arah Tea. Dengan senyuman yang berseri.
+++

Nico mengikuti Putri ke ruang tengah. Putri mendekati sebuah lemari kaca, dan mengeluarkan sebuah tas berbentuk kotak dari dalam lemari tersebut. Dia lalu membuka tas itu, mengeluarkan isinya, lalu menyerahkannya pada Nico. Nico menerimanya dengan mata terbelalak.

“Gila! Gua kira kamera digital saku biasa! Ternyata yang model keren kayak gini…” Nico berdecak kagum sambil menimang-nimang kamera digital profesional di tangannya.

“Itu yang Nikon D-60. Kalo yang D-90 dibawa kakakku ke Singapur” kata Putri menjelaskan. “Kamu bisa makenya?” tanya Putri lagi.

“Jelasin dulu deh dasar-dasarnya ke gua. Gua pernah sih baca-baca majalah fotografi gitu, punya Om gua. Tapi baca ama praktek ya pasti beda lah…”

“Sini deh…” kata Putri, mengambil lagi kamera itu dari tangan Nico, lalu duduk di sofa. Nico mengikutinya. Putri kemudian menjelaskan teknik-teknik dasar penggunaan kamera itu pada Nico. Beberapa kali kamera berpindah tangan dari Putri, ke Nico, ke Putri, lalu balik ke Nico lagi. Karena memang pada dasarnya Nico menyukai fotografi, dalam waktu sebentar saja Nico sudah bisa mengoperasikan kamera itu dengan baik.

“Sip lah! Kirain dukun kerempeng kayak elo bisanya cuma nyembur menyan doang…” kata Putri sambil tersenyum saat mengamati hasil jepretan Nico lewat layar kecil di kamera itu.

Nico langsung merebut kembali kamera itu. “Eh, gua praktek lagi dong… Lo duduk disana deh, di depan piano itu tuh…” Nico menunjuk ke arah grand piano hitam di salah satu sisi ruangan.

Putri menurut, dan berpose beberapa kali sementara Nico menjepretkan kameranya ke arah Putri.

“Udah ah Co… Capek gua nih…” kata Putri akhirnya, setelah Nico sudah menyuruhnya berpindah lokasi sebanyak 4-5 kali. Putri lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

Seakan tidak peduli dengan kata-kata Putri tadi, Nico terus membidikkan kameranya ke arah Putri.

“Eh… dibilangin udahaaaannn!” seru Putri sambil meyilangkan kedua tangannya di depan untuk menutupi wajahnya.

Nico tertawa, tapi terus memotret Putri. Dengan kesal, Putri menjulurkan lidahnya ke arah Nico. Seakan tidak peduli, Nico terus mengambil foto. Putri lalu mulai iseng, berpose dengan berbagai macam ekspresi aneh, dan membiarkan Nico mengabadikannya dalam kamera tersebut. Sepuluh menit kemudian, mereka duduk berdampingan di sofa, tertawa-tawa saat melihat-lihat kembali hasil jepretan Nico tadi.

“Yang ini lucu niihhh…” kata Nico menunjuk layar kamera yang ada di tangannya. Putri mencondongkan tubuh ke arah Nico untuk melihat foto yang ditunjuk tadi. Tanpa mereka sadari, kepala Putri sudah setengah bersandar di bahu Nico.

“Aaahhh… Gua jelek banget disituu…Ntar dihapus aja yaa…” komentar Putri begitu melihat fotonya yang sedang mencibirkan mulut dengan mata setengah dijulingkan.

“Ga usah lah… Biarin aja, ntar gua kirim ke mading sekolah…” ledek Nico. Putri langsung memukuli pundak Nico dengan kedua tinjunya.

“Nicooo… mau ditaruh dimana muka gua nanti! Seumur-umur gua selalu keliatan sempurna di depan publik, masa sekarang tiba-tiba muncul foto gua dengan ekspresi ajaib kayak gitu…”

“Ya gapapa lah Putyy… Sekali-kali keliatan jelek ya gapapa kali! Mana ada sih orang yang selalu terlihat tampil sempurna?”

“Co, that’s why they created fashion! Itu gunanya fashion Co… Untuk membuat kita tampil sempurna! Ah, susah ah ngomong ama cowok soal giniaaan…” kata Putri dengan kesal. Dia berhenti memukuli Nico, mengangkat kedua lututnya ke atas sofa dan memeluknya.

Nico menegakkan kembali tubuhnya yang sempat nyaris ke jatuh ke samping akibat dipukuli Putri tadi.

“Put, justru ketidaksempurnaan lah yang membuat seseorang menjadi sempurna…” kata Nico, sambil kembali melihat-lihat foto-foto yang ada di kamera itu.

Putri mengerutkan kening dan menoleh ke arah Nico, “Maksud lo?”

Nico hanya mengangkat bahu, “Klise sih, tapi kan ga ada yang sempurna di dunia ini. Dan buat gua pribadi, justru ketidaksempurnaan seseorang membuat orang itu jadi lebih terasa nyata. Kalau ada seseorang yang keliatannya sempurnaaaa banget, gua malah cenderung merasa kalau semua itu semu…” kata Nico tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kamera.

Putri terdiam. Beberapa jam yang lalu, entah kenapa dia mulai mempertanyakan kehidupannya sendiri begitu mendengar kata-kata Tea. Dan sekarang, kata-kata Nico tadi terasa telak.

“Eh, yang disini elonya jelek banget nih…” Nico tertawa kecil sambil menunjuk salah satu foto lagi.

Putri tidak mengindahkannya, malah bertanya pada Nico.

“Emangnya lo ga pengen punya cewek yang selalu keliatan cantik dan sempurna?”

Nico menghentikan tawanya dan menatap Putri dengan heran. Tidak menyangka akan ditanyai seperti itu. Tapi melihat ekspresi serius di wajah Putri, Nico menghela nafas.

“Kalau gua memang sudah sayang sama seseorang, dia akan selalu kelihatan cantik di mata gua. Mau dia habis dandan, atau baru bangun, dia akan tetap keliatan cantik. Mau dia pake baju rancangan desainer terkenal ato cuma pake piyama butut pun, dia akan tetap terlihat sempurna di mata gua.” Kata Nico, sambil menatap Putri tepat di matanya.

Putri tidak tahu harus berkata apa. Tapi dia juga tidak ingin mengatakan apa-apa. Yang dia tahu, sepasang mata yang tengah menatapnya tajam saat ini sudah membuatnya kehilangan kata-kata.


Nico memandang Putri, tak bergeming. Menikmati kedua mata yang cantik itu. Dagu yang tirus di ujung wajah lancip yang saat ini tengah membalas tatapannya. Rambut lurus Putri yang halus jatuh membingkai profil wajahnya.

Saat itu juga, Nico baru menyadari, semua kata-katanya tadi melukiskan apa yang dia rasakan pada Putri selama ini. Perasaan yang sebenarnya tidak ingin dia akui. Karena Putri terlalu indah untuk dirinya.

Karena Putri adalah gemFifing yang selalu menggantung di antara galaksi, selalu bersinar cantik meskipun malam tak pernah menawarkan kehangatan.

Dan diantara mereka, dunia membeku. Lewat mata mereka, semua yang ada itu semu, kecuali tatapan mata mereka berdua.

Dentang lonceng yang menandakan hari sudah memasuki jam satu siang memaksa Nico dan Putri untuk memutar dunia kembali. Putri memalingkan wajah sambil menggigit bibir. Nico mengangkat kamera di tangannya dan berlagak membidik sesuatu di ruangan itu, entah apa.

“Euh, gua ngeliatin si Tea dulu ya…” Putri bangkit dan melangkah menuju teras samping.

“Oh iya ya… Curiga gua si Sony dari tadi ga kedengeran suaranya. Jangan-jangan dia lagi beternak lele di kolam renang elo Put…” Nico mengikuti Putri dari belakang.
+++

"Eh, Te…” kata Sony sambil menoleh ke arah Tea. Dengan senyuman berseri.

Tea mengangkat alis, “Pa’an?” sahut Tea pendek. Karena tiba-tiba saja dia merasa gugup. Saat dia menyadari, betapa dekatnya posisi duduknya dengan Sony.

Sony merogoh ke saku kemejanya, “Tadi pas ke mini market gua liat ini, jadi inget elo…” dan mengeluarkan sebatang coklat Kit-Kat berukuran kecil. Sony menyodorkannya ke arah Tea.

Tea meraih coklat itu sambil tersenyum, “Makasih ya Son…”
“Eh, tapi Te…”

Tea mengangkat alis dengan wajah heran.

“Bagi dua ya sama gua. Gua laper nih Te…” kata Sony sambil menadahkan tangan.

Dengan gemas Tea mendorong pundak Sony. “Yah, kamu ga niat banget sih Son…” katanya sambil tertawa geli. Tapi Tea tetap membuka pembungkus coklat itu, dan mematahkannya menjadi dua bagian yang sama besar. Tea mengangsurkan salah satu potongan kepada Sony, yang menerimanya sambil tersenyum lucu.

“Nah, gitu dong sama Bang Sonyyy…” kata Sony sambil mulai menggigit batangan coklatnya.
Untuk beberapa menit, mereka berdua diam, sama-sama memandangi kilauan riak air di kolam renang, sambil menikmati percikan air di sela-sela kaki mereka.

“Jadi pengen berenang…” kata Sony dengan pandangan menerawang.

“Kamu suka berenang ya?” tanya Tea. Sony menoleh ke arah Tea dan mengangguk.

“Suka, tapi sekarang udah jarang. Waktu masih kecil dulu, waktu tinggal di Sengkang tuh yang gua sering berenang. Tapi berenangnya di danau gitu. Sekarang paling gua maen bola atau maen futsal doang…” kata Sony.

“Kalau Tea seneng olahraga juga?” tanya Sony, lalu menggigit coklatnya lagi.

Tea menggeleng.

“Oh, kirain lo suka basket Te…” kata Sony sambil memandang ke depan lagi, “Ternyata sukanya sama kapten basketnya doang ya…”

Nafas Tea terasa sesak tiba-tiba. Tea menoleh ke arah Sony, yang masih terus memandang ke depan sambil mengecipakkan air di kakinya. Sony lalu menoleh, dan tersenyum menggoda.

“Ya kan Te?”

Tea memukuli pundak Sony, “Sony… apaan siihhh… udah dibilang ga usah disebut-sebuuuut” seru Tea. Dengan perasaan kecewa yang dia simpan rapat-rapat.

Sony tertawa kecil. Berusaha membendung pukulan Tea di pundaknya, sampai akhirnya Tea capek sendiri.

“Eh, gapapa lagi Te…” kata Sony. Dia melirik ke arah peri kecil yang tengah duduk di sampingnya dengan wajah ditekuk. Tapi bagi Sony, wajah itu tetap terlihat menyenangkan untuk dilihat. Sony lalu tersenyum, dan memandang ke depan kembali.

“Lo emang naksir ya sama Aji?”

Tea tidak mampu menjawab, hanya mengangguk kecil Dia tidak bohong kan? Bukankah semenjak dia pertama kali melihat Aji bermain basket di lapangan sekolah saat kelas 10 dulu, Tea sudah tidak bisa melupakan sosok itu? Ya kan? Tapi kenapa anggukan ini terasa berat di hadapan Sony?

Diam-diam, Sony menggigit bibir melihat gerakan kepala Tea tadi. Dua anggukan, yang membuat hati Sony hancur menjadi seribu kepingan. Tapi Sony tetap tersenyum.

“Iya sih. Lagian, Aji itu memang cakep. Bayangkan lho, yang ngomong gini Bang Sony yang juga ganteng. Udah gitu anaknya juga baek. Jago basket. Tajir pula. Beuuuhhh… Sip lah pokoknya Te…” kata Sony.

Walaupun setiap kata tadi terasa semakin pahit di lidah Sony saat diucapkan. Karena tiap kata mempertegas jarak antara Sony dan Aji. Semakin membuktikan betapa peri kecil di sampingnya ini hanyalah pantas untuk seorang bFifing. Seorang Aji. Bukan Sony.

Sony lalu menepuk pundak Tea, “Lo emang ga salah pilih gebetan Te…”.

Tea menoleh ke arah Sony dan melihat sebuah senyum disana. Senyum yang biasanya membuat dia ingin balas tersenyum Tapi kali ini, Tea membalas senyum itu dengan terpaksa. Karena ada rasa kecewa di hatinya.

“Eh Te, ntar Te…” kata Sony. Sony lalu mencelupkan ujung jari-jarinya di air kolam. Lalu dia mengubah posisi duduknya sedikit sehingga lebih dekat ke arah Tea.

“Lo diam bentar ya Te…” kata Sony. Sedetik kemudian, telunjuk Sony sudah menyeka perlahan ujung bibir Tea.

Tea. Tidak. Bisa. Bernafas.

Ga lama-lama sih, dua detik doang. Begitu Sony selesai, Tea menghembuskan nafas yang dari tadi dia tahan tanpa sadar.

“Tadi ada sisa coklat..” kata Sony perlahan, masih menatap Tea.

“WOI! Anak sarap! Anak gadis orang lo apain??” tiba-tiba terdengar seruan Nico dari arah pintu. Refleks, Tea dan Sony menoleh secara bersamaan ke arah Nico.

Ceklik! Terdengar suara kamera yang dijepretkan oleh Nico ke arah Sony dan Tea.

“HUAHAHAHAHA!!! Dapet!! Besok fotonya tinggal gua cetak buat dipajang di papan pengumuman niihhh..” kata Nico sambil mengangkat wajah dari kamera dengan penuh ekspresi kemenangan.

Sony langsung berdiri dan berlari ke arah Nico..”Cooo… masak cuma foto gua sama Tea doang? Fotoin gua sama Putri juga dooonggg…” kata Sony.

“Beuh. OGAH!” kata Nico.

“Eh, buruaaann…” kata Sony sambil bergaya di sebelah Putri.

“Udah Co… Turutin aja…” kata Putri, lalu bergaya mencekik Sony.

Nico tertawa, dan mengabadikan adegan itu. Selain reka adegan pencekikan tadi, masih ada beberapa adegan foto berdua antara Sony dan Putri yang direkam oleh Nico, diiringi derai tawa mereka.

Tea berdiri, dan melangkah mendekati teman-temannya. Entah kenapa, Tea merasa sedikit kesal melihat Putri yang beberapa kali berfoto bersama Sony dengan pundak yang saling menempel.

“Tea, siniii… Foto bertigaaa…!” Putri tiba-tiba melambai ke arah Tea. Tea tersenyum, dan berlari kecil untuk bergabung dengan Putri dan Sony, sementara Nico kembali mengabadikan berbagai pose mereka bertiga. Setengah jam selanjutnya, mereka sudah asyik berpose bersama. Nico pun akhirnya menyerah pada paksaan teman-temannya, dan menggunakan fasilitas otomatis di kamera tersebut sehingga mereka bisa berfoto berempat.

“Ah, udah ah… udah keburu siang banget nih! Pulang yuk!” kata Nico sambil mulai membereskan kamera.
Tea yang sedang memeriksa ponselnya ikut mengangguk. “Iya yuk, ni sopirku juga udah SMS, bilang kalo udah nungguin di depan gerbang…” kata Tea sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Co! Sekali lagi dong Co… Terakhir nih, yah yah yah…! Masak aku yang berdua sama Tea cuma sekali doang… sekali lagi ya… tadi sama Putri kan udah banyak., ntar Tea cemburu…” kata Sony sambil menarik-narik lengan baju Nico.

“HEH! Gua juga terpaksa kalii foto-foto sama elo sekian banyak kali itu..” tukas Putri, walaupun dia mengucapkannya sambil tersenyum geli.

“Ya udah deh, Tea mau ga, Son?”

“Mau kok! Yah Te ya… mau ya… sini Te, di pinggir kolam aja…” Sony tiba-tiba sudah meraih lengan Tea dan menariknya ke sisi kolam.

Nico berlutut, dan mulai memberikan instruksi. “Te, lo duduk deh… posisinya duduknya madep situ, jangan ke arah gua… Nah, gitu… tapi lutut lo dinaikin Te, terus lo peluk lutut lo gitu. Sip. Sekarang lo liat ke arah gua, sambil senyum yaaa… Nah, gitu kan cakep deh…”

“Eh, mas tukang poto! Gua gimana nih posisinya?” protes Sony yang merasa dicuekin.

“Lo nyebur ke kolam aja Son… bagusan gitu deh kayaknya” sahut Nico.

Sony berjongkok di sebelah Tea dan menjawil pundaknya, “Teaaaa… Nico nyebelin ya Te?” . Tea menoleh ke arah Sony dan tertawa geli melihat Sony yang merengut.

“Halah. Rese lo. Ya udah Son, lo posisinya sama kayak Tea, tapi punggung lo nempel di punggung Tea, jadi duduknya madep ke arah yang berlawanan, tapi muka kalian dua-duanya madep kamera ya..” seru Nico sambil mulai membidikkan kamera.

Dengan gembira, Sony langsung mengikuti perintah Nico tadi. “Gini ya Co?”.

“Son, senyum lo yang biasa aja deh, ga usah sampe nyengir sebegitunyaaa… Gua ilfil tau ga liat elo nyengir kayak gitu!”

“Ya iya lah elo ilfil, kalo cewek yang liat mah, filing yang ilang pun tumbuh kembali. Cepetan Co, ni udah senyum andalan niiiihhh…” seru Sony.

“Iye…iyeee… Dah, gitu aja, Tea mah udah manis gitu, tahan ya Te, senyumnya. SONY! Senyumnya biasa aja! Gigi lo biar dipamerin semua gitu juga tetep ga ada yang mau! Siap… Satu… Dua… Tiga…!”

KLIK!

“Co, sekali lagi ya Co! Kayaknya tadi senyum gua kurang pol deh …”

“UDAH! Ga ada acara foto-foto lagi Son! Udah yuk, balik!” seru Nico sambil berdiri.

“Eh, ntar Co! Gua liat dong foto yang tadi…!” Sony berlari ke arah Nico dan merebut kamera dari tangan Nico.

“Ya udah gih, tapi nanti matiin, terus masukin ke tas kameranya ya! No, disono tasnya…” kata Nico sambil berjalan ke arah tempat ranselnya berada. Sementara Sony memeriksa hasil fotonya berdua dengan Tea tadi, Tea berjalan mendekat, dan memanjangkan lehernya, ingin ikut melihat hasil fotonya tadi.

“Wuiiihhh… Emang ya, kalo yang difoto udah ganteng kayak gua, pasti hasilnya keren kayak gini Te! Elonya juga manis banget disini Te…” kata Sony sambil mendekatkan layar kamera ke arah Tea yang ada di sebelahnya. Tea memandangi layar kamera. Ada fotonya berdua dengan Sony disana, keduanya duduk memeluk lutut dengan punggung yang saling beradu, dan tersenyum menatap kamera. Bahkan dalam bentuk dua dimensi pada selembar foto pun, senyuman Sony terlihat begitu hangat.

“Bagus ya Te? Ada gua soalnya Te… Heheheh… Keren juga Te kalo kita foto berdua gini…” kata Sony, tapi dia lalu menoleh ke arah Tea. “Tapi tenang aja Te, foto ini ga bakal sampai ke tangan Aji kok… Nyantai ajaa…” kata Sony sambil mematikan kamera digital tersebut.

Tea bersyukur bahwa Sony langsung melangkah menjauhinya, karena tiba-tiba saja Tea merasa ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya. Entah kenapa. Dari belakang dia memandangi Sony yang dengan hati-hati memasukkan kamera itu ke dalam tas khusus. Tiba-tiba Putri menjawil punggungnya.

“Kenapa Put?” Tea membalikkan badannya ke arah Putri.

“Gimana nih yang tadi? Mau ga gua comblangin sama Aji? I’m a pretty good matchmaker, You know… Anin sama Kak Gelbert aja kan jadian berkat campur tangan gua tuh…” kata Putri dengan senyum penuh arti.

Aji! Aji yang selama ini dia mimpikan! Oh my God, jangankan jadian, bisa jalan bareng sama Aji aja bagi Tea sungguh tidak terbayangkan…! Dan sekarang, tiba-tiba saja orang yang selama ini paling dekat dengan Aji menawarkan diri untuk menjadi mak comblang?

Tea memandang Putri, sementara bayangan Aji semakin jelas di benaknya. Aji yang selalu tersenyum ramah tiap kali ada yang menyapanya. Aji yang terlihat berkilau meskipun sedang berkeringat di tengah lapangan basket. Aji yang begitu tampan, begitu sempurna. Tea lalu tersenyum pada Putri.

“Yah Put, kalo model kayak Aji mah, pantesnya buat kamu aja kali….”

“Eh, belum tentuu… Siapa tau lho… Ntar kalo gua akhirnya memutuskan that we’re officially a youple, kamunya nyesel lho!” Putri masih mendesak.

“Put, Aji yang sempurna kayak gitu, pantesnya ya mendampingi cewek sempurna kayak kamu…” sahut Tea, masih sambil tersenyum, “Kalian itu udah best youple deh di sekolah. Kayak pasangan putri dan pangeran dalam fairy tales gitu…”.

Putri terdiam, tanpa sadar, dia melemparkan pandangan ke arah Nico. Tanpa bisa dicegah, semua kata-kata Nico di ruang tengah tadi berputar kembali di benak Putri.

“Put? Anterin kita keluar dong… Ntar sama satpam elo di depan tadi kita disangka habis ngerampok elo nih, apalagi Nico kan tampangnya kayak tukang jagal monyet gini… Habislah nanti gua ikut disangka anak didiknya Bang Napi…” panggil Sony.

Putri tertawa, lalu melangkah ke arah Sony yang sedang berusaha melepaskan diri dari cekikan Nico. Di belakangnya, Tea melangkah mengikuti Putri. Sambil diam-diam memandang Sony. Sekali ini, Tea tidak bisa mengingkari, bahwa ada gundah dalam hatinya. Entah kenapa. Mungkinkah karena dia tadi menolak kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Aji? Ya… pasti karena itu, pikir Tea dalam hati.
+++

Semenjak kerja kelompok di rumah Putri itu, pertemanan mereka berkembang pesat. Sebenarnya Tea, Sony dan Nico sendiri sudah cukup akrab semenjak mereka duduk dengan posisi berdekatan di kelas. Tapi perubahan sikap Putri yang cukup drastis, akhirnya membuat mereka berempat jadi jauh lebih akrab. Walaupun kadang-kadang masih terjadi upaya pembungkaman Sony oleh Nico yang merasa kesal dengan kelakuan teman sebangkunya itu.

Tea sendiri merasa senang dengan perkembangan ini. Dia merasa hidupnya semakin berwarna dengan sahabat-sahabat barunya ini. Nico memang masih saja terlihat cool, seakan ada suatu rahasia di balik dirinya yang tidak ingin dia ungkapkan. Tapi paling tidak, dia tidak lagi bertengkar dengan Putri setiap hari seperti dulu. Putri juga jadi jauh lebih sering mengobrol dengan mereka. Kalau dibandingkan dengan sikapnya dulu yang seperti Ratu Salju, mencairnya sikap Putri ini sangat tidak diduga sebelumnya oleh Tea. Walaupun Putri masih rajin mengeluarkan komentar-komentar sarkastiknya setiap kali dia melihat tingkah Sony.

Sony…

Ah, Tea jadi tersenyum sendiri mengingat anak itu. Sony yang selalu membawa bekal ke sekolah dengan alasan kafetaria adalah usaha terselubung pemiskinan siswa. Sony yang yakin bahwa dia kembaran Dude Herlino (“Kami cuma beda nasib!”, komentar Sony dengan wajah yakin). Sony yang selalu melontarkan komentar-komentar lucu tentang berbagai hal. Sony yang selalu bisa membuatnya tertawa. Derai tawa Sony di telinga Tea terdengar seperti irama lonceng yang mengajaknya ikut tertawa juga.

Sudah 3 minggu berlalu semenjak mereka pertama kali berkumpul di rumah Putri. Dan minggu pagi ini, Tea kembali duduk di ruang tamu rumah Putri, menunggu kedatangan dua temannya lagi. Suara langkah kaki Putri yang menuruni tangga membuat Tea menoleh ke arah tangga.

“Dianter tadi Te? Yang lainnya belum pada datang ya?” Putri melangkah mendekati Tea sambil mengikat rambut panjangnya. Dia lalu membanting dirinya di kursi tamu di sebelah Tea.

Tea mengangguk, “Iya, tadi dianterin Pak Ony. Tapi ga tau tuh, Sony sama Nico kok belum nongol ya?”. Tea memandang Putri yang bersandar di kursi. Tea mengamati Putri, lalu mengerutkan kening, “Kamu kenapa Put? Kok kayaknya capek banget gitu?”

Putri memejamkan matanya sesaat, lalu membukanya lagi sambil menghela nafas. “Capek. Tadi malem kan biasa, pergi ama anak-anak gitu nonton bandnya Marco manggung. Sampe malem banget gitu. Gua temenan, temenan sih sama Marco. Tapi kalo mau jujur, gua ga begitu suka sama tipe musik bandnya dia. Japanese rock is so not my kind of music. Gua lebih seneng dengerin yang model-model jazz gitu. Tapi kata Sonia, musik kayak gitu mah bukan selera anak muda banget…”, tiba-tiba Putri sudah mengeluarkan isi hatinya.

Entahlah, semenjak dia mulai akrab dengan teman-teman barunya ini, Putri baru merasa lebih nyaman untuk bercerita lebih terbuka tentang apa yang sebenarnya dia rasakan.

Tea mengangkat alis. “Walah, mana malam Minggu pasti macet gitu ya… “

Putri mengangguk, menaikkan kakinya ke atas sofa dan memeluk kedua lututnya, “Masih untung gua sama Aji. Jadi paling nggak gua ga usah nyetir sendiri…”, Putri tiba-tiba menatap Tea, lalu tersenyum simpul, “Eh, tapi lo ga papa kan gua tadi malam pergi sama Aji? Lo ga jealous-jealous gimaaaanaaa..gitu kan?” goda Putri.

Tea merasakan semburat hangat di pipi yang merambat ke telinganya, “Ya ga lah Put… Ngapain jugaaaa…”
Putri tertawa, tepat pada saat Sony melangkah masuk sambil tersenyum lebar.

“Tenang..tenang sodara-sodara… Bang Sony sudah datang, semua senang!” seru Sony. Tiba-tiba dia lalu berbalik lagi ke arah luar, dan melambai ke arah pintu gerbang.

“Pak Eca! Enak ga kleponnya? Kalo suka, minggu depan saya bawain lagi Pak!” seru Sony pada Pak Eca yang masih setia menunggui gerbang rumah Putri. Sony lalu berbalik, dan melangkah ke arah kursi-kursi tamu, dan duduk di sofa.

“Lo nCogok satpam gua? Pake klepon?” Putri memandang Sony sambil mengangkat sebelah alisnya.

Sony meraih tas ranselnya, dan dengan wajah tidak peduli menjawab pertanyaan Putri sambil mengeluarkan map plastik berisi kertas-kertas yang dipenuhi berbagai coretan. “Habisnya, daripada gua bawa-bawa map dituduh minta sumbangan melulu, mending gua sekalian bawa sajen buat satpam elo Put…”. Tiba-tiba Sony mengangkat wajah ke arah Putri sambil mengerutkan kening, “Eh, tapi antara klepon sama martabak telur, satpam elo lebih suka yang mana ya?”.

“Do You really want to know?” sahut Putri dengan nada sarkastiknya. Putri lalu menoleh kembali ke arah pintu, menunggu Nico masuk. Sony ikut menoleh ke arah yang sama dengan Putri, lalu baru menyadari suatu hal.

“Oh iya, gua tadi ga sama Nico. Kemaren waktu mau pulang dia bilang sama gua kalo ga usah jemputin dia. Lagian kalo hari Minggu motor bapaknya kan ga dipake, jadi dia bilang dia pinjem motor Bapaknya aja…” Sony menjelaskan pada Tea dan Putri.

“Oh. Ya udah. Yuk, sambil nunggu kita mulai aja yuk…” sahut Tea sambil mulai meneliti kertas-kertas yang dibawa Sony. Putri menurut dan ikut bergabung dengan Tea dan Sony, walaupun sempat mendesah kecewa.

Empatpuluh lima menit sudah berlalu dari jam yang mereka sepakati bersama, tapi Nico masih belum muncul juga. Entah kenapa, Putri merasa semakin resah. Terus menerus melirik ke arah pintu yang sengaja dibuka Putri lebar-lebar. Sambil terus berusaha menenangkan hatinya yang gelisah.

Sampai akhirnya 5 menit sebelum jam 11, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Diiringi dengan sosok Nico yang menerobos pintu, dan langsung menghampiri mereka dengan nafas terengah-engah.

"Sorriii…. Sorriii….” Kata Nico dengan wajah bersalah.

Putri tidak bisa menahan diri, “Lo ga punya jam ya? You’ve been late for almost an hour!”

“Iyaa…iya… Maap.. Tapi sekarang gua udah dateng kan…” kata Nico sambil mengambil salah satu gelas minuman yang masih penuh di atas meja, dan langsung meneguknya. Setelah menarik nafas lagi, dia berusaha menjelaskan, “Tadi gua ada urusan bentar…”

“At least You can give us a call. Lo kan bisa nelfon…” Putri masih menanggapi dengan nada tajam.

“Pulsa gua abis…” sahut Nico sambil meletakkan kembali gelasnya.

“Beli dong! Apa susahnya sih? Paling cuma duapuluh rebu perak doang…”

“Duapuluh rebu juga duit, tau!” Nico memandang Putri, wajahnya terlihat mulai kesal.

“Halah. Cuma segitu doang. Apa perlu gua yang beliin?” Putri tidak mau kalah.

“Heh! Ga usah belagak jadi orang kaya deh lo!” nada suara Nico kini mulai meninggi.

“Gua? Belagak kaya? Excuse me, but I AM rich. Gua ga usah belagak jadi orang kaya…” Putri berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari Nico. Kedua tangan Putri terlipat di depan dadanya.

“Terus, kalo lo kaya, apa berarti lo berhak buat jadi sengak gitu? Lagian lo mesti inget, yang kaya bukan elo, tapi ortu lo! Lo belum ada apa-apanya Put, ga usah sombong!” Nico ikut berdiri dengan tinju yang terkepal di sisi tubuhnya.

“Eh, it wasn’t my fault that I was born with a silver spoon in my mouth. Bukan salah gua dong terlahir dalam kondisi yang beruntung kayak gini!”

“Emang. Ga salah. Yang salah itu sikap elo terhadap kondisi elo!”

“Halah! Lo kalo ngiri sama gua, ga usah sok bijaksana gitu deh!”

“Denger ya.. Gua. Ga pernah. Ngiri. Sama elo. Sama kehidupan elo yang palsu.Ataupun sama temen-temen borjunya elo yang bisanya cuma seneng-seneng dan ngabisin duit ortunya. Gua punya kehidupan yang jauh lebih berharga dibandingkan kehidupan kalian yang semu itu. Jadi ngapain gua ngiri sama elo?” Nico terdengar menggeretakkan giginya dengan penuh amarah.

“Terus, ngapain lo masih disini?”

“Tenang aja. Gua bentar lagi cabut. Gua ga punya waktu cuma untuk berdebat ga jelas sama cewek manja kayak elo…” sambil menuntaskan kalimat terakhirnya, Nico menyambar ranselnya yang tergeletak di lantai.

Dengan langkah-langkah panjang, Nico menerobos pintu depan, keluar menuju halaman depan. Beberapa detik kemudian, suara derap langkah Nico digantikan suara sepeda motor yang dipacu dengan kencang. Menjauh pergi. Meninggalkan Putri, yang kini tengah berdiri sambil menggigit bibir. Sambil setengah mati berusaha menahan tetesan bening itu meninggalkan sudut matanya.

Tea tidak berani berkata apa-apa. Bahkan untuk bernafas pun dia sempat ragu. Tea tidak pernah suka bertengkar, bahkan melihat orang beradu pendapat pun dia sudah merasa ketakutan. Dan pertengkaran antara Nico dan Putri tadi nyaris membuatnya terisak.

Begitu Putri dan Nico mulai berdiri tadi, tanpa sadar dia meraih lengan kiri Sony yang duduk di sebelah kirinya untuk menyalurkan ketegangannya. Dan saat Nico sudah pergi, baru Tea sadar. Bahwa selama ini dia menggenggam lengan itu erat-erat, seakan mencari kekuatan dari sana.

Sony menoleh sekilas ke arah Tea, lalu melemparkan pandangan kembali ke arah pintu, dimana sosok Nico baru saja menghilang. Tapi Sony tidak berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Tea. Bahkan kini tangan kanannya membelai rambut Tea perlahan, seakan berusaha menenangkan Tea. Tea menunduk, walaupun sebetulnya yang dia inginkan saat ini adalah menangis di pundak Sony.

Putri terduduk di kursinya semula. Lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Putri menarik nafas panjang berkali-kali. Pundaknya nampak bergetar sesekali. Tea memandang Putri, lalu menoleh ke arah Sony.

Sony mengangguk ke arah Tea, lalu memberi isyarat agar Tea mendekati Putri. Tea menghela nafas, melepaskan genggaman tangannya dari lengan Sony, lalu berjalan mendekati Putri. Tea duduk di sebelah Putri, lalu meraih pundak Putri ke dalam rangkulannya dan perlahan mengusap-usap punggung Putri.

Putri diam. Tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, masih menunduk dengan telapak tangan menutupi wajahnya.

“Udahlah Put… Ntar kalo udah tenang, biar kita ngomong baik-baik sama Nico.”

“My fault. Gua mestinya ga ngomong kayak gitu… That was so rude.” suara Putri terdengar lirih dan bergetar.

“Yah Put, kalian sama-sama lagi capek deh kayaknya. Makanya ngomongnya ga kekontrol…”
Putri melepaskan tangannya dari wajahnya, dan berusaha tersenyum. “Sorry guys, mau dilanjutin nih ngerjainnya? Yuk…”

Sony menggeleng sambil melempar senyum ke arah Putri, lalu mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan. “Ga usah lah Put. Ntar aja lagi kita sambung. Kalo semua moodnya udah enakan…”

Tea mengangguk, merangkul pundak Putri sekali lagi. “Udah, kamu istirahat aja dulu.” Putri hanya mengangguk. Tea berdiri, dan melangkah ke arah Sony. Dia lalu meraih tasnya yang disodorkan Sony ke arahnya. Tea lalu berbalik ke arah Putri.

“Kita pulang dulu aja deh. Biar lo bisa bener-bener istirahat…” kata Tea.

“Lo pulangnya gimana? Nunggu disini dulu aja sampai dijemput sopir elo. Biasanya kan lo baru dijemput jam 2 gitu kan? Sekarang baru jam setengah dua belas.” kata Putri sambil melemparkan pandangan ke arah jam besar di ruangan itu.

“Biar gua yang nganter Tea…” kata Sony tiba-tiba. Tea berbalik menatap Sony, dengan perasaan yang berdebar. Putri mengangguk kecil.

“Ya udah deh. Gua nitip temen gua ya Son. Ati-ati…” kata Putri. Sony mengangguk.

“Yuk Te…” kata Sony sambil menJiempangkan ranselnya dan berjalan keluar. Tea mengikutinya dari belakang.

Putri berjalan pelan ke arah pintu, bersandar di pinggiran pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.

Memperhatikan Sony yang tengah menstarter motornya, sementara Tea duduk menyamping di belakangnya. Putri mengangguk kecil waktu Tea melambai ke arahnya. Begitu motor itu berlalu, Pak Eca menutup gerbang. Putri berbalik, lalu melangkah menuju kamarnya.

Saat ini Putri hanya ingin menangis hingga tertidur. Hal yang terakhir kali dilakukannya sepuluh tahun yang lalu.
+++

Pak Ony yang sedang membersihkan mobil di halaman rumah ternganga melihat Tea turun dari sepeda motor yang baru saja berhenti di depan rumah.

“Lho, Mbak Tea udah pulang? Kok ga nelfon aja minta dijemput saya Mbak?”

Tea tersenyum, lalu menggeleng kecil. “Ga papa kok Pak, lagian pas ada temen yang bisa nganterin pulang…” Tea lalu menoleh ke arah Sony di belakangnya, “Yuk Son, duduk dulu yuk.”.

Sony menurut, mendorong motornya masuk. “Permisi Pak…” Sony menganggukkan kepalanya sambil tersenyum saat melewati Pak Ony. Pak Ony balas tersenyum. Apalagi ketika ingat, dimana dia pernah melihat wajah Sony. Dan Pak Ony masih ingat, betapa wajah Tea memerah saat ditanya. Pak Ony bergegas membereskan peralatan yang tadi dia gunakan untuk mencuci mobil. Biarpun sudah separuh baya, Pak Ony juga pernah muda. Dan Pak Ony yakin, dengan tamu yang datang ini, pasti Tea akan lebih senang ditinggalkan berdua saja.

Sony duduk dan meluruskan kakinya di salah satu kursi di teras rumah Tea.

“Ntar ya Son, aku bikinin minum dulu…” kata Tea, lalu melangkah untuk masuk.

‘Eh, Te!”

Panggilan Sony mengurungkan niat Tea untuk masuk. Tea menoleh ke arah Sony sambil mengangkat alis, “Kenapa Son?”

“Kok gua ga ditanyain mau minum apa dulu? Kan biasanya sebelum dibikinin minum, tamu yang dateng ditanyain dulu, maunya minum apaaa… Gua mau request minuman nih! Es kelapa jeruk ya, sedotannya warna ijo!”

Tea menjulurkan lidahnya “Enak aja. Lagian kalo tamunya model kayak kamu, masih untung aku kasih minum…”

“Ya udah deh, air putih aja…”

Tea mengangguk.

“Tapi yang dingin ya…”

Tea mengangguk lagi.

“Terus tambahin sirup 3 sendok makan, lalu diaduk 12 kali searah jarum jam. Ngaduknya pelan-pelan aja…”

Tea tidak bisa menahan tawa. Sony menyeringai.

“Kamu tuh,  macem-macem. Udah ah, terserah aku ya…” kata Tea sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar lagi sambil membawa sebuah baki. Ada dua gelas tinggi berisikan jus jeruk di baki itu, bersama setoples kacang. Tea meletakkan baki itu di meja, dan duduk di kursi.

“Makasih Teaaaa… Neng Tea tau aja nih kalo Bang Sony seneng makan kacang…”, tanpa menunggu dipersilakan, Sony langsung membuka stoples itu. Tea tertawa geli kembali melihat kelakuan Sony. Tapi tawa Tea langsung terhenti begitu Sony menoleh ke arahnya, dengan ekspresi wajah serius.

“Te, lo tadi takut banget ya liat Putri berantem sama Nico?”

Tea langsung merasa kikuk, apalagi saat mengingat betapa dia menggenggam lengan Sony erat-erat di saat itu. Tea lalu mengalihkan pandangan menjadi lurus ke depan, dan mengangguk.

“Iya, takut. Dari dulu aku ga pernah suka liat orang bertengkar kayak tadi. Apalagi aku ga pernah liat Nico marah banget kayak gitu.”

Sony mengangguk kecil. “Nico kesinggung banget Te…”

Tea menoleh ke arah Sony, “Kok kamu malah belain Nico sih?”

Sony menghela nafas. “Gua bukannya belain Nico sih Te. Gua juga kasian kok sama Putri, apalagi Putri juga kan akhirnya nyesel banget. Tapi di sisi lain, gua juga sedikit banyak bisa ngerti perasaan Nico waktu denger kata-kata Putri.”

Tea mengerutkan kening, dan terus menatap Sony dengan pandangan tidak mengerti.

“Maksud kamu?”

Sony tidak lagi menatap Tea, melainkan lurus ke depan. Sony menarik nafas panjang, lalu mulai bercerita.

“Te, Nico itu…memang beda banget dari Putri. Bahkan dari sebagian besar temen-temen di sekolah kita. Lo tau sendiri kan sekolah kita bisa dihitung sekolah elit? Nico itu…umm… gimana ya ngomongnya…” Sony sedikit tersendat.

“Nico itu dari keluarga yang biasa-biasa aja Te. Maksud gua, keluarga yang biasaaa banget. Ya, dibilang dari golongan ekonomi bawah juga enggak sih. Tapi ya, ngepas lah, istilahnya. Apalagi kalo dibandingkan sama rata-rata anak-anak di sekolah kita. Bapaknya Nico itu pegawai negri biasa, sedangkan ibunya Nico kalo pagi ngajar di TK deket rumah Nico. Nico itu anak sulung, adeknya ada satu orang, masih kelas 2 SMP.”

Tea terdiam mendengarkan penjelasan Sony. Sony meneguk jus jeruknya dua kali, lalu melanjutkan ceritanya.

“Nico bisa sekolah di Citra Nusa karena dapat beasiswa dari sebuah yayasan. Dan lo tau ga, siapa yang merekomendasikan nama Nico ke yayasan itu? Pak Nur. Soalnya sepupunya Pak Nur sama-sama jadi pengajar di TK tempat Ibunya Nico kerja. Yah, kalo untuk biaya sekolah memang full ditanggung yayasan sih, plus setiap bulan dapet lah uang saku, lumayan buat nambah-nambah beli buku pelajaran. Tapi kan yang namanya keperluan hidup bukan cuma untuk sekolah…”

Sony tiba-tiba menoleh ke arah Tea, “Lo ngerti ga, tiap kali Nico menyebut-nyebut kalo dia ada jadwal gitu?”

Tea menggeleng, “Aku kadang-kadang denger sih kalo dia nyebut-nyebut punya jadwal. Tapi aku ga ngerti…”

Sony tersenyum kecil. “Itu jadwal Nico ngasih les privat. Walopun dulu sempat dicegah ortunya, Nico tetep keukeuh ngasih les privat buat anak-anak SMP. Dia bilang lumayan buat nambah-nambah di rumah. Inget ga yang waktu kita nanya kenapa dia sampe tau rumahnya Putri? Besok paginya gua baru tau kalo Nico pas sore itu ada jadwal ngasih privat di deket komplek Putri situ.”

Tea terdiam. Sementara Sony masih meneruskan.

“Nico anaknya terbiasa kerja keras dari dulu. Pengaruh lingkungan banget. Walaupun ga bisa dibilang dari keluarga yang kekurangan, dia juga ngerti kalo keluarganya juga ga bisa dibilang berlebih. Dari dulu, kalo ada keperluan apa-apa, Nico selalu ngusahain sendiri. Ga pernah minta sama orang tuanya. Termasuk juga urusan henfon dan pulsa kayak yang jadi masalah tadi…” jelas Sony.

“Eh Te, tapi lo ga usah cerita-cerita ke yang lain ya. Nico ga pernah suka kalo latar belakang keluarganya jadi bahan cerita. Yah, kalo lo mau cerita ke Putri ya gapapa sih, maksud gua, biar Putri juga ngerti kenapa Nico bisa sampai setersinggung itu. Ntar biar sore nanti aku juga ngomong ke Nico deh. Ga adil juga buat Putri kalo Nico marah-marah gitu, padahal Putri kan ga ngerti sama sekali latar belakang kehidupan Nico. Biar sama-sama bisa instropeksi diri…”

Tea mengangguk. Sony tersenyum ke arah Tea. Lalu menghabiskan minumannya. Setelah meletakkan gelas minumannya, Sony lalu berdiri. “Ya udah deh Te, gua pulang dulu aja…”

Tea ikut berdiri. Tiba-tiba Sony menarik tas ranselnya ke depan dan merogoh ke dalamnya. Dia lalu menarik keluar sebuah kantong plastik, dan menyodorkannya pada Tea.

“Nih Te. Sebenernya sih tadi gua bawa klepon kan dua plastik gitu. Yang satu kan udah gua jadiin sajen buat nCogok satpamnya Putri tadi. Tadinya sih yang satu lagi mau buat dimakan bareng-bareng habis kita ngerjain buku tadi. Tapi malah ga sempet. Jadi daripada mubazir, dan nenek gua sedih karena klepon bikinannya gua bawa balik lagi, mending buat Tea aja deh…” kata Sony.

Tea menerima kantong plastik itu sambil tersenyum. “Makasih ya Son…”

Sony mengangguk sambil mengancingkan kembali ranselnya. “Lagian, lo sama klepon kan mirip Te…”

“Maksud kamu?” Tea sudah bersiap untuk protes.

“Klepon kan isinya gula merah. Kan kalo lagi malu gitu, muka lo jadi merah, tapi tetep manis. Jadi, ya gitu… kayak gula merah…” kata Sony sambil tersenyum pada Tea sambil menJiempangkan ranselnya.
Tea tidak tahu bagaimana ekspresi mukanya saat ini. Yang dia tahu, ada rasa panas menjalar memenuhi wajahnya. Sony tertawa kecil melihatnya.

“Tuh kaaann… Muka lo jadi merah gituuu…. Dan tetep manis kayak gula merah.” kata Sony sambil terus menatap Tea. Membuat debaran jantung Tea semakin tidak menentu.

“Baru gua yang ngomong aja, lo udah kayak gitu, gimana kalo Aji yang ngomong…” kata Sony lagi, sekali ini dengan senyum menggoda.

Tea merasa ada batu karang disesakkan dalam dadanya.

“Cok Te, gua balik dulu…” kata Sony sambil melangkah menuju motornya. Tea mengikutinya dari belakang. Sony menggiring motornya hingga keluar pintu pagar sebelum menaiki motornya itu. Tea memandang Sony dari sisi dalam pagar sambil memegang jeruji pagar.

“Son, kamu nanti mau ke rumah Nico jam berapa? Aku boleh ikut ga?” tanya Tea tiba-tiba.

Sony menoleh, lalu tersenyum. “Boleh. Paling sore gitu. Kalo jam 4 gitu gimana? Nanti gua jemput…” kata Sony.

Tea mengangguk, “Boleh deh. Eh, terus Son, boleh nanya lagi ga?”

“Nanya apa?”

“Kamu kok tau banget soal Nico?”

Sony tertawa kecil, dan menstarter motornya. Dia lalu memandang Tea. “Soalnya, gua juga anak beasiswa. Dengan kasus yang sebelas duabelas kayak Nico…” sahut Sony.

“Yuk ah Te, balik dulu. Ntar jam 4 gua jemput…” sambung Sony lagi. Detik selanjutnya, Sony sudah melaju di atas motornya.

Tea menggigit bibir. Dia baru menyadari, hampir tiga bulan mereka sekelas di kelas 12, dia tidak banyak tahu tentang kehidupan Sony. Yang dia tahu selama ini, Sony selalu membuatnya tertawa. Selalu membuatnya merasa nyaman. Tea menghela nafas panjang, lalu berbalik dan melangkah masuk ke rumah.
+++

Nico membanting diri di tempat tidur. Setelah kejadian di rumah Putri tadi, dia memilih untuk berputar-putar tidak jelas di jalanan, karena jam 2 siang dia harus memberi les privat untuk salah satu siswanya. Tanggung banget kalau harus pulang ke rumah dulu. Sebenarnya, Nico tadi benar-benar tidak mood untuk mengajari Olivia apapun. Masih untung PR Matematika yang disodorkan Olivia tadi untuk diajarkannya masih bisa dia selesaikan, walaupun pikirannya sebenarnya bercabang kemana-mana.

Yah, tidak terlalu bercabang kemana-mana sih. Cabang pikirannya cuma satu: Putri. Nico membuang nafas keras-keras. Berusaha menyingkirkan lagi bayangan gadis itu dari benaknya. Tapi tetap saja, wajah cantik itu terus melekat di benaknya. Terutama kedua matanya. Nico belum pernah melihat siapapun dengan tatapan mata secantik itu. Tatapan mata yang sedingin es. Tapi juga menyala dengan penuh semangat.

Tiba-tiba Nico merasa menyesal. Menyesal sekali. Atas semua yang sudah dia katakan. Apalagi begitu ingat betapa mata itu seakan langsung diselimuti kabut begitu mendengar kata-kata Nico. Meskipun kedua mata itu terus menatap Nico dengan tegar. Nico sadar, dia tidak berhak sekasar itu. Nico bangun dan duduk di tempat tidur, lalu meraih gitar kesayangannya. Gitar yang dia beli waktu kelas 11 dulu dari kerja kerasnya selama satu tahun. Dengan pandangan menerawang, Nico memetik gitarnya sambil bersenandung perlahan.

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati

meski tlah lama kita tak bertemu
ku slalu memimpikan kamu
ku tak bisa hidup tanpamu

aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
ku tak bisa hidup tanpamu
aku rindu…


Nico menghela nafas kembali, begitu menyadari bahwa dia merindukan Putri. Putri yang cantik. Tapi tidak, Putri tidak hanya sekedar cantik. Putri lebih dari itu. Kepribadiannya lah yang membuat Nico diam-diam selalu memperhatikan gerak-gerik Putri. Betapa Putri terlihat yakin pada dirinya sendiri, dengan sebuah tembok kepribadian yang begitu kuat. Lihat saja komentar-komentarnya yang seringkali sarkastik. Walaupun entah mengapa, Nico merasa di balik tembok itu, ada sosok Putri yang lain, yang jarang dia tunjukkan kepada orang lain. Sosok Putri yang akhir-akhir ini dekat dengan dirinya, Sony dan Tea.

Nico tersenyum kecil mengingat kembali tawa lepas Putri saat mereka berfoto-foto bersama di kali pertama mereka mulai mengerjakan proyek buku sekolah itu. Sambil mengingat berbagai eskpresi wajah Putri waktu itu, Nico mengedarkankan pandangan hingga tatapannya jatuh ke tas kamera milik Putri yang ada di atas meja belajar Nico. Nico memandangi tas kamera itu, lalu melihat jam dinding di atas meja itu. Baru beberapa menit lewat dari pukul setengah lima. Masih sempat, kalau dia segera melakukan idenya. Tapi Nico tahu, bahwa dia tidak boleh menundanya, kalau tidak ingin kemalaman. Nico segera bangkit, menyambar kamera itu dan memasukkannya ke dalam ranselnya. Sambil menutup ransel dan menJiempangkannya ke pundaknya, Nico melangkah keluar kamar.

Ruang tamu yang ada tepat di depan kamar Nico kosong, tapi suara Bapak dan Ibu yang tengah mengobrol di ruang tengah yang menandakan bahwa mereka ada disana. Nico lalu masuk ke ruang tengah. Ibu menoleh ke arahnya, sementara Bapak tidak mengalihkan pandangannya dari depan layar TV.

“Pak, Nico pinjem motor lagi ya.. Boleh ya? Mau ke rumahnya Om Chiko, terus habis dari sana nanti ke rumah temen.”

“Mau ke rumah Sony?” tanya Bapak, meskipun masih tidak mengalihkan pandangan dari berita yang ditayangkan di TV.

“Umm… bukan, temen yang lain…”

“Ya udah. Tapi ati-ati. Pulang jangan kemalaman.” sahut Bapak.

“Jangan ngebut lho Co…” kata Ibu menambahkan. Tapi Nico sudah keburu kembali ke ruang tamu, menyambar kunci motor yang tadi dia lemparkan ke laci bufet. Dengan terburu-buru, Nico membuka pintu depan rumahnya, dan langsung merasakan jari-jari Sony menghantam hidungnya.

“ADUH! Kenapa sih elo itu bawa sengsara mulu buat hidup gua?!” Nico mengelus-elus hidungnya. Sony sempat nampak kaget, tapi langsung tertawa kecil.

“Sorry Co, tadi sih gua niatnya mau ngetok pintu. Tapi lo juga salah sih, keburu buka pintu, jadilah gua mengetuk hidung lo…” sahut Sony sambil terkekeh. Tapi begitu melihat kunci motor di tangan Nico, dan ransel yang ada di punggung Nico, Sony langsung bertanya.

“Lo emang mau pergi ya Co?”

“Iya, gua… mau ke rumah Putri…” sahut Nico, pelan. Apalagi ketika dia menyadari, ada Tea yang berdiri di sebelah Sony. Tea tersenyum ketika Nico memandangnya.

“Lo mau ngapain ke rumah Putri? Mau nyembur dia pake kemenyan? Atau mau lo masukin ke botol, terus dibuang ke laut?” tanya Sony sambil tersenyum.

“Ya ga lah! Elonya aja yang psycho…” tukas Nico sambil menoyor kepala Sony.

“Gua…” Nico diam sejenak, lalu menjatuhkan pandangan ke lantai, “mau minta maaf sama Putri…”

Sony menonjok pundak Nico pelan sambil tersenyum (perasaan saya aja atau memang sebagai penulis saya terlalu sering menggambarkan Sony yang sedang tersenyum?).

“Gitu dong…” kata Sony pelan

“Eh, emang kalian mau ngapain kesini?” tanya Nico lagi sambil mengernyitkan keningnya.

“Mau… Eh, kita tadi mau ngapain kesini Te?” Sony malah menoleh ke arah Tea sambil menggaruk-garuk belakang telinganya. Tea membelalakkan matanya.

“Oh iya! Nico, kami cuma mau bilang…KAMI MERINDUKANMU! Dan kami akan selalu akan mendukung apapun keputusanmu! Kami akan setia mengetik NICO dan mengirimnya ke 6288!” seru Sony berapi-api sambil tiba-tiba merangkul Nico.

“SONY!!! APA-APAAN SIH! Lo kira gua kontestan Indonesian Idol???” Nico meronta-ronta, berusaha menjauhkan diri dari Sony.

“Ah, udah ah, gua mau pergi sekarang. Tea, lo mau gua anterin pulang aja? Gua ga tega membayangkan nasib lo diboncengin sama mahluk SARAP kayak dia” kata Nico begitu berhasil menjauhkan diri dari Sony.

“Eh, jangan! Tea sama gua habis ini mau ke…” Sony berusaha mencegah Nico. Tea sendiri berganti-ganti menatap Sony dan Nico.

“Mau kemana lo? Anak orang mau diapain? Gua laporin RCTI lho, biar jadi headline di Sergap!” ancam Nico.

“Gua sama Tea habis ini mau ke…MONAS! Ya kan Te, habis ini kita mau ke Monas kan Te? Kan kita mau liat emas yang di puncak Monas itu…”

Nico menoleh ke arah Tea dengan tatapan bertanya. Tea sendiri malah bengong. Nico menarik nafas, menutup pintu dan melangkah menuju motornya. Sambil naik ke atas motor, Nico kembali menatap Tea.

“Te, beneran deh, mendingan lo gua anter pulang aja. Gua ga tega ngebayangin elo mesti sama si topeng monyet ga laku kayak dia…”

“Euh…” Tea belum sempat menjawab, tapi Sony sudah keburu meraih tangan Tea untuk menggandengnya dan melambai ke arah Nico.

“Tenang aja Co. Bang Sony akan menjaga Neng Tea dengan segenap jiwa raga Bang Sony yang perkasa…” kata Sony dengan wajah yakin.

Nico memandang ke arah Tea dengan wajah bertanya.

“Em. Iya, gapapa Co. Aku biar pulang bareng Sony aja. Kamu selesaikan urusanmu sama Putri aja…” kata Tea sambil berusaha tersenyum. Walaupun nafas Tea terasa begitu tersendat dengan tangan Sony yang saat ini tengah menggandengnya.

Nico mengangguk. “Ya udah deh kalo gitu. Eh, sori lho ya… Gua bukannya ngusir kalian. Tapi gua bener-bener mesti pergi sekarang…” kata Nico sambil memasang helm.

“Iya, gapapa kok… Good luck sama Putri ya…” kata Sony.

Nico tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah suara motor Nico tak terdengar lagi, Sony dan Tea saling berpandangan. Dengan kikuk Sony melepaskan genggaman tangannya dari lengan Tea.

“Monas, Son? MONAS?” kata Tea dengan penuh rasa tidak percaya.

Sony menggaruk-garuk belakang telinganya lagi, “Habisnya, tadi gua mau nyebut Stasiun Gambir, kok aneeeehh… Kan ga masuk akal banget kalo gua bilang kita mau ke Stasiun Gambir buat liat kereta api…”

“Terus kamu pikir, mau liat emas di puncak Monas itu lebih masuk akal?”

“Jadi lo ga mau ke Monas?”

“Ngapain juga aku ke Monas?”

“Ya udah deh, kalo gitu ke rumah gua aja mau?”

Tea ternganga. Apa kata Sony tadi? Ke rumah Sony?

“Mau? Sip. Bagus deh. Lagian rumah gua deket kok dari sini. Cuma selisih tiga gang kok.” Kata Sony sambil melangkah menuju motornya. Sony lalu menaiki motornya, dan memandang Tea.

“Ayo Te. Buru. Ntar kemaleman… Apa mau ke Monas aja?”

“Eh, enggak. Eh, maksudku, iya… ke rumah kamu aja…” sahut Tea sambil mendekati Sony. Walaupun dia merasa seperti berjalan dalam mimpi. Ke rumah Sony. Dia mau kerumah Sony sekarang. Boncengan. Sama Sony. Berdua. Ke rumah Sony.

Ya Tuhan.

“Kenapa jantung ini ga bisa disuruh tenang dikit siiihhh???!!!” teriak Tea dalam hati saat menaiki motor. Sony pun melarikan motornya. Dan Tea merasa seperti meniti jejak bFifing di angkasa. Walaupun belum ada kerlip bintang yang muncul.
+++

Tea turun dari motor, dan melangkah mengikuti Sony yang mendorong pintu pagar untuk menggeret motornya masuk ke halaman. Tea memandang rumah sederhana di hadapannya. Tidak terlalu besar, tapi rumah bercat kuning itu nampak bersih dan apik. Halamannya pun tidak terlalu besar, namun tanaman-tanaman hijau yang menyejukkan membuat suasana terasa teduh.

Sony duduk di bangku kayu yang ada di teras sambil melepas sepatunya. Tea sendiri masih berdiri, merasa rikuh. Suara derit pintu yang membuka membuat Tea mengangkat wajah. Seorang wanita tua yangmasih kelihatan sehat muncul di balik pintu.

“Sony? Kok udah pulang?”

“Iya Nek. Ada perubahan rencana mendadak. Oh iya Nek, Sony sama temennya Sony. Itu yang namanya Tea. Te, ini nenekku…” Sony memperkenalkan mereka berdua.

Dengan agak gugup, Tea mendekati wanita tersebut dan menyalami beliau. Tapi rasa gugup Tea langsung sirna begitu melihat senyum ramah dari wanita itu.

“Ya udah deh, Nenek ada di dapur ya Son…” wanita itu tersenyum kembali pada Tea, dan menghilang di balik pintu. Sony menoleh ke arah Tea.

“Duduk di kamarku aja yuk…” kata Sony, lalu masuk ke dalam rumah. Tea mengikutinya. Ruang tamu Sony tidak terlalu besar, hanya ada seperangkat kursi tamu dan sebuah lemari besar berpintu kaca. Tea mencermati kembali isi lemari itu, dan menyadari, lemari itu bukan lemari pajangan. Melainkan lemari buku. Dari atas ke bawah, lemari itu penuh terisi buku-buku. Sony membuka pintu yang ada di sisi kanan ruang tamu. Dia lalu melangkah masuk

“Masuk aja Te…” kata Sony dari dalam kamar. Tea menurut, mengikuti Sony, dan ternganga.

Cahaya matahari sore jatuh menerangi kamar itu dari jendela yang tepat berhadap-hadapan dengan pintu kamar. Di sisi kiri kamar, sebuah rak buku setinggi sekitar 2 meter penuh terisi buku. Rak buku kedua yang juga terisi penuh dengan buku berbagai ukuran ada di sisi dinding yang sama dengan pintu itu. Tempat tidur Sony diletakkan menempel di sisi kanan kamar itu. Bahkan ada 2-3 buah buku yang tergeletak di atas tempat tidur itu. Sony meraup semua buku itu dan meletakkannya di atas meja belajarnya yang ada di bawah jendela. Sony lalu duduk di kursi belajarnya, menoleh ke arah Tea dan tersenyum.

“Lo duduk di tempat tidur aja Te, gapapa kan?” kata Sony.

“Gak… Gapapa kok…” kata Tea sambil melangkah ke arah yang dimaksud Sony. Perlahan dia duduk di tempat tidur yang beralaskan seprai warna biru tua itu. Saat mengangkat wajah, pandangan Tea jatuh pada sebuah foto yang dipasang Sony di salah satu bagian dinding kamar yang tersisa di sebelah meja belajar Sony.

Foto seorang laki-laki separuh baya yang tengah tertawa sambil merangkul pundak seorang anak berseragam putih merah yang juga tengah tersenyum lebar. Walaupun foto itu pasti diambil bertahun-tahun yang lalu, hanya dari senyumannya saja Tea sudah bisa menduga bahwa anak kecil itu adalah Sony. Tea bisa melihat banyak kemiripan antar raut wajah Sony dengan laki-laki yang merangkulnya itu.

“Kamu mirip sama Bapakmu ya Son…” komentar Tea sambil memandangi potret itu. Sony memutar kepalanya untuk memandang foto itu. Lalu kembali memandang Tea. Tersenyum tipis.

“Iya. Banyak yang bilang kalo gua mirip almarhum Bapak…”, Sony lalu membuang pandangan ke luar jendela.

“Eh, sori… aku ga tau…”

“Gapapa kok Te. Bapak udah meninggal sejak aku kelas 5 SD. Itu foto terakhirku sama Bapak…” kata Sony dengan pandangan mata menerawang ke luar jendela di hadapannya. Tangannya melingkari kedua lututnya yang dinaikkannya ke atas kursi.

Tea merasa kikuk, kembali menebarkan pandangan ke sekeliling kamar dalam usahanya mencari bahan percakapan.

“Banyak banget bukunya Son… Kamu bener-bener suka baca ya?”

Sony mengangguk. “Gara-gara Bapak sih…” Sony tertawa kecil saat mengingat masa lalunya. “Sejak kecil, aku selalu melihat Bapak membaca. Bapak juga suka membacakan cerita buat aku. Sampai Ibu suka marah-marah, karena kalau dibacakan cerita, aku kuat begadang sampai larut malam. Padahal waktu itu umurku paling 3-4 tahun gitu.”

“Bapak pernah bilang, kalo Bapak ga bisa mewariskan harta buat aku, yang bisa dia wariskan cuma buku…”, Sony menarik nafas panjang, lalu melanjutkan kembali dengan nada suara yang berbeda, “Tiga hari setelah Bapak ngomong kayak gitu, Bapak ketabrak mobil waktu mau berangkat ngajar…”. Dari tempatnya duduk,

Tea bisa melihat Sony menggigit bibir. Bahkan cahaya mata Sony sedikit tersapu mendung.

Ketukan halus dari pintu kamar Sony yang dibiarkan terbuka membuat mereka berdua melemparkan pandangan ke arah pintu. Nenek Sony melangkah masuk sambil membawa sebuah baki berisikan dua gelas the yang masih mengepul, dan sepiring kue lapis. Sambil tersenyum, Nenek Sony meletakkan baki itu di meja belajar.

“Diminum ya Te… Nenek seneng kalo ada temennya Sony yang datang, biasanya yang dateng Nico terus…”

“Oh ya?” kata Tea, di belakang neneknya, Sony terlihat salah tingkah.

“Iya. Baru sekali ini ada temennya Sony yang cewek yang dateng ke rumah…” Nenek lalu berpaling ke arah Sony, “Son, Tea ini kan yang kamu bil…”

Sony tiba-tiba berdiri, “Nek! Sony lupa ngasih tau nenek, tadi di dapur ada piring Nek! Yuk , diliat dulu piringnya…”kata Sony sambil meraih tangan neneknya dan setengah menyeret beliau keluar kamar.

“Sony! Kamu ini kualat lho sama Nenek…Nanti nenek bilangin ibu lho…” sayup-sayup suara Nenek yang setengah marah terdengar dari luar kamar.

Beberapa saat kemudian, Sony sudah muncul kembali dengan wajah memerah.

“Son, bukannya tempatnya piring itu memang di dapur?” tanya Tea sambil tersenyum kecil. Sony tidak menjawab, dia duduk kembali di kursinya tadi dan menyodorkan piring kue tadi ke arah Tea.

“Cobain gih Te, bikinan Nenek…”

Tea mengambil salah satu kue, dan menggigitnya. Enak. Seperti kue yang biasanya Sony bawa ke sekolah.

“Nenek kamu emang hobi bikin kue ya?”

Sony ikut mengambil sepotong kue dan menggigitnya. “ Ya gitu… Tiap hari bikin, terus pagi jam enam atau setengah tujuh gitu gua anter keliling warung-warung. Terus sorenya gua keliling lagi ngambil uang hasil jualan sama narikin sisa kue yang belum laku. Tadi juga sebelum jemput elo, gua keliling dulu.” Kata Sony setelah menelan kuenya.

“Oh gitu? Jadi nenek kamu jualan?”

“Sebagian besar dijual, sebagian kecil banget ya jadi santapan kalian kan…” Sony tertawa kecil. “Tapi lumayan lah hasilnya, motor kami itu juga kan, kreditnya akhirnya bisa lunas tiga bulan yang lalu juga, sedikit banyak karena hasil jualan itu…”

Tea menelan kue yang masih ada di mulutnya, lalu menatap Sony, “Kamu juga anak beasiswa kayak Nico ya?”

Sony meraih gelas tehnya dan meneguk isinya sebelum menjawab, “Ho’oh… Sama kayak Nico, yang ngasih rekomendasi juga Pak Nur, soalnya kantor tempat istrinya Pak Nur kerja kan juga suka pesen kue sama Nenek, terus aku suka nganterin pesanan ke sana. Jadi ya gituu…” kata Sony sambil meletakkan gelasnya kembali.

“Tapi kok kamu beda sih sama Nico? Maksud aku, Nico kan kesannya rada sensitif gitu. Sementara kamu kayaknya lebih santai deh… Padahal kan kondisi kalian sama. Eh, maksud aku, ya….ya gitu deh… Kamu ngerti kan maksud aku?” Tea kebingungan sendiri menjelaskan maksudnya.

Sony menatap Tea, dan balik bertanya, “Te, kalo lagi pergi kondangan, terus untuk pencuci mulutnya ada pilihan es krim, puding, es buah, sama kue basah gitu, lo pilih yang mana?”

Tea tidak mengerti kenapa Sony balik bertanya dengan pertanyaan semacam itu. Tapi toh Tea tetap menjawabnya, “Puding…”

“Kalo gua sih milihnya es krim, Te.”

“Apa hubungannya sama yang aku tanyain tadi?”

“Nggak sih, itu analoginya aja. Bahwa walaupun dihadapkan pada situasi yang sama, orang yang berbeda juga belum tentu mengambil pilihan yang sama kan? Sama aja kayak Nico dan gua. Kami berada dalam kondisi yang mirip, tapi dia dan gua memilih cara yang berbeda untuk menghadapinya. Kalo Nico mungkin terkesan rada lebih serius menghadapinya, karena biar gimana, dia itu anak sulung. Tambahan lagi, dari dulu memang Nico anaknya cool sih, kan aku dulu satu SMP sama Nico…”

“Kalo kamu?”

Sony tertawa kecil, “Ah, gua mah biasa aja kali Te… Maksud gua, gua tau kondisi gua beda dari temen-temen yang lain. Tapi kalo hanya karena itu gua lalu berjutek-jutek ria, ga bakal mengubah apapun kan? Bukan berarti gua bilang kalo Nico itu jutek lho yaaa… Dia mah anaknya sebenernya baik, baik banget. Tapi ya, kepribadian kami memang beda…”

Tea mengangguk kecil. Berusaha memahami penjelasan Sony tadi. Sambil mengedarkan pandangannya lagi ke sekeliling kamar, Tea menanyakan hal yang juga membuatnya penasaran.

“Semua buku ini punya elo Son?” tanya Tea, tidak dapat menyembunyikan sedikit nada kagum, karena dilihatnya ada banyak buku yang ditulis dalam Bahasa Inggris.

Sony mengangguk. “Sebagian gua beli di pasar loak, asal nyarinya rajin, banyak kok buku bagus yang kondisinya masih sangat layak. Sebagian lagi gua dapet dari internet.”

“Kok bisa?”

Sony menjawab sambil memandangi koleksi bukunya dengan ekspresi lembut yang belum pernah dilihat Tea sebelumnya, “Te, yang namanya Internet itu jauh lebih luas daripada sekedar Facebook, Youtube dan semacamnya. Lo bisa ketemu para pecinta buku disana. Sering kok ada yang menawarkan koleksi buku mereka secara gratis, asal kita rajin aja browsing. Ada yang namanya sistem mooch, jadi si pemberi buku itu menawarkan koleksi buku dia secara gratis, bahkan yang meminta bukunya ga usah mikir biaya kirim…”.

Sony lalu tersenyum tipis, masih sambil menatap koleksi bukunya, “Bapak benar Te, buku itu…adalah harta yang paling berharga, yang bisa membuat elo merasa sangat kaya, yang bisa membuat elo terbang ke penjuru dunia manapun yang elo pengen…”

Tea setengah ternganga. Tidak menyangka, bahwa Sony yang selama ini dikenalnya sebagai sosok yang lucu, menyimpan kepribadian lain yang jauh berbeda dari cowok-cowok lain yang pernah dikenal Tea.

Sony menoleh ke arah Tea, “Udah sore banget Te. Mau pulang sekarang?”

Nggak. Tea ga pengen pulang. Dia ingin tinggal lebih lama lagi. Ingin mengobrol lebih banyak lagi. Ingin tahu lebih banyak lagi tentang Sony.

Tapi tentu saja itu semua hanya terucap di dalam hati Tea.

Tea mengangguk, “Yuk, tolong anterin pulang ya Son..” katanya sambil merapikan roknya. Sony bangkit dari kursi, keluar dengan Tea yang mengiringi di belakangnya.

Perjalanan dari rumah Sony ke rumah Tea hanya perlu waktu kurang dari setengah jam. Matahari mulai menyampaikan salam perpisahan ketika Tea turun dari motor Sony.

“Makasih ya Son…”

Sony mengangguk, “Gua ga usah turun ya Te, ntar keburu Maghrib…”

Tea balas mengangguk. Diiringi senyuman yang membuat Sony tidak bisa menahan diri untuk tiba-tiba bertanya.

“Te, kapan-kapan mau ga maen ke rumah lagi?”

Ekspresi wajah Tea jelas menunjukkan kekagetannya. Yang membuat Sony menyesal setengah mati bertanya seperti itu.

“Eh, maksud gua, maen ke Monas deh. Atau ke Stasiun Gambir aja kalo lo lebih suka ngeliat kereta api daripada liat emas…”

Tea mulai tertawa, “Son…”

“Atau kamu lebih suka maen ke Ragunan? Ntar kita bareng-bareng sama Nico sama Putri juga deh. Tapi jangan sampai Putri deket-deket sama macan, ntar macannya minder karena ngerasa kalah galak dibanding Putri”

“Sony…”

“Ya, tapi kalo lo ga pengen maen kemana-mana juga gapapa sih…”

Tea meninju perlahan lengan Sony.

“Dengerin aku dulu dong…”

“Lo minta didengerin, emangnya mau nyanyi? Ya udah, kalo gitu kita karaokean bareng ajaaa”

“Ga, aku cuma mau bilang, aku mau kok kapan-kapan maen ke rumah kamu…”

Sony terpana saat Tea mengakhiri kalimatnya dengan diiringi senyum manisnya. Sony masih tidak mampu berkata-kata saat Tea melangkah melewati pintu pagar, dan melambai kecil dari balik pintu pagar. Sony masih tetap dalam posisi setengah ternganga, saat Tea masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu.

Setelah beberapa detik, Sony akhirnya tersadar. Dia lalu mendongakkan ke atas, lalu berbisik perlahan.

“Ya Tuhan, kejadian tadi bisa ga diulang sekali lagi? Tapi dibikin slow motion… biar rada lamaan dikit…”

Sony memejamkan mata, menarik nafas perlahan. Lalu membuka mata kembali. Ada sebuah senyuman lebar di bibirnya. Beberapa saat kemudian, Sony memacu motornya kembali ke rumah. Meniti batas senja sambil membawa pelangi di hatinya.
+++

Tea melongokkan kepalanya melalui pintu kelas, dan tersenyum lega melihat pemandangan yang dilihatnya. Dengan ceria *duh, bahasanya* dia melangkah menuju bangkunya. Putri sudah datang, tapi tengah duduk menghadap ke belakang, ke arah Sony dan Nico. Tea lega melihat mereka mengobrol seperti biasa.Karena itu berarti semua sudah baik-baik saja.

Sony yang pertama kali menyadari kedatangan Tea melambai ke arah Tea dengan penuh semangat, “Pagi Teaaa…”.

Tea meletakkan tasnya, lalu duduk menghadap Sony dan Nico, seperti yang dilakukan Putri. Dia tersenyum, seperti biasa, kotak bekal Sony terbuka dengan sejumlah penganan di dalamnya. Nico melipat tangannya di depan dada, dan sambil tersenyum, bertanya pada Tea.

“Gimana liat Monasnya kemaren? Bagus? Emasnya masih nempel di puncak Monas?”

Putri mengangkat alis, menoleh ke arah Tea, “Monas, Te? Of all the places that You can go in Jakarta? Lo malah jalan-jalan ke MONAS?”

"Eh…itu..um… …” Tea gelagapan.

Tapi Sony sudah memotong kata-kata Tea, dia berseru nyaring sambil menunjuk ke arah jendela, “LIAT! Ada Spiderman nemplok di jendela!”

Nico melirik ke arah teman sebangkunya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh really?” cuma Putri yang menanggapi dengan nada geli.

“Ya iya lah Put… cuma Spiderman yang bisa nemplok di jendela, kalo Superman mah ga bakal nemplok di jendela, dia mah mending terbang…”.

Putri tertawa, sementara Nico menabok kepala Sony dengan LKS Fisikanya. Tea tersenyum kecil. Merasa senang melihat teman-temannya. Bagi Tea, hari-hari di tahun terakhirnya di SMA ini jadi semakin berwarna dengan
persahabatan yang aneh ini. Putri yang sarkastik, Nico yang cool, dan tentu saja Sony yang selalu membuatnya tertawa.

“Eh, bel masih lama ga ya? Pak Nur udah dateng ga ya? Te, lo tadi lewat ruang guru ga? Ada Pak Nur ga?” tiba-tiba Sony seperti teringat sesuatu saat dia meraih ranselnya dan mengobrak-abrik isinya. Dia lalu menarik keluar sebuah amplop coklat dari tas itu, lalu menoleh ke arah Nico.

“Co, lo jadi? Udah ngumpulin formnya?” tanyanya dengan wajah panik.

Nico mengangguk, “Udah dari Jum’at kemaren gua kasih ke Pak Nur… Gua pikir lo udah juga… Kan paling lambat siang ini Son…”

“WADUH! YA udah deh, gua ke ruang guru sekarang…” Sony langsung berdiri dan berlari keluar kelas sambil menenteng amplop coklat itu.

Tea dan Putri saling berpandangan, lalu menatap Nico. “Apaan sih?” tanya Tea penasaran.

Nico malah membuka buku paket Fisikanya, menghindari tatapan mereka berdua. “Biasa lah, urusan sama Pak Nur…”

Tea sebenarnya ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi dering bel mengurungkan niatnya. Sambil mengangkat bahu, dia mengubah posisinya menghadap depan.

“Te…” Putri tiba-tiba menjawil pundak Tea dengan pulpen di tangannya. Tea menoleh.

“Kenapa?”

“Jum’at siang, lo pulang bareng gua yuk! Temenin gua ke mall, ntar pulangnya gua anterin deh” kata Putri sambil tersenyum.

Tea membelalakkan matanya. Semnejak proyek buku sekolah itu Tea memang jadi lebih dekat dengan Putri, dan sudah beberapa kali ke rumah Putri. Tapi selama ini dia belum pernah jalan-jalan ke mall bareng. Ada angin apa ya?

“Bareng sama temen-temen kamu yang lain? Maksudku, sama Sonia dan yang lain-lainnya?” tanya Tea. Jujur, dia agak rikuh kalau harus bersama mereka. Karena Tea merasa teman-teman segeng Putri itu… berbeda dari
dirinya. Entahlah, berasa ga nyambung aja…

Putri menggeleng. “Ga lah… Kita berdua aja… Mau ya?”. Melihat Tea mengangguk, Putri tersenyum puas. “Sip! Jum’at siang habis pulang sekolah, lo ke rumah gua aja dulu. Bawa baju ganti, jadi ganti baju di rumah gua. Habis itu, baru kita pergi…”

Tea masih tidak bisa berkata-kata karena kaget. Dan bingung. Maka dia hanya bisa mengangguk.
***

Tea yakin, pasti beberapa minggu yang lalu, Putri tanpa sengaja berjalan di bawah pohon pisang. Atau pohon beringin. Atau pohon kamboja. Pokoknya pohon yang angker. Dan pasti Putri kesambet penunggu pohon keramat itu. PASTI. Karena, kalau tidak seperti itu, kenapa Putri tiba-tiba berubah drastis seperti ini?

Mulai dari sikapnya yang jauh lebih ramah pada Tea, Nico dan Sony. Lalu kesediaannya untuk ikut tim mereka dalam mengerjakan proyek buku sekolah itu, bahkan menawarkan rumahnya sebagai tempat mereka berkumpul setiap hari Minggu. Di sekolah pun, Putri mulai terlihat jarang bergabung dengan anak-anak DIvA’s. Kalau dulu setiap jam istirahat Putri selalu ngabur duluan untuk beredar bersama clique-nya itu di kafetaria, sekarang
paling-paling hanya di jam istirahat kedua saja dia ikut bergabung dengan Anin, Fifin dan Sonia. Pada jam istirahat pertama, biasanya Putri lebih memilih untuk ikut menguras isi kotak bekal Sony. Dan lama kelamaan
itu sudah seperti jadi tradisi bagi mereka. Bahwa di jam istirahat pertama, mereka berempat akan berkumpul bersama sambil menikmati bekal yang dibawakan Sony. Dan adegan-adegan yang terjadi biasanya memiliki
pola yang sama, Sony dan lawakannya, Nico yang akan “menganiaya” Sony karena merasa kesal dengan tingkah laku teman sebangkunya itu, dan Putri dengan komentar-komentar tajamnya terhadap Sony. Tea? Dia biasanya sudah cukup puas hanya melihat kelakuan tiga temannya itu.

Tapi bagi Tea, puncak perubahan sikap Putri adalah di Jum’at siang ini. Tea sendiri tidak pernah membayangkan dia akan pernah berjalan-jalanhanya berdua dengan seorang Putri. Putri yang dulu hanya dipandanginya dari jauh dengan perasaan kagum bercampur iri. Tea tidak pernah menyangka bahwa dia akan bisa mengalami saat-saat seperti ini, keluar masuk gerai-gerai toko yang ada di salah satu Mall terbesar di Jakarta.


Tea berputar kembali di depan kaca. Benar juga kata Putri. Tea sempat tidak percaya diri untuk mencoba baju ini, tapi Putri terus menerus mendesaknya. Gaun cantik ini terlihat cantik sekali di tubuhnya. Gaun dengan model baby doll itu jatuh dengan pas tepat menutupi lutut Tea. Warna peach gaun itu tidak membuat kulit putih Tea terlihat pucat. Aksen berupa kerutan-kerutan di bagian lengan gaun itu membuat gaun itu terlihat semakin cantik. Tea kembali memandangi bayangannya di cermin. Tea tidak ingin menjadi orang yang sombong, tapi sekali-sekali, boleh dong dia merasa bahwa dia terlihat cantik dengan gaun itu? Dia lalu keluar dari kamar pas, dan berputar di depan Putri yang duduk menunggunya di butik itu.

“Udah Te. Bagus koookk…. SeNiyously. You look Ah-mazing…!” seru Putri sambil menepukkan kedua tangannya.

Tea tersenyum kecil, masuk kembali ke kamar ganti. Beberapa menit kemudian dia keluar sambil menggantungkan kembali gaun itu di gantungannya, dan beranjak mendekati rak tempat gaun itu semula dipajang.

“Lho? Kok ga jadi diambil?” Putri meloncat mendekati Tea dan meraih lengan Tea.

“Put. Bagus sih bagus. TAPI harganya itu…” sahut Tea.

Dengan sigap Putri meraih gaun itu dari tangan Tea, sambil berkata, “It’s on me. Aku yang bayarin”.

Dengan ternganga, Tea memandang Putri yang berjalan ke kasir, menyerahkan gaun itu dan sebuah kartu kredit. Tea masih ternganga sampai akhirnya Putri mendatanginya dan menyodorkan sebuah kantong kertas berlabelkan nama butik itu ke arah Tea.

“It’s officially Yours…” kata Putri sambil tersenyum lebar ke arah Tea.

“Put? Kamu serius? Ini beneran buat aku?”

Putri mengangguk, “Cepetan diambil! Pegel nih tangan gua…” kata Putri sambil tertawa kecil.

Tea meraih tas itu dengan rasa tidak percaya, “Put, aku ga tau mesti ngomong apa…”

“Well, ‘thank You’ would be Sone…” kata Putri.

“Makasih Put…” Tea masih merasa bermimpi.

“Tapi Te, like they said, there’s no such thing as free lunch. Ada syaratnya. Gua ikhlas ngebeliin baju itu buat lo, tapi lo mesti bantuin gua.”

Oh-oh. Oke. Bener juga. Ga ada yang gratis di dunia ini. Segala sesuatu ada harganya. Ada udang di balik batu. Ada kacang hijau di balik onde-onde. Ada gula merah di balik klepon. Tea mengira-ngira dengan
gugup, apa yang akan diminta Putri darinya? Mengerjakan PR-PR milik Putri? Duh. Tapi mungkin dia bisa minta tolong sama Sony soal itu. Atau apa?

Putri menatap Tea dengan senyum misterius, “Lo mesti temenin gua nonton malam ini ya, di FX”

Tea ternganga. Tidak mungkin. Gaun secantik ini ditukar dengan menemani Putri menonton? Keajaiban dunia apalagi yang akan terjadi setelah ini? Ikan paus tiba-tiba bisa menari Pendet?

“Sama apa lagi?” tanya Tea. Tidak mungkin banget rasanya bayaran yang diminta Putri untuk gaun ini hanya itu.

“Udah, itu aja…” kata Putri dengan santai, lalu berbalik dan mulai berjalan keluar butik. Baru dua langkah berjalan, dia berbalik lagi ke arah Tea, “Eh, sama satu lagi ding! Lo mesti pake baju itu ya…” katanya sambil tersenyum.

Tea mengangguk, lalu bergegas mengikuti Putri yang sudah melangkah lagi. Di dalam hati, Tea merasa ada sesuatu yang sungguh aneh dengan semua ini.
***

Tea ternyata keliru. Dia pikir kejadian tadi siang adalah puncak keanehan sikap Putri. Ternyata malam ini, sikap Putri membuat Tea semakin heran. Putri datang ke rumah Tea jam setengah enam, sejam lebih awal dari
waktu yang mereka sepakati. Dan tidak hanya itu saja, Putri malah ribut mendandani Tea. Memaksa Tea untuk memakai baju barunya. Menata rambut Tea. Putri bahkan membawa set make-up nya sendiri dan sejumlah peralatan tempur untuk menata rambut Tea.

Tea kembali memandangi bayangan wajahnya di depan cermin. Nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Sementara, di sebelahnya Putri dengan ekspresi puas melihat hasil kerjanya.

“Sip! Now we’re sooo ready!” kata Putri. “Yuk, berangkat sekarang…” kata Putri, sambil membereskan barang-barangnya. Tea masih terdiam menatap wajahnya. Sempat terlintas di benaknya, apa yang akan diucapkan Sony seandainya Sony melihat Tea dalam tampilan seperti ini.

“Eeehh… dibilangin buruaaann…” kata Putri. Tea tersadar, dan menyambar tas kecilnya untuk segera menyusul Putri.
***

“Put, emang kita mau nonton apa sih?” tanya Tea saat mereka berdua melangkah memasuki bioskop.

Putri tidak menjawab, dia malah sibuk melihat ke sekitar, seperti sedang mencari seseorang. Tea jadi semakin bingung. Tapi ketika Putri melambai dengan penuh semangat, Tea mengalihkan pandangannya dari Putri, dan
melihat ke arah mana Putri melambai.

Kesalahan besar. Karena begitu melihat siapa yang dipanggil Putri, Tea merasa langsung ingin pingsan.

“Ji! Sini!” seru Putri.

Aji tersenyum dan melangkah mendekati mereka. Dan setiap langkah Aji membuat nafas Tea semakin sesak. Setiap langkah. Karena setiap kali Aji mengayunkan langkahnya, seperti ada sinar yang berkilau dari Aji yang memupuskan kehadiran orang lain di tempat itu.

Aji terlihat begitu tampan, dengan sweater hijau yang digulung sampai pertengahan lengan. Heran deh, cowok lain kalau pakai warna hijau, seringkali terlihat seperti lemper, tapi Aji malah terlihat semakin berkilau. Leher sweater yang dipakai Aji berpotongan V, memperlihatkan sebagian dari kemeja putih yang dikenakan Aji di balik sweater itu. Hanya perlu satu kata. SEMPURNA. Tea berpikir, tidak
ada lagi yang bisa lebih sempurna dari penampilan Aji di malam itu.

Tea salah. Karena begitu Aji berdiri berhadap-hadapan dengannya, dan kedua ujung bibir itu melengkung membentuk senyuman, Aji terlihat semakin sempurna lagi. Dewa Yunani yang menjelma menjadi manusia. Robert Pattinson aja bakal minder kalo dipaksa bersisian sama Aji.

“Kirain ga jadi Put…” Aji lalu menoleh ke arah Tea, “Hai… Kamu yang sebangku sama Putri kan? Tea kan?”

Dengan gugup Tea mengangguk. Otaknya berhenti bekerja. Tidak bisa memikirkan kata-kata apapun.

“Mau nonton film apa? Biar aku aja yang antriin tiketnya…” kata Aji.

“When in Rome aja! Katanya seru tuh… Romantis-romantis gimanaaa gitu lho…” kata Putri dengan cepat sambil mengeluarkan I-Phone nya dari dalam
tas.

“Oke… kalian duduk aja dulu disana deh. Aku ngantri tiket dulu…”, Aji pun berlalu.

Tea menoleh cepat ke arah Putri, dan langsung memukul pundak Putri.

“Pasti kerjaan kamu ya? Kok ga bilang-bilang sih bakal ada Aji juga?”

“Lho, memangnya kenaaapaaa? Apa salahnya bareng sama Aji?” Putri malah sibuk dengan ponselnya.

“Putriyy….”

“Ntar Te, nanggung…” Putri malah nampak sibuk dengan ponselnya, membuat Tea merengut. Tapi toh dia terpaksa mengikuti Putri yang berjalan ke salah satu tempat duduk sambil terus memainkan jarinya di layar sentuh ponselnya.

“Putriy… lo kok malah mainan hape gitu sih? SMS an ya?” kata Tea sambil mengambil posisi duduk di sebelah Putri.

Putri tidak menjawab, mengerutkan kening sebentar saat menatap layar, kemudian tersenyum lebar dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Hah? Apa Te?” tanyanya.

Tea tidak sempat mengulangi pertanyaannya, karena Aji sudah keburu datang sambil membawa tiga lembar tiket dan sebuah kantong platik bening berisikan 3 kaleng minuman dingin. Sambil tersenyum Aji mengangsurkan kantong platik itu kepada Tea.

“Tadi kepanasan banget ya? Habis mukanya kayaknya merah banget…” kata Aji.

Sambil menerima kantong plastik itu, Tea berusaha tersenyum. Walaupun dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri, karena tidak bisa mencegah rasa panas yang mengalir ke seluruh wajahnya. Tea melirik ke arah Putri,
yang berlagak seakan-akan asyik mengamati pengunjung yang hilir mudik.
***

Sony memandang layar ponselnya sambil mengangkat alis. Membaca kembali SMS yang baru saja dia terima.

Sender: Putri Galak
Son, telfon gua. SEKARANG. Or I promise I will kill You. Slowly and in a very painful way.

Beuh. Ga sia-sia Sony menyimpan nomer Putri dengan nama Putri Galak. Harusnya malah pake nama Putri SADIS.

Sony mengangkat bahu, lalu memencet sejumlah tombol. Baru dua kali nada sambung, suara Putri sudah terdengar.

“Putri’s speaking. Siapa nih?”

“Put? Lo apa-apaan sih? Minta dijadiin kacang rebus?”

“Ya ampuuunnn… Tante Romyyy… Lagi dimana nih? Katanya kemaren habis dari Hong Kong ya?”

Sony menjauhkan ponselnya dari telinga, dan menatap ponsel itu dengan heran. Bener kan ini nomernya Putri? Sony mendekatkan kembali ponsel itu ke wajahnya.

“Putri? Kamu lagi di kuburan ya? Lagi kesambet ya?”

“Kenapa Tante? Ada titipan buat Mama?”

“PUTRI! Gua seganteng ini lo anggap cewek? TEGA! Dan kalopun gua bener-bener dikutuk jadi cewek, bahkan hanya untuk satu jam saja, gua menolak untuk jadi tante-tante. Apalagi tantenya elo!!”

“Waduh Tante.. mesti sekarang ya? Putri lagi sama temen-temennya Putri niihh…”

“Putri? Putri? Ya Tuhaaaannn… Kalau mau kiamat sekarang, jangan kayak gini dong tanda-tandanya! Putriyy… Kamu lagi casting buat jadi suster ngesot ya?”

“Oh gituu… Ya udah deh Tante… Gapapa deh, Putri ambil sekarang aja…”

“Put, kalo lo sekali lagi manggil gua TANTE, besok lo udah gua gantung di tiang benderanya Istana Merdeka!!!”

“Iya, sama-sama Tante… Paling setengah jam lagi Putri nyampe sana… Bye Tan…”

“PUTRI! Lo beneran minta ditembak pake meriam bambu ya!”

Tuuuuuuttt….

Dengan ekspresi campur aduk, Sony memandangi ponselnya. Lalu menggosok-gosok keningnya sendiri sambil berbisik pelan “Kayaknya besok Putri mesti dirukiah deh… Sajennya mesti diganti jadi kembang 40 rupa kali
ya…”
***

Putri memutuskan sambungan, lalu menyeringai ke arah Aji dan Tea. Aji mengangkat alis. Sementara Tea semakin gugup.

“Guys… sorry lho yaaa… Bukannya gua ga pengen nepatin janji.. Tapi si Tante Romy besok udah ke Singapur katanya. Jadi titipannya Mama mesti gua ambil sekarang. Sorry lho yaa…” kata Putri sambil berdiri dan
menyampirkan tote-bagnya.

“Put! Aku ntar pulang sama siapa dong…” Tea refleks bertanya.

“Ah, minta anterin Aji aja. Ji, gua nitip Tea ya. Tolong anterin pulang. Jagain lho! Awas kalo temen gua sampe lecek dikit aja… Orang udah dandan cantik banget gitu, masa dibikin lecek…” sahut Putri dengan
santai.

“Putri!!” Tea berseru setengah tertahan. Tidak mungkin. Ga mungkin GA MUNGKIN INI BENERAN! Artinya, dia bakal berduaan aja sama Aji. Ga. GA MUNGKIN! Tea benar-benar merasa kena serangan panik. Berduaan aja sama cowok yang dia puja semenjak kelas 10, nonton film romantis, dianterin pulang… Tea betul-betul tidak tahu harus melompat kegirangan atau langsung menggali sumur untuk terjun ke dalamnya saking malunya.

“Oke deh… Tenang aja. Biar nanti Tea aku anterin…” kata Aji.

“Eh, ga usaaahh… Biar aku SMS sopirku aja minta dijemput! Ga usah repot-repot Ji..” Tea menggeleng dengan panik.

“Jangan lah Te… Masa nonton bareng, tapi aku lalu dengan teganya membiarkan kamu pulang sendiri. Lagian ga ngerepotin kok. Beneran…” kata Aji sambil menoleh ke arah Tea, dilengkapi senyuman sempurnanya.

“Sip deh kalo gitu… Ya udah deh ya… Gua balik dulu, eh, ke rumah Tante Romy dulu… Bye all! Tea, ketemu besok di kelas ya…” Putri dengan cepat meraih pundak Tea dan bercipika-cipiki dengan Tea yang masih dalam
kondisi shock. Sebelum Tea sempat mengatakan apa-apa, Putri sudah berbalik dan melenggang keluar.

Tea menatap punggung Putri setengah ternganga. Dia tidak tahu harus berterima kasih pada temannya itu, atau harus mengiris-iris Putri kecil-kecil untuk dijadikan acar, karena sudah membuatnya berada dalam kondisi seperti ini. Ditinggal berduaan dengan Aji. Ya Tuhan. Mimpi apa Tea semalam???

“Te?” panggilan Aji menyadarkan Tea.

“Hah?” Tea menoleh ke arah Aji. Aji tersenyum, dan menunjuk ke arah pintu teater.

“Bentar lagi kayaknya mau dibuka tuh pintu teaternya. Nunggu di deket pintunya aja yuk…” ajak Aji.

Tea hanya bisa mengangguk. Otaknya buntu. Kakinya lemas. Dua tahun lebih dia hanya bisa terpana dan mengagumi Aji dari jauh. Dan sekarang? Sekarang dia akan segera duduk berduaan, bersebelahan dengan
Aji. Di bioskop. Seperti pasangan yang sedang, kencan? Tea merasa ini semua mimpi saat dia memaksakan kakinya melangkah menuju pintu teater. Sementara Aji dengan santai berjalan di sebelahnya. Dengan wajahnya yang begitu sempurna.
***

Di luar bioskop, Putri mengeluarkan ponsel dari tasnya. Dengan sebuah senyuman lebar Putri menyentuh beberapa tombol di layarnya dan mendekatkan ponselnya ke telinga. Tiga kali nada sambung terdengar sebelum sebuah
suara menyahut.

“Haaa…loo??”, suara Sony terdengar sedikit ragu saat menjawab telpon.

“Son?”

“PUTRI! Heh, lo kuntilanak sialaaaan! Udah sadar lo Put kalo gua COWOK asli yang ga mungkin jadi tante-tante? Udah dibilangin kalo lewat kuburan jangan sendirian!!”

“Son… thanks ya…”

“Tangs tengs apaan lo! Gua udah mau nyari alamat dukun yang paling cocok buat nyadarin elo, tau ga sih… Ni gua lagi buka-buka Jilow Pages!”

“Emang ada dukun pasang iklan di Jilow Pages?”

“BODO! Yang penting lo mesti segera mandi kembang Put, biar cepet nyadar…”

“Son! Lo jadi cowok kebangetan banget deh cerewetnya. Gua cuma mau bilang, terima kasih. Lo udah berperan besar untuk membuat Tea seneng…”

“Hah? Apa? Kok bawa-bawa Tea segala sih Put?”

Putri tertawa kecil sebelum menjawab, “Ah, tunggu detailnya lah besok. Tapi kalo Tea seneng, lo juga pasti ikut seneng kan…”. Dan Putri memutuskan sambungan.

Sony memandangi ponselnya. Mencoba mencari jawaban atas sikap Putri barusan. Tapi entah karena sel-sel otaknya sudah terlalu lelah untuk bekerja, Sony betul-betul tidak mengerti tentang apa yang baru saja
terjadi. Sony menghela nafas. Satu-satunya yang bisa dia mengerti dari Putri tadi adalah kalimat terakhirnya. Bahwa kalau Tea senang, Sony juga akan ikut senang. Karena itulah yang selalu diinginkan Sony. Melihat
peri kecil itu bahagia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar